Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
I'm Cold as Ice © Furasawa99
Warning:
OoC, AU, crackpair, multi-chapter, etc.
Genre:
School-Life, Romance, Friendship, etc.
Rated:
T
.
.
Happy Reading!
.
.
Di taman belakang sekolah dengan hamparan bunga musim semi beserta pepohonan sakura yang helaiannya diterpa hembusan angin, seorang gadis duduk berpangku tangan di salah satu kursi panjang. Di kursi taman ini, Haruno Sakura duduk dengan kedua tangan yang terkepal erat di atas pangkuannya dan pandangannya menjurus ke tanah. Dan untuk kesekian kalinya, dia menghela napas pelan.
Musim semi. Bahkan belum ada alasan untuk pemilik manik emerald itu merubah pendiriannya. Citra dingin, individual, anti kompromi dan kata sifat semakna lainnya masih belum rontok dari kepribadian gadis Haruno itu. Walau begitu, tak bisa dipungkiri kejadian beberapa hari ke belakang cukup untuk membuatnya berhenti memandang sebelah mata orang-orang di sekitarnya. Hidan dan Deidara yang selama ini dikenalnya sebagai kakak kelas yang bodoh dan cerewet pun tak mampu membuatnya berpikir bahwa mereka tak mempedulikan dirinya. Tidak terkecuali teman seangkatannya seperti Ino, Hinata, dan Neji yang bahkan membuatnya semakin membuka mata. Setidaknya orang-orang tersebut secara tidak langsung membuat Sakura membuka mata menatap dunia. Setidaknya keberadaan Sasori membuat Sakura merasa bahwa keberadaan teman-temannya di tengah kepribadian tidak mengenakkan darinya menjadi lebih bermakna. Setidaknya pemuda Akasuna itu bisa membuat Sakura membuka mata melihat kepedulian teman-temannya.
FLASHBACK
"Itu..." Sasori baru akan menjawab pertanyaan Sakura sebelum seseorang menginterupsi.
"Kau bahkan menciptakan gambaran sempurna dengan karakter nyata dari Haruno Sakura, Sasori-san." Sakura menatap Neji seolah tak percaya. Sasori yang diberikan pujian seperti itu hanya mengangguk. Hyuuga muda itu beralih menghadap Sakura dan membalas tatapannya, "Dia bisa menggambar karakter secara realistis. Lalu kenapa kalian tak langsung bekerja sama?"
Pertanyaan Neji membuat Sakura tersentak. Sesempurna itukah lukisan Sasori hingga Neji mampu menebak gadis pada gambar dengan tepat? Merasa ungkapan Neji memang benar, Deidara, Ino, dan seluruh penjuru lapangan pun turut melempar pandangan pada Sakura. Sakura hanya menatap datar Neji yang masih menyambut hangat tatapan manik emeraldnya. Merasa enggan meladeni semuanya termasuk hasil duel ini, gadis bersurai soft pink itu segera berbalik dan berjalan meninggalkan lapangan. Ino ingin menghentikannya, namun sesaat lanjutan kalimat Neji mendahuluinya.
"Seniman untuk manga nanti tetap merupakan pilihanmu," ucap Neji yang sukses membuat Sakura menghentikan langkahnya. Kapten tim basket itu juga sukses menarik perhatian seisi lapangan. Sesaat kemudian, seringaian tipis disunggingkannya, "Tapi kalau kau merasa diberatkan, aku yang masih satu divisi denganmu tak sungkan untuk menggantikanmu sebagai author komik. Tapi yang jelas, jika aku jadi authornya, aku pasti pilih Sasori sebagai senimannya."
Bagus. Ini tidak seperti Hyuuga Neji ingin menggantikan Sakura untuk berpartisipasi dalam proyek. Justru ini terlihat seperti Neji sedang memberikan masukan untuk Sakura. Secara tidak langsung, Hyuuga muda itu merekomendasikan Sasori.
FLASHBACK END
Sakura bangkit dari kursi taman. Matanya terpejam saat dirinya menghirup napas dalam sebelum menghelanya. Kemudian kepala berhelaian merah muda itu mendongak menatap langit. Mata hijaunya berkilau membalas hangatnya langit cerah yang menyambut tatapannya. Beberapa saat kemudian, pemilik manik emerald itu kembali menunduk. Tangannya digerakkan mengusap tengkuknya dan sekali lagi dia menghela napas.
