School Life

Chapter 4 Zee Body Bone! Part 2 #?

Konbawa minna! Author Yui kembali ke fandom HM setelah menulis dua fanfic di fandom Vocaloid XD beberapa teman author sudah mulai membaca fic ini, dan banyak yang protes 'bagianku dikit! Yang piiiip banyak!' woii, saya juga dikit tau Dx #masa'

Dan, request dari temanku telah kupenuhi di chapter ini, soal dia pingin dia dimasukkin sama si ohokohok secara bersamaan dan dipasangin x3 cuma dikit sih #plakk

Oh, dan ini daftar karakternya XD

Micah: Fajar (sama-sama moe dan kawaii kalau menurutku XD)

Leonel: wah, saya lupa siapa~ XD #plakk

Colette: Biyuta

Chelsea: Mutahharahh

Karen: Alya

Rick: Hanif

Gaius: Aulia

Elli: lupa XD

Mana: lupa x3

Skye: Sovi

Mark: Gufron

Aria: lupa XDD

Aaron: lupa :3 #lupa terus

Raguna: Fikri

Claire: saya x3

Yosh! Here we go!

Disclaimer: Harvest Moon dan susu Zee bukan punyaku!

Normal POV

"Aah~ parah banget deh si Gaius! Ng? H-hei! Coba lihat itu!"seru Micah sambil menunjukkan sesuatu yang dengan sukses membuat semua murid kelas 6A berteriak histeris. Yang mereka lihat, simple. Manusia dan sebuah mobil dengan tulisan 'Zee'.

"KYAAAAAAA~ ADA BAGI-BAGI SUSU NIH~"semua murid kelas 6A teriak kecuali Gaius.

"EHHHH? MANA MANA?!"tiba-tiba Gaius keluar dari kelas.

"Itu tuh! Itu!"seru seoarang murid sambil sambil menunjuk mobil Zee.

"Waaaaa~aah~"Gaius mulai memandang mobil tersebut dengan terkagum-kagum.

"Kenapa di luar semua nih? Ketua kelas? Ada apa ini?"guru berponi seperti super man datang tiba-tiba.

"Ehh… tadi Gaius ngamuk Pak! Jadi kami mengungsi ke sini!"jelas Skye.

"NGAMUK?"guru berponi seperti superman itu memasang wajah kaget ala sinetron Indonesia.

Keadaan kelas itu sangat berantakan, meja bertebaran (?) dimana-mana. Jam yang emang sudah rusak ntuh kini telah hancur lebur menjadi butiran perak #lebay.

Sang guru menggeram kesal dan berteriak,

"GAAAAAAIUUUUUS!"

.

.

Hasil dari kemarahan guru tadi adalah: ulangan mendadak. Matematika pula.

Suara gesekan antara spidol-papan tulis dan pensil-kertas mulai terdengar. Bau susu pun mulai tercium juga.

"Uwoooo! RICK AJAK!"

Terdengar seruan anak yang sedang bermain. Tapi semua murid hanya diam mendengar seruan itu. Wlau tersebit pikiran 'Di kelas ini 'kan ada yang namanya Rick juga?'di kepala mereka.

"EHHH! TUNGGUUU!"

Siiiiiiing.

Dalam sekejap suasana hening kembali.

"Na na na~"

Tiba-tiba terdengar sebuah suara orang yang sedang menyanyi. Beberapa orang yang mendengarnya terpesona, terpana, mereka mencari sumber suara yang ternyata berasal dari seseorang bernama Raguna.

"Gun! Hebat sekali!"seru Chelsea yang duduk di depan orang yang duduk di sebelah Raguna, Leonel versi sebelas tahun.

"Kamu belajar seriosa dari mana, Gun?"tanya Colette dengan efek cling-cling di sekitarnya.

"DIAM!"

Sang guru berteriak dengan keras, membuat Chelsea dan Colette terdiam membeku.

"Hhh… baiklah, yang sudah silakan kumpul kertas ulangannya di depan dan istirahat."kata sang guru tenang.

SIIIIIIING.

Tak ada seorang pun yang beranjak dari bangkunya. Seperti biasanya.

Skip.

"Cil, saya satu Cil! Rasa coklat!"

"Acil! Saya Cil!"

"Mbak, mbak, saya beli dua ribu!"

"Mbak!"

"Cil!"

Perempuan rambut panjang yang mengenakan pakaian bertuliskan Zee itu terlihat kelawahan menangani permintaaan anak-anak yang selalu menyodorkan uang ke dirinya. Kalau begini juga pembaca tau 'kan ntuh orang lagi jualan?

Orang berpakaian Zee itu memang sedang berjualan susu yang langsung dibuat di sana karena diperintah oleh bosnya. Susu yang dijualnya sangat umai, apalagi terdapat beberapa buah es batu di dalamnya yang member sensasi dingin gimana gitu (?).

"Enak, ya!"seru Colette sambil tersenyum lebar.

"Col, biasanya 'kan kamu nggak suka, kenapa sekarang malah ngomong enak?"Tanya Chelsea dengan susu di tangannya. Yah, lima cewek disitu, Colette, Chelsea, Claire, Elli, dan Mana memang sedang memegang susu.

