Listen to my story. This maybe our last chance.


.

Warning : AU, OOC?, typo(s), dll.

.

This is Our Story

ariadneLacie

.

BLEACH by Tite Kubo

Final Fantasy X by Squaresoft (sekarang Square Enix)

.


Chapter IV

"The Dance."


Hari ini Ichigo akan pergi dari Rukongai bersama dengan Renji, Rangiku, Grimmjow dan juga Rukia. Kata Renji, mereka tidak akan kembali lagi ke Rukongai, karena itu lebih baik menyelesaikan segala urusan yang ingin dilakukan sebelum pergi. Tetapi Ichigo merasa ia tidak ada keinginan lain selain bertemu dengan Rukia secepat mungkin. Bahkan ia sudah tidak mempermasalahkan soal mimpinya semalam.

"Yo! Kau sudah bangun!" sapa Renji pada Ichigo yang baru saja keluar kamar. Renji sedang meminum sesuatu yang mengeluarkan kepulan asap. Mungkin itu teh.

"Hmm... ya. Apa benar kita tidak akan kembali lagi ke Rukongai?" tanya Ichigo memastikan.

"Ya, akan sulit untuk kembali. Karena setelah ini kita melakukan perjalanan yang sangat panjang. Kau sudah siap berangkat sekarang?" tanya Renji.

"Ya, tentu. Ayo kita pergi," kata Ichigo. Lalu Renji pun meletakan gelasnya dan berjalan menuju pintu depan, diikuti oleh Ichigo.

Suasana Rukongai jadi lebih sepi sekarang. Tidak ada anak-anak yang sedang bermain di luar, dan tidak ada ibu-ibu yang sedang berbincang di depan rumah. Yang ada hanya Rangiku, sedang menatap lurus ke arah pintu kuil di depan sana.

"Sepertinya semua orang sudah pergi ke pelabuhan..." kata Renji.

"Hah? Semua? Memangnya kita ngungsi?" tanya Ichigo heran.

"Tentu saja tidak, mereka melepas kepergian Rukia," kata Rangiku. "Nah, itu dia! Rukia, bisa cepat sedikit?" seru Rangiku pada seseorang yang baru saja keluar dari dalam kuil. Ternyata itu Rukia.

"Ah, ya! Maaf membuat lama menunggu..." kata Rukia sambil berlari kecil ke arah mereka. Hiasan rambutnya menimbulkan bunyi krincing-krincing.

"Kau ini..." kata Rangiku sambil mengacak-acak rambut Rukia.

"Baiklah, ayo sekarang kita pergi. Kau juga ikut, Ichigo," kata Renji. Ichigo pun mengangguk dan segera mengikuti mereka, berjalan keluar desa.


Suasana pantai sangatlah ramai. Benar kata Renji, sepertinya semua orang desa berkumpul disini sekarang.

"Kita akan naik kapal yang itu, cukup keren kan?" kata Renji sambil menunjuk sebuah kapal yang cukup besar di ujung pantai. Kapal tersebut berwarna hitam, layarnya yang berwarna putih mengembang tertiup angin.

"Hei, ayo kita cepat berangkat!" seru seseorang. Ia berlari kecil ke arah mereka sambil melambaikan tangan. Ternyata itu Grimmjow.

Setelah cukup dekat, Grimmjow berhenti. Ia menatap Ichigo dingin. "Kau juga ikut?" tanyanya sewot.

"Tentu saja, Grimm. Sudahlah, ayo kita cepat pergi," kata Renji. Buru-buru menengahi mereka, mungkin saja terjadi pertengkaran lagi.

Selama berjalan menuju kapal, warga desa tak henti-hentinya mengucapkan selamat pada Rukia. Tetapi tidak sedikit juga yang menangis. Ichigo heran, mengapa mereka harus menangis? Apakah karena Rukia tidak akan kembali untuk waktu yang lama?

Dan akhirnya mereka pun sampai di atas kapal. Ichigo dapat merasakan angin sepoi-sepoi bertiup, dan kapal tersebut pun bergoyang.

"Selamat tinggal!" seru Rukia. Ia melambai pada warga desa sambil tersenyum manis. Warga desa pun balas melambai, lalu kapal tersebut pun mulai melaju.


Selama di kapal, Ichigo sama sekali tidak bisa diam. Ia sibuk melihat-lihat isi kapal tersebut, seperti tidak pernah naik kapal sebelumnya. Tapi sebenarnya itu memang benar. Kapal pertama yang ia naiki adalah kapal Senna, dan yang kedua adalah ini.

"Wah, kudengar Rukia-san anak dari Kuchiki Byakuya-sama ya?"

