Rembulan perlahan menampakkan wujudnya diangkasa raya. Menggantung disana begitu indahnya. Cahayanya yang keperakan menerangi permukaan bumi, jatuh tepat pada benua Asia bagian timur.

Kini sebuah Negara digemparkan dengan peristiwa misterius yang melibatkan militer Angkatan Darat di tengah ibukota. Korea Selatan, salah satu Negara Asia yang maju dan sangat berkembang pesat dalam perekonomiannya. Negara keras akan budaya yang mengakar ditengah masyarakatnya.

Negara itu sekarang tengah dilanda tanda tanya besar dari penduduknya, masyarakatnya. Ibukota yang menjadi kebanggaan rakyat Korea Selatan, Seoul, kini sedang dalam keadaan yang di mana semua rakyat tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi. Tiba-tiba saja penduduk yang berdomisili di kota besar tersebut berbondong-bondong mengungsi ke kota maupun daerah sekitarnya, yang mana para penduduk menampakkan raut wajah yang beragam yaitu bingung, cemas dan panik.

Berita yang tersiar dimedia mampu membuat seluruh masyarakat negeri ginseng tersebut kalang kabut. Karena berdasarkan hal yang disampaikan pada kabar tersebut, akan ada penyerangan besar-besaran di Seoul. Apa perang saudara antara negaranya—Korea Selatan dan negara saudara seibunya, Korea Utara, akan terulang kembali? Tentu hal ini menjadi sebuah kabar yang sangat amat buruk.

Sebuah dinding baja tebal setinggi sepuluh meter tiba-tiba muncul ke permukaan. Membuat semua terkejut. Dari mana datangnya dinding itu?

Terdengar isak tangis dari beberapa orang yang melihat dinding itu berdiri dengan kokohnya mengitari kota Seoul. Bahkan ada seorang ibu yang meraung—memohon agar dinding itu diturunkan karena salah satu putrinya masih berada didalam kota tersebut. Namun para petugas yang berada disana hanya dapat memandang iba pada yeoja paruh baya tersebut.

Sebagian penduduk yang tidak membawa kendaraan pribadi masih menunggu jemputan yang disediakan para petugas didekat dinding baja itu. Beberapa dialihkan ke kota dan daerah sekitar yang sekiranya cukup aman dari jangkauan kota Seoul.

Seorang namja berpakaian rapi dan berjaket tebal berjalan diantara rombongan penduduk yang tengah duduk didekat pos petugas dengan diiringi beberapa namja lain dibelakangnya. Orang-orang yang melihat sosok tersebut sontak berdiri dan membungkukkan badannya kearah namja tersebut. Senyuman ramah sebagai balasannya dari namja yang tak terbilang muda lagi itu. Matanya yang sipit menatap sekitar dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Pak Wali Kota, apakah tidak sebaiknya Anda duduk dan beristirahat barang sebentar saja? Sudah seharian ini Anda tidak dapat beristirahat-.." seorang namja asisten dari namja paruh baya itu—yang ternyata Wali Kota Seoul—bertanya dengan sopan.

Langkah sang Wali Kota terhenti. Dibalikkan tubuhnya kearah namja muda yang berada disampingnya itu. "Apa kalian lelah? Jika memang, tidak ada salahnya kalian beristirahat sejenak sebelum melanjutkan tugas kalian kembali. Masih ada hal yang harus aku lakukan. Kalian kembalilah ke pos. Aku akan berbincang sebentar dengan beberapa penduduk dan para wartawan disana-" ucapnya ramah dengan senyuman yang masih terhias dibibirnya.

Asisten dan beberapa namja bodyguards-nya langsung membungkuk dalam pada sang Wali Kota. "Maaf, pak Wali Kota. Kami tidak bermaksud demikian. Kami hanya mengkhawatirkan Anda yang seharian ini disibukkan dengan jadwal yang sangat padat hingga lupa beristirahat-"

Wali Kota Seoul itu menepuk pelan pundak asistennya beberapa kali sebelum membalas perkataan namja tersebut, "Gwaenchana. Kalian tidak perlu khawatir. Aku bisa beristirahat sambil mengobrol dengan para penduduk. Tidak perlu cemas."

