Kau adalah yg berharga...

Disclaimer : Kuroko no basuke ©Fujimaki Tadoshi

Summary : saat tokoh KnB menjadi Tokoh yg dipenuhi bahaya, ada kisah Romantis dalam kehidupan mereka.

Chapter 4 : Murasakibara x Mashiro (OC) Final Chapter

Normal P.O.V

Brummm! Murasakibara mempercepat laju mobilnya, berusaha mendekati van hitam yang berada didepannya.

"sial! Kalau begini aku tak bisa mengejarnya!" batin Murasakibara dengan kepanikan yang menyelimuti dirinya. Murasakibara terus menambahkan kecepatan mobilnya, tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Mashiro harus selamat! Itulah yang dipikirkan Murasakibara sedari tadi, memikirkan gadis yang ia sangat cintai, Mashiro Yuki. Drrtt! Drrtt! Menandakan ada telphone masuk ke handphonenya, ia melihat sekilas layar tersebut, menampangkan sebuah nama kontak yang tertera diponsel, Akachin. Mau tak mau Murasakibara harus mengangkat telponnya, jika tidak ia akan kena Sial.

"Mos - ..."

-Murasakibara, apa yang sedang kau lakukan? – tanya Akashi dengan nada dingin

"Akachin! Kumohon jangan menghalangiku!"jawab Murasakibara gelisah, ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh temannya sekaligus ketuanya ini. terdengar helaan nafas dari seberang sana

-tapi, jika kau melakukan ini, identitasmu mungkin akan terbongkar, aku perintahkan kau berhenti mengejar Van hitam itu – tebakan Murasakibara benar, Akashi memerintahkan Murasakibara untuk berhenti mengejar mobil itu.

"Tapi Akachin - ..."

-Ini perintah, Murasakibara. Jangan sekali – kali kau membantah perintahku... - ancam Akashi dengan penuh tekanan. Murasakibara mencengkram kemudi mobilnya, menhana semua emosinya dan memilih pilihan yang tepat.

"tidak.."

-hmm?

"aku tidak akan berhenti." Ujar Murasakibara tenang.

"aku akan mengejar mereka sampai kapanpun. Aku tak peduli jika kau ingin mengeluarkan aku, aku akan menerimanya dengan lapak yang pasti aku akan melindungi Yukichin." Kini, ia memutuskan untuk melindungi Mashiro, menjaganya, membahagiakannya, dan bersamanya untuk selamanya. Ia tak terlalu peduli jika karirnya hancur dan dikeluarkan dari Kelompoknya, ia akan membangun dari awal lagi, bersama Mashiro, ya hanya bersama Mashiro membuat keluarga kecil yang hidup bahagia dan tentram. Hening, tak ada suara darisana. Terdengar helaan nafas dari sana.

-baiklah, mau bagaimana lagi. Apapun caranya pancing mereka ke distrik 4 –perintah Akashi tegas, Murasakibara mengerjapkan matanya, ia sedikit bingung dengan perkataan Akashi.

"Akachin! Bukankah sudah kubilang aku.."

-kau ingin perempuan itu selamatkan? – pertanyaan Akashi membuat Murasakibara menjadi bingung. ia ingin menyelamatkan Mashiro, dan kenapa ia masih bimbang. Murasakibara menghentikan mobilnya, mencoba berpikir jernih untuk saat ini.

-Murasakibara? – tanya Akashi, Murasakibara mengerjapkan matanya.

"baiklah. Jika itu membuat Yukichin selamat." Ucap Murasakibara, menancapkan gasnya. Bisa terasa jika Akashi tersenyum.

-Baiklah. Sekarang dengarkan rencanaku. – perintah Akashi, Murasakibara – pun menajamkan pendengarannya tanpa menghentikan laju mobilnya. Setelah beberapa menit mendengarkannya, Mata Murasakibara membulat sempurna.

"Akachin! Apa kau bercanda?!" teriak murasakibara tak percaya dengan ide gila dari rekannya ini.

-aku tak bercanda Murasakibara, jika kau menang cepat, maka gadis itu akan selamat. – jelas panjang Akashi. Murasakibara menjadi tambah bimbang dengan pilihan Akashi.

-Murasakibara - ...

