"Tuan muda, tunangan Anda ingin menemui Anda." Seketika Daehyun menghentikan aktifitasnya. Menatap laki-laki paruh baya di depannya dengan alis yang mengkerut bingung. Tunangan? Sejak kapan ia memiliki tunangan?

"Tunangan? Tapi aku bel—"

"Chagiyaa!" Daehyun membulatkan matanya kaget saat seseorang memasuki ruangannya dengan panggilan yang benar-benar menjijikan untuknya. Laki-laki paruh baya tersebut kemudian membungkukkan tubuhnya dan berlalu meninggalkan Youngjae dan Daehyun berduaan.

Setelah memastikan laki-laki paruh baya tersebut benar-benar pergi, Youngjae menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan kerja Daehyun. "Fiuh, akhirnya aku benar-benar bisa menemuimu."

"Ya! Apa yang kau lakukan disini?" Teriak Daehyun saat kesadarannya kembali. Sedangkan Youngjae hanya tersenyum yang bagi Daehyun terlihat sangat aneh.

"Meminta bantuanmu."

"Apa?!" Youngjae menganggukkan kepalanya. Meyakinkan Daehyun bahwa laki-laki itu memang tidak salah dengar. "Apa maksudmu dengan bantuan, huh? Kau bilang kemarin bahwa—"

"Aku menarik kembali kata-kataku."

"APA?!"

"Aishh…tak bisa kah kau berhenti meneriaki kata 'apa'?!"

"Ya! Mana bisa kau menarik kembali kata-katamu begitu mudahnya? Tidak bisa. Aku menolak untuk membantumu. Sebaiknya kau lupakan saja niatanmu itu, tuan." Daehyun bangkit dari kursinya kemudian keluar dari ruangannya.

"YA! Tunggu sebentar. Aku belum menjelaskan apapun padamu." Teriak Youngjae yang berada di belakang tubuh Daehyun. Sudah kubilang tadikan? Youngjae tidak akan mundur sebelum laki-laki ini bersudi untuk membantu Youngjae.

"Sudah kubilang aku tidak akan mau membantumu." Kedua laki-laki tersebut keluar dari gedung tersebut kemudian menuju parkiran. Youngjae semakin mempercepat langkahnya saat Daehyun bersiap membuka pintu mobilnya dan pergi.

Brak.

Youngjae kembali menutup pintu mobil Daehyun, dengan nafas tersenggal-senggal Youngjae menatap mata Daehyun. Memelas agar Daehyun merubah pikirannya. "Minggir." Youngjae menggelengkan kepalanya cepat. Menandakan bahwa ia benar-benar tidak akan beranjak dari posisinya sebelum Daehyun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan tolong Youngjae.

"Yaish orang ini benar-benar…Sebenarnya kau ini siapa sih? Teman bukan, kerabat bukan, saudara juga bukan. Tidak bisakah kau pergi dan mencari orang lain untuk meminta pertolongan? Kenapa selalu aku? Yaish jinjja…."

"Karena aku sudah terlanjur membawamu masuk ke dalam lingkaran ini!"

"Mworago?!" Mata Daehyun membulat sempurna. Bahkan sepertinya kedua bola mata itu bersiap untuk keluar karena mendengar penuturan Youngjae.

"laki-laki yang kita temui kemarin memintaku untuk datang ke rumahnya dan mengadakan makan malam."

"Lalu, hubungannya denganku apa? Kau bisa pergi sendiri jika kau menginginkannya. Tidak perlu meminta bantuanku."

"Masalahnya adalah, ia meragukan aku sudah bertunangan. Dan sebagai bukti jika aku memang sudah bertunangan, aku harus mengajak tunanganku ke acara ini. Kau kan tunangan yang aku maksud, jadi aku meminta kau untuk datang ke acara malam ini."

"Kenapa harus aku? Katakan saja padanya bahwa kau memang belum bertunangan dan bilang pada laki-laki tersebut bahwa pertunangan itu memang tidak pernah ada. Pertunangan itu hanya terlontar dari otak bodohmu."

"itu tidak mungkin! Mau ditaro dimana mukaku jika aku mengatakan seperti itu padanya."