Namja asisten dan para bodyguards itu menatap haru pada sang Wali Kota yang terkenal akan keramahannya tersebut. Dalam keadaan genting seperti ini, sang Wali Kota yang seharusnya menjadi orang yang paling dilindungi malah terjun langsung ke lapangan. Bertegur sapa dengan para petugas dan penduduk. Seakan tidak adanya celah diantara langit dan bumi.

Salah satu dari bodyguard berbadan kekar dalam rombongan itu maju kedepan menghadap sang Wali Kota, "Kami akan mengantar Anda ke tempat yang Anda tuju, pak Wali Kota."

"Baiklah, mari kita teruskan," ujar sang Wali Kota sembari mengangguk. Dan akhirnya mereka pun kembali meneruskan langkah mereka, menyusuri dinding dan bertemu dangan para penduduk yang mengungsi.

.

.

.

Vans' Present

======================== THE VIRUS =========================

Disclaimers: God, their parents, and themselves

Warning: Shounen-ai, gore, thriller, a lil bit of angst and amburegul

.

.

.

TAK

SREEEET

Selembar karton besar berguratkan garis-garis tentu arah terhampar diatas meja rakit yang kokoh. Karton itu penuh dengan garis dan huruf kecil. Bertintakan gelap dengan latar putih—atau nama lainnya hitam diatas putih.

"Ini adalah denah gedung Shinki Inc. Seperti yang kalian ketahui, gedung Shinki Inc. terbagi menjadi dua bagian. Gedung A dan Gedung B. Ruanganku dan laboratorium itu ada di Gedung A, lantai teratas. Sedangkan ruangan milik Appa ada diseberangnya, Gedung B-" Yoochun menjelaskan tentang denah yang baru saja ia buat pada semua namja yang ada di tenda utama tersebut.

Yoochun menghela nafas panjang. "Perjalanan kita mungkin akan sedikit memakan waktu. Karena kedua gedung yang luas ini-"

"Kenapa kita tidak menggunakan helikopter saja? Bukan 'kah gedung ini mempunyai helipad diatas sana?" seorang namja menyela perkataan Yoochun. Namja bermarga Park itu pun hanya dapat menggelengkan kepalanya.

"Kalau bisa, aku pun tidak akan pusing seperti ini. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi dan farmasi, tentu kami tidak akan merancang desain dan kemanan gedung secara sembarangan. Shinki Inc. hanya dapat diakses melalui jalur darat. Kaca gedung yang kami gunakan pun memiliki kualitas yang paling baik dan anti peluru. Dengan kata lain, satu-satunya cara untuk masuk kedalam gedung adalah-…" Yoochun mengedarkan pandangannya sebelum melanjutkan perkataannya.

"…-kita harus 'merangkak' dari bawah."

Semua namja yang berkumpul itu mendesah pelan. Hal yang lumayan berat jika memang jalan yang harus ditempuh adalah melalui pintu masuk gedung tersebut. Mereka semua tentu sudah tahu bahaya apa yang akan mereka hadapi didalam sana.

"Kenapa kita tidak membunuh semuanya saja? Hanya yang didalam gedung 'kan? Tidak masalah-"

"Tutup mulutmu, Wooyoung-ssi!" sentak Komandan Oh pada salah satu bawahannya yang tadi menyela ulasan Yoochun dengan nada meremehkan. Namja bernama lengkap Oh Jihoo itu kembali memperhatikan denah gedung dengan seksama. Beberapa saat kemudian ia pun mendongak, mengalihkan pandangannya kearah seorang namja cantik yang kini sedang duduk disamping wartawan yang dibawa Inspektur Shim itu. Pakaian yang dikenakan namja cantik itu sudah berganti dengan kaus hitam berlengan panjang yang terlihat longgar ditubuhnya, warna yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih.

"Kim Jaejoong-ssi…"

Semua atensi mengarah pada Komandan Oh. "Bagaimana caranya kau bisa keluar dari gedung itu? Apa yang kauceritakan tadi tidak menjabarkan bagaimana kau dapat keluar dengan selamat dari sana-"

Semua mata seketika tertuju pada Jaejoong yang langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia menghampiri meja lalu memperhatikan denah dengan lamat-lamat. Sebagai satu-satunya korban yang selamat dari kejadian mengerikan itu, ia tentu wajib memberitahukan cara dan jalan bagaimana ia dapat keluar dari gedung maut tersebut. Jari telunjuk Jaejoong yang lentik menelusuri tiap garis pada denah itu. Kemudian mengetuk-ketukkannya diatas denah tersebut tepat pada sebuah bagian paling ujung garis.

