Aku bohong. Wkkwkwk. Here's another prologue.
Warning: standar warning apply.
Look, I introduce Kakashi again. Ha! Anyway, we'll see Danzo sooner in like soon. And the plot advance, dudumdudumdududum. I thought this chapter will be filler, but it's not (the reason it's not got published sooner is because the filler is there and i was like where's the plot?). Ha! Even if this story chapter word count got more and more increased as the story goes.
Enjoyyy! (Sama makasih banyak syuda review, ehe)
Naruto ingat bahwa dia menjadi Hokage di usia dua puluh tiga tahun, semua karena Kakashi selalu melakukan apapun yang dia bisa untuk menghindari Baa-chan melempar posisi Hokage padanya. Hal ini dimulai saat dia berusia enam belas tahun, lalu Baa-chan yang sadar bahwa mencoba memaksa Kakashi untuk mengambil pekerjaan seperti ini adalah hal yang sia-sia, dia berpaling pada Naruto yang kala itu berusia delapan belas tahun dan mengambil waktunya lima hari dalam seminggu untuk menyuapi dokumen-dokumen desa.
Awalnya Naruto bahagia, karena dia akan menjadi Hokage setelah Baa-chan. Tapi sebulan setelah berurusan dengan dokumen terkutuk tersebut membuatnya ingin muntah. Lima hari dalam seminggu sangat berlebihan. Terutama ketika dia harus menyisipkan waktu di antaranya untuk pergi berkencan dengan Kakashi, bersosialisasi dengan rekan sejawatnya yang lain, mengasah tekniknya agar tidak karatan, membuat teknik baru dengan chakra angin yang dia miliki (yeah, dia sudah melihat Kakashi menciptakan purple lightning yang bisa dia gunakan untuk menyelimuti tubuhnya dan sedikit iri karenanya) untuk mempercepat dirinya, pergi ke misi-misi baik itu diplomatis maupun yang membutuhkan masukannya, dan masih banyak lagi.
Yeah, Naruto mungkin sedikit menyesal dengan mimpinya sebagai Hokage ketika dia harus menghadapi tumpukan dokumen yang tiada henti menggunung di meja tersebut. Orang-orang selalu berkata betapa luar biasanya seorang Kage, sampai mereka sadar betapa mengerikannya urusan administratif dalam menyita waktu.
Dia baru sadar bahwa dia tidak perlu menjadi Hokage untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain ketika dia berusia dua puluh tahun. Dia tidak perlu menjadi Hokage untuk dapat melindungi orang-orang yang dia sayangi. Dia tidak perlu menjadi Hokage agar orang lain dapat menghargainya, karena dengan menjadi pahlawan di dunia ninja (dan tentu saja dengan menjadi ninja paling kuat di dunia) dia selalu mendapat sapaan hormat dari siapapun yang mengenalnya.
Ah, itu bukan berarti bahwa Naruto adalah Hokage yang tidak bertanggung jawab. Dia mengerjakan tugasnya sebaik mungkin. Dia mungkin mencurangi kertas-kertas terkutuk itu dengan Kage Bunshin, namun dalam permainan seperti ini? Tidak ada yang namanya curang.
Lalu, saat dia berusia dua puluh empat, dia merasakannya. Kaguya entah bagaimana keluar dari segelnya (dia mencurigai bahwa itu adalah Zetsu), karena para Bijuu masih tetap nyaman berada di alam liar, dan bahkan dari dimensi yang berbeda, Naruto dan Sasuke bisa merasakannya dengan baik.
Dan seketika, semua dokumen-dokumen itu tidak lagi ada artinya.
Perang dengan Kaguya berlangsung selama setahun. Karena Naruto dan Sasuke, meski memiliki kemampuan yang mumpuni dan jauh lebih berkembang dari saat mereka berusia enam belas tahun (tujuh belas untuk Sasuke, si Teme tidak berhenti menunjukkan perbedaan ini padanya), tetap tidak bisa membunuh mahkluk yang seharusnya abadi.
Sekali mereka berhasil menghentikannya. Memotong dia hingga seluruh tubuhnya menjadi terpisah. Dan bahkan sampai dewi tersebut kehilangan kesadaran (yang mereka sangka mati karena tidak lagi mereka rasakan chakranya), lalu mereka tertawa dan pulang. Mereka melupakan Zetsu Hitam, dan mahkluk menjijikkan tersebut entah bagaimana berhasil memberikan sedikit chakra pada Ibunya, dia hidup kembali.
Ya, ketika mereka merasakan kembali chakranya, Naruto mengeluarkan teriakan frustasi yang bisa terdengar di seluruh Konoha. Sebelum Kaguya kehilangan kesadaran, hampir empat puluh persen dari pasukan yang mereka miliki mati.
