YunJae Fanfiction /Secret Wedding/Part four
Pairing : Yunho x Jaejoong
Rate : M
Genre : Romance, Yaoi, hurt, … (maybe masih ada yg laen)
Length : Four – …?
Author : Andrea
Jreng..jreng..jreng.. FF gaje dariku akhirnya selesai XDD setelah melewati pertapaan selama berbulan-bulan lamanya #plakk
Terima kasih masih mau menunggu Secret Wedding ^^ di sini apa yang 'mungkin' kalian tunggu2 akhirnya aku hadirkan, meski gak panjang dan gak bagus XDD.. so selamat menikmati(?)
"Untuk apa aku cemburu? Harus berapa kali aku mengatakannya Jung Yunho ssi! Aku lebih suka terjun bebas dari gedung bertingkat..dan sekarang kau bilang aku cemburu? Yang benar saja.. apa aku sudah gila?"
"Kau sangat lucu, Kim Jaejoong.."
"Yah, berhenti bertingkah aneh.."
Yunho tidak jadi menyuapkan nasi goring ke mulutnya dan malah asyik dengan dunianya sendiri. Entah ada apa, pipi merona Jaejoong, mata besar yang bergerak-gerak lucu, serta raut wajahnya kalah kesal masih terngiang di ingatannya dan itu membuat ia terhibur. Yunho bahkan terlihat tidak menyukai sarapan yang telah dibuat ibunya, padahal sebelum-sebelumnya ia tidak pernah mengabaikan masakan ibunya itu. Ia hanya memainkan sendok dan garpu, menyentuhkan dua benda itu ke piring membuat dentingan yang lumayan kuat dan tak ayal membuat tiga orang yang duduk bersamanya itu langsung menghentikan proses sarapan mereka lalu melihat ke arahnya. Yah, Yunho yang tengah tersenyum tanpa sadar.
"Yunho ya… mengapa tidak dimakan?"
"Sampai kapan kau tersenyum seperti itu?"
"Oppa… Hal apa yang membuatmu sangat bahagia pagi ini?"
Berbagai pertanyaan yang terlontar secara berurutan tak membuat senyuman Yunho memudar, ia bahkan menundukan wajahnya dengan raut yang benar-benar seperti menahan malu dan itu membuat ibu dan adiknya cemas seketika.
"Eomma.. mengapa Yunho oppa senyum-senyum sendiri seperti orang gila?"
"Yunho ya.. kau tidak apa-apa kan?"
Puas tersenyum, Yunho segera mengangkat wajahnya. Ia berniat memulai sarapannya ketika mata kecilnya berpandangan dengan wajah-wajah yang tengah memandanginya dengan bingung. Yunho menaikan alisnya.
"Kenapa kalian memandangiku begitu? Eomma, appa, Jihye.. Apa ada yang salah denganku?"
Yunho semakin kebingungan sekaligus salah tingkah. Ada apa sebenarnya?
"Kau tersenyum dari tadi..kau tidak sadar?" Suara besar ayahnya terdengar.
"Eh? Ah, itu…"
"Yunho ya.. kau baik-baik saja kan?"kali ini suara datang dari ibunya.
"Tentu eomma.. tentu aku baik-baik saja.."
"Oppa.. kau tidak sedang jatuh cinta kan? Omo. Kau berselingkuh ya?" dan suara terakhir dari Jihye membuatnya tersentak.
"Eh? Mwo? Berselingkuh? Yah, Jihye ya, jangan asal menuduhku.." Yunho jadi gugup.
"Kalau bukan jatuh cinta lalu mengapa oppa tersenyum sendiri dari tadi. Apa oppa tahu bagaimana wajah oppa tadi? Aigoo benar-benar sedang jatuh cinta.. nah, kalau bukan selingkuh lalu apa namanya? Oppa sudah bertunangan, ingat itu.."
Perkataan panjang lebar Jihye yang diakhiri dengan nasehat singkatnya membuat Yunho terdiam tak bisa berbicara dan ia pun menjadi lebih gugup. Apa yang dikatakan Jihye benar mengenai ia sedang jatuh cinta? Oh Tuhan! Jangan biarkan itu terjadi padanya. Ia memang tersenyum karena mengingat wajah lucu Jaejoong, tapi itu bukan berarti bahwa ia jatuh cinta pada pria menyebalkan itu kan? Perlu digaris bawahi bahwa seorang Jung Yunho tidak mungkin dan tidak akan pernah jatuh cinta pada Kim Jaejoong! Tapi bagaimana bisa ia terus mengingat Jaejoong? Bahkan saat ini pun wajah pria itu masih terlintas di benaknya. Apa ia memang jatuh cinta? Tidak! Yunho menggelengkan kepalanya.
"Yunho! Berhenti betingkah aneh. Kalau yang dikatakan Jihye benar bahwa kau berselingkuh dan kalau Tiffani datang mengadu pada appa dan eomma, kau akan terima akibatnya, Jung Yunho.."
Mata kecil Yunho membesar karena mendegar nada mengancam dari ayahnya.
"Aigoo.. sudahlah.. Mengapa suasana sarapan kita berubah jadi seperti ini? sudah sudah.. Jung Yunho, habiskan makananmu. Yeoboya, bukannya kau ada rapat pagi ini? dan kau Jung Jihye ya jangan menuduh kakakmu, habiskan sarapanmu dan cepat berangkat ke kampus.."
"Ne, eomma…"
Bangun. Tidur. Bagun lagi, tidur lagi. Entah sudah berapa kali Jaejoong melakukan dua kegiatan itu sejak pagi tadi. Ia segera saja duduk begitu ekor matanya melirik ke jam kecil di atas nakas sebelah kanan, ia mengacak rambutnya, sudah pukul 6 sore rupanya. Seharian ini ia hanya di rumah sedangkan kemarin waktunya luangnya habis tersita karena mematuhi perintah ibunya, yaitu melihat kebun Stroberi mereka di Cheongju. Ahhh, benar-benar melelahkan mengingat kemarin betapa tenaganya terkuras habis karena membantu pekerja memetik stoberi di sana, tak heran jika semalam tidurnya nyenyak sekali sampai-sampai ia tak menyadari perbuatan 'keji' yang dilakukan oleh kakaknya pada wajah tampannya.
"Joongie….Joongie…."
Umur panjang. Perempuan berusia 35 tahun yang baru saja terlintas di otaknya terlihat mendorong pintu kamar kemudian seperti pencuri masuk mengendap ke dalam.
"Stop disitu.." ujar Jaejoong dengan memposisikan tangannya ke depan, menunjuk pada kakaknya itu.
"Turunkan tanganmu, kau sangat tidak sopan pada orang yang lebih tua.." Suyoung membesarkan matanya sebentar lalu tersenyum dengan tiba-tiba. Ia menghampiri Jaejoong yang masih saja duduk itu.
"Aku tidak mau kau dandani lagi… sudah cukup tadi pagi aku bangun dan hampir pingsan gara-gara ulah mu, noona.."
"Hahahahaha… bagaimana hasil karya ku heumm? mengagumkan kan?"
Suyoung masih terbahak-bahak mengingat bagaimana rupa adiknya itu setelah ia dandani secara diam-diam. Sejak kecil Suyoung memang memimpikan untuk menjadi seorang piñata rias wajah professional, karena itu ia sering mempraktekan keahliannya pada teman-teman sepermainannya dulu. Sewaktu ibunya mengandung, Suyoung sangat berharap bahwa adik bayi yang ada di perut ibunya berjenis kelamin yang sama dengannya, tapi takdir berkata lain, adiknya ternyata laki-laki tapi dengan wajah cantik khas perempuan dan Suyoung pun tak menamatkan mimpinya begitu saja, ia terus mengekspresikan bakatnya dengan menjadikan adik satu-satunya itu sebagai objek untuk menghasilkan mahakarya yang indah, seperti semalam.