"Aku keluar melalui celah gudang arsip bagian belakang. Dibagian belakang ini biasanya jarang ada pegawai disana karena berada di koridor paling ujung dan paling bawah. Jadi kemungkinan makhluk-makhluk itu ada di tempat ini sangat kecil-.."

Jaejoong menatap Komandan Oh yang berada dihadapannya. Ia menelan ludah kasar, "Aku sarankan kalian jangan menggunakan lift. Karena saat aku didalam sana, aku hampir disergap makhluk mengerikan itu saat aku baru saja keluar dari lift. Gunakanlah tangga darurat. Setidaknya jika ada makhluk itu, kalian tidak terlalu terpojok saat saling berhadapan nanti-"

"Apa kau gila?! Menggunakan lift adalah jalan tercepat agar kita bisa sampai disana. Gedung itu mempunyai puluhan lantai untuk sampai ke lantai yang paling atas. Tentu akan memakan waktu yang sangat lama."

"A-aku…"

"Taecyeon-ssi, tolong dengarkan penjelasan Kim Jaejoong-ssi terlebih dahulu. Penjelasannya kini sangat penting bagi kita untuk mengambil langkah selanjutnya. Baiklah, Jaejoong-ssi. Silahkan diteruskan."

Jaejoong menatap Kapten Jung yang baru saja membelanya dari selaan namja yang bernama Ok Tacyeon itu seraya menaik-turunkan kepalanya pelan. Ia pun kembali menatap denah diatas meja dengan seksama sebelum kembali meneruskan penjelasannya.

"Yang aku tahu, di setiap gedung memiliki dua buah tangga darurat. Masing-masing terletak didalam gedung bagian sampingnya. Aku sendiri bekerja di lantai tiga-puluh tiga Gedung B-"

Jaejoong menghentikan penjelasannya. Mata doenya menatap satu persatu wajah namja yang berada disana. Raut wajah serius nampak pada wajah mereka.

Changmin beranjak mendekat pada denah diatas meja. Inspektur Polisi Seoul itu mengamati dengan cermat tiap sudut gambaran ruangan yang tergaris disana.

"Ah. Bisa kau jelaskan lebih detail mengenai gedung Shinki Inc., Yoochun-ssi?"

Yoochun maju beberapa langkah menghampiri namja jangkung itu. Tangannya ia letakkan diatas meja dengan mata yang tertuju pada denah.

"Sebenarnya setiap pintu dalam kedua gedung ini hanya dapat dibuka oleh orang dalam saja. Orang-orang tersebut meliputi seluruh karyawan yang bertugas, kecuali bagian gudang. Penerapan sistem scanning pada setiap pintu diharapkan dapat memperkecil kemungkinan terjadinya pencurian. Pada setiap kartu tanda pegawai yang kami berikan terdapat sebuah barcode untuk mengakses semua pintu gedung. Tapi khusus untuk laboratorium, ruanganku dan ruangan milik Appa, memiliki sistem yang berbeda dari semua pintu gedung.

"Laboratorium khusus yang berada tepat dibawah lantai ruanganku aku rancang sendiri akses masuknya, yaitu menggunakan scanning kornea mataku. Sedangkan ruanganku dan Appa mempunyai sistem yang sama, menggunakan password," jelas namja tampan itu panjang lebar.

Tatapannya sempat terpaku pada namja manis yang sedang berdiri disamping Jaejoong. Namja manis yang merupakan mantan kekasihnya itu tampak memperhatikan denah dengan serius. Namun segera dialihkan pandangannya ke segala arah. Karena bagaimana pun ia sudah mempunyai seorang tunangan. Walaupun kini jantungnya kembali berdentum kencang—yang disebabkan hadirnya sang pujaan hati yang lama sudah tidak ia temui, dia berusaha untuk menutup hatinya dari sang cinta lama.

