CHAPTER 4….

DISCLAIMER: KnB milik om Tadatoshi Fujimaki

CERITA INI PURE DARI OTAK SAYA.

WARNING: TYPO(S), GAJE,ABAL-ABAL, ANEH,OOC.

DON'T LIKE DON'T READ

HALOOOOOO MINNA-SAN SAYA KEMBALI DENGAN FIC INI, MAAF YAH KALAU UPDATENYA LAMA, UDAH MULAI SEKOLAH SOALNYA MAKANYA RADA-RADA SIBUK.

YODAH DARI PADA SAYA NGE-BACOT MENDING LANGSUNG DIBACA AJA DEH….

Mengerikan…..

Itulah kesan pertamaku saat melihat latihan basket di sekolahku, latihan ini benar-benar mengerikan dan kejam, seperti di neraka pantas saja tim basket ini selalu menang latihannya saja seperti itu. Mulai dari lari 50 kali mengelilingi lapangan, lalu sit-up, push-up itu baru pemanasannya saja kalau latihannya, yang aku mengerti hanya bagian shooting,drablle, dan passing selebihnya aku tidak mengerti.

"hoam…" ini kali ke 5 aku menguap ,membosankan sekali aku tidak mengerti apa-apa tentang basket dan harus menonton latihannya aish, sangat membosankan seandainya saja terjadi aksi bunuh-membunuh mungkin akan terlihat kenapa aku jadi seorang psikopat sih, aduh.. gawat baru 2 hari menjadi budak seorang psikopat aku sudah ketularan virus psikopatnya, ckck bagaimana kalau setelah 100 hari aku yang polos ini menjadi seperti Akashi psikopat yang tergila-gila dengan gunting merahnya. Oke pikiranku mulai ngelantur.

Karna bosan aku mencoba mencari seseorang yangku kenal untuk diajak ngobrol. Pandanganku mengelilingi seluruh lapangan tidak ada satupun orang yang ku kenal, kecuali….

Satu orang, eum yah bisa di bilang kenal sih walau tidak tahu namanya, aku mencoba menyapa si gadis pink itu. Saat berada tepat di sampingnya aku baru sadar kalau ternyata dia itu sedang sangat sibuk, melmperhatikan para pemain lalu mencatat seseuatu. Dengan hati-hati aku menyapanya.

"eum, halo"

"oh, halo kau menunggu Akashi-kun ya?" tanyanya dengan nada riang

"Mm, etto sebelumnya aku minta maaf atas kejadian yang tadi" kataku sambil membungkuk

"ah, tidak perlu minta maaf itu bukan sepenuhnya salahmu kok"

"tapi aku sudah melakukan tindakan yang membuatmu tidak nyaman, jadi aku harus minta maaf"

"yah, memang rasanya aneh kalau ada perempuan yang melakukannya, apalagi tampangmu tadi itu mesum banget lho, hahahah"

JLEB

Kata-katanya itu sudah menghancurkan imageku, sekarang mungkin aku sudah dianggap perempuan polos berwajah mesum. Oh my….

"oh ya, kita belum berkenalan perkenalkan aku Momoi Satsuki, terserah kau saja memanggilku apa" katanya sambil tersenyum manis dan mengulurkan tangannya,aku pun membalas uluran tangan nya

"hai, aku (name), aku boleh memanggilmu momo-chan"

"terserah kau saja (name)chan"

"oh ya, momo-chan mahkluk-mahkluk warna-warni yang di lapangan itu apa?" tanyaku sambil memperhatikan mahkluk-mahkluk aneh berwarna-warni yang sedang bermain basket lapangan. Tadinya aku sempat berpikir kalau mereka adalah mahkluk buatan pihak sekolah agar sekolahku bisa menang di dalam pertandingan.

"mahkluk?" tanyanya dengan ekspresi bingung, aku yang mengerti maksud dari momo-chan langsung menunjuk kearah mahkluk-mahkluk tadi.

"oh itu, mereka itu manusia biasa kok, hanya saja memiliki rambut berwarna yang berbeda"

manusia biasa bagaimana sekali lihat saja sudah tau kalau mereka itu bukan manusia normal sepertiku.

"dan mereka itu tim regular lho" lanjutnya, aku hanya membalas perkataannya dengan tatapan aku-ngak-mengerti-maksudmu.

"hmm, kau tidak pernah menonton pertandingan basket sekolah kita ya?" aku hanya mengeleng, karna aku benar-benar tidak tertarik dengan yang namanya basket, jadi wajarkan kalau aku tidak pernah menoton pertandingan basket.

"ehh… serius, padahal sekolah kita kan sangat terkenal dengan klub basketnya"

"aku tidak suka basket, jadi wajarkan kalau aku tidak mau menontonnya"

"huuf" dia menghembuskan nafas , sepertinya dia terlihat kecewa.

