Hope you enjoy this chapter
.
.
Title: Always You
Part: 4 - Heat Wave
Author: Shin Min Rin
Twitter: ninanutter
Fandom: TVXQ. DBSK. Tohoshinki
Disclaimer: They belong to SM (Semena-Mena) Entertainment + C-Jes Entertainment
This story is a work of pure fiction
Warning: OOC. Typos. Lemon. Smutt. NC-21. STRAIGHT alias GENDERSWITCH
.
Cast:
Kim Jaejoong, 26 (yeoja)
Kim Junsu, 20 (yeoja)
Jung Yunho, 22 (namja)
Park Yoochun, 21 (namja)
Shim Changmin, 18 (namja)
Kim Hyunjoong, 24 (namja)
(Selain tokoh di atas, gendernya tetap)
.
At Kim (Junsu) residence
.
.
"Aku pulang!"
Suara lumba-lumba (?) terdengar membahana di ruang tamu sebuah rumah yang lumayan bagus. Junsu dan Yoochun telah tiba di rumah orang tua Junsu. Mereka berangkat sesudah sarapan bersama-sama member yang lain di dorm.
Rumah orang tua Junsu terletak agak di pinggir kota. Hanya dibutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit menuju kesana. Dan jika ada waktu luang atau libur, Junsu selalu pulang menengok orang tua dan saudara kembarnya, Junho.
Drap! Drap! Drap!
Terdengar suara langkah kaki. Terlihat Junho setengah berlari menuruni tangga. "Junsu-ah, kau pulang!" teriaknya dengan wajah gembira.
Meski saudara kembar, sebetulnya dari kecil Junsu dan Junho tidak begitu akrab. Hal ini karena perbedaan gender di antara mereka. Junsu tentu saja lebih banyak bergaul dengan teman-teman yeoja-nya. Begitu pula sebaliknya dengan Junho. Tapi sejak Junsu debut dengan DBSK, Junho sepertinya mulai mengakrabkan diri dengan saudara kembarnya itu. Bahkan dia juga ikut tes di sejumlah agensi artis. Ingin mengikuti jejak Junsu ceritanya.
Junho memeluk Junsu lalu dengan cepat melepaskannya. Memegang bahu yeoja saudara kembarnya sembari berkata, "Wah, kau tambah cantik, Su."
Junsu hanya mencibir. Itu membuat Junho gemas dan mencubit pipi tembamnya. "Kok tidak menelepon dulu? Kan aku bisa menjemputmu," tanyanya sambil merangkul bahu Junsu dan mengikutinya ke ruang makan.
"Alaahh, bilang saja kau ingin bertemu teman-temanku, terutama Jae unnie," tuduh Junsu dengan sadis tapi benar.
Sebagai salah satu anggota keluarga grup idol ternama di Korea, tentu saja Junho sangat menyukai DBSK. Begitu juga anggota keluarga mereka yang lain. Bahkan Junho dan orang tuanya sering mendapat tiket konser gratis dari Junsu. Dan Junho sangat menyukai Jaejoong sang lead vocal. Tapi suka dengan member lainnya juga sih. Dia paling bersemangat jika diajak Junsu ke dorm DBSK atau diajak ke acara-acara non-formal dengan para member.
"Hahahaaaaaaa..."
Junho tertawa lebar, sama sekali tidak marah dengan ucapan saudara kembarnya. Dia memang sangat menyukai Jaejoong sebagai member DBSK tentunya.
"Aaahh Junsu, you know me so well," tawanya sambil mengacak-acak rambut Junsu yang hari ini dikuncir kuda. Tentu saja yang empunya rambut marah-marah karena rambutnya berantakan.
"Umma dan appa kemana, Jun?" tanya Junsu sambil mengambil air es di kulkas mereka yang besar. Menghabiskan dalam beberapa kali teguk. Nikmat sekali pulang ke rumah, bisa bebas semaunya, termasuk minum air es. Jaejoong pasti akan marah jika Junsu minum air es atau sesuatu yang dingin.
"Sebagai second vocal, kau harus menjaga pita suaramu, Su. Juga jangan makan atau minum yang dingin-dingin. Jangan makan gorengan," ujar Jaejoong.
'Yeah, seperti unnie tidak minum saja.'
Meski Jaejoong selalu berkilah bahwa alkohol tidak akan merusak pita suaranya. Sebagai lead vocal, Jaejoong memang sangat disiplin tidak makan atau minum yang dingin, makan gorengan dan sebagainya. Cuma dia selalu tidak bisa menolak godaan minum alkohol.
"Mereka masih keluar, membantu paman dan bibi Kim menyiapkan pernikahan sepupu kita."
Appa Junsu dan Junho mempunyai usaha sendiri sehingga mereka bebas bepergian kapan pun, tidak terikat jam kerja seperti orang kantoran pada umumnya.
Junsu menepuk jidatnya. "Aku lupa. Bulan depan salah satu sepupu kita kan ada yang menikah. Hfftt, semoga aku bisa mendapat ijin untuk menghadirinya."
Tok! Tok!
Terdengar ketukan di pintu ruang tamu yang terbuka lebar. "Junsu-ah?" Kepala Yoochun muncul dari balik pintu.
"Ah, oppa." Junsu bangkit dari kursi dapur dengan gembira ketika mendengar suara Yoochun.
"Loh, kau bawa teman, Su?" tanya Junho dengan heran. Tak urung dia mengikuti Junsu menuju ruang tamu.
Yoochun melempar senyumnya ketika melihat dua saudara kembar itu muncul di ruang tamu. Di bahunya ada tas milik Junsu. Dia masuk paling akhir karena harus memarkir mobil dulu di halaman rumah orang tua Junsu yang luas.
"Wah Yoochun hyung!" teriak Yunho ala fanboy kegirangan. Dia membungkuk dengan penuh semangat. "Annyeonghasseo, hyung."
"Annyeonghasseo Junho," jawab Yoochun dengan suara husky-nya. Junho dengan semangat mengguncang-guncang tangan Yoochun, mengajak bersalaman.
"Jangan keras-keras mengguncangnya Jun, nanti oppa tidak bisa menari."
"Ya ampun Su, kau ini tidak masuk akal. Aku kan hanya bersalaman," keluh Junho. Dia sudah biasa menghadapi perkataan maupun kelakuan Junsu yang kadang-kadang 'ajaib.'
Yoochun hanya tersenyum melihat tingkah yeojachingu-nya. Dielusnya rambut Junsu sekilas.
"Su, hyung, aku pergi dulu ya." Junho berpamitan sambil membawa tas besar.
"Mau ke mana?"
"Ke kantor agensi, hyung. Aku sudah diterima di situ." Junho tidak bisa menyembunyikan nada kebanggaan dalam suaranya.
"Chukkae Jun. Tidak sabar menunggu debutmu."
"Gomawo hyung. Mungkin kami akan debut di Jepang terlebih dahulu."
"Wah Jepang..."
Ingatan Yoochun melayang ketika DBSK debut pertama di Negara Matahari Terbit itu. Mereka benar-benar memulai semua dari nol. Belajar bahasa, kebudayaan dan dunia entertainment di Jepang dengan ekstra keras. DBSK tidak membawa nama Hallyu. Mereka debut sebagai grup Jepang bernama Tohoshinki.
