..
Suara tapak kaki kuda yang berlari memenuhi ruang disekelilingnya, teriakan – teriakan seseorang ikut menyertai. Dia masih berlari dengan nafas yang tersenggal, menoleh kebelakang sesekali untuk memastikan jika langkahnya tidak mereka ketahui. Gelap malam tak mengurungkan niatnya untuk melangkah lebih cepat, menerjang apapun yang tanpa sengaja ia lewati.
"Itu dia! Jangan biarkan Paduka Pangeran lepas!"Seorang berteriak paling lantang—menyuruh para pengikutnya untuk mengikuti langkahnya.
Pria itu semakin mempercepat langkah kakinya. Goresan – goresan luka di wajahnya sudah tak terhitung lagi jumlahnya—tergores oleh rating pohon. Rambut merahnya tak seterang diawal, menandakkan jika kekuatan nya sudah mulai menipis.
"Sial!"ia mengumpat.
Tanah yang ia pijak sudah tak lagi terlihat didepan mata. Ia terjebak. Sementara di belakangnya pasukan berkuda sudah membentuk formasi barisan tampal kuda untuk menutup akses jalan keluar. Seseorang yang berada di paling depan barisan melompat turun dari kuda putihnya. Pria bermata merah cerah itu berbalik—menatap si pemimpin berkuda yang turun mendekatinya.
"Tolong Paduka Pangeran! Kami hanya ingin membawamu dengan cara baik – baik. Yang Mulia Raja sudah menunggu anda."Ia berujar.
Yang diajak bicara justru menggeleng. Kakinya melangkah mundur perlahan hingga membuat tanah di belakangnya terkikis karena pijakkannya.
"Kenapa harus aku? Hyung lebih pantas menyandang gelar itu daripada aku!"ia menjawab. Matanya berkerut dengan nafas yang memburu.
"Tidak Paduka. Kakak anda sudah dicoret dari daftar keluarga kerajaan karena telah berkhianat pada Raja dengan cara menentang titahnya. Dia bahkan berani mengibarkan bendera perang pada Yang Mulia Raja."
Pria itu malah tertawa acuh "Memang seharusnya itu yang Ayah dapatkan karena sikap nya yang sewenang – wenang itu! Aku tidak akan mau menggantikkannya sebelum dia berubah."
Prajurit itu lantas menarik pedang dari sisi tubuhnya, dengan berani melayangkan benda berujung tajam itu pada sang Pangeran. "Kalau begitu kami tidak punya pilihan lain selain membawa pulang anda dengan cara kasar."
Dahinya berkerut dengan mata mendelik tajam kearah pria di depannya. Ia kembali menoleh kebelakang, air terjun Loan sudah menunggunya. Air nya mengalir deras dengan dua putaran air berukuran sedang di bawah nya. Sejauh ini tak pernah ada orang yang berhasil lolos dari putaran air yang akan mengirim mu menuju tempat antah berantah. Tempat yang dikatakan akan membawamu pada penunggu Air terjun ini. Namun jika kau berhasil, air akan membawa mu hingga hilir sungai, menuju hutan Legolas di bagian timur.
Pria itu menghirup nafas dalam sedang matanya masih fokus pada prajurit yang berjalan semakin dekat. Hanya ada dua pilihan. Kembali atau terjun. Ia menatap kedua telapak tangan nya sesaat lalu mengepalkannya kuat, memantapkan pilihannya sebelum akhirnya tubuhnya melayang kebelakang. Matanya terpejam sedang tubuhnya terhempas masuk kedalam air, masuk kedalam pusaran air kencang yang mengombang – ambing tubuhnya.
.
.
Another World
.
A Story by
Izahina98
.
"Masa lalu bukan untuk kau sesali melainkan untuk membawa mu melangkah dengan pasti menuju masa depan yang lebih baik."
.
Warning! : Mengandung unsur Boys Love, yaoi, boy x boy, typo, tema pasaran, drama banget.
Cerita murni dari otak author. Tolong hargain penulis dengan meninggalkan sesuatu di kolom Review.
Don't Like? Don't Read!
.
Happy Reading~
.
.
Di sana lah mereka. Berkumpul di kantor sang Raja dengan pemikirannya masing - masing. Nafas Sehun masih terdengar terengah dengan mata berkilat marah, tangannya terkepal kuat dikedua sisi tubuhnya. Dahinya berkerut dengan alis yang saling bertautan.
"Dia menghilang! Semua ini salahmu, brengsek."Ia berteriak marah
"Hushh! Jaga ucapanmu, Sehun! Kau sedang bicara pada Raja!"Pria berkulit tan di samping nya memperingati. Lalu sedikit membungkukkan tubuhnya pada Chanyeol "Maaf Yang Mulia, dia ini memang tempramen sekali. Tolong maafkan dia.."Kai berucap sedang Sehun kembali mendengus kuat – kuat.
Chanyeol tersenyum tipis lalu kepalanya menggeleng pelan "Tidak apa. Aku memang salah. Seharusnya aku bisa melindunginya dengan baik."Wajahnya jelas terlihat sedih.
"Memang itu yang harusnya kau lakukan! Kau sudah berjanji padaku dulu."Sehun kembali berujar dengan nada yang masih meninggi .