Dan Naruto sadar bahwa dia tidak bisa hanya sekedar membunuh Kaguya. Dia gunakan setiap momen yang dia bisa ketika berada di belakang lini pertahanan untuk menciptakan segel baru yang bisa digunakan untuk mengunci Kaguya dan Zetsu Hitam secara permanen. Tiga bulan berlalu, dan dengan lima puluh persen populasi dunia meninggal, akhirnya dia berhasil menciptakan segel tersebut.
Segel yang dia tahu akan menghilang tanpa jejak ketika sudah berhasil mengunci siapapun ke dalamnya. Zetsu, karena dia hanyalah sebagian kecil dari Kaguya, tidak membutuhkan Sasuke untuk membantu Naruto menyegelnya. Tapi dia membutuhkan chakra dari Sasuke untuk berhasil menyegel Kaguya, karena satu tahun berperang melawan dewi ini membuat bahkan seluruh Bijuu lelah dengannya.
Dan sejujurnya, mencoba untuk menggunakan dua buah segel yang menguras banyak chakra seperti ini sendirian bukan ide yang bagus.
Lalu dia mendengar bahwa Kakashi meninggal—dan Naruto menjadi ceroboh. Sangat ceroboh. Tapi tidak masalah, karena mereka berhasil menang. Bahkan ketika dia bisa merasakan betapa hancurnya Kurama, itu tidak masalah. Dia bisa kembali bertemu dengan Kakashi, dan dia telah berhasil meraih mimpinya. Kurama akan menjadi bebas.
Bahkan dengan dia tidak berada di sana, Naruto yakin bahwa selama masih ada orang yang berjalan di muka bumi, maka harapan itu masih tetap ada. Dan dia percaya bahwa mereka yang selamat masih mampu untuk terus membuat masa depan yang lebih baik.
Dan begitulah, Naruto meninggal.
Lalu hidup kembali.
Rinse and Repeat
A Naruto Fan Fiction
Naruto © Masashi Kishimoto
I did not own Naruto, nor it's world. If I do, Naruto would kiss Kakashi the second he got the chance to. I make this for fun, so I hope you guys will have fun reading this too. Lastly, I did not get anything from this Fan Fiction, so please bear with me when I am being overly difficult with update time. Thank you.
Chapter 4. Making things familiar, again.
Tidak pernah sekalipun Naruto berpikir bahwa dia akan tinggal di kediaman Hokage. Bahkan ketika dia menjadi Hokage, dia lebih memilih tinggal di salah satu apartemen di kompleks elit Shinobi bersama Kakashi. Salah satu alasannya adalah karena privasi yang diberikan apabila seseorang tinggal di kediaman Hokage hampir nihil.
Jadi ya, Naruto tidak benar-benar terkejut saat dia bangun tengah malam dari seri mimpi buruknya dan menarik Kurama dari tidurnya untuk migrasi ke kamar Ayahnya, Kakashi dari balik topeng Hound berdiri di depannya tepat di luar kamarnya. Tanpa rambut putih tersebut pun, Naruto akan terus mengenali chakra dengan rasa petir itu di mana saja.
Kurama, sedikit emosi karena ingin segera kembali tidur, melempar topi tidurnya ke arah Kakashi. "Menyingkir dari situ, kami ingin tidur di kamar Tou-san."
Beberapa saat berlalu—Naruto merasakan chakra Kakashi menunjukkan perasaan kesal, curiga (ha?), dan waspada—lalu Kakashi menghilang ke salah satu tempat sembunyi di langit-langit. Naruto tidak punya energi untuk memutar matanya, memilih untuk menarik tangan Kurama lagi ke kamar Ayahnya.
Naruto mengetuk pintu kamar Ayahnya pelan, kemudian masuk dan berkata perlahan, "Tou-chan?"
Tidak ada jawaban. Naruto, yang paham untuk tidak mengejutkan ninja berpengalaman dalam tidurnya sangat tidak disarankan, mengulangi perkataannya lagi.
Kali ketiga, diiringi dengan sentuhan di kaki Ayahnya yang membuat mata Minato terbuka lebar dan langsung fokus. Beberapa detik kemudian, mata tersebut mengerjap sambil terus menatap kedua figure di bawah tempat tidurnya. "Naruto? Kurama? Ada apa?"
"Ano, bisakah kami tidur di sini? Aku mimpi buruk dan tidak bisa kembali tidur."
Minato mengernyit, tapi kepala mengangguk. "Tentu. Kalian selalu bisa tidur di sini." Dia menatap Naruto. "Apa kau baik-baik saja?"
