Chapter 4

Happy Reading ^^


"Aku permisi dulu." Semua yang ada di meja itu kompak menoleh saat Hoseok tiba-tiba berdiri, kemudian membungkuk meminta pamit.

"Hyung—"

"Nanti aku akan menghubungimu, Jim. Aku sedang terburu-buru." Hoseok sudah bersiap-siap ingin pergi.

"Dan, tuan-tuan. Tolong antar Jimin selamat sampai rumahnya." Ujar Hoseok menekankan pada kata selamat.

Yoongi berdecih meski ia tak memperlihatkannya secara langsung. Bernyali juga bocah ini, gumamnya. Sedangkan Jin tersenyum remeh sebelum mengangguk mengiyakan.

"Kau bisa mempercayakannya padaku. Aku yang bertanggung jawab menjamin keselamatannya."

Meski Yoongi sudah yakin sejak awal, tetapi ia membiarkan Seokjin berkata semaunya. Yoongi tahu, sahabat semasa kuliahnya ini memiliki ketertarikan terhadap Jimin. Bahkan Yoongi sendiri tidak menyangka, sejak kapan sahabatnya yang straight bisa belok seperti ini? Apa setelah kematian mendiang istrinya Seokjin jadi kacau orietansi seksualnya? Yoongi sendiri mah semua orang sudah tahu bahwa dia bi. Meski hingga detik inipun ia masih belum mengetahui siapa ibu biologis Jihoon.

Lagi pula Yoongi merasa aneh sendiri jika sekiranya ia membenci sahabatnya yang satu ini. Jadi lebih baik dia diam dan meperhatikan.

Hoseok pamit, berlari keluar dari restoran kecil itu, menyisakan tiga orang dewasa, dan dua anak-anak yang sibuk bermain.

Yoongipun juga tak banyak bersuara, ia sepertinya agak malas berbicara dengan Seokjin sementara waktu ini. Berbicara dengan Jimin? Oh, jangan bercanda. Dia masih canggung.

Bambam merangkak mendekati Jimin. Ia menggapai paha Jimin dan seolah-olah ingin berdiri tetapi dia belum bisa.

Jimin tergelak lalu menyambut bayinya. Ia menggendong Bambam, mengangkatnya sedikit ke udara lalu mencium perutnya.

"Ada apa, sayang?"

Dan ketika Bambam menguap lebar, Jimin sudah tahu jawabannya.

"Ah—Jin Hyung—"

"Iya, Chim..." Mengerti karena sepertinya Bambam mengantuk dan mulai bosan, Seokjinpun memanggil pelayan untuk membayar bill. "Ayo kita pulang."

Disisi lain, Yoongi masih anteng menyeruput minumannya.

Mengantarkan Jimin pulang heh?

Baiklah, mari kita antar Jimin pulang.

.

.

.

.

Dan benar. Yoongi secara sembunyi-sembunyi membuntuti mobil Seokjin yang berbelok memasuki sebuah kawasan rumah susun. Yoongi memperhatikan dari jauh, ia melihat Jimin keluar dari mobil Seokjin, Jimin terlihat mengambil tangan kecil Bambam untuk di –dadahkan- entah pada siapa, mungkin Jisoo? Pikir Yoongi.

Oke, Jimin sudah berjalan menaiki rumah susun itu, sedangkan mobil Seokjin sudah meninggalkan kawasan tanpa mengetahui mobil Yoongi terparkir tak jauh dari sana. Setelah Seokjin jauh Yoongi memajukan pelan mobilnya, mencari tempat yang dapat melihat deretan rumah susun itu secara jelas.

Dari dalam mobil Yoongi masih bisa melihat Jimin yang menaiki tangga dan berhenti di lorong lantai ke-tiga. Yoongi menghitung pintu dari kiri, dan tempat tinggal Jimin tepat di pintu ke-empat.

Kali ini Yoongi mengernyit saat ada seorang remaja berlari ke arah Jimin, kemudian remaja itu terlihat merajuk seraya menghentak-hentakkan kakinya. Ih Yoongi jijik melihatnya.