"Janji?"Chanyeol mengerutkan kening nya "Janji apa yang aku buat memangnya?"Dia bertanya.
Sehun melipat tangan di depan dada sambil memalingkan wajahnya acuh. Jongin kembali menghela nafas berat, ia memijit pelipisnya sebentar lalu kembali menghadap sang Raja "Sekali lagi tolong maafkan sikapnya itu Yang Mulia."
Chanyeol mengangguk paham sambil mengulas senyum tipisnya. Ia menatap pemandangan luar dari balik jendela kerajaan. Di luar, hujan turun dengan derasnya seolah mewakili perasaanya saat ini. Banyak hal yang membuat nya bingung, pertanya – pertanyaan aneh mulai muncul di otaknya seperti "Siapa aku sebenarnya?" atau "Siapa Kris dan ada hubungan apa dia dengan Baekhyun?".
Chanyeol mengusap kaca jendela yang berembun lalu menatap pantulan Jongin dan Sehun di kaca "Ya. Tapi bisakah kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin dengan begitu aku bisa mengingat sesuatu."
Jongin melirik Sehun sesaat—meminta si pria albino itu untuk menjelaskan. Sehun memutar bola matanya kesal namun tetap mengangguk kecil sebagai isyarat jika ia setuju.
"Baiklah. Ini terjadi sekitar 20tahun yang lalu…"
The Past : Beginning.
Suara kecipak air terdengar seiring langkah kaki nya di dalam air, mengejar ikan – ikan berukuran sedang yang berenang bebas di sekitar kaki nya. Tubuhnya membungkuk untuk melihat dengan jelas arah ikan itu berenang. Bibirnya akan mengkerucut lucu saat tangannya tak bisa menggapai satupun ikan tersebut. Ia meneggakan tubuhnya kembali sambil berkacak pinggang, mulutnya bergerak kecil mengeluarkan umpatan.
"Aish—Kenapa sulit sekali menangkap mereka, eoh?!"
Pria yang lain justru terkekeh saat menatap tingkah pria mungil di depannya. Ia mengangkat kedua tangannya, tersenyum kecil sambil menaik turunkan alisnya, menunjukkan seekor ikan berukuran cukup besar yang baru saja ia dapatkan—bermaksud pamer.
"Ck. Mau pamer ya? Lihat saja, sebentar lagi aku akan dapatkan ikan yang lebih besar daripada punya mu, Sehuna!"Ia melipat kedua tangan didepan dada dengan dagu terangkat.
Pria albino di depannya kembali terkekeh. Ia melempar ikan tadi ke tanah lalu mendudukan tubuhnya di pinggir sungai itu "Ya. Carilah sampai dapat. Aku ingin lihat sampai mana perjuanganmu itu." Sehun menjeda, jari telunjuk kanannya terangkat keudara "Tapi ingat! Kau tidak boleh terlalu lama didalam air, kau bisa kedinginan."ujarnya memperingati.
Baekhyun cemberut "Iya, Iya aku tau." Ia merunduk untuk menaikan celana nya hingga keatas lutut lalu tersenyum remeh pada Sehun "Tapi, jangan menangis kalau aku bisa mendapatkan yang lebih besar ya!"
Sehun bergidik sambil tersenyum tipis. Baekhyun kembali membungkukkan tubuhnya lalu berlari kecil untuk kembali mengejari ikan - ikan. Bibir tipisnya mengulum senyuman saat melihat wajah manyun Baekhyun saat kembali gagal menggapai tergetnya. Meskipun sikapnya kekanakan, Baekhyun tetap terlihat manis di matanya.
Ia mendongakkan wajahnya, menatap gumpalan awan putih yang bergerak pelan di langit. Beruntung hari ini cuaca sedang bagus, jadi mereka bisa bebas melakukan kegiatan favorit mereka. Ya, salah satunya seperti menangkap ikan. Sehun menidurkan tubuhnya diatas rerumputan dengan kedua tangan sebagai bantalan, matanya terpejam seolah menikmati usapan angin yang membelai tubuhnya.
"Uwaa! Sehuuunn!"
Kedua matanya yang awalnya terpejam sontak terbuka, tubuhnya menegang seketika. ia bangkit. Jantungnya berdetak tak beraturan ketika matanya tak menemukan keberadaann sosok mungil itu di sekitarnya.
"Baekhyuna? Kau dimana?"ia berteriak
Hening sesaat. Hanya terdengar suara gemersik ilalang yang bergoyang diterpa angin. Kepalanya ia tolehkan ke kanan dan kekiri, telinganya ia fokuskan untuk menangkap suara si mungil.
"Se—Sehun! Cepat kemari.."
Ia lantas berlari, menuju keasal suara. Kira – kira 5 meter dari tempatnya barusan. Baekhyun kini tengah duduk bersimpuh membelakanginya dengan pakaian yang basah, ia bahkan bisa lihat punggungnya yang bergetar—sepertinya dia kedinginan. Tanpa buang waktu ia berjalan mendekat. Yang di lihat berikutnya justru membuatnya tersentak kaget.
"Siapa dia?"Satu pertanyaan lolos dari mulutnya.
