SPADE KING

(Chapter Ganjil: Piscesaurus) |(Chapter Genap: Nohara Rin)
Nohara Rin and Piscesaurus's Collaboration Fic
(Penname changed, sebelumnya Kitty Kuromi dan Skaicards)

Naruto milik Masashi Kishimoto

Rated T++/AU/so much OOC!

.:spadeking|ch4:.

Sakura terdiam ketika Sasuke menempelkan kedua kening mereka. Ia menangkap tatapan tulus dari sepasang manik hitam kelam di hadapannya.

"Jadilah milikku, yang mampu menenangkanku…" suara parau Sasuke membuat napasnya menyentuh permukaan bibir Sakura karena jarak yang terlalu dekat.

Seolah terhipnotis, mata Sakura terpejam, menerima begitu saja pagutan lembut teruntuk dirinya. Ia merupakan gadis polos yang sejak kecil diasuh di panti asuhan. Penampilannya yang kurang menarik mungkin membuatnya jarang dilirik.

Maka ketika ada seorang pemuda tampan yang saat ini begitu dekat dengannya, Sakura merasa melayang. Ia mabuk akan sentuhan Sasuke yang merupakan hal 'pertama' baginya. Tubuhnya seperti diserbu jutaan kupu-kupu ketika merasakan jari-jari dingin Sasuke memeluk rahangnya untuk menagih peraduan yang lebih dalam.

Hingga tiba saatnya seperti guntur menghantam dalam fantasi Sakura—bayang-bayang Shion mengerang dicumbu di atas pangkuan Sasuke terputar jelas. Seakan menamparnya keras-keras. Dan membuatnya membuka mata, mendapati Sasuke masih terpejam masih mendominasi.

Tangannya mencoba untuk mendorong, tapi seolah Sasuke tak berpengaruh sama sekali dengan tenaga yang Sakura kerahkan. Hingga membuat Sakura berteriak meminta Sasuke untuk sadar. Berteriak dalam mulut laki-laki tersebut.

"Hmmph!"

Sasuke tercenung, ketika membuka matanya ia dapatkan kembali kedua bola mata Sakura yang menatapnya dengan kecewa. Gadis itu menutupi bekas basah di sekitar bibirnya dengan punggung tangannya sendiri.

Apakah tadi keterlaluan? Sasuke rasa, ia cukup mengendalikan dirinya. Ia memagut gadis itu penuh rasa kasih. Lama tak bertemu, mungkin kerinduannya telah membuatnya lupa diri. Apakah yang baru saja ia lakukan termasuk keterlaluan? Entahlah, pertanyaan itu terus menerus menghantui kekeruhan hati Sasuke yang tak dapat ia mengerti.

Tanpa perlu banyak bicara, Sakura pun tahu apa yang tengah melayang-layang di dalam kepala teman sejak kecilnya yang sudah lama tak jumpa. Tatapan mata Sasuke berbicara segalanya—seakan berkata 'kenapa?'.

Helaan napas untuk meredam emosional yang tercipta secara mendadak. Sakura tak ingin menangis lagi. Rasanya ia cukup berlebihan jika menangisi perbuatan Sasuke terhadap Shion sebelumnya. Di samping Sasuke telah minta maaf secara tidak masuk akal—karena menurutnya, itu tak perlu, mereka kan bukan sepasang kekasih atau semacamnya.

Tapi mengapa ada rasa sakit yang lebih saat Sasuke memintanya untuk menjadi miliknya? Kejadian Sasuke dengan Shion itu belum genap satu hari, tapi bisa-bisanya Sasuke meminta Sakura untuk menjadi miliknya sekarang. Tak sepenuhnya salah bagi Sakura jika gadis bermanik emereald itu berfikir Sasuke-kun yang sejak kecil dikasihinya, sekarang menjadi seorang laki-laki yang gemar memperlakukan wanita dengan seenaknya.

Di sisi lain, Sasuke merasa kurang mengerti. Untuk sesaat, Sakura seperti membalas perasaannya. Gadis itu dengan halus membalas pagutannya. Tapi, mengapa saat ini jade Sakura menatapnya dengan tatapan seperti itu? Tatapan dingin yang sarat akan kekecewaan.

Sakura bergumam sebentar sambil menghembuskan napasnya dari hidung. Gadis itu kemudian tersenyum ganjil dengan tangan yang memeluk lengannya sendiri. "Aku senang Sasuke-kun kembali dari Amerika. Tapi aku agak kecewa dengan dirimu yang sekarang."

Sebelah alis Sasuke terangkat.