"Apa bocah itu tetangganya?"

Setelah Jimin masuk, Yoongi masih setia berada di mobil, entah siapa bocah itu Yoongi tidak mau mengambil pusing dulu, mungkin memperhatikan saja lebih baik saat ini.

.

.

Sekitar lima belas menit Yoongi masih nyaman menunggu. Ini adalah hal langka, mengingat menunggu adalah hal nomor satu dalam daftar yang dibenci Yoongi. Dia sendiri juga bingung, apa yang ia tunggu?

Jika sekiranya Yoongi hanya penasaran dimana Jimin tinggal kurasa pertanyaan itu sudah terjawab. Namun entahlah, jalan pikir seorang Min Yoongi memang sulit ditebak.

.

Seseorang terlihat berjalan dan ia berhenti di depan pintu Jimin, "Kali ini siapa lagi?" gumam Yoongi seraya meremas kuat setir mobilnya. Padahal tadinya ia sudah berniat untuk pulang atau langsung ke kantornya, namun melihat ada pemuda lain yang mengunjungi rumah Jimin Yoongi membatalkan niatnya.

Hah, menyebalkan. Tetapi, dari wajahnya terlihat bahwa dia masih bocah, apa tetangganya yang lain? Ada apa dengan Jimin? Kenapa dia begitu anteng menerima tamu-tamu bocah seperti itu?

Bzzzt

Ponsel Yoongi yang sengaja diletakkan di dashboard mobilnya bergetar,

"Rumah?" Tanpa pikir panjang Yoongi menggeser ikon hijau lalu panggilan yang langsung di loudspekear itu diterima.

"Ya?"

"Tuan, ini saya." Dan Yoongi sudah tahu bahwa yang menelponnya adalah kepala pelayan di rumahnya.

"Ya, Bogum."

"Tuan, saya melihat sebuah undangan tertinggal di atas meja belajar tuan muda. Disana dikatakan bahwa ada pertemuan orang tua hari ini, jam 10." Begitu penjelasan Bogum.

"Ya sudah, kau datang saja, Bogum-ah, wakili aku." Balas Yoongi malas.

"Eee itu—tuan, dalam undangannya harus orang tua. Dan saya justru merasa kasihan melihat tuan muda yang seperti sengaja menyembunyikannya. Apakah anda—"

"Hah, kau benar-benar, Bogum-ah." Yoongi menghela nafas. Mendengar cerita itu saja Yoongi paham bahwa Jihoon memang sengaja menyembunyikan undangan itu lalu berangkat ke sekolah.

Entah kenapa hal itu langsung mengganggu Yoongi. Bukankah dari sana jelas terlihat bahwa dia memang orang tua yang buruk? Untuk berbicara terbuka saja Jihoon enggan dengannya. Yah, bukan salah Jihoon, karena memang dialah yang tidak mau membuka dirinya untuk putra tunggalnya itu. Kasihan anak itu.

"Aku akan mengabari nanti, masih ada satu jam lagi." Final Yoongi yang melirik jam di dashboard mobilnya yang mewah.

"Baiklah tuan."

Tuut

Panggilan itu diakhiri oleh Yoongi. Yoongi menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya.

Bbzzzztt

Lagi-lagi ponselnya bergetar. Yoongi membuka sebelah matanya lalu melirik nama si pemanggil.

Kali ini Kihyun.

"Yeoboseyo?"

"Kau dimana, sialan?"

"Dalam misi rahasia." Oh, misi rahasia? Jadi, pekerjaan menguntit –yang tanpa disadari Yoongi— adalah sebuah misi rahasia? Benarkah?

"Misi rahasia kepalamu! Kau lupa kita akan rapat lima belas menit lagi 'hah?"

Yoongi langsung memukul jidatnya, "Sialan, aku lupa."

"Dasar tua bangka! Kalau begitu, Cepatlah,"

"Oh, sepertinya tidak bisa, Kihyun-ah, batalkan saja, aku banyak urusan."