Baekhyun menggeleng. Tangannya masih setia mengusap surai kemerahan seorang pria yang terbaring di depannya, tangannya sekali lagi ia arahkan ke leher bagian kiri sang pria—memeriksa denyut nadinya.
"Bagaimana? Masih hidup?"Sehun kembali bertanya.
"Ya. Detak jantungnya masih ada kok! Lebih baik kita bawa dia pulang, sepertinya dia habis bertarung atau semacamnya."
Sehun menggeleng cepat "Tidak. Kau tidak boleh membawa sembarang orang kerumahmu!" Ia lantas meneliti penampilan pria itu lalu kembali berujar "Bagaimana jika dia ini jahat? Aku tidak mau hal yang tidak – tidak terjadi padamu."Sehun berucap tak setuju. Ia meraih tangan Baekhyun dari atas pria itu lalu menariknya pelan, memaksanya untuk bangkit "Lebih baik kita pulang dan biarkan dia."Sehun menguatkan tarikannya namun Baekhyun justru menahannya.
Kepalanya menggeleng "Meninggalkannya lalu membiarkan dia mati begitu saja? Aku tidak bisa."Netra mereka kini bertemu "Aku yakin jika dia bukan orang jahat. Percaya padaku, Sehuna!" Baekhyun memelas, ia menggenggam tangan Sehun dengan kedua tanganya.
Sehun menatap mata Baekhyun sebentar lalu memalingkan wajah setelahnya, ia memejamkan matanya sambil mendesah pasrah. Ia paling tidak bisa ditatap seperti itu oleh si mungil—itu kelemahannya.
"Oke, baiklah."Baekhyun memekik kegirangan sambil memeluk yang lebih tinggi "Tapi, kau juga harus waspada. Janji?"Pria mungil itu mengangguk – nganggukan kepalanya sambil menunjukkan jari kelingkingnya untuk ia tautkan pada jari kelingking Sehun.
Sehun menghela nafas lagi lalu kembali menatap sosok asing di depannya. Sosok asing yang terasa familiar. Wajahnya mengingatkan dia pada seseorang. Ia terdiam lama sekali sebelum akhirnya panggilan Baekhyun membuyarkannya.
Mereka memapah pria itu masuk kedalam hutan yang terletak tak jauh dari sungai. Hanya butuh beberapa menit hingga mereka tiba di sana, sebuah desa kecil yang di kelilingi oleh pohon – pohon yang menjulang tinggi. Sedang dibagian tengah, pohon besar terlihat berdiri dengan kokoh. Di dahannya terdapat sebuah rumah yang juga berbahan dasar kayu—semacam rumah pohon dengan tangga terbuat dari tali tambang sebagai akses menuju rumah. Berdaun sangat lebat dengan akar – akar sulur yang menjuntai kebawah menandakkan jika pohon ini sudah berumur ratusan tahun. Tidak banyak rumah disini, membuat lingkungan terasa sepi dan sunyi.
Mereka berjalan menuju salah satu pondok sederhana yang berada di paling depan. Pintunya terbuka otomatis saat Baekhyun menginjakkan kakinya di atas papan kayu sebagai lantai depan rumahnya.
"Hati – hati.."Baekhyun berseru
Saat melewati pintu. Ruangan luas akan menyambutmu, jauh berbeda dari pemandangan diluar. Pepatah yang mengatakan jika 'Jangan melihat dari sampulnya saja' sepertinya memang benar adanya. Lihat saja?! Jika dari luar memang terlihat seperti pondok biasa namun berbeda saat kau berhasil masuk kedalam. Ukurannya jauh lebih besar dan hampir seluruhnya berbahan dasar kayu kualitas tinggi. Kuat dan kokoh. Beberapa lentera juga terlihat menggantung di sisi – sisi ruangan sebagai penerangan. Didepan sana terlihat perapian kecil yang mulutnya terbuat dari campuran tanah putih dan juga batu.
Mereka membawa pria itu masuk kedalam salah satu kamar, membaringkan tubuhnya perlahan diatas ranjang berukuran sedang. Setelah nya Baekhyun bergegas untuk mengambil baskom berisi air dan juga kain. Sehun hanya diam, menatap bagaimana Baekhyun dengan telaten mengurus pria misterius itu. Terkadang kedua sudut bibir Baekhyun terangkat membentuk sebuah senyuman.
"Wow! Sehuna, lihat! Lukanya menutup perlahan.."Baekhyun memekik ketika melihat luka sayatan di pipi pria itu
Sehun mengeryit "Apa kau tidak merasa jika dia mirip seseorang, Baek?"
Baekhyun lantas menoleh, ikut mengerutkan dahinya sedang otaknya mulai memikirkan ucapan Sehun barusan. "Kau benar, seperti déjà vu. Tapi aku tidak mengingat siapa yang waktu itu ku tolong, lagipula sepertinya itu sudah cukup lama."Baekhyun berujar. Baskom tadi ia letakkan di atas nakas di pinggir ranjang.
Bagaimana mengatakannya ya? Baekhyun ini terlalu mudah percaya pada orang lain dan mudah melupakan sesuatu. Kelemahan yang membuatnya Sehun harus selalu siap sedia di sampingnya. Tentu saja dia tidak ingin kejadian yang lalu – lalu terjadi lagi. Seperti di tipu orang misalnya.
