Pairing : KyuMin / Kyuhyun-Sungmin
Rate : M untuk chapter kedepannya
Genre : Sci-fi, Romance
Warning : Miss Typo(s), GS (Gender Switch)
Disclaimer : Ini adalah Remake dari novel berjudul sama milik Sherrilyn Kenyon.
A/N: Seperti yang sudah saya katakan diatas ini adalah versi remake dari novel milik Sherrilyn Kenyon, saya hanya merubah castnya dan beberapa hal untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Tujuan saya membuat remake ini, tak lain hanya ingin merubahnya kedalam bentuk fanfic dengan cast favorit saya dan juga berbagi pada teman-teman yang belum berkesempatan untuk membaca novel aslinya. Jika kalian menyukai cerita remake ini, berterima kasihlah pada Mbak Sherrilyn telah menciptakan novel (yang menurut saya) bagus ini, dan juga kalian bisa memberi dukungan kepada penulis aslinya dengan cara membeli bukunya. Selamat menikmati~~
.
.
.
Bagian 3
Syn berlari mendahului mereka.
Sungmin tidak bisa bernapas selagi ia berpegangan demi keselamatannya sementara Nemesis berlari ke ruang kedap udara yang mereka masukan ke sisi kapal.
Begitu mereka naik kapal mereka, Syn mengangkat pengungkit dan menutup kapal serta menyingkirkan jembatan yang menghubungkan mereka ke pesawat yang satu lagi. "Aman!"
Tapi mereka belum aman dan Sungmin mengetahuinya. Ledakan kapal Moonsuk akan menghantam mereka kuat-kuat. Puing-puingnya masih bisa membunuh mereka.
Seseorang mempercepat laju kapal mereka. Sensasi yang ditimbulkan sudah cukup untuk menghempaskan Nemesis ke dinding dan membuatnya menggerutu. Namun ia tidak mengendurkan dekapannya di tubuh Sungmin. Yang lebih mengejutkan lagi, ia menjaga Sungmin agar tidak terluka sewaktu ia menghantam dinding baja itu.
Dengan wajah muak Syn membanting helmnya kuat-kuat ke lantai hingga terpental hampir satu meter sebelum menggelinding di lorong. Ia memelototi mereka. "Aku benar-benar membenci kapal ini." Ia mulai menyusuri koridor.
Dekapan Nemesis ditubuh Sungmin bertambah erat. "Kau mau ke mana?"
"Minum dan membunuh Jongsuk... urutannya tidak harus begitu."
Sungmin merasakan otot-otot di lengan Nemesis menegang sebagai tanggapan. Tapi pria itu tidak berkata apa-apa lagi ketika berjalan menyusuri koridor yang berlawanan dengan Syn. Sungmin bergidik saat tersadar bahwa Nemesis sedang memeluknya.
'Aku berada di pelukan makhluk paling berbahaya yang pernah dilahirkan...'
'Atau ditelurkan.'
Makhluk yang sekarang sedang diburu oleh seluruh pemerintah yang ada. Nemesis adalah segalanya yang Sungmin benci di seluruh semesta ini. Kasar. Kejam. Tidak mengenal belaskasihan. Namun ia tidak bisa membenci Nemesis dan itu sama sekali tidak masuk akal.
Mungkin karena Sungmin tidak pernah menyangka orang seperti Nemesis bisa berbuat baik... atau berteman dengan seseorang sebaik dan semurah hati seperti Syn.
Setahu Sungmin Nemesis tidak pernah menyelamatkan siapa-siapa.\
Sebelum Sungmin.
"Mengapa kau menyelamatkanku?"
Nemesis tidak menjawab. Ia malah membawa Sungmin masuk ke sebuah kamar yang berfungsi sebagai klinik. Peralatan medis dan botol obat-obatan tertata rapi di lemari kaca yang letaknya tidak jauh dari sebuah tempat tidur besar. Bau antiseptik terasa menyengat di hidung Sungmin. Segala sesuatunya tampak tampak putih bersih dan rapi, perbedaan yang menghibur dengan kekotoran para penculiknya.
Sungmin menoleh kepada Nemesis takut pria itu akan tetap membunuhnya. Tapi sepertinya Nemesis mengabaikannya, setidaknya semampu mungkin mengingat fakta bahwa Sungmin sedang berada dalam pelukannya.
Nemesis membaringkan Sungmin dengan lembut di tempat tidur, kemudian beranjak untuk mengambil selimut hangat dari laci di bawah lemari. Dengan kelembutan yang tidak pernah Sungmin hubungkan dengan seorang pembunuh kejam, Nemesis menyelimutinya.
Sungmin memperhatikan Nemesis dengan cermat, bahkan sampai pada bagaimana cahaya terpantul dari helmnya yang berbentuk aneh dengan kemilau yang menyeramkan. Kelihatannya Nemesis lebih besar dari manusia biasa, lebih tinggi, lebih kuat. Kekar. Sungmin tidak tahu dari spesies mana Nemesis berasal, tap setidaknya ia humanoid.
Sungmin mengamati pertunjukan otot-otot kekar yang dibalut oleh baju tempurnya saat Nemesis menekan sebuah panel di sebelah pintu dan membuka lemari.
Siapa pria ini?
Itulah pertanyaan yang bernilai triliunan dan jika Sungmin mengetahui jawabannya, ia akan menjadi orang yang paling kaya...
Atau mati sebelum ia bisa menarik napas lagi.
Tidak ada seorang pun yang menjaga identitasnya dengan lebih ketat dari makhluk ini.
Dan Sungmin harus mengakui tidak ada yang lebih seksi dengan pria dengan penampilan fisik yang begitu gagah dan wajah yang tersembunyi sepenuhnya. Yang masa lalunya menjadi sebuah misteri besar bagi seisi semesta. Seorang pemberontak total yang hanya mematuhi hukumnya sendiri.
Inilah makhluk paling berbahaya yang pernah dilahirkan dan tanpa berkata apa-apa Nemesis melepaskan borgol Sungmin dari pergelangan tangannya yang memar dengan kelembutan yang tidak bisa di pahami.
Berbagai fantasi Sungmin di penuhi dengan berbagai kemungkinan. Wajah Nemesis tentunya serasi dengan bagian dirinya yang lain.
'Jangan sok tahu. Bisa jadi dia seorang Pigarian bermata tiga dan bergigi tonggos. Atau salah seorang dari spesies reptil yang bisa berdiri tegak.'
Ahh. Tubuh indah itu menjadi sia-sia saja...
'Hentikan, Sungmin. Kau membenci pembunuh. Kau membenci segala sesuatu tentang dirinya dan segala sesuatu yang dia bela.
Dia sama saja dengan sampah penegcut yang membunuh ibumu saat dia berusaha melindungimu... Sama dengan sampah yang menembak seorang gadis berusia delapan tahun dengan darah dingin dan meninggalkannya agar mati.'
Itu benar. Sungmin tidak tahu kejahatan apa saja yang telah dilakukan oleh pria ini hanya demi selembar cek. 'Setiap nyawa memiliki harganya...'
Nemesis membalikkan badan, membawa sebuah baju tempur hitam yang serupa dengan baju tempur yang dikenakannya dan Syn.
Sungmin bisa merasakan pandangan pria itu tertuju kepadanya, rasanya nyaris senyata sentuhan. Nemesis ragu disebelah Sungmin seolah tidak yakin akan dirinya sendiri.
'Ohh, ayolah, Sayang. Dia bukan ragu.' Membayangkan seorang pembunuh yang sangat berbahaya merasa malu...
Menggelikan.
Sungmin menebak bahwa Nemesis sedang menaksir ukuran tubuhnya untuk lubang makam.
Sungmin mengira Nemesis akan bicara, tapi pintu terbuka dan Syn masuk, membawa sebotol alkohol Tondarian yang sudah setengah kosong. Minuman yang sangat kuat, dilarang disebagian besar planet.
Tidak tahu menahu tentang apa yang ia sela, Syn mengambil baju tempur dari genggaman Nemesis. "Woobin memintaku memberitahumu bahwa lain kali kalau dia bilang lari, kita harus meninggalkan korban di kapal dan keluar. Rasanya aku sependapat."
Sungmin masih merasakan Nemesis masih memperhatikannya.
"Kau yang tidak lari." Nemesis mengingatkan Syn.
"Oh benar, aku, ya?" Syn menenggak isi botolnya. "Sejak kapan kau mendengarkanku? Aku ini idiot."
Nemesis tidak menanggapi komentar itu. "Apa Jongsuk masih hidup?"
"Untuk sementara. Tapi hanya karena bajingan kecil itu bergerak lebih cepat dariku saat aku kelelahan."
Sentakan tajam memberi tahu Sungmin bahwa kapal mereka sedang keluar dari hyper-ruang. "Apa kalian akan mengantarku pulang?" tanyanya kepada mereka.
Kesunyian yang menyeramkan menjawab Sungmin.
Akhirnya, Nemesis bicara. "Segera."
Sebelum Sungmin berkedip, Nmesis sudah merebut botol alkohol dari genggaman Syn dan pergi.
"Hei. Dasar bajingan keparat..." Syn memelototi pintu yang sudah ditutup sebelum dengan menantang ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari kantongnya dan menenggak alkohol itu lagi. Sesuatu yang Sungmin kagumi karena ia yakin Nemesis akan membunuh Syn kalau melihatnya.
Entah pria ini lebih berani dari semua makhluk hidup... Atau lebih bodoh.
.
.
.
Kyuhyun mengunci pintu dibelakangnya sebelum ia bersandar ke dinding dan menghela napas panjang penuh kelegaan karena sudah menjauh dari Sungmin. Ia sudah cukup mengenal kemampuan pengobatan Donghae sehingga beranggapan bahwa sang penari akan di berikan obat penenang sehingga tidak akan pergi ketempat-tempat yang tidak mereka inginkan.
Tapi bayangan tubuh ramping Sungmin yang dibalut oleh gaun tidur tipis yang terkoyak, membakar Kyuhyun. Meskipun payudara Sungmin kecil, bentuknya sama indah dan mengundangnya dengan bibirnya. Sekarang pun Kyuhyun bisa merasakan Sungmin di dadanya. Merasakan lengan Sungmin yang kurus memeluknya selagi ia menggendong wanita itu.
Kyuhyun rela menyerahkan segalanya demi membuat wanita itu berbuat seperti itu ketika mereka sama-sama telanjang...
Tubuhnya menegang sehingga ia harus berusaha keras agar tidak berjalan terpincang-pincang. Dan kalau dipikir lagi, ia keliru jika ia sudah selamat dari penyiksaan yang sesungguhnya dari masa lalu.
Itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ini.
'Yang benar saja...'
Sejujurnya, Kyuhyun lebih suka jika Sungmin menggenggam bagian tertentu dari anatominya yang sedang menguras seluruh darah yang dialirkan oleh otaknya sebelum ia kehilangan sisa-sisa akal sehatnya.
'Kau terkendali.'
Ya, katakan itu pada penisnya. Penisnya sedang tidak mendengarkan saat ini.
Memaksa benaknya untuk memikirkan hal lain, ia membuka helmnya yang panas agar ia bisa bernapas dan berusaha menenangkan diri. Ia membebaskan rambut coklatnya yang lembap dari kungkungan helm.
Sambil menghela napas lelah, ia membuang botol alkohol ke tempat sampah, lalu mengeluarkan kacamata hitam dari dan pergi untuk bergabung dengan rekan-rekannya di ruang kendali di bagian depan kapal.
Kim 'Dancer' Woobin dan Lee 'Darling' Jongsuk, sedang bersenda gurau saat Kyuhyun masuk.
"Hey, Jongsukie," kata Woobin dengan nada mengejek. "Coba lihat... pria itu melepaskan kedoknya. Menurutmu dia mau wajahnya dilihat atau dia sedang mencari-cari alasan untuk membunuh wanita itu? Apa taruhanmu?"
Jongsuk mendengus." Aku tidak mau bertaruh, Troll. Aku sudah berutang bayaran dua minggu kepadamu. Kalau bertaruh lagi, bisa-bisa aku bekerja hanya untuk membayarmu."
Woobin tertawa licik. Tapi kalau dipikir lagi, dengan tinggi hampir dua ratus sepuluh sentimeter, ia bisa membuat banyak orang kesal dan tidak mendapat balasan. Apalagi dengan orang-orang seperti Jongsuk, yang hanya setinggi ketiaknya.
Khas pria Andarion. Woobin berasal dari ras yang paling brutal. Ras yang mengutamakan kekuatan fisik dibanding keindahan fisik. Dengan rambut hitamnya yang ia tata dengan berantakan, wajahnya sempurna dan tajam. Iris putihnya dikelilingi oleh lingkaran merah darah. Tapi Kyuhyun tidak peduli seperti tampangnya. Woobin memiliki kekuatan yang murni dahsyat dan merupakan seorang pakar teknologi yang brilian.
Jongsuk, sebaliknya , hampir terkesan ringkih jika dibandingkan dengan rekannya itu. Sementara Woobin kekar dan besar seperti pohon, Jongsuk kurus dan bertulang halus. Rambut pirang lurus terurai di sebelah kiri wajahnya, menutupi bekas luka mengerikan yang tidak pernah mereka bicarakan.
Mengabaikan mereka selagi mereka beradu mulut, Kyuhyun meletakan helmnya di lantai dan duduk di kursi pilot. Ia memeriksa pengaturan mereka, tahu tidak ada yang perlu dikoreksi. Woobin dan Jongsuk merupakan yang terbaik. Kalau tidak, mereka tidak akan ada di sini.
Mereka pasti sudah mati.
"Apa kau mandi dengan darah Moonsuk dan Jungyeon?" tanya Jongsuk kepada Kyuhyun.
Kyuhyun menatap Jongsuk dengan ekspresi menuduh. "Aku pasti sudah melakukannya, kalau seseorang tidak tergesa-gesa meledakkan bomnya."
"Ya, Jongsukie. Kau harus merubah kebiasaanmu melakukan peledakan secara tergesa-gesa."
Jongsuk melempar sebilah pisau ke kepala Woobin.
Woobin menangkapnya dan tertawa sebelum melemparkannya lagi kepada Jongsuk yang menangkapnya dengan sama mudahnya. "Kalau kau terus seperti itu, Manusia, kau akan menyinggung perasaanku."
"Kau tidak punya perasaan, Andarion."
"Tidak benar. Jika di bandingkan dengan Kyuhyun aku sama sensitifnya dengan seorang wanita."
"Tuhan pun tahu kau mulai merengek seperti seorang wanita." Kyuhyun mengusap-usap mata kanannya yang terlindungi dibalik kacamata hitam sementara pikirannya kembali tertuju ke misi yang baru saja mereka tuntaskan.
Keadilan telah di tegakkan secara cepat dan dingin. Besok Donghae akan mengabarkan kematian Moonsuk kepada klien mereka. Itu memang tidak bisa menghidupkan putra sang senator, tapi bisa memastikan Moonsuk tidak memenggal kepala anak lain dan mengirimkan kepalanya kepada sang ibu.
Itu saja sudah membuat Kyuhyun berharap ia memiliki waktu lebih banyak dengan si keparat.
Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Moonsuk sudah mati dan mereka akan mendapatkan bayaran.
Merasa sedih karena sang senator yang malang dan suatu duka yang tidak bisa ia pahami, Kyuhyun melayangkan pandangan ke kegelapan yang mengelilingimereka di luar jendela. Kepedihan sang senator karena telah kehilangan masih menghantuinya saat ia berusaha membayangkan orangtua yang begitu menyayangi putranya. Para dewapun tahu tidak seorangpun dari orang tua Kyuhyun, baik kandung maupun angkat, yang pernah memperdulikannya.
Ia agak terhibur mengetahui bahwa tidak semua orang itu dingin dan tak berperasaan seperti yang sudah ia pelajari. Bahwa ada orang-orang seperti Donghae dan sang senator yang bisa menyayangi dan menangisi kematian anak yang telah mereka hadirkan ke dunia.
Ditengah kehampaan tak bercahaya yang Kyuhyun pandangi, bayangan Sungmin yang sedang menari balet melintas di depan matanya, sama sekali tidak membantunya meredam gairahnya.
Berengsek, mengapa ia merasa seperti ini?
Tapi kalau dipikir lagi Sungmin memang selalu bisa menggugah indra-indranya. Setiap kali ia melihat Sungmin menari, wanita itu menyentuh suatu bagian dalam jiwanya−suatu bagian dari dirinya yang ingin ia anggap sudah lama mati dan terkutuk. Sungmin, hanya Sungmin, yang membuatnya merasakan sesuatu selain kehampaan yang dingin dan mengerikan.
Sungmin merupakan perwujudan dari keindahan dan kelembutan.
Kyuhyun kembali mendengus karena kebodohannya sendiri. Ia tahu lebih dari itu. Tidak ada seorang pun yang baik dan tidak ada seorang pun yang berusia di atas sepuluh tahun yang tidak pernah terluka. Hidup itu brutal dan menjadikan semua orang korbannya.
Dan memikirkan Sungmin sama sekali tidak membantu meringankan suasana hati Kyuhyun yang buruk.
Woobin berbalik dari kursinya. "Omong-omong tentang wanita... siapa pelacur yang membuat kalian hampir tewas?"
Kyuhyun mengertakan gigi saat amarah melecutnya. Ia selalu membenci istilah yang merendahkan wanita itu. Anehnya, ia bahkan tidak mengetahui alasannya. Hanya saja menghina seseorang seperti itu rasanya tidak benar. Sesuatu yang tidak masuk akal kalau dikaitkan dengan fakta bahwa ia membunuh orang demi uang.
Ya, Kyuhyun memang gila.
Berdeham, Kyuhyun menjaga agar nada suaranya tetap tenang dan datar. "Lee Sungmin, si penari."
Woobin bersiul pelan dengan penuh kekaguman. "Apa yang dia lakukan dengan para pecundang itu?"
Kyuhyun menatap Andarion itu dengan heran ketika mendengar pertanyaan yang sangat tolol sehingga tidak perlu dijawab.
"Hei, Bodoh," kata Jongsuk dengan sinis. "Menurutmu apa yang dia lakukan dengan mereka? Mengajari mereka balet?"
Woobin menyipitkan matanya kepada Kyuhyun. "Katakan lagi kepadaku mengapa aku tidak boleh membunuhnya?"
"Kau takut berurusan dengan bom."
Woobin mengumpat. "Suatu hari kelak aku akan mengatasi ketakutanku dan kalau sudah..."
"Dengan bijaksana aku akan berhenti mengganggumu." Jongsuk mengedipkan mata padanya.
Kyuhyun memutar bola matanya ketika mendengar ejekan mereka yang tiada henti. Meeka berdua seperti kakak-beradik yang tidak akur. Tapi terlepas dari gertakan-gertakan mereka, mereka loyal terhdap satu sama lain sebagaimana mereka loyal terhadap Kyuhyun.
Itu saja sudah membuat mereka tak ternilai.
Mengabaikan mereka, Kyuhyun memeriksa kembali jalur mereka, lalu membuka jurnal elektronik dan mulai membuat catatan untuk misi yang selanjutnya.
Satu jam kemudian, mereka mulai merapat kestasiun mereka yang aman, stasiun yang Kyuhyun bangun sembilan tahun lalu saat ia meninggalkan League. Baru dalam empat tahun belakangan ini, tempat itu berkembang menjadi perkumpulan pekerja yang dengan bangga mematuhi peraturan barunya.
Melindungi orang yang tidak berdosa dan membunuh para hama.
Sederhana dan elegan−akhirnya itu menjadi peraturan yang membuat Kyuhyun hidup, atau mati.
Donghae, yang juga memiliki nama panggilan Syn, menjadi orang yang menamai operasi mereka. Sentella. Kata yang berarti kuorum penjaga dalam bahasa ibu Donghae. Dan itulah mereka, penjaga untuk dunia yang lebih baik.
League mengawasi kesatuan galaksi-galaksi dan keteraturan dari pemerintahannya. Sentella mengawasi League dan pembunuh independen lainnya yang dipekerjakan.
Akhirnya, orang-orang yang tidak berdosa memiliki pembela. Dan mereka menanggapi panggilan tersebut dengan serius. Setiap kali seorang pembunuh atau politisi melewati batas, mereka akan berhadapan dengan Sentella.
Yang lebih penting lagi, mereka akan berhadapan dengan Kyuhyun.
Nemesis.
Donghae bergabung dengan mereka di anjungan kapal, melaporkan bahwa Sungmin tidur setelah diberi obat penenang. Kyhuyun memakai helmnya lagi sebelum kembali menemui pasien mereka.
Setelah mendarat, Kyuhyun menggendong Sungmin dari kapal. Ia membawanya ke lantai atas pusat komando mereka di mana ia menyuruh Victoria, salah satu perawat mereka, untuk menjaga Sungmin sampai wanita itu bangun.
Victoria bersemangat begitu ditugaskan untuk merawat orang terkenal. Pandangannya terkesan gugup saat ia melihat "Nemesis," ia berlari ke ruang persediaan untuk mencari pakaian tidur bagi penari bertubuh mungil yang berada dalam dekapan Nemesis.
Menggelengkan kepala karena tergesa-gesaan Victoria yang berlebihan untuk menghindarinya, Kyuhyun membawa wanita berharga yang ia gendong ke salah satu ruang rawat dan membaringkan Sungmin dengan hati-hati di tempat tidur yang besar. Ia menyelimuti Sungmin dengan selimut ekstra.
Sewaktu Kyuhyun menjauh dari tempat tidur, ia mendengar Sungmin berbisik dalam tidurnya. Terpesona oleh suara merdu Sungmin yang hanya pernah ia dengar dalam program wawancara, ia berbalik untuk melihat sosok Sungmin yang sedang terlelap tenang untuk terakhir kalinya.
Bagaimana mungkin seseorang tampak begitu cantik dan mungil?
Kyuhyun berdiri di sebelah Sungmin, terkagum-kagum akan wajahnya yang lembut, hidungnya yang mungil, bibir M shape-nya yang merah, dan mata foxy yang menggoda saat sedang terbuka. Rambut panjangnya yang berwarna hitam legam terurai lembut di sekeliling wajah cantik dan bahunya.
Sungmin sungguh elok.
Kyuhyun menelusuri garis pipi Sungmin yang memar, ingin membunuh Moonsuk lagi karena sudah menyakiti wanita ini. Tapi yang terutama, ia tergoda untuk melepaskan sarung tangannya dan merasakan kelembutan yang ia tahu dimiliki oleh kulit Sungmin yang tak bercela.
'Kau tidak membutuhkan kelembutan'
Itu benar. Seks memiliki resiko yang besar dan karena keintiman merupakan konsep yang asing baginya Kyuhyun cenderung menghindarinya. Ia tidak suka telanjang dan melucuti senjatanya di dekat siapa pun. Pelepasan selama beberapa menit tidaklah sepadan dengan nyawanya.
Setidaknya sampai sekarang...
Mungkin Sungmin bisa memberi Kyuhyun kepuasan yang sepadan dengan kepalanya.
Kyuhyun merasakan kehadiran Victoria saat si perawat kembali. Mendongak, ia menatap mata Victoria yang memancarkan pertanyaan.
Setelah mengangguk singkat kepada Victoria, Kyuhyun meninggalkan ruangan dan beranjak untuk menghadiri rapat mereka. Itulah yang harus ia pikirkan. Bukan penari mungil yang nyaris menewaskan mereka.
Kyuhyun bertemu Donghae, Woobin, dan Jongsuk di lantai bawah, sudah tidak sabar menuntaskan urusannya dan mengantar Sungmin pulang. Ia tidak menyukai perasaan asing yang Sungmin bangkitkan. Ia sudah terbiasa mati rasa dan tidak terjamah. Itu membuatnya nyaman.
Woobin mengangkat sebelah alisnya dengan sinis. "Mengapa lama sekali?"
Kyuhyun tidak menjawab saat ia memimpin mereka ke ruang dewan di mana Heechul sudah duduk dan menunggu mereka.
Kyuhun tahu Woobin ingin mendesak lebih jauh, tapi rasa takut kehilangan nyawanya membuat pria itu diam ketika ia beranjak untuk duduk di seberang Heechul.
Ruangan itu di penuhi dengan sejumlah peta bintang dan juga dengungan dari beberapa alat pemantau mereka. Segalanya rapi, teratur, dan efisien, sebagaimana Kyuhyun menyukai hidupnya.
Kyuhyun berjalan ke monitor disebelah kirinya dan menampilakan tugas mereka. Ia mempersilahkan mereka duduk di meja yang merupakan monitor interaktif besar untuk arsip-arsip mereka, di mana mereka semua bisa mengulas jadwal mereka.
Sambil menunggu rekan-rekannya membuka helm dan duduk, Kyuhyun mencermati butir-butir yang terdaftar. Beban mereka berat, tapi itu bukan sesuatu yang baru, karena agaknya League dan yang lain menggangap mereka mengatasi hukum yang mereka tegakkan sendiri.
Kyuhyun melepaskan Helmnya dan duduk di kepala meja. Ia memandang kelompok kecil itu dengan tajam sebelum berbicara dengan Donghae. "Kirim pesan untuk Lee Kangin bahwa aku akan mengantar putrinya. Aku mau dia tahu Sentella tidak berhubungan dengan penculikan Sungmin."
Donghae mendengus sambil menulis dengan stilus di terminal yang bercahaya dari balik kaca meja. "Tidak ada perbuatan baik yang tidak dihukum." Itulah mantra yang terus-menerus donghae ulangi, Kyuhyun tidak menyalahkannya. Sepertinya itu selalu benar.
Donghae mengongak dan memandang Kyuhyun. "Semoga beruntung, mereka pasti menembakmu kalau kau membawanya pulang." Ia menulis catatan singkat lain di tabletnya, "Omong-omong, aku mendapat kabar dari salah seorang mata-mata kita bahwa Konsulat Gouran gempar dua hari yang lalu saat Probekein mengancam akan membunuh anak-anak para anggota dewan. Delapan kontrak dibuat untuk melaksanakannya. Enam anak ditemukan dalam keadaan termutilasi, termasuk putra Anggota Dewan Ji Sukjin yang kita lihat semalam. Akan kupastikan kabar tersiar bahwa kematian Moonsuk disebabkan oleh pembunuhan brutalnya terhadap anak itu."
Kyuhyun mengingat wajah Sukjin yang menderita dan sisa-sisa tubuh putranya. Ia terlalu bermurah hati saat membunuh Moonsuk. Andai saja mereka punya waktu lebih banyak...
"Selain Moonsuk, siapa lagi yang menerima kontrak Probekein?"
"Entahlah," jawab Donghae.
Kyuhyun mengusap-usap rahangnya. "Apa yang sedang dinegosiasikan antara Probekein dan Gouran?"
Ketika Donghae mengangkat bahu, Kyuhn bersedekap, "Syn seharusnya kau mengetahui semua kontrak yang berkaitan dengan pembunuhan itu. Berhentilah minum-minum dan cari tahu alasan pasti yang melatarbelakanginya juga nama dari kontrak yang terakhir dan siapa yang memegangnya. Menurutku pembunuhan-pembunuhan itu disebabkan oleh senjata baru yang sedang dibuat oleh Probekein. Bagaimanapun juga, kita harus mengetahuinya."
"Akan kuselidiki." Donghae cepat-cepat menuliskannya.
Kyuhyun menunggu sampai donghae selesai. "Sebaiknya kau segera memberi tahu Lee Kangin kalau putrinya aman. Aku yakin dia pasti ribut karena kehilangan putrinya."
Donghae berdiri, beranjak untuk mematuhi perintah terakhir Kyuhyun.
"Menurutku sebaiknya kita mengincar Emperor Kim Jongkook," kata Woobin, memperhatikan Donghae pergi. Kim Jongkook adalah pemimpin dan kepala bajingan dari Probekein. "Sudah saatnya kita menunjukan pada Probekein bahwa mereka tidak bisa terus menerus menggertak pemerintah lain. Kita harus memberi mereka pelajaran."
Kyuhun menggelengkan kepala. "Itu bukan keputusan kita. Sebaiknya kita mengurus kontrak kita. Tugas kita yang tertunda sudah terlalu banyak. Kita baru bisa menerima tugas baru beberapa minggu lagi. Saat ini, hanya masalah yang sangat mendesak yang bisa kita terima."
Heechul menghela napas kesal sambil mencondongkan badan kedpan untuk membaca monitor meja di mana ia sudah memperbesar layar untuk melihat jadwalnya. "Mengapa kita tidak menambah orang baru? Tentunya dari sekian banyak orang kita pekerjakan, ada beberapa yang pantas melaksanakan eksekusi fisik kontrak-kontrak itu."
Kyuhyun menatap Heechul dengan datar. "Apa kau bisa mempercayai mereka? Kita berlima berteman, sudah begitu selama bertahun-tahun. Loyalitas kita terhadap satu sama lain tidak perlu dipertanyakan lagi. Apa kau bersedia mempertaruhkan nyawamu ketangan orang asing?"
Heecul mendengus. "Tidak jika aku mengingat harga dari kepalaku... kurasa kau benar."
Tidak diragukan lagi. Heechul merupakan salah satu yang terbaik, tapi terkadang ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Tapi kalau diingat lagi, Kyuhyun memiliki kebiasaan buruk yaitu terlalu sering berpikir hingga kelelahan. Di antara mereka berdua, mereka menciptakan keseimbangan yang nyaris normal.
Donghae kembali beberapa menit kemudian dan duduk. Ia menatap mata Kyuhyun." Lee Kangin menunggumu. Dia juga mau bertemu denganku. Lucu, kita menjadi buronan yang diburu hingga mereka membutuhkan kita." Pandangannya segetir nadanya. "Kurasa Lee Kangin mau menawarkan kontrak untuk melindungi Sungmin."
Jantung Kyuhyun berdegup kencang, tapi ia menyembunyikan tanda-tandanya. "Apa kau sudah menjadwalkan pertemuanya?"
"Nanti malam."
Woobin berbalik dari kursinya, bibirnya mengulas seringai. "Kukira tugas kita yang tetunda sudah terlalu banyak hingga tidak bisa menerima tugas baru lagi."
Kyuhuyn memelototinya dengan sengit.
Woobin mengangkat bahunya untuk meminta maaf.
Puas karena Woobin tau sebaiknya ia tidak bertanya apa-apa lagi, Kyuhyun menujuk ke meja di mana jadwal mereka ditampilkan.
Seperti biasa, Woobin langsung mengeluhkan jadwalnya. "Mengapa aku selalu menjadi pendamping Jongsuk dan Heechul? Terutama Jongsuk. Kuharap kau mau mengajarinya cara membobol kode akses. Bajingan itu berbahaya."
"Aku, berbahaya? Terakhir kalinya kita bertugas bersama, kau menyalakan dua alarm. Untuk ukuran seorang pakar teknologi, kau payah sekali."
"Hati-hati, Manusia," Woobin memperingatkan, memamerkan taringnya kepada Jongsuk. "Mungkin aku kelaparan malam ini dan memutuskan kita tidak membutuhkan pakar senjata lagi."
Kyuhyun menggelengkan kepala saat mendengar mereka beradu mulut, tahu mereka berteman baik. Akan tetapi mereka terus-menerus mencemooh satu sama lain mengenai perbedaan rasial mereka.
Jongsuk berasal dari spesies Caron, sistem manusia. Woobin seorang Andarion−ras predator maju yang terkadang memangsa manusia. Blasteran dari kedua ras tersebut, Kyuhyun tidak terlalu suka mendengar omang kosong mereka.
Woobin memiliki ciri khas Andarion yang memberinya wajah yang sangat tampan, taringnya yang panjang mengkilat sewaktu Woobin tersenyum.
Kyuhyun bersyukur ukuran giginya sendiri lebih kecil dari gigi Woobin. Tapi masih cukup panjang untuk menandainya sebagai anak haram blasteran, apalagi klau ditambahkan dengan matanya, yang tidak pernah ia tunjukan kepada dunia.
Tidak seperti Woobin, Kyuhyun tidak tahan dengan matanya.
Tapi itu tidak ada hubungannya.
"Heechul." Kata Kyuhyun, memandang sang pembunuh Hyshian. "Jika kau membutuhkan bantuan dengan tugasmu, aku akan mendampingimu. Itu akan memberi Woobin waktu yang luang."
Heechul mengulas senyum menggoda untuk Kyuhyun. Heechul menyukai ketegangan memburu dan membunuh para penjahat. Kyuhyun teringat pada suatu masa ketika ia memiliki semangat yang serupa, tapi hari-hari itu sudah lama berlalu. Sekarang, ia hanya menginginkan kedamaian dan kesendirian.
"Tugasku sedikit minggu ini." Heechul mengamati tugasnya. Dengan jemarinya menelusuri foto kaisar Probekein yang ia tampilkan, secara elektronik ia melempar foto itu kepada Woobin yang duduk di sebrangnya. "Rasanya aku bisa mengatur jadwal untuk menghabisi Kim Jongkook." Ia mengedipkan mata kepada Woobin.
Kyuhyun menggelengkan kepala sambil menutup arsip Kim Jongkook di depan Woobin. "Pusatkan perhatian pada pembunuhan politis yang sudah ditetapkan. Aku tidak mau mendapat pesan mengenai pembunuhan Emperor Probekein."
Woobin mencibir, "Bajingan itu pantas mati."
Kyuhyun menegang begitu mendapat bantahan langsung. "Sudah ada banyak perintah untuk menangkap kita. Jangan beri mereka alasan untuk mengeksekusi kita, mengerti? Kita membutuhkan bukti mutlak sebelum bertindak. Kalau sudah mendapatkannya, dengan senang hati aku akan menyerahkannya kepadamu dan Heechul. Persetan aku bahkan akan membantu," Ia mengalah, tidak mau betengkar dengan salah seorang dari beberapa teman sejatinya. Ia sudah punya banyak musuh.
Woobin bersandar ke kursinya.
Kyuhyun memandang mereka semua. "Dalam waktu dekat ini kita belum memiliki misi yang membutuhkan seluruh anggota kelompok. Ada beberapa misi yang jadwalnya bersamaan. Perhatikan dan rencanakan dengan baik. Tetaplah terhubung untuk berjaga-jaga kalau ada keadaan darurat. Rapat kita yang berikutnya akan diadakan delapan hari lagi, waktunya sudah dicantumkan dijadwal kalian... semoga beruntung," Kyuhyun mengucapkannya lebih karena kebiasaan daripada kebutuhan.
Para anggota mengunduh jadwal mereka keberbagai peralatan portabel mereka, lalu mengambil helm dan pergi dengan Woobin yang menyamar seperti Nemesis−untuk berjaga-jaga kalau ada yang mengawasi ruangan itu.
Donghae tetap duduk bersama Kyuhyun, menunggu ruangan kosong.
Begitu pintu ditutup, Donghae langsung berbalik menghadapnya. "Aku tidak tahu kau perlu menerima kontrak Lee Kangin atau tidak. Kita tidak sanggup menerima beban tambahan."
Kyuhyun tidak suka Donghae bisa membacanya. Walaupun ia menyembunyikan ekspresi dan suasana hatinya dengan berhati-hati, donghae selalu memiliki kemampuan tajam untuk melihat kebalik kedoknya dan Donghae merupakan satu-satunya makhluk hidup yang Kyuhyun izinkan mempertanyakan tindakannya. "Aku sungguh-sungguh berharap kau berhenti menebak isi pikiranku. Seperti yang ku katakan kepada Woobin,tugas kita yang tertunda sudah terlalu banyak sehingga tidak bisa menerima tugas baru lagi. Kau harus meminta maaf kepada ayah dia memerintahkan pasukan Gouran-nya untuk melindungi Sungmin."
Kyuhyun beranjak ke dinding sebelah kanan dan menekan tombol untuk mengganti pakaian. "Kita pembunuh, bukan pengasuh," tukasnya, menanggalkan baju tempurnya.
Donghae memunggungi Kyuhyun dan berbicara lagi "Kau tertarik kepadanya." Itu pernyataan , bukan pertanyaan.
"Sudah pasti," kata Kyuhyun dengan datar. "Aku tidak buta atau mati... belum. Apa kau bisa berkata dia tidak menarik dimatamu?"
Donghae tertawa, "Oh tentu saja... aku ingin sekali memilikinya. Tapi aku juga tahu betapa seringnya kau menontonnya menari. Terima saja, Kip, kau kasmaran dengannya dan itu tidak seperti dirimu yang biasa."
"Dia wanita yang cantik. Aku mengaguminya, tidak lebih." Kyuhyun mengembalikan dinding seperti semula, tidak mau bahkan siapa pun, bahkan Donghae sekalipun, mengetahui perasaan yang sesungguhnya. Mengambil botnya dari lantai, ia duduk di kursinya.
"Tidak lebih?" Donghae memutar kursinya untuk memandang Kyuhyun dengan dahi dikerutkan.
Kyuhyun memelototi Donghae sambil memakai botnya. "Diskusi ini sudah selesai." Ia mengambil kaca mata hitamnya dari meja dan memakainya untuk menyembunyikan mata hijau manusianya yang aneh.
Setelah menyeringai yang terakhir kalinya pada Donghae, ia keluar dari ruangan itu.
Kyuhyun mengenyahkan kata-kata Donghae dari benaknya sambil berjalan menyusuri koridor sementara orang-orang bergegas menjauhinya seolah mereka takut ia akan membunuh mereka hanya karena mereka ada di sana.
Seolah Kyuhyun memedulikan mereka saja. Kyuhyun memutar bola matanya karena tindakan dan ketakutan Donghae yang konyol. Ia prajurit, bukan orang yang sedang dimabuk cinta. Yang lebih penting lagi, ia memahami tugas dan kewajibannya, tidak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya dari semua itu. Apalagi seorang penari dengan ayah yang berkuasa dan sebuah pasukan yang menginginkan kematiannya.
Pergi untuk menenui Victoria dan pasiennya, Kyuhyun lega karena sudah menanggalkan kedoknya sebagai Nemesis. Kelahiran Nemesis diperlukan−karena membuat Kyuhyun bebas berkeliaran tanpa diincar oleh banyak penembak ulung. Dan dengan perawakan blasteran yang unik, jika pihak berwenang mengetahui identitas dari Nemesis, mereka tidak akan butuh waktu lama untuk menemukannya.
Bukan berarti mereka tidak pernah mencoba, tapi Kyuhyun tidak mau memberi alasan lain bagi mereka untuk memburunya.
Saat ini, orang-orang berasumsi bahwa Cho Kyuhyun merupakan anak buah Nemesis; peran yang cocok untuknya. Selama identitasnya dirahasiakan, ia bisa menjalani hidup yang nyaris normal.
Tapi identitasnya hanyalah satu dari sekian banyak alasan yang membuat Kyuhyun tidak bisa berhubungan dengan orang lain. Kalau ada yang ia pelajari di dalam hidupnya, itu adalah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa dipercaya.
Orang-orang menjadi temannya sampai ia menoleh ke arah yang berbeda.
Bahkan walaupun Kyuhyun mempercayai Donghae dan yang lainnya, ia tidak akan terkejut jika salah seorang dari mereka mengkhianatinya suatu hari nanti. Itu, bagaimanapun juga, merupakan sifat bawaan dari semua spesies. Seluruh sejarah dari dunia mereka tertera dengan darah dari persahabatan dan persekutuan yang teputus.
Tapi Sungmin...
Kyuhyun meredam emosi yang memenuhinya saat ia memikirkan Sungmin, dan kembali memusatkan perhatian kepada kehampaan menentramkan yang ia andalkan.
Sungmin bukan apa-apa bagi Kyuhyun dan hanya akan menjadi kenangan yang tertinggal.
Setidaknya itulah yang Kyuhyun sangka sampai saat ia memasuki ruangan yang berhadap-hadapan dengan Sungmin dan menatap mata foxy-nya yang terus terbayang...
.
.
.
TBC
A/N : Bagi yang masih bingung tentang settingnya, kalian bisa coba bayangkan sebuah galaksi yang di dalamnya terdapat banyak planet dan setiap planet tersebut memiliki makhluk hidup yang menghuninya, makhluk hidupnya itu tidak semuanya manusia, tergantung dari ras dan planet apa mereka berasal. Ada sesosok alien yang memiliki tubuh yang aneh, reptil yang bisa berjalan tegak, atau kalian bisa berimajinasi sendiri tentang makhluk yang ada di luar angkasa sana.
Kalian juga bisa mengibaratkanya seperti dunia yang kita huni sekarang, ibaratkan setiap planet adalah sebuah negara dan ciri-ciri penduduk dan bahasa di setiap planet itu berbeda.
Lalu, perjalanan antar planet itu hal yang biasa, dan pesawat menjadi alat transportasi untuk berpindah dari satu planet ke planet lainnya.
Sepertinya hanya itu yang bisa saya jelaskan, jika masih ada yang bingung kalian bisa bertanya lagi, sebisa mungkin saya akan menjawabnya^^
kyuxmine : panjang-panjang kaya tali kolornya kyu oppa gitu, kkkkee. Gimana? Pertanyaan tentang Nemesis sudah terjawab kan di chapter ini. Saya sudah tulis beberapa penjelasan diatas, jika masih bingung jangan sungkan bertanya lagi tetep read&review ya^^
joyers : gak apa-apa chingu umin oppa di sini jadi anak dari Presiden sebuah planet (bayangkan aja sebuah planet dipimpin oleh seorang presiden). Kalo pengen tahu jawaban dari pertanyaan yang ini tetep baca ya ffnya, karena dengan sendirinya akan terjawab. Oke, ini sudah saya update. Saya tunggu reviewnya lagi ya^^
dewi. : kyyyaaa saya juga seneng banget ada reader yang antusias nunggu kelanjutan ff ini, apa lagi setia buat nunggu *ketchup-ketchup basah pipinya kkkee.. Pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawabkan di chapter ini.. Oke ini sudah lanjut, tetep read&review ya^^
ChoLee : Sungmin itu anak dari senator planet gouran, atau gampangnya anak dari presiden planet deh, jadi buat ngancam ayahnya para penculik ngincar Sungmin. Oh ya, ayahnya belum mati kok, di chapter ini sudah disebutkan namanya, taukan siapa yang jadi castnya? Need more clue? Keep read&review^^
Frostbee : ini mereka udah ketemu kok^^ terimakasih semangatnya~ review lagi ya
Oh ya, sepertinya review dari reviewer yang gak login sedikit agak telat ya masuknya, bukan berarti gak saya baca loh ya^^, jadi maaf jika balasan reviewnya agak telat juga.
Saya selalu berusaha memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada orang-orang yang menyempatkan diri untuk membaca ff ini, terlebih kepada orang-orang yang sudah meluangkan waktu berharganya untuk sekedar memberikan review, terima kasih banyak untuk semuanya^^