"Mengagumkan apanya? Jelek begitu.."
Tawa Suyoung terhenti demi mendengar perkataan Jaejoong.
"Wajahmu saja yang jelek.."balasnya.
"Aishh, aku tidak mau bertengkar dengan mu, noona.. sebaiknya kau jelaskan ada urusan apa kau datang ke kamarku?" Jaejoong bertanya setelah bangkit dari tempat tidur, tak lupa ia menempatkan kedua tangganya di depan dada.
"Kau ketus sekali Jaejooongie… ada telpon dari Yoochun.."
"Yoochun? Mengapa dia tidak menghubungi ponsel ku saja?"
"Mana aku tahu..tanyakan saja langsung pada orangnya…."jawab Suyoung. Dia melihat Jaejoong dari ujung rambut sampai kepala. Sejenak terlintas di otaknya untuk mendandani Jaejoong layaknya seorang puteri yang akan menikah. Hahahaha.
"Noona… kau kenapa? Jangan bilang kau akan mendandaniku lagi.."
Suyoung menggelengkan kepalanya kemudian beranjak dari duduknya dan berdiri dekat Jaejoong. Tiba-tiba saja ingatannya memunculkan sesosok wajah tampan yang dilihatnya dua hari lalu ketika mengantar Jaejoong pulang ke rumah.
"Oh… omong-omong, siapa pria tampan yang mengantarmu kemarin…? Aku belum pernah melihat temanmu itu sebelumnya.."
Jaejoong menaikan alisnya, jadi bingung.
"Yang mana…?"
"Itu yang mengantarmu waktu mobil mu mogok.."
"Oh..dia? "
Suyoung mengangguk kemudian mengedipkan matanya menunggu Jaejoong melanjutkan ucapannya.. tapi yang dia tunggu tak kunjung datang juga.
"Apa?"
Suyoung jadi membuang nafas jengkel. Adiknya ini kadang kalah suka bersikap seperti Junsu yang lambat menangkap inti pembicaraan.
"Siapa dia? Nama nya, tinggal dimana, apa dia juga kuliah bersamamu di Paris, apa dia sudah menikah? bla bla bla bla…."
Mendengar pertanya bertubi-tubi dari kakanya membuat Jaejoong menyeringai.
"Noona ya.. Kau menyukainya?"
"Ania.. "
Jaejoong mendecak. Sekarang kakaknya pintar mengelak rupanya. Jaejoong bukan asal menebak saja mengenai Suyoun yang menyukai seseorang, ia tahu bagaimana gelagat kakaknya itu. Teringat beberapa tahun lalu ketika ia mengenalkan Suyoung pada Yoochun, waktu itu ia masih sekolah. Yoochun yang merupakan siswa pindahan dari Paris langsung menarik perhatian banyak gadis tak terkecuali dengan kakaknya, tapi naasnya perasaan cinta yang kakaknya rasakan itu tak pernah terbalaskan ketika suatu hari Yoochun datang bertamu ke rumah mereka dengan menggandeng tangan seorang pria yang diketahuinya adalah Shim Changmin adik bungsu sahabat karib Suyoung, dan saat itu iapun baru menyadari bahwa Yoochun adalah penyuka sesama jenis. Berhari-hari Suyoung tidak bersemangat, kakaknya itu bahkan tidak mau keluar dari kamarnya.
Akankah terulang lagi kisah patah hati Suyoung noona nya?
"Nama nya Jung Yunho. Aku tidak tahu dia tinggl dimana. Dia kuliah bersamaku di Paris.. Dan, noona ya..kalau kau menyukainya.. sebaiknya kau hapus saja perasaan mu itu, karena dia itu pria brengsek..lagipula dia sudah menikah.."
Selesai memperkenalkan Yunho dengan tidak langsung pada kakaknya, Jaejoong menatap dalam-dalam pada kakaknya menunggu raut patah hati dari depannya itu.
"Memangnya kenapa kalau dia sudah menikah? Aku hanya ingin mengenalnya.. "
"Benarkah kau hanya ingin mengenalnya? Tidak seperti waktu itu?"
"Kau pikir aku gadis remaja yang mudah jatuh cinta, eoh?" Jaejoong tersenyum menanggapi perkataan kakaknya. "Hmm.. Jaejoong ah, sebenarnya dia teman mu atau bukan si? Bagaimana mungkin kau tidak tahu dia tinggal dimana sementara kau tau dia sudah menikah.."
"Bagaimana aku tidak tahu dia sudah menikah kalau orang yang dinikahinya itu adalah..a…a..a.."
Jaejoong mendadak jadi gagap.
"a…? siapa?"
"Teman ku.." sahut Jaejoong cepat-cepat.
"Kau tampak aneh, Joongie ah.."
"Aneh bagaimana? Aku biasa saja.."
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku, humm? Junsu bilang kau juga bersikap aneh saat dia datang menjemputmu di Paris.."
"Aishh..kalian yang aneh.."
Lama terdiam, Jaejoong memilih berlalu ke kamar mandi. Ia perlu membersihkan tubuhnya dulu mengingat ia belum mandi sejak bagun pertama kali tadi pagi. Tak berapa lama Jaejoong sudah kembali dan terlihat sangat segar tapi betapa terkejutnya ia ketika mendapati kakaknya masih berada di dalam kamarnya dengan posisi yang sama seperti beberapa menit lalu.
Jaejoong pun memilih tak menghiraukannya, ia mengambil kaos dan celana kain dari lemari kemudian bermaksud masuk lagi ke kamar mandi, tapi langkahnya terhenti ketika kakaknya mulai bersuara.
"Joongie ah… meski beberapa tahun ini kita terpisah karena kau harus kuliah di Paris, tapi sudah sangat lama aku mengenalmu.. dari kau kecil aku sudah menjagamu, jadi kau tidak bisa menyimpan rahasia padaku.."
"Rahasia apa?"
"kau tahu? semakin kau mengelak semakin jelas kau menyimpan sesuatu.." Suyoung semakin mendekat ke tempat Jaejoong berdiri.
"Apa si?"
"Aku tidak akan membeberkannya pada eomma dan appa..bagaimana?"sambung Suyoung lagi, ia mengangguk sebagai bentuk keyakinan untuk Jaejoong agar mempercayainya.
Jaejoong tampak berpikir. Ia memang sudah berencana untuk menceritakan perihal pernikahannya di Paris, hanya saja ia belum memiliki keberanian. Kakaknya memang tidak akan marah, tapi akan pingsan karena terkejut dan yang paling parah, Suyoung noona akan meledeknya sepanjang sisa hidupnya. Ahhhh…
Selesai membuang nafasnya, Jaejoong langsung bergegas ke kamar mandi dan mengenakan pakaian yang sudah diambilnya tadi. Selama proses memakaiankan baju pada tubuhnya itu, Jaejoong terus menimang-nimang apakah dia akan membeberkan rahasi terbesarnya itu atau menutupinya sampai mati?
"Hmmm?" dan sebuah gumaman terdengar begitu ia keluar dari kamar mandi.
Pertahanan Jaejoong akhirnya luntur juga. Ia merasa sudah waktunya kakaknya tahu apa terjadi di Paris antara ia dan pria yang mereka bicarakan tadi.
"Noona ya… kau janji tidak akan mengatakannya pada eomma dan appa kan?"
Jaejoong memegang pundak Suyoung dan dibalas dengan anggukan kepala dari kakaknya itu.
"Sebenarnya.. Di Paris..aku..telah.."
"Telah?"
"Noona ya.. benarkan kau tidak akan.."
"Yak.. kau pikir aku Junsu si mulut ember? Tenang saja, aku janji.."