"akan aku lakukan." Ucap Murasakibara tanpa ragu.

-baiklah, semoga beruntung. – Akashi menutup telephonenya. Murasakibara menancapkan gasnya, menyusul van hitam yang membawa gadisnya. Lalu dilain sisi...

"pegang kakinya!" Dhuagh! Kepala mafia itu terjungkal kebelakang.

"wanita ini tak bisa diam ya! Hei diam kau!" Plak! Mashiro terkena tamparan kuat dipipi Kanannya. Mashiro tak kuat lagi, ia hampir ternodai oleh kebejatan para laki – laki bangsat ini.

"ini adalah hukumanmu sayang!" teriak satu laki – laki itu yang siap menyergap Mashiro yang bajunya sudah terobek – robek oleh para lelaki tersebut. Mashiro ingin minta tolong, tapi mulutnya diikat dan suara Hujan merendam suaranya. Saat Laki – laki itu ingin Menyerang Mashiro, Mashiro menutup matanya, berharap ini semua adalah mimpi, tapi sensasi yang diberi orang bejat – bejat itu terlalu nyata dan tak bisa dibilang hanya sekedar mimpi dan DHUAR! Mashiro membuka matanya, terasa cairan hangat menyentuh wajah dan tubuhnya. Mata Mashiro terbelalak hebat, laki – laki yang tadi menyerang Mashiro kini tak ada kepalanya.

"sialan itu!" ucap temannya, langsung mengambil shotgun tapi jdar! Terlambat kepalanya sudah bernasib seperti kepala temannya tadi.

"di..dia monster!"

"dia bisa menggunakan snipper saat mengemudi mobil!"

Mashiro menatap tak percaya apa yang ia lihat hari ini, mafia, darah dan senjata. Apa maksud semua ini? batin Mashiro.

"Takeda! Percepat mobilmu!" teriak laki - laki yang mulai panik.

"apa kau gila!? Kita hanya Van Hitam! Dia memakai mercedes!" teriak sang pengemudi yang mulai panik juga, ia menambahkan kecepatan maksimum, begitu juga yang dibelakangnya.

"Kusso! Dia tak mau menyerah ya!?" teriak sang pengemudi. Mashiro shock, ia bingung harus berbuat apa, ia hanya diam dengan darah yang menyelimutinya.

"YUKICHIN! APA KAU DENGAR AKU!?" Mashiro mengalihkan perhatiannya, ia menoleh kearah belakang. Matanya terbelalak kaget lagi. Itu Murasakibara!

"Bo..Bos!?"

"YUKICHIN KELUARLAH DARI SANA, SEKARANG! LOMPATLAH!" Teriak Murasakibara, Mashiro Jawdrop. Murasakibara menendang bagian engsel mobil miliknya membuat pintu itu terkulai jatuh keaspal. Mashiro yang melihat itu hanya sweatdrop.

"KAU GILA YA!? BOS INGIN AKU MATI?!" Teriak Mashiro dengan perempatan muncul dipelipisnya. Sudah tahu lajunya cepat begini, malah disuruh lompat keluar! Batin Mashiro.

"AKU TAK INGIN KAU MATI! KUMOHON LOMPATLAH DARI SANA!" Teriak Murasakibara, perempatan kecil muncul satu lagi di kening Mashiro.

"KALAU KAU MENYURUHKU MELOMPAT, SAMA SAJA AKU MATI, BODOH!" Teriak Mashiro, kali ini giliran kening Murasakibara yang muncul perempatan.

"JANGAN CEREWET! CEPAT LOMPAT DARI SANA!" Teriak Murasakibara.

"AKU TAK INGIN MATI MUDA!"

"CEPAT LOMPAT SEKARANG YUKICHIN! AKU AKAN MENANGKAPMU!"

"TIDAK MAU! LAGIPULA MANA BISA KAU MENANGKAPKU!?"

"AKU BISA! CEPAT LOMPAT!" melihat perdebatan yang aneh itu, para mafia yang tersisa hanya sweatdrop melihat tontonan aneh itu.

"YUKICHIN PERCAYALAH PADAKU! LOMPATLAH! AKU AKAN MENANGKAPMU!" Mashiro mengeryitkan aneh, iapun menurutinya. Ia kebagasi belakang bersiap untuk lompat.