"Sehuna, tolong pinjami dia baju ya. Kau tau kan pakaianku tidak mungkin muat di tubuhnya."
Sehun memutar bola matanya. Ia berdecak namun tetap berjalan ke kamar di sebelah untuk mengobrak – abrik lemari berwarna cokelat tua miliknya lalu membawa satu stel pakaian berwarna merah garis putih untuk dikenakan pria itu.
"Terimaksih."Baekhyun tersenyum.
Tidak terasa pagi telah menjelang. Sehun terbangun di kursi tengah ruangan. Semalaman ia tidak bisa tidur dengan lelap karena mencemaskan pria asing itu. Tunggu—jangan salah paham. Sehun hanya takut jika pria itu akan terbangun ditengah malam dan berbuat yang tidak – tidak pada Baekhyun karena pria mungilnya itu bersikeras untuk menjaga pria itu seorang diri.
Ia bangkit. Merenggangkan otot - ototnya sebentar lalu berjalan kearah kamar Baekhyun. Pria mungil itu sudah terlelap kini dengan posisi terduduk sedang kepala di sandarkan di sisi ranjang. Tentu itu bukan posisi nyaman untuk terlelap. Sehun mendekat lalu memperhatikan laki – laki di depan Baekhyun dengan jeli. Hebat sekali. Luka di tubuhnya bahkan sudah hilang tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
"Aku yakin betul jika dia berasal dari Ras Guardian. Karena hanya mereka yang memiliki kemampuan seperti ini."Sehun bergumam "Dan keturunan ras ini yang tersisa hanyalah…"Ia terdiam sesaat sambil memikirkan sesuatu. "Aku harus mencari tau…"
Dia beralih pada sosok mungil itu kembali. Perlahan mengangkat tubuh si mungil, ia menyelipkan tangannya di antara lipatan kaki dan leher Baekhyun. Berhenti sebentar saat si mungil merengek dalam tidurnya. Tubuh itu ia bawa ke atas ranjang nya sendiri, membaringkan nya lalu menarik selimut berwarna abu – abu untuk menutupi tubuhnya hingga menyisakkan kepalanya saja yang menyembul keluar.
Ia mengelus surai kebiruan Baekhyun lalu mengecup dahi pria itu pelan. "Aku harus pergi sebentar. Tidurlah yang nyenyak, Baekhyuna."Ia berbisik.
Sehun melangkah keluar. Ia kembali menoleh untuk menatap rumah itu sekali lagi. Sebenarnya sedikit berat bagi nya untuk pergi dan meninggalkan Baekhyun bersama pria asing itu namun ia juga harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia menghela nafas pelan lalu menghilang di balik angin yang ia buat.
-Another World-
Pria itu membuka kedua matanya, mengerjap pelan untuk memperjelas penglihatannya. Hal pertama yang Ia lihat adalah wajah seorang pria manis yang merunduk di atasnya. Ia tersentak. Refleks memundurkan tubuhnya hingga kepalanya membentur kepala ranjang.
"Kau sudah bangun? Tidak usah takut begitu. Aku tidak akan memakanmu kok."Ia tertawa pelan lalu kembali meraih nampan berisi semangkuk sup dan segelas air.
Pria berambut merah itu menatapnya tanpa berkedip. Memperhatikan setiap pergerakan kecil yang dibuat oleh si mungil. Baekhyun meletakkan nampan barusan di pangkuannya lalu meraih mangkuk itu dan memberikan nya pada si rambut merah "Ini makanlah."
Pria itu melirik isi mangkuk itu sesaat lalu kembali melirik Baekhyun yang tersenyum kearahnya. Dengan ragu ia menerima mangkuk yang terbuat dari kayu tersebut.
"I—Ini dimana? Dan kau siapa?"Tanya sang pria.
Baekhyun tersenyum lagi "Kau berada di desa Azure, pernah dengar?"pria itu mengangguk "Dan namaku Byun Baekhyun, kau boleh memanggilku Baekhyun."Dia berujar, ia melirik pria itu sesaat "Lalu siapa namamu?".
"Chanyeol."
Baekhyun mengangguk "Chanyeol ya? Ya sudah. Cepat habiskan supnya sebelum dingin."
Chanyeol memakan makanan nya dalam diam sedang matanya masih terpaku pada sosok di depannya yang sejak tadi terus saja berceloteh tentang banyak hal. Memperhatikan bagaimana bibir kemerahan itu bergerak – gerak saat berbicara, dan tanpa sadar ia akan ikut tersenyum ketika melihat si mungil tertawa atau tersenyum manis kearahnya. Matanya akan membentuk sebuah garis melengkuk seperti bulan sabit ketika dia tersenyum, sangat cantik.
"Baekhyuna?" Mereka sontak menoleh secara bersamaan. Di ambang pintu Sehun sudah berdiri, menyandarkan bahu kanannya sedang matanya menatap Chanyeol dan Baekhyun bergantian.