"Aku telah menikah.."
"Omo..omo.. kau bercanda ya?"
Suyoung tertawa lepas. Lelucon apa ini? pikirnya.
"Aishh…aku tidak mau menruskannya lagi.."
Perlahan-lahan tawa Suyoung terhenti. Ia memandangi wajah adiknya itu dengan tajam.
"Kau serius Jaejoongie?"
Jaejoong mengangguk lemah.
"…..jadi siapa gadis yang telah kau nikahi, eoh?"
Jaejoong menunduk malu..
"Kalau saja yang aku nikahi adalah seorang gadis, dia pasti sudah berada di rumah ini.."
"Apa maksudmu? Kalau bukan gadis..lalu kau menikah dengan siapa?"
"Laki-laki.."
"APA?"
Suyoung terkejut bukan main. Ya Tuhan! Jadi adik kecilnya ini telah menikah? Diam-diam? Tanpa sepengetahuan keluarga? Dengan laki-laki? SAESANGE! Kegilaan apa ini? Mengapa pria-pria di dekatnya (kecuali ayahnya) juga menyukai pria? Oh jangan bilang kalau nantinya dia akan dikejutkan dengan Junsu yang tiba-tiba datang dengan seorang pria sebagai kekasihnya.
"Siapa laki-laki itu, Joongie?"
Wajah Jaejoong semakin tertunduk, entah malu atau apa yang pasti ia tidak berani menatap wajah kakaknya.
"Jung Yunho.."
"Mwoya?! Omo.. jadi, Jung Yunho.. jadi, pria tampan itu…errr suamimu?"
Jaejoong sontak membelalakan mata besarnya serta mengangkat wajahnya. Suami? Apa kakaknya sudah gila?
"Suami apa? Aku ini laki-laki.."
"Ya, aku tahu itu Jaejoongie. Aku tahu kau laki-laki, tapi kalau bukan dia suamimu lalu kau suaminya? Yang benar saja..dari jauh saja aku bisa melihat dia itu sangat manly dan jelas saja dia yang lebih pantas jadi seorang suami.."
Jaejoong jadi mendengus kesal.
"Sebenarnya kau kakak ku atau kakak nya?"
Suyoung tertawa-tawa.
"Tentu aku kakak mu..aku hanya bicara sesuai kenyataan.. so.. kalian sudah.." Suyoung memberikan isyarat dengan menggerakan jari telujuk dan manis kedua tangannya ke atas-kebawa.."kau mengerti kan?"
Entah Jaejoong mengerti atau tidak dengan maksud kakaknya, ia menggelengkan kepalanya..
"Pantas saja kau tampak frustasi, Joongie.. aku turut prihatin. Kapak-kapan ajaklah dia kemari, Joongie. Dia juga perlu mengenal mertua dan kakak iparnya, kan?"
Jaejoong tersadar dari lamunannya dan ia baru menyadari kata 'frustasi' yang diucapakan kakaknya sebenarnya adalah bentuk ledekan.
"Frustasi apa maksudmu? Apa aku terlihat frustasi? Aku bahkan tidak tahu hal gila macam apa yang kau maksudkan, noona ya.."
"Aku mengerti Jaejoongie.. apa perlu aku mendandani mu se-menggoda mungkin untuk menarik perhatiannya?"
"Mwo? Yak.."
Suyoung kembali tertawa lebar.
"Kim Suyoung! Berhenti tertawa seperti itu. Apa tidak kau tahu kalau suaramu itu bahkan kedengaran sampai di seberang rumah..?" suara tak kalah keras dengan tawa Suyoung terdengar.
Wanita cantik yang melahirkan mereka berdua tampak menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol anak-anaknya itu.
"Joongie sangat lucu, eomma.." ucap Suyoung sambil menyeka airmata di sudut matanya karena kebanyakan tertawa.
Jaejoong mengedipkan matanya berkali-kali pada Suyoung, berharap kakaknya itu tidak sampai mengatakan rahasianya dan semoga saja ibunya tidak mendengar apa-apa.
"Kalian berdua semakin aneh saja.. Oh, Suyoung ah, bukannya tadi Yoochun menelepon? "
"Omo.. aku baru ingat.."
"Astaga.. Yoochun.."
Suyoung dan Jaejoong baru teringat dengan Yoochun. Apa dia masih menunggu disana? Ya ampun..
apartmen Yoochun..
Yoochun si pria cassanova itu memang sangat suka dengan pesta. Tak ada angin tak ada hujan, ia tiba-tiba saja mengadakan pesta di apartmennya dengan mengundang teman-temannya, termasuk pasangan menikah Kim Jaejoong dan Jung Yunho.
Bicara pesta pasti ada music ada alcohol. Apartmen Yoochun disulap bagai diskotik kecil dengan lampu temaram, botol-botol menghiasi meja serta orang-orang yang bertebaran di setiap sudut rumah, mungkin ada juga yang sudah bersantai di dalam kamar. Seoul sudah seperti Amerika bagi orang seperti Yoochun dan komplotannya.
"Yoochun ah.. mengapa kau mengundang Jung Yunho? Bukannya tadi kau bilang hanya teman-teman saja?"
Yoochun memandang kesal pada Jaejoong. Sahabatnya ini tak henti-hetinya menggerutu karena beberapa menit lalu sempat bertatapan dengan Yunho. Yoochun juga masih sebal karena hampir satu jam ia harus menahan keram pada tangan dan telinganya demi menunggu suara Jaejoong di ujung telepon. Menyebalkan!
"Lalu kau pikir Jung Yunho bukan temanku?" Yoochun menjawab dengan ketus.
"Maksud ku, dia kan bukan teman ku.."
"Sebenarnya ini pesta ku atau pesta mu?"
"Tentu saja milik mu…"
"Ckckkckckc… aku tidak mengerti mengapa kau dan Yunho bagai tikus dan kucing?"
"AKu kucing dia tikusnya… enak saja kau menyamaiku aku dengan tikus.."
"Sudahlah Jaejoong. Jangan membuat masalah kecil menjadi besar. Aku hanya memberikan sebuah perumpamaan bukan menyamakan mu dengan seekor kucing atau tikus… aku bertanya sekali lagi, mengapa kau begitu terganggu dengannya? Yunho juga sangat terganggu jika bertemu dengan mu.. "
"Apa yang dia katakan padamu? Apa dia menjelek-jelekanku?"
"Tidak ada. Memangnya ada hal menarik darimu yang pantas dibicarakan, hah?"
"Mwo?"
"Aku hanya bercanda, Jae.. Jangan ditanggapi serius.. okay? Emmm, lebih baik aku menyambut teman yang lain.. kau disini saja. Nikmatilah kebebasanmu sebelum kau menikah, arrachi?"
Tanpa menunggu Jaejoong berkomentar, Yoochun langsung berlari mengobrol dengan teman-teman.
"Hah, dia berkata begitu seperti aku akan menikah besok.." Jaejoong menenggak tequilanya sampai habis. Merasa kesepian seorang diri walaupun ada puluhan orang di sekitarnya, ia pun akhirnya memilih melangkah ke teras belakang. Apartmen Yoochun berada di lantai paling atas sehingga ia memiliki lahan yang lebih luas. Maklum saja gedung puluhan tingkat ini adalah milik keluarga Park jadi apapun bisa ia buat disini. Yoochun menyulap teras belakangnya dengan sangat indah dipenuhi dengan pohon-pohon kecil dan bunga-bunga yang indah. Kadang Jaejoong berpikir bagaimana bisa Yoochun yang terkenal cuek bisa menata tempat tinggalnya sebagus ini? selain taman kecil itu, sebuah kolam dengan ukuran sedang juga menambah keindahan teras itu. Jaejoong berjalan mendekat ke kolam dengan segelas tequila di tangannya.