"Sialan kau Min—"

Tuuut

Sial. Panggilan itu langsung diputus tanpa membiarkan si lawan bicara selesai.

Yoongi tidak mau lagi mendengar omelan rekan kerjanya yang kelewat cerewet satu itu.

Sekarang Yoongi dilema. Yoongi tidak memikirkan pekerjaannya yang menunggu. Yang ada di benaknya saat ini adalah, Jihoon sedang di sekolah, dia hanya diam dan murung sambil melihat semua teman-temannya didampingi orang tuanya di pertemuan itu. Oh, membayangkan itu lebih menyesakkan bagi Yoongi. Yoongi ingin menangis saja karena tidak tega membayangkannya.

Yoongi lalu melirik lagi ke arah tempat tinggal Jimin.

Pemuda yang masuk tadi itu sudah keluar.

Tanpa pikir panjang, Yoongi keluar dari mobilnya lalu berlari ke sana.

.

"Hoi, kau siapanya Jimin?" Yoongi yang masih tersengal-sengal setelah berlari menaiki tangga mencegat Taehyung yang hendak turun dari tangga.

Taehyung mengerutkan alisnya, dia juga menoleh ke belakang siapa tahu orang aneh ini salah orang.

Tetapi orang ini menyebut nama Jimin, berarti...

"Aku? calon suaminya." Jawabnya enteng, tanpa berpikir.

"Apa?" Yoongi mengernyit melihat wajah polos pemuda itu setelah menjawab pertanyaannya. Dari wajahnya saja jelas terlihat bahwa bocah itu sepantaran Jimin, atau satu tahun lebih tua dari Jimin. Tapi dia pede sekali mengatakan bahwa dia calon suami Jimin. Ugh, tidak meyakinkan. Bahkan wajah polos pemuda itu cenderung idiot menurut pandangan Yoongi.

"Ah, sudahlah." Yoongi mendorong tubuh Taehyung agar menjauh dari jalan dan pemuda itu hampir tersungkur dengan tidak elit. Buang-buang waktu saja berdebat dengan bocah ini.

Taehyung berdecak sebelum akhirnya dia lebih memilih untuk menagih uang sewa pada penghuni di rumah susun milik keluarganya ini.

.

Yoongi mengumpulkan nafasnya. Setelah sedikit tenang ia mengetuk pintu rumah Jimin.

Took

Took

Yoongi berdebar setelah ia berhasil mengetuk pintu rumah Jimin. Lima detik menunggu saja jantung Yoongi serasa ingin pecah. Sebenarnya Yoongi tidak tahu apa maksud dia menghampiri rumah Jimin, terlebih dengan gilanya dia mengetuk.

Entahlah, instingnya yang menuntun. Bahkan apa yang akan dia katakan pada Jimin saja dia tidak tahu.

Bodoh! Yoongi bodoh! Sekarang ia merutuki niat yang tidak jelasnya ini.

Ceklek~

Dan pintu terbuka. Menampilkan Jimin dengan celemek ditubuhnya lalu raut wajah yang seperti kesal itu.

Tunggu dulu! Apakah pemuda di depannya ini benar-benar Jimin?

Kenapa dia terlihat berbeda?

Oh, Jimin menghapus riasannya! Tidak ada eyeliner tebal disekitaran mata sipit—panjang itu. Dan Yoongi tidak bisa berbohong bahwa ia kembali tersihir oleh pemuda yang bahkan belum satu hari dia temui itu.

Jimin berbeda. Dia bahkan jauh lebih manis dengan wajah polos tanpa make up aneh itu. Terlebih celemek itu yang membuat dia terkesan seperti ibu-ibu rumah tangga pada umumnya. Oh, Yoongi sudah menduganya, saat menggunakan eyeliner saja Yoongi bisa menebak wajah manis yang tertutup oleh riasan garang. Apalagi jika riasan itu dilepas. Benar, jauh lebih manis.

"Mi—min, Min Yoongi?" Jimin juga tak dapat menutupi rasa kagetnya. Dari mana Yoongi tahu rumahnya? Terlebih, ia benar-benar tidak menduga.