"Oh? Kau sudah pulang? Apa kau lapar? Aku sudah membuatkan mu sup." Baekhyun beranjak. Keluar melewati Sehun menuju dapur yang terletak di bagian paling belakang.
Sehun melirik Chanyeol sebentar sebelum akhirnya mengikuti Baekhyun dari belakang. Ia berdiri di belakang si mungil, kedua tanganya bergerak memeluk leher Baekhyun dari belakang sedang dagunya ia taruh diatas kepala Baekhyun, hidung nya sesekali mengirup dalam – dalam aroma rambut alami pria itu. Baekhyun tersenyum, ia mengusap lengan Sehun sesaat sebelum mengaduk sup itu kembali lalu menuangkan isinya kedalam mangkuk kecil ditangannya. Tanpa sadar seseorang yang lain memperhatikan mereka.
Suasana malam disini sangat lah sepi namun langitnya sangat indah. Titik – titik cahaya terlihat mendominasi diantara gumpalan awan tipis. Semilir angin tertiup pelan membuat ranting pohon bergoyang menimbulkan suara yang khas.
Baekhyun duduk di teras pondok dengan kaki yang menjuntai kebawah. Kegiatan favorite nya saat malam hari, memandangi langit sambil bersandung pelan. Seorang diri atau terkadang berdua bersama Sehun. Suara burung – burung malam saling bersahutan, terdengar seolah ikut bernyanyi mengiringi nya. Beberapa binatang kecil seperti tupai akan turun dan mendekatinya, sedang di bawah sana kunang – kunang keluar dari balik semak – semak, bersinar terang diantara kegelapan.
Ia memejamkan matanya dengan kaki yang bergerak – gerak di udara.
"Lagu yang indah."
Baekhyun sontak menoleh dan mendapati Chanyeol sedang berdiri di belakangnya. Ia tersenyum lalu menepuk tempat kosong disebelahnya.
"Apa suaraku mengganggumu?"Baekhyun menelengkan kepalanya dengan kedua alis terangkat.
Chanyeol segera mendudukan tubuh nya tepat di sebelah si mungil. Pria bertubuh tinggi itu lantas menggeleng lalu ikut tersenyum simpul padanya "Tidak. Aku justru menyukainya, suaramu juga sangat indah."Ujarnya memuji .
Semburat merah taunya muncul di kedua pipi Baekhyun tanpa sadar "Be—Benarkah? Suaraku biasa saja padahal."
Dia mengacungkan dua jari tangan kanannya keudara, membentuk lambang V "Aku serius. Aku menyukainya.."Chanyeol tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang menawan.
"Terimakasih."
Hening. Untuk beberapa saat mereka melewati waktu dalam keheningan, terjebak dalam kecanggungan. Chanyeol melirik Baekhyun, mulutnya terbuka berulang kali—berniat untuk memulai obrolan.
"Eumm.."Chanyeol bergumam pelan. "Baekhyun? Boleh aku bertanya sesuatu?"
Baekhyun mengangguk "Tentu."
Ia melirik sekelilingnya lalu sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Baekhyun. "Apa kau hanya tinggal berdua saja dengan Sehun? Apa hubunganmu dengan nya? Ah— maksudku, kemana orang tua mu? Dan kenapa disini sepi sekali?"Chanyeol bertanya ragu.
Pria itu tak lantas menjawab, ia terdiam sesaat seperti memikirkan sesuatu "Orang tua ku sudah tiada."Ia menjeda, kepalanya ia tundukkan untuk melihat kedua kakinya "Kau masih ingat Perang Bloods yang terjadi dahulu?" Chanyeol mengangguk sebagai jawaban. Tentu dia tau. Perang berdarah yang timbul karena ulah Ayah nya. "Mereka gugur saat berperang. Ras kami yang tersisa melarikan diri dan bersembunyi di hutan ini.."Baekhyun mendongakkan wajahnya kembali— menerawang ingatannya di masa lalu.
"Dan pada saat itu aku menemukan Sehun terluka disana. Usianya kira – kira 15tahun saat itu."Baekhyun lantas tersenyum "Sejak saat itu kami tinggal bersama, aku sudah menganggapnya sebagai keluarga ku sendiri. Aku sangat menyangainya.."jelasnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menceritakan kisah itu lagi. Itu pasti berat."
Baekhyun menggeleng pelan "Tidak apa. Selama aku memiliki Sehun, itu sudah lebih cukup bagiku."
"Kau berasal dari Ras Elves, benar?"Baekhyun melirik Chanyeol lalu menganggukan kepalanya "Benar. Kenapa memang?"
"Lalu apa Sehun juga sama seperti mu? Berasal dari Ras Elves?"Chanyeol bertanya, ia melipat kedua kakinya lalu menghadapkan tubuhnya kearah Baekhyun, terlihat penasaran.
"Bukan. Dia berasal dari Ras Halfling. Gabungan antara Ras Wind dan juga Ras Raven—Ras dengan kemampuan bertarung yang hebat dengan Element Angin sebagai dasar kekuatannya. Dia itu juga sangat ahli dalam membuat strategi."Ucapnya panjang lebar. Chanyeol hanya mengangguk – anggukan kepalanya dengan bibir terkulum.