'Kau sukses membuatku berpikir keras, Hyuuga. Kau sukses membuatku menerima rekomendasimu,' batin Sakura bergumam lirih. Mata hijaunya mulai sendu.
Ya, bagaimana pun Haruno Sakura bukan orang yang egois. Jika bukan karena jangka waktu yang pendek untuknya memikirkan partner proyek manga sekolah, dia pasti tak membuat keputusan secepat ini. Tapi di sisi lain, Sakura tetap berharap interaksinya dengan sederet orang yang terlibat nanti bisa membuatnya menjadi lebih baik. Bunga es tidak selamanya menciptakan hawa dingin. Ada kalanya bunga es itu akan meleleh, bukan?
.
.
.
Di area kantin yang ramai, Deidara dan Hidan duduk di salah satu meja. Hidan hanya meniup ramennya yang masih panas selagi Deidara masih bertopang dagu di sisinya. Di seberang mereka berbatasan meja kantin, tim basket sekolah duduk memperhatikan dua lukisan dengan tema berbeda. Ya, itu dua lukisan hasil duel di lapangan tadi. Dan Deidara sedang menunggu penilaian lima lelaki populer sekolah itu. Ya, populer. Tim basket sekolah memang memiliki lima siswa terpandang dan jadi pusat perhatian para siswi.
"Aku suka lukisan Yahiko, ttebayou!"
TWICH
"Apa bagusnya lukisan itu, hm?! Jangan berhubung kalian sama-sama duren, kau jadi membela gambar buatannya, hm!" umpat Deidara dengan perempatan siku-siku berkedut di wajahnya.
Alisnya berkedut kesal sejak Naruto menyuarakan pendapatnya. Deidara memang menyeret enam lelaki itu untuk membantu penilaian kedua lukisan, namun tetap saja Deidara tak suka tatkala lukisan Yahiko disanjung. Seperti biasa, terlalu subjektif dalam menilai karya orang.
"Memangnya kenapa? Lagipula memang itu opiniku, ttebayou!" balas Naruto ketus.
Hidan segera menarik lengan Deidara yang nyaris menjambak surai pirang pemilik manik sapphire blue. Kemudian pemilik manik magenta itu mengisyaratkan anak basket yang lain untuk berkomentar.
"Err, aku suka gambar Sasori, ngomong-ngomong." Shikamaru turut buka suara. Tentu saja pendapat Shikamaru melukis seringaian puas dari Deidara.
"Tapi aku suka lukisan Yahiko, lukisannya simple dan tak bergradasi lebay."
TWICH
"KALAU KAU TAK TAU NILAI ESTETIS SEBUAH KARYA LUKIS HARUSNYA JANGAN KOMENTAR, HM! ENYAH KAU, ****!"
Neji dan Hidan berusaha keras menahan Deidara dengan menarik masing-masing lengannya. Deidara meronta-ronta saat dua lelaki itu menahannya. Kalau mereka tak menahan Deidara, lelaki bersurai pirang itu pasti sudah meninju Kiba akibat terlampau geram. Ya memang cara komentar Kiba juga yang terlalu asal.
Setelah beberapa saat membuat Deidara kembali duduk tenang di sebelah Hidan, Neji melempar pandangannya pada teman setimnya yang tersisa. Tinggal Gaara yang belum memberi komentar untuk hasil duel lukis.
"Bagus. Hasil voting imbang 2-2. Sekarang kau pilih lukisan siapa?" tanya Neji akhirnya.
Deidara langsung menatap antusias pada satu-satunya anggota tim basket yang tersisa. Wajahnya kembali berseri penuh harap bahwa lukisan Sasori akan menuai pujian. Sekali lagi perlu ditekankan, Deidara tidak senang jika lukisan Yahiko menuai sanjungan. Gaara yang menyadari tatapan intens dari Deidara masih berkutat dengan kedua lukisan itu. Mata hijau Gaara tak lepas dari memandang kedua gambar. Kemudian Gaara melipat kedua tangannya di depan dada.
"Gaya melukis Sasori dan Yahiko itu berbeda. Lagipula, kenapa tak tanyakan saja pada Sakura? Setidaknya, pastikan gambar yang dipilih adalah yang akan cocok dengan penulisan karakter yang dibuat Sakura sebagai author," jelas Gaara yang praktis disambut tatapan sekumpulan lelaki di sekelilingnya yang sedang mencerna kalimatnya.