"kami – sama! Lindungilah hambamu yang bodoh ini!" Doa Mashiro dalam hati. Ia mengambil ancang – ancang untuk melompat. Dan set! Mashiro meloncat sambil menutup matanya.

"gais itu benar – benar melompat!? Apa dia gila?!" teriak para mafia yang tak percaya dengan apa Shiroyumi lakukan. bisa ia rasakan rintikan hujan menerpa tubuhnya, kini ia tahu benar – benar melompat dari mobil yang kecepatan lajunya 90km/jam. Grep pinggangnya teraih oleh tangan Murasakibara, dengan cepat Murasakibara memasukkan Mashiro kedalam pelukannya dan mengehentikan laju mobilnya. Mata Mashiro masih menutup rapat, dan tak berminat membuka.

"Yukichin! Yukichin! Bangun." Ucap Murasakibara sambil mengoncangkan tubuh Mashiro dan Mashiropun membuka matanya. Jarak wajah Murasakibar dengannya hanya terpaut 4 cm saja.

"Syukurlah." Ucap Murasakibara dengan lega, kening mereka bersentuhan, Murasakibara memeluk Mashiro dengan suara hembusan afas tersenggal – senggal.

"syukurlah, syukurlah, syukurlah." Itulah yang diucap Murasakibara. Mashiro tak percaya apa yang ia lihat, ia masih hidup. Ia bisa merasakan ada cairan hangat yang menyentuh pipinya, tapi bukan cairan yang merah menjijikkan tapi, cairan bening yang memberikannya kehangatan lembut dan nyaman. Bosnya...menangis?

"syukurlah kau masih hidup." Murasakibara mengulang perkataannyam lagi, Mashiro memeluk Murasakibara dengan erat.

"bo..bos, a..aku sangat takut..sa..sangat takut bos." ucap Mashiro sambil menahan ketakutannya, air matanyapun keluar dan mengalir di pipinya. Murasakibara tenggelam dileher Mashiro yang masih terbalut darah.

"bodoh! Aku mencintaimu, Mulai saat ini kau berpacaran padaku dan harus memanggilku Atsushi – kun." Ucap Murasakibara yang masih menangis. Mereka berdua saling memeluk satu sama lain dengan Mashiro yang masih setia duduk dipangkuan Murasakibara., Mashiropun mengangguk bahagia.

"baik. Aku juga mencintaimu" Ucap Mashiro sambil melepaskan pelukannya. Wajah mereka beremu satu sama lain.

"jangan menangis lagi, donk. Atsushi – kun." Ucap Mashiro sambil tersenyum lembut.

"aku tidak menangis!" elak Murasakibara seperti anak kecil, Mashiropun menggodanya.

"bohong, matamu sembab tuh." Mashiro tertawa, karena tak mau mengalah Murasakibarpun membalasnya.

"daripada Yukichin, tubuhmu mungil sekali, seperti anak kecil." Ucap Murasakibara yang kini tak menagis lagi. Muncullah perempatan dikening Mashiro.

"bukan masalah tubuhku, ini Atsushi – kun yang besar!" elak Mashiro.

"bagaimana nanti ya?"

"hmmm.."

"kalau tubuhmu kecil, dan aku besar. Bagaimana aku memasukkan benihku kedalam rahimmu ya?" ucap murasakibara tanpa dosa. Mashiro bersemu hebat lalu memukul dada bidang Murasakibara.

"itte, sakit tahu!" rintih Murasakibara.

"kitakan baru jadian kenapa langsung membahas itu!? dasar mesum!" omel Mashiro.

"walaupun kita baru jadian, tapi aku sudah lama menyukai Yukichin, jadi tak masalahkan? Kalau Yukichin sendiri bagaimana?" tanya Murasakibara tanpa memperdulikan wajah Mashiro yang masih memerah.

"a..aku juga menyukai Atsushi – kun da..dari dulu. Ta..tapi! bukannya kita langsung membahas hal seperti itu!" ucap Mashiro sambil menenggelamkan wajahnya didada bidang Murasakibara, menyembunyikan wajah malunya.