"gomen, aku hanya tahu kapten basket sekolah kita, itupun karna dia sekelas denganku" kataku berusaha menghiburnya walau sepertinya itu tidak menghiburnya sama sekali.

"hmm, baiklah aku akan mengenalkan para mahkluk warna-warni tadi, jadi siapa yang ingin kau kenal lebih dulu" aku berpikir sejenak lalu menunjuk si dekil yang akan nge-shoot

"itu yang, paling hitam dan dekil dari yang lain" tunjukku

"hahahah, kau polos sekali, itu namanya Aomine Daiki" aku hanya mengangguk-angguk saja

"dan dia sama mesumnya denganmu"

JLEB…

Lagi-lagi aku merasa terhina dibilang sama mesumnya dengan si dekil itu.

"momo-chan aku itu tidak mesum, aku ini gadis yang polos dan suci" kataku sambil menunjukan kesucian(?) dan kepolosanku padanya

"hahahah, hai hai, aku tahu kok"

"eum lalu yang paling tinggi dan berwarna ungu itu?" tanyaku sambil menunjuk si ungu

"itu Murasakibara atsushi, pecinta jajanan"

"siapa? Murasakakibara?" Tanya ku sekali lagi

"buka, tapi MU-RA-SA-KI-BA-RA"

"murasakakibara"

"geezz, ikuti aku"

"mu"

"mu"

"ra"

"ra"

"sa"

"sa"

"ki"

"ki"

"ba"

"ba"

"ra"

"ra"

"murasakibara" ulangnya dengan cepat

"murasakakibara" kataku tidak kalah cepatnya

"aduh… bukan tidak pakai ka" katanya dengan kesal

"hahahahaha" aku menertawainya yang sedang kesal

"aish, kenapa kau malah tertawa"

"kau kena momo-chan, aku tadi mengerjaimu, hahahaha"

"aih, kau itu jahil sekali" katanya sambil mengebungkan kedua pipinya

"hai.. hai , gomen , lagian kau semangat sekali , baiklah siapa namanya tadi? Murasakibara? Benar tidak?" tanyaku

"Mm, itu kau bisa"

"hahahah, lalu yang ijo lumut pakek kacamata itu" Tanyaku sambil nunjuk si ijo lumut

"itu Midorima Shintarou, maniak dengan ramalan" katanya sambil memperhatikan si ijo lumut

"oh.. lalu si kuning, yang hobi meluk orang itu" kataku sambil menunjuk si kuning

"ah.. itu Kise Ryouta, kenapa kau bisa tahu kebiasaannya memeluk orang?" tanyanya dengan nada heran

"ah, hanya insting, tapi sepertinya aku sering melihatnya" kataku berbohong, tidak mungkinkan aku bilang kalau tadi ada insiden aku di peluk olehnya, bisa tambah buruk harga diriku.

"oh ya, Kise Ryouta itu seorang model terkenal, pasti kau sering melihatnya di majalah-majalah"

"Mm, pantas saja tampangnya yang paling cantik, dari yang lain" kataku sambil memperhatikan si kuning.

"oh ya ada satu lagi, yang belum kau kenal, namanya kuroko tetsuya"

"kuro-kun?, aku sudah mengenalnya, dia pemain regular juga?" tanyaku padanya

"eum dia pemain regular, tapi kenapa kau bisa mnegenalnya?" Tanya Momo-chan

"kami teman baik dari sd"

"teman baik?" tanyanya padaku sambil menaikkan salah satu alisnya.

"eum, karna rumahnya dekat dengan rumahku jadi dulu kami sering bermain bersama"

"oh…" katanya mengangguk dan masih memperhatikan para pemain yang ada di lapangan.

"jadi, kuro-kun itu pemain reguler juga?"

"hai!, memang kenapa?"

"hmm, aku hanya tidak menyangka dia bisa menjadi pemain reguler, apa dia bisa memasukkan bola?"

"tidak, itu bukan tugasnya" mendengar jawaban dari Momo-chan aku menatapnya heran, memang da pemain basket yang tidak di tugaskan untuk memasukkan bola.

"tugasnya itu untuk memberikan passing, kepada teman-temannya" lanjut Momo-chan.

"oh…. Aku tidak mengerti maksudmu" kataku sambil menatapnya dengan tatapan bingung.

"jangan menjelaskannya, aku tidak ingin otakku pusing memikirkannya" potongku sebelum dia mencoba menjelaskan lebih detail.

SKIP TIME

Sekarang aku sedang berjalan menuju rumah Akashi, iya benar BERJALAN , aku heran kenapa harus berjalan, kalau dia punya mobil kenapa harus berjalan kaki ke rumahnya yang jauh itu.

"Mm, etto Seijuurou-sama" akhirnya aku memanggilnya setelah cukup berdiam diri dari tadi.

