Fanfiction

Cast : Sehun, Jongin

Genre : Romance, Drama

Warn : Sexual Content

Summary : Kim Jongin, pembuat onar nomor satu disekolah tidak sengaja menemukan foto seksi anak baru bernama Oh Sehun. Jongin yang awalnya hanya ingin menjadikan Sehun koleksinya berakhir menekuk lututnya untuk Sehun. KaiHun. Sexual Content. Yaoi. Rated M.

Part Four

"Jo-jonginhhh…" Sehun melenguh begitu bibir Jongin menyentuh kulitnya. Sejujurnya Sehun sangat merindukan sentuhan panas dari Jongin, lima hari rasanya terlalu lama.

"Desahkan namaku Hun.." Jongin menjilat daun telinga Sehun.

"Janganhhh…hmmm…" Sehun berusaha mendorong dada Jongin yang sudah menempel ketat pada dadanya. Sehun sebenarnya sangat amat merindukan kenikmatan yang pernah Jongin berikan padanya, tapi ia tidak ingin menyerahkan tubuhnya dengan cepat. Sehun ingin sedikit menolak dulu sebelum pada akhirnya dia akan menyerahkan seluruh tubuhnya pada Jongin.

Mengapa? Karena Sehun tidak ingin terlihat seperti cowok murahaan yang langsung mengiyakan ketika seseorang mengajaknya bercinta. Apalagi mereka baru benar-benar berpacaran beberapa jam yang lalu.

"Maaf kan aku…" Jongin langsung bangkit dari atas tubuh Sehun begitu mendengar penolakan dari kekasihnya. Jongin tidak ingin Sehun membencinya lagi, ia tidak ingin hubungan yang baru saja ia mulai sudah kandas karena nafsu liarnya.

"I-iya.." Sehun menjawab dengan terbata-bata. "Aku hanya.."

"Aku yang salah Sehun. Aku memang sulit mengontrol nafsuku, aku benar-benar minta maaf." Jongin menunduk, tidak berani menatap Sehun. Aneh sekali seorang yang arogan seperti Jongin bisa bertekuk lutut pada seseorang yang baru saja ia kenal selama satu minggu. Jongin juga tidak tahu apa yang membuat hatinya begitu lemah dihadapan Sehun.

"Jongin, aku—"

"Aku akan ke kamar mandi sebentar." Jongin kembali menyela perkataan Sehun dan segera melesat masuk ke kamar mandi. Tidak lama kemudian Sehun mendengar suara shower dari dalam kamar mandi.

Sehun mengacak rambutnya kesal, harusnya kan Jongin berusaha merayunya sekali lagi dan dia akan mengiyakan ajakan bercinta dari Jongin. Bukan seperti ini. Kenapa Jongin malah meninggalkannya dengan penis setengah menegang begini? Kenapa Jongin malah tidak jadi menyentuhnya? Sehun menyesali rencananya untuk sedikit menaikkan harga dirinya dihadapan Jongin, kini dirinya sendiri yang terkena batunya.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mana mungkin aku tiba-tiba meminta Jongin untuk menyentuhku lagi setelah aku tolak tadi? Aku benar-benar menginginkan Jongin sekarang…Kau bodoh sekali Oh Sehun! Sehun berjalan mondar-mandir didalam kamar hotel sambil sesekali meringis karena penisnya terasa tidak nyaman.

Ditatapnya pintu kamar mandi dengan pandangan ragu. Haruskah ia menunggu sampai Jongin keluar dan mengatakan pada Jongin jika ia ingin bercinta? Atau ia akan berpose seksi diatas kasur agar Jongin terangsang dan menyentuh tubuhnya lagi? Sehun meremas rambutnya sekali lagi, berusaha mencari ide agar malam ini ia bisa merasakan sentuhan-sentuhan cinta dari Jongin.

"Se-sehun? Ap-apa yang…" Jongin tercengang dengan pemandangan didepannya. Sehun tidak memakai sehelai benang pun berdiri diambang pintu kamar mandi. Jongin melepas genggaman pada penis tegangnya karena terlalu kaget.

"Biar aku bantu.." Sehun menutup lagi pintu kamar mandi kemudian mendekati Jongin yang duduk diatas kloset dan sama polosnya dengan dia. Sehun mendudukkan dirinya diantara kaki Jongin, dengan penuh percaya diri Sehun mengambil alih penis Jongin yang ia yakini sedang dimanjakan oleh pemiliknya sebelum ia masuk.

"Se-sehun..kau tidak harus..ahhh.." Jongin mengerang pelan saat tangan Sehun dengan lihai mengurut kejantanannya yang sangat tegang. Sehun memanjakan penis Jongin tanpa mau mendongakkan kepalanya, ia malu dengan sikapnya sekarang. Menerobos masuk ke dalam kamar mandi ketika kekasihnya sedang beronani dan menawarkan bantuan untuk memanjakan penis tegang kekasihnya. Semua ini Sehun lakukan karena ia tidak tahan lagi karena dari luar kamar mandi ia bisa mendengar desahan Jongin yang teredam kucuran air dari shower.

"Anghhh..Hunhh.." Jongin tidak masalah dengan sikap Sehun yang tiba-tiba menjadi berani seperti ini, ia malah suka sebenarnya. Tangan Jongin meremas rambut Sehun agar kekasihnya tahu jika ia menginginkan kuluman dari bibir tipis menggairahkan itu.

"Shithhh..mhh.." Jongin mengerang lagi. Kuluman Sehun tidak ada duanya, terlalu nikmat. Terlalu hangat. Setelah berhari-hari ia tidak merasakan kenikmatan seksual dari orang lain, akhirnya malam ini penisnya dihangatkan lagi oleh mulut kecil yang terlihat sangat cantik dengan penis didalamnya.

"Hun, aku akan keluar.." Jongin memperingatkan Sehun agar kekasihnya tidak tersedak dengan semprotan spermanya nanti. Sehun menggumam pelan dan itu menyebabkan getaran pada batang penis yang sudah berkedut itu, Jongin mengeram lagi.

"FUCKKHHH!" Jongin memejamkan matanya begitu merasa dirinya di setrum oleh kenikmatan dunia. Sehun menjilati seluruh kejantanan Jongin untuk memastikan tidak ada cairan cinta kekasihnya yang tertinggal.