Sepanjang malam mereka habiskan dengan mengobrol banyak hal. Saling bercanda dan tertawa bersama, melupakan fakta jika udara malam sangat dingin. Malam sudah semakin larut dan udara malam semakin dingin membuat mereka akhirnya memutuskan untuk segera kembali masuk kedalam.
Tidak terasa 3hari telah berlalu. Mereka melewati hari dengan aktivitas mereka se[erti biasanya di tambah dengan kehadiran Chanyeol yang membuat hari mereka lebih menyenangkan. Ralat—terkecuali Sehun sepertinya.
Sehun menyandarkan punggungnya di bawah pohon apel. Tangannya sesekali bergerak membentuk sebuah angin kecil di ujung jarinya. Ia bosan—sangat. Semenjak kedatangan Chanyeol, Baekhyun jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan pria itu. Sehun cemburu? Entahlah. Tapi wajahnya jelas menunjukkan ekspresi ketidaksukaannya. Wajahnya berubah datar dengan tatapan tajam, dingin dan menusuk. Benar - benar tidak terlihat seperti Sehun yang biasanya.
Sebenarnya Baekhyun tidak mengabaikannya, dia nya saja yang tidak mau diajak bergabung. Dia lebih memilih memantau mereka dari kejauhan atau terkadang pergi ke Desa tetangga untuk mengunjungi sahabatnya guna mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Sejauh ini informasi yang diadapatkan masih sedikit.
"Pangeran ya?" Dia menggeleng pelan dengan sudut bibir terangkat "Tidak kusangka."
Ia memejamkan matanya, mencoba terlelap. Hingga sebuah suara asing tanpa sengaja tertangkap indera pendengarannya. Jaraknya masih jauh, tapi Sehun bisa mendengar itu dengan jelas. Mereka datang dari sebelah Utara dengan menggunakan kuda.
"Ada yang mendekat."Ia berujar waspada.
Ia menolehkan kepalanya, menatap sekelilingnya sedang telinga masih mencoba fokus menangkap suara itu. Tak lama beberapa pasukan berkuda muncul dan berhenti tepat di depan Chanyeol dan Baekhyun. Sehun segera menghilang dan muncul tepat di depan Baekhyun, bermaksud melindungi si mungil.
"Kalian? Untuk apa kalian kemari?"Ucap Chanyeol.
Salah satu dari mereka kemudian turun dan bersimpuh dengan satu kaki menempel pada tanah. Kepalanya ia tundukan "Maaf Paduka Pangeran, kami harus segera membawa anda pulang ke kerajaan. Yang Mulia Raja sedang sekarat dan Yang Mulia Ratu meminta hamba untuk membawa pulang anda."Ia berujar tanpa menatap mata Chanyeol.
"Jika aku tidak mau bagaimana?"
"Tapi ini mendesak paduka. Sebenarnya Yang Mulia Ratu juga sedang dalam kondisi yang tidak baik.."Ujarnya takut – takut.
Chanyeol mengerutkan keningnya "Apa maksudmu? Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Kerajaan di serang. Raja dan Ratu terluka dan penduduk kini terlantar karna tempat tinggal mereka juga telah hancur karena ulah Kakak anda Paduka."Orang itu menjelaskan.
Chanyeol mengepalkan kedua tangannya di kedua sisi dengan erat hingga urat – uratnya menyembul keluar. Ia memang membenci Ayahnya namun tidak dengan Ibundanya. Apalagi Rakyat ikut terkena imbas karena masalah ini. Tentu, ia tidak bisa membiarkan nya begitu saja. Chanyeol memejamkan mata lalu menghela nafas berat. Ia berbalik untuk berjalan kearah Baekhyun yang masih terdiam ditempatnya .
Sehun masih disana, melindungi tubuh mungil Baekhyun di balik tubuh tingginya. Gengaman tanganya di pergelangan tangan Baekhyun semakin menguat seolah menyuruh Baekhyun agar tetap di tempatnya. Chanyeol melirik Baekhyun yang juga meliriknya dari balik punggung Sehun.
"Terimakasih untuk semuanya."Chanyeol tersenyum "Aku akan kembali. Aku janji!" Ia berujar dan Baekhyun mengangguk sebagai jawaban.
Chanyeol segera berjalan menuju kuda hitam didepannya namun berhenti sesaat untuk menatap pria mungil itu sekali lagi sebelum akhirnya melenggang pergi, memacu kudanya membelah kesunyian lalu menghilang di telan jarak.
…
Chanyeol memang memegang janji nya. Tepat setelah seminggu pertemuan mereka, dia kembali namun kembali dengan kabar yang membuat Baekhyun dan Sehun tercengang. Dia datang dengan membawa kurungan berisi sepasang burung merpati berwarna biru. Semua tau jika ini adalah tradisi kerajaan jika ingin melamar pasangannya.
Pria itu meletakan kurungan burung di sampingnya lalu bersimpuh di hadapan Baekhyun, memegang kedua tangan pria itu layaknya memegang seorang putri "Menikahlah dengan ku, Baekhyuna! Aku ingin kau menjadi pendamping hidupku selamanya." Terdengar pasaran? Tapi itulah yang Chanyeol katakan. Kedua matanya bahkan berbinar terang saat mengatakannya.