"apa?" tanyanya dengan nada dingin seperti biasa

"itu, kenapa kita harus berjalan kaki?, mobilmu kemana?" tanyaku kepadanya, karna tidak tahan dengan rasa penasaranku , tadinya aku sempat berpikir kalau keluarga Akashi mengalami kebangkrutan dan karna itu dia harus berjalan kaki ke sekolahnya, tapi tidak mungkin kan sebuah perusahaan besar bangkrut dalam satu hari.

"aku hanya ingin lebih bebas" katanya singkat, mendengar jawaban ambigu itu aku hanya menatapnya dengan ekspresi bingung, apa maksudnya 'bebas'.

"bebas? Apa maksudmu?" tanyaku lagi

"tidak bisakah kau menutup mulutmu dan berjalan dengan tenang" katanya yang sukses membungkam mulutku dan dengan terpaksa aku menahan ke-kepoan ku.

"dan berhenti menatap punggungku, perhatikanlah jalan yang ada di depanmu" sambung nya lagi. Ah sial kenapa dia bisa tahu sih.

.

.

.

.

"samaa…." Aku memanggil Akashi dengan nada horror gara-gara kelelahan berjalan kaki.

"Mm, ada apa?"

"tidak bisakah kita naik bis, atau telpon supirmu dan suruh dia menjemputmu" .

"kenapa?, kegiatan ini bagus untuk melatih otot kaki mu yang tidak berbentuk itu"

"what!, heh kau itu…"tiba-tiba saja suaraku tercekat begitu merasakan perubahan aura di sekitarku yang berubah menjadi dingin,dan menakutkan aku pun langsung tahu kalau sumber dari aura-aura mengerikan itu adalah dari orang yang berada di depanku yang tadi hampir ku maki-maki .

"kenapa tidak kau lanjutkan kata-katamu tadi…"

"eh .. ah.. hahahaha etto tadi itu aku hanya bercanda kok sama, tidak usah dipikirkan" kataku berusaha menenangkan Akashi yang hampir membunuhku.

"lagian sepertinya kau benar Seijuurou-sama aku memang jarang melatih otot kaki ku" begitu merasakan aura di sekitarku sudah kembali ke normal ,aku langsung menghela nafas lega.

"YOSH! AYO SAMA BANGKITKAN SEMANGAT MUDAMU" kataku sambil berpose ala guru guy dari anime Naruto. Akashi yang melihat poseku yang menurutku sendiri itu adalah pose terbodoh yang pernah kulakukan , hanya menatapku dengan dingin dan berkata ,"jangan melakukan hal konyol seperti itu,kau mempermalukanku" lalu dia mulai berjalan lagi, "yang harusnya malu itu gue bukan elu" kataku dalam hati.

.

.

.

.

Saat tiba di depan rumah Akashi kami disambut dengan senyuman ramah oleh pelayan Akashi atau lebih tepatnya hanya Akashi yang disambut dengan senyuman ramah jelas dong dia kan si empunya rumah, sedangkan aku bukannya disambut dengan senyuman tapi disambit eh salah disambut dengan tatapan kenapa-gadis-sepertimu-bisa-bersama-Akashi. Melihat tatapan tidak suka dari si pelayan aku hanya menelan ludah.

"sama, siapa gadis ini?" akhirnya tuh pelayan nanya juga.

"mulai sekarang dia akan menjadi pelayan pribadiku" untung Akashi mengunakan kata 'pelayan' kalau dia menggunakan kata'budak' bisa hancur imageku ini.

"tapi, kenapa apa aku masih kurang dalam hal melayani anda?" Tanya si pelayan lagi.

"dia memiliki hutang padaku, dan dia tidak bisa membayarnya jadi kau tidak usah banyak bertanya lagi"

What? Hutang dia bilang, enak sekali si setan merah itu mengataiku tukang hutang, padahal aku itu bukan orang yang hobi berhutang.

"kenapa kau tidak pernah mengatakan hal itu padaku sama?" ,'heh kau itu pelayannya bukan emaknya'

Pikirku ketika mendengar pertanyaan dari si pelayan tadi.

"bukankah tadi sudah kukatakan, jangan banyak bertanya" jawabab Akashi itu sukses membungkam mulut si pelayan dan melihat adegan itu aku dapat merasakan aura gaib(?), yang mematikan saat Akashi memandang mata si pelayan tadi.

"heh, kau budak jelek! Kenapa kau hanya diam saja disitu cepat masuk dan cuci semua pakaianku" titah Akashi itu mutlak jadi aku tidak bisa menyelanya.

"H-Hai!" setelah mendengar titahnya itu aku langsung menuju kamar mandi dan mencuci semua pakaian kotor Akashi yang bermerek itu.