Jongin memandang Sehun tidak percaya, tadi siang kekasihnya itu mati-matian menolak sentuhannya namun kini lelaki cantik dihadapannya malah dengan suka rela mengulum penisnya sampai ia mendapat kepuasan. Sehun yang merasa dipandangi segera melepaskan jilatannya pada penis Jongin dan menunduk, ia tidak tahu harus memberi alasan apa dibalik tingkahnya ini.

"Terima kasih Sehun." Jongin membelai rambut Sehun penuh kasih sayang dan menyentuh pipi Sehun agar lelaki itu menatap wajahnya.

"Eh-i-iya." Kegugupan terlihat jelas dimata Sehun, ia benar-benar tidak mau memandang kearah Jongin.

"Sehun, apa aku perlu membantumu juga?" Jongin memandang lantai dikakinya dimana Sehun duduk. Matanya terfokus pada kemaluan Sehun yang tegang dan menempel lantai kamar mandi yang dingin.

"Uh, a-aku.."

"Hmm?" Jongin mengelus dagu Sehun agar pandangan Sehun tidak berpaling darinya.

"I-iya. Tolong aku." Sehun tidak bisa berkutik lagi sekarang.

"Kita perlu tempat yang lebih hangat supaya dirimu tidak kedinginan. Oke?" Jongin bangkit dari kloset, diikuti oleh Sehun yang berusaha bangkit dari lantai.

"Huwaaa!" Tubuh Sehun langsung terangkat dari lantai dalam hitungan detik, rupanya Jongin menggendong tubuh rampingnya seperti koala. Sehun mengalungkan lengannya pada leher Jongin karena takut akan terjatuh dan hal ini membuat dada mereka bersentuhan. Sebelum keluar kamar mandi, Jongin tidak lupa mematikan shower yang tadi ia gunakan untuk meredam desahannya.

"Sehun, kau benar-benar sempurna." Jongin berbisik ditelinga Sehun, tubuh dalam pelukannya terasa sangat pas dalam dekapannya. Pantat sintal Sehun yang terasa sangat kenyal menyentuh lengannya, dada Sehun yang menggesek dadanya dan penis mungil Sehun yang menempel erat pada perutnya.

"Uh, jangan membuatku semakin malu." Sehun menyembunyikan wajahnya didalam ceruk leher Jongin.

"Jangan malu." Jongin membaringkan tubuh polos kekasihnya diatas tempat tidur, dipandanginya penuh kekaguman tubuh itu sebelum ia menindihnya. Bibirnya perlahan-lahan mencium bibir Sehun, ciuman itu menjadi lumatan kemudian menjadi gigitan hingga akhirnya lidah mereka bertautan dan berusaha saling menguasai.

"Hhh..Jonghh…" Sehun mendesah pelan ketika paha Jongin tidak sengaja menyentuh ereksinya yang sedari tadi belum diperhatikan. Jongin yang juga merasa cairan lengket menyentuh kulit pahanya segera melepaskan ciuman mereka, dengan cepat Jongin mulai menciumi leher, dada, perut hingga akhirnya tiba pada pusat kenikmatan Sehun.

"Hmmm…Jonghh…aghhh…" Tubuh Sehun langsung bergetar, ia tidak bisa berdusta jika ia sangat ketagihan sentuhan Jongin. Jari-jari Sehun mencengkram bantal dikepalanya dan ia berusaha terus membuka matanya agar bisa melihat betapa menggairahkannya melihat Jongin mengulum penisnya.

"Jonghh…lebih cepathh..tolonghhh…" Sehun sudah tidak punya lagi rasa malu dan memohon akan kenikmatan pada Jongin, toh kini mereka sepasang kekasih dan mereka sudah pernah beberapa kali saling memberi kenikmatan.

Jongin menambah kenikmatan untuk Sehun dengan memainkan bola kembar milik Sehun lalu ia juga meremas kencang bongkahan pantat Sehun sebelum mengelus lubang ketat yang tersembunyi dalam gundukan seksi itu.

"Oh my Godhhh..Jonghhh…ahhh…mhhhh…yahhh…"

"Masukkanhhh…nghhh..shhh…"

JLEB!

"NYAHHH!" Dua jari Jongin terasa dicengkram sangat kencang oleh lubang kekasihnya. Hal ini membuat Jongin menggeram karena membayangkan jika penisnya lah berada dalam lubang itu. Geraman ini mengirim kenikmatan lebih pada penis Sehun dan dalam sekejap cairan lengket memenuhi rongga mulut Jongin.

"Hmm..kau keluar cepat sekali." Jongin berujar sambil membersihkan cairan putih yang berada disekitar bibirnya.

"Hhhh..nikmat sekali tadi Jong." Sehun masih memejamkan matanya dengan nafas terengah-engah.

"Kau tahu betapa kerasnya aku menahan diri selama berhari-hari agar tidak menyerangmu? Tapi kau malah menyerahkan dirimu seperti ini, mana mungkin aku tahan." Jongin membaringkan dirinya disamping Sehun dan memeluk Sehun hangat.

"Kau tidak perlu menahannya lagi sekarang." Jongin yang tadi sedang menutup matanya untuk menikmati aroma tubuh Sehun langsung terbelalak. Apa ini artinya Sehun mau bercinta dengannya? Mau penisnya memenuhi lubang perawan itu?

"Sehun…" Jongin tidak bisa memandang wajah Sehun untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar karena Sehun menutupi kepalanya dengan bantal jadi siapa tahu kalimat yang ia dengar salah.

"Ahhh! Aku malu sekali!" Sehun menjauhkan dirinya dari Jongin dan menarik selimut agar menutupi tubuh polosnya. Jongin dengan cepat menarik kain yang akan menyembunyikan kesempurnaan tubuh Sehun dari pandangannya.

"Kau yakin sayang? Kau tahu aku tidak bisa menahan diriku saat sudah bernafsu kan?" Jongin menarik bantal yang menghalangi matanya beradu dengan mata Sehun.

"Uh, i-iya." Jongin terpana dengan kecantikan Sehun yang merona. "Jangan menahan apapun." Sehun menambahkan, dan hal itu membuat kembang api seolah meledak-ledak dalam tubuh Jongin. Akhirnya ia bisa memiliki hati dan tubuh Sehun sepenuhnya, ia tidak menyangka hari itu akan tiba secepat ini. Jongin pikir butuh waktu panjang untuk menaklukan hati Sehun.

"Bersiaplah Oh Sehun." Jongin menarik Sehun agar berada ditengah-tengah kasur luas yang mereka tempati, bibir mereka langsung bertemu dengan kasar dan penuh nafsu. Saliva dengan cepat mengalir keluar dari bibir Sehun membasahi leher jenjang Sehun.