Syukurlah mereka bisa diterima masyarakat Jepang dengan baik. Bahkan mereka sudah dianggap sebagai salah satu 'grup asal Jepang' meski kenyataannya berasal dari Korea. Ini membuktikan suksesnya mereka 'membaur' dan menjadi satu dengan dunia entertainment Jepang.
"Masyarakat Jepang... mereka sangat pemilih. Tapi keuntungannya, range usia fans bisa mencapai empat puluh tahunan. Beda dengan disini yang kebanyakan fans berasal dari usia sekolah atau kuliah." Yoochun membagikan pengalamannya.
"Ne, hyung." Junho mendengarkan dengan seksama sedangkan Junsu mengaduk-aduk tasnya yang tadi dibawakan oleh Yoochun. Sibuk mencari sesuatu.
"Jadi jangan heran jika kau bisa mendapati fans ahjumma dan ahjusshi datang ke konser-konser yang diadakan di Jepang," lanjut Yoochun.
Junho mengangguk-angguk paham. "Kelihatannya menyenangkan ya hyung, punya fans dari berbagai usia."
"Sudah sudah, berangkat sana." Potong Junsu dan mendorong-dorong saudara kembarnya keluar pintu.
"Kau tidak sopan, Junsu-ah," protes Junsu sambil dadah-dadah ke Yoochun. "Aku tidak pulang dan tidur di dorm. Katakan pada umma, Su. Bye hyung. Titip Su-ie. Pukul saja pantatnya jika dia nakal."
Yoochun tersenyum dan melambai ke arah Junho yang berlari menuju mobilnya di garasi.
Junsu menjulurkan lidahnya ke arah Junho. Ditariknya Yoochun hingga mereka berdua masuk lagi ke ruang tamu. Blam! Dia pun menutup pintu.
Pembantu keluarga Kim tiba-tiba muncul di ruang tamu. Ahjumma yang berusia sekitar lima puluh tahunan itu mengenakan celana longgar dan kardigan. Di tangannya ada telepon tanpa kabel dan langsung diangsurkan ke Junsu. "Nona Junsu, ada telepon dari nyonya Kim,"
"Eh? Gomawo bibi."
Diterimanya telepon berwarna putih itu dari tangan pembantunya. Si ahjumma berdiri sambil menunggu Junsu menerima telepon. Yoochun duduk di sofa sambil melihat Junsu menerima telepon dari umma-nya.
"Yeobosseyo," ujar Junsu dengan suara manis.
"Junsu? Chagiya?"
Suara umma-nya terdengar di seberang sana.
"Ne, umma. Ini Junsu. Siapa lagi?"
Junsu memutar bola matanya. Memangnya siapa lagi yeoja yang ada di rumah ini selain dia dan si bibi. Masa umma-nya sendiri tidak mengenali suaranya yang merdu.
"Loh kau kok di rumah, Su? Junho mana?"
"Junho ke kantor agensi, umma. Dia pamit tidak pulang dan akan tidur di dorm. Tadi dia juga membawa tas-tas besar," jelas Junsu.
"Oohh, Junho juga tidak di rumah ya..." Ada jeda sejenak sebelum nyonya Kim melanjutkan, "...akhirnya semua anak umma akan meninggalkan rumah." Umma-nya berkata dengan nada dramatis. Junsu menepuk jidat. Duh, umma-nya ini... sejak Junsu debut dan sekarang Junho juga akan menapaki dunia artis, umma-nya jadi sering bertingkah seperti drama queen. Sedikit-sedikit mengeluh bahwa dia sendirian di rumah karena anak-anaknya sibuk semua.
"Ummaaaa~~~" rengek Junsu seperti gadis kecil. "Aku kan masih di Seoul. Kita bisa bertemu jika aku tidak bekerja. Aku janji akan sering-sering pulang."
"Yaaahhh~~~" Nyonya Kim masih saja berkeluh kesah.
"Oh sudahlah. Umma kapan pulang? Aku sekarang di rumah, eh umma dan appa malah tidak ada."
"Kau sih tidak bilang dulu kalau mau pulang. Bukannya DBSK sedang di Jepang ya?"
"Kami libur dua hari karena Changmin ujian sekolah, umma~"
"Umm, baiklah. Eh sudah dulu ya chagiya, appa-mu memanggil~"
Klik. Sambungan telepon diputus oleh umma-nya Junsu.
"Loh? Yah... yah... ummaaaa... kok diputus sih..."
Junsu tidak berminat untuk menelepon balik, oleh karena itu dikembalikannya telepon pada si ahjumma yang dengan sigap menerimanya. Menganggukkan kepala dan segera berlalu dari ruang tamu.
"Bagaimana, Su?" tanya Yoochun sambil memegang sebuah majalah yang tadi dibacanya. Rasa-rasanya pembicaraan Junsu dan umma-nya tidak jelas juntrungannya.
Junsu mengangkat bahu. Beberapa saat kemudian handphone-nya berbunyi. Umma-nya mengirim sebuah pesan.
"Chagiya, di sini ribut sekali. Aku tidak bisa mendengar suaramu lagi. Semua orang sibuk membahas pesta pernikahan sepupumu. Mungkin kami tidak pulang malam ini."
"Umma dan appa tidak pulang, oppa." Junsu menunjuk handphone-nya. Lalu dia tiduran di sofa panjang dan memeluk bantal sofa erat-erat.
"Hmmm..."
"Aku pulang, eh mereka malah pergi." Pout di bibir merah Junsu mulai muncul.
Yoochun tersenyum dan mendekati yeojachingu-nya itu. Dia duduk di sofa, dekat dengan kaki Junsu. Dielus-elusnya betis kecil Junsu yang mulus tanpa selembar bulu pun. Sayangnya Junsu lebih sibuk melihat ke arah meja sambil terus manyun.
"Lalu apa yang mau kau lakukan, Su?"
"Entahlah." Pandangan Junsu beralih ke kakinya yang dibelai-belai Yoochun. "Oppa, kau dari tadi mengelus-elus kakiku?" tanyanya dengan tampang tidak bersalah.
'Ya ampun,' keluh Yoochun dalam hati. Kadang-kadang Junsu ini lemotnya minta ampun. Tapi untungnya, dia panggung dia selalu penuh semangat, murah senyum dan bersinar. Dia juga mudah menyerap materi yang diberikan, baik itu lagu atau tarian.
"Oppa, aku mau tidur dulu. Aku kangen sekali dengan kasurku. Oppa jangan kemana-mana ya," ujarnya tiba-tiba. "Kalau lapar minta makan saja ke ahjumma."
Yoochun melongo. "Jadi aku kau tinggal sendirian nih?" Bagaimana sih yeojachingu-nya. Di rumah orang kok malah ditinggal tidur.
"Jangan sungkan-sungkan, oppa. Anggap saja rumah sendiri. Toh semua juga kenal oppa," angguk Junsu. Segera saja dia melesat ke kamarnya di lantai dua.
'Yah, sudahlah kalau akhirnya harus sendirian.'