Yoongi tersadar dari lamunan sesaatnya."Halo, Park Jimin."

"A—ada apa kau kesini?"

Benar, apa yang Yoongi lakukan disini? Bahkan dia sendiri tidak tahu apa yang sudah dia lakukan hingga detik ini. Sampai Yoongi mengintip ke dalam rumah dan dia melihat pemuda pertama yang dia lihat memasuki rumah Jimin tadi sedang asik bermain dengan Bambam.

Yoongi marah tanpa alasan.

"Apa kau mau jadi ibunya Jihoon?"

Jimin mengerutkan dahinya.

Yoongi, apa yang kau katakan?!

"Apa maksudmu, Min Yoongi?" Yoongi tergagap. Benar, dia sendiri tidak tahu apa maksud ucapannya sendiri.

Yoongi seketika menunduk, "Yang aku pikirkan saat ini adalah Jihoon yang kesepian di sekolah dan dia tidak memiliki orang tua yang menghadiri pertemuan. Ah, apa yang aku lakukan? Aku orang tua yang buruk."

Jimin mengernyit makin tidak mengerti. Hingga secara perlahan Yoongi mundur dan kembali berlari menjauh. Iya, Yoongi benar-benar pergi, tanpa menoleh lagi. Dia merutuki kebodohannya sendiri.

Jimin tetap diam ditempat meski dia melihat Yoongi yang berbelok dan menghilang diujung lorong menuju tangga.

Meski tidak jelas dan tentu saja –aneh— Jimin mencerna kalimat Yoongi tadi,

Jihoon? Siapa Jihoon? Apakah dia—anaknya Yoongi?

Tidak tahu kenapa terbesit rasa kasihan di rusuk kiri Jimin.

Jimin bergidik sebelum akhirnya dia memilih untuk menutup pintu.

"Siapa, Hyung?" tanya Jungkook mendekat sambil menggendong Bambam.

"Tidak tahu, orang aneh." Balas Jimin.

Jimin tidak bohong bahwa orang itu orang aneh meski Jimin –sedikit— kenal dengan pria itu. Yah, hanya kenal begitu saja.

Jungkook bergumam 'ooh' sebelum ia kembali meletakkan bambam di karpet lalu mereka bermain balok-balok susun.

.

.

Saat malam tiba Jimin masih terngiang dengan kejadian tadi pagi. Kebetulan hari ini dia off sehingga dia benar-benar menikmati waktu luangnya. Namun entah kenapa wajah seorang pria yang tampak kacau membuat Jimin ikut-ikutan kacau.

Bahkan sejak awal Jimin acuh pada pria itu. Pria aneh yang curhat bahwa dia orang tua yang buruk. Namun ada sesuatu yang entah kenapa membuat Jimin memikirkan pria itu.

"Kira-kira, apa yang dilakukan oleh pria itu, ya?" Jimin bermonolog, sambil menidurkan Bambam yang menelungkup di dadanya. Dada Jimin adalah tempat terempuk, dan tempat yang bisa membuat Bambam kecil cepat tidur. Jimin menepuk-nepuk pantat Bambam. Tak butuh waktu lama bayi delapan bulan itu sudah tertidur pulas.

"Menjadi Ibu Jihoon? Hei, Bam.. memangnya kau mau memiliki kakak?" Jimin berucap melantur sambil menggoyangkan pantat Bambam. Tentu saja bambam tidak akan menjawabnya.

Tunggu.

Apa?

"dari mana pria itu tahu aku seorang ibu? Apa dia tahu kalau aku yang mengandung Bambam? Rasanya tidak mungkin. Yang tahu rahasia itu hanya beberapa orang. Ah sudahlah."

Tanpa mau mengambil pusing, Jimin memindahkan Bambam ke tempat tidurnya saat ia rasa sudah aman jika ingin memindahan bayi itu.

.

.

Yoongi mengintip dari celah pintu yang terbuka. Dari sana Yoongi bisa melihat Jihoon sudah tertidur.

Yoongi menghela nafasnya sebelum menutup pintu itu dan berpindah menuju ruang kerjanya.