Baekhyun hanya berdiri mematung dengan kedua mata melebar tak percaya. Ia meneliti kedalam manik merah terang Chanyeol untuk mencari kebenaran dari matanya. Dan pria itu masih tetap dalam posisinya, tersenyum lebar untuk menyakinkan si mungil.
Ia mengirup nafas lalu menghembuskannya pelan lalu kembali menguatkan genggaman tangannya "Menikahlah denganku, Baekhyuna.."
Sebuah anggukan sudah cukup membuat Chanyeol bersorak kegirangan. Ia mengangkat tubuh Baekhyun keatas lalu berputar sebentar sebagai bentuk ekpresi kebahagiannya.
Sedangkan hingga malam menjelang Sehun masih terdiam ditempatnya. Duduk termenung diatas batu berukuran sedang di tengah sungai. Kakinya menendang – nendang air sungai berulang kali. Moodnya sedang buruk sepertinya. Ia membuang nafas lalu kembali mengangkat kedua kakinya, menunduk untuk menyembunyikan kepalanya di balik lengan. Ya ampun—dia seperti orang yang patah hati saja.
"Sepertinya kau tidak senang aku melamar Baekhyun?"Chanyeol muncul tiba – tiba lalu tanpa permisi ikut mendudukan tubuhnya di samping Sehun.
Sehun mengangkat wajahnya lalu melirik Chanyeol lewat ekor matanya, ia berdecih dengan bibir mengkerut kesal. "Memang!"jawabnya singkat.
"Wow—Kenapa? Aku ini pria baik – baik, asal kau tau."
Pria itu menatap Chanyeol dengan sebelah alis terangkat sedang bibirnya membentuk senyum remeh pada si jangkung "Kau? Pria baik – baik? Heh—aku tidak percaya."Ia kembali mengalihkan pandangannya kedepan, menatap kebun bunga di seberang sungai "Aku ini sebenarnya tidak setuju karena ya—karena aku mencintai Baekhyun lebih dulu daripada kau."Jelasnya. Chanyeol sontak menoleh dengan bola mata melebar.
"Kau serius?!"Tanya nya tak percaya.
Sehun mengangguk mantap "Untuk apa aku bohong? Aku mencintainya melebihi apapun, bahkan nyawaku sendiri."Ia tersenyum kecil "Dia segalanya bagiku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku akan mengabdikan hidupku hanya untuknya seorang."
"Tapi—" Dia menjeda sesaat. Ia kembali menatap Chanyeol, melirik penampilan pria itu dari bawah sampai atas. "Tapi, jika dia memang mencintaimu ya aku tidak bisa apa – apa."lalu kembali menghela nafas.
Chanyeol menepuk pundak Sehun sambil tertawa pelan "Tenang saja, dia aman bersamaku! Aku tidak mungkin menyakitinya, aku berjanji."
"Memang itu yang harusnya kau lakukan! Lihat saja, aku akan membunuhmu jika kau berani melakukan itu bahkan jika kau Raja sekalipun. Aku tidak peduli, kau mengerti?"Ujar Sehun sarat akan ancaman.
Pria itu menganggukan kepalanya sambil memperlihatkan jemari kelingkingnya di udara "Ya, aku berjanji. Kau boleh melakukan apapun jika aku berani begitu."
…
Pesta pernikahan Chanyeol dan Baekhyun di selenggarakan secara meriah. Para penduduk bersuka cita menyambut kedatangan anggota keluarga baru didalam kerajaan. Rumah mereka kembali dan mereka mendapatkan Raja dan Ratu yang baru, tentu ini berita baik. Sehun tentunya juga ikut, karena Baekhyun tidak mau jika tidak pergi bersamanya. Dan sebagai penghormatan Chanyeol mengangkat Sehun sebagai Jendral pertama kerajaan sekaligus pengawal pribadi Baekhyun—kalau tugas yang kedua itu Baekhyun sendiri yang memintanya.
Hari – hari berlalu dalam suasana damai dan tentram. Para penduduk juga sudah menjalankan aktivitas mereka seperti biasa—Berkebun, berternak dan juga berjualan di pasar. Chanyeol menjalankan tugasnya dengan sangat baik, ia menjadi Raja yang disegani oleh banyak orang. Kini tidak ada lagi penduduk yang terlantar. Kabar ini pun merembak kesegala penjuru negeri, membuat banyak orang ingin bertemu langsung dengan Raja mereka yang baru.
Sehun berlari dengan nafas memburu. Ia membuka pintu kantor Chanyeol dengan menyentaknya sedikit kasar "Aku mendapat berita buruk!"
Chanyeol berdiri dari tempat duduk nya, menatap Sehun dengan alis saling bertautan lalu beralih menatap gulungan kertas di tangan si pria albino "Berita buruk? Cepat katakan!"
"Kris kembali! Dia mengibarkan bendera perang pada kita!"Sehun berucap. Alisnya saling bertautan dengan sorot mata yang tajam "Dia bahkan memaksamu menyerahkan Baekhyun padanya! Shit—sudah kuduga aku mengenal pria itu sebelumnya."Sehun mengumpat.
"Apa maksudmu?!"
