.
.
.
BEAUTIFUL AVANGER
The Character is belong to Masashi Kimoto-san
Story by
7 Gold
Rated T+ and M
Warning: M disini bukan untuk scane Lemon yang belum tahu akan Gold adakan atau tidak. Rate M disini adalah untuk scane pembunuhan ataupun hal-hal lain yang tidak seharusnya ada di Rate T
Genre: Tragedy, Humor, Fantacy, Romance, Hurt/Comfort, Family, Friendship
Warning: AU, AT, Typo (s), OOC, Alur gaje, Cerita se-mau-gue!
Happy Reading!
.
.
.
DLDR
.
.
.
Chapter 4
'Kling' bunyi bel yang diletakkan diatas pintu itu berhasil mengintrupsi seorang gadis yang semula sedang asik membaca.
Matanya menatap aneh seseorang yang baru saja memasuki toko bukunya. Dia sangat paham, jika membuka toko buku dipinggir kota seperti ini pasti dia akan menemukan banyak sekali orang-orang dengan penampilan unik. Tapi lihatlah pengunjung yang satu ini.
Apa yang dikenakan oleh pengunjungnya kali ini memang bukan sesuatu yang mengerikan. Tapi tetap saja hal itu jadi sesuatu yang 'Aneh' baginya. Setelah dia merasa yakin, akhirnya gadis dengan rambut semerah darah ini mengumpulkan keberaniannya dan membuka mulutnya.
"Ohayou... Sakura-chan?" ucap gadis itu pada sesosok orang dengan pakaian pria yang tampak kebesaran ditubuh mungilnya. Rambutnya di sembunyikan dalam sebuah kupluk yang terpasang rapih dikepalanya.
"Haaah. Bagaimana kau bisa mengenaliku semudah itu Karin nee-chan?" ketus gadis itu sembari berbalik menatap gadis yang masih memasang wajah ingin tahunya
"Hahaha aku memiliki pengelihatan yang sangat jeli, ingat?" sahutnya sembari terkekeh
"Tapi lihatlah! Aku sudah memakai kupluk agar bisa menutupi rambut gulali ku. Tapi kau? Dengan mudahnya dapat mengenaliku" Lagi. Gadis itu tampak merajuk
"Hahaha sepertinya kau harus meningkatkan kemampuan menyamarmu lagi, Nona" sahutnya sembari menarik kupluk yang dikenakan Sakura dan membuat rambut merah muda panjangnya terurai
"Nee-chaan! Kembalikan itu! uuuhh..!" sengitnya sembari berusaha mengambil kembali kupluknya
"Hahaha lihatlah bagaimana akrabnya kedua gadis ini" ucapan riang seorang gadis tampak mengalun dan membuat kedua orang gadis yang sedang berebut kupluk itu menoleh
"Tenten-chan? Hinata-chan? Ino-chan? Ohayou!" sapa gadis itu dengan ceria
"Ohayou" sapa Hinata, Tenten, dan Ino serempak
"Hahahaha, Dapat!" pekik Sakura dengan girang ketika dia berhasil merebut kupluk miliknya
"Haah, kau ini. Sudah tidak perlu memakai kupluk itu lagi, kau terlihat sangat aneh dengan pakaian itu" sahut Karin namun hanya dibalas dengan juluran lidah oleh Sakura
"Dasar! Jadi? Apa yang kali ini kalian cari?" tanya gadis itu
"Hanya beberapa novel, komik dan buku pelajaran" sahut Tenten ketika melihat Ino dan Hinata sedang berjalan dan mengambil beberapa buku dari raknya
"Kalau kalian kesini hanya untuk mengambil amplop itu, kalian tidak perlu membeli sebanyak ini" sambung Karin sembari menscan barkode pada buku-buku yang baru saja diletakkan oleh Hinata
"Apa maksudmu? Kami membeli buku-buku ini karna kami membutuhkannya" sahut Ino sembari tersenyum lembut kearah Karin
"Haaah, Karin nee-chan benar! Aku terlihat aneh dengan pakaian sialan itu." ucapnya setelah beberapa saat lalu menghilang, Yaap! Kali ini Haruno Sakura keluar dengan pakaian seperti gadis biasa.