Ciuman mereka harus putus karena keduanya membutuhkan nafas. Dada keduanya naik turun tidak teratur dan dua pasang mata itu beradu penuh nafsu. Jongin tiba-tiba meninggalkan tubuh Sehun, ia beranjak menuju lemari yang berada dalam kamar hotel itu. Dikeluarkan dua kimono berbahan kain lalu dirobeknya sekuat tenaga membuat Sehun terlonjak dari kasur melihat kekuatan Jongin yang baginya sangat mengerikan dan sebentar lagi lelaki itu akan menyetubuhinya.

Jongin kembali dengan membawa sobekan kain-kain yang berasal dari kimono. Sehun terpaku melihat Jongin yang terlihat sangat berkuasa saat ini, aura yang dikeluarkan Jongin sungguh bisa membuatnya tidak bisa berkutik. Tubuh atletis Jongin yang terlihat begitu kokoh dan juga penis besar yang menggantung diantara kaki berotot itu. Sehun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membayangkan betapa nikmatnya ditumbuk oleh penis sebesar milik Jongin.

"Tangan keatas." Sehun dengan segera menaikkan tangannya keatas dan Jongin mengikat lengan cantik itu menjadi satu dan mengaitkan sedikit sisa kain kepada bedpost. Membuat pemiliknya tidak bisa bergerak dengan bebas.

"Kau tahu aku tidak akan lembut, kan?" Nada bicara Jongin terdengar sangat seram bagi Sehun. Separuh dari diri Sehun menyesal sudah mengatakan jika Jongin tidak perlu menahan diri.

"A-aku.." Sehun tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, bibirnya disumpal oleh kain yang tadi dibawa Jongin. Jantung Sehun bergemuruh, sepertinya ia akan benar-benar habis ditangan Jongin.

Kaki Sehun terasa direnggangkan sangat lebar. Sehun tidak tahan untuk tidak merasa malu, memang Jongin sudah berkali-kali melihatnya tanpa busana tapi tetap saja Sehun merasa malu jika Jongin menatapnya begitu intens.

"Kau satu-satunya lelaki yang bisa membuatku sangat tegang hanya dengan melihat sedikit saja bagian tubuhmu." Jari-jari Jongin bergerak perlahan pada kulit Sehun, gerakan lembut yang berbahaya.

"Kulitmu, suaramu, aromamu. Kau sangat sempurna." Tangan Jongin mulai menjelajahi dua tonjolan didada Sehun. "Aku tidak tahu aku akan benar-benar jatuh cinta pada seseorang. Kau membuatku tergila-gila Hun."

Sehun merasa wajahnya memanas oleh kata-kata Jongin dan juga sentuhan berbahaya Jongin pada kulitnya. Yang lebih memalukan bagi Sehun adalah penisnya sudah setengah berdiri hanya karena ucapan Jongin dan ia yakin jika Jongin melihat hal itu.

"Uh, uh. Little Hunnie sudah bangun lagi." Jongin tersenyum lebar melihat penis kekasihnya yang sudah setengah mengeras. Jongin mendekatkan bibirnya pada penis mungil Sehun dan meniup ujungnya.

"Nikmat?" Jongin terkekeh melihat kepala Sehun yang mendongak keatas menahan nikmat. "Terlalu cepat untuk orgasme bukan?" Jongin meninggalkan penis Sehun yang semakin lama semakin keras.

"Mhhmm..nghhh.." Sehun tidak bisa mendesah dengan lega ketika Jongin dengan kejamnya mulai membuka pantat sintalnya dan memainkan bibir lubangnya.

"Aku tidak mengerti yang kau katakan.." Lidah Jongin mulai ikut bermain.

"Nghhh…hhhmm…mhhh…" Sehun menggeliat dengan rangsangan pada lubangnya. Penisnya akan segera menegang sempurna jika lubangnya dimainkan seperti ini.

"Uh, aku tidak tahan merasakan ketatnya lubang ini." Jongin menyedot lubang itu kencang-kencang sebelum menaiki tubuh tidak berdaya Sehun. Sehun menatap mata Jongin yang berkilat penuh nafsu, ingin sekali jari-jarinya menyisir rambut hitam kekasihnya. Sehun sangat ingin menyentuh Jongin.

Jongin melepas kain yang sedari tadi memenuhi rongga mulut Sehun, sebelum Sehun mampu mengucapkan sepatah kata Jongin membungkam bibir itu lagi kali ini dengan bibirnya. Ciuman Jongin terasa sangat kasar, penuh nafsu, menuntut.

Puas membuat bibir Sehun bengkak dan merah, Jongin melepas ciumannya. Nafasnya tidak teratur, bukan hanya karena ciuman tanpa jeda yang baru ia lakukan tapi juga karena ia puas melihat Sehun yang tergeletak tidak berdaya dibawahnya. Keinginan untuk menguasai tubuh itu lebih kuat lagi, Jongin bertekad akan membuat Sehun menjerit sampai kekasihnya kehabisan suara.

"Sehun, kau siap untuk pengalaman baru?" Jongin mengecup bibir tipis itu sekali lagi sebelum meninggalkan tempat tidur dimana Sehun tergeletak tidak berdaya. Sehun tidak bisa berbicara banyak karena bibirnya sedikit nyeri dengan ciuman kasar Jongin.

"Jong-jongin…jangan..jangan tutup mataku..hhhmmmhh…" Sehun yang sedari tadi berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang karena kegiatan panasnya kali ini tidak melihat Jongin sudah kembali kesisinya. Kepalanya tiba-tiba diangkat dan Jongin berusaha menutup matanya dengan sebuah kain yang sepertinya salah satu kain sobekan dari kimono.

"Akan lebih nikmat ketika kau tidak tahu apa yang sedang terjadi sayang, percaya padaku malam ini akan jadi malam favoritmu." Jongin tidak menghiraukan penolakan Sehun dan mulai menciumi sekujur tubuh langsing itu dengan penuh nafsu.

Jongin tidak hanya membuat tanda-tanda kemerahan pada kulit Sehun namun juga luka-luka lecet akibat gigitan terutama dibagian lengan. Entah mengapa Jongin suka sekali melihat tangan terikat Sehun yang membuat Sehun tidak berdaya.

"Sakithhh..hhhmmm…nghhh…"

"Ku dengar kau masih mendesah.." Jongin melepaskan ciumannya, membuat Sehun akhirnya bisa berhenti sejenak dari segala sensasi yang sedari tadi ia rasakan. Hal ini membuat Sehun sedikit heran juga, apa yang akan Jongin lakukan setelah ini?