"Hebat! Ternyata anda adalah keluarga bangsawan!"

Ichigo melihat kerumunan yang sedang mengerumuni Rukia itu dengan tatapan heran. Siapa itu Kuchiki Byakuya?

"Kuchiki Byakuya adalah pendeta yang sebelumnya. Ia berhasil mengalahkan menos. Dan ia adalah ayah Rukia," kata Renji menjelaskan, seperti mengetahui apa yang Ichigo pikirkan.

"Hoo..." jawab Ichigo. Lalu ia melihat bahwa kerumunan itu pun bubar, meninggalkan Rukia sendiri di ujung dek. Ichigo pun menggunakan kesempatan ini untuk bicara lebih banyak dengan Rukia. "Hei, aku kesana dulu ya!" bisiknya pada Renji. Renji hanya geleng-geleng melihat kelakukan Ichigo.

"Sudah kubilang... padahal jangan terlalu berharap dengan Rukia..." gumamnya.


"Hei," sapa Ichigo pada Rukia yang sedang menikmati angin laut. Rukia menengok ke arah Ichigo dan tersenyum.

"Hei juga," katanya.

Mereka pun terdiam. Keduanya sama-sama memandang laut yang seakan tanpa ujung, sambil menikmati sejuknya angin laut. Tetapi tiba-tiba Rukia bertanya, "kau dari Karakura kan?"

"Ya, kenapa?" jawab Ichigo antusias. Merasa senang karena Rukia yang mengajak bicara duluan.

"Kudengar kau adalah pemain sepak bola yang sangat hebat disana," kata Rukia.

"Wah, kau percaya dengan hal itu? Hebat! Padahal Renji saja tidak percaya..." kata Ichigo, nyengir ke arah Rukia.

"Tentu saja aku percaya," balas Rukia. "Bahkan aku mendengar... kalau Karakura adalah kota yang sangat hebat. Stadion-nya sangat besar, pasti akan selalu penuh jika ada pertandingan... dengan hiasan lampu yang sangat indah..."

Mata hazel Ichigo membulat seketika. Ia tidak menyangka bahwa Rukia sangat mengetahui kota Karakura seperti apa. "Kenapa kau bisa tahu semua hal itu?" tanyanya.

"Seseorang pernah memberitahukannya padaku. Seseorang bernama Isshin," jawab Rukia. Matanya terlihat berbinar-binar. Seperti benar-benar sedang melihat kota Karakura di kejauhan sana. Sementara Ichigo semakin heran dan kaget.

"A-apa?" tanyanya lagi.

"Isshin adalah pelindung ayahku sewaktu menjadi miko. 10 tahun yang lalu aku bertemu dengannya. Ia menceritakan kota Karakura padaku," kata Rukia.

"Tapi itu tidak mungkin!"

"Kenapa?"

"Karena ayahku... meninggal 10 tahun yang lalu..."

Rukia terdiam. Lalu wajahnya berubah menjadi sedih. "Maaf..."

Ichigo menghela napas, lalu kembali memandang laut. "Tidak apa-apa."

"Kenapa ia bisa meninggal?" tanya Rukia.

"Entahlah. Ia pergi ke pantai waktu itu... tetapi tidak pernah kembali. Tidak ada seorang pun yang berhasil menemukannya," kata Ichigo. Matanya berubah menjadi sendu. Sepertinya ia sangat sedih.

"Tetapi, itu adalah saat dia datang kemari!" seru Rukia. "10 tahun yang lalu... dia datang. Dan ayahku pergi melakukan perjalanan. Aku sangat ingat tanggalnya!"

Ichigo menatap Rukia nanar. Mungkinkah kejadiannya sama seperti yang dialaminya?

"Lagipula... sekarang kau juga ada di sini, kan?" lanjut Rukia sambil tersenyum. Lalu Ichigo pun tersenyum.

"Ya... kau benar."


Matahari sudah mulai terbenam. Langit berubah warna menjadi jingga, begitu juga laut. Pemandangan sunset sangatlah indah, tetapi tidak akan indah jika kau menyaksikannya di tengah reruntuhan sebuah desa.

Desa Unagiya baru saja hancur oleh Menos. Tepat siang tadi, hanya beberapa jam yang lalu.

"Aku... aku pasti pasti akan mengalahkan menos. Pasti," gumam Rukia. Wajahnya sangat penuh dengan kemarahan, dan juga kesedihan. Ia dapat mendengar berbagai suara tangisan dari penjuru-penjuru desa.

Ya, desa ini memang tidak hancur sepenuhnya. Bahkan ada yang selamat. Tetapi, kerusakannya memakan sangat banyak korban jiwa.