Benar juga. Sakura nanti yang menjadi authornya. Itu artinya butuh kecocokan antara gaya pelukisan karakter komik oleh seniman dengan gaya penulisan watak karakter komik itu oleh author. Komunikasi antara author dan seniman komik itulah yang dibutuhkan. Bukan sekedar menilai gambar calon seniman mana yang lebih bagus.
.
.
.
Senju Tsunade duduk bertopang dagu di meja kantornya. Di hadapannya, Haruno Sakura, Yahiko, dan Sasori duduk berderet di kursi putar. Sekitar sepuluh menit sejak Tsunade mengumpulkan mereka bertiga di sini. Perlahan, wanita tua itu menyunggingkan senyuman. Matanya menatap lurus ke arah Sakura yang tepat duduk di seberangnya; Sakura duduk di antara Yahiko dan Sasori. Sakura yang merasa dilempari senyum hanya menatap datar segelas air es yang tergeletak di pojok meja Tsunade. Air minum dingin itu memunculkan benih embun di permukaan gelas. Dan itulah yang menjadi perhatian Sakura dengan tatapan kosongnya.
"Siapa pun yang kau pilih, kau sudah harus bekerja sama dengannya mulai hari ini, Sakura. Hanya dua minggu waktu untuk proyek manga. Kami semua siap membantumu soal pencetakan maupun design cover untuk komik itu."
Setelah mendengar penjelasan lugas dari kepala sekolahnya, Sakura mengangguk paham. Yahiko masih mengarahkan pandangan mata kepalanya ke arah Sakura yang duduk di sebelahnya. Lain dengan Sasori yang hanya sesekali memperhatikan Sakura lewat delikan sekilas. Perlahan, gadis bersurai soft pink itu menghela napas.
"Aku pilih Sasori, Tsunade-sama." Sakura berucap datar. Mata hijaunya kini menatap Tsunade serius.
Praktis Tsunade meletakkan tangannya yang sebelumnya menopang dagu. Matanya mengerjap sejenak.
"Aku pikir kau akan pilih Yahiko. Err, maksudku, kupikir tak semudah itu kau menerima orang baru-"
"Sakura, gambar Sasori itu kan jelek." Yahiko menyeletuk asal, dia bahkan menginterupsi ucapan Tsunade. Membuat Sasori yang duduk rangkap satu kursi dengannya mengepal tangan tak terima.
"Aku memang buta seni, kalau menyangkut seni menggambar, Tsunade-sama." Sakura berucap dengan mata hijaunya yang menatap Tsunade lekat-lekat. Praktis Yahiko dan Sasori menatapnya penuh kejut. "Tapi kali ini akan kuterima rekomendasi teman-temanku. Aku- aku akan mempercayai mereka. Err, semoga."
Yahiko melongo di tempat. Demi apa pun, apa yang baru didengarnya pasti adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan Sakura. Yahiko bahkan seperti tak berkedip sejak mencerna ucapan lantang pemilik manik emerald itu.
Perlahan, Sasori mengulas senyum tipis. Ya, terlalu tipis untuk membuat orang-orang di dalam kantor kepala sekolah itu menyadarinya.
Tsunade hanya mengangguk sekilas, "Baiklah, Sakura. Aku mengerti."
.
.
.
Arloji Sakura sudah menunjukkan sudah waktunya kegiatan sekolah berakhir. Namun dia menghentakkan kakinya bosan karena merasa sudah cukup lama menunggu seseorang di gerbang sekolah. Tidak, bukan Ino. Pemilik manik emerald itu memang sering pulang menumpang mobil Ino namun untuk kali ini tuntutan kepala sekolah membuatnya berpikiran lain. Dia menunggu Sasori. Walau terdengar mustahil mengingat Sasori dikenal bersifat individual sama seperti dirinya.
Sakura menghela napas kasar. Dia sudah muak. Gerbang sekolah yang sebelumnya diramaikan sederet murid yang menunggu dijemput atau menunggu temannya, kini juga sudah sepi. Menyisakan dirinya sendiri. Sakura yang sebelumnya memberi atensi pada gedung sekolah pun berbalik hendak beranjak pulang.
"SAKURA! TUNGGU!"
Suara itu. Sakura membulatkan matanya mendengar teriakan itu. Ingin dia berbalik menghadap sumber suara namun begitu sadar siapa pemilik suara itu, napasnya merasa tercekat.
"Sakura, kenapa tak menungguku?" Pemilik manik hazel sekaligus pemilik suara itu kini menggenggam bahu kanan Sakura seolah akrab. Sakura masih membeku di tempat sambil menatapnya dengan wajah heran.