"Itu bukan urusanku. Yang jelas, aku benar-benar tidak akan mau menolongmu."

"Ayolah… Apa begini sikapmu saat seseorang datang padamu dan meminta pertolongan?"

Daehyun mengusap wajahnya kasar. "Astaga tuhan…aku benar-benar ingin mati saja. Hei! Dengarkan ini, Kau dan aku tidak saling mengenal. Aku tidak tau siapa kau dan siapa laki-laki yang kita temui kemarin. Kalian berdua hanyalah orang asing untukku. Jadi, sebaiknya kau selesaikan masalah kalian berdua tanpa melibatkanku! Sebaiknya kau minggir."

Youngjae menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Menatap wajah Daehyun dengan tatapan memelas yang ia punya. "Kumohon, bantu aku. Hanya kali ini. pertama dan terakhir kalinya."

"M—"

"Jae!" Daehyun menutup mulutnya saat sebuah suara menginterupsi adu mulut mereka. Kedua bola pasang itu menatap seorang laki-laki yang berjalan santai ke tempat dimana Youngjae dan Daehyun berdiri saat ini. Seorang laki-laki yang sama yang Daehyun temui kemarin.

"Ada apa?" tanya Youngjae dengan nada datarnya, saat laki-laki tersebut sudah berdiri di depan Daehyun dan Youngjae. Masih memasang senyuman yang semakin menambah kesan tampan padanya.

"Tidak ada. Kau sedang apa disini?" Tanya Jae Bum. Sedangkan Youngjae hanya diam. Ia tidak mungkin menjawab bahwa ia kesini untuk memelas memohon pertolongan pada Daehyun. Ekor mata Jae Bum bergerak menatap Daehyun. Hanya sesaat kemudian kembali menatap Youngjae. "Ah~ menemui tunanganmu. Baiklah, baby. Kebetulan kau dan tunanganmu disini. Ini," Youngjae mengambil kertas berbentuk persegi panjang yang terulur di depannya.

"Aku harap kau datang dengan TUNANGANMU ini, baby Yoo." Ucapnya dengan penekanan pada kata 'tunanganmu'. Jae Bum tersenyum meremehkan saat tubuhnya melewati Daehyun. Sesaat kedua mata itu saling melemparkan tatapan sengit.

"Apa-apaan orang itu," Gumam Daehyun saat tubuh Jae Bum sudah pergi menjauh. Youngjae hanya menghela nafasnya. "Ya! K—"

"Lupakan saja! lupakan permintaan tolongku padamu. Aku tidak memerlukannya lagi." Youngjae menatap kesal ke arah Daehyun, kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat ia memarkirkan mobilnya.

"YA LAKI-LAKI KERAS KEPALA!" teriak Daehyun, membuat langkah Youngjae terhenti. Dengan gerakan cepat Youngjae memutar tubuhnya dan jangan lupakan tatapan mematikan dari Youngjae. Seenaknya saja orang itu memanggilnya dengan sebutan keras kepala. Memangnya dia tidak pernah bercermin apa? Dia juga memiliki sifat keras kepala. Menyebalkan.

"Jam berapa acaranya?" Tanya Daehyun membuat Youngjae melembutkan tatapannya. Apa Youngjae salah dengar?

"Kau bilang apa?"

"Tck! Aku bertanya, jam berapa acaranya dimulai?" Youngjae melebarkan senyumnya. Sedangkan Daehyun masih tetap memasang wajah datarnya. "Jam delapan malam. Kita akan bertemu di perempatan jalan. Sampai jumpa!" Jawab Youngjae dengan nada ceria. Kemudian melambaikan tangannya semangat dan berlalu meninggalkan Daehyun yang menghela nafasnya.

Daehyun meletakkan kepalanya yang terasa pening di mobil mewahnya. "Hukuman atas dosa apa lagi ini tuhan?"

.

-Bittersweet-

.

Youngjae memerhatikan pantulan dirinya di cermin. Menghela nafas yang sekian kalinya dalam beberapa menit terakhir. Merapikan ujung jasnya yang sama sekali tidak berantakan. Sesekali matanya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih ada lima belas menit tersisa sebelum bertemu dengan Jung Daehyun di perempatan jalan seperti yang sudah ia janjikan kepada Daehyun.