"Mm, aku tidak menyesal," Sakura menunduk, wajahnya merah, menutupi bibirnya dengan kepalan tangan kurusnya, "ci-ciuman pertamaku bersamamu. Aku… aku hanya berpikir… kalau Sasuke-kun butuh pacar. Mungkin aku bukan orang yang tepat."

Sakura mengatur napasnya, rasanya gugup dan sesak mengatakan semua yang ada di kepalanya. Ditambah lagi Sasuke diam tak merespon ucapan demi ucapan yang ia lontarkan secara terbata.

"Maksudku, lihat aku. Banyak orang yang membenciku di sekolah ini dengan alasan-alasan yang aku sendiri tidak mengerti. Aku gadis miskin. Tubuhku kurus. Sama sekali tidak menarik untuk dilirik—"

Sasuke berdecak memotong ucapan Sakura dengan ekspresi seolah menyayangkan keadaan yang ada. Membuat Sakura takut dan ragu melanjutkan kata-katanya setelah dua iris viridian itu menangkap kilatan merah pada bola mata Sasuke. Mungkin saja setelah ini laki-laki itu akan memaki-maki dirinya 'tidak tahu diri' sama seperti apa yang dilakukan teman-teman sekolahnya.

"Kau menolakku." Nada itu Sasuke ucapkan seolah tengah memberi pernyataan.

Haruno Sakura menggigit bibirnya. Meski datar, entah mengapa Sakura yakin Sasuke menyelipkan intonasi sedih di sana. Keadaan ini begitu rumit baginya.

"Aku tidak siap dengan kebiasaan Amerika yang mungkin kau bawa di Jepang. Sungguh. Aku tidak bisa menjadi… menjadi gadis yang…" rasanya seperti akan menangis kembali mengingat apa yang ia lihat di kelas tadi, Sasuke dan Shion, "gadis yang seperti Shion… maksudku, aku tidak akan bisa membuatmu senang untuk hal-hal seperti itu… mm, yang di kelas tadi. Di samping itu, aku pun tidak mau. Aku tidak biasa dan tidak bisa seperti itu."

Wajah Sakura saat ini tidak merona malu, melainkan rona sedih yang dapat Sasuke lihat dengan jelas melalui sorot mata gadis itu. Ia menghela napas. Memegang kedua pundak Sakura dan menatap gadis yang kini berusaha menatapnya jua.

"Dengar, Sakura," pemuda itu menelan ludah, "apa yang kulakukan pada Shion tadi tidak ada maksud apa pun selain memberinya ganjaran atas perbuatannya kepadamu. Aku yakin tidak sekali saja ia menindasmu selama ini, kan?"

Sakura menghindari tatapan Sasuke dengan menunduk. Ia lebih memilih untuk menatap dada bidang lelaki itu saja ketimbang dua obsidian menghanyutkan di depannya. Sakura mengangkat bahunya singkat dengan lengan yang masih digenggam oleh kedua tangan Sasuke.

"Ia bertingkah seperti jalang, aku bukan tipe orang yang gemar mencaci maki. Kau yang paling tahu aku hanya banyak bicara denganmu sejak kecil. Jadi, ketika ia nekat duduk di atasku dan percaya diri menciumku, aku mengasarinya—"

"Cukuuup!" telapak tangan Sakura menutup cepat bibir Sasuke yang masih bersuara. "Jangan diteruskan. Tidak masuk akal saja, kenapa kau harus menghukum Shion dengan cara 'begituan'!" tercetak jelas roman kesal di wajah Sakura.

Sasuke tersenyum miring dalam hati, melepas tangan Sakura dari atas mulutnya. Ia membalikkan badannya memunggungi Sakura. "Belajar sana. Aku butuh udara segar, sesak sekali rasanya ditolak." Nada itu tentu main-main dibarengi Sasuke yang menggeliat seolah habis melakukan pekerjaan berat dan melelahkan.

Sasuke melangkah menjauh meninggalkan Sakura yang merona mendengar kata-katanya. Ada sesuatu yang membuncah dalam hati Sakura. Yaitu, perasaan tersanjung yang dibayangi was-was akan karakter Sasuke yang telah dewasa seperti apa. Mereka baru bertemu kembali hari ini setelah bertahun-tahun, tapi sudah banyak yang terjadi.

.:spadeking|ch4:.

Sakura kembali ke kelas dengan perasaan bimbang. Semua terjadi terlalu cepat dan membuatnya hanyut begitu saja dalam keadaan yang membingungkan. Ia tengah terbiasa dengan dirinya yang sendirian menjalani keadaan tanpa Sasori (kakaknya) dan Sasuke (teman kecilnya)—yang dua-duanya telah meninggalkan ia sejak lama.