"Kau yang berteriak tadi?" tanya Sakura yang menyembunyikan keterkejutannya.
Sakura sedikit menepis pelan tangan Sasori dari pundaknya begitu melihat Sasori mengangguk cepat. Sakura menggeleng tak percaya. Itu tidak seperti biasanya. Sejauh ini di mata Sakura, Sasori tak kalah dingin darinya. Tapi kenapa sekarang...
"Kau ini punya kepribadian ganda ya?" celetuk Sakura dengan suara yang mulai ditinggikan.
Sasori yang dilontarkan pertanyaan seperti itu hanya mengerjapkan mata sekilas. Awalnya lelaki bersurai maroon itu tertawa canggung namun sesaat kemudian dia mencengkeram rambutnya dengan kedua tangannya seraya merintih.
"Aku..."
BRUK
.
.
.
Kelopak mata sayu itu perlahan membuka. Membiarkan manik hazel di dalamnya bergulir memandang sekitarnya. Begitu sadar dirinya ada di tempat yang asing, Sasori beranjak duduk dan celingukan. Dia merasa asing dengan ruang tengah tempatnya berada.
"Kau berada di rumahku," celetuk Sakura yang berjalan mendekati Sasori dengan semampan yang diletaki dua cangkir teh.
Sasori yang mengernyit heran segera mengucek matanya. Berpikir ini sekedar mimpi. Begitu menyadari Sakura benar, Sasori hanya mengusap tengkuknya kikuk.
"Kenapa aku di sini?"
"Kau pingsan setelah bertingkah lain dari sikapmu yang biasanya. Kau seperti pengidap DID, kau tahu?" balas Sakura sinis.
Sasori tercengang. Matanya mengerjap tak percaya. Mungkinkah?
"Err, bisakah kita mulai membuat komiknya?" Sasori mencoba mengalihkan topik.
Sakura hanya memutar bola mata bosan. Dia baru sadar kalau dia terlampau penasaran. Dia lupa kalau apa yang ditanyakannya bukan hal penting baginya. Kalau pun Sasori punya kepribadian ganda, apakah itu urusan Sakura?
.
.
.
Lima belas menit sejak Sasori duduk menunggu Sakura di ruang tengah. Secangkir teh yang disediakan sebelumnya pun tinggal sepertiga. Beberapa saat kemudian, pintu salah satu kamar terbuka dan memunculkan seorang gadis bersurai soft pink yang berjalan dengan sebuah diary bersampul kupu-kupu biru pada genggaman tangannya.
"Aku menulis fiksiku di sini. Mungkin ceritanya bisa dibuatkan komik," ucap Sakura begitu duduk di samping Sasori.
Pemilik manik emerald itu menyodorkan diarynya. Tanpa ragu, Sasori menerima dan membuka diary itu. Manik hazelnya bergulir membaca sekilas paragraf-paragraf yang tersusun rapih di lembaran diary tempat penulisan karya fiksi itu.
"Aku mau kau menggambar tokoh-tokoh ceritanya. Ikuti saja sesuai garis cerita."
.
.
.
Putri tidur bersurai soft pink itu berguling-guling di atas ranjangnya. Kelopak mata yang sebelumnya tertutup damai mendadak membuka memperlihatkan manik emerald yang membola. Sesaat kemudian pemilik manik emerald itu beranjak duduk dengan wajah panik yang ditunjukkan sejak matanya melirik jam dinding kamar. Dan seketika Sakura berdiri meninggalkan ranjang sekaligus kamarnya dan turun ke lantai dasar rumah.
Haruno Mebuki, wanita bersurai khaki itu sesekali menyeka air di pelupuk matanya. Sosok ibu yang sedang mengiris bawang di dapur itu mendadak bergedik begitu suara lantang yang khas di telinganya mendekat ke ruang dapur. Dan segera dia menoleh kepada gadis pemilik suara yang berdiri di ambang pintu dapur.
"Ibu! Dimana Sasori?"
"Sasori? Siapa itu?" Mebuki justru balas bertanya. Dia bahkan tak menoleh dan menyibukkan diri dengan masakannya.
Wajah cemas pemilik manik emerald itu berubah datar. Dia memutar bola mata bosan seolah ibunya sedang bercanda.
"Ibu, dimana Sasori? Aku tadi pamit meninggalkannya ke kamar dan tanpa sengaja tertidur. Cih, yang benar saja." Sakura mendecih heran. Dia juga bingung kenapa dirinya cukup mudah tertidur.