"Sebelum kau datang, Baekhyun juga pernah menolong seseorang seperti mu. Dia juga melamar Baekhyun beberapa hari setelah nya namun Baekhyun saat itu menolak dengan alasan jika dia tidak bisa menikahi orang yang baru dikenalnya. Dan kau tau? Dia sempat menculik Baekhyun dari ku."Sehun mendesah frustasi "Dia masih keras kepala juga ternyata!"
Chanyeol membuang nafas berat. Ia benci peperangan namun ia juga tidak bisa membiarkan ancaman Kris begitu saja. Ia tahu betul bagaimana sifat Hyungnya itu. Dia tidak akan berhenti sampai tujuan nya tercapai bagaimana pun yang terjadi. Ia takut rakyat akan kembali terkena imbas dari perbuatannya itu. Akhirnya dengan berat hati ia harus menyetujui permintaannya.
Dan di sini lah mereka. Berada di tanah yang luas jauh dari ibukota. Berdiri dengan pasukannya masing – masing. Chanyeol dan Kris sama – sama berdiri dibarisan terdepan pasukan mereka untuk memimpin. Chanyeol menoleh kekanan dan kekiri. Menatap Sehun dan juga Jongin yang sudah siap dengan pedang - pedang mereka. Sedang Baekhyun berdiri di barisan paling belakang, berdiri di tempat tertinggi bersama pasukan dengan busur sebagai senjata mereka—pasukan dengan kemampuan jarak jauh.
Chanyeol memejamkan matanya, menghirup nafas dalam lalu kembali menatap Kris yang berdiri jauh di depannya. Kris menyeringai dengan Pedang yang sudah mengacung diudara.
Tanpa buang waktu lagi. Chanyeol segera mengangkat pedangnya keatas membuat pasukan dibelakangnya ikut bersiap, mereka menarik senjata mereka masing – masing dengan badan tercondong kedapan—bersiap untuk berlari.
"Serangggg!"
Dan perang dimulai saat Chanyeol mengarahkan pedangnya kedepan sebagai isyarat untuk menyerang. Kedua belah kubu mulai berlari menerjang satu sama lain. Chanyeol memacu kudanya secepat mungkin, membelah lautan makhluk menyeramkan dan menebas siapa saja yang menghalangi jalannya. Tujuannya kini hanya satu yaitu berhadapan langsung dengan Kris.
Sementara, Sehun bertugas memimpin pasukan di sayap kanan. Ia meraih pedangnya dari ruang hampa, memacu kudanya dengan cepat lalu melompat turun saat berada di tengah. Ia berguling lalu menebaskan pedangnya pada musuh yang mendekat.
Bangsa Orc, Minotaur dan para Serigala berbaur menjadi satu untuk merobohkan pasukan. Sehun harus bertindak lebih cepat karena lawannya tidak bisa di remehkan. Bangsa Orc adalah Ras yang terkenal kuat dan menguasai dengan baik teknik dalam berperang.
Sehun dengan keahlian strateginya segera memutar otak dan memerintahkan pasukannya untuk menyerang sesuai strategi yang sudah ia buat. Centaurus, Satyr dan bangsa Raven bergabung menjadi satu dalam menjalankan perintah Sehun. Bangsa Raven dengan tubuh kecilnya bertugas untuk menumbangkan bangsa Orc dengan menebas kaki mereka dengan pedang lancip menyerupai jarum. Bangsa Raven—Para tikus yang ahli dalam peperangan jarak dekat lalu para Satyr—manusia berkaki kambing akan menghabisi musuh yang tersisa dengan Gada sebagai senjatanya. Sejata dengan ujung berbentuk bulat mirip seperti permen lollipop.
"Habisi mereka semua! Jangan biarkan satupun lolos!"Sehun berteriak lantang. Tangan dan tubuhnya sudah di penuhi dengan bercak darah merah kehitaman kini.
Jika di sayap kanan ada Sehun maka di sayap kiri ada Jongin yang memimpin. Bersama para Centaurus dan juga prajurit berkemampuan khusus untuk membantunya menyerang. Puluhan anak panah melesat cepat menembus siapa saja yang berani mendekat. Baekhyun bersama pasukannya berhasil menjantuhkan setengah dari pasukan musuh. Puluhan makhluk sudah jatuh tersungkur di atas tanah, baik dari pihak Kris maupun pihak Chanyeol.
Sedang dilangit Para Hippogriff terbang dengan batu sihir di kaki – kaki mereka. Makhluk berwujud setengah rajawali dan setengah kuda itu dengan mudah menjatuhkan batu – batu itu pada musuh. Batu yang akan membakar siapa saja yang memiliki niatan jahat dalam hatinya. Atau sebagian dari mereka akan terbang menukik untuk membawa tubuh musuh ke langit dan menghempaskannya ketanah.
"Lama tidak bertemu, Adikku.."Kris menyeringai , ia melompat turun dari kuda putihnya.
Chanyeol di depannya sudah siap dengan dua pedang kembar sebagai senjata andalannya. Pertarungan mereka dimulai. Chanyeol menyilangkan pedangnya di depan wajah untuk menghalau serangan Kris. Ia mendorong pedang Kris kuat