Dress pendek dengan lengan sebatas siku, sepatu kets dan tidak lupa sebuah kupluk yang menutupi semua rambut indahnya.
"Kau tetap terlihat aneh dengan kupluk itu Haruno-samaaa" ledek Karin yang masih berusaha men-scan semua buku yang ada diatas mejanya
Namun hal itu tidak dihiraukan oleh gadis Haruno yang saat ini malah berjalan keluar dari toko buku itu. Namun langkahnya terhenti ketika dia akan membuka pintu.
"Kalian ingat waffle yang dijual didekat sini? Aku ingin membelinya. Apa kalian mau juga?" tanya gadis itu sembari menatap wajah keempat gadis yang masih berdiri didepan kasir
"Tentu sajaa!" sahut mereka dengan serempak –minus Karin yang hanya geleng-geleng kepala melihat ketiga gadis itu begitu bersemangat
.
.
.
"Hoaaam...!"
"Kau bisa tersedak lalat yang masuk ke mulutmu kalau kau menguap selebar itu, Naruto!" ucap dingin seorang pemuda yang duduk dikursi sebelah pengemudi
"Jangan membicarakan hal yang konyol, Neji. Mana ada lalat yang mau masuk kedalam mulut bau si duren itu" sambar seorang pemuda yang duduk dibangku samping Naruto
"Diamlah, Nanas busuk! Aku sedang tidak ingin berdebat dengan kalian –ttebayo!" sahut pemuda yang sejak tadi menjadi bahan bullying teman-temannya
Wajahnya terlihat sangat kusut. Matanya juga masih setengah mengantuk. Bagaimana tidak? pemuda ini baru saja selesai memainkan sebuah game yang dibelinya beberapa hari lalu pada jam 4 pagi tadi. Sementara pada jam 7 dia harus sudah bangun dan bersiap menuju kantor polisi untuk memberikan laporan mengenai apa saja yang sudah mereka dapatkan selama beberapa hari ini.
"Bermain game lagi, eh?" tanya seorang pemuda yang sekarang duduk dibangku pengemudi
"Yaa seperti yang kau tahu" sahut pemuda itu kemudian kembali memejamkan matanya agar bisa terbuai dalam alam mimpi
Namun baru saja dia akan kembali terlelap, injakan kaki pada rem mobil ini berhasil membuat seluruh penumpang mobil yang beberapa saat lalu melaju dengan kecepatan tinggi itu terjelembab kedepan. Namun berhasil tertahan karna beruntungnya mereka memakai sabuk pengaman yang membuat mereka memiliki kemungkinan kecil untuk mencium apa yang ada didepan mereka.
"Oy, Teme! Apa yang kau lakukan, Brengsek?! Kenapa kau mengerem tiba-tiba?!" bentak Naruto, namun bentakan itu tidak berpengaruh pada pemuda Uchiha yang masih berdiam diri dibalik kemudinya
Beberapa detik kemudian pemuda Uchiha itu membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil, membuat ketiga temannnya mengernyitkan alisnya bingung. Namun detik berikutnya merekapun ikut turun ketika pemuda itu menghampiri 2 orang perempuan yang hampir ditabraknya.
"APA YANG KAU LAKUKAN?! KAU INGIN MATI, HAH?!" pekik pemuda itu penuh emosi pada dua sosok perempuan yang masih belum menampakkan wajahnya
"Kau tak apa?" pertanyaan lembut dengan nada kekhawatiran itu mengalun dengan indahnya dari bibir seorang perempuan yang mencoba membantu gadis kecil dalam pelukannya untuk berdiri
"Hm, A-Arigatoo Nee-chan" sahutnya yang langsung dijawab senyuman lembut dari gadis dihadapannya –malaikat penolong yang baru saja menyelamatkan nyawanya
"Baiklah, kalau begitu. Sebaiknya kau pulang sekarang. Apa perlu ku antar? Aku khawatir padamu" lanjut gadis itu tanpa menghiraukan sosok pemuda yang masih berdiri menjulang dibelakangnya dengan amarah memuncak dikedua onyxnya
"Tidak perlu, Nee-chan. Rumahku dekat dari sini" sahutnya kemudian membungkuk pamit dan meninggalkan kedua orang yang masih diam mematung pada posisinya
Setelah gadis kecil itu menghilang diujung gang sana akhirnya malaikat penolongnya inipun bangkit dari duduknya. Luka lecet menghiasi salah satu sikunya dan kedua lututnya yang sedikit mengeluarkan darah. Dan tanpa menghiraukan pemuda dibelakangnya, gadis itupun mulai berjalan meninggalkan pemuda itu sendirian dengan sedikit tertatih.