"Apakah yang kau maksud itu lelaki berambut merah yang menggambar kartun?" Sakura mengangguk menjawab pertanyaan ibunya. Jangan heran mengapa sang ibu menyebut karakter anime dengan kata 'kartun'. Tak lama kemudian, sang ibu berbalik memandangnya. "Ah, namanya Watari, Sakura. Bukan Sasori."
Sakura mengangkat sebelah alisnya heran. Sakura bahkan tak pernah mendengar nama itu. Terlalu aneh jika diingat lagi. Untuk apa Sasori memperkenalkan diri dengan nama yang berbeda kepada ibu Sakura?
"Sudahlah! Bawakan ini ke meja makan. Kita akan segera makan malam," ucap Mebuki sambil menyerahkan semangkuk sup yang segera diterima Sakura. Setidaknya pola pikir Sakura yang notabene hanya akan memikirkan yang penting-penting saja, tidak akan terlalu menghiraukan soal nama asing itu.
"Oh iya, Sakura. Watari itu humoris loh. Sejak ibu pulang, ibu terus mengobrol dengannya. Dia orang yang asyik. Maksud ibu, dia bukan tipe orang yang buntu topik." jelas Mebuki sambil meletakkan sepiring yakiniku sesampainya di ruang makan.
.
.
.
Di sebuah halte yang sepi, sebuah bus berhenti dan memunculkan seorang lelaki berseragam Konoha Arts High School bernametag Sasori. Sejak turun dari bus, Sasori berjalan sambil terus meringis dengan tangan kanan yang mencengkeram erat helai rambutnya. Setelah mendudukkan diri di bangku halte, perlahan rasa sakit di kepalanya pudar bersamaan dengan napasnya yang berubah semakin terengah-engah. Wajahnya masih meringis dengan deru napas yang tak karuan, memperlihatkan betapa gelisahnya dia.
"Kyaaaa!"
Suara teriakan wanita menggaung mengetuk gendang telinga pemuda bersurai maroon itu. Sasori yang masih dengan deru napas tak stabil, perlahan melangkah ke sumber suara walau dengan langkah terseret.
Sasori yang terus memegang dadanya yang merebut oksigen di tengah malam, kini terbelalak mendapati seorang wanita diganggu sejumlah pria. Dengan manik hazel yang membola, Sasori mendekati sekumpulan pria yang mengelilingi wanita di pojok gang sempit itu. Dengan seringaian tajamnya, Sasori berdehem.
"Siapa kau?" tanya salah satu pria sambil mengacungkan sebilah pisau sesaat setelah Sasori mengambil sebuah balok kayu di tempat sampah.
Dengan seringaian yang semakin lebar, Sasori yang kini menggenggam balok kayu dan mengangkatnya dengan gestur hendak mengayunkan segera bergumam, "Namaku Akira. Halo, dan sayonara."
BUGH
.
.
.
Setelah menunaikan makan malam bersama ayah dan ibunya, Sakura memilih untuk bersiap tidur. Di dalam kamarnya, lebih tepatnya di atas ranjang, Sakura duduk bersila. Matanya menatap kosong beberapa lembar gambar buatan Sasori. Tanpa disengaja, senyuman tipis terulas tatkala mata hijaunya mendapati kesan menarik dari beberapa scene yang telah digambar Sasori. Jika dipikir lagi, sepertinya dia tidak salah memilih partner. Itu membuat Sakura sebagai penanggung jawab dalam proyek ini merasa diringankan. Dan tak terbantahkan bahwa kali ini, Sakura patut bersyukur. Bersyukur karena ada seorang seniman berbakat yang baru saja tiba dalam hidupnya.
Namun seketika, senyum tipisnya memudar. Ekspresi sumringah penuh rasa syukur dan puas itu mendadak lenyap tatkala isi kepala bersurai soft pink itu memunculkan sebuah nama. Watari. Siapa Watari? Bukankah nama Sasori adalah Akasuna Sasori? Untuk apa lelaki itu memperkenalkan diri dengan nama Watari? Lagipula, sejak kapan Sasori jadi sosok yang humoris dan komunikatif?
"Tunggu dulu," gumam Sakura tiba-tiba. Kepalanya segera ditolehkan ke arah beberapa kertas yang terletak di atas meja nakas.