Baginya kedatangan Sasuke merupakan kejutan besar, terutama bisa berada dalam kelas yang sama. Jujur saja saat pertama kali mengetahuinya, Sakura menaruh harapan besar bisa memiliki seseorang lagi untuk dijadikan sandaran seperti mereka sedia kala.

Namun segalanya bersinggungan secara rumit. Dimulai dengan saat di mana ia merasa berdegup-degup kala Sasuke terlalu dekat dengannya—mungkin itu efek karena baru bertemu dan Sasuke tampak gagah nan tampan. Selanjutnya, kejadian Shion dan Sasuke di kelas tadi—yang sungguh membuat Sakura ingin membuang memori itu jauh-jauh. Dan berakhir ketika Sasuke memintanya untuk menjadi miliknya hari ini.

Semua terjadi dalam satu hari. Hatinya terombang-ambing melayang-jatuh-dan dipeluk lagi—hanya dalam satu hari. Sungguh hebat Uchiha Sasuke yang rupawan tersebut. Setelah melamun beberapa belas menit. Akhirnya, buyar sudah lamunan Sakura bersamaan dengan padamnya kebisingan kelas yang dihuninya. Seorang guru baru saja datang.

"Hari ini akan ada kuis," ucap Guru matematika tersebut yang sukses membuat hampir seisi kelas mendesah malas. Protesan implisit anak-anak muridnya tak ia gubris, Guru tersebut tetap membagikan lembaran soal yang telah dibawanya, dengan senyum manis yang terlihat menyebalkan.

Tok. Tok. Tok.

Seisi kelas menoleh ke arah pintu. Uchiha Sasuke mengangguk sejenak pada sang Guru yang mempersilakannya langsung duduk saja dengan isyarat. Ia berjalan lurus ke tempat duduknya yang terletak di depan tempat duduk Sakura, tanpa memperdulikan tatapan-tatapan yang dilayangkan ke arahnya.

Sakura menatap punggung itu. Ia berpikir keras tentang pertanyaan Sasuke. Apakah gurauan? Apakah lelucon? Sasuke memintanya untuk menjadi milik pria tersebut. Bercanda? Tapi tidak mungkin.

Meski sudah lama tidak bertemu, Sakura hafal benar hingga kenal mana Sasuke yang bergurau dan mana Sasuke yang serius—meski kini dibayangi perasaan was-was akan perubahan Sasuke yang berubah cukup dratis setelah menetap di Amerika dalam kurun waktu yang lama.

Tak ingin menyesal, Sakura menghela napas. Tangannya terulur untuk menyentuh pundak Sasuke dari belakang.

"Kemana Shion?" tanya sang Guru karena mendapati absensi salah satu siswinya. Ia urung menaruh kertas kuis di meja kosong milik Shion.

"Shion pingsan, Bu. Ia dilarikan ke rumah sakit." Jawab salah satu kawan Shion.

Sementara itu Sasuke menoleh merasa ada sesuatu yang menyundul punggungnya. Ia menatap Sakura dengan alis terangkat seolah bertanya 'apa?'.

"Lho, kok, bisa?" suara Guru terdengar lagi.

Sakura menghela napasnya gugup ditatap Sasuke, ia memajukan tubuhnya—berniat menjawab ia bersedia menjadi milik Sasuke sebelum ia menyesalinya jika gadis itu menolak—"Aku—"

"Habis dicium Sasuke, Bu! Shion jadi pingsan!"

"Hahhaha."

Mata Sakura berkedip sayu ketika hatinya seolah tertusuk amat sakit. Ia tersentak kecil mendegar jawaban teman Shion yang menggelegar pada sang Guru yang kini menoleh ke arah Sasuke.

"Benar begitu, Sasuke?"

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, sejujurnya ia sangat jijik untuk menerima bahasan ini kalau bukan seorang guru yang menanyakannya. "Shion itu yang mana?" tanyanya balik yang mengundang keriuhan kawanan Shion—mereka merasa jawaban Sasuke barusan sangat kejam.

"Sudahlah. Kerjakan saja kuisnya." Potong sang Guru malas. Ia kenal baik Shion dan teman-temannya seperti apa. Mereka kebanyakan anak pemilik saham di sekolah elit ini hingga bisa semena-mena bicara atau berbuat semaunya. Lantas ia tak percaya dengan jawaban kawanan Shion tersebut. Dipikirnya, mungkin Shion membolos—dan alasan yang disebutkan tadi cuma jawaban asal anak remaja yang nakal. Terbukti Sasuke bahkan tak kenal yang mana orang bernama Shion itu.

.:spadeking|ch4:.