"Ahhhhhh! Jonghhhhh—ahhhhh!" Sehun menjerit. Penisnya tiba-tiba terasa sangat dingin, dan kepala penisnya disentuh benda dingin yang membuat bagian itu nyeri. "Jonghhh..ap-apa ituhhh…he-hentikanhh..ughhh…"

"Es batu sayang, dia tidak akan menyakitimu." Sehun mendengar suara Jongin yang rendah karena dipenuhi nafsu.

"Sa-sakithhh…Jonghhh…mhhmmm…" Sehun bergerak tidak nyaman dalam tidurnya. Lubang uretranya terus-terusan diusap dengan es batu. Panas tubuhnya membuat es tersebut langsung meleleh begitu mengenai kulitnya dan itu membuat air dingin mengaliri batang penisnya yang tegang.

"Kalau begini? Apakah sakit?"

Sehun mendesah kencang, penisnya tiba-tiba dipenuhi sensasi yang sangat aneh. Dingin dan panas. Rupanya Jongin memasukkan penis Sehun kedalam mulutnya yang dipenuhi es batu, rasanya nikmat dan nyeri. Penisnya nyaris mati rasa karena kedinginan namun ia juga merasakan kehangatan kuluman Jongin.

Sehun mendesah dan mendesah, es batu dalam mulut Jongin sudah mulai banyak yang meleleh dan keluar dari rongga mulut Jongin. Aliran air es itu membasahi bola kembarnya hingga kebelahan anusnya dan menuju kasur. Jongin benar, tidak mengetahui apa yang akan terjadi ketika bercinta sungguh menggairahkan.

"JONGINHHHH! Hiks…sakit…ahhh…keluarkannhhh…" Sehun dibuat menjerit lagi. Lubangnya tiba-tiba dipenuhi oleh sesuatu. Sesuatu yang sama sekali tidak familiar, keras, dingin dan kaku. Sehun tahu jika itu bukan jari atau penis Jongin, kulit manusia tidak dingin seperti ini. Vibrator? Sehun tidak yakin.

"Jonghhh…kau..hhh…jahatmmhhh…yahhhh…" Penisnya masih dikulum, membuat Sehun tidak tahu mana yang lebih mendominasi, rasa sakit pada anusnya atau kenikmatan mulut Jongin pada penisnya. Jongin lagi-lagi tidak menghiraukan kesakitan yang Sehun rasakan, ia hanya senang melihat ketidakberdayaan Sehun.

Sehun bergerak liar saat benda yang memenuhi lubangnya itu digerakkan keluar masuk oleh Jongin. Tangan Sehun meronta-ronta dalam ikatan kuat pada tangannya, kakinya menendang-nendang udara kosong karena kenikmatan yang ia dapatkan. Rasa sakit ketika benda itu masuk kini sudah digantikan oleh kenikmatan. Sebuah titik dalam tubuhnya disentuh oleh benda dingin tersebut dan juga penisnya masih dikulum cepat oleh Jongin.

"Jonghhh..lebih cepathhh..aku akanhhh..ahhh..nghhhmm…"

"Jonghh..ahhhh..nikmatnyahhhh..shhhh…ahhhh…"

"Disitummhhh…nyahhh..yahh..sedikit lagihhh..mmhhh.." Sehun terus memohon pada Jongin agar benda yang masih belum ia ketahui identitasnya terus menumbuk prostatnya.

PRANG!

Bunyi itu muncul bersamaan dengan kekosongan lubang Sehun. Sehun melenguh kesal karena kenikmatan yang nyaris ia dapatkan harus hilang, dan juga ada kekagetan dalam diri Sehun mendengar bunyi yang seperti pecahan kaca tersebut. Jangan-jangan yang memasukiku tadi botol kaca, astaga…

"ANGHHHH!" Tubuh Sehun melengkung dengan indah ketika sesuatu yang lebih besar mengisi anusnya. Kali ini Sehun sangat yakin jika yang mengisi tubuhnya adalah penis Jongin.

"Lebih nikmat mana sayang?" Jongin tidak menunggu lubang perawan Sehun membiasakan diri dan langsung menggerakkan pinggangnya dengan cepat. "Nikmat botol cola sialan itu atau penisku?"

Sehun tidak bisa menjawab, bukan tidak mau. Bibirnya bergetar keras karena kenikmatan yang berkali-kali lipat menyelimuti tubuhnya. Sehun bisa merasakan nafas Jongin menerpa kulit pipinya, ia membayangkan wajah tampan Jongin yang dibanjiri keringat dan ekspresi kenikmatan kekasihnya.

"Uhh..aghhh..pelanhhh…ahhhh…"

"Katakan padaku mana yang lebih nikmat?!"

"Awhhhh! Akhhh…ahhhh!" Sehun mendesah lagi, dadanya baru saja digigit oleh Jongin. Bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan Jongin jika ia tidak diberi kesempatan untuk berbicara?

"Kau begitu sempurna Oh Sehun." Jongin sepertinya tidak peduli lagi dengan jawaban Sehun, wajah penuh kenikmatan Sehun sudah menjadi jawaban baginya.

"Jonghhh…akuhhh..ahhh..ingin melihatmu…hhhmmm…yahhh…" Sehun bisa merasakan penis Jongin menumbuknya semakin dalam dan semakin kasar. Pinggangnya sampai terangkat dari atas kasur karena tusukan penis Jongin yang terlalu kuat, tangannya sudah pegal diikat keatas selama hampir satu jam.

Bukannya mendapatkan kembali penglihatannya, Sehun malah dibungkam oleh bibir Jongin. Setelah puas melumat bibir tipis itu hingga membengkak, ciuman yang diberikan Jongin hanyalah kecupan-kecupan kecil disekitar wajah dan lehernya, padahal ia butuh lebih. Sehun ingin bibir Jongin melukis tanda-tanda cinta ditubuhnya yang tidak akan hilang dalam beberapa hari.

"Jonghhh…aku akanhhhh..ahhhmmmhhh…" Sehun mengaitkan kakinya pada pinggang Jongin agar penis besar itu lebih intens menyentuh prostatnya. Perutnya mulai bergolak pertanda gelombang orgasme akan segera menerpanya.