Ya, itu adalah lembaran gambar yang Sakura temukan di ruang tengah bersama beberapa gambar scene komik. Sakura meletakkannya di meja karena berpikir itu memang bukan bagian dari scene. Dengan demikian muncul dugaan jika itu gambar ciptaan Sasori, yang didasari kreatifitas. Sakura ingat memang Sasori tipe orang yang suka menggambar bukan sekedar karena tuntutan.
Segera gadis bersurai soft pink itu meraih lembaran gambar bertema bebas itu. Hanya ada dua lembar, dan Sakura memperhatikan keduanya dengan seksama. Salah satu gambar memperlihatkan empat pria yang berderet secara vertikal dengan posisi kertas yang vertikal pula. Pria yang di atas bersurai maroon dengan senyuman damai dengan latar bernuansa musim semi. Sakura ingin berdecak kagum akan keindahan gambar itu jika saja gambar sosok di bawah gambar tersebut tak mencuri perhatiannya. Di sisi kedua dari atas, seorang lelaki bergeming dengan wajah tegas yang menatap datar penikmat gambar, dengan latar bernuansa musim dingin. Di sisi ketiga dari atas, seorang lelaki yang sama dengan dua lelaki sebelumnya menyeringai lebar dengan mata coklat berkilat menggambarkan antusiasme yang tinggi, dilatari nuansa musim gugur. Sakura mengangkat sebelah alis bingung dengan ekspresi yang satu itu. Dan sisi paling bawah, tampak seorang lelaki yang tak berbeda sedang tertawa lebar menunjukkan ekspresi santainya kepada penikmat gambar, dan gambar ini dilatari musim panas.
"Apa-apaan ini?" gumam Sakura dengan nada kesinisan yang entah ditujukan pada siapa. Dia segera menggenggam selembar gambar itu, meremukkannya hingga membola dan membuangnya ke sembarang arah. Seolah berpikir bahwa kegiatan memandang gambar yang baru dilakukannya adalah sia-sia.
Andai Sakura sadar bahwa sosok di sisi gambar bernuansa musim panas itu adalah sosok yang memperkenalkan diri sebagai Watari.
TBC
A/N:
Holla! Woahahaha, sudah lama tak update. Sok sibuk juga ya atashi. Gomen ne! Terima kasih PeachEmerald99, Brokoro, permen lemon, Sshawty Sifa, Cicely Garnetta, & Akasuna Ayumi karena sudah review chapter 3. Mau klarifikasi sekilas, ini bukan songfic kok. Hampir banyak ff yang kubuat tak terlalu mengandalkan judul & summary. Jadi maaf saja kalau sumarynya tak menarik atau semacamnya. Judul pun sementok-mentoknya ngutip penggalan syair pujangga. Dan ya, kalau kalian baca lirik Epik High - It's Cold pun tak akan menemukan kesamaan garis kisah sama ff gajeku ini. Alih-alih buat fict semanis lagu bernuansa romansa, aku selalu berakhir bikin yang jauh lebih absurd. Maapkan beta! Atashi khilaf~
Soal penggalan lirik yang pernah kucantumkan, atashi juga khilaf. Aku pakai teori cocokpedia jadi dipaksain pasang lirik untuk menambah kemistri(?) tapi semoga semua kebiasaan konyol itu sirna. BTW, adakah yang bisa simpulkan maksud dari chapter ini?
Pojok Respon:
permen lemon: Yampun, sudah kuduga dialog Sakura masih terlalu panjang. Maaf, aku belum pinter nulis dialog karakter yang irit bicara. Makasih sarannya. Maaf karna bikin kamu review panjang gegara kekurangan ff ini. Tapi komentarmu bener juga. Lukisan Sakura seolah poto pahlawan di soal sejarah. Maaf baru update. Semoga tak mengecewakan.
Sshawty Sifa: Kamu lebih seperti curhat daripada ngereview, wkwk. Ini sudah lanjut, maaf bikin nunggu. Makasih masih rnr.
Akasuna Ayumi: Nah! Latar belakang sikap dingin Sasori? Sebut saja Sasori sebagai manusia normal punya sifat A, B, C, dan seterusnya. Hingga sesuatu hal yang menimpanya membuatnya cuma punya sifat A, dan sisa sifat lainnya dimiliki orang bernama lain-lain. Nanti juga dia sembuh (Readers: Jawaban apa ini?-,-) Makasih sudah rnr. Semoga paham sama chapter ini. Kalau pertanyaanmu belum terjawab, mungkin jawabannya ada di beberapa chapter ke depan.
