1951—Inggris
Kelopak mataku terbuka. Perlahan.
Setitik kecil cahaya muncul di sudut kiri jendelanya.
Kemudian membanjiri pelupuk mataku.
Silau.
Aku terbangun. Kutemukan diriku sedang berbaring di ranjangku.
Berseprai putih dengan semburat biru pucat. Cahaya mentari fajar menyibak tirai-tirai panjang yang tergantung anggun di depan jendela-jendela kamarku.
Sudah pagi, pikirku.
Sedetik kemudian, terdengar suara desahan pelan di sisiku. Aku menoleh.
Ia masih tidur, di sebelahku.
"Kiku," kataku pelan sekali, berhati-hati agar tidak terlalu mengusiknya, "…sudah pagi."
Ia masih menutup kelopak matanya, melanjutkan tidurnya.
Aku tersenyum, geli. Memang, sepertinya ia tidak bisa diganggu sama sekali kalau sudah tidur.
…atau dia bisa tidur begini nyenyaknya, karena ada aku di sebelahnya?
"…Arthur…san…"
Aku menoleh, agak kaget. Ternyata ia masih tertidur. Ia barusan hanya mengigau.
Aku menghela nafas. Kupikir ia baru saja terbangun tadi.
Seulas senyum berkembang di bibirnya, membuatku bertanya-tanya, apakah ia sedang bermimpi indah.
Dengan memanggil namaku. Apa iya?
Perutku rasanya tergelitik oleh sehelai bulu yang halus dan ringan.
"…suka…" Sepatah kata kembali terucap pelan dari mulutnya, sambil tersenyum.
Aku tidak bisa menahan keinginanku untuk kembali tersenyum kepadanya.
Kusentuh pipinya, yang tertempel plester dan kapas. Terasa lembut.
Kuperhatikan wajahnya yang masih lebam-lebam sedikit.
Lebam akibat perangnya yang dulu. Luka dari masa lampau.
Meskipun begitu, wajahnya terlihat begitu berseri-seri di mataku.
Karena aku mencintainya. Tak peduli separah apapun keadaannya, ia masih terlihat begitu indah di depan mataku.
Itu semua karena aku mencintainya. Hanya itu.
Kuusap bibirnya yang penuh luka, yang masih setengah menganga. Setengah mengering.
Merekah, bagaikan mawar yang sering kukagumi di taman-taman. Membentuk seulas senyum kecil yang menggodaku untuk tertawa, menyentil hatiku.
Kudengar erangan pelan.
Kiku terbangun, membuka matanya yang cokelat gelap, menatap ke arahku.
"Selamat pagi, Kiku," sapaku, sambil menyentuh pipinya dengan jemariku.
Ia tidak menjawab, hanya membalas dengan senyuman.
"Kau bermimpi?" tanyaku, sambil memperhatikannya menguap lebar.
Ia bangun dari tempat tidur, mengenakan kimononya yang berwarna biru tua.
"Ya, Arthur-san. Mimpi yang panjang," jawabnya, sambil kembali duduk di sisiku, menatapku lurus.
"Sepertinya mimpimu menarik," kataku geli, "karena kau dari tadi senyum-senyum saja."
Wajahnya langsung merah padam.
"I—Itu, karena—Arthur-san—"
"Oh? Kau memimpikan aku? Imut sekali…" kataku, menggodanya.
Rona merah di wajahnya makin gelap.
"Itu—tidak, kok—"
"Dasar, kau ini—ada-ada saja," gumamku, sambil mengacak rambutnya.
Ia terpana, kemudian tersenyum kecil.
"Sejujurnya, aku memang memimpikanmu, Arthur-san."
Ia menatap ke langit-langit, seolah terbang kembali ke ingatannya yang tertinggal jauh di belakang.
"Aku sering terbangun di tengah malam," katanya, "karena bermimpi buruk. Aku sering sekali memimpikanmu, sedang memunggungiku. Berjalan meninggalkanku."
Ia mencengkeram selimut yang terhampar di ranjang.
"Aku berlari, mengejarmu. Berteriak, memanggil-manggil namamu, sampai suaraku habis. Namun, kau tidak menoleh ke belakang. Kau terus maju melangkah. Aku berlari sekuat tenagaku, namun aku tidak pernah berhasil mencapaimu."
Aku terdiam, murung. Perasaanku kembali tidak enak.
"Setelah aku bermimpi seperti itu," lanjutnya, " aku selalu menemukan diriku sedang berbaring di futon sendirian, tanpa siapa-siapa di sebelahku."
Aku masih membisu, mendengarkan ceritanya. Meskipun memang agak menyesakkan mendengarkannya.
"Namun, kali ini berbeda, Arthur-san," katanya.
Bias-bias cahaya muncul di wajahnya.
"Tadi malam, aku bermimpi hal yang sama lagi. Aku berlari menghampirimu, dan meneriakkan namamu. Kini, kau tidak mengabaikanku lagi. Kau berbalik, berjalan ke arahku, dan memelukku," katanya, nadanya penuh dengan rasa bahagia.
"Dan sekarang," lanjutnya, "saat aku bangun, aku tidak sendirian lagi."
Tangannya yang penuh perban meraih pipiku, menyentuhnya dengan lembut. "Karena ada Arthur-san di sisiku," bisiknya.
Kutatap matanya, kudekap tubuhnya dengan kedua lenganku. Kubenamkan dalam dadaku.
"Kau tidak akan meninggalkanku lagi?" tanyanya, sambil mencengkeram punggungku.
Erat. Seperti dulu. Dulu sekali.
Kapan persisnya, aku sudah lupa.
Ia juga menanyakan hal yang sama padaku. Tidak ingin melepaskanku pergi.
"Kau tidak akan meninggalkanku keesokan harinya?
Kulepas pelukanku. Pandangan mataku beradu dengan matanya.
Jemariku menyentuh rambutnya yang hitam pekat. Menyisirinya, seperti menyusuri tepian pantai.
Kupejamkan mataku. Kucium bibirnya lekat-lekat.
Seperti dulu.
Ya, seperti dulu.
"Tidak akan."
Ia melepas ciumanku, menatapku.
"Jangan bilang," katanya, lirih, "kau akan berbohong lagi?"
Aku tersenyum simpul. Meraih genggamannya, meletakkannya di dadaku.
"Kau bisa merasakannya, Kiku? Debaran ini bukan pura-pura."
Ia terdiam sejenak, kemudian tertawa kecil.
"Arthur-san bodoh."
"Biarin."
Kami kembali berciuman. Lama.
Yang terucap kali ini bukanlah dusta. Kau tahu itu. Kita sama-sama tahu itu.
"Kau tidak akan meninggalkanku keesokan harinya?"
"Tidak akan. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Untuk seterusnya."