"Jonghhh…lebih cepathhh…anggghhhh..yahhh…" Derit kasur terdengar jelas ditelinga Sehun, pertanda tusukan pada lubangnya semakin kasar. Sehun merasa lengan Jongin memeluk tubuhnya yang berguncang-guncang, dan kepala Jongin berada pada perpotongan lehernya. Nafas Jongin sangat panas dikulit Sehun, belum lagi desahan tertahan Jongin yang membuat Sehun terbakar nafsu.

"Jonghhhh! Ahhh! Please lebih cepathhhh!" Sehun mulai meracau, kenikmatan dunia itu sudah didepan matanya, hanya perlu beberapa tusukan lagi dan dia akan segera mengeluarkan laharnya.

"Ohhhh…yeshhhh…Jonginhhhh…nikmatnyahhhhh…" Sehun bisa merasakan kain yang menutupi matanya mulai basah karena air matanya. Air mata yang keluar karena kenikmatan yang ia rasakan begitu intens, ternyata ditusuk penis itu benar-benar nikmat.

"Hunhh..ohh..lubangmu sialan!"

"Aghhh…sedikit lagihhhh..mhhh..nyahhh.."

"Kau semakin ketat sayanghh.."

"Mhhh…yahhh..Jonginhhhh…JONGINHHH!" Sehun menyebut nama Jongin begitu keras saat orgasme melandanya. Penisnya yang sedari tadi sama sekali tidak disentuh oleh Jongin bergetar keras mengeluarkan cairan putih yang begitu banyak hingga membasahi tubuh Sehun dan membuatnya terasa sangat lengket.

Jongin dengan cepat membuka penutup mata Sehun, sungguh ia menyesal tidak bisa menatap mata Sehun ketika lelaki cantik itu mencapai puncak. Sehun akhirnya bisa melihat wajah tampan Jongin yang berada sangat dekat dengannya. Mata Jongin menatap wajahnya dengan pandangan yang tidak bisa ia pahami.

"Jonghh..hhh…hmm…" Sehun masih mendesah kecil karena penisnya masih mengucurkan sperma meskipun tidak banyak, dan juga tatapan yang diberikan Jongin padanya membuatnya merasa malu.

"Kau sangat cantik ketika orgasme." Jongin mengecup bibir Sehun kemudian melepas ikatan pada lengan Sehun. Lelaki cantik itu semakin merona, nafasnya yang perlahan mulai netral kembali putus-putus karena ciuman yang diberikan Jongin pada lehernya. Sehun baru sadar jika penis raksasa Jongin masih menancap kokoh didalam lubangnya.

"A-aku lelahhh…hhhmm..he-hentikanhh.." Jongin seolah tuli dengan penolakan-penolakan Sehun malam ini, bibirnya semakin bergerak ke bawah menuju dada Sehun. Lengan langsing Sehun berusaha mendorong tubuh Jongin menjauh dari tubuhnya namun tubuh kokoh itu tetap bergeming dan terus mencumbu dadanya.

Sehun benar-benar lelah malam ini, mungkin karena ini seks pertamanya dan orgasme yang dialaminya begitu hebat jadi tubuhnya sudah lelah. Berbeda dengan Jongin yang hampir setiap malam selalu bercinta dan sudah berhari-hari tidak merasakan kenikmatan lubang ketat jadi satu ronde jelas masih kurang untuknya.

"Jonghh..janganhh..ahhnnggg..janganhhh…" Sehun mulai memberontak lagi saat ia merasa Jongin berusaha membalikkan tubuhnya tanpa melepas tautan tubuh mereka dibawah sana.

"Sehun." Jongin memanggil namanya sambil menatap Sehun tajam, menunjukkan jika Jongin tidak menerima penolakan. Sehun langsung berhenti memberontak, namun ia tidak menggerakkan tubuhnya agar berbalik seperti keinginan Jongin.

"Sehun, kau akan menerima ganjarannya jika tidak segera menungging dan menunjukkan lubang ketatmu itu padaku." Jongin mengeluarkan penisnya dan menyingkir dari atas tubuh Sehun. Sehun sendiri hanya menatap Jongin sebentar lalu mengalihkan pandangannya, ia mempertimbangkan apakah ia harus menuruti kemauan Jongin? Tatapan Jongin sangat mengintimadasi dirinya, membuat ia sedikit takut memikirkan seberapa kasar Jongin akan memperlakukannya jika ia menolak keinginan Jongin? Sehun kan pacarnya, Jongin pasti tidak akan terlalu kasar, bukan? Well, siapa yang tahu..

"AHH! Jong!" Jongin kesal karena Sehun tidak segera menyiapkan tubuhnya agar bisa segera ia nikmati sehingga Jongin menarik tubuh Sehun agar berbalik dan menungging. Jongin tahu Sehun akan selalu kalah dengannya jika menyangkut masalah fisik, dan kini Sehun sudah menungging dihadapannya sambil meronta-ronta dengan tenaga yang tidak seberapa.

"Jongin aku benar-benar lelah, biarkan aku istira—NYAHHHH!" Sehun tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena penis Jongin tiba-tiba sudah memenuhi lubangnya lagi.

"Jonghhh..pelanhhh..oh myhhh…ahhh..nyahhh…" Sehun tidak bisa menolak, dia tidak akan pernah bisa menolak sentuhan Jongin apalagi ketika Jongin menyentuhnya sangat dalam disana. Jari-jari Sehun mencengkram seprai begitu erat sampai buku-bukunya memutih.

"Kau seharusnya langsung melakukan apa yang aku minta Oh Sehun." Jongin meremas pinggang Sehun begitu kencang dan menggerakkan tubuh Sehun berlawanan dengan gerakan pinggangnya.

"Hiks..ahhh..mhh..Jonghhh..pelan pleasehhh.." Sehun bisa merasakan bibir lubangnya lecet karena Jongin menusuknya terlalu kasar dan tidak berirama. Suara yang keluar dari bibirnya juga merupakan campuran desahan kenikmatan dan kesakitan.

"Kau tahu aku paling tidak suka dibantah..shit..hhh.." Jongin mendesah pelan. "Kau hanya perlu menungging dan merasakan kenikmatan. Apa sulitnya menungging untukku Oh Sehun?"

"Angghhh…yahhh..mhhmmhhh…terlaluhhh..dalaammhhh.."

"Kau tidak menyesalkan menungging untukku?"

PLAK!

Pantat berisi Sehun ditampar begitu keras.

"Nikmat bukan?"

PLAK!