Entah karna ingin hemat listrik atau dia hanya ingin menambah penderitaanku, aku tidak diperbolehkan memakai mesin cuci, bayangkan saja mencuci semua pakaian Akashi yang entah kenapa semakin hari semakin banyak, dan itu sangat melelahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau mesin cuci tidak pernah di temukan bisa jadi apa dunia ini#lebaay.

Saat sedang tidak-asyik-mencuci aku menemukan baju yang tadi di pakai oleh Akashi untuk latihan, entah apa yang kupikirkan aku mengendus(berasa anjing deh) pakaian itu dan hal pertama yang kusimpulkan adalah sekeren-kerennya Akashi dia tetaplah manusia biasa yang memiliki bau keringat yang luar binasa busuk nya.

1 jam kemudia.

"huh, akhirnya tinggal dijemur dan aku bisa pulaaang" teriakku di dalam kamar mandi, lalu aku berjalan menuju halaman belakang sambil membawa bakul berisi seluruh pakaian Akashi yang aku cuci tadi. Saat tiba di halaman belakang dari kediaman Akashi yang luas dan lebar itu aku bisa melihat Akashi sedang berkencan dengan Shougi tercintanya. Aku melewatinya begitu saja karna tidak ingin memperlama jadwal kepulanganku.

.

.

.

"Akhirnyaaaa beres oh yeaaaah" sruku kegirangan karna sudah selesai menjemur pakaian Akashi dan itu berarti aku sudah bisa pulang, lalu kau menghampiri Akashi yang masih asyik berkencan dengan Shouginya.

"nee, sama aku sudah selesai mencuci pakaianmu sekarang bisakah aku pulang?"

"siapa bilang tugasmu sudah selesai?" mataku melebar ketika mendengar kalimat yang di keluarkan Akashi itu.

"A-apa maksudmu belum selesai Sama?"

"tugasmu belum selesai baka!" oke dia memanggilku Baka lagi, apa segitu bodohnya aku ini dan lagi jawaban Akashi itu bukanlah sebuah jawaban tetapi dia mengulang penyataannya tadi, jadi kesimpulannya kau juga sama bodohnya denganku BAKASHI!

"hmm , aku sudah mencuci dan menjemur seluruh pakaianmu bukankah tugasku hanya itu" kataku mencoba mengingatkannya mungkin saja dia lupa kalau dia hanya menyuruhku untuk mencuci bajunya, iyakan?

"kau lupa, itu baru awal saja, kau harus membersihkan kamar ku sampai bersih!, tidak boleh ada debu sekecil apapun!" hmm membersihkan kamar sih mudah, memang sebesar apasih kamarnya. Aku mengangguk mengerti.

"setelah itu sikat lantai kamar mandiku, dan setrika baju yang sudah kau cuci kemarin, dan juga siram semua tanaman yang ada di halaman ini, lalu setelah itu kau lihat jalan penghubung rumah utama dengan ruang keluarga itu, bersihkan koridor itu beserta tiang-tiang yang ada disan dan ingat jangan meninggalkan satu sidik jarimu di sana!" mendengar perintah Akashi yang bejibun itu mulutku menganga lebar mataku tidak bisa berkedip sangking shocknya mendengar perintah itu.

"apa? Kau tahu aku itu absolute dan perintahku juga absolute" katanya sambil mengoyang-goyangkan gunting merahnya yang sedari tadi tidur dengan damainya disamping papan shougi.

"e-e… hai sama!" kataku mengerti arti dari goyangan gunting merah itu, dan juga tatapan dinginnya yang seolah berkata lakukan-sekarang-juga-atau-kau-mati-muda, aku langsung berlari masuk ke rumah utama, tunggu dulu aku kan tidak tahu letak kamarnya Akashi aku langsung menghentikan langkah kakiku dan berbalik menghampiri Akashi yang asyik main sama guntingnya.

"etto sama , kamarmu dimana?"

"si lantai atas pintu pertama di sebelah kanan" jelasnya dengan sangat sedikit info.

"dimana tangga menuju lantai atasnya?"

"kau cari sendiri, dan juga letak kamar mandi pribadiku kau cari sendiri" sumpah rasanya ingin kutusuk juga nih orang , aku kan baru di rumah ini malah di suruh cari tangga sendiri, kalau aku nyasar gimana? Dasar tuan rumah yang tidak tau cara memperlakukan tamu dengan baik.

Aku berjalan di rumah yang luar itu dengan langkah ragu, dan kepala yang mutar-mutar kekanan-ke kiri , menurutku tingkahku ini benar-benar seperti maling.

Setelah 5 menit muter sana, muter sini akhirnya aku menemukan juga tangga menuju lantai atas. Aku segera menaiki tangga itu dan mencari pintu pertama di sebelah kanan. Setelah berjalan cukup lama akhirnya aku menemukannya juga, sebuah pintu besar dari kayu dan berukiran yang menurutku sangat indah.