"Kau harus mengenalkan calon istrimu itu pada kami sebelum kalian menikah... Ku dengar dia teman adikmu? Rupanya kau penyuka anak kecil… "
"Bisa dikatakan begitu.. lain kali aku akan mengajaknya bertemu dengan kalian.."
Tawa kecil ramai terdengar di telinga Jaejoong. Di sudut sana berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri, beberapa orang pria sedang berbincang-bincang, salah satunya adalah Jung Yunho.
"Oh.. Jaejoong ah.. kau kah itu?" merasa namanya disebut-sebut, Jaejoong melangkah mendekati kelompok kecil itu – ikut bergabung meski matanya hampir buta karena tak sengaja bertemu pandang dengan Yunho.
"Lama tidak bertemu dengan mu.. kau semakin cantik saja, benar kan?" ujar salah satunya yang bernama Jihoon sambil melirik Yunho dan Yihan menungggu persetujuan dari keduanya. "Kau benar.."
Tawa kecil yang ramai tadi kembali terdengar. Jaejoong bahkan tidak tahu mereka sedang memuji atau mengejeknya. Kali ini ia tidak peduli dan tak mau peduli.
Yunho yang mendegar dua temannya itu tertawa dengan wajah yang seolah sangat memuji Kim Jaejoong merasa agak terganggu.
"Ku pikir kalian mulai mabuk.. dia yang jelas-jelas seorang pria kalian anggap cantik? Sudah berapa banyak yang kalian minum, eoh?"
Yunho tertawa sendiri setelah menyelesaikan kalimat pedasnya membuat Jaejoong mendelik tajam ke arahnya.
"Ah, Yunho. Kau tidak berubah rupanya…." Jihoon yang berdiri paling dekat dengan Jaejoong berkomentar.
"Apa jangan-jangan kau menyukai Jaejoong? Aku hanya mendengar bahwa benci bisa berubah jadi cinta.."
"APA?" seruan yang nyaris bersamaan keluar dari mulut yang namanya disebut tadi dan disambut dengan gelak tawa dari dua orang lainnya.
"Tenang.. aku hanya bercanda. Kalian jangan menganggapinya seserius itu.. oh, apa kalian masih mau disini? Aku dan Jihoon akan ke dalam.."
"Aku masih ingin menghirup udara segara disini. Di dalam terlalu ramai.."
"Aku juga.."
Yunho melihat Jaejoong, dalam hatinya mengeram kesal karena pasti ketenangannya akan terganggu karena berdua dengan pria itu.
"Baiklah, kami pergi.."
Yunho dan Jaejoong tak menyahut. Mereka bahkan tak saling memandang setelah ditingalkan berduaan di teras itu. Suasana di sana jadi agak sepi hanya samar-samar suara music dari dalam yang terdengar. Yunho berjalan agak kedepan dan duduk di sebuah bangku yang terdapat di sana. Mungkin karena lelah berdiri, Jaejoong juga ikut duduk di sebelah Yunho. Pria tampan tapi manis itu meneguk sedikit-sedikit tequilanya.
"Okay.. aku harap kau tidak menanggapi perkataan konyol Yihan tadi.."
"Untuk apa aku menanggapinya?"
"Baguslah.."
Mereka akhirnya sepakat untuk akur dalam arti tidak mau membuat keributan ditempat Yoochun. Keduanya minum bersama hingga mabuk…
Yunho menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku. Ia membuang nafas yang bagi Jaejoong terdengar begitu berat sehingga membuat pria itu memandanginya.
"Sepertinya kau ada masalah..?"
Yunho melihat Jaejoong kemudian menganggukan kepalanya..
"Kau bisa bercerita padaku.."
Helaan nafas Yunho terdengar kembali.
"Tiffany.. sebenarnya aku tidak mencintainya. Aku mengenalnya dari adik ku Jihye.. Setiap hari dia datang kerumah ku, dia sangat akrab dengan ibu dan ayah ku.. hingga pada suatu hari, ibu ku mengatakan bahwa Tiffany adalah gadis yang cocok untuk menjadi pendampingku.. tanpa sepengetahuan ku, ayah dan ibu melakukan pertemuan dengan kedua orangtua Tiffany.. " Yunho terdiam sejenak sebelum kembali bersuara, "Singkatnya.. kami dijodohkan.."
Yunho meneguk lagi alkoholnya.
Jaejoong juga menghela nafasnya. Mengapa para orangtua selalu bertindak semau mereka?
"Nasibmu kurang lebih sama denganku, Yunho ya.."
"Hmm?"
"Gadis yang bernama Caroline itu..dia adalah puteri kerabat orangtuaku.."
"Kau juga dijodohkan dengannya?"
Jaejoong mengangguk lemah tanpa tenaga.
Mereka terdiam lagi. Kembali menghabiskan beberapa botol tequila.
"Jae… kau masih sadar kan?"
"Tentu..aku bahkan masih sanggup menghabiskan 4 botol lagi.."
"Jangan bercanda.."
"Kau tidak percaya? Tunggu disini ya.. "
Yunho mengangguk.
Apartmen Yoochun sudah sepi. Si pemilik entah dimana dan entah orang-orang tadi berada di mana? Jaejoong tidak tahu. Ia berjalan sempoyongan untuk mengambil alcohol di meja ruang tengah namun naas kakinya tersandung karena tidak menyadari ada beberapa anak tangga kecil di depannya. Tubuh Jaejoong limbung namun sebelum wajahnya menyentuh lantai keras dibawa sana, sepasangan tangan dengan sigap menahan tubuh Jaejoong.
"Yunho…"gumam Jaejoong sambil mengerjapkan mata besarnya berkali-kali.
Entah apa yang terjadi, sekarang dimatanya Yunho begitu tampan dan seksi. Dadanya berdebar tak karuan. Mata kecil Yunho memandangnya dengan sayu. Dan di mata Yunho, Jaejoong bak bidadari yang baru saja kehilangan sayapnya hingga tak bisa kembali ke kayangan.
"Jaejoongie.."dan suara lembut Yunho terdengar begitu manis di telingan Jaejoong.
"Jaejoongie pipi mu merah.. kau sangat cantik.."
Demi apa ribuan kupu-kupu hinggap di atas bunga (dada) Jaejoong mendengar pujian Yunho, seperti lantunan puisi indah dan lagu memabukan yang membuat Jaejoong terhayut tak berkedip.
Wajah Yunho bergerak, ke bawah, ke bawah lagi, makin ke bawah, sampai hidung mereka bertabrakan. Ada getaran aneh di dada keduanya. Bau alcohol yang menguar di setiap helaan nafas mereka membuat keduanya semakin terhanyut. Dalam sekejap saja bibir mereka sudah bersentuhan.
Manis. Lembut. Hangat. Bercampur jadi satu ketika bibir-bibir itu mulai bergerak, memaduh gerakan sensual nan menggairahkan. Yunho mendominasi ciuman itu, membuat Jaejoong harus mengeluh berkali-kali. Keduanya melangkah masih sambil membagi saliva hingga pada menit berikutnya Jaejoong merasakan tubuhnya terhempas ke sebuah tempat yang nyaman dengan tubuh Yunho berada di atasnya… pada sebuah ranjang.
In the morning…
zzzZZZZZ
"Yunho Jaejoong? IGE MWOYAAAAAAAA?!"
Jaejoong menggeliat tak nyaman suara berisik barusan benar-benar mengganggu tidurnya. Dia ingin menggerakan badannya tapi terasa sulit. Tubuhnya seperti dikekang oleh benda berat. Oh, ada apa ini? apa peredaran darahnya sedang tidak lancar? Jaejoong pun akhirnya bangun.. Oh, mengapa tubuhnya sakit semua? Terlebih pada bagian bawah.. apa yang terjadi?