"Sa-sakithhh..pelanhh..ahhhnngghh..mhhmmhhh.." Kesakitan yang dirasakan saat ini bukan hanya pada lubangnya saja tapi juga bongkahan pantatnya. Sehun tidak tahu jika Jongin bisa sekasar ini dalam bercinta. Tamparan pada pantatnya bukan hanya tamparan gemas atau menggoda, tapi tamparan menyakitkan yang ia yakini akan meninggalkan bekas.

"Kau yang meminta aku bermain kasar Oh Sehun."

PLAK!

"Ahh! Hiks..Jonghhh..akuhh..ahhh..lelah..anghhh.."

PLAK!

"Kau masih bisa mendesah sayang, jangan berbohong."

PLAK!

"Owhhhmm..hahhh…nyahhh..Jooonghhh..disanahhh…"

PLAK!

"Betulkan kataku? Nikmat bukan?"

PLAK!

Sehun tidak menjawab, kepalanya pening sekali dengan kenikmatan pada yang melanda. Prostatnya lagi-lagi ditusuk keras oleh penis Jongin, membuat rasa sakit pada bongkahan pantat dan lubang anusnya sama sekali ia hiraukan.

Jongin sendiri juga lupa daratan, nafsu membutakan dirinya dan menunjukkan sisi dirinya yang asli. Liar dan kasar. Kim Jongin memang tidak bisa mengontrol dirinya akan nafsu seks, ia akan selalu bermain kasar pada siapapun pasangan bercintanya. Apalagi setelah sekian lama menunggu Sehun—padahal cuma satu minggu—akhirnya malam ini ia bisa menikmati tubuh itu sepenuhnya, tentu saja Jongin semakin menggila.

"Lubang perawan memang yang terbaik..ahh.." Jongin tidak lagi menampari pantat Sehun namun malah mengigiti tengkuk dan punggung Sehun yang menurutnya sangat seksi dengan keringat yang membasahi kulit putih itu.

"Jonghhh..aku akanhhh..ke-keluarhhh..yahhhh..mmhhhmm.." Sehun yang masih lelah sudah akan orgasme lagi padahal penisnya sama sekali tidak disentuh oleh Jongin.

"Akhh..tahanhh.." Sehun berusaha menahan orgasme yang sudah berkumpul diujung penisnya, ia ingin mencapai puncak bersama-sama dengan Jongin.

"ANGGHHHH! Jangannnnhhhh..oh my Godhhh…Jonghhh..jangannhh.." Dugaan Sehun ternyata keliru, Jongin memintanya menahan orgasmenya karena Jongin ingin mengikat penisnya dengan kain yang tadi menutupi matanya agar ia tidak bisa mencapai puncak.

"Jonghhh..tolonghh..jangan..ahnnhh..please.." Jongin dengan lihai mengikat pangkal penis Sehun tanpa mengurangi intensitas gerakan pinggulnya, tetap menusuk prostat Sehun dengan akurat.

"Kau sangat ketat sayanghhh..ohhh…" Jongin melanjutkan menggenjot Sehun tanpa mengindahkan jerit kesakitan Sehun, baginya lubang Sehun yang semakin ketat menjelang orgasme sungguh memabukkan.

"Akkhhhh! Sehunhhh!"

"JONGINHHH! ANGHHH!"

Jongin akhirnya mencapai puncak. Benar-benar orgasme ternikmat yang pernah Jongin rasakan. Dan Sehun? Lelaki cantik itu sesenggukan menahan nyeri dan nikmat yang datang bersamaan, tubuhnya yang sudah tidak bertenaga masih bisa menungging karena Jongin menahannya.

"Lubangmu yang terbaik sayang." Jongin mengeluarkan penisnya dari lubang basah Sehun. Cairan putih ikut keluar dan membasahi paha Sehun, membuat kulit putihnya sangat menggoda.

Klik! Klik!

Sehun tidak perlu melihat apa yang sedang dilakukan Jongin, ia tahu jika Jongin pasti mengambil gambar lubangnya yang memerah dan dipenuhi sperma. Tubuh Sehun perlahan mulai terjatuh ke atas kasur karena Jongin sudah tidak lagi menahannya dan malah sibuk mengamati hasil gambar yang baru saja ia ambil.

"Jonghh..lepas ya.." Sehun berusaha menggapai penisnya yang masih berdiri tegak menyakitkan dengan tangannya yang tidak bertenaga.

"Lepas? Uhm, sepertinya belum bisa sayang. Permainan belum usai.." Jongin meletakkan ponselnya begitu saja dan memperhatikan kekasihnya yang kesakitan. "Aku masih ingin merasakan lubangmu." Tambah Jongin berbisik.

"Kau jahat sekali..hiks.." Sehun mulai merengek, kenapa Jongin jahat sekali padanya? Padahal Jongin tahu jika ini adalah pertama kalinya ia bercinta, tidak bisa apa Jongin bersikap sedikit lebih lembut?

Jongin sepertinya memang sudah dibutakan oleh nafsu, ia tidak melihat air mata yang keluar dari sepasang mata cantik Sehun. Lengan kokoh Jongin menggendong tubuh langsing Sehun dengan mudah menuju sofa besar dikamar hotel mewah tersebut. Mata Sehun melihat pecahan kaca dari botol cola yang tadi sempat memasuki lubangnya, jantungnya berdegup kencang membayangkan apa yang akan Jongin lakukan padanya kali ini.

Tubuh Sehun diletakkan dengan sangat perlahan diatas sofa, begitu Sehun sudah didudukkan, Jongin mengambil tisu dan menghapus air mata Sehun yang mengalir, perlakuannya begitu lembut.

"Sshhh, jangan menangis." Jongin menciumi pipi dan rambut Sehun.

"Ka-kalau begitu biarkan aku orgasme…hiks.." Sehun terisak sambil menunjuk ke arah penisnya yang masih menegang menyakitkan.

"Tentu saja kau boleh orgasme.." Jongin tersenyum lebar dan mendekatkan wajahnya pada penis mungil Sehun. Bibirnya dengan lihai mengulum seluruh bagian penis Sehun dengan cepat, membuat pemiliknya menggelinjang hebat.

"Angghhh…Jonghhhh…ikatannhhh..mhmmmhh.." Sehun berusaha mendorong kepala Jongin yang memberinya kenikmatan berlebihan dan melepas ikatan yang menahan cairan cintanya.

Jongin tetap saja mengulum penis Sehun dengan cepat sambil menahan dua tangan Sehun yang berusaha mendorong jauh kepalanya. Jongin bisa merasakan penis mungil itu mulai berkedut dalam mulutnya, lidahnya ikut memainkan kepala penis Sehun agar kekasihnya itu cepat mendapat orgasme.