Gugup.

Itulah yang menggambarkan suasana hati Youngjae saat ini. Bagaimana jika ternyata laki-laki berkulit kecoklatan tersebut tidak datang? Bagaimana jika semua yang ia katakan tadi sore hanyalah kebohongan semata agar Ia bisa menghindar dari Youngjae? Bagaiman jika—

"Jae?" Youngjae tersadar dari lamunannya. Dari pantulan cermin Ia dapat melihat Kyungsoo berdiri di belakangnya. "Kau belum berangkat? Bukankah sebentar lagi acara di mulai?"

"Hyung, apakah tidak apa-apa jika aku datang ke acara Jae Bum?" Kyungsoo tersenyum kemudian menepuk bahu Youngjae lembut.

"Kau bisa bilang berhalangan jika kau tidak ingin pergi ke acara itu Jae. Apa kau mau hyung temani?"

Youngjae menggeleng pelan. "Tidak perlu hyung, aku sendiri saja."

"Baiklah kalau begitu. Bergegaslah sebelum kau benar-benar terlambat." Youngjae mengangguk. Memeluk tubuh mungil sang kakak sebentar kemudian keluar rumah menuju tempat pertemuan dirinya dengan "tunangan"nya, Jung Daehyun.

.

-Bittersweet-

.

Daehyun memenuhi janjinya. Ia menjemput Youngjae di titik pertemuan mereka walaupun tidak tepat waktu. Membuyarkan segala perasaan gugup dan khawatir Youngjae. Dan saat ini, mobil Audi R8 kesayangan Daehyun terparkir sempurna di depan gedung pencakar langit yang berdiri kokoh. "Ya! Jung Daehyun, malam ini kau harus memperlakukan aku seperti tunanganmu yang sesungguhnya."

"Apa?! Tidak mau!"

"Ya!"

"Wae? Kau ingin protes? Silahkan saja, aku akan pergi dari sini." Youngjae mendecih pelan. Laki-laki di sampingnya benar-benar keras kepala. baiklah, jika Youngjae tidak ingin ditinggal di tempat seperti ini sendirian jadi ia terpaksa harus menurunkan egonya sendiri.

"Hanya malam ini saja, aku mohon. Setelah acara ini selesai, kau bebas memperlakukanku. Meskipun kau ingin memperlakukanku seperti orang asing."

"Apa kau bilang? Kau bilang setelah ini aku boleh memperlakukanmu seperti orang asing?" Youngjae mengangguk pelan.

"Woah... orang ini benar-benar..." Daehyun menghembuskan nafasnya kencang. Membuat poninya sedikit tertiup akibat hembusan nafasnya. "Yoo Youngjae, bahkan kita memang orang asing. Kau dan aku tidak pernah kenal."

"Aku mengenalmu, kau Jung Daehyun wakil direktur sekaligus anak kandung dari pemilik JC." Daehyun hendak membuka mulut ingin memprotes, namun Youngjae lebih dulu melanjutkan. "Dan aku, Yoo Youngjae adik dari Do Kyungsoo, kau mungkin kenal dengan hyungku jadi aku tidak perlu lagi mengenalkan hyungku kepadamu bukan? Nah, apakah itu sudah cukup membuat kita saling mengenal?"

"Y—"

"Nah, karena kita sudah mengenal maka kau harus menurutiku. Malam ini, kau harus berpura-pura menjadi 'tunangan'ku di depan semua orang termasuk Jae Bum. Sekarang, mari masuk sa-yang." Tutup Youngjae dengan sedikit penekanan pada kata "sayang", melingkarkan tangan kirinya ke tangan kanan Daehyun, menarik paksa laki-laki berkulit tan tersebut masuk ke dalam. Sekali lagi, tanpa tau sebab apa, Daehyun menurut.

.

-Bittersweet-

.