Yoochun memutuskan akan melihat-lihat isi rumah saja. Kedua orang tua Junsu memang terkenal dengan hobi mereka akan seni dan sangat artistik. Umma-nya Junsu yang merupakan mantan Miss Korea juga mempunyai selera yang baik dalam menata rumah.
Tembok rumah dicat putih terang untuk memberikan kesan luas. Barang-barang seni seperti lukisan, guci, dan karpet menghiasi berbagai wilayah rumah. Meski barang-barang tersebut tidak mahal, tapi sangat sesuai dengan tempat dimana barang tersebut berada.
Contohnya di ruang tamu. Lantainya berwarna coklat muda dan karpetnya berwarna oranye terang. Kesan hangat dan bersahabat menyambut tamu yang duduk di situ. Sekaligus indikasi supaya tamu tidak 'mengotori' karpet karena warna oranye akan mudah terlihat jika kotor. Dan Yoochun yang mempunyai jiwa seni tinggi, sangat mengapresiasi keahlian umma Junsu dalam menata rumah. Itu sebabnya dia sangat betah meski baru dua kali datang kemari.
Dia pernah ingat bahwa di rumah ini ada ruang perpustakaan. Letaknya di bagian barat rumah. Segera kakinya menuju ke sana. Melewati lorong rumah dan ada beberapa foto keluarga di situ: Kim ahjusshi, Kim ahjumma, Junsu dan Junho. Dia menghela napas melihatnya, sedikit iri. Teringat kedua orang tuanya yang sudah bercerai. Dan sejak dia menjadi trainee SM, umma-nya hanya tinggal berdua saja dengan Yoohwan, adiknya.
'Nah, ketemu.'
"Permisi~~" ujarnya tidak pada siapa-siapa ketika membuka pintu. Celingukan melihat ke dalam. Ditutupnya pintu dengan perlahan.
Sebetulnya ruangan berukuran lima kali lima meter itu tidak bisa dibilang perpustakaan juga. Lebih tepatnya ini adalah sebuah ruang santai. Di situ hanya ada satu rak buku yang tinggi. Berbagai macam buku ditata dengan rapi disitu. Semuanya milik appa Junsu. Di salah satu sudut ruangan ada sebuah mini bar yang berisi minuman beralkohol. Di sinilah keluarga Kim menyimpan persediaan minuman mereka. Satu set sofa melengkapi ruangan yang kadang digunakan untuk bersantai, merenung atau mencari inspirasi ini. Tapi hanya ada satu benda yang menarik perhatian Yoochun. Benda itu terletak di sudut ruangan yang paling jauh jaraknya dari pintu masuk.
Sebuah grand piano.
Yoochun serasa menemukan surga.
Dibukanya kain putih yang menutupi benda yang permukaannya terbuat dari kayu itu. Sebuah instrument musik terpampang di depannya. Sudut-sudutnya bersih, kelihatannya selalu dirawat dengan baik. Bangkunya empuk. Diaturnya posisi dengan nyaman sesuai tubuhnya. Digosok-gosokkannya kedua tangannya. Saat yang tepat untuk membuat sebuah lagu.
Jangankan di tempat hening dan tenang seperti di rumah ini, di dorm yang banyak orang saja Yoochun bisa menghasilkan lagu. Dengan suasana yang damai seperti ini, bukan tidak mungkin dia akan lebih produktif. Dan setelah beristirahat cukup lama kemarin malam dan hari ini libur, otaknya menjadi fresh dan terpacu untuk menghasilkan karya-karya baru.
Tapi rasanya ada yang kurang. Mata kecil Yoochun menyusuri seluruh sudut ruangan. Ah ya, lebih baik jendelanya dibuka saja. Dia segera berdiri dan membuka jendela yang ada di samping grand piano diletakkan. Matanya terpejam, menikmati hembusan angin semilir yang menerpa wajahnya. Bau harum mawar dari kebun menusuk hidungnya. Semua inderanya sedang aktif sekarang. Daya kreatifitasnya melambung tinggi. Saat yang tepat untuk menggubah lagu. Tak lama kemudian dia terhanyut dalam kegiatan favoritnya.
.
Perlahan Junsu membuka matanya. Rasanya sudah lama sejak dia tidur seenak ini.
Kamarnya gelap, lampu tidak dinyalakan. Di luar tampaknya juga mulai gelap. Junsu bisa melihatnya dari jendela kamarnya yang terbuka.
Nnggh... Direnggangkannya tubuh mungilnya. Matanya masih saja berkedip-kedip menyesuaikan dengan kondisi kamar. Beberapa saat kemudian dia teringat sesuatu dan cepat-cepat duduk di ranjang. Ouch! Kepalanya sedikit pusing karena terlalu lama tidur, mungkin.
Diliriknya jam meja. Jam setengah enam sore. 'Pantas saja langit mulai gelap.'
Sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. "Nona Junsu." Suara bibi terdengar dari luar. Segera saja dia bangkit dan membuka pintu kamar.
Seraut wajah menyambutnya ketika pintu terbuka. Si bibi berpamitan, seperti hari-hari sebelumnya. Memang si bibi tidak menginap, tapi hanya mengerjakan pekerjaan rumah saja mulai pagi sampai sore. Dan jika sudah sore, dia akan pulang ke rumahnya yang terletak tidak jauh dari kediaman keluarga Kim.
"Saya pamit, nona. Makan malam sudah siap di dapur. Nona tinggal memanaskan saja jika ingin makan."
"Gomawo, ahjumma. Terima kasih. Hati-hati di jalan," angguk Junsu.
Setelah si bibi pergi, Junsu kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur. Dirasanya leher dan dadanya agak lengket, berkeringat. Ternyata dari tadi AC-nya memang lupa tidak dia nyalakan.
'Lebih baik aku mandi saja. Kali ini mandi yang agak lama ah. Jika di dorm aku pasti dimarahi Jae unnie kalau mandi lama-lama.'
Selesai mandi, Junsu baru ingat jika dia mengajak Yoochun pulang ke rumah. Segera diambilnya sebuah t-shirt dan celana yang sudah lama tidak dipakainya. Baju-baju itu ditinggal di rumah dan tidak dibawa ke dorm.
"Oppa?"
Panggilnya ketika tidak menemukan Yoochun di ruang tamu. Di ruang makan juga tidak ada. Tapi tunggu... Sayup-sayup terdengar suara piano. Memainkan lagu mereka "Doushite." Cuma ada satu tempat di rumah ini yang ada pianonya. Segera dipercepatnya langkah menuju ruang perpustakaan.
Pemilik suara husky di DBSK itu selesai memainkan lagunya tepat ketika pintu terbuka.
"Oppa!" teriak Junsu.
Yoochun mengalihkan pandangan dari tuts piano ke arah pintu yang terbuka. Bibirnya segera membentuk sebuah senyum. Konon, senyumnya pernah membuat seorang wanita pingsan.
Yoochun memberikan tangannya dan Junsu meraihnya. "Oppa sudah makan?" tanya Junsu sambil mendekat. Yoochun sedikit bergeser untuk memberi tempat di kursi pada Junsu yang langsung duduk di sebelahnya.
"Belum. Nanti saja bersamamu."