Hal itu cukup membuat emosi yang semula sudah naik sampai ubun-ubun kembali meledak-ledak. Sedetik kemudian pemuda Uchiha itu menarik salah satu lengan gadis itu dan berhasil membuatnya meringis.
Uchiha Sasuke terkejut bukan main ketika melihat siapa gadis yang ada dihadapannya. Kupluk yang dipakai gadis itu untuk menyembunyikan rambut merah muda panjangnya pun sudah terjatuh. Mata hijau emerald yang sangat menyejukkan itu kini sedang menatap tajam onyx dihadapannya.
"Lepaskan" ucap gadis itu tajam, membuat pemuda dihadapannya seperti ditarik kembali dari lamunannya
"Kau tuli, hah?! AKU BILANG LEPASKAN!" bentak gadis itu seraya menepis kasar tangan Sasuke, membuat ketiga temannya yang berdiri didekat mobil lamborghini raverton itu tercengang
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin mati, eh?" tanya pemuda itu dengan senyum meremehkan pada gadis yang baru saja melangkahkan kakinya
"Kalau kau ingin mati, setidaknya carilah mobil lain agar bisa kau jadikan tersangka atas kasus tabrak larimu itu, bodoh!" lanjutnya membuat langkah kaki gadis itu terhenti
"Siapa yang bodoh disini? Kau atau Aku?" sahut gadis itu tanpa membalikkan badannya "Apakah aku harus menjelaskan peringatan yang sudah dipasang pada beberapa bahu jalan ini, Uchiha?!" desisnya lagi, membuat rahang pemuda itu mengeras
"Harusnya kau sadar kalau kau berada dipinggiran kota! Berhati-hatilah jika kau ingin mengemudi! Beruntung anak yang hampir kau tabrak tadi tidak mati!" ucapnya penuh emosi dan kemudian kembali melanjutkan langkahnya dengan sedikit terseok
.
.
.
"Aku tidak percaya Sakura bisa bangun sepagi ini" kekeh Karin sembari menuangkan teh hangat yang baru saja dibuat olehnya
"Membangunkan dia dihari sepagi ini memang hal yang mustahil. Butuh tenaga yang besar untuk menyeretnya masuk kedalam kamar mandi" ketus Ino
"Hahaha sepertinya dia tidak berubah, eh" kekeh Karin
"Begitulah" sahut Tenten
"Nee, Karin nee-chan. Kenapa kau tidak tinggal saja bersama kami di Mension?" tanya Hinata
"Kau sendiri pun taukan alasannya" sahut Karin sembari tersenyum lembut kearah gadis indigo itu
"Hanya karna kau bukan saudara kandungnya, bukan berarti kau tidak diterima di Mension. Lagipula Kaa-san mengenalmu. Jadi kau sudah bukan orang asing lagi bagi kami" ucap Ino matanya memandang penuh harap kearah gadis itu
"Yaa, aku tau. Tapi, entahlah. Aku hanya sedang menikmati hidupku saja" sahut gadis itu
"Apa maksu–"
'Kling' bunyi bel itu kembali menyapa indra pendengaran mereka yang sedang duduk disofa yang sengaja disediakan bagi mereka yang ingin membaca ditoko buku itu.
