~ Anything For You ~

.

.

.

YeWook Drabble Fic © R'Rin4869

.

.

.

Rated : T

Pairing : Yesung x Ryeowook

Genre : Romance, Humour, Family

Diclaimer : God, Their Family, Fans, but the story is Mine

Warning : OOC, YAOI, Typos, M-Preg, etc, because my fic isn't perfect~

Don't Like Don't Read!

This fic is dedicated for my beloved OTP - The Turtle & The Giraffe

.

.

.


Four : Feels?

.

.

.

Sepasang mata dengan iris coklat mengerjap-ngerjap. Berusaha membuat refleksi bayangan dari benda-benda di sekelilingnya agar lebih jelas. Sejenak ingatannya seperti chaos, berputar dalam ketidakjelasan. Wajar, tidurnya nyaris sepuluh jam semalam, dan pagi ini dia merasa jauh lebih segar dibanding hari-hari sebelumnya. Badannya terasa sehat sekali, siap melakukan pekerjaan apapun.

Namun beberapa saat kemudian ingatannya mulai kembali. Melayang perlahan memasuki benaknya seperti bayang-bayang dari kilasan video. Terputar secara otomatis, membuat matanya terbuka lebar dan sekejap kemudian dia terduduk di tempat tidur. Melarikan pandangannya pada seisi kamar.

Batinnya kecewa. Semangatnya meredup sepersekian persen saat apa yang dicarinya ternyata tak ada di sana.

Yang dapat dilihatnya sejauh ini hanyalah penerangan cahaya matahari dari jendela di dekatnya, beberapa barang berserakan, perabotan yang memang sudah pada tempatnya, dan binatang peliharaan yang masih bersikap tenang di kandangnya masing-masing. Tidak ada seorangpun di sana. Di tempat tidur sebelahnya, atau di manapun di sudut kamar itu.

'Tidak ada Yesung hyung'

Ryeowook mendesah kecil. Kenyataan konyol itu membuatnya memijat pelipisnya, merasa pening mendadak. Banyak hal yang tidak dia pahami. Banyak hal yang terjadi begitu saja, tanpa terprediksikan.

'Seperti ciuman itu'

Pikirnya dengan rasa frustasi.

Yesung memang sudah sering memeluknya, di variety show atau di panggung, menunjukkan kedekatan mereka di depan publik. Tapi ciuman? Tentu saja tidak! Siapa yang mau berpikir soal mencium kakak laki-lakinya sendiri? Tidak mungkin sekali. Tapi kemarin Yesung yang memulainya, apa itu hanya ketidaksengajaan?

Apa yang merasuki keduanya kemarin? Maksudnya, Ryeowook dan Yesung. Memang sih yang memulai itu Yesung, tapi akhirnya kan dia membalasnya juga. Mereka berdua seolah kehilangan akal sehat kemarin. Mereka berciuman...mesra, panas, penuh perasaan, dan menyenangkan. Ryeowook mengakui jika dia menyukainya. Bahkan dia berdebar hanya karena mengingat hal itu.

Mengingat saat bibir Yesung melumat bibirnya sendiri, atau suara decakan dari ciuman itu yang masih bisa terdengar samar-samar. Sentuhan pria yang selama ini menjadi panutan baginya di grup itu mirip aliran listrik. Hanya saja berbeda. Tidak membahayakan, namun cukup untuk membuatnya merasa jika tubuhnya tersengat, dengan friksi hangat yang membuatnya ketagihan. Perasaan yang tidak bisa dideskripsikan, Ryeowook akhirnya memutuskan.

Hanya dengan membayangkannya kembali saja rasanya dia sudah malu. Tak bisa mengira-ngira bagaimana wajahnya di depan hyungnya itu kemarin. Pasti memalukan sekali. Dia sampai gagap mendadak di depan Yesung, yang saat itu baru pertama kali dilihatnya bersikap sangat gentle secara terang-terangan bahkan menemaninya tidur. Semalaman. Berdua saja. Di kasurnya. Dan dengan posisi memeluknya.

Samar-samar Ryeowook mengingat bau tubuh Yesung yang tersisa di tubuhnya sendiri. Wajahnya blushing parah, ini sudah untuk ke sekian kalinya di pagi itu. Tidak normal rasanya jika ada orang yang sudah merona dan malu-malu kucing sepagi ini. Bisa-bisa dia dianggap gila nantinya.

Tapi...ah mungkin dia memang sudah gila. Toh sekarang dia mulai memikirkan Yesung lagi, padahal hanya beberapa jam Ryeowook belum melihatnya.

"Sepertinya aku rindu padamu, hyung.'

Anggap saja, Ryeowook tak ingin kegilaan ini berakhir.

.

.

.

"Kau berantakan sekali, Ryeowook-ah," Sungmin memberikan opini terus terang saat melihat Ryeowook duduk di kursi sebelahnya.

Ryeowook hanya menggumam sebagai jawabannya. Meraih setangkup roti tawar, lalu mengolesinya dengan selai stroberi. Hobi bangun paginya dirusak pagi ini akibat kejadian kemarin, jadi semua member terpaksa sarapan seadanya. Seadanya, jika kulkas dorm masih ada isinya setelah dikuras Shindong maupun Eunhyuk. Dua orang pengacau stok makanan itu memang meresahkan.

"Jangan lupa kita punya jadwal untuk jam sebelas nanti di gedung SBS," Leeteuk mengingatkan, dia berteriak agar semua yang berada di sana mendengar suaranya. Jauh berbeda dengan Ryeowook, dia sudah berpakaian rapi dan membawa ransel. Ada rekaman acara yang harus diisinya untuk pagi ini.

Dengan wajah datar Ryeowook mengangguk, menggigit rotinya dalam potongan besar-besar. Tapi anehnya dia tetap merasa lapar sampai roti itu habis. Dia cemberut sedikit. Nafsu makannya naik, mungkin itu bagus. Bagus seandainya saja ada makanan lain di sana. Tapi Ryeowook tak melihat apapun yang bisa dimakan saat ini. Efek bangun terlambat, dia sudah keduluan untuk menyerbu sarapan.

Sungmin terkikik melihat wajah muram Ryeowook.

"Kau masih lapar?"

"Ne," Sahut Ryeowook memelas.

"Tunggu saja sebentar lagi, Yesung hyung sedang belanja kok. Dan kalau kau beruntung mungkin dia membawakan makanan untukmu."

Mendadak Ryeowook merasa gugup saat nama itu disebut oleh Sungmin. Terkutuklah kejadian kemarin yang tak mau hilang dari benaknya.

"O-Ooh, nde, Sungmin hyung." Jawabnya. Ryeowook memperhatikan penampilan Sungmin sekarang ini. "Hyung sudah rapi sekali, mau kemana?"

"Hanya ke salon." Sungmin mengangkat bahu. "Ingin mengganti model rambut."

Ryeowook mengangguk-angguk paham. Mulai menyeruput teh hangat yang baru dituangnya dari poci teh. Menyesap hangat yang muncul saat cairan itu masuk ke tenggorokannya. Rasanya tidak buruk, yah selama bukan Kyuhyun saja yang membuatnya.

Dia mengusir jauh-jauh pemikiran itu dari benaknya. Jika Kyuhyun yang mencoba membuatnya, barangkali bocah itu sudah lebih dulu menghanguskan setengah dari isi dapur sebelum air panasnya mendidih untuk membuat teh. Menghancurkan tempat kesayangannya di dorm.

"Jadi nanti hyung langsung ke SBS setelah dari salon?" Tanya Ryeowook, berpura-pura menaruh minat lebih pada topik itu.

"Sudah pasti." Ujar Sungmin. "Kau mau ikut, Ryeowook-ah? Sepertinya rambutmu sudah kepanjangan sekali."

Ryeowook mendengus, mencoba memandang model rambutnya sendiri. "Tidak," tolaknya. "Aku masih betah dengan model ini."

"Tapi itu terlihat seperti anak anjing." Komentar Sungmin dengan nada polos.

Ryeowook menepuk kepalanya. "Astaga hyung, memangnya sebegitu parah? Kau saja yang berpikir begitu." Kilahnya.

Sungmin menghela napas. "Ya sudah, terserahmu saja. Aku kan hanya berpendapat."

"Aku tidak seperti anak anjing." Ryeowook cemberut.

Sedangkan Sungmin malah tertawa. "Itu maksudnya karena kau terlihat sangat imut tahu!" Dia mencubit pipi Ryeowook, yang berbuah tepukan keras di tangannya.

"Yak! Sakit!" Ryeowook mengelus pipinya. Kepalanya agak uring-uringan sekarang dan Sungmin malah memperburuk hal itu. Menyebalkan sekali sih namja bergigi kelinci itu, Ryeowook bersungut-sungut dalam hati.

"Annyeong,"

Sebuah suara lain muncul, berasal tepat dari belakang Ryeowook. Namja itu menoleh dengan kegesitan yang entah didapatnya darimana.

Satu...

Dua...

Ti-

Belum sampai hitungan ketiga Ryeowook sudah melesat dari kursinya, menerjang sesosok tubuh yang berdiri dengan penuh belanjaan di tangannya, lalu melompat. Menghambur untuk memeluk sosok itu tanpa kenal istilah menahan diri.

Brugh!

"Yesung hyung!"

.

.

.

Kepala Yesung seperti berputar pada awalnya. Tak mengira dia akan mendapat sambutan sebegini...errr antusiasnya. Tubuhnya oleng dan terjatuh dengan bunyi tidak elit saat bokongnya menyentuh lantai yang tidak dilapisi karpet. Menyakitkan sekali. Tentu saja dia tak bisa bersiap-siap dahulu dari 'serangan' itu, dan beginilah akibatnya.

Tubuhnya merasa menahan beban yang cukup berat, jadi Yesung mendongak, melihat benda apa sekiranya yang berada di atasnya dan membuatnya terjatuh barusan. Otaknya mulai menyusun kata-kata makian sepanjang kereta express Seoul-Busan, tertuju untuk apa saja atau siapa saja yang membuatnya seperti ini. Tetapi kemudian pekikan nyaring itu terdengar,

"Yesung hyung!"

Nah, Yesung merasa peningnya hilang dalam sekejap. Matanya menemukan manik coklat yang berkilau itu di atasnya, hanya berjarak beberapa senti. Membuatnya terpana, benar-benar tak mau bersusah payah memaki lagi. Bahkan mengalihkan tatapannya pun sekarang terlalu enggan untuk dilakukan, seolah itu adalah ide yang amat buruk untuknya.

"Eh?"

Mata Yesung kini membulat. Ini halusinasinya saja, atau memang benar kalau manik coklat itu perlahan mulai makin dekat dengannya? Dan sekarang sudah mulai menutup sebelum akhirnya dia merasakan kecupan yang…ah dia sudah hapal dengan rasanya, karena baru kemarin dia mencicipi bibir ini di bibirnya. Melayang, mungkin itu yang dilakukan oleh jiwanya sekarang. Katakanlah selamat tinggal pada logikanya, karena kini Yesung menutup matanya, dan membalas kecupan itu.

Rasanya benar-benar baik. Sangat baik. Soalah kecupan itu adalah suplemen paling berkhasiat yang pernah diminumnya. Yesung merasakan tangan Ryeowook yang merambati area lehernya, menekan kepalanya agar memperdalam tautan bibir mereka. Melebihi sebuah kecupan eh? Nampaknya begitu.

Tangan Yesung gantian melingkar di pinggang ramping Ryeowook, menarik namja itu agar makin mendekat, menindih badannya sendiri yang masih terbaring di lantai. Tak menyadari betapa berbahayanya posisi mereka berdua sekarang ini. Emosi tetap emosi. Sebuah hal abstrak yang tak bisa dikendalikan sesuka hati. Dan kata 'salah' bukan merupakan pagar pembatas untuk membatasi luapan emosi itu. Masa bodoh dengan segalanya, memangnya apa salahnya melampiaskan perasaannya ini?

Lama mereka seperti itu, bertahan dengan ciuman itu, memuaskan hasrat dan rasa rindu yang awalnya tertahan. Berapa menit ya? Mungkin sepuluh? Atau lebih? Tak ada yang membawa stopwatch kan pastinya, jadi rasanya itu bukan hal yang harus diributkan. Napas keduanya terengah, mengais udara untuk kebutuhan oksigen mereka yang sudah terkuras habis. Deruan napas terdengar, wajah Yesung apalagi Ryeowook sudah merona kemerahan, tapi keduanya sama-sama melempar senyum. Senyum berbeda dengan rangkaian ekspresif yang sama.

Menunjukkan satu kata yang selama ini telah mengikat keduanya tanpa sadar. Perasaan mereka kan tak mungkin berbohong untuk kata itu. Memberi pemahaman tunggal bagaimana semua kejadian aneh ini bisa terjadi di antara keduanya. Kenapa lama sekali mereka menyadarinya? Jika mereka sudah lama memendam perasaan…

"Ekkhem, sudah selesai kegiatannya? Yesung hyung? Ryeowook-ah?"

.

.

.

- Fin -

.

.

.


Haduuuuhh maafffffff banget karena updatenya semalem ini, bener bener sibuk hari ini, jadinya terpaksa ngetik malem. Itu juga setelah mastiin selesai tugas yang lain.

Ga bisa bilang apa-apa selain terima kasih sebanyak banyaknya buat yang udah review di chapter kemarin! *bow* perhatiannya, saran, ralatan, kesan dan lainnya selalu Rin jadiin semangat! ^^

Dan pemberitahuan, ff ini ga akan memasukkan pairing lainnya selain YeWook, konflik lebih banyak dalam dekripsi sepertinya, untuk memudahkan pemahaman dan karena memang begitulah konsepnya.

Thankyou attention kalian semua :3 *peluk cium* doain aja semoga project Rin ini berhasil XD *plak*

So, selamat menikmati~^^

.

.

.


- 4 Sept '13 -

.

.

.

- Ye & Wook -

.

.

.