CKLEK…

Aku membuka pintu itu dan saat aku melihat kondisi dari kamar tersebut aku terkejut, kamar itu sangaaat besaaaar bahkan luasnya melebihi runag keluargaku.

"ini kamar atau kamar? Gede banget" gumamku mengagumi ukuran kamar itu.

Mengenai kondisi kamar itu, keadaannya jauh berbeda dengan Akashi yang selalu repi dan bersih tapi kamar ini berantakan disana sini, gumpalan-gumpalan kertas dan tisu bertebaran di sana-sini, selimutnya berada 1 meter dari kasur king sizenya, dan keadaan kasurnya pun sama berantakannya dengan keadaan kamar itu.

"oh tuhan… ini tidak akan semudah yang kukira" keluhku sambil mulai bekerja.

Pertama-tama aku memunguti sampah-sampah yang ada di lantai, setelah selesai aku membereskan kasur nya. Lalu aku mulai menyapu lantai dan mengepelnya.

"huff" aku menghela nafas lega sambil mengelap buli-bulir keringat yang ada di keningku.

"kau melupakan meja itu" hmm rasanya suara ini tidak asing tanyaku pada diriku dan untuk memastikannya aku berbalik.

"meja yang mana yang..." aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku ketika mengetahui bahwa orang yang berkata tadi itu adalah Akashi. Dia sedang berdiri menyandarkan punggunya ke pintu dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, persis seperti bos yang sedang mengamati anak buahnya yang sedang bekerja.

#######

AKASHI POV.

Aku mengamati pekerjaannya , sepertinya dia tidak sadar kalau sedari tadi aku terus mengamatinya. Mungkin dia terlalu asyik bekerja dasar sepertinya dia memiliki jiwa seorang budak sejati fufufufu.

Karna bosan hanya mengamatinya bekerja akhirnya aku memutuskan untuk mulai mengomentari pekerjaannya mulai dari meja di tengah kamar yang tidak di sentuhnya.

"kau melupakan meja itu" kataku dengan nada dingin.

"meja yang mana yang..." begitu melihatku dia tidak bisa melanjutkan perkataanya, fufufu sepertinya rencanaku member 'sedikit' kejutan kepadanya berhasil.

"K-kenapa kau bisa ada disini sama?" aku bisa melihat ekspresi kaget dan takut di wajahnya.

"kenapa? Inikan kamarku, apa kau lupa budak"

"oh iyaya, hahaha" katanya ambil menepuk jidatnya.

"meja itu kau belum membersihkannya" kataku sambil menunjuk meja di tengah ruangan itu.

"tapi meja itu tidak terlihat kotor sama sekali" katanya dengan wajah polosnya.

Untuk membuktikannya ,aku berjalan mendekati meja itu dan mengelap nya dengan tisu dan memperlihatkan hasilnya kepada budakku itu. Melihat debu-debu yang menempel di tisu itu dia hanya bisa menghela nafas dan mulai mengelap seluruh permukaan meja.

"sekarang sudah bersihkan sama" katanya dengan nada puas.

"kau belum membersihkan kakinya"

"eeh… itu kan bukan hal yang penting" mendengar perkataanya yang bernada penolakan aku menatapnya dengan tatapan lakukan-atau-kau-mati.

"ee hai hai sama" hohoho lihatkan aku tidak perlu mengeluarkan emperor eyeku untuk menekannya.

"eum, etto sama kenapa kamarmu itu berantakan sekali" dia bertanya sambil terus mengelap kaki meja itu.

"terserah aku, kamarku mau bagaiman apa urusanmu?" kataku dingin.

"tapi, sama ini sama sekali berbeda dengan kau yang rapi dan bersih kamarmu ini berantakan sekali" katanya sambil memandangku.

"kau keberatan?"

"eehh, tidak sama , aku hanya penasaran saja" sepertinya budakku itu orang yang kepo, hmm baiklah ada satu alasan kenapa kamarku ini berantakan sekali yaitu karna aku ingin mengerjainya. Dan itu berhasil , hahaha apasi h yang seorang Akashi Seijuurou tidak bisa.

"nah sudah selesai sama, sekarang dimana aku harus menyetrika baju-bajumu?"

"lebih baik kau menyikat lantai kamar mandiku terlebih dahulu, kamar setrika ada di bawah"

"hmm baiklah , itu pintu kamar mandi bukan?" dia lalu menunjuk sebuah pintu yang berada di sisi kiri kamarku, aku lalu meng-iyakan pertanyaannya tadi.

"jaa, lebih cepat lebih baik" katanya lalu langsung berlari menuju kamar mandi.

######

READER POV.

Ketika aku membuka knop pintu kamar mandi , mataku kembali melebar.

"oh god… bahkan kamar mandinya lebih lebar dari kamar ku" kataku sambil terkaget-kaget dengan ukuran kamar mandi ini.

"kau kesini bukan untuk melihat-lihat"perkataan Akashi membuyarkan konsentrasiku untuk mengamati kamar mandi ini.