"Jonghhhh…aku akanhhh…ahhh…ikatanhhh…mhhmmm…nyaahhh!" Kaki Sehun menendang-nendang udara kosong saat orgasme melandanya, orgasme kering lebih tepatnya. Jongin menjilati cairan bening yang sedikit keluar dari lubang penis memerah Sehun, ia tersenyum puas dengan hasil kerjanya.

"Jonghh..sakithh..hiks.." Tubuh Sehun semakin melemah, orgasme kering keduanya malam ini sungguh menguras tenaganya.

"Kau bilang kau mau orgasme? Aku sudah memberimu sebuah orgasme kan?" Jongin bertanya dengan wajah polos palsu.

"Hiks..kau jahathh.." Sehun hanya bisa sesenggukan sambil menahan nyeri.

"Apa aku salah?" Jongin masih tidak tergerak hatinya melihat Sehun yang sudah diujung batas menahan orgasmenya.

"Kau jahat..hiks..aku mau pulang…huhuhu.." Air mata kembali membasahi pipi Sehun, wajahnya yang sudah memerah semakin merah karena menangis.

"Ssssttt..jangan menangis. Itu adalah hukumanmu tidak mendengarkanku." Jongin duduk disebelah Sehun dan membelai wajah Sehun mesra. Diusapnya air mata yang membasahi pipi merah itu.

"Hu-hukuman? Kenapa aku dihukum?" Sehun bertanya tidak mengerti.

"Kalau aku minta kau menungging, berarti kau harus menungging. Kau mengerti sayang?" Jongin mengatakannya dengan nada ringan namun sangat berbahaya. Jantung Sehun rasanya merosot menuju perutnya, jadi Jongin memang selalu sekasar ini dalam bercinta? Sebagian dari hati Sehun menyesal sudah menyerahkan dirinya begitu saja pada Jongin. Tapi semua sudah terlambat bagi Sehun untuk melarikan diri, Sehun hanya bisa mengikuti permainan Jongin malam ini.

"Sekarang, buka kakimu lebar-lebar untukku Oh Sehun." Jongin bangkit dari duduknya dan memberi ruang pada Sehun agar bisa membuka kakinya. Sehun tidak mau menolak lagi kali ini, ia berharap permainan Jongin akan segera selesai. Jongin sendiri berlutut didepan Sehun dan memandang tubuh didepannya lekat-lekat.

"Anghhh…Jonginhhhh…" Sehun mengerang, lubang anusnya yang masih berlumuran sperma dijilati oleh Jongin. Matanya terpejam mendapat kenikmatan seksual untuk kesekian kalinya malam itu.

"Buka matamu dan teruslah mendesah." Sehun bersusah payah melihat penis dan lubang anusnya dimainkan oleh Jongin. Pemandangan itu begitu seksi dan menggairahkan, membuat penisnya berdenyut lagi.

"Mhhmmm..Jonghh..akhhh..nyahhh…" Tubuh Sehun menggeliat dalam duduknya.

"Jonginhh..ohhh..shhh…geliiihhh.."

"Angghhhh…ap-apa yang kau lakukanhhh…" Sehun terbelalak melihat Jongin mengambil botol wine yang berada dimeja depan sofa yang ia duduki. Jongin membuka tutup botol tersebut dan mengarahkan leher botol itu pada lubang analnya.

"JOONGHHH…AHHHH!" Sehun hanya bisa berteriak lagi. Lubangnya perih menerima benda kaku itu belum lagi Jongin sedikit menaikkan pinggulnya sehingga cairan merah itu memasuki anusnya.

"Jonghhh..rasanya anehh..hentikan…anghhh…" Jongin tidak berhenti, selalu seperti itu. Jongin tidak peduli. Malah semakin diangkatnya pantat Sehun semakin tinggi agar wine itu tidak mengalir keluar. Perutnya terasa aneh dengan cairan yang perlahan mulai memenuhinya.

"Pasti akan nikmat sekali." Jongin berkata, tidak pada Sehun lebih pada dirinya sendiri. Dengan seringai lebar, Jongin mengarahkan penis raksasanya menuju lubang Sehun yang sudah diisi dengan leher botol wine.

"JONGINHHHH! Sakithhhhh…anghhhhh…jangannhhh..janganhhhh…" Sehun bisa merasakan lubangnya dilebarkan dengan maksimal. Penis raksasa Jongin saja sudah bisa membuatnya penuh dan kini ditambah botol kaca.

"Ohhhh…kau benar-benar yang terbaik Hunhhh.." Jongin mulai menggerakkan pinggulnya, tidak lupa juga memainkan botol yang menancap pada lubang Sehun. Perutnya terasa seperti dikocok, apalagi dengan wine yang memenuhi perlahan mulai masuk kedalam ususnya.

"Jonghhhh…hhhh…mhhhmmm…"

"Ohhhh…penuh sekaliihhh…ahhhh..yahhh.."

"Nikmat bukan?" Jongin tersenyum puas melihat wajah tidak berdaya Sehun yang menunjukkan kenikmatan juga kesakitan.

"Jonginhhhh…lebih dalamhhhh…ahhhh.." Sehun mulai bisa menikmati permainan kasar yang Jongin kenalkan padanya. Jongin dengan senang hati menambah kecepatan pinggulnya dan gerakan pada botol. Tangan satunya mencari-cari sesuatu diatas meja, ponsel.

"Sehun sayang, lihat kamera." Jongin membuka aplikasi kamera dan mengubahnya menjadi mode video, ia ingin merekam malam panas pertama yang ia lalui dengan kekasihnya.

"Jonghhh..ahhh..aku malu…mhhmm…" Sehun berusaha menutup wajahnya dengan lengannya sendiri namun begitu melihat tatapan tidak setuju dari Jongin, ia menyingkirkan tangannya dan menatap kamera ponsel Jongin dengan wajah merah padam.

"Ahhh..disana Jonghhh..mmhhmmm.." Tubuh Sehun tersentak, pusat kenikmatannya baru saja disentuh dengan ujung penis Jongin.

"Katakan padaku bagaimana rasanya dipenuhi penisku dan botol wine.." Jongin puas dengan ekspresi Sehun barusan, dan mulai berkata kotor pada Sehun agar kekasihnya semakin terasa panas.

"Nik-nikmathhh..hhh..ohhh..nyahhh.."