"Yoochun? Mengapa kau ada di kamarku? Dan…" Jaejoong melihat dengan gerakan patah-patah ke samping, ke tempat seorang pria setengah telanjang dengan lengan yang berada di pinggannya tengah tertidur pulas. "Yun..ho?" Jaejoong memandang secara bergantian pada Yoochun dan Yunho yang mulai menggeliat. Ia kebingungan luar biasa dan akhirnya Jaejoong sadar bahwa ini bukan kamarnya melainkan kamar Yoochun. Jadi dia tidur di kamar Yoochun bersama Yunho? Oh jangan bilang kejadian di hotel terulang lagi..tapi, mereka hanya tidur bersama kan? tidak ada hal lain?
"JUNG YUNHO! KIM JAEJOONG! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI KAMARKU?! bisa kalian jelaskan padaku ada apa ini? MENGAPA KALIAN TIDAK PAKAI BAJU?!"
Sang pangeran tidur Jung Yunho akhirnya terjaga dengan mata terbelalak. "Apa katamu?" Yunho berseru dengan lantang dan ia langsung terduduk dengan wajah yang benar-benar kaget.
Okay… mari kita undur sampai saat keduanya terhempas ke ranjang.
Jaejoong merasakan tubuhnya terhempas ke tempat yang nyaman dengan tubuh Yunho berada di atasnya. Pipinya sudah sangat merah terlebih karena wajah Yunho yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Ia bahkan bisa melihat bagaimana kecilnya wajah itu, bagaimana sipitnya mata itu, dan bibir berbentuk hati itu tampak sangat seksi, membuat Jaejoong menggigit bibir bawahnya.
"Jae…" Suara Yunho bercampur desahan memenuhi indera pendengaran Jaejoong. Refleks ia memejamkan matanya. Kepalanya agak pusing, tapi ia masih dan sangat jelas bisa merasakan gairahnya seolah terbakar dengan suara itu.
Sentuhan di perutnya membuat Jaejoong terkikik sambil menahan geli.
"Jangan mengusap perutku…" Jaejoong berucap di sela-sela tawanya.
"Lalu..kau ingin aku mengusap bagian yang mana, hum?"
Oh demi apa Jaejoong merasa seperti mendengar bisikan penuh mantra dari seorang pangeran. Suhu tubuhnya semakin meningkat terlebih karena Yunho sedang mengulum telinganya.
"Ahhh.. hhmm, yun.. Ahhku…"
Jaejoong menggeliat tak karuan karena kepanasan terlebih karena kecupan-kecupan dan jilatan-jilatan yang bergerilya di sekujur tubuhnya. Dengan susah payah ia mengangkat kepalanya melihat apa yang akan dilakukan Yunho di bawah sana. Yunho tengah berusaha melepaskan celana jeans yang dikenakannya.
"Yunhhoo.. apa yang.. nghhh..ahhh"
Kepala Jaejoong jatuh menimpah bantal. Desahan keras dikeluarkannya begitu Yunho mengulum serta menjilat 'milik'nya. Rasa nyaman yang belum pernah ia rasakan seketika berhamburan. Ia menggerakan kepalanya kesana-kemari, mencengkram seprei demi melampiaskan kenikmatan itu, matanya terpejam kuat-kuat, mulut mungilnya terbuka sambil menyuarakan desahan yang berpadu dengan bunyi kecapan dari bawah sana.
Tidak perlu waktu lama untuk Jaejoong menyemburkan geloranya. Ia memekik lantang sembari menekan kepala Yunho lebih ke bawah. Nafasnya menderuh-deruh bagai ombak yang berkejaran di pantai.
"Yunh..hoo, jangan berhenti menyentuhku.. pleaseeee…ahkku..aku.."
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tubuh Yunho sudah kembali menindihnya. Jaejoong membuka matanya dan saling berpadangan dengan Yunho. Usapan-usapan halus mendarat di kepalanya dan sontak membuat matanya kembali terpejam. Jaejoong menikmati semua perlakuan halus itu dengan bahagia. Yah, ia merasa sangat bahagia di tengah tingkat kesadaran yang sedang dipertanyakan.
"Kau sangat cantik, Joongie.."
Mata Jaejoong kembali terbuka. Wajah mereka sangat dekat. Kali ini Jaejoong mengambil inisiatif dengan meraih tengkuk Yunho lalu mendaratkan ciuman liar di bibir berbentuk hati itu. Yunho hampir kewalahan menerima perlakukan Jaejoong, menuntut dan menuntut.
"Buka bajuku, Yunh… pakaian ini membuatku kepanasan.." Jaejoong kembali mendesah setelah mereka melepaskan ciuman tadi.
Okay. Jaejoong mengeluh kepanasan dan Yunho juga sudah panas bahkan sejak mereka memulai ciuman beberapa waktu lalu. Pria tampan itu mengangkat sedikit tubuhnya kemudian melepaskan kemeja nya setelah itu melepaskan satu-satunya yang melekat di tubuh Jaejoong. Pria di bawahnya sudah tak mengenakan apa-apa lagi membuat Yunho harus menelan ludahnya berkali-kali karena terhipnotis dengan kulih seputih susu itu dan nyaris membuat sesuatu di bawa sana berontak ingin dibebaskan secepat mungkin.
"Yunh.. jangan memandangiku seperti itu.."
"Lalu.. kau ingin apa?"
"Sentuh aku.. sentuh aku lebih dari yang kau lakukan tadi.." Jaejoong berucap sambil mendesah. Ia menjilat bibir bawahnya sengaja menggodai Yunho, tangannya juga perlahan bergerak menyentuh dada kecoklatan di depannya.
Okay! Cukup sudah. Yunho sudah hard, bahkan sangat. Ia segera beranjak dari tubuh Jaejoong untuk melepaskan celananya lalu kembali menindih Jaejoong. Ciuman yang lebih panas mengawali kegiatan memabukan mereka. Sekujur tubuh Jaejoong tak ada yang luput dari sentuhan bibir dan lidah Yunho. Pria tampan itu bahkan membuat tanda merah di leher, pundak dan dada Jaejoong membuat sang pemilik tubuh tak henti-hentinya mengerang.
"Lakukan sekarang…Yunhhoo.."
"Katakan…"
"Rasuki aku…nghhh"
Yunho memberikan kecupan singkat sebelum ia menyiapkan kaki Jaejoong melingkar di pinggangnya semntara tangannya menyentuh bahu Jaejoong. Yunho memegang 'milik'nya dan dengan sengaja menggesekan benda tak betulang itu ke lubang kecil Jaejoong.
"Ahhh…" Jaejoong meracau tapi tak ayal dia tertawa menahan geli. Pria manis itu menahan tangan Yunho, tatapannya meminta Yunho untuk segera menuntasakan nafsu membara yang semakin lama akan membakarnya. "Jangan hanya menggesekannya.. cepat masukan.."
Tak perlu waktu lama bagi Yunho untuk menuruti permintaan Jaejoong. Ia mengocok 'milik'nya sesaat sebelum dengan perlahan-lahan memasukannya ke dalam Jaejoong.
"Akkhhh…"
Jaejoong merintih pelan.. Yunho terus mendorong 'milik'nya hingga pada detik berikutnya erangan keluar dari bibirnya bersamaan dengan suara desahan Jaejoong.
Yunho berhenti sejenak kemudian memandangi Jaejoong. Ia melihat mata besar Jaejoong tengah terpejam membuatnya merendahkan wajah dan menciumi wajah Jaejoong mulai dari mata hingga dagunya dan berakhir dengan mengulum bibir mungil itu.
Yunho pun mulai menggerakan tubuhnya, maju mundur.