Haish kenapa orang ini harus mengamatiku sih, rutukku karna sedari tadi dia terus berkomentar tentang pekerjaanku ini, kenapa tidak dia saja sih yang membersihkannya.

"kau menggosoknya terlalu pelan , gunakan tenagamu" komplainnya dan aku hanya berusaha menggosok lantai-lantai ini lebih keras lagi.

"kau melewatkan sudut yang itu" katanya sambil menunjuk lantai yang ada di dekatku.

"kau bisa merusak lantainya jika menggosok sekeras itu" aku terdiam dan kembali menatapnya yang sedang berdiri mengamatiku.

"kenapa tidak kau saja yang melakukan ini?" aku mencoba melakukan pemberontakan kecil kepadanya.

"kau melawan perintahku" aduuh aku tidak tahan mendengar suara dingin yang menusuk itu, akhirnya aku memendam aksi pemberontakanku.

"sekarang lakukan dengan benar!" perintahnya.

.

.

.

.

Sekarang aku sudah berada di ruang menyetrika dan mulai menyetrika baju-baju bermerek Akashi, yaampun ini sungguh lebih menegangkan dari pada mencucinya, aku harus benar-benar berhati-hati dalam menyetrika setiap detail dari baju itu karna jika salah sedikit saja aku bisa pulang dengan keadaan yang sangat naas.

SKIP TIME…..

Akhirnya aku sampai juga dengan tugas terakhirku.

Ketika sedang asyik mengelap tiang-tiang di jalan penhubung rumah utama dengan ruang keluarga. Ponselku berbunyi.

"moshi-moshi.."

"huaaa….. Nee-chan kau dimana?'

"ada apa?"

"ibu belum pulang hiks.."

"ibu kan memang tidak akan pulang kerumah hari ini, adikku ini memang memiliki level ke-lebayan diatas rata-rata.

"hah? Jadi apa ibu kabur dari rumah? Huaaaa…" tuh kan ke-lebay-an nya kumat lagi ckckck.

"tidak, ibu kan ke Kyoto menjeguk ayah"

"oh iyaya hahahaha" perubahan ekspresi yang sangat drastis adalah salah satu kebiasaan aneh dari adikku.

" tapi Nee-chan aku takut dirumah sendirian huaaaaa Nee-chan kau dimana, cepat kembali…"

"tapi aku sedang mengerjakan tugas, aku belum bisa pulang"

"huaaaaa Nee-chan jahat, kalau begitu aku akan bunuh diri" yaampun jaman memang sudah canggih bagaimana mungkin adikku yang masih 7 tahun bisa mnegancam akan bunuh diri, sepertinya adikku ini adalah korban sinetron.

"coba saja kalau berani, kau tidak akan sampai mengantungkan dirimu ke pohon"

"siapa juga yang akan gantung diri, aku akan meminum b*yg*n"(author: sejak kapan di jepang ada b*yg*n? )

"ehhh, jangan… itu barang impor yang mahal tahu"

"huaaaaa…. Nee-chan jahat,masa lebih khawatir dengan b*yg*n sih.. aku akan meminumnya aku tidak akan menyisahkannya setetespun untuk Nee-chan"

"baiklah aku akan segera pulang" dasar bocah gila siapa juga yang mau meminumnya, tapi kemungkinan besar dia akan meminumnya karna dia tidak pernah main-main dengan perkataanya.

Aku langsung menghampiri Akashi yang sedang membaca sebuah buku.

"sama… bisakah aku pulang sekarang"

"tidak,tugasmu belum selesaikan?"

"Seijuurou-sama tolong lah ini penting kalau aku tidak pulang sekarang adikku akan meminum b*yg*n"

"b*yg*n? apa itu" Akashi sedikit menaikkan sebelah alisnya.

"itu lho obat nyamuk terkenal dari Indonesia, kami meng impornya langsung dari sana" lho kenapa aku malah promosi?.

"jadi?"

"izinkan aku pulang sekarang yayayaya" akhirnya aku mengelarkan jurus andalanku yaitu puppy-eyes semoga saja ini berhasil.

"hmm…" ayolah… ijinkan aku pulang

"aku akan mengantarmu" Akashi lalu mulai berjalan menuju mobilnya. Sedangkan aku masih berdiri di tempatku tadi.

"kenapa kau malah diam saja" tanyanya

"eee… sama kau tidak usah repot-repot mengantarku" kataku mencoba menghentikannya.

"kau bilang jika tidak pulang segera adikmu bisa bunuh diri, kau ini pergi dengan mobil lebih cepat dari pada dengan bis umum"

"eum… tapi tetap saja aku merasa tidak enak". Aku mengjentikan langkahku di depan mobil milik Akashi.

"masuk! Ini perintah"

"H-hai" akhirnya dengan pasrah aku menuruti perintah Akashi.