Jam sekolah telah usai. Anak-anak segera berhamburan dengan cepatnya keluar kelas, berusaha menyegarkan diri seusai menguras otak akibat kuis matematika dadakan yang cukup memusingkan. Tak terkecuali Sakura, ia keluar kelas dengan cepat-cepat. Sejak tadi ia sibuk mengetuk pensil di kepalanya, ia tak bisa fokus. Sejenak ia dibuat melayang oleh Sasuke, sejenak pula ia dibanting jatuh oleh keadaan.

Benar, Sasuke sudah minta maaf soal Shion. Benar, Sasuke sudah menjelaskan secara logis alasannya berbuat demikian. Benar, Sasuke telah berjanji untuk tidak menyakiti hatinya—tapi keadaanlah yang menyakiti gadis tersebut. Nampaknya, rasionalitas tengah mengambil alih kendali diri Sakura untuk saat ini, termasuk batinnya.

Sasuke setengah berlari menuju pintu kelas sambil menutup resleting ranselnya dan bergegas menyampirkannya di bahu. Mata hitam pekatnya tak lepas dari sosok merah muda yang ia yakini tadi sempat akan bicara sesuatu sebelum kuis—namun kuis keburu dimulai. Sakura justru pergi begitu saja seperti buru-buru, seolah ingin menghindarinya.

Ingin rasanya ia memanggil Sakura, agar gadis itu berhenti dan menunggunya sebentar –agar ia bisa menyusul gadis itu. Namun, Sasuke dibuat urung saat Sakura masuk ke dalam toilet. Ia mendesah kesal, merasa bodoh karena mengejar gadis lamban seperti Sakura saja tidak becus. Terpaksa ia melipat tangannya dan bersandar pada dinding di sebelah pintu toilet, bersabar menunggu hingga Sakura keluar.

Selagi menunggu, Sasuke menghirup udara beberapa kali. Akhir-akhir ini asupan 'kebutuhannya' kurang terpenuhi. Untunglah darah Shion yang ditelannya mampu membuatnya merasa lebih baik walau sedikit. Pria itu memejamkan matanya merasakan—atau lebih tepatnya mendengarkan dengan seksama desau angin sore yang kebetulan berhembus di lorong tersebut.

Ia tak begitu ingat, sejak kapan ia berubah menjadi monster yang butuh darah. Yang jelas keadaan itu sangat menyakitkan—jikalau ia telat 'menutrisi' dirinya sendiri maka kesakitanlah yang siap menggerogoti sekujur tubuhnya. Itu pernah terjadi beberapa kali saat di Amerika dulu. Membuatnya jadi pencuri kelas kakap di tempat penampungan darah—dan tentu saja mengajarinya untuk menjadi seorang pembunuh sejak dini.

Tak jarang ia menangis, setelah memangsa korbannya. Dalam gelap, di sudut kamar apartemen minimalisnya saat di Amerika dulu, ia sering terpojok—mencaci-maki diri sendiri dengan darah yang masih tersisa di bibirnya, membuat warnanya terlihat lebih merah dari pada lipstick, menjambak rambut raven-nya, memeluk kedua lututnya, sampai tertidur pulas di atas lantai dalam keadaan sengsara batin.

Helaan napas untuk yang kesekian kalinya. Setidaknya ia sudah tiba di Jepang. Ia sudah bertemu dengan seseorang yang selalu membayangi tidur dan kesedihannya di Amerika. Ia sudah mendatangi 'obat penenang' dari penyakit yang mungkin tak kan kunjung sembuh seumur hidupnya.

Sakura. Dulu, gadis kecil itu selalu menggandeng tangannya ketika ia diam tak bersuara hingga berjam-jam karena berbagai alasan. Dulu, gadis itu yang menghibur segala kesepiannya sebagai anak yatim piatu yang hanya tinggal bersama Itachi dalam panti asuhan. Gadis itu pula yang paling rajin menangisinya sambil marah-marah ketika ia terluka atau terlibat masalah.

Dan gadis itu pula yang membuatnya merasa paling kesepian dan sendirian selama di Amerika. Sasuke tersenyum, membuka mata dan menghela napasnya lagi. Sakura yang sekarang tumbuh menjadi gadis manis. Meski penampilannya cenderung terlampau sangat biasa, Sasuke masih mampu menangkap kebeningan di sepasang mata beriris emerald milik Sakura.

Mata itu tak pernah berubah kesegarannya—hanya saja sekarang bertransformasi menjadi mata cantik yang indah dipandang bila beberapa kali berkedip karena bulu matanya yang lentik.

Cklek.

Pintu toilet wanita itu terbuka dan benar Sakura keluar dari sana. Segera saja Sasuke membongkar lipatan tangannya dan menatap dalam gadis di hadapannya itu.

"Uh, hei." Sapa Sakura berbasa-basi, Sasuke bisa menangkap ekspresi kebingungan gadis itu—ia sendiri datar saja menatapnya.