Mata Junsu membulat. "Kok belum makan sih? Oppa dari tadi ngapain saja?" Junsu takut jika asma Yoochun bisa kumat jika telat makan. Tidak nyambung memang.
"Tidak apa-apa. Nanti saja bareng kamu. Aku tadi membuat dua buah lagu."
Junsu pun tidak protes lagi.
Handphone yang bergetar di saku celana membuat Junsu teralihkan. Sms dari Junho. "Umma dan appa pulang jam berapa? Jangan lupa mengunci rumah kalau kau pulang ke dorm." Segera dibalasnya pesan saudara kembarnya.
"Eummm,, oppa.. Kau keberatan tidak jika kita menginap disini?"
"Hmm?" Yoochun bergumam sambil memencet-mencet tombol piano.
"Malam ini rumah kosong. Lagipula besok kita juga masih libur kan?"
"Iya sih." Yoochun terlihat berpikir.
"Atau oppa ada janji dengan orang lain?"
Junsu menatap Yoochun dengan memasang puppy eyes-nya, berusaha membujuk sang kekasih. "Tidak apa-apa. Aku bisa membatalkannya," geleng Yoochun.
"Aaaa, gomawo oppa." Junsu mengecup pipi Yoochun dan segera berdiri. "Mandilah dulu. Kau bisa memakai baju Junho. Aku tunggu di ruang makan ya."
Junsu menyiapkan makanan sambil bernyanyi-nyanyi. Yah, suaranya memang bagus sih. Dia kan second lead vocal di DBSK. Ditatanya piring-piring penuh masakan di meja makan. Untung saja bibi memasak yang enak-enak untuk makan malam hari ini.
"Lekaslah makan, oppa. Mumpung masih hangat," ujarnya ketika melihat Yoochun muncul di ruang tamu. Yoochun duduk di kursi depan Junsu sehingga duduk berhadapan. Mereka berdua menikmati makan malam dengan santai.
"Apa tidak apa-apa kalau kita tidak pulang, Su? Nanti Jae noona mencarimu."
Sumpit Junsu terhenti di udara. Dia tidak jadi memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
'Jae unnie. Lagi-lagi Jae unnie.'
Orang yang selalu berhasil menjadi magnet bagi orang lain. Semua orang membicarakannya. Semua orang memperhatikannya. Dan dia selama ini menjadi unnie bagi Junsu.
"Entahlah. Dia tidak mengirim pesan atau telepon sama sekali, oppa. Mungkin sedang sibuk sendiri. Libur ini pasti dimanfaatkannya dengan baik," jawab Junsu sambil menggigit sebuah udang tepung.
"Oh, baiklah kalau begitu."
Yoochun tidak bertanya apa-apa lagi dan mereka berdua menghabiskan makan malam dengan tenang. Karena di rumah Junsu ada pencuci piring otomatis, maka mereka tidak perlu repot berbasah-basah. Cukup memasukkan alat-alat makan yang kotor, masukkan cairan pencuci ke dalamnya, dan selesailah tugas mereka.
Mereka berdua menghabiskan waktu dengan melihat televisi di ruang tengah. Yoochun duduk bersandar di sofa dan Junsu duduk di sampingnya. Kepalanya disandarkan di dada kekasihnya dan kedua lengannya memeluk pinggang Yoochun.
Yoochun memindah-mindah channel ketika dirasanya tidak ada acara yang menarik di TV. Ketika sampai di suatu channel, tiba-tiba Junsu memekik. "Oppa! Itu saja. Jangan dipindah."
"Huh? Yang ini?"
Channel yang dipilih Junsu sedang memperlihatkan sebuah commercial break.
"Sebentar, ini kan iklan. Habis ini kok acaranya."
Yoochun pun menuruti permintaan Junsu.
Benar saja, setelah iklan, ternyata ada acara chart musik dimana DBSK juga tampil disitu. Acara ini bukan siaran live dan DBSK sudah syuting beberapa hari yang lalu.
Selama hampir satu setengah jam mereka berdua melihat acara yang diisi oleh berbagai grup dan solois itu. Tiffany SNSD dan Yuri SNSD, para hoobae DBSK, yang memandu acaranya. Acara tersebut menampilkan performance para pengisi acara dan diselingi dengan pembacaan chart mingguan untuk musik di Korea. Yoochun berulangkali menguap, tidak sabar ingin melihat performance mereka. Sudah takdir, DBSK selalu menjadi penampil terakhir. Dan penampil terakhir adalah yang paling senior dan paling dihormati. Itu sudah menjadi aturan tidak tertulis di industri musik Korea.
"Ini dia!" Lagi-lagi Junsu memekik ketika Yuri menyebutkan bahwa DBSK akan tampil.
Yoochun yang semula terkantuk-kantuk langsung memperbaiki duduknya di sofa sehingga Junsu terpaksa melepaskan pelukannya. Ketika Yoochun sudah mendapat posisi yang pas, Junsu kembali memeluknya. Junsu menutup mulutnya ketika opening "Love In The Ice" melantun. Dia sering merasa malu jika melihat penampilannya sendiri di TV.
Lima orang member DBSK berdiri di atas panggung. Seperti biasa urutan formasi mereka dari kiri ke kanan adalah: Junsu - Yoochun - Jaejoong - Changmin - Yunho.
Yeoja dan namja.
Lima suara.
Lima orang.
Jaejoong, member yang "bertanggung jawab" untuk keseksian dan kesan misterius. Konsep Junsu dalam grup adalah luxury, smart school girl. Yoochun sebagai international, dandy boy. Changmin sebagai member yang cute and charming. Sedangkan konsep Yunho sebagai leader adalah manly and leadership.
Semuanya membentuk harmonisasi yang indah, baik suara maupun penampilan mereka.
Kamera menyorot ke arah penonton. Mereka semua terbius. Tidak sedikit yang melongo melihat penampilan lima orang itu di atas panggung.
"Woww! Yang di panggung... itu kita ya?"
See? Bahkan Yoochun sendiri juga terkagum-kagum.
Lalu kamera menyorot ke arah Jaejoong. 'Tentu saja, dia menjadi kesayangan di depan kamera,' pikir Junsu. Dengan rambut pirang panjang, mata bulat besar, dan bibir semerah cherry, tentu saja akan mudah untuk mengenalinya. Apalagi posisinya sebagai main vocal juga membuatnya sering tersorot kamera ketika bernyanyi.
Junsu mengenal Jaejoong sejak usianya belasan. Sejak dia masih menjadi gadis kecil sampai menjadi seperti sekarang. Jaejoong menemani Junsu melewati hari-hari trainee yang berat. Diam-diam Junsu menjadikan Jaejoong sebagai salah satu role mode-nya. Meski Junsu tidak menutup mata bahwa unnie-nya yang satu itu bukan manusia sempurna. Jaejoong juga punya banyak kelemahan.
Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Junsu ingin menjadi seperti Jaejoong.
Ketika mengingat Jaejoong, sebuah hal melintas di pikirannya. Sebetulnya ini sudah lama, beberapa hari ini hal tersebut semakin menguat. Tekadnya bulat sudah. Ditariknya napas panjang. Kepalanya mendongak dan memandang Yoochun. "Oppa," panggilnya pelan.
"Hmmm?"