"Kami-samaaaa! Sakura?! Apa yag terjadi denganmu?!" pekik Ino, wajahnya terlihat sedikit panik ketika melihat kedua lutut putih gadis itu lecet dan mengeluarkan darah, penampilannya pun terlihat sedikit kotor.
"Hehehe, aku terjatuh" kekeh gadis itu "Tapi tenang saja! Waffle kalian amaan!" sambungnya dengan girang, membuat keempat gadis lain hanya bisa menepuk jidatnya
"Uuuh, Baka! Kemari kau! Agar aku bisa mengobati lukamu!" ketus Karin sembari menarik lengan gadis merah muda itu dan mendudukkannya disofa sementara dia sendiri berjalan untuk mengambil kotak P3k
"Jangan berbohong, Cherry. Apa yang terjadi denganmu?" tanya Ino dengan nada mengintimidasi
"Ayolaah. Aku sudah bilang kan kalau aku hanya terjatuh" sahut gadis itu ketika Karin sudah kembali dengan kotak P3K ditangannya
"Kau tahu? Kau sangat tidak pandai berbohong, Saki" ucap Karin sembari mengangkat kaki gadis itu dan membersihkan lukanya
"Haaah, baiklah-baiklaaah! Kalian menang!" ketus gadis itu "Aku... hampir ditabrak mobil"
'BYUUUUURR' Hinata berhasil menyemburkan seteguk air teh yang baru saja akan masuk kedalam kerongkongannya –dengan sangat tidak elit
"Apa yang kau bilang barusan?! Siapa yang berani menabrakmuu?!" bentak Ino dengan nada murka
"Ino, tenanglah" ucap Tenten sembari berusaha menenangkan gadis Yamanaka itu
"Aku tidak ditabrak, Ino. Aku hanya 'hampir' ditabrak" sahut gadis itu dengan penekanan pada kata 'Hampir'
"Tapi tetap saja itu berbahayaa!" ketus gadis itu, matanya masih memandang tajam gadis yang sedang meringis itu
"Tenanglah, Inooo! Ini! Sebaiknya kau minum dulu tehmu" Tenten menyodorkan secangkir teh pada gadis Yamanaka itu
"Jadi? Siapa orang itu?" tanya Karin dengan lembut, matanya masih tertuju pada luka dilutut Sakura
"Uchiha Sasuke"
'BYUUUUURRR' Lagi-lagi kejadian serupa terulang lagi. Dan kali ini pelakunya adalah Yamanaka Ino
"A-Apa? Si-Siapa yang kau sebut tadi?" tanya Ino berusaha memastikan kalau pendengarannya tidak salah
"U-CHI-HA SA-SU-KE" sahut gadis itu sembari mengeja nama pemuda yang tadi hampir menabraknya
"Apa sudah jelas sekarang?" tanya Sakura yang hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Ino
"Tunggu, sedang apa mereka ada disini?" tanya Tenten sembari mengernyitkan alisnya bingung
"Mereka tinggal didaerah sini, Tenten" sahut Hinata yang kini sedang asik membaca komik ditangannya
"Darimana kau tahu hal itu, Hinata?" tanya Sakura sedikit terkejut
"Setelah Tenten mengungkap jati diri mereka. Aku langsung mencari tahu hal lain mengenai keempat pemuda itu, termasuk tempat tinggal mereka" sahut Hinata dengan santai
"Hee, jadi kau menemukan sesuatu tapi tidak memberitahukannya pada kami?" Tanya Ino dengan nada meremehkan
"Tadinya aku berniat untuk memberitahu kalian setelah pulang dari sini" sahut gadis itu tampak acuh
"Baiklah sudah selesai" ucap Karin sembari mengencangkan plester yang dipasang pada luka yang ada disiku gadis Haruno itu.