"Maaf, saya adalah miko dari Rukongai, Kuchiki Rukia. Jika tidak ada miko yang lain, saya akan melakukan konsou," kata Rukia pada seseorang yang baru saja datang untuk menyambut kapal mereka.

"Syukurlah! Kami takut jika mereka tidak segera di-konsou, maka mereka akan berubah menjadi hollow. Silahkan, Rukia-sama!" seru orang tersebut. Menunjukan jalan pada Rukia. Romobongan mereka pun segera berjalan mengikuti orang tersebut.

Sepanjang perjalanan, Ichigo merasakan bahwa hatinya sangat sakit. Apakah Karakura juga seperti ini ketika menos menyerang waktu itu ya? Semuanya porak-poranda. Ichigo hanya dapat melihat puing-puing rumah, tidak ada yang utuh sama sekali.

"Sudah sampai. Semua mayat sudah diletakkan disana," kata orang tersebut. Menunjuk ke arah laut. Ichigo dapat melihat sesuatu yang terlihat seperti guling berjejer di pantai. Sepertinya itu mayat, korban dari kejadian ini.

"Ya, terima kasih," kata Rukia. Lalu ia pun berjalan mendekati barisan mayat tersebut. Ini lebih terlihat seperti pemakaman.

"Apa yang akan Rukia lakukan? Lagipula, apa itu konsou?" tanya Ichigo pada Rangiku.

"Hhh... aku mulai heran padamu. Sepertinya kau benar-benar tidak tahu apa-apa ya? Konsou itu pengiriman. Setiap miko memiliki kemampuan untuk mengirim arwah orang yang mati, ke alam arwah. Jika tidak dikirim, mereka akan berubah menjadimonster, dan menyerang orang yang hidup," jelas Rangiku. Ichigo hanya mengangguk.

"Hei, diam dan saksikan ini," kata Renji, sambil menyenggol Ichigo. Ichigo pun menurut dan melihat apa yang Rukia lakukan.

Rukia berdiri di tengah mayat-mayat tersebut, membelakangi matahari terbenam. Tongkatnya ia genggam erat, lalu ia menghela napas dalam-dalam. Setelah itu, ia mulai menari.

Tarian yang sangat indah, rok merah-nya melambai-lambai, begitu juga dengan kimono panjangnya. Dengan latar belakang matahari terbenam, siluet-nya sangatlah cantik. Lalu Ichigo menyadari, ada sesuatu yang keluar dari badan masing-masing mayat. Sebuah cahaya berbentuk bola, seperti jiwa seseorang. Bola-bola cahaya tersebut perlahan mengelilingi Rukia, lalu Rukia pun memutar tongkatnya, dan bola-bola cahaya tersebut ikut berputar.

Ichigo hampir tidak berkedip menyaksikan kejadian ini. Entah, kejadian ini... sungguhlah mistis. Ia tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata. Dan Rukia pun mengakhiri tariannya dengan mengayunkan tongkatnya ke bawah, dan bola-bola cahaya tersebut terbang menjauh ke langit. Tetapi Ichigo dapat melihat bahwa Rukia menangis.

"Apakah menjadi seorang miko benar-benar… sulit?" gumam Ichigo.

"Tentu saja," kata Rangiku. Ichigo menoleh. "Tetapi Rukia sudah memutuskan untuk menjadi seorang miko, karena itu yang bisa kita lakukan hanyalah mendukungnya. Sampa akhir."

"Sampai akhir? Maksudmu?" tanya Ichigo. Tiba-tiba semua orang yang berada di situ menengok ke arah Ichigo.

Rangiku menggeleng. Lalu ia pun berjalan mendekati Rukia.

"Tentu saja sampai Rukia mengalahkan menos," kata Grimmjow. Ichigo hanya terdiam mendengar jawaban itu. Entah kenapa, ia merasakan firasat buruk.


To be Continued


Bales reviews :

GaemDictator SparKyu YeWon : iyep, itu mimpi ichi XD Okeoke~

Zanpaku nee : Yah, jangan terlalu berharap... ya soalnya gitu. Nanti juga tahu deh~^^

Yuina Valkyrion : Hahaha~ iya, bener. Ruki hanya bisa didapat kalo berusaha! .d Nggak, yang ada pilem-nya tuh FF VII doang... tp sebenernya ak ingin FF X juga ada pilemnya .

Nakamura Chiaki : Wah, saya juga sebenernya bingung (?) Bukan, yang mimpi tu cuma scene waktu ichi ketemu ayahnya, senna sama ruki. Tapi Ichi emang beneran ketemu Ruki. Mimpi itu cuma yang italic doang hurupnya.

Thanks for all of your reviews!

Mind to review?