"Tuan," seseorang mengintrupsi langkah Yoongi. Saat Yoongi menoleh, ada Bogum yang membungkuk hormat padanya.

"Terima kasih, Tuan. Anda sudah mau datang ke sekolah."

"Hmm." Yoongi bergumam, setelahnya dia benar-benar menuju ruang kerjanya. Ada proyek yang harus dia tangani, dan sialnya dia membatalkan pertemuan pentingnya dengan calon client tersebut. Sehingganya Yoongi harus bekerja ekstra mengganti waktu tertundanya tadi.

Iya, Yoongi harus giat dulu bekerja, semua demi Jihoon.

Bogum tersenyum penuh arti setelah Yoongi pergi. Meski Yoongi cukup keras kepala, dia paham betul jauh didalam sana Yoongi sangat lembut dan sangat sayang pada putra semata wayangnya.

Bagum teringat akan tadi pagi dimana Yoongi datang dua puluh menit telat dari waktu pertemuan orang tua.

Jihoon sangat sedih mengingat Ayahnya takkan pernah datang. Saat diam-diam Jihoon diolok-olok oleh temannya karena orang tuanya tidak datang, Yoongi menerobos pintu kelas dengan tampilan yang gagah.

Iya, sebelumnya Yoongi hanya mengenakan kaos biasa. Tetapi saat di sekolah tadi Yoongi benar-benar terlihat tampan oleh jas dan rambut klimisnya yang dibelah menyamping.

Semua orang berdecak kagum setelah kedatangan Yoongi. Terlebih saat Yoongi masuk ia berjalan menuju meja Jihoon, lalu menggendong dan memangku bocah delapan tahun itu. Beberapa orang tua memekik tertahan melihat ketampanan Yoongi, terlebih teman-teman Jihoon yang sempat mengoloknya langsung bungkam setelah Yoongi menatap tajam pada mereka.

Jangan kira Yoongi tidak tahu. Ia paham betul kejahilan bocah-bocah seumuran Jihoon pada umumnya itu. Sehingga ia harus melirik tajam anak-anak itu agar tidak berani mengganggu anaknya mulai detik ini, atau mereka akan menyesal.

Oh, Yoongi, anak-anak yang kau lirik itu masih kecil, sama seperti anakmu, tau!

Dan Jihoon tidak dapat menahan kebahagiannya karena untuk pertama kali, Yoongi, ayahnya, datang ke acara pertemuan orang tua di Sekolah.

Rasanya tidak seburuk itu, dan Yoongi sempat menyesal kenapa dia dulu begitu keras kepala menjauhi diri dari Jihoon. Jihoonpun tak henti-henti tersenyum setelah pulang sekolah. Dia sangat senang meski nyatanya dia masih cukup enggan berdekatan langsung dengan Ayahnya. Padahal Yoongi sudah menawarkan diri untuk menggendong Jihoon menuju mobil. Namun Jihoon menolak secara halus dan dia bilang dia malu jika dilihat oleh teman-temannya, dia sudah besar.

Iya, Bogum menjadi saksi dimana hubungan Bapak-Anak itu mulai membaik.

Dan semoga, Yoongi lebih mau membuka dirinya pada buah hatinya sendiri

.

TBC

Oke, update tercepat setelah enam bulan terlantar :v

Jika ada yang suka syukur, jika tidak ya tidak apa-apa.

Ceritanya membosankan gak? Jika iya beritahu aku ya biar chapter ini dianggap langsung End aja :v

Padahal aku sendiri mikir ini FF akan panjang dan konfliknya bakal... aku sendiri belum tahu konfliknya bakalan seperti apa haha

Yang jelas, aku ingin membuat Yoongi yang mendepak secara pelan-pelan musuhnya. #menyeringai ala Min Suga

Konflik Yoongi dan Jihoon pun aku rasa cukup segini aja ya mereka diam-diam meski bapak-anak hehe.

Oke, kasih aku review yang mampu membuatku mood lagi dong ^^

Siapa tau fast update lagi ye kan :v