Inspektur Shim menyilangkan tangannya didepan dada. Namja jangkung itu kemudian melihat ke sekeliling. Tiga orang tentara, tiga polisi dan empat penduduk sipil ada disini. Otaknya berpikir dengan keras menyusun strategi yang jitu untuk merangsek masuk kedalam gedung dan mampu keluar hidup-hidup.

Changmin tersentak saat sebuah strategi terlintas diotaknya yang jenius.

"Sistem pengamanan Shinki Inc. memang tidak dapat diragukan lagi. Sulit untuk membuka akses semua pintu melalui komputer. Komandan Oh, sebaiknya kita membentuk tiga tim inti, masing-masing beranggotakan delapan orang. Tim Satu bertugas untuk masuk ke Gedung A. Tim Dua, Gedung B. Sedangkan Tim Tiga melakukan pantauan disini, mengabarkan keadaan setiap lantai. Bukan 'kah kita mempunyai akses untuk pantauan CCTV dalam gedung? Kita dapat memanfaatkan hal tersebut."

Semua orang mengangguk paham. Komandan Oh setuju dengan apa yang usulan namja jangkung itu. Komandan Oh kembali membuka suara, "Untuk Tim Satu yang akan mengawal Park Yoochun-ssi, aku, Wooyoung dan empat orang prajurit lain yang akan maju. Tim Tiga, Kadet Cho Kyuhyun dan Inspektur Shim beserta Tuan Park dan Kim Junsu-ssi. Sedangkan Tim Dua-.." Tatapan Komandan Oh beralih pada Jaejoong yang berdiri kaku disamping Junsu.

"Kim Jaejoong-ssi, kami bergantung padamu-"

.

.

.

.

.

"Joongie-hyung, apa kau tidak apa-apa?" tanya Junsu pada namja cantik yang merupakan sepupunya, Jaejoong.

Namja cantik itu menggelengkan kepalanya pelan dan mencoba tersenyum pada Junsu. Ia tahu bahwa sepupunya itu sangat mengkhawatirkan dirinya, terlihat dari guratan wajah yang terpancar dari namja manis berkacamata itu. "Aku baik-baik saja, Su-ie. Ini sudah menjadi tanggung jawabku. Aku tidak dapat mundur, karena berhasil tidaknya misi kita kali ini tergantung dari Tim Dua yang bertugas membawa data pemusnah virus itu. Aku tidak ingin ada orang lagi yang berubah menjadi makhluk mengerikan itu, Su-ie-hiks." Setelah menyelesaikan ucapannya itu Jaejoong langsung menubrukan dirinya pada pelukan Junsu. Namja manis yang berprofesi sebagai wartawan itu pun menerimanya dalam dekapan.

Sembari mengusap-usap punggung Jaejoong yang terisak pelan, ia berdoa dalam hati agar misi ini dapat berjalan dengan lancar dan tidak menimbulkan korban jiwa—walaupun ia sedikit sangsi akan hal tersebut.

Setelah beberapa menit, Jaejoong pun melepaskan diri dari Junsu. Namja cantik itu mengusap wajahnya. "Baiklah, Su-ie. Ayo kita masuk kedalam tenda-" ajaknya pada Junsu yang dibalas dengan anggukan.

Dan mereka pun kembali memasuki tenda utama.

Jaejoong segera melangkahkan kakinya kearah sudut tenda sebelah kanan. Disana ada Kapten Jung Yunho dan Kadet Ok Taecyeon yang tergabung dalam Tim Dua bersama dengan dirinya.

"Oh, Jaejoong-ssi, sebaiknya kau memakai rompi anti peluru ini. Mungkin agak kesulitan saat pertama kali. Tapi nanti kau akan terbiasa-" ujar Yunho sambil memberikan sebuah rompi anti peluru pada Jaejoong.

Yunho dan Taecyeon sendiri sudah berganti pakaian menggunakan seragam militer lengkap. Meskipun Taecyeon adalah seorang polisi, namun namja tersebut memilih menggunakan seragam militer karena cocok untuk digunakan dalam situasi seperti ini.

SRET

Nampak Komandan Oh yang baru saja memasuki tenda bersama beberapa orang prajurit yang mengekor dibelakangnya. Prajurit-prajurit tersebut akan ditugaskan masuk kedalam Tim.