"Yeah," kata Naruto, segera naik ke tempat tidur. Dia memposisikan dirinya di tengah, sementara Ayahnya di kanannya dan Kurama di kirinya. "Tempat tidurnya terlalu baru, dan—Aku terus mengingat dia menusuk jantungku."
"Ah." Minato menarik ke duanya ke pelukannya, menata selimut sehingga hanya menyisakan kepala mereka di luar. "Kalian berdua aman di sini." Dia terdiam sejenak. "Apa kau ingin pergi ke terapi?"
Naruto menggeleng. Bukannya dia tidak ingin melakukannya, hanya saja ada banyak hal yang akan dikorbankan apabila dia tidak sengaja menyelipkan fakta bahwa dia dari suatu dunia di masa depan. Dia diadopsi oleh Hokage, hal ini sendiri sudah menaruh banyak mata ke dirinya dan Kurama. Ditambah lagi kemiripannya dan Kurama ke kedua orang tuanya. Tapi sejujurnya, dia tidak peduli karena di dunia mana pun, Namikaze Minato adalah Ayahnya dan dia masih anak kecil di sini, yang artinya dia tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal karena bukan dia yang memegang kendali.
"Ah, aku yakin setelah terbiasa aku akan baik-baik saja."
Di sampingnya, Kurama sudah tertidur pulas. Jadi Naruto segera mengikuti jejaknya. Dia tidak pernah membayangkan akan tidur di pelukan Ayahnya sekalipun dalam hidupnya. Rasanya aneh dan aman dan tanpa sadar, dia tertidur pulas tanpa mimpi buruk.
XxX
Menjadi tiga tahun lagi rasanya... aneh. Bahkan jika dia masih punya chakra dari Kurama, chakra petapa enam jalan, mode petapa, dan semua kekuatan dan pengetahuannya sebelum dia berakhir di dunia ini, dia masih kecil. Sangat sangat sangat kecil. Dia tidak punya massa tubuh yang sesuai untuk membelakangi pukulannya. Dan meskipun dia bisa bergerak dengan cepat, tubuh ini tidak terlatih sebagai ninja. Tubuh ini tidak punya semua otot yang dia kumpulkan selama dua puluh lima tahun.
Dan, ya. Dia belum tahu skill apa saja yang masih dia punya di dunia ini karena dia selalu diekori oleh Anbu ke mana-mana. Ada pihak-pihak yang curiga dengannya dan Kurama ketika mereka diadopsi begitu saja oleh sang Hokage, terutama karena wajah mereka adalah cermin dari persatuan wajah Kushina dan Minato.
Dan yang paling penting—menjadi tiga tahun lagi menjengkelkan karena dia sangat teramat pendek. Ugh. Dia sudah terbiasa dengan berdiri tegak menatap orang-orang dari ketinggian seratus delapan puluh sentimeter. Dan sekarang dia bahkan hanya setinggi paha Ayahnya. Dia tidak ingin membayangkan perasaan Kurama yang tingginya setinggi tebing hokage Konoha.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, Naruto ingin tertawa sekeras mungkin di wajahnya. Ha! Rasakan itu rubah sombong, siapa yang kau panggil pendek sekarang?
Jangan buat dia mulai tentang suaranya. Gah!
Intinya adalah, menjadi tiga tahun lagi sangat-sangat membosankan. Dan saat memasuki bulan November, Naruto memutuskan bahwa dia lebih memilih untuk menjelajahi Konoha lagi untuk mengetahui jalanan yang ada di desa ini, karena rupanya dia tidak lagi ingat tempat-tempat yang ada di desa ini setelah perubahan struktur desa ketika Pain mengaktifkan shinra tensei.
Dan di sinilah dia, menarik tangan Kurama karena dia lebih memilih untuk menjelajahi desa berdua daripada sendirian (meski Anbu yang mengekorinya bisa memastikan bahwa dia tidak pernah sendiri), dan... tersesat.
Oke, Naruto ingin mengklarifikasi bahwa dia tidak punya tujuan kemana pun saat dia keluar menjelajah desa ini, jadi tidak bisa dibilang bahwa dia tersesat—tapi yeah, dia tidak mengenali jalan ini sama sekali. Maa, seharusnya dia melihat peta dahulu sebelum pergi.
"Naruto, di mana kita?" tanya Kurama ketika mereka berhenti untuk melihat sekeliling mereka. Mereka berada di jalanan yang dipagari dengan pagar kayu lebih tinggi dari orang dewasa sehingga jalanan ini tidak memiliki kontak langsung dengan bangunan apapun.
"Hm... ehehehe. Entahlah," kata Naruto sambil menggaruk kepalanya.