"kalau seminggu lagi kita menikah, apa Yukichin belum siap?" tanya Murasakibara, Mashiro menatap wajah Murasakibara

"Mana tentu aku siap!" tolak Mashiro. Murasakibara menghilangkan jarak diantara mereka, mengecup bibir Mashiro yang mungil dan terlihat lembut. Mengecupnya pelan, lalu menghisapnya, menghisap perlahan agar Mashiro tidak merasa terganggu oelh aktifitasnya. Murasakibara memeluk pinggangnya erat semakin tak ada jarak diantara mereka, mulai menjamah seluruh tubuh mashiro, mengusapnya dengan lembut agar Mashiro merasa nyaman dengannya.

"a..atsushi – kun.." ucap Mashiro disela – sela ciumannya. Murasakibara mulai bermain lebih, Lidahnya ingin masuk kedalam mulut Mashiro, tapi Mashiro selalu menutup bibirnya hingga akhirnya Murasakibara mengigit bibir bawah Mashiro membuat Mashiro membuka mulutnya. Tanpa menyia – nyiakan kesempatannya, lidahnya pun langsung masuk kedalam rongga mulut Mashiro dan mulai mengabsen setiap gigi Mashiro dan mengjak Lidahnya untuk berdansa. Saliva mereka ekluar dari sela – sela ciuman mereka. Murasakibara memberi jarak diantara mereka, memandang wajah Mashiro yang berkeringat dan matanya sayu.

"sepertinya, kau memang belum siap." Ucap Murasakibara tanpa dosa, sedangkan Mashiro masih sibuk dengan mengatur nafasnya. Murasakibara membisikkan sesuatu..

"tapi, mau tak mau kau harus siap, karena aku sudah memesan apa saja yang dibutuhkan saat pernikahan nanti. Kalau aku membatalkannya, aku rugi. Jadi, siapkan dirimu, Murasakibara Yuki." Mata Mashiro panas dan hatinya terasa...bahagia? tentu, ia bahagia. Sebentar lagi ia akan menikah dengan orang yang ia cintai, mana mungkin ada orang yang tak bahagia. Murasakibara mengorek kantongnya, mengambil sesuatu dari sana. Air mata bahagia Mashiro tak bisa dibendung lagi, Murasakibara menyisipkan cincin ke jari Mashiro.

"aku mencintaimu, Mashiro Yuki." Murasakibara mencium kening Mashiro.

"aku juga mencintaimu, Murasakibara Atsushi." Ucap Mashiro yang lalu terlelap dipangkuan Murasakibara.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"A..Ahh! pe..pelan – pelan Atsushi – kun! Pu..punyamu sangat besar, tak..tak mungkin akan bisa masuk!" rintih Mashiro. Murasakibara masih fokus pada kegiatannya.

"i..ittai..ittai desu, Atsushi – kun!" rintih Mashiro saat kejantanan Murasakibara mulai masuk.

"Yu..Yukichin..se.. sempit sekali!" Murasakibara, mulai memegangi pingga ramping Mashiro.

"Yu..Yukichin, apa boleh?" tanya Murasakibara, Mashiro hanya mengangguk.

"baiklah. Ini akan sedikit sakit. " zleb!

"KYAAAAAA!" Teriak Mashiro yang begitu membahana di kamar pengantinnya. Sangat, itu pasti sangat sakit sekali. Saat Mashiro merasakan kesakitan yang luar bisa, sedangkan Murasakibara merasakan kenikmatan yang luar biasa, hangat dan sempit, bisa ia rasakan jika dinding Vagina milik Mashiro mencengkram kuat kejantannya. Murasakibara menghisap leher Mashiro yang putih dan wangi, bermaskud meredakan rasa sakit yang dirasakan oleh Mashiro.

"A..atsushi – kun, be..bergerak lah.." perintah Mashiro, Murasakibara tersenyum

"baiklah, apapun yang kau mau calon ibu dari anakku." Goda Murasakibara, Mashiro hanya tersenyum lembut. Murasakibara mulai bergerak, semakin lama semakin cepat yang diberikan Murasakibara, membuat tubuh Shiroyumi terguncang hebat saat Murasakibara melakukannya. Malam itu, rumah baru mereka, menjadi saksi bisu betapa panasnya adegan yang dibuat oleh pemiliknya ini. mendengarkan suara teriakan – teriakan nikmat dan sentuh kulit yang menampar...