Pandangan mata Yoochun masih fokus ke TV. Kali ini DBSK sudah selesai perform dan MC kembali berbicara.
"Oppaaaa~~"
Tangannya menarik dagu Yoochun sehingga mau tidak mau Yoochun memandangnya.
"Wae?" tanya Yoochun.
Pandangan mata Yoochun yang teduh semakin memantapkan niat Junsu. Dia menarik napas panjang.
"Oppa, aku ingin bersamamu malam ini."
.
At Dorm / apartemen DBSK
.
Plaakk!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Yunho. Dia meringis, tidak menyangka Jaejoong akan melakukannya. Jaejoong berdiri dari sofa dan setengah berlari menuju pintu tapi dengan cepat Yunho menarik tangannya. Disentakkannya tubuh Jaejoong hingga berada di pelukannya.
"Lepaskan!" rontanya. Tapi percuma saja. Tubuhnya sudah terperangkap dalam pelukan leader-nya. Dia meronta sekuat tenaga tapi sepertinya Yunho tidak terpengaruh dan malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau... mau... kemana?"
Yunho bertanya lambat-lambat. Diperhatikannya lead vocal yang sedang berusaha melepaskan diri dari pelukannya ini. Rambut pirangnya yang panjang. Tubuhnya yang menguarkan bau harum setelah dari salon. Wajahnya sama sekali tanpa make-up dan membuatnya terlihat lebih muda daripada usia sebenarnya.
Jaejoong memang cantik. Dan yang membuat Yunho heran, fangirls Jaejoong lebih banyak daripada fanboys-nya.
Mata kecilnya memperhatikan sosok yeoja yang lebih tua darinya itu. Wajah Jaejoong memerah, entah kenapa.
Malu? Oh no, tidak mungkin. Yunho tahu sendiri bawah Jaejoong beberapa kali pacaran. Tidak mungkin jika dia tidak pernah berdekatan dengan namja.
'Tentu saja dia melakukan yang lebih daripada sekedar berdekatan dengan pacar-pacarnya,' batin Yunho.
Kim Jaejoong, a woman who opens her legs to anyone who climbs on her bed.
"Lepaskan! Aku mau kembali ke dorm!"
Jaejoong masih saja meronta dengan wajah memerah menahan marah.
Yunho memutuskan untuk melepaskan pelukannya. Tapi kali ini dia memegang kedua pergelangan tangan Jaejoong sehingga yeoja itu terpaksa menghadapnya. Tinggi Jaejoong yang 165 senti tentu saja jauh berbeda dengan Yunho yang setinggi 184 senti.
"Lupa? Kau masih harus membayar hutangmu, noona," ulang Yunho. Wajahnya menunduk hingga hampir sejajar dengan wajah Jaejoong. Tubuh Yunho yang berotot dan tinggi besar biasanya bisa menimbulkan rasa ancaman kepada siapa pun yang sedang berkonfrontasi dengannya, terlebih jika dia adalah yeoja. Tapi Jaejoong menolak diintimidasi. Dia mendongak, memandang Yunho dengan penuh harga diri.
"Tidak ada pembayaran hutang semacam itu. Tidak masuk akal. Kau... keterlaluan..." tolak Jaejoong.
Perlahan Yunho melepaskan tangannya dari kedua pergelangan tangan Jaejoong. "Aku keterlaluan? Baiklah..." Dia berjalan menuju meja ruang tamu dimana terdapat laptop yang tadi dipakainya untuk mentransfer sejumlah dana ke rekening milik salah satu unnie rekan segrupnya itu. Pandangan matanya tidak lepas dari Jaejoong. "Keterlaluan adalah ketika seorang adik yang sangat sukses tidak membantu unnie-nya. Dan aku bisa saja salah, tapi mungkin sistem bank salah transfer dan uang itu masuk kembali ke rekeningku."
Yunho berkata dengan tenang sambil menangkupkan kedua tangannya di atas meja.
"Tidak mungkin! Kau tidak bisa melakukannya!" teriak Jaejoong ketika menyadari maksud perkataan Yunho.
Kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Tubuhnya gemetar menahan marah... dan ketakutan. Takut jika Yunho benar-benar melakukan yang dikatakannya. Dia tahu sendiri bagaimana keadaan keluarganya. Mereka semua mati-matian berusaha membantu unnie-nya tapi masih saja tidak cukup. Dan bank swasta yang berperan sebagai debitur ini terkenal ketat dalam urusan pembiayaan semacam ini. Mereka tidak menerima alasan apa pun dari kreditur yang macet dalam melaksanakan kewajibannya.
Yunho mengangkat bahu, pura-pura acuh tak acuh. "Yah tentu. Teller bank-nya tentu tidak akan mau melakukan permintaanku ya. Dan dia juga tidak akan mau jika kuberi tanda tanganku sebagai ucapan terima kasih."
Mendengar itu, Jaejoong sedikit merinding. Dia sadar DBSK memang populer di seluruh negeri. Tapi untuk membuat petugas teller bank membatalkan transfer ke rekening unnie-nya? Apakah kepopuleran DBSK bisa melakukan itu? Kepopuleran Yunho sebagai salah satu membernya, apakah bisa?
"Anything could happen. And anything will happen, if you don't pay it."
Yunho berujar dengan santai sambil menyilangkan kaki di sofa. Kedua tangannya bersedekap di depan dada.
"Is that a threat?"
Jaejoong memicingkan matanya. Tangannya masih saja mengepal di samping tubuhnya.
"Aku tidak pernah mengancam orang, noona. Aku selalu membuktikan omonganku. Dan kau akan tidur denganku."
"Aku tidak akan tidur denganmu! Dan aku sudah punya pacar! Kau dengar? Aku punya pacar!" teriak Jaejoong.
"Aku tidak keberatan kita main bertiga. Toh pasti kau juga yang akan ada di bawah."
Yunho mengucapkan kata itu dengan ringan seolah tidak mempunyai beban. Mendengar itu rasanya kemarahan Jaejoong sampai di ubun-ubun. Sekali lagi tangannya mengayun hendak menampar leader-nya. Sayang sekali, kali ini Yunho lebih sigap. Ditangkapnya tangan kanan Jaejoong yang hendak menamparnya.
"Rupanya kau suka main kasar ya? Baiklah, kita buktikan saja di ranjang, seberapa jauh kau bisa memuaskanku dengan permainan kasarmu," seringai Yunho.
Antara malu dan marah, wajah Jaejoong memerah.
"Kau malu?" Wajah Yunho mendekat. Tangannya masih saja memegang kedua pergelangan tangan Jaejoong. Tatapannya menyiratkan ketidakpercayaan. "Hahaha, lucu sekali." Yunho tiba-tiba tertawa sehingga mengendurkan sedikit pegangannya.
Menyadari itu, Jaejoong menyentakkan tangan Yunho hingga terlepas. Dia segera berlari ke pintu lalu. Lambat-lambat didengarnya suara Yunho yang masih tertawa.
"Cepat atau lambat, kau akan tidur denganku, Kim Jaejoong..."
Jaejoong segera mengunci pintu apartemen. Sebuah pikiran yang naif mengingat semua member juga punya kunci untuk dua buah apartemen mereka. Tapi Jaejoong terlanjur menganggap bahwa Yunho akan memaksanya. Lebih aman jika apartemen tetap terkunci. Dia melemparkan diri ke ranjangnya dan mulai menangis.