Ada momen hening beberapa saat, lalu Kurama menatapnya dengan tangan terkepal. "Maksudmu—kita tersesat!"
"Ehhh! Tentu saja tidak. Aku hanya tidak mengenali jalan ini saja. Kenapa asumsimu langsung ke sana!"
Kurama tidak ragu-ragu untuk memukul kepalanya. "Idiot. Matahari sudah di atas kepala kita, dan kita belum makan apapun. Cari sesuatu untuk kita makan, aku kelaparan."
"Ohhhh! Ram—"
"Tidak!"
"Ehhh, kenapa?"
Kurama melipat tangannya. "Pikirkan makanan selain ramen. Itu yang terus kita makan di siang hari selama tiga minggu. Aku bosan."
Naruto melompat kebelakang dan menunjuk jarinya ke pelaku kejahatan terbesar sepanjang masa. "Penistaan! Ramen adalah makanan dewa dan tidak akan membuat orang bosan!"
Well, kalau definisi orang adalah Naruto, tentu.
Kurama melangkah sampai tepat di depan Naruto. Dia mencoba untuk terlihat mengintimidasi, namun gagal total karena usianya yang baru tiga tahun. Tapi dia tidak menyerah, karena dia menusuk jarinya ke dada Naruto dan berkata, "Kita. Akan. Makan. Makanan. Lain. Tidak ada negosiasi."
Naruto melipat tangannya. "Hmph! Memangnya kau bisa apa? Aku yang memegang uang dari Tou-san."
Kurama mundur dengan seringai di wajahnya. Di tangannya terdapat dompet katak yang begitu familiar. "Tidak lagi Aniki," katanya menggoda.
"Haa! Kapan kau mengambilnya! Berikan kembali Kurama!"
"Tidak penting. Ayo, aku sudah lapar. Dan kalau kau terus begitu, kutinggal."
XxX
Pada akhirnya mereka memutuskan untuk mencicipi dango hanya karena kedai tersebut lah yang mereka lewati saat mencari tempat makan siang itu. Dan sejujurnya, Naruto tidak masalah mengkonsumsi makanan ini karena meski dia lebih memilih ramen, bukan berarti dia tidak menyukai makanan lainnya. Bahkan makanan Ayahnya yang merupakan makanan empat sehat lima sempurna. Setelah hidup dua puluh lima tahun, dia paham pentingnya nutrisi bagi tubuhnya (terutama setelah hidup dengan Kakashi, si ahli gizi).
Uh... yeah. Kecuali terong. Dia masih tidak paham bagaimana Kakashi sangat menyukai terong, meski dia pasti akan memakannya apabila Kakashi memasaknya. Tidak perlu menyakiti perasaan Kakashi dengan menolaknya karena dia pasti akan merengus seperti anak kecil. Kakashi mencintai terong seperti dia mencintai buku porno ero-sennin. Dan jika ada yang menghina terong, well, dia akan tidak menghiraukanmu selama mungkin—terutama ketika pelakunya adalah pacarnya sendiri.
Berbicara tentang Kakashi, segera setelah Kurama dan dirinya selesai makan, Kakashi tiba-tiba muncul di hadapan mereka—menggunakan atribut anbu tanpa tantou di punggungnya. "Hokage-sama mencari kalian berdua."
"Ah." Naruto menggaruk kepalanya. Hm... mungkin dia bisa menambah tingginya untuk beberapa saat. Hm... "Oke."
Dia mendekati Kakashi, mengabaikan tatapan yang diberikan Kurama padanya, lalu mengangkat tangannya. "Gendong!"
Kakashi... menegang. Tidak ada kata lain yang bisa mendeskripsikan sikap Kakashi. Oke, mungkin Naruto lupa bahwa Kakashi menghindari anak kecil seperti dia menghindari penyakit menular, tapi Naruto bukan Naruto kalau dia menyerah begitu saja. Jadi dia mengambil satu tangan Kakashi, dan menatapnya dengan mata membesar dan berkaca, efek dari air mata buaya, dan berkata, "Kumohon."
Ada beberapa detik berlalu namun rasanya seperti berjam-jam, kemudian Kakashi mendesah pelan. Dia membungkuk dan mengangkat Naruto dari ketiaknya. Dan karena bukan ini yang ada di pikirannya, Naruto memanuver tubuhnya dan menduduki pundak Kakashi sambil tangannya memegang rambut perak sang Anbu.
Ha! Sekarang dia bisa melihat desa ini seperti orang dewasa.
Kurama, mengikut jejak Naruto, menyerang Kakashi dengan teknik ekspresi yang sama dan dihadiahkan dengan Kakashi yang menggendongnya dengan satu tangan.