"Mana kutau? Aku 'kan ngikutin perintah Author doang."kata Colette santai. Chelsea, Elli, Claire dan Mana hanya bisa sweatdrop.

Zrak!

"Yes! Masuk!"seoarang murid laki-laki mengepalkan tangannya saat ia berhasil memasukkan bole ke ring basket ayng dibawa oleh mobil Zee.

"Mau coba lagi? Tapi kalau gagal kamu tak akan mendapatkan apa-apa."kata laki-laki remaja yang merupakan pegawai Zee.

"Ehh… coba lagi deh!"kata cowok itu sambil menangkap bola basket yang dilempar oleh salah satu penonton disitu.

"Eh, apaan tuh?"Tanya Claire sembari membuang tempat susunya sedangkan tangan kirinya menunjuk cowok tadi.

"Itu, katanya kalau bisa memasukkan bolanyabakal dikasih hadiah."jelas Mana.

"Tapi harus pakai kupon."kata Elli.

"Aah! Nggak masuk!"teriak cowok tadi tiba-tiba dengan frustasi smbil mengacak-acak rambutnya.

"Selanjutnya…"

Beberapa orang mulai melempar bola, kebanyakan nggak masuk, sampai saat…

"Hai, Chels!"

Seorang cowok berambut pirang yang kawaii, Mark, memasuki daerah basket dan melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah Chelsea yang hanya bisa memalingkan wajahnya yang memerah sementara teman-temannya menyorakinya.

Mark mulai memegang bola dengan mata tajam, kemudian melempar bola tersebut, dengan wajah berseri-seri Mark berkhayal bolanya bakal masuk ke ring. Bola yang sepertinya sudah capek masuk ke dalam ring tersebut mulai berusaha menghindar dari ring. Sang bola melihat kepala coklat yang terlihat empuk, sang bola pun memutuskan untuk mengubah arahnya ke kepala coklat itu.

Duak!

Bola mendarat di kepala coklat itu, bola tersenyum puas sedangkan manusia pemilik kepala coklat itu pun pingsan. Orang-orang mulai berkumpul di sekeliling di sekitar manusia pemilik kepala berambut coklat itu. Bola tampaknya kebingungan dan memilih kembali ke orang yang membawanya tadi.

'Anoo…' bola tersebut menyentuh-nyentuhkan tubuhnya dengan kaki orang yang membawanya tadi.

"Ah, bola-san,"orang tadi mengangkat bola itu dan memeluknya (?). Bola pun blushing, kemudian menutup matanya.

… sekian cerita dari sang bola, kita balik dengan cerita manusia.

Mark mulai panik, kemudian berteriak sambil berlari mondar-mandir dengan gajenya,"OH NOOO! Seseorang! Help meeee!"

Srat!

Tiab-tiba seorang cowok menyeruak ke kerumunan itu dan mengangkat cewek tadi ala bridal style. Para murid mulai berteriak histeris dengan lebaynya melihat adegan di depan mereka. Wow wow wow! Triple wow! Dan triple baka untuk dua teman author yang selalu mengatakan 'Jepang copo' atau 'orang Jepang gila' dan membuat author iseng mengancam mereka mereka dengan kata-kata 'Aku bakal minta bantuan Ai Enma!'samapai dibilangin syirik segala, padahal author sendiri tau Ai Enma nggak ada, tapi, ya, buat ngancem aja lah. 'Kan nggak apa-apa. Mungkin.

… kok saya merasa nyasar fandom ya? (Claire: iya! Jigoku Shoujo! Dasar BakAuthor!)

Uhm, oke, back to the story.

Pintu UKS dibanting oleh cowok yang diketahui bernama Aaron versi sebelas tahun.

"Ada apa, Aaron?"tanya seorang guru yang berada di UKS.

"Apa Ibu guru tidak bisa melihat ini?! Aria! Aria pingsan!"teriak Aaron tidak sopan sambil menunjuk Aria versi sebelas tahun yang ada di gendongannya.

"Hanya itu?"guru tersebut memandang Aaron yang menatapnya tajam ala Train Heartnet dari anime Black Cat. Ia merinding ketakutan dan berlari keluar dan author terdiam.

Author kembali bergerak.

Baiklah, kita ganti setting! Seru author sok.

Ganti.

Di luar terlihat pegawai Zee mengemas-ngemas barang-barang mereka dan segera kembali ke tempat mereka bekerja. Beberapa orang yang belum membeli susu Zee pun bersedih.

"Aaah~ sayang sekali, aku 'kan belum beli…"

Tanpa mereka sadari, dua manusia berjenis kelamin cewek-cowok bernama Karen dan Rick mengucapkan kata-kata yang sama bersamaan. Saat mereka berdua menyadarinya, mereka menatap satu sama lain kemudian blushing.

Ahh, masa muda… (pembaca: umurmu berapa sih Thor? =A=")

Dibalik nuansa cinta-cintaan tadi, seseorang pun tersenyum licik dan ngomong sendiri.

"Tunggu saja di pelajaran SBK nanti, anak 6A…"

Apakah yang akan terjadi selanjutnya? *gaya bicara MC*MC yang mana dulu*

Saksikan kelanjutan ceritanya di SL chapter empat yang entah bakal di update atau nggak!

To be Continued.