.
Suara handphone membangunkan Jaejoong. Dengan nyawa yang masih terkumpul separuh, dia meraih Blackberry yang tadi diletakkan di kasur ketika dia menangis. Hyunjoong yang meneleponnya.
"Chagiya?"
"Ne?"
"Kau di dalam? Tolong bukakan pintunya. Aku di depan dorm-mu nih."
"Baiklah. Tunggu sebentar."
Dengan agak malas Jaejoong bangun dari ranjang dan langsung berkaca di lemarinya yang super besar. Bajunya masih baik-baik saja. Segera diikatnya rambutnya yang panjang. Oh tidak, matanya kelihatan sembab karena menangis sampai jatuh tertidur.
'Ah sudahlah, tidak ada waktu untuk membenahi penampilan. Joongie sudah menunggu di luar.'
Ketika membuka pintu dorm. Hyunjoong langsung mengulurkan sebuket bunga mawar merah. "For my Jae," ujarnya sambil tersenyum manis.
Jaejoong tertegun. Diperhatikannya namjachingu-nya itu. Bukan penampilannya, melainkan lebih kepada perhatiannya. Hyunjoong seorang namja yang akan memperlakukan yeoja dengan manis. Dia masih tertegun sampai Hyunjoong berkata. "Jae, apakah kau akan menerima bunga dariku ini?"
Mendengar itu, Jaejoong merasa sangat tersentuh. Kenapa ada orang semanis ini di dunia. Dan dia memperlakukan Jaejoong dengan baik, tidak seperti perlakuan seseorang padanya beberapa jam yang lalu.
Tiba-tiba mata Jaejoong berkaca-kaca dan dia menubruk tubuh Hyunjoong. "Jongieeeee,,, hiksssss~~~" rintihnya sambil memeluk Hyunjoong dengan erat.
"Jae?"
Hyunjoong tentu bingung kenapa tiba-tiba Jaejoong memeluknya sambil mulai menangis. Apalagi mereka masih ada dipintu apartemen dan belum masuk ke dalam.
"Jae, kita masuk dulu yuk. Jangan sampai dilihat tetangga." Dengan lembut Hyunjoong merangkul bahu Jaejoong dan membawanya ke dalam. Yang dirangkul hanya menundukkan kepala sambil masih terisak.
Tanpa mereka sadari, seorang namja bermata musang mengamati mereka berdua dari tadi.
.
Liburan dua hari DBSK sudah habis. Meski demikian, Changmin masih memiliki dua hari untuk ujian, dan semuanya diadakan pagi hari sehingga siang sampai malam Changmin tetap saja bekerja. Untung saja Changmin termasuk jenius. Rata-rata dia hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja untuk mengerjakan soal-soal ujiannya. Libur telah usai berarti kembali ke rutinitas semula. Rekaman, iklan, variety show, talk show dan pergi ke Jepang.
Setelah konfrontasinya beberapa hari yang lalu dengan Yunho, Jaejoong mendapati bahwa sekarang Yunho tidak pernah menyindirnya lagi. Atau memaksanya. Dia memperlakukan Jaejoong dengan formal, seperlunya saja. Kedua member dan keempat member lainnya tampaknya juga tidak menyadari ini, tapi sudah beberapa Yunho dan Jaejoong tidak pernah bertengkar seperti biasanya.
Sebenarnya Jaejoong merasa curiga akan perubahan sikap Yunho, tapi pikiran itu cepat dihilangkannya karena dirinya sendiri harus berkonsetrasi kepada pekerjaan. Tapi kecurigaan Jaejoong akan terbukti di masa depan.
Suatu hari, Jaejoong mendapat telepon dari Choi Seunghyun atau yang biasa dikenal dengan T.O.P., salah satu personel grup hip hop Big Bang. Jaejoong, Hyunjoong dan T.O.P. memang akrab dan mereka segera minum bersama. Isi telepon dari T.O.P. sangat mengejutkan Jaejoong.
"Noona, kau dimana?"
"Hah? Ada apa memangnya?"
Perasaan Jaejoong sudah tidak enak mengingat nada suara T.O.P. yang tergesa-gesa.
"Joongie hyung kecelakaan. Kepalanya tertimpa lampu ketika syuting. Mereka membatalkan syuting karena hyung harus dibawa ke rumah sakit. Pendarahannya cukup banyak karena lampu itu tepat menimpa bagian tengah kepalanya."
Hyunjoong memang sedang sibuk syuting drama terbaru setelah grupnya SS501 hiatus.
Jaejoong terduduk lemas di kursi ruang rias. Saat ini dia sendirian karena yang lain masih ada di luar semua.
"Noona? Noona? Kau masih disana?"
Suara T.O.P. terdengar panik.
"Ne, ne. Aku mendengarmu."
"Sudah dulu ya noona. Aku ke rumah sakit dulu. Mumpung hari ini tidak ada jadwal." Telepon pun ditutup oleh T.O.P.
Saat ini DBSK memang berada di backstage untuk perform di salah satu acara musik di Jepang. Perasaannya campur aduk sekarang. Kenapa bencana terjadi pada kekasihnya ketika Jaejoong sedang berada di luar negeri.
'Kenapa Joongie bisa kecelakaan. Apa mereka tidak mengecek peralatan dengan baik...'
Dia bergumam sendiri dan tidak menyadari ketika Yunho masuk ke backstage DBSK dan mendengar gumamannya.
"Tentu. Anything could happen."
Jaejoong tersentak mendengar suara Yunho. Lebih terkejut lagi ketika mendengar kalimat yang diomongkannya. Otaknya segera merangkai fakta.
"Kau yang melakukannya?" desis Jaejoong tidak percaya. "Aku akan melaporkanmu!"
Yunho mengangkat bahu. "Kau mau melaporkan member grupmu sendiri? Kau ingin dihujat oleh seluruh masyarakat Korea karena membuka aib rekanmu?"
Diingatnya fans yang kadang labil dan tidak dewasa. Mereka bisa melakukan hal-hal di luar nalar ketika kecewa dengan idolanya.
"Kau tidak punya bukti. Aku punya alibi. Aku tadi mengobrol dengan para personel Arashi dan Yamapi. Lagipula, kita sekarang ada di Jepang. Aku ulangi, di Jepang," tandas Yunho mantap.
Bulu-bulu halus di tangan Jaejoong berdiri. Merinding. Yunho melakukannya dengan rapi lewat orang lain. Tentu saja itu akan dianggap kecelakaan di tempat syuting. Bayangkan ada berapa banyak orang yang ada di lokasi syuting?
Kru penata lampu yang dituduh? Pembuktian apakah kru tidak bekerja dengan baik, sulit juga untuk dilakukan meskipun faktor human error juga tidak terlepas dari kasus semacam ini.
"Dia tidak ada hubungannya dengan kita berdua. Kau... kau kejam..."
Jaejoong menggeleng-gelengkan kepala, tidak menyangka Yunho akan berbuat sejauh ini.
"Tentu saja ada hubungannya. Mereka akan menderita jika kau tidak membayar hutangmu, noona."