Dan begitulah awal mula reputasi Kakashi sebagai Kapten Anbu yang membunuh dengan darah dingin mulai dilembutkan sebagai babysitter anak kecil.
Dia masih menggunakan shunshin untuk mempercepat lajunya menuju kantor Hokage, tidak menghiraukan pekikan Naruto.
Brengsek.
XxX
Minato sedang menghakimi Kakashi, dengan satu alis terangkat dan senyum kecil di bibirnya. Bagaimana tidak, dia tahu muridnya sangat teramat menghindari kontak dengan anak kecil, dan ketika dia menyuruhnya untuk menjaga anak-anaknya, dia menjaga mereka dari bayangan dan tidak pernah mendekati mereka seperti paman atau kakak.
Ditambah lagi dengan Kakashi adalah salah satu dari sekian banyak orang yang cukup terkejut dengan keputusan Minato untuk mengadopsi dua anak kecil yang mirip dengannya dan Kushina begitu saja, tanpa babibu beberapa jam setelah menginterogasi mereka secara privat membuat orang bertanya-tanya (kalau ada satu hal yang bisa dibanggakan dari desa shinobi, itu adalah bagaimana cepatnya gosip berkelana dari mulut ke mulut).
Ketika ditanya, Minato hanya tersenyum kecil dan berkata, "Mereka anakku." Itu adalah kebenaran.
Kakashi tentu saja melihat mereka dengan rasa curiga, sebagai salah satu anbu yang kadang berurusan langsung dengan keamanan Hokage (apabila dia tidak ditugasi misi ke luar desa), logis rasanya jika dia menaruh banyak curiga ke dua orang yang tiba-tiba dekat dengan Minato. Meski Minato sedikit emosi karena Kakashi tidak memahami penilaiannya, tapi hey, seiring berjalannya waktu, dia yakin Kakashi dapat melihat apa yang dia lihat di kedua anaknya itu.
Dan sekarang, dia harus menggigit bibirnya untuk menahan tawanya. Tidak perlu membuat Kakashi melarikan diri dari hal ini. Terutama karena dia tampak menggelikan dengan seorang anak di pundaknya, dan seorang anak di tangannya.
Naruto, mendalami perannya sebagai individu yang cerewet, langsung memulai esainya tentang apa yang dia lakukan hari ini, tapi dipotong di tengah ketika Kakashi mengangkat tangannya dan memegang bajunya untuk menurunkannya. Dia melakukan hal yang sama untuk Kurama, lalu mengangguk pada Minato.
"Hokage-sama."
Ada momen hening sesaat ketika Kakashi hanya berdiri di situ tanpa melakukan apapun, semua karena Minato belum menyuruhnya pergi. Lalu dia mendesah, "Sensei."
Dan dengan satu isyarat jarinya, dia kembali ke tempat persembunyiannya.
Minato berdiri, mendekati kedua anaknya untuk mengelus kepala mereka. Alasan kenapa dia memanggil mereka kemari adalah karena satu hal. Dia memegang kedua tangan mereka dan berjalan ke luar. Saat Naruto bertanya, mereka mau kemana, dia dengan simpel menjawab, "Kita akan mencari rumah baru."
Dia sadar bahwa kediaman Hokage bukanlah tempat yang baik untuk membesarkan dua anak, meskipun mereka berdua bukan lagi anak kecil. Kadang cukup sulit untuknya melihat kedua anak ini sebagai orang dewasa karena tubuh mereka berdua yang masih sangat kecil. Gaya bicara mereka yang lancar pun dapat dikategorikan sebagai gaya bicara anak-anak prodigi. Meski dari cerita Naruto, dia sama sekali bukan prodigi.
"Ohhh. Oke."
XxX
Dua apartemen pertama ditolak mentah-mentah oleh Naruto dan Kurama. Yang ketiga, mereka pergi melihat salah satu rumah yang dibangun di pinggiran kompleks shinobi, dekat dengan salah satu area latihan yang bersebelahan dengan hutan yang menjalar sampai batas dinding Konoha. Rumah ini dua lantai, dengan halaman yang cukup luas dan dipagari. Di bagian belakang terdapat kolam kecil dan beberapa pohon yang tumbuh tidak begitu tinggi. Rumah ini memiliki beberapa kamar, tersebar di lantai satu dan dua. Ruang tamu dan dapur yang cukup lebar.
Naruto tidak perlu melihat lebih banyak lagi karena dia menyukai tempat ini. Artinya tidak lagi dia perlu bertemu dengan anbu yang berpatroli di dalam rumah di malam hari, karena mereka hanya akan berjaga di luar atau dari tempat strategis lainnya. Memiliki privasi di rumah sendiri dengan posisi strategis seperti ini.