Sementara itu, terlihat Yoochun, Tuan Park, Changmin dan Kyuhyun tengah sibuk didepan komputer. Yoochun memberi petunjuk pada Kyuhyun bagaimana cara mengakses komputerisasi perusahaannya. Beruntung karena Kyuhyun memang sangat ahli dalam bidang komputer sehingga ia cepat memahami apa yang diajarkan Yoochun.

"Baiklah, kurasa semuanya sudah siap," sahut Yoochun sembari beranjak dari tempat duduknya.

Semua orang yang berada dalam tenda itu kemudian berkumpul ditengah tenda yang luas tersebut, berbaris dengan rapi berdasarkan tim masing-masing. Oh Jihoo yang bertugas sebagai komandan dalam misi ini maju kedepan. Memberikan beberapa patah kata dan motivasi pada semua orang yang ada disana.

"Sebagai seorang prajurit, adalah sebuah kehormatan apabila seandainya salah satu diantara kita gugur di medan perang. Tetapi bagaimana pun juga, tetap berusaha dan berdoa semoga kita dapat selamat dan dapat keluar kembali hidup-hidup. Musuh yang kita hadapi kali ini bukanlah makhluk biasa.

"Dan kalian—prajurit yang dengan gagah beraninya maju dalam misi ini, aku ucapkan terima kasih. Mungkin ini pertemuan kita yang kesekian kali, tapi mungkin juga akan menjadi yang terakhir. Aku perintahkan kalian, jangan pernah menyerah! Hadapi dengan sekuat tenaga karena kalian adalah seorang prajurit! Seorang prajurit pantang meneteskan air mata di medan perang. Tetap fokus dan laksanakan misi dengan baik. Bisa dipahami?!"

"Siap, bisa!"

Komandan Oh mengangguk puas mendapati antusiasme dari prajurit-prajurit kebanggaannya itu. Semua yang terlibat dalam misi membawa keluar data itu sudah berganti pakaian dengan dilengkapi persenjataan. Sebelumnya, ia sudah menghubungi militer Angkatan Udara untuk ikut berpatisipasi dalam misinya kali ini. Diharapkan Angkatan Udara untuk menggunakan beberapa unit helikopter guna membantu mereka yang akan masuk kedalam gedung dengan cara membawa amunisi—tentunya jaga-jaga jika mereka kehabisan peluru.

"Interupsi, Komandan."

Jihoo melirik Tuan Park yang menghampirinya lalu berdiri tepat disampingnya.

"Izinkan aku untuk menyampaikan satu hal penting, Komandan Oh-"

Jihoo menganggukkan kepala dan mempersilahkan Tuan Park untuk maju dan menyampaikan hal tersebut.

"Jika kalian berhadapan langsung dengan makhluk itu, jangan ragu untuk menembak mereka—tepat di kepala! Meskipun mereka mulanya manusia seperti kita, akan tetapi virus itu telah meracuni otak mereka. Jadi, maka dari itu, sasaran utama kita adalah otaknya. Karena otak adalah pusat syaraf yang sangat vital. Itu akan menghentikan pergerakan mereka-"

Tuan Park membuang nafasnya perlahan sebelum meneruskan kembali memaparkan analisanya, "Berhati-hatilah. Virus itu bersifat parasit, dapat beradaptasi dengan cepat pada inang barunya. Jika kalian bersinggungan dengan makhluk itu, usahakan jangan sampai kalian terluka karenanya. Luka sekecil apapun akan berdampak besar. Apalagi jika kalian sampai tergigit. Virus itu akan lebih mudah masuk kedalam aliran darah kalian, merusak jaringan dan meracuni otak kalian. Dengan kata lain, jika kalian terkena virus tersebut, kalian akan menjadi salah satu dari mereka."

Semuanya tampak menahan nafas mendengarkan penjelasan dari Tuan Park. Namja paruh baya itu terlihat sangat serius dengan perkataannya. Setidaknya pemikiran matang dan analisa dari ayah Park Yoochun itu memberikan masukan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka dalam misi kali ini.

.

.

.

.

.

TBC

Vans' cuap:

Ha! Preet~ XD #terbang *digaplok readers*