Jaejoong semakin lemas mendengarnya dan tenggelam dalam duduknya di sofa. Kedua tangannya menutupi wajahnya.
Tok! Tok Tok!
Sebuah ketukan memecahkan keheningan di ruang rias itu. Segera saja memasang wajah tersenyum. Sebuah kepala berambut hitam muncul dari balik pintu. Salah satu kru televisi yang menjabat sebagai produser program.
"Jejung-san! Yuno-san! Kok masih di sini? Dua lagu lagi dan Tohoshinki harus tampil."
"Gomen, produser-san. Kami akan segera kesana." Yunho mengangguk ke arah sang produser. Ketika si produser menghilang, Yunho menoleh ke arah Jaejoong yang masih duduk di sofa. Wajah yeoja itu kembali tegang karena harus berduaan lagi dengan Yunho di ruang rias.
"Malam ini, noona."
Jaejoong tahu bahwa dia tidak akan bisa lari lagi.
.
Karena Jaejoong hendak menamparnya, dengan terpaksa Yunho mengikat kedua tangannya di kasur hotel.
Namja itu memandangi Jaejoong. Bentuk tubuh Jaejoong yang indah, tertutupi oleh kostum panggung berupa rok terusan sepanjang pertengahan paha dan Jaejoong mengenakan hot pants di dalamnya. Wanita di depannya ini adalah wanita yang sangat cantik. Kulit putih seputih susu, halus, sehalus sutra. Mata yang bulat dan besar. Dadanya tidak besar, tetapi padat dan terlihat sangat menggiurkan. Bibir pink Jaejoong bergetar. Air mata sudah mengambang di pelupuk matanya.
Pandangan namja itu turun menelusuri bagian bawah tubuh Jaejoong. Melihat kedua kakinya yang halus dan sempurna. Ia sudah sangat tidak sabar untuk merasakan Jaejoong sepenuhnya.
Yunho mendekati Jaejoong sambil menjilati bibir bawahnya sendiri. Ia mencondongkan tubuhnya kemudian menangkap payudara Jaejoong dengan kedua tangannya. Namja itu terus meremas payudara Jaejoong di luar kostumnya. Ia sangat takjub. Bentuk payudara Jaejoong sangat pas dengan genggaman tangannya.
"Baju ini mengganggu sekali."
Dengan tangannya yang bebas, lelaki itu menurunkan resleting dress Jaejoong yang berada di bagian depan. Rupanya hari ini hari keberuntungan Yunho. Dia dihadiahi dengan payudara Jaejoong yang tidak tertutupi oleh apapun. Denganc epat Yunho melucuti seluruh pakaian Jaejoong yang tersisa. Dia melakukannya tanpa banyak kesulitan berarti meski Jaejoong meronta-ronta. Sebab kedua tangan Jaejoong terikat erat sehingga usahanya meronta adalah sia-sia saja.
"Bagimana kau bisa perform di panggung tanpa mengenakan bra dan menggunakan baju setipis ini? Ck... ck..." Yunho berdecak sendiri. "You slut. Kau memang sengaja memancing para namja rupanya."
Kini namja itu menjelajahi payudara Jaejoong. Memainkan kedua nipple-nya yang bewarna coklat muda dengan jari-jarinya. Ia menjilati puting kiri Jaejoong dan mencubit-cubit puting kanan yeoja itu.
"Le... lepaskan aku, brengsek!" Jaejoong berusaha melepaskan tubuhnya tetapi tidak bisa karena ikatan ditangannya sangat erat. Ia merasakan wajahnya sudah basah oleh air mata. Namja itu menghisap dan menggigit nipple Jaejoong seperti anak kecil yang sedang menikmati eskrimnya. Ia terus menghisapi dan menjilati puting Jaejoong sampai berwarna kemerahan.
"Akh!" pekik Jaejoong saat merasakan namja itu mengigit putingnya dengan keras dan menariknya. "Ughh.. sakiiit!" Kini puting yang lain dicubit dengan keras. Sangat sakit sekali.
"Hey lihat. Putingmu mengeras. Apa kau menikmatinya? Haha.. Aku suka putingmu yang seperti ini."
Kemudian lelaki itu menenggelamkan kepalanya diantara kedua payudara Jaejoong. Mencium aroma tubuhnya yang berbau jeruk. Ia menenggelamkan kepalanya semakin dalam seraya menjilati tulang dada Jaejoong, memberikan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan tanda merah di sekitar dada yang sebelumnya tanpa cela.
Tangisan Jaejoong semakin kencang. Berkali kali meminta Yunho untuk berhenti. Dan tentu saja tidak didengarkan namja itu. Sebaliknya, Yunho kembali menghisap puting Jaejoong. Hisapannya sangat kuat. Jaejoong merasakan putingnya basah oleh air liur Yunho.
"Aah! Sakiiit! Kumohon..lepaskan aku.." isak Jaejoong.
Yunho kembali memfokuskan hasratnya pada payudara Jaejoong. Kini ia justru menjilati sekujur permukaan payudaranya. Lidahnya juga terus bergerak. Jaejoong menggigit bibirnya menahan geli dan rangsangan yang mulai mengganggunya. Namja itu mencium lembut pipinya dan sudut bibirnya.
"Jangan khawatir sayang," ujar lelaki itu sambil melanjutkan mengulum nipple Jaejoong, kali ini dengan kuluman yang lebar hingga separuh payudara Jaejoong terhisap masuk.
"MMmfff….. ouhhhhh….an-dwaaaeee…" sahut Jaejoong dengan isak tertahan.
Kali ini ia menggoda puting Jaejoong dengan lidahnya, sesekali dikecupnya.
"Unngghhh…. lepaskan aku, tolong. Jangan siksa aku seperti ini," mohonnya.
Jilatan namja itu sudah turun ke perut Jaejoong yang rata. Menusuk pusar Jaejoong dengan lidahnya. Jaejoong menggeliat dan mengerang lemah.
"Vaginamu indah sekali, sayang…" ujar lelaki itu sambil mulai menjilati bibir vagina Jaejoong.
Jaejoong mengerang lagi. Pinggulnya mulai bergerak-gerak, seperti menyambut sapuan lidah namja itu pada vaginanya. Jaejoong merasa kehilangan ketika lelaki itu berhenti menjilat. Tetapi, tubuhnya bergetar hebat lagi saat Yunho menjilat bagian dalam pahanya. Itu adalah titik sensitifnya. Namja itu menjilati bagian dalam kedua paha Jaejoong, dari sekitar lutut ke arah pangkal paha. Pada jilatan ketiga, Jaejoong merapatkan pahanya hingga mengapit kepala Yunho. Jaejoong mengeluarkan desahan yang membuat Yunho makin menggila. Dijilatinya celah vagina Jaejoong dari bawah, menyusurinya dengan lembut sampai bertemu klitorisnya.
"Ooouhhhhhh…. aahhhh…."
Jaejoong merintih menahan nikmat. Yunho kemudian menguakkan vaginanya dan menusukkan lidahnya ke dalam sejauh-jauhnya. Jaejoong semakin kehilangan kendali. Kepalanya menggeleng-geleng kekanan dan kekiri. Giginya menggigit bibirnya, tapi ia tak kuasa menahan keluarnya desahan kenikmatan. Apalagi saat Yunho kemudian dengan intens menjilati klitorisnya.