Ruangan tersebut jauh lebih luas dan lebih mewah dari yang Youngjae bayangkan. Permadani yang menutupi seluruh lantai marmer ruangan tersebut dan cahaya lampu keemasan membuat ruangan tersebut semakin menambah kesan glamour bagi para undangan. Tidak lupa aneka macam makanan dari berbagai negeri juga terhidang, beberapa pelayan yang tak kalah rapihnya juga berjalan kesana-kemari sambil membawa nampah aluminium yang diatasnya berdiri gelas-gelas cantik dengan cairan berbagai warna. Sebenarnya acara seperti ini sudah sangat familiar dengan Youngjae, mengingat Ia juga bukan berasal dari keluarga yang tidak berkecukupan. Namun tetap saja menurut Youngjae acara yang diadakan Jae Bum kali ini sungguh pemborosan dan berlebihan jika hanya untuk perayaan atas kembalinya Ia ke Korea.

Jae Bum adalah orang pertama yang menyadari ke datangan Youngjae dan Daehyun. Setelah beberapa kalimat, akhirnya Jae Bum memutuskan meninggalkan beberapa orang yang sempat mengobrol dengannya. Menghampiri Youngjae dan Daehyun. "Kau dateng, Jae-ie?" sapanya, membuat Youngjae dan Daehyun menghentikan perdebatan mereka sejenak. "Ahhh...bersama tunanganmu juga." Lanjut Jae Bum. Seolah baru menyadari kehadiran Daehyun.

"Selamat datang di Korea, Im Jae Bum dan maafkan jika aku dan Youngie telat dalam pembukaan acaramu."

Youngjae membelalakkan matanya. Kaget dengan reaksi Daehyun. Laki-laki tersebut entah sedang kerasukan setan apa dengan tiba-tiba tangan kirinya sudah melingkar manis di bahu Youngjae. Menariknya agar lebih rapat dengan Daehyun. Dan apa? Youngie? apa maksudnya? Bukankah beberapa menit yang lalu Daehyun protes karena mereka belum kenal dan sekarang apa maksud Daehyun dengan menyebutnya dengan panggilan—yang sangat menjijikan ketika Daehyun mengatakannya—tersebut?

"Well, tidak masalah. Aku juga baru saja selesai berbicara omong kosong di depan para tamu." Daehyun mengangguk mengerti, tangan kirinya masih melingkar manis di bahu Youngjae. "Silahkan menikmati hidangan yang ada Jae-ie dan Jung Daehyun. Maaf jika hidangan yang ada tidak sesuai dengan selera kalian. Aku akan menyapa beberapa tamu terlebih dahulu."

"Tidak masalah." Tepat setelah Daehyun mempersilahkannya, Jae Bum berbalik dan menjauhi tempatYoungjae dan Daehyun berada. Daehyun menghembuskan nafasnya kemudian melepaskan linkaran tangannya di bahu Youngjae. "Aku tidak pernah suka bagaimana dia menatapku, dan Hei! Bagaiman bisa kau sedari tadi hanya diam menyimak? Aku sudah melakukan tugasku dan seharusnya kau membantuku tadi."

Ah benar. Youngjae lupa bahwa apa yang Daehyun lakukan tadi hanyalah kepura-puraan belaka, dan kenapa pula Youngjae hanya diam menyimak mereka berdua? "Ah sudahlah, aku ingin ke kamar kecil." Daehyun meletakkan gelas minumannya kemeja dan bergegas pergi.

"Jung Daehyun!" Daehyun membalikkan tubuhnya.

"Wae? Kau mau ikut ke kamar kecil juga?"

Youngjae menggelengkan kepalanya. Kepalanya menunduk. "Terimakasih,"

Hening.

"Terimakasih sudah berpura-pura menjadi tunanganku." Youngjae menaikkan kepalanya sedikit. Ke dua pasang mata itu saling menatap satu sama lain. Bertahan hingga beberapa detik, sampai Daehyun yang memutuskan kontak mata mereka.

"Lupakan saja." Ucap Daehyun sambil berlalu.

.

-Bittersweet-

.

Daehyun menatap pantulan dirinya di cermin. Ini gila. Ini sungguh diluar kepala. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia secara tidak sadar menerima untuk berpura-pura menjadi tunangan dari laki-laki keras kepala seperti Youngjae. "Aish Jung Daehyun! Sadarkan dirimu." Tangannya menepuk-nepuk ke dua pipinya. Baiklah, dia harus kembali ke ruangan megah tersebut dan menyudahi semua ini sebelum masalah yang lain datang secara tiba-tiba.