"Kau menyukainya sayang?"

"I-iyahhh..Jonghhh…lebih cepathhh…"

"Jawab yang benar Oh Sehun.."

"Akuhhh…menyukainyahh…anghhh…please tusuk disana lagihhh…"

"Menyukai apa?"

"Penismuhhh..ahhhh…"

"Hanya penisku? Kau tidak menyukai mainan baru kita?" Jongin bertanya sambil menusuk botol wine dalam-dalam, membuat Sehun mendesah keras.

"Owhhh..Jonginhhh..nikmathhhh…ahhh…"

"Kau benar-benar minta untuk aku perkosa rupanya.." Jongin masih terus merekam kekasihnya yang mendesah dan menggeliat didepannya, kecepatan pinggangnya ia tambah, membuat sofa mulai berderit. Desahan-desahan Sehun membuat Jongin gila, kekasihnya itu sungguh binal.

"Anghhhh…Jonghhhh..let me cum..ahhh…" Sehun memberi sorot mata memohon kearah kamera, penisnya sudah berdenyut lagi.

"Gerakkan botol ini dan aku akan membiarkanmu orgasme." Jongin memberi perintah dengan nada tegas. Sehun sendiri melakukan perintah itu dengan senang hati, apapun akan ia lakukan asalkan ia tidak perlu menahan nyeri dipenisnya lagi.

"Anghhhh…dekathhh…ahhhh…mhhmmm…"

"Tahan sedikit lagi sayang, aku juga.." Tangan Jongin yang tidak memegang ponsel mengocok penis Sehun seiring dengan tusukannya pada lubang sempit yang sedang ia nikmati.

"Ahhhh…Jonginhhhh…terlalu nikmathhh…"

"Amhhmm…tidak tahanhhh…nyahhh…"

"Sedikit lagi sayanghhh..shit kau ketat sekali.."

"Ahhh..Jonginhhhh…Jonginhhh..yahhhh…akhhh…shhhh" Sehun tidak lagi menggerakkan botol seperti perintah Jongin namun ia meremas bantal-bantal disofa sangat kuat dan melengkungkan tubuhnya. Orgasmenya datang.

"JONGINHHHH!"

"OHHH!" Jongin dengan cepat melepas ikatan pada penis Sehun dan dengan segera penis mungil itu menyemburkan cairan kental begitu kencang hingga mengenai ponsel yang masih dipegang oleh Jongin. Lelaki berkulit coklat itu menggeram ketika lubang anus Sehun memijat penisnya begitu erat dan akhirnya ia mengeluarkan hasratnya juga.

Nafas keduanya terengah-engah, tangan Jongin sampai bergetar ketika merasa penisnya mengeluarkan cairan cinta begitu banyak saat dinding anus Sehun memijatnya begitu kencang. Dengan perlahan Jongin melepas botol dari lubang Sehun dan juga penisnya. Cairan merah muda mengalir dari lubang itu, campuran antara wine dan sperma Jongin.

"Kau lelah?" Jongin menatap Sehun yang sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sehun hanya mengangguk, tenaganya sudah tidak ada.

"Ayo kita istirahat." Jongin yang sebenarnya juga lelah dengan permainannya sendiri tetap menggendong Sehun kembali menuju tempat tidur.

"Terima kasih Oh Sehun." Jongin berbisik pada Sehun yang berada dalam pelukannya.

"Aku benci padamu. Aku mau putus." Sehun berkata pelan.

"Huh?" Jongin melepas pelukannya dan menatap Sehun yang terpejam. Hubungan mereka baru beberapa jam dan kini Sehun sudah minta putus?

"Kau kasar sekali padaku. Aku mau putus."

"Ya, ya, ya, jangan seperti itu dong.." Jongin terdengar sangat panik, seluruh tubuhnya rasanya membeku mendengar ucapan Sehun. Jongin merasa sangat menyesal sudah berlaku sangat kasar pada saat pertama Sehun bercinta, ia memang kesulitan mengontrol dirinya ketika bercinta.

"Kau jahat." Sehun mungkin tidak membuka matanya, namun bentuk bibir mungil yang cemberut itu menunjukkan betapa kesalnya ia pada Jongin.

"A-aku tidak akan mengasarimu lagi…aku janji.."

"Bohong." Sehun tahu jika Jongin tidak akan pernah tidak kasar dalam bercinta, ia bisa merasakannya.

"Tidak, tidak. Aku berjanji." Jongin berusaha terdengar meyakinkan.

"Sungguh?" Dalam lubuk hati Sehun, ia tahu jika Jongin benar-benar merasa bersalah. Sehun tahu jika perilaku kasar Jongin padanya karena terlalu dirundung nafsu yang amat sangat.

"Iya, aku berjanji." Jongin menatap mata Sehun yang akhirnya terbuka.

"Kalau kau mengasariku lagi aku akan minta putus." Sehun berkata dengan wajah cemberut.

"Kenapa ancamanmu seram sekali sih?"

"Supaya kau tidak jahat padaku."

"Aku tidak akan jahat padamu lagi." Jongin memeluk Sehun lagi. Diletakkannya kepala Sehun agar berbaring pada dadanya. "Aku…benar-benar menyukaimu, uh, mencintaimu."

"Aku benci padamu." Sehun menjawab ungkapan cinta Jongin. Meskipun Sehun mengatakan 'aku benci padamu', lelaki cantik itu melingkarkan lengannya pada pinggang kekasihnya. Jongin hanya terkekeh dan mencium puncak kepala Sehun sebelum keduanya menuju alam mimpi.

To Be Continue

5K+ isinya NC semua astaga :/

Semoga banyak suka ya chapter ini ya^^

Bagi yang belum tahu, Author setiap malam Jum'at ngepost cerita Rated M hehe. Seri ini udah seri ketiga Author spesial malam Jum'at. Kalau ada yang juga suka HunKai bisa dicek dua seri mesum lainnya—tinggalkan review ya wkwk—yang udah tamat hehe karena dua seri sebelumnya semuanya HunKai. (Author suka HunKai dan KaiHun soalnya hueheheheh)

Lalu Author mohon maaf karena banyak nama yang ketuker di chapter sebelumnya huhu, maafkan keteledoran Author :(

Author udah ngecek chapter ini dengan baik, semoga ngga ada nama yang tertukar lagi ya wkwk.

Setelah seri ini selesai mau KaiHun atau HunKai? Heheheh

Mohon review, kritik dan sarannya ya^^

Gomawo dan selamat malam jum'at!