"Hn."

Entah siapa yang memulai, mereka pun berjalan beriringan tanpa ada sepatah kata kesepakatan untuk pulang bersama. Sakura menghela napas ringan, just like they used to be… ketika kecil dulu Sasuke sering menunggunya dan hanya ber-'hn' ria untuk mengajaknya segera berjalan bersama.

Sedikit senyuman bocor di wajah Sakura, ia tak bisa menolak perasaan manis yang diterima batinnya jika mengingat itu semua. Belum lagi—ia menoleh sejenak pada pemuda jangkung di sebelahnya—Sasuke yang dulu tak berubah. Masih dingin, masih random, masih tiba-tiba menggodanya, masih tiba-tiba sok cool seperti biasanya.

"Oh, ya, tadi di kelas mau bilang apa?" tanya Sasuke tanpa menatap Sakura, ia sibuk merogoh kunci motor di saku celananya.

"Ngg… aku tadinya ingin bilang 'bersedia'," Sakura meringis abstrak tak berani menatap Sasuke, "lantas aku berpikir mungkin kau sedang bercanda."

Sasuke mendengus, menggeleng-gelengkan kepala. "Sakura, Sakura. Jangan pura-pura tidak mengerti. Kau tahu aku serius."

"Tapi aku hanya berpikir ini terlalu cepat, Sasuke-kun." bolehkah Sakura menambahkan kalau ini tidak masuk akal?

"Kau pikir kau bisa menolakku?" Sasuke terhenti di depan parkiran motor, menghadap Sakura yang entah mengapa bisa kompak pula menghandap dirinya. "Itu hak-ku. Permintaan keempat. Ingat?"

"Apa?" Sakura menggelengkan kepalanya, "Jadi, aku tidak punya pilihan?"

Sungguh cara jadian yang aneh—atau boleh dibilang pemaksaan. Sasuke berdehem dan ber-'hn' ria kembali menuju sebuah motor sportberwarna biru dongker di sudut sana. Sakura mengikutinya dari belakang. "Ah, Sasuke-kun jangan kebanyakan main-main dong. Aku jadi bingung menanggapinya."

"Aku serius," balas Sasuke menyodorkan helmnya. Padahal tak ada ajakan pulang bersama sebelumnya, tapi Sakura seolah mengerti dan memakai saja helm pemberian Sasuke padanya. Ia masih berdebat.

"Sungguh, sama sekali tidak lucu, Sasuke-kun."

Sasuke merapatkan jaketnya dan naik ke atas motornya. "Kau pikir perasaanku hanya bahan lawakan?" mata itu menatap lurus ke Sakura, dilatar belakangi suara starter motor yang sudah Sasuke nyalakan.

Sakura diam, alisnya mengerut bimbang. Mata Sasuke melukiskan sesuatu. Mungkin wajah laki-laki itu terlihat sedikit kesal, tapi matanya seakan memohon. Aku dalam kesulitan.

"Eh, tunggu, Sasuke-kun. Aku kan bawa sepeda."

.:spadeking|ch4:.

Seminggu kemudian…

Sakura tertawa membaca baris demi baris novel humor yang ia bawa. Novel yang didapatnya dari toko buku yang kemarin sore dihampirinya bersama Sasuke. Jangan tanyakan dari mana asal uangnya, tentu saja Sasuke yang membelikannya. Tawa renyah gadis itu mengundang mata Sasuke yang tadinya terpejam jadi terbuka. Ia melirik Sakura yang masih asyik di sebelahnya. Mereka berada di kantin.

Seminggu yang lalu, Sakura mendapati sepedanya dirusak oleh orang yang tak bertanggung jawab. Sasuke pun tak ambil pusing dengan menginjak sekalian sepeda tua tersebut lantaran kesal Sakura menangis tak berhenti. Laki-laki itu memarahi Sakura yang cengeng, dan membentak-bentak gadis itu agar tak usah memikirkan sepedanya, tinggal pulang-pergi sekolah bersama dengannya kan? Apa repotnya?

Sasuke sudah cukup paham, banyak yang menindas Sakura di sekolah—berhubung ia tak berminat mengikuti ekstrakulikuler mana pun, ia punya waktu senggang yang teramat banyak di sekolah hingga memungkinkannya untuk membuntuti atau menggeret paksa gadis teman semasa kecilnya tersebut.