"Arigatooo Karin Nee-chan" ucap Sakura sembari memeluk gadis dengan rambut semerah darah itu
"Hmm, Lain kali berhati-hatilah" sahut gadis itu kemudian beranjak dari tempatnya
"Ada apa Tenten? Kenapa kau melamun seperti itu?" dan pertanyaan Sakura berhasil membuat Tenten tersadar dari lamunannya
"Aku hanya sedang memikirkan apa yang akan mereka lakukan di hari Sabtu pagi ini" sahut gadis itu membuat ketiga gadis lainnya terdiam
"Apapun yang mereka lakukan bukan urusan kita Tenten. Selama mereka tidak mengganggu kita, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan" dan kalimat yang dilontarkan Sakura seperti sebuah mantar sihir yang membuat ketiga gadis itu merasa lega
"Aku yakin inilah tujuan kalian datang kesini" dan ucapan dari Karin berhasil membuat keempat gadis itu menoleh kearahnya "Ini adalah informasi yang kalian butuhkan untuk misi selanjutnya. Tapi semua informasi ini belum sepenuhnya jelas dan lengkap. Karna pelaku itu sendiri masih belum diketahui identitasnya" sambung gadis itu sembari memberikan sebuah amplop coklat pada Sakura
"Hmm, tak apa. Kami bisa menangani yang satu itu dan Arigatooo Karin Nee-chan"
~OoOoO~
Keempat pemuda itu melangkah dengan santai. Melewati lorong-lorong yang sudah mereka hafal diluar kepala. Sebuah senyum tidak lepas dari wajah para pemuda itu ketika para petugas lain menyapa mereka.
Jam yang bertengger dipergelangan tangan Neji menunjukkan pukul 9 pagi. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya keempat pemuda itu sampai didepan ruangan atasannya. Setelah mengetuk dan mendapat jawaban dari dalam, keempat pemuda itu segera masuk kedalam. Menutup pintu dengan rapat agar tidak ada siapapun yang bisa mencuri dengar apa yang mereka ucapkan.
"Jadi? Apakah kalian sudah menemukan target itu?" Pertanyaan Kakashi menyambut keempat pemuda yang langsung mengambil posisi favorite mereka
"Kami memiliki beberapa orang yang patut dicurigai" sahut Neji yang saat ini sedang berdiri disamping pintu ruang kantor itu
"Beberapa orang?" ulang Kakashi, membuat pemuda Hyuuga itu menganggukkan kepalanya
"Ada beberapa orang yang diterima sebagai guru di sekolah itu sebulan yang lalu. Dan kami masih menyelidiki lebih lanjut mengenai hal ini" Shikamaru berucap dengan cuek
"Begitukah? Lalu bagaimana dengan 'Dark Moon'?" dan pertanyaan Kakashi berhasil menarik perhatian dari pemuda Uchiha yang semula hanya memandang malas keluar jendela
"Apakah kau yakin kalau disini tidak ada lembaga apapun yang melindungi mereka?" Untuk sesaat pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda Uchiha itu berhasil membuat Kakashi bingung.
"Tidak" sahutnya singkat, padat dan jelas "Ada apa? Apakah kau menemukan sesuatu, Sasuke?" sambung pria itu, matanya menatap intens pemuda Uchiha yang duduk didepannya
Bermenit-menitpun berlalu tanpa ada seorangpun yang berbicara. Mereka malah memilih diam daripada menanggapi pertanyaan itu. Termasuk Uzumaki Naruto yang biasanya berisik dalam situasi apapun itu.
Tapi, tunggu! Kenapa pemuda Uzumaki itu tidak terdengar suaranya sejak tadi? Dan suara apa itu yang tampak mengganggu? Baiklah mari kita lihat kebelakang. Daaaan! Disanalah dia, seorang pemuda berambut kuning jabrik yang tampak tertidur pulas. Heh! Lihatlah! Betapa 'Sopan' nya pemuda yang merupakan anggota pasukan khusus itu?! Dengan seenak jidatnya dia tertidur disofa empuk yang sengaja ditaruh diruang kantor milik Kakashi.
"Sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini sejak beberapa hari lalu, Kakashi-san" Kakashi menoleh pada pemuda Hyuuga yang sedang menatapnya setelah beberapa saat berada dalam keadaan hening
"Kalau pihak kepolisian sudah mengetahui bahwa penjahat itu ada disana. Kenapa kalian tidak menangkap dan menjebloskannya ke Penjara?" Kakashi tampak menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan itu
"Bukti, Neji" sahut pria berambut putih nyaris abu-abu itu
"Kau membutuhkan bukti yang kuat–"
"–Untuk menjebloskan seorang penjahat kedalam penjara" Kakashi menoleh kearah Shikamaru yang memotong dan menyambung ucapannya. Pria itu mengangguk membenarkan kalimat Shikamaru.
"Kami memang tahu kalau penjahat itu ada disana. Tapi kami tidak memiliki petunjuk mengenai identitas dari penjahat itu. Lagipula selama sebulan ini dia tidak memberikan pergerakan atau kecurigaan apapun yang dapat menarik perhatian kami. Semuanya tampak tenang. Dan kasus 'Dark Moon' beberapa waktu lalu lebih menyita perhatian kami" Kakashi menoleh kearah Sasuke yang menatap datar dirinya
"Tapi sehari sebelum kalian mendarat disini, dia mulai bergerak. Awalnya kami memutuskan untuk menangani masalah ini. Tapi 'dia' melarang. 'Dia' ingin kalian lah yang menangani kasus ini" sahutnya dengan tenang
Suasana kembali menjadi hening. Sampai akhirnya Sasuke melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Kakashi kembali sibuk pada pekerjaan awalnya "Apakah ada hal lain lagi yang ingin kau bicarakan?"
"Tidak. Kalian sudah bisa pergi sekarang" sahut Kakashi sembari mengambil beberapa berkas yang sempat dibiarkannya semenjak keempat pemuda itu masuk kedalam ruangannya
"Tapi bisakah kalian membawa 'dia' keluar dari sini juga? Suara dengkurannya bisa menganggu konsentrasiku" lanjutnya tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang ada dihadapannya
"Neji! Shikamaru! Kalian urus dia" sahut Sasuke sembari keluar dari ruangan itu
"Mendokusai" ucap Shikamaru dengan tampang malasnya
~OoOoO~
Hari beranjak malam ketika Mobil ferrari berwarna putih itu sampai dimension megah mereka. Selalu seperti ini. Keempat gadis itu akan jadi lupa waktu jika sudah bertemu dengan Karin. Membicarakan segala hal yang bisa dibicarakan atau terkadang hanya untuk sekedar bernostalgia.
"Jadi? Apa saja yang sudah kau temukan, Hinata-sama?" Ino buka suara ketika dia sudah mendudukkan dirinya disofa ruang bersantai
Hal serupa diikuti oleh ketiga gadis lain yang duduk di spot mereka masing-masing.
"Sebenarnya apa yang aku temukan bukan sesuatu yag penting. Setidaknya begitulah pendapatku" sahutnya sembari mengedikkan bahu
Gadis itu beranjak menuju kamar dan tak berapa lama dia kembali datang dengan laptop ditangan dan kembali duduk diposisinya semula. Untuk sesaat gadis itu hanya diam, semua jarinya menari-nari diatas keyboard laptopnya sampai akhirnya gadis Hyuuga itu menaruh laptopnya ditengah meja. Membiarkan ketiga temannya untuk melihat data diri dari keempat pemuda itu
"Memangnya data seperti apa yang kau temukan?" tanya Tenten penasaran yang kemudian ikut melihat layar laptop itu
"Nama mereka, Umur, Hobby, Tinggi dan Berat badan, Hal yang disukai dan dibenci, Makanan favorit, Pendidikan, Alamat rumah, Motto hidup dan Keahlian mereka" sahutnya dengan santai
"Apakah kau bercanda? Bagaimana mungkin kau menemukan hal 'yang tidak penting seperti ini?" kekeh Ino yang lebih mengarah pada sebuah ejekan
"Diamlah! Aku sedang malas berdebat denganmu" Iris Amethyst milik gadis itu menatap malas Ino yang masih mengarahkan tatapan mengejek
"Menurutku tidak semua yang ditemukan oleh Hinata itu tidak penting. Karna aku sendiripun belum tahu mengenai keahlian dari masing-masing mereka" Hinata menoleh kearah Tenten yang masih terpaku didepan layar laptopnya
"Hmm, Tenten benar. Dan bisa kau bacakan keahlian apa saja yang dimiliki oleh mereka?" pinta Sakura yang langsung direspon anggukan oleh Tenten
"Tunggu sebentar! Data ini sangat lengkap. Maksudku disini bahkan tertera apa saja yang mereka sukai dan apa saja yang mereka benci" ucap Tenten dengan sedikit bersemangat "Tapi darimana kau mendapatkan data ini?" tanya gadis itu, keheranan tercetak jelas diwajahnya
"Hmm? Hanya dari sebuah situs milik salah seorang dari mereka" sahutnya acuh
"Situs? Apakah kau meretas situs pribadi mereka? Siapa saja yang kau retas?" tanya Ino yang entah kenapa terdengar sangat bersemangat
"Uzumaki Naruto" sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari komik –yang entah sejak kapan sudah ada ditangannya
.
.
.
"Siaaal!" Pekikkan nyaring itu berhasil membuat ketiga pemuda yang semula sedang asik dengan dunianya menatap heran pada pemuda Uzumaki yang duduk didekat jendela itu.
"Jangan berteriak seperti itu bodoh! Kau membuatku kaget!" bentak Neji, matanya memandang tajam pemuda yang tidak menghiraukannya itu
"Gomen aku hanya sedang kesal karna situs pribadiku berhasil diretas oleh seseorang" sahut Naruto dengan raut wajah kesal
"Dasar bodoh! Kenapa kau selalu membesarkan hal sepele seperti itu?!" ketus Neji
"Ini bukan hal sepele seperti katamu, Hyuuga-sama" sahut Naruto, matanya masih memandang serius layar laptop dihadapannya
"Oh ayolah! Aku yakin situs pribadimu itu hanya berisi hal-hal yang tidak penting" sahutnya sembari menyeruput secangkir teh yang ada dihadapannya
"Baiklah, jika menurutmu data diri pribadi kalian bukanlah sesuatu yang penting maka aku tidak akan ambil pusing" sahutnya dan ucapan itu berhasil membuat ketiga pasang mata memandang tajam kearahnya
"DASAAAR BODOOOOHHHH...!" teriak mereka bertiga dengan serempak –termasuk Sasuke yang dengan sukarelanya menghadiahkan pada kepala duren itu sebuah pukulan telak
~OoOoO~
Malam minggu adalah saat-saat yang ditunggu keempat gadis ini. Karna malam ini mereka bebas dari beberapa aturan yang mengikat mereka. Aturan yang berlaku selama seminggu –kecuali malam dan hari minggu.
Seperti biasanya mereka menyambut antusias satu-satunya malam yang membuat mereka bebas. Sudah sejak siang tadi suasana mension ini tampak sepi karna para penghuninya sedang tidur atau mempersiapkan diri.
Dan tepat ketika malam mulai menjelang. Keempat gadis ini mulai bersiap menuju tempat mereka biasa menghabiskan malam minggu ini.