Dia menatap Ayahnya, kemudian mengangguk. "Yang ini Tou-chan."
Minato balas mengangguk. "Baiklah, untuk sementara kau dan Kurama bisa memilih kamar kalian. Kita akan pindah kemari ketika rumah ini sudah siap untuk ditinggali."
Dan Naruto berjalan dari kamar ke kamar, diikuti oleh Kurama, meninggalkan Minato untuk berurusan dengan agen penjual rumah yang sudah mengikuti mereka dari tadi siang. Dia memilih kamar di lantai dua, dan Kurama memilih kamar yang tepat di sebelah ruangannya. Memiliki kamar yang berbeda bukan berarti dia tidak akan naik ke tempat tidur Kurama apabila dia memiliki mimpi buruk atau tidak ingin sendiri, karena dia tidak akan ragu untuk melakukannya. Dengan segel Kurama di perutnya yang masih terkunci, satu-satunya cara agar dia bisa berkomunikasi dengannya adalah dengan masuk ke pikirannya, karena Kurama yang berada di perutnya tidak bisa berbicara dengannya sama sekali. Itulah mengapa Yang Kurama lebih senang tertidur, karena meski berhubungan langsung dengan Yin Kurama, tidak banyak yang bisa dia lakukan ketika berada di dalam kandang.
Ketika Naruto kembali ke lantai bawah, Ayahnya sudah selesai bernegosiasi dengan agen tersebut, dan mereka segera kembali ke kediaman Hokage. Petang sudah tiba, sehingga cahaya yang tersisa hanya dari lampu jalanan. Tidak banyak orang yang menyapa mereka meski orang-orang tersebut tidak berhenti melirik. Dan karena mereka tidak melewati jalur yang sering dilalui oleh warga sipil, mereka tidak berpapasan dengan banyak orang.
Mereka segera tiba di rumah, dan Ayahnya menyuruh mereka berdua untuk mandi karena dia akan menyiapkan makan malam mereka. Salah satu hal eksentrik yang dimiliki Ayahnya yang telah dia observasi selama tinggal dengannya adalah ketika mengerjakan pekerjaan domestik di rumah, dia akan bernyanyi dengan nada sumbang dan berjoget. Kali pertama Naruto menyaksikannya, dia tidak bisa berhenti tertawa. Ini adalah ninja yang mendapatkan peringatan flee on sight dari semua desa tersembunyi. Dia tidak bisa menyalahkan Ayahnya, karena memang semua ninja yang kuat adalah individu yang eksentrik.
Dia tidak bisa membayangkan Gai-sensei tanpa baju anehnya, atau bahkan Kakashi tanpa kebiasaannya membaca buku porno di muka umum.
Setelah mereka selesai makan, Ayahnya bilang bahwa dia harus kembali ke kantornya untuk menyelesaikan beberapa dokumen, tapi dia tidak akan benar-benar lembur di sana.
Naruto hanya mengangkat bahunya. Dia tahu seberapa menyebalkannya dokumen-dokumen tersebut.
XxX
Mereka pindah sehari sebelum ulang tahun Hinata.
Dan di hari ulang tahunnya, Naruto diingatkan lagi pada kenapa dia sangat teramat benci dengan pakaian formal. Yukata ini terlalu ketat untuknya sehingga sungguh sulit bergerak bebas. Setidaknya ada Kurama yang sama bencinya dengan pakaian ini, jika dinilai dari ekspresinya. Sisi positifnya, rambut mereka berdua tidak dijinakkan. Dia tidak ingin membayangkan seberapa menyakitkannya itu, terutama karena rambutnya tidak pernah mengikuti maunya sama sekali.
Naruto tidak tahu bagaimana Ayahnya akan berurusan dengan kemungkinan bahwa Kumo akan menculik salah satu anak dari klan dengan dojutsu di Konoha, tapi dia yakin peringatannya untuk tidak membunuh mereka tidak akan diabaikan oleh Ayahnya.
A adalah manusia paling bangsat yang pernah Naruto temui, well, bangsat sampai Naruto mengalahkannya dengan telak dan menyelamatkan nyawa mereka semua dari infinity tsukoyomi. Tetap saja, Kumo dan kebiasaan mereka untuk menculik anak-anak (sampai mereka berhenti setelah perang dunia keempat tentu saja) kadang membuat Naruto benar-benar ingin menampar mereka. Dengan bijudama. Ha! Atau bahkan rasenshuriken.
Lalu Naruto diingatkan tentang betapa membosankannya duduk di depan para tetua terutama tetua dari klan Hyuuga. Mereka sangat teramat kaku dengan peraturan dan formalitas. Setidaknya Ayahnya di sana, dan Kurama juga ikut menderita dengannya.