"Akhhh..haahh…"
"Jae… ngghhh.."
"ohh..yunnhniee.."
Hening..
"Jadi sekarang kalian sudah sadar?"
Yoochun berkacak pinggang di depan Yunho dan Jaejoong yang mengangguk lemas.
"Hmmm.. JADI BISAKAH KALIAN JELASKAN APA YANG TERJADI? " Yoochun berteriak dengan wajah yang didekatkan pada keduanya, membuat Jaejoong menutup telinga dengan kedua tangannya. Sejak kapan Yoochun punya suara cempreng seperti Junsu?
"Jadi kalian tidur bersama, hah? "
Jaejoong menundukan kepalanya. Ah… benar-benar memalukan. Mengapa dia minum terlalu banyak? Kali ini lebih konyol dari pernikahan konyol mereka.
"Yunho, Jaejoong bisakah kalian tidak membisu?"
Kesabaran Yoochun hampir habis. Ia menggebrak meja di depan kedua sahabatnya itu dan kali ini membuat Yunho tersentak.
"Kau membuatku hampir pingsan, Yoochun ah.. Bagaimana kalau aku punya penyakit jantung, eoh?" Yunho mengusap-usap dadanya yang terasa agak perih karena kaget.
"Seharusnya aku yang hampir pingsan karena ulah kalian berdua.." balas Yoochun.. "Jadi bisakah kalian menjawabku?"
"Aku mau pulang.."
Jaejoong berucap sambil berdiri dari duduknya, tanpa menunggu lama ia langsung melesat keluar meninggalkan Yunho yang dipenuhi kebingungan harus menjelaskan apa dan bagaimana pada Yoochun.
"Yak.. Kim Jaejoong jangan lari kau.. kembali..kembali kataku.. Kim Jaejoong…!"
Yoochun berteriak hampir kehabisan nafas namun tak didengar Jaejoong. Pria dengan suara seksi itu membalikan tubuhnya sambil menormalkan nafasnya ia menyeringai pada Yunho..
"Jangan harap kau bisa ikut melarikan diri, Jung Yunho.."
Berhari-hari Jaejoong tidak bertemu Yoochun dan selama itupulah dia tidak pernah bertemu dengan Yunho. Ia tidak pernah keluar dan hanya berdiam diri dirumahnya atau lebih tepatnya mengurung diri dalam kamar, bahkan ia tidak mau bicara saat orangtuanya bertanya mengenai keadaannya. Jaejoong sangat frustasi dan terlihat seperti seorang anak gadis yang dirampas kesuciannya secara tidak sadar..
…
"Joongie ah.. Apa kau sakit? Wajahmu benar-benar pucat.. Ceritakan padaku kalau kau ada masalah, mungkin aku bisa membantumu. Kau diam begini malah membuatku, eomma dan appa bingung.."
Jaejoong baru saja membuka pintu kamarnya karena kelaparan langsung disuguhi wajah cemas Suyoung dan berbagai pertanyaannya. Ia pun mengurungkan diri untuk ke dapur dan berbalik ke tempat tidurnya.
"Joongie ah, jangan buat kami cemas…"
"Kau tidak mungkin bisa membantuku. Tidak ada yang bisa membantuku.." sahut Jaejoong. Ia menarik selimut hingga dadanya kemudian bersiap memejamkan matanya tapi terhenti begitu Suyoung menarik tangannya membuat ia terduduk dengan paksa di atas kasur.
"Apa yang terjadi, eoh?"
Jaejoong menatap Suyoung dengan malas. "Masalahku sangat besar, noona ya.."
"Lebih besar dari rahasia tempo hari?"
"Tentu.."
Suyoung mengusap punggung Jaejoong kemudian duduk di sebelah adiknya itu.
"Tidak ada masalah besar jika kau membaginya dengan orang lain, dengan keluargamu, denganku.."
"Ini benar-benar memalukan, sebaiknya tidak perlu diceritakan pada orang lain"
"Aku bukan orang lain, Joongie. Aku Kim Suyoung kakakmu.."
Jaejoong mengangkat wajahnya untuk memandangi Suyoung. Baru kali ini Jaejoong melihat keseriusan dalam tatapan Suyoung, tidak seperti yang lalu-lalu penuh candaan. Apakah ia harus menceritakannya pada Suyoung noona? Jaejoong kemudian menggelengkan kepalanya.
"Mungkin tidak perlu.."
"Joongie, aku benar-benar akan marah padamu jika kau masih menganggapku orang lain.."
Jaejoong kembali memandangi Suyoung, ia menghela nafas sambil meremas rambutnya.
"Aku diperkosa.."ujarnya dengan sekali tarikan nafas.
Hana, dul, set.. Otak Suyoung sedang berkelana untk mencerna apa yang dikatakan Jaejoong beberapa detik lalu itu. DI P-E-R-K-O-S-A? Kegilaan apa ini?
Suyoung menggelengkan kepalanya. Terang saja ia hanya menganggap Jaejoong bergurau. Mana mungkin seorang laki-laki diperkosa? Apa yang salah pada hidup ini?
"Kau diperkosa? Jangan bercanda Jaejoong! Mana mungkin kau diperkosa, kau itu laki-laki!.. Aku memintamu berkata jujur agar aku bisa membantumu, tapi nyatanya kau malah membuat lelucon.. "
Perkataan Suyoung membuat Jaejoong agak terganggu. Ia mendelik ke arah kakaknya itu. Perlahan tetesan air mulai keluar dari matanya.
"Aku sudah bilang, tidak ada yang bisa membantuku.."
Suyoung terdiam karena melihat airmata yang menetes dari mata Jaejoong. Ya Tuhan! Jadi Jaejoong tidak sedang berbohong? Rupanya dunia sudah terbalik sekarang, bukan lagi wanita yang dianiaya tapi pria juga..?
"Siapa yang telah memperkosamu? Katakan padaku Joongie! Perempuan kuat seperti apa yang telah memperkosanmu, Joongie?"
Jaejoong memejamkan matanya. "Jung Yunho.."sahutnya, agak parau.
"Jung.. Eh?" Suyoung menaikan alisnya. Jung Yunho? "Jadi kau diperkosa oleh suamimu?" kemarahan Suyoung berangsur hilang dan ia menghela nafas legah. Ia sempat berkipir bahwa Jaejoong benar-benar mengalami pelecehan seksual dari orang tak dikenal. Ternyata Jung Yunho.. " kalian sudah menikah mana ada yang namanya pemerkosaan.."
"Tentu saja ada.. aku mengalaminya.."
"Memangnya dia memaksamu?"
Jaejoong menggelengkan kepalanya.
"Lalu mengapa kau bilang diperkosa?"
"Aku tidak tahu..waktu itu, waktu itu, kami mabuk, dan..kami tidur…dan kami.."
"Kami… ? kami itu berarti kalian, kau dan dia sama-sama melakukannya.. Bukankah kau bilang kalian sudah menikah? Lalu apa salahnya melakukan itu?"
"Tentu bukan masalah bagimu, tapi bagiku itu masalah besar.. terlebih waktu itu aku tidak sadar…"
"hmmm… jadi, kau ingin melakukannya kembali dalam keadaan sadar?"
Jaejoong menghapus airmatanya. Tanpa sadar otaknya yang belum sepenuhnya berkoneksi dengan perkataan Suyoung mengajak kepalanya untuk berayun-ayun ke atas dan ke bawah.
"Aigoo… kalau begitu kau katakan saja padanya untuk mengulanginya dalam keadaan sadar.. tak perlu dengan menangis seperti ini kan?"
WHAT?
"Eh? Ania..ania.. jangan berprasangka buruk terhadapku.. bukan itu maksudku.."