"Aaahh…aahhnn.."
"Nikmati saja... jangan menolak..." kata namja itu, lalu tiba-tiba ia menghisap klitoris Jaejoong. Akibatnya luar biasa. Tubuh Jaejoong menegang, dari bibirnya keluar rintihan seperti suara anak kucing. Tubuhnya bergetar ketika ledakan orgasme melanda tubuhnya.
"Hhaaah…hahh.."
Jaejoong berbaring sambil berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Bagaimana bisa... bagaimana bisa Yunho membuatnya orgasme hanya dengan lidahnya saja? Ketika mengingat apa yang terjadi, air mata kembali turun di pipinya. Bagaimana bisa Jaejoong menikmati perlakuan Yunho padanya? Bahkan Yunho membenci Jaejoong. Dia melakukan ini hanya untuk menghukumnya.
Tampaknya badai belum berlalu. Jaejoong tahu bukan ini permainan intinya. Dilihatnya Yunho mulai melepaskan bajunya satu persatu. Jaejoong membuang muka ketika Yunho menyeringai ke arahnya.
"Aku tahu kau sering mencuri pandang melihatku ketika aku sedang tidak memakai baju... Jaejoongie."
Jaejoong merasakan wajahnya panas. Memang dia sering diam-diam melihat ke Yunho ketika di ruang dance dan Yunho topless. Memalukan sekali ketika Yunho mengatakan hal ini sendiri kepada Jaejoong. Tubuh Yunho yang demi apa.. oh-so-hot itu..
"Aku akan mengabulkan permintaanmu. Malam ini kau boleh melihatku sepuasmu."
Jaejoong melihat ke arah Yunho ketika mendengar itu. Dan betapa terkejutnya dia mendapati Yunho sudah tidak berpakaian sama sekali. Tubuhnya sempurna. Dan juniornya pun sudah menegak dengan sempurna. Jaejoong meraskan napasnya terhenti. Benda sebesar dan sepanjang itu... akan masuk ke dalam tubuhnya? Tiba-tiba saja dia membayangkan rasa sakit yang mungkin akan ada. Kedua pahanya secara otomatis merapat.
Yunho langsung menempatkan diri di antara kedua paha Jaejoong. Dengan paksa dibukanya kedua paha itu dengan lupa dirinya mulai memasang kondom di juniornya yang sdauh mengeras itu.
Sementara itu air mata kembali menuruni pipi Jaejoong. Yunho menyentuh permukaan vagina Jaejoong dengan telapak tangannya.
"Kau masih basah. Nah, aku rasa tidak perlu pemanasan lagi."
Kedua lutut Yunho menahan paha Jaejoong supaya tetap terbuka lebar. Lalu Yunho menggesek-gesekkan kepala juniornya ke vagina Jaejoong. Tanpa peringatan, Yunho menghentakkan juniornya memasuki lubang hangat milik yeoja yang berbaring di bawahnya ini. Jaejoong menjerit dengan keras dan Yunho terpaksa menghentikan dengan cara melumat bibir Jaejoong.
"Mmpphh..." Jaejoong berusaha menjerit tapi bibirnya ditutupi oleh bibir Yunho.
Setelah menyesuaikan sejenak, Yunho mulai menggerakkan pinggulnya keluar dan masuk vagina Jaejoong. Itu membuat Jaejoong berteriak meski teredam ciuman Yunho. Dinding-dinding vagina Jaejoong terasa sangat menekan junior Yunho. Menimbulkan sensasi tersendiri di permukaan juniornya, membuatnya semakin memompa darah ke juniornya hingga makin mengeras dengan sempurna. Dia pun semakin mempercepat tempo tusukannya sementara bibirnya masih saja melumat bibir Jaejoong, menahannya supaya tidak berteriak.
Selubung itu pun terkuak sudah.
Yunho merasakan juniornya mulai berkedut. Sebentar lagi... sebentar lagi... Gerakannya semakin menggila. Dengan lima kali tusukan, tubuh Yunho ambruk menimpa tubuh Jaejoong.
.
Lima menit kemudian Yunho berbaring, memandang langit-langit kamar. Dia sudah menyalakan lampu setelah tadi sengaja dimatikannya selama aktivitas seksnya dengan Jaejoong. Tadi hanya ada cahaya yang masuk lewat jendela kamar. Napasnya masih terasa berat. Ini lebih capek daripada latihan dance beberapa jam.
Yunho tidak mengira dia akan mencapai level itu. Level yang bahkan tidak pernah dicapainya ketika bersama yeoja-yeoja lain. Yeoja-yeoja yang ditiduri Yunho dengan satu syarat: hanya sebagai partner tidur. Bukan sebagai kekasih. Yunho tidak mau repot-repot menghadapi kecemburuan yeoja. Tidak mau repot mendengarkan curhat mereka. Tidak mau repot mengantar mereka kesana kemari. Tidak mau repot harus bersikap manis kepada mereka.
Karena pekerjaan Yunho sendiri sudah cukup repot.
Tapi sekarang dengan Jaejoong... Yunho merasakan kepuasan seks yang sebelumnya belum pernah ada.
Dengan perlahan Yunho menoleh ke arah Jaejoong. Entah kenapa posisinya... membingungkan. Jaejoong berbaring memunggungi Yunho sementara ada selimut terhampar di antara tubuh mereka. Tubuh Jaejoong yang polos tidak tertutupi apapun. Posisinya meringkuk seperti bola. Kedua lengannya memeluk perutnya. Dia berbaring di pinggir ranjang.
Yunho langsung menarik selimut yang berada di antara dirinya dan Jaejoong. Satu pemandangan terpampang di depannya.
Yunho langsung membeku.
'Tidak mungkin... Ini tidak mungkin.'
Yunho langsung terduduk. Diperhatikannya lagi pemandangan di depannya. Dia tidak percaya ini terjadi. Tiba-tiba saja dia merasa dibohongi dan dicurangi.
"Bangun, noona. Jelaskan apa ini."
.
~ TBC ~
Author's zone
Dec.26.2011
.
Yak yak yak! Cukup :))
Kalau banyak yang review, chapter depan akan lebih banyak lagi YunJae moment... dan NC tentu saja :D
Please look forward for the next chapter.
.
December 26th 2003 - December 26th 2011
.
HAPPY 8th ANNIVERSARY to Tong Vfang Xin Qi.
HAPPY 8th ANNIVERSARY to Dong Bang Shin Ki.
HAPPY 8th ANNIVERSARY to Rising Gods From The East.
HAPPY 8th ANNIVERSARY to Cassie/Big East/Phoenix around the globe d^_^b
.
TVXQ is different. They're special. They definitely set the standar high. They're LEGEND
.
The day these 5 Gods return all together on one stage, it will be a day that goes down in history.
.
I will wait till the day they get back together. No HoMin, no JYJ. Just TVXQ5.
.
Let's hope to the end. Always Keep TVXQ5. Always Keep The Faith.
.
Maaf author nyampah :D
Review please ~~~
.
_nina_