.

.

.

Mashiro P.O.V

Krek! Krek! Aku meregangkan ototku, yang pegal sana sini dan sakit sana sini karena aktifitas panas yang kulakukan tadi malam, kemaluanku juga masih terasa perih. Aku melihat sekitarku, mengedarkan pandanganku. gaun putih yang kemarin aku kenakan tergeletak di lantai marmer putih begitu saja, bukan hanya gaun putih, jas yang spertinya satu set dengan gaunku juga tergeletak di lantai.

Yah, kemarin aku baru menikah. Tak kusangka ternyata Atsushi – kun benar – benar serius saat bilang 'Seminggu lagi kita akan menikah', kukira hanya gurauan saja, ternyata seminggu dari kejadian tersebut, dia benar – benar menikah denganku. Rahasianya menjadi pembunuh bayaran? Aku juga sudah tahu hal itu. aku tak bisa menerima hal tersebut karena aku takut kehilangannya karena memang pekerjaanya juga berbahaya, tapi dia meyakinkanku jika ia takkan mudah mati, akupun jadi percaya padanya dan berjanji akan selalu disampingnya walau hidupku menjadi taruhannya. Dan disinilah aku, rumah mewah yang akan terisi oleh kehidupan kami dan anak – anak kami. Saat aku bergelung dengan pikiranku, bisa Kurasakan ada yang meraih pinggangku.

"Yukichin, masih pagi, ayo kita tidur lagi." Ucap suamiku yang masih setengah sadar. Aku mengelus pipinya dengan lembut, mata velvetnya terbuka dan menatapku.

"Yukichin ayo tidur." Ucapnya sambil merengkuhku kedalam pelukannya. Akupun menenggelamkan wajahku ke dada bidangnya dan mulai memejamkan mata.

"Yukichin.." baiklah, aku membuka mataku lagi.

"ada apa?" tanyaku, ia semakin mengeratkan pelukannya.

"aku ingin anak 11" tunggu! Apa tadi dia bilang?

"eh..apa?" ulangku

"ingin anak 11." Jawabnya, aku jawdrop ditempat.

"baiklah, Atsushi – kun. Aku mengerti jika setiap yang kau katakan itu akan menjadi kenyataan. Tapi! Mempunyai anak 11, apa tidak banyak!?" tanyaku shock sambil mengambil posisi duduk. Atsushi – kun juga mengambil posisi duduk.

"memangnya kenapa? Aku akan membiayai persalinanya kok." Ucapnya tanpa dosa. Apa dia tak memikirkan jika setiap wanita mempertaruhkan nyawanya saat dia melahirkan? Menurutmu melahirkan itu mudah apa!?

"ta..tapi..!" cup! Aku bisa merasakan benda lembut menyentuh bibirku singkat. Atsushi – kun tersenyum kepadaku dan mengelus puncak kepalaku.

"bohongan kok. Hal itu sih terserah yukichin saja." Ucap Atsushi – kun dengan lembut. Akupun tersenyum dan memeluknya.

"aku mencintaimu Murasakibara Atsushi." Atsushi – kun membalas pelukanku.

"aku juga mencintaimu, Murasakibara Yuki." Ucap Atsushi –kun sambil meniduriku.

"sudahlah aku mengantuk ayo kita tidur lagi." Ajak Atsushi – kun, akupun menurutinya dan menutup mataku dipelukan hangatnya. O – ya – su – mi – na – sa – i, A – na – ta...

Murasakibara x OC (Mashiro) END...

.

.

.

.

.

.

Mind to Reviews?

Perhatian : sebelumnya terimakasih meluangkan waktu kalian untuk membaca fanfic milik matsu ini (^3^) (")... lalu sebenarnya salah satu penghambatnya 'Kau adalah yang berharga' update adalah, matsu bingung karakter selanjutnya itu siapa, makanya itu untuk para readers – san, tolong suaranya untuk karakter chapter selanjutnya, hehehe. Dan maaf Matsu jarang balas Reviews para Readers – san, sekali lagi Matsu minta maaf. Dakara.. Onegai simasu untuk suaranya nanti (^_~)d