"Joongie ah tidak perlu malu padaku.. hmm, bagaimana rasanya, eoh? Apa seperti seks antara pria dan wanita? Apa kau tidak merasa kesakitan? Eumm, maksudku.. sesuai yang aku baca, pria dan pria melakukan seks itu sangat menyakitkan. Apa kalian menggunakan lube? Oh, apa dia menggunakan condom? Joongie, ceritakan padaku.."
Jaejoong melongoh seperti orang bodoh mendengar berbagai pertanyaan dari kakaknya. Bagaimana rasanya? Lube? Condom? Ahhhh..
"Joongie.. ceritakan padaku.."
"Bagaimana aku tahu rasanya, pakai lube pakai condom atau tidak jika saat itu aku sedang mabuk.. Pertanyaanmu membuatku bingung, noona.."
"Kalau begitu kalian harus melakukannya lagi dalam keadaan 100% sadar, agar kau ingat bagaiamana rasanya, bagaimana sakitnya.." Suyoung tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Jaejoong.
"Yak! Hentikan!"
Jaejoong segera berlari mengunci diri di dalam kamar mandi. Nafasnya memburu dan pipinya menghangat. Entah ini yang keberapa kalinya ia terbuai dengan wajah serius kakaknya hingga ia harus berbicara jujur mengenai masalahnya. Apa-apan dengan Suyoung. Bisa-bisanya kakaknya itu berbicara tentang seks dengannya.. Oh My God! Apa-apaan juga dengan dirinya? Mengapa ia mendadak jadi gugup begini, ha?
"Joongie.. apa yang kau lakukan di dalam.."
Jaejoong mengacak rambutnya. Sial. Lebih baik ia tidak pernah menceritakan kedua rahasianya pada Suyoung.
Park Yoochun melihat kanan-kiri sebelum ia membuang puntung rokoknya kemudian menginjaknya. Untung saja tidak ada orang di sekitarnya karena ia bisa terkena denda karena membuang sampah sembarangan.
"Sekarang bersiap pulang.. Ahhh, aku lelah sekali.. " Yoochun mengguman sendiri setelah itu bersiap membuka pintu mobilnya, tapi gerakannya terhenti karena perempuan cantik yang baru saja lewat di depan mobilnya.
"Noona ya.. Suyoung noona.."
Mendengar ada yang memanggilnya, Suyoung langsung saja berhenti. Suara tadi benar-benar dirindukannya. Suyoung tersenyum sebentar kemudian berbalik.
"Noona ya.. Sudah lama aku tidak melihatmu.. Aku merindukanmu… Oh, kau sendirian?"
Memang telinganya tidak pernah salah. Park Yoochun kekasih impiannya telah berdiri di depannya. Suyoung pun merasakan dadanya berdebar-debar. Ia membisu tak bisa berkata apa-apa hampir 5 menit setelah suara seksi Yoochun menggema di telinganya. Benar, sudah lama mereka tidak bertemu, rasanya sudah bertahun-tahun. Suyoung juga merindukan Yoochun. Ah, kalau saja dunia ini tidak kejam dan memilih berada di pihaknya, mungkin saja saat ini ia bisa mengutarakan perasaannya pada sahabat adiknya ini dan mungkin saja ia tengah berbahagia dengan memiliki Yoochun. Suyoung membuang nafas berat..
"Noona…? Kau melamun?"
"Ne.. Ah, ne aku sendirian.. Joongie tidak mau menemaniku ke salon.."
"Rupanya kau habis dari salon ya.. Pantas saja kau tampak sangat cantik, noona ya."
Suyoung mengedipkan matanya berkali-kali. Oh Tuhan jangan biarkan ia pingsan saat ini, itu akan sangat memalukan. Ternyata sampai saat ini ia masih dan masih sangat menyukai Yoochun.
"Noona, jarang-jarang bisa bertemu denganmu.. kalau kau tidak keberatan aku akan mentraktirmu makan siang…"
Tentu saja Suyoung tidak keberatan. Perempuan itu langsung mengangguk dengan mantap.
Suyoung tiba-tiba teringat dengan 'suami' adiknya itu. Entah mengapa dan ada apa tapi ia sangat tertarik dengan hubungan yang menurutnya aneh yang tengah dijalani oleh adiknya, jadi sedikit mengorek informasi dari Yoochun tidak salah kan?
"Oh, Yoochun ah..kau juga berteman dengan Jung Yunho?"
"Ne..dia temanku.. memangnya ada apa?"
"Apa kau tahu bahwa Joongie dan… "
"Jaejoong dan Yunho? Ada apa dengan mereka?"
Tampaknya Yoochun belum tahu rahasia ini. Suyoung jadi agak ragu untuk menceritakannya terlebih karena ia sudah berjanji pada Jaejoong untuk tidak membocorkannya pada siapapun. Tapi, Yoochun bukan orang lain kan?
"Sebenarnya aku sudah janji pada Joongie..tapi, aku merasa ini bukanlah hal yang perlu dirahasiakan.. "
Yoochun menyimpan cangkir kopinya. Ia memasang pendengarannya baik-baik karena lewat nada bicara Suyoung noona, dipastikan apa yang akan dikatakannya sangat serius dan mungkin akan membuatnya terkejut.
"Joongie dan Jung Yunho sudah menikah di Paris.."
"APA?"
Suara Yoochun langsung menggema memenuhi restoran itu. Suyoung bahkan sempat menutup telinganya. OMG SUN! Yoochun bukan hanya kaget tapi hampir pingsan karena serangan jantung.
"Yak..pelankan suaramu.."
"Apa? Menikah? Di Paris? Bagaimana mungkin aku tidak tahu?" tanya Yoochun, kali ini dengan suara yang agak pelan, nyaris tak terdengar.
"Joongie sendiri yang mengatakannya padaku..dia tidak mungkin bohong kan?" sahut Suyoung dengan suara yang sama pelan.
Yoochun menggelengkan kepalanya.
"Ini mustahil.. Bagaimana mungkin mereka telah menikah jika kali bertemu mereka seperti minyak dan air yang tidak bisa menyatu?"
"Apa maksudmu?"
"Mereka selalu bertengkar.. Seminggu lalu juga aku mendapati mereka tidur berdua dalam keadaan telanjang..kau pasti tahu kan apa yang mereka lakukan?"
Suyoung mengangguk.." Joongie juga sudah menceritakannya padaku dan dia bilang Yunho telah memperkosanya.. bukankah itu terdengar sangat aneh?"
"Noona ya.. aku penasaran mengapa mereka sampai bisa menikah… apa jangan-jangan mereka menikah tanpa sadar seperti mereka tidur tanpa sadar?"
"kita harus mencari tahu, yoochun ah.. "
Yoochun menganggukan kepalanya.
Tiga hari berselang dari pertemuannya dengan Suyoung, Yoochun berhasil menemui dua sahabatnya – Kim Jaejoong dan Jung Yunho. Mengapa membutuhkan waktu tiga hari? Karena Yunho dan Jaejoong selalu menolak diajak bertemu dan berkata bahwa mereka sedang sibuk. Yoochun tentu tahu mereka hanya berbohong karena ia tahu dari Suyoung, Jaejoong sama sekali tidak sibuk, dan menurut informasi yang diterimanya dari Jihye, Yunho hanya dirumah dengan lamunan yang tak kunjung habis.
Yoochun pun tersenyum penuh kemenangan. Rencana penuh tanda tanya yang telah disusunnya dengan Suyoung noona akan segera mendapatkan titik terang.
"Aku ingin bercerita pada kalian…"
"Cepat katakana ada apa? Aku tidak punya banyak waktu.."
"Sama.. aku juga sibuk.."