Kepahaman Sasuke bukan didapatkan secara instan, seminggu yang lalu saat pulang sekolah, Sasuke mampir ke tempat di mana Sakura tinggal—panti asuhan, tempat tinggal Sasuke juga semasa kecil sebelum akhirnya ia pindah ke Amerika untuk meneruskan perusahaan ayahnya bersama Itachi di bawah bimbingan tangan kanan mediang sang ayah. Di sana, ia mendapat pelukan erat dari para pengurus panti yang sudah lama tak melihatnya. Ia juga diajak bicara panjang lebar oleh Ibu panti yang sudah paruh baya sambil berkeliling, menunjukkan renovasi sana sini yang didapat panti asuhan itu selama ia dan Itachi pergi.

Dari sana pula, ia mengetahui dengan sepasang telinganya sendiri—sewaktu kecil banyak yang akan mengadopsi Sakura, namun gadis kecil itu menangis histeris untuk menolak, ia tak ingin kehilangan jejak Sasori, Itachi dan Sasuke yang mungkin saja akan kembali dalam hidupnya yang sepi. Ia dengar Sakura banyak dirundung kesusahan yang bertubi-tubi. Salah satunya di sekolah elit di mana Sakura mendapat beasiswa, banyak dari murid sana yang tak punya rasa sosial terhadap gadis miskin yang mungkin menurut mereka tidak berkelas.

Tentu saja ia mendengar itu semua ketika Sakura sedang di dapur panti asuhan, setelah Sasuke mengajaknya untuk berjalan-jalan sebentar ke mall untuk membeli beberapa buku—ternyata Sakura masih gemar membaca buku, makan dan menonton sebuah film humor.

Tak henti-hentinya Sasuke tersenyum. Sedikit modal yang ia keluarkan untuk membahagiakan Sakura yang sepertinya sangat ringan tersenyum sekarang. Tadi pagi saat menjemput Sakura, Ibu panti bilang Sakura terlihat luar biasa bahagia akhir-akhir ini.

"Ia sudah kembali ceria, terima kasih sudah menjadi pelipur laranya. Terima kasih sudah mengembalikan Sakura-chan yang dulu!" suara penuh rasa syukur sang Ibu panti tak lepas-lepasnya menggerayangi ingatan Sasuke.

Ia bersyukur telah menjadi seseorang untuk Sakura, seperti dulu. Sama seperti Sakura yang tengah menjadi 'seseorang' untuknya. Cukup membuat gadis itu tersenyum atau tertawa lepas saat di bioskop atau saat sedang membaca novel seperti itu—Sasuke sudah mendapatkan ketenangannya. Ketenangan yang tentu tak dapat dibeli semahal apa pun saat dirinya berada di Amerika dulu.

"Aku ke toilet dulu," pamit Sasuke, menepuk pucuk kepala Sakura yang kini mengangguk ketika ditinggal. Sasuke butuh membasuh wajahnya karena jujur saja ia mengantuk karena semalaman kurang tidur. Ia sibuk menyalin catatan milik Sakura sebagai pedomannya belajar. Gadis itu mencatat materi dengan rapih dan enak untuk dibaca meski di atas kertas buku murahan yang mudah sobek jika tidak hati-hati menggunakannya.

Ketika Sasuke kembali dengan roman yang lebih segar, ia melihat dari jauh seseorang tengah mencoba mendekati Sakura dengan petasan kecil yang ditaruh di bawah kursi Sakura. Orang itu menyalakan korek, bersiap membakar tawa renyah Sakura yang masih asyik dengan novelnya.

Pluk!

Batu kecil yang Sasuke pungut dengan cepat itu kini terjatuh di bahu si orang jahil yang berniat mencelakakan Sakuranya. Orang itu melihat ke arah batu berasal dan menemukan Sasuke berdiri tegak mengepalkan tangan di samping badan. Mata obsidian yang terbiasa datar itu kini menatap tajam, dadanya naik turun menahan emosi dengan picingan mata amat berbahaya.

Orang yang dipelototi itu terkesiap, ia jatuh terduduk sehabis berjongkok saking kagetnya melihat tatapan pangeran es sekolah tersebut. Sasuke mungkin terkenal dingin, tapi baru hari ini ia menunjukkan tatapan mematikan sarat akan ancaman di depan beberapa murid yang tak sengaja melihat apa yang terjadi. Orang yang berniat jahil tadi pun pergi, meninggalkan koreknya di atas lantai.

Mata Sasuke tak lepas, membututi orang tersebut hingga hilang dalam pandangan. Ia pun menghela napas mengusap wajahnya yang kini kembali datar sambil menghampiri Sakura. Tak lupa ia pungut korek api yang terjatuh tadi.

Sakura mengerutkan alisnya, mencium sesuatu yang tak asing namun tak ia sukai tersebut. Ia melirik, dan matanya melotot mendapati sebatang rokok terselip di bibir sang Uchiha. "Sasuke-kun!" rokok tersebut diambil, dan dibuang begitu saja meski batangnya masih nyaris utuh karena baru saja disulut.