Ugh. Ulang tahun ketiga pewaris klan rasanya seperti ulang tahun negara dan bukan ulang tahun anak-anak. Tiga puluh menit berlalu dan kaki Naruto benar-benar keram.
Hari ini akan jadi hari yang panjang.
XxX
Ayahnya tidak membiarkan delegasi dari Kumo melihatnya maupun Kurama.
XxX
Minato mengalihkan pandangannya dari dokumen di mejanya ketika Kakashi masuk dan menaruh Komandan Jounin dari Kumo di lantai, tidak sadarkan diri. Dia tersenyum kecil. "Kakashi, dia tidak mati kan?"
"Tidak Sensei. Seperti yang dicurigai, dia mencoba untuk menculik pewaris klan Hyuuga. Aku berhasil menghentikannya, dan Hyuuga-sama untuk tidak membunuhnya."
Dia menyandarkan kepalanya. "Bagus. Kita tidak butuh A dan kebodohannya untuk datang merusak kedamaian yang sudah kita raih dengan susah payah."
Baru tadi pagi mereka menandatangani perjanjian kedamaian antar kedua desa tersembunyi, dan sekarang mereka sudah mencoba untuk merusaknya lagi. Kalau Naruto tidak memperingatkan dirinya, Minato yakin langkah yang akan dia ambil akan jauh lebih ekstrim dari yang akan dia ambil sekarang. Kumo yakin bahwa serangan dari Kyuubi tiga tahun lalu telah benar-benar melemahkan desa ini, sehingga mereka berani melakukan hal ini. Tapi mereka lupa, Minato masih berdiri dan bernapas. Dia bisa membunuh seribu lagi ninja dari Kumo tanpa mengerjapkan matanya.
Selain itu mereka juga berani melakukan hal ini karena Minato tidak benar-benar hidup tiga tahun ini. Tapi dengan keberadaan dua anaknya, dia akan melakukan apapun untuk memastikan bahwa desa ini menjadi desa yang aman untuk mereka tinggali.
Dan ya, dia juga punya kecurigaan terhadap Kumo setelah mereka tidak berhenti bertanya untuk melihat dua anak yang dia adopsi.
"Aku punya tugas lain untukmu." Dia mengeluarkan gulungan yang mengandung misi Kakashi, dan mengeluarkan gulungan lain yang mengandung peta dari Konoha. Dia membukanya, sambil mengaktifkan segel privasi di kantornya. Sekarang masih pagi-pagi buta, tapi bukan berarti dia akan membiarkan hal ini diketahui orang lain, terutama yang tidak dia percayai.
Naruto baru saja membuktikan bahwa Kumo benar-benar mencoba menculik Hinata. Artinya semua tindakan-tindakan yang akan dan telah diambil oleh Danzo atas nama kebaikan Konoha tidak lagi bisa dibiarkan berlanjut. Dia harus mengumpulkan kembali bukti dari tempat-tempat yang telah ditunjuk oleh Naruto. Hah, dia tidak sabar untuk membawa orang tua tersebut ke kematiannya. Dan karena dia salah satu ninja terhebat yang pernah diproduksi oleh Konoha harus membelot. Karena dia juga perang dunia kedua dan ketiga telah terjadi. Karena dia Hatake Sakumo bunuh diri seperti itu, dan dia juga yang akan membantu salah satu organisasi teroris (Akat—sesuatu. Dia harus bertanya lagi pada Naruto tentang nama organisasi tersebut) terbentuk. Karena dia adik Senju Tsunade meninggal. Belum lagi dia menculik anak-anak dari klan dan panti asuhan untuk membangun pasukannya sendiri, tanpa mengkonsultasikan hal tersebut dengan dirinya.
Dia pikir dia bisa menjalankan desa ini lebih baik dari sang Hokage? Hah. Omong kosong.
Dan jangan buat dia mulai dengan obsesi Danzo dan Orochimaru terhadap sharingan.
Dia tidak yakin anak-anaknya bisa aman selama Danzo masih berada di dunia ini, terutama ketika rahasia bahwa keduanya memiliki bijuu di dalamnya (dia masih tidak memahami apa sebenarnya yang terjadi dengan Kurama, karena dia tidak bisa dikategorikan sebagai bijuu maupun jinchuuriki lagi).
Ha! Manusia tersebut akan mencoba sekuat tenaga untuk merebut kedua anaknya dari tangannya.
Dia menunjuk ke setiap titik yang ada di peta tersebut. "Cobalah untuk menyelidiki ketiga titik ini. Aku punya firasat bahwa Root melakukan sesuatu yang buruk di sini, dan ini adalah markas tersembunyi mereka. Ambil semua dokumen yang ada di sana, dan bawa padaku. Dan kalau kau melihat sesuatu yang mencurigakan di sini, segera laporkan padaku."