Yoochun tersenyum simpul. Kalian lihat? Bisa-bisanya mereka masih berbohong di depannya. ckckckckck
"Aku punya dua teman saat kuliah di Paris.." Yoochun berhenti sejenak. Ia memasangkan api pada ujung rokoknya. " keduanya bermusuhan padahal berasal dari negera yang sama.. bahkan sampai kami selesai kuliah kemudian kembali ke Korea, mereka masih saja bermusuhan,tapi satu hal yang mengejutkanku, ternyata mereka sudah menikah.. " Yoochun kembali berhenti untuk meminum kopinya. "Bagaimana menurut kalian? Bagaimana pernikahan antara dua orang yang saling bermusuhan bisa terjadi?" Yoochun pun segera memandangi wajah-wajah di depannya, menunggu reaksi terkejut dari mereka.
Tampaknya apa yang dikatakan Yoochun sudah membuat Yunho dan Jaejoong kelimpungan. Mereka saling berpandangan, bertukar pikiran melalui tatapan mata. Tentu mereka merasa dua orang teman yang dimaksud Yoochun sangat mirip dengan mereka atau lebih tepatnya – adalah mereka.
"Yunho, Jaejoong..bagaimana menurut kalian? Hmm?"
Berbagai reaksi tercipta tapi jauh dari yang diharapkan Yoochun.
Yunho hanya mengangkat bahunya.
"Molla.."
Dan Jaejoong menggelengkan kepalanya.
"Molla.."
Jawaban-jawaban itu membuat emosi Yoochun meningkat.
"Molla? Kalian benar-benar tidak tahu sementara orang-orang yang aku maksudkan itu adalah kalian berdua?" Ia menunjuk Yunho dan Jaejoong secara bergantian.
"Apa maksudmu?" Yunho mengelak, pura-pura tidak tahu.
"Oh Yunho! Jangan berlagak begok..Kalian sudah menikah kan?"
"Dari mana kau tahu?"
Yoochun tersenyum pada Jaejoong. "Na.. kau sendiri yang mengakuinya, Jaejoong.."
"Eh? Mwo?Ani… "
Rupanya setelah ini Jaejoong harus mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia ceroboh?
Yunho mendecakan lidahnya kemudian memandang kesal pada Jaejoong.
"Yak Jaejoong.. kau bercerita pada siapa saja, eoh? Bagaimana bisa Yoochun tahu semua ini? bukankah kita sudah sepakat?"
"Yak…" Jaejoong berseru tak kalah keras dari suara Yunho tadi.." Kenapa kau menimpahkan kesalahan padaku? Mana aku tahu dia tahu dari mana.."
"Kalau bukan karena kau yang menggembor-gemborkannya lalu siapa? "
"Lalu kau pikir aku? Cih… menikah denganmu saja adalah malapetaka buatku…"
"Apa kau bilang? Hei Jaejoong! Kau dengar baik-baik! Bagimu malapetaka, bagiku akhir dari dunia.."
Yoochun mematikan rokoknya dan membuangnya ke asbak. Pria tampan ini menggelengkan kepalanya melihat adegan sinetron yang baru saja terpampang di hadapannya.
"Sudah.. sudah. Jangan bertengkar.. tidak penting siapa yang membocorkan rahasia kalian karena yang terpenting sekarang adalah kalian jelaskan padaku, mengapa kalian bisa menikah! Kalian senang kalau aku kehabisan nafas disini karena terus berteriak, ha?"
Jaejoong yang masih berperang lewat tatapan dengan Yunho langsung membuang muka.
"Kau tanyakan saja pada Yunho. Aku tidak tahu.."
"Jangan coba-coba melarikan diri lagi, Kim Jaejoong.. Cepat jelaskan padaku!" Yoochun terus saja bersuara dengan kuat.
"Yak, bisakah kau pelankan suaramu.. Apa kau tidak lihat semua orang memandang ke arah kita?"
Setelah mendengar bentakan dari Jaejoong. Yoochun mulai tenang dalam artian sudah menyadari bahwa suaranya telah menganggu ketenangan café itu. Terdengar helaan nafas Yunho.
"Okay, sekarang aku jujur. Aku dan Jaejoong memang sudah menikah di Paris, beberapa bulan yang lalu, saat itu hari kelulusan kita.. "
"Jadi, jadi kalian menikah setelah kita minum-minum waktu itu?"
Yunho mengangguk.
"Mengapa kalian bisa menikah?"
"Kami mabuk…" kali ini jawaban datang dari Jaejoong.
"OMG! Mengapa kalian menikah dalam keadaan mabuk, ha? Kalian pikir pernikahan itu main-main? Mengapa kalian harus mabuk, eoh?" Suara Yoochun mulai meninggi lagi. Pria ini bahkan meremas rambutnya.
"Mengapa kami harus mabuk? Mana kami tahu jika saat itu akan menikah. Lagipula mengapa kau terlihat sangat frustasi mendengar kami telah menikah? Apa ada yang kurang dari hidupmu setelah tahu kami telah menikah? Atau jangan-jangan kau menyukai salah satu dari kami? Benar begitu Yoochun? Cepat katakan sebelum aku membuat keributan disini!"
Yunho menarik tangan Jaejoong yang hampir menggebrak meja. Yunho sendiri jadi bingung melihat tingkah Jaejoong yang berlebihan begitu juga dengan tingkah Yoochun yang sangat aneh. Orang-orang di dekatnya memang sudah gila.
"Kalian mau tahu mengapa aku terlihat frustasi seperi katamu, Jaejoong? Karena kalian tidak mengundangku.."
=.="
Yunho dan Jaejoong hampir pingsan mendengar jawaban Yoochun.
"Yah.. Yoochun ah.. Kau sudah gila, eoh?"
"Bukan aku yang gila tapi kalian berdua… Jung Yunho! Bukankah kau telah bertunangan, ha? Apa yang akan kau jelaskan pada orangtuamu, pada calon istrimu? Dan Kim Jaejoong! Jangan pikir kau tidak sama. Kau juga telah memiliki calon istri.. Katakan padaku apa yang akan kalian lakukan ha?"
Perkataan panjang lebar Yoochun sukses membuat Yunho dan Jaejoong bungkam seribu bahasa. Yoochun benar dan teramat benar. Apa yang akan mereka jelaskan jika hal ini melebar ketelinga orangtua mereka? Pernikahan sesama jenis, tanpa sadar. OMG!
TBC…
Hahahahhahahahaha #plak
Bagaiamana readers? Ohya ada yang tanya kapan rate M dimuculkan, nah sekarang sudah ada, so apa NC nya memuaskan? Apa kalian suka atau membosankan? Tell me supaya aku tahu dan bisa memperbaikinya. Dan maaf jika ff ini makin aneh.. TT..
Thank you buat kalian yang sudah membagi komen di ff ini dari chap awal. Apa yang kalian katakan, panjang ataupun pendek sangat berarti buat Andrea.. thank u guys.. love u all 3
Ohya, buat yg nanya klo part awalnya terinsipirasi dari salah satu film, alurnya seperti ini tu pasaran jdi klo sama mungkin2 saja, tapi klopun terispirasi pasti aku cantumin di awal J
Thanks to:
mimi |ichigo song |selena kim |ChoKyuLi |cloudskrystaljaejoongie |Eun Blingbling |aku suka ff|kyoko sato|HungryBirds|ilma|Aoi Ko Mamoru|YuyaLoveSungmin|Milia Schiver|Elezar Kim|yunjaewonkyu| nony| |Guest|Booboopipi| cheyzee|oko yunjae|putryboO|pindangvip|Jaejung Love|han eun ji|meirah.1111|saltybear|reaRelf|Cho Sungkyu|kim eun neul|kyu501lover| |de|Aoi Ko Mamoru|trilililililili|Meyky|RharhaLuv| |Zelenvi|sherry dark jewel|desi2121|Aqua|Booboopipi|kim nana|rara