"Bilangnya mau ke toilet, ternyata beli korek!" Sakura menutup buku novelnya dan sibuk meraba-raba tubuh kekasihnya tersebut. "Mana sini, mau aku sita! Biar lama-lama aku jadi pedagang korek sekalian!"

Sakura marah-marah. Kira-kira sudah sepuluh korek yang ia simpan selama seminggu. Bayangkan! Sasuke tidak pernah mengamuk jika Sakura membuang rokoknya atau menyita koreknya—remaja itu hanya diam tenang dan tahu-tahu sudah punya korek lagi beberapa menit kemudian setelah pamit pergi ke toilet pada Sakura.

"Aku nemu, kok. Sumpah." Sasuke membela dirinya dari tatapan cemberut Sakura yang sudah berhasil menyita korek hasil temuannya.

"Bohong!" Sakura menggertakan giginya kesal. Sasuke-kun-nya yang sudah tumbuh besar lebih menyebalkan. Ia melempar korek tersebut ke tong sampah terdekat. "Sasuke-kun itu sudah pucat. Jadi jangan yang aneh-aneh!"

Sasuke diam saja, ia menyandarkan kepalanya yang sedikit penat ke atas meja kantin. Sudah seminggu ia tidak mendapat asupan darah—jadi janganlah heran jika ia memucat. Ia butuh cairan merah tersebut karena tubuhnya mulai terasa kembali sakit semua, seakan organ-organ dalam tubuhnya menghisap kekuatannya untuk terus dapat hidup.

"Masih muda, merokoknya sudah banyak. Mau jadi apa? Mau rusak paru-parunya?" Sakura masih seperti dulu, marah-marah apa bila ada yang tak beres yang dilakukan oleh Sasuke. Pria itu tersenyum pasrah saja. Ia merokok untuk mengurangi stresnya, bukan untuk menjadi berandalan.

Gurunya saja hampir ditonjoknya ketika mengambil sebatang rokok yang terselip di bibirnya dulu saat di Amerika, tapi Sasuke tak berbuat apa-apa ketika Sakura melakukannya dengan cara yang lebih menyebalkan—diiringi omelan-omelan yang seharusnya tak perlu didengar dulu karena Sasuke tengah pusing.

Ah, Sasuke tidak terlalu memikirkan suara berisik Sakura yang ceramah untuk kesekian kalinya dalam seminggu ini. Yang penting ia merasa nyaman di dekat gadis berambut merah muda itu.

"Ugh! Bikin sebal saja, sih! Aku ini lagi 'dapet'! Bawaannya juga jadi mau marah-marah!"

Sasuke mengangkat kepalanya. Pantas, pantas saja ia menyium aroma yang menarik inderanya untuk dekat-dekat dengan Sakura sejak tadi pagi ia jemput. "Sejak kapan?"

"Ya sejak SMP-lah!" Sakura menyahutnya dengan wajah bersungut dicampur merah malu. "Pertanyaan Sasuke-kun nyebelin, ih."

"Maksudku, kapan 'dapet' laginya itu?" Tanya Sasuke lagi secara gamblang dengan wajah datar dihiasi kerutan alis tipis.

"Semalam… mm, sudah jangan mengalihkan pembicaraan! Aku tidak suka, ya, Sasuke-kun merokok. Meski sekolah ini tidak berani menghukum anak-anak orang kaya, aku tetap menjadi orang yang akan memerangimu!"

Srak. Sasuke berdiri membuat kursinya bergeser ke belakang karena terdorong tubuhnya, matanya sayu seperti lelah. Ia meninggalkan Sakura begitu saja. Sampai mungkin gadis itu selesai menstruasi, pikirnya.

Sakura terbungkam di tempat. Ia berhenti marah-marah dan menatap punggung Sasuke yang pergi begitu saja. Hatinya mencelos. Terlalu cerewet dan menyebalkannyakah dirinya?

BRAK!

Dan suara gaduh tercipta saat Sasuke menggebrak meja dekat pintu kantin. Semua mata tertuju padanya yang berdiri di sana. "Gadis itu," jarinya menuding, membuat semua orang yang ada di kantin melihat ke arah Sakura yang ditunjuknya, "Kalau ada yang menyakitinya, atau berani menganggunya. Akan kuhabisi berkali lipat lebih parah."

Keheningan pun masih berlanjut sampai Sasuke pergi menghilang dan berniat menjaga jarak dari gadisnya untuk sesaat. Oh sial, ini tak pernah ia perhitungkan selama di Amerika. Ia tak ingat kalau Sakura adalah seorang gadis yang bisa mengalami siklus menstruasi, di mana ada masanya darah itu mengalir keluar dari tubuh Sakura—yang sudah pasti membuat Sasuke harus 'mengenyangkan' diri dulu, sebelum berdekatan dengan gadisnya lagi.