"Jadi? Apakah kau yakin kalau kau tidak akan keluar malam ini, Hinata?" tanya Sakura pada gadis yang sejak beberapa jam lalu tidak beranjak dari posisinya
"Tidak, Sakura-chan. Aku hanya ingin menamatkan game online ini" sahutnya tanpa mengalihkan fokus matanya dari laptop itu
"Ayolah, Hinata. Ini sabtu malam, apakah kau tidak berniat untuk mencari udara segar? Maksudku kita sudah terjebak diantara sekolah dan pelajaran selama seminggu –tanpa misi. Apakah kau tidak jenuh?" tanya Tenten yang baru saja keluar dari kamarnya
"Seperti yang kau tau, satu-satunya hal yang bisa membuatku segar adalah Game" sahut gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya
"Dasar maniak game" desis Ino yang baru saja turun dari lantai dua mension megah itu
"Lalu bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Sakura pada kedua sosok gadis yang ada dihadapannya
"Aku akan datang ke diskotik langgananku" sahut Ino tanpa mengalihkan pandangannya dari gadget ditangannya
"Jangan sampai kau terjebak dengan para pria hidung belang diluar sana, Nona Yamanaka" ucap Hinata yang lagi-lagi masih bertahan pada posisinya
"Diam kau! Fokus saja pada apa yang sedang kau kerjakan, bodoh!" ketusnya
"Kalau aku sepertinya akan pergi ke 'Dark Palace'. Bagaimana denganmu?" tanya Tenten sembari mengeluarkan sebuah helm dari sarungnya
"'Dark Palace'? maksudmu acara balap motor liar yang cukup terkenal dikalangan pembalap jalanan?" tanya Ino yang langsung dijawab dengan anggukan oleh gadis itu
"Aku akan mencoba balapan di Red Arena" sahutnya dengan santai, namun berbeda sekali dengan ketiga gadis yang saat ini sedang menatap terkejut kearahnya –termasuk Hinata
"Red Arena?" tanya Hinata
"Bukankah itu adalah arena balap mobil liar yang sangat terkenal?" tanya Tenten yang hanya dijawab dengan anggukan mantab dari gadis Haruno itu
"Dan mobil apa yang kali ini akan kau pakai?" tanya Ino
"Aku akan memakai 'The Silver Prince'" sahutnya dengan seringai khas gadis itu
"Apa? 'The Silver Prince'? Maksudmu 'Saleen S7 TT'?! Kau pasti bercanda" sela Tenten
"Apa wajahku menampakkan kalau aku bercanda" tanya gadis itu sembari memakai jaket kulitnya
"Apa yang membuatmu memutuskan untuk memakai mobil itu, eh?" tanya Ino sedikit menggoda gadis itu
"Apakah karna 'Red Arena' adalah acara bergengsi?" sambung Tenten yang juga ikut menggoda Sakura
"Ohh ayolaah. Jika 'Red Arena' adalah acara paling bergengsi aku pasti akan memakai 'The Black Devil'" sahutnya dengan enteng
"'The Black Devil'? Hahaha kau bahkan tidak pernah memakai mobil tercepat didunia itu" goda Ino dengan seringai andalannya
"Sudahlah, berhenti menggodaku. Dan Hinata ingat! Kalau ada sesuatu segera hubungi kami" sambungnya sembari menepuk bahu gadis Hyuuga itu dan hanya direspon oleh anggukan singkat darinya "Nee! Aku duluan yaa. Jaa nee!" sambungnya sembari berlari keluar dari mension megah mereka
"Sebaiknya kita juga pergi sekarang, Ino. Aku tidak ingin ketinggalan acara balapanku sendiri" sambung Tenten sembari berjalan menuju pintu keluar
"Tenten! Tunggu! Biarkan aku menumpang padamu, yaa?" teriak Ino sembari berlari mendekat kearah Tenten dan tanpa menunggu lagi gadis bercepol dua itu langsung menganggukkan kepalanya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Diary Gold:
Oke ini udah lanjut yaa minnaaaa-san!Gimana dengan chapter ni? kependekan gaa? Keep follow and review yaaaa :) Terimakasih banyak buat yang udah review.
Oke deh Gold gabisa banyak cingcong nih sekarang jadiii... seee you di chapter 5 yaaaaa :)
Balas Review :
syahidah973 : Oke ini udah update yaa
Hinamori Hikari : Kamu teriak teriak muluuu deh berisik tauuu-_- hahaha. Ga janji yaa, Naak! PLAAKK/apaansi.
Anisa508 : Dark Princess ? Aku baru denger dan baru baca pas liat review dari kamu. Dan setelah aku baca ternyata bener -_- pemilihan pemerannya samaaaa T.T Tapi beda cerita dan tujuan ko tenang ajaa
WbQueen :In udah lanjut yaaaa :) Keep follow sist *eh
Luca Marvell : Sukaaa ga yaaa? Hahaha liat aja nanti~
1 : Ini udah next yaaaa
Niayuki : Udah lanjut yaaa
indrifivers10 : Ini udah lanjuttt yaa~ Kelamaan gaaa?