Langkahnya terhenti ketika Daehyun tidak dapat menemui Youngjae di tempat mereka berdiri sebelumnya. "kemana laki-laki keras kepala itu?" gumam Daehyun. Matanya terus menelisik setiap sudut ruangan. Gotcha! Daehyun menemukan sosok Youngjae yang tengah berdiri di tengah ruangan. Wajahnya terlihat sedang panik. Beberapa kali melihat layar smartphonenya.

"Ya! Yoo Youngjae!" Youngjae menengokkan kepalanya. Sedikit berlari kita melihat Daehyun. "Jung Daehyun, sialan kau! Kenapa kau tidak mengangkat telepon atau menjawab pesanku?" Daehyun mengernyitkan dahinya bingung. Tapi Youngjae tidak peduli dengan ekspresi bingung dan tidak suka Daehyun. Youngjae sibuk melihat-lihat sekeliling ruangan.

"Kita harus pergi sekarang, Dae!" Youngjae menarik tangan Daehyun untuk segera keluar dari ruangan tersebut tetapi Daehyun menahannya.

"Kau ini apa-apaan sih! Sudah mengatai orang sialan, memakinya, dan sekarang menarik orang sembarangan. Kau pikir aku hewan ternak yang bisa kau tarik kemana pun kau suka?!"

"Dae, aku mohon kita tidak ada waktu untuk berdebat sekarang."

"Kenapa? Kau takut Im Jae Bum kesayanganmu sekaligus kesialanku itu tau bahwa kita hanya berpura-pura?"

"Bukan begitu. Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang ayo kita keluar dari sini." Youngjae kembali menarik Daehyun, tetapi Daehyun kembali menahannya. "Kenapa tidak kau jelaskan disini saja? Aku juga tidak memiliki waktu lagi untuk mendengarkan penjelasanmu nanti."

"Kau tidak mengerti—'

"Memang, dan itu mengharuskanmu menjelaskan semuanya sekarang." Youngjae membuang nafasnya, percuma saja menarik paksa Daehyun seperti menarik sepuluh kerbau. Youngjae kalah tenaga dengan Daehyun. Sepertinya dia memang harus menjelaskannya sekarang dengan ringkas agar Ia berhasil membawa Daehyun keluar dari ruangan ini.

"Dae, Eom—" belum selesai Youngjae menjelaskan, sebuah suara yang secara tiba-tiba memotong penjelasan Youngjae. Membuat kedua laki-laki tersebut membalikkan tubuh menghadap sang pemilik suara. Ah sial.

"Son, kau di sini?"

Youngjae tersenyum kikuk. "E-eomma? Eomma datang juga rupanya?" tanya Youngjae masih dengan sikap kikuknya.

Dan sekarang Daehyun mengerti mengapa Youngjae memintanya untuk segera keluar dan dia sangat menyesali sikapnya yang tidak mau menuruti perintah Youngjae kali ini. Well, selamat datang masalah baru.

"Ya, Jae Bum meminta eomma untuk membuatkannya jas dan sekalian mengundang eomma untuk datang ke acaranya. Dan hei, siapa laki-laki ini Youngjae? Kau tidak akan mengenalkannya pada eomma?"

"A-ah ya, ini Jung Daehyun. Dia...te—"

"Tunangan." Semua mata menatap ke sang pemilik suara. "Jung Daehyun adalah tunangan Youngjae, Ahjumma."

.

.

.

-To Be Continue-

Hola guys! Apa kabar? Well, aku kembali lagi dengan FF Bittersweetku. Aku baru mencoba kembali menulis setelah sekian abad hiatus*lebay* aku ngerasa kualitas tulisanku makin menurun dan harap di maklumi karena aku jarang baca dan jarang nulis lagi;((( maaf juga kalo misalnya banyak typo dimana-mana;((( Dan semoga kalian suka dengan kelanjutan cerita ini. Terimakasih untuk kalian yang setia nunggu lanjutan dari bittersweet^^ Jangan lupa untuk di review dan selalu mensupport B.A.P especially DaeJae. Tebar cinta untuk kalian semuaaaa3