Jadi kemanakah ia akan berburu malam ini? Entahlah. Mencari pasokan darah tidak semudah mencari rokok di toko-toko kelontongan.

.:spadeking|ch4:.

To be continue…

(3,553 wordsfor this chapter)

Kuromi aka Nohara Rin's note : Ah maaf ya, Sasuke jadi OOC gila di sini. Parah, parah, parah… tapi sudah terlanjur seperti itu #menangispilu yap, sudah lama ditelantarkan akhirnya Kuromi sempat juga mengupdate chapter genap ini. Maaf sekali kalau tulisanku mengecewakan, habis sudah jarang nulis—sesuatu yang nggak diasah itu menumpul juga ya lama2? Huhu. Maaf ya Skai kalau lama :'(

Skai : Lama bingit! #bakar

XD haghags, habisnya sibuk kuliah nih. Jadi limited banget waktunya buat santai2. Sekarang kebetulan lagi libur semester.

oke, sekarang Skai balas review dulu:

Tsurugi De Lelouch: yes, ini sudah dilanjut^^ maaf ya updatenya hampir setahun, marahin aja Kuromi-nee *ditumbalin ke Sasuke*

shawol21bangs: silakan dan terimakasih ya^^

eL-yuMiichann: iya ini sudah update lagi juga anyway x) untuk masalah Saso dan Saku itu ya… ditunggu lagi saja ya, mungkin Skai jawab di chapter 5 hehe

sasusaku kira: ini udah update kilat lho :3 tapi pake jam di planet Pluto hehe maaf ya lama!

SaSakuToCherry: terimakasih^^ iya ini sudah lanjut

Koibito cherry: orang ketiga? What orang ketiga? (kuromi-nee: Skai, jangan alay!) hehe, tergantung, menyesuaikan kondisi fic ini, tapi kalo Skai secara pribadi lebih menitikberatkan ke masalah kutukan si Sasuke itu. Mungkin Kuromi-nee mau menambahkan orang ketiganya? Lol :p

Api Hitam AMATERASU: iya terimakasih ya untuk supportnya^^ sebenernya karena gak tahu mau nulis apa (karena kita gak ngebatasin fic ini harus gimana dan kayak apa) jadi kadang buntu untuk bikin idenya, lol. But this is what we call challenge, kan? maaf ya kalo jadinya harus update lama dan tidak bisa kilat, sekilat petir huhu..

AzuraCantlye : already^^ semoga menikmati!

angodess: iya iya, nanti kita muhrimin mereka berdua ya /BLETAK

Dixneuf J: untuk masalah Sasori mungkin bakal Skai ulas di chapter berikutnya, dan untuk update soon huhu maafkan kami yang hampir setahun menelantarkan fic tak berdosa ini *HWAT *bungkukin badan*

Brown Cinnamon: iya dong Sasuke harus romantis :p hehe maaf ya ini updatenya gak bisa kilat huhu… so sorry

Neerval-Li: iya that's not a big deal hehe, maafin kita juga ya yang updatenya telat. Well, yang dimaksud cucu itu jelas Sasuke dan Itachi. Untuk kapan Sakura tahu, there will be a time to reveal it *halah sok inggris. Intinya just wait, kita bakal ngebuka scene itu perlahan-lahan^^

aguma: already kakak^^

TFF UchiHaruno: iya terimakasih^^ ini juga udah diupdate ngomong-ngomong, maaf ya telat, cintaaa huhu

Uchiha No Selvie: sudah update^^ maaf ya tidak bisa update kilat sesuai permintaan, malah jatuhnya molor huhu

dee-chaan: so sweet, so asik *apa sih XD

iya baka-san: iya terimakasih, wah haruskah fic ini diganti judulnya? Soalnya saya mikir makin ke sini gak nyambung juga lol dan maaf ya untuk keterlambatannya, wish you could forgive us^^

Cutie Hanny-Chan: ini gak disc kok, santai saja, mungkin ya update lama seperti ini wkwk maaf ya… iya banyak yang belum terungkap, kalo terungkap semua alurnya harus maju mundur secara ekspress dong hehe, sabar ya, diungkap di chap chap selanjutnya kok^^

shintaiffah: iya terimakasih^^ ini sudah update kok! Maaf ya lama hehe

Lhylia Kiryu: terimakasih^^ iya ini sudah update hehe maaf ya telat

Elang23: today sudah update hehe. Maaf ya lama updatenya huhu sedih…

OK. Done!

So… review? XD