.

.

.

Ketika kami sudah sampai di rumah ku, aku segera berlari mengahampiri adikku yang sedang menungguku di teras rumahku dan di sebelahnya ada sebotol b*yg*n,yaampun semoga saja dia belum meminumnya.

"Riko-chan" aku menguncang pundaknya perlahan.

"huaaaaaaa…. Nee-chaaaaan" dia langsung memelukku, aku merasa bajuku mulai basah karna air matanya.

"heh, sudah janagan cengeng, kau belum minum b*yg*n-nya kan?" tanyaku sambil menyeka air mata yang ada di pipi chubbynya.

"eum, tentu saja aku tidak akan meminumnya, bukankah kita akan meminumnya bersama-sama Nee-chan?"

"Baka! Kau tidak boleh meminum itu tahu" aku menjitak pelan kepala adikku, dia itu memang keterlaluan disaat aku mengkhawatirkannya dia malah bercanda.

"hahaha, eh siapa dia Nee-chan" aku mengikuti arah yang adikku tunjuk dan betapa terkejutnya aku Akashi sudah berdiri ya aku lupa berterima kasih padanya.

"Arigatou nee Seijuurou-sama" aku membungkuk sopan kepadanya.

"hmm, jadi ini adikmu?"

"Hai! Aku adiknya, jadi kenapa Nee-chan memanggil Nii-chan ini 'sama'"

"eum…" aku berpikir sejenak tidak mungkinkan aku mengaku kalau telah menjadi budak-nya Akashi kepada adikku. Disaat aku sedang kebingungan memikirkan sebuah alasan yang pas, Akashi berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan adikku dan memperkenalkan dirinya sebagai seorang pangeran.

"Aku Akashi Seijuurou, aku seorang pangeran kaya jadi karna itulah kakakmu memanggilku sama" katanya sambil tersenyum kepada adikku, aku hanya bisa terdiam menyaksikan adegan itu.

"memang di jepang ada pangerannya? Lalu Nii-chan dari kerajaan apa?" hohoho rupanya adikku ini cerdas juga dan tidak percaya kalau Akashi itu seorang pangeran. Anak kecil memang jujur

"eum, kau mungkin tidak tahu itu"

"lalu kenapa seorang pangeran sepertimu mengantarkan kakak-ku pulang?".

"itu karna kami sekelas dan tadi di jalan tidak sengaja bertemu" aku segera menjawab pertanyaan itu,karna jika Akashi yang menjawab ada kemungkinan dia akan bilang kalau aku adalah budaknya dan itu sangat memalukan.

"oh…. Kalau begitu perkenalkan aku Riko, dan boleh tidak aku memangilmu Sei-Nii"

"Kau boleh memanggilku apa saja" Akashi mengatakan itu tidak dengan nada dingin seperti biasanya dan apa hanya perasaanku saja atau tidak Kelakuan Akashi ini seperti bukan dia yang biasanya.

"eh Nii-chan matamu itu aneh sekali, matamu seperti Dorami" Dorami? Bukannya mata Dorami itu putih dan tidak belang ya?.

"Nee Riko-chan bukannya mata Dorami itu putih dan tidak belang ya?" aku bertanya kepada adikku, sedangkan Akashi hanya diam saja.

"tidak mata Dorami itu belang seperti Sei-nii hanya saja kalau Dorami matanya berwana biru dan kuning, bukan merah seperti Aka-nii"

"hah? Dorami itukan adikknya Doraemon, dan matanya itu tidak belang lho kau pasti salah Riko-chan"

"aduh… Nee-chan kau itu kebanyakan nonton Doraemon, Dorami yang kumaksud adalah kucing liar hitam ,dekil dan jelek yang berkeliaran di sekolahku" mendengar penjelasan itu aku hanya sweetdrop di tempat.

"Kakak mu itu bukan hanya kebanyakan nonton Doraemon tapi juga anime Naruto" tambah Akashi dengan nada melecehkanku.

"hei… ini bukan salahku siapa suru ngasih nama kucing sama kayak namanya adik Doraemon" aku mencoba membela diri.

"ckckck, kau itu seperti anak-anak saja Nee-chan"

"KAU JUGA MASIH ANAK-ANAK TAHU!"

"aduh… tidak usah teriak-teriak Nee-chan kupingku sakit tahu"

"hufft, yasudah Sama sebaiknya kau pulang saja, dan terima kasih atas tumpangan tadi" aku lalu membungkuk sopan sambil membukakan pagar rumahku.

"sayonara Sei-nii sering-sering main ya" adikku melambai-lambai kan tangan kepada Akashi.

Tidak lama setelah itu mobil Akashi sudah melaju pergi meninggalkan rumahku.

.

.

.

.

SKIP TIME…..

Sudah seminggu aku menjadi budakknya Akashi dan selama seminggu itu pula aku terus disiksa dengan serentetan tugas-tugas yang mengerikan dan melelahkan pastinya.

Sperti pagi ini aku menuggu Akashi seperti biasanya dan membawakan tasnya yang penuh dan berat.

"Sei-sama kau bawa apa saja sih sampai tas mu seberat ini" Mulai sekarang aku menyingkat nama Seijuurou menjadi hanya Sei karna menurutku itu lebih singkat. Dan Akashi sendiri tidak keberatan.

"tidak usah banyak bicara" Akashi menjawab pertanyaanku dengan nada dingin seperti biasa, dan entah kenapa aku mulai terbiasa dengan nada dingin itu.

Saat sampai di kelas,aku menjatuhkan tas Akashi di atas mejanya dengan kasar, karna tanganku sudah pegal membawa tas seberat itu. Akashi yang melihat tasnya diperlakukan dengan tidak sopan langsung menatapku dengan tatapan deathglare nya dan…

CKRES

Sial dia mengunting sebagian rambutku dan membuatnya lebih pendek dari rambutku yang lainnya.

"SAMA APA YANG KAU LAKUKAN? KENAPA KAU MENGUNTING RAMBUTKU" aku berteriak histeris sedangkan teman-temanku yang ada di kelas hanya bisa terdiam tanpa berniat menolongku, karna jika mereka berhadapan dengan Akashi maka mereka akan bernasib sama denganku.

CKERS….

OH SHIT dia memotong rambutku lagi

"kau tahu seorang budak tidak boleh membanting barang milim tuannya dengan kasar seperti itu, dan juga budak tidak boleh membentak majikannya" Ini kali pertamanya aku melihat Emperor eye milik Akashi, dan ketika melihat matanya kakiku mendadak melemas ,jika saja aku tidak berpengangan pada pinggiran kursi mungkin aku sudah terduduk lemas dilantai.

.

.

.

Aku berusaha menuruni satu persatu anak tangga dengan sekuat tenaga,sehabis olahraga badanku benar-benar lemas rasanya aku ingin pingsan saja, atau bahkan mati saja karna sepertinya aku tidak akan kuat menjalani 90 hari kedepan.

Karna terlalu lelah, aku jadi tidak terlalu memperhatikan anak tangga yang sedang aku turuni,dan hasilnya pijakanku tidak pas dan kaki ku tergelincir aku hanya pasrah saat tubuhku mulai jatuh kebawah

10 detik…..

20 detik…..

30 detik…..

Lho kok aku tidak jatuh-jatuh.

"etto (name) san kau bisa membuka matamu" Lho itu kan suara Kuro-kun kenapa suaranya bisa sedekat ini, karna penasaran aku pun membuka mataku dan begitu aku membuka mata yang pertama aku sadari adalah aku masih berada di tangga dengan posisi yang lebih aman dan ada sebuah lengan kekar yang melingkari pinggangku.

Dan saat aku berbalik aku melihat surai berwarna biru langit dan mata besar yang senada dengan rambutnya itu, dan yang lebih penting lagi sekarang wajahku sangat dekat dengan wajah penyelamatku alias Kuro-kun, aku bisa mencium wangi Vanilla dari badannya.

"Nee, arigatou Kuro-kun"

"hai, kau tidak apa-apa kan?" tanyanya dengan wajah datar seperti biasa.

"hai, aku tidak apa-apa kok"

"Rambutmu kenapa (name)san?" tanya Kuroko sambil membelai rambutku yang lebih pendek dari yang lainnya.

Aduh… kenapa jadi deg-degan gini sih.

"ah, itu tadi terjadi sebuah kecelakaan" aku bisa merasakan pipiku mulai memanas, pasti wajahku sekarang sudah merah sekali.

"wajahmu memerah, kau yakin kau tidak apa-apa" Kuroko memegang kedua pipiku dan tindakannya itu sukses membuat jantung ku melompat-lompat dan jangan lupakan wajahku yang sudah semerah tomat ini.

"S-sedang apa kalian?" suara seseorang mengagetkanku dan ketika aku berbalik ternyata orang itu yang sudah melihat adegan aku bersama Kuroko tadi.

TBC…

A/N: HAYOOOO TEBAK SIAPAKAH CHARA YANG NGELIAT ADEGAN KUROKO AMA READER? SEBAGAI PERMINTAAN MAAF KARNA LAMA NGE-UPDATE NIH FIC JADI LAH SAYA PANJANGIN NIH FIC SEMOGA NGAK NGEBOSENIN YAW…

TERIMA KASIH BUAT SEMUA YANG SUDAH MAU NGEBACA FIC INI BAIK, DAN JUGA SEMUA NYA YANG SUDAH BERSEDIA MAU NGE-REVIEW FAV DAN FOLLOW FIC INI #BOW

THE LAST MIND TO REVIEW?