"Sensei?"
Minato mengerutkan dahinya. "Aku sudah melihat laporan bahwa beberapa anak-anak dari klan, terutama mereka yang tidak memiliki orang tua, menghilang begitu saja. Kau tahu Root dan bagaimana mereka bekerja kan, Kakashi?"
"Sensei, apa menurutmu—?"
Dia mengangguk, ekspresi menggelap. "Ya. Aku punya firasat bahwa Danzo ada di balik semua ini."
Kakashi mengangguk. "Baiklah sensei."
"Kalau kau menemukan kesulitan terutama kalau ruangan-ruangan tersebut memiliki segel yang tidak bisa kau lewati, kembali dan beritahu aku. Aku juga akan melakukan riset terhadap beberapa hal yang kucurigai merupakan tindakan dari Danzo. Dia pikir dia bisa melakukan apapun yang dia mau di belakangku, dan berpikir bahwa aku akan membiarkannya begitu saja."
Kakashi mengangguk lagi. "Sensei, apa yang akan kau lakukan dengan dia," katanya sambil mengangguk pada tawanan mereka yang masih tak sadarkan diri.
Minato tersenyum kecil, beberapa detik kemudian ada ketukan di pintunya dan dia mematikan segel privasinya. "Aku akan biarkan Inoichi melakukan apapun terhadap dirinya untuk menarik semua informasi yang ada di kepalanya, kecuali membunuhnya tentu saja. Lalu aku akan mengantarnya secara langsung sampai ke perbatasan Kumo. Apapun tindakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh Kumo terserah pada mereka, tapi mereka perlu diingatkan bahwa Konoha tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan seperti ini."
Lalu pintu tersebut terbuka, dan Inoichi memasuki kantornya. "Kau boleh pergi sekarang Hound," katanya sambil melempar gulungan misi ke Kakashi.
Hm... dia perlu memanggil Jiraiya kembali ke desa ini, dan tentu saja Tsunade. Mungkin Naruto bisa meyakinkan Tsunade untuk tinggal di desa ini dan mengambil alih rumah sakit, karena dia bilang bahwa dia bisa melakukannya sebelumnya. Ini akan meningkatkan kinerja para ninja di desa ini.
Terutama jika yang dikatakannya benar bahwa Danzo (dalam Root) yang meminta Nawaki untuk pergi ke misi di luar desa tersebut (misi yang membunuh anak tersebut), dia bisa mendapatkan lebih banyak suara terhadap orang tua tersebut.
TBC
Note: I would like to say that, as much as Kakashi is his future boyfriend, Naruto knows how weird it is for him, a three years old to have too much feeling for him like that. Make no mistake, he loves him, but he doesn't really put too much thought into that because first this Kakashi is not his Kakashi, and second, he doesn't want to grieve too much considering he has already lost his world (though he doesn't really understand it at the moment) because he's dead there.
Sooo, it's a lil bit weird seeing someone read a Bahasa Indonesia fanfiction using google translator, but as it is, well, thanks for giving this fic a glance. Heh. Anyway, yeah, i am not gonna dig deeper into how Kaguya can comeback the second time aside from the prologue up there so yeah. Also, about this world Kurama, well, I actually doesn't have any plan at first. My take on that old fox is because this world doesn't have a Naruto (which is an important figure for future threats if you got what i mean) some kind of this world power, that will never be explained since Naruto and Kurama will never got an answer at all, used this world Kurama reincarnation to bring Naruto and Kurama to this place, and so instead of being reincarnated as the Kyuubi, him and Naruto is being reincarnated as a human with a bijuu and a bijuu in a human body.
That power might be the timeline that is sentient—who knows. Anyway, it just wants to correct the mistakes here since the end of this world can mean the end of this timeline too. Maybe. Ha. I don't want to look deeper here.
Anyway, if you got any question just hit me up at the review section.
Also side notes: Jadi Naruto dan Kurama roughly kembar. Beda mereka berdua cuman di warna rambut dan warna mata (Kurama punya mata ungu, campuran dari matanya sama mata Naruto), all in all, they look the same.
Another side notes: Yes, minato is sort of broken i think. See it like this, his wife and his child dies, and then the kyuubi dies with them. Not only he fails to keep a weapon like kyuubi, he also fails to keep his family safe. Of course, they still keep him as the hokage seeing as he's still got the reputation and still keep the village safe, but it sort of weaken his standing in the eyes of some people that thought he's weak.
Also, i know akatsuki doesn't got created because of danzou, but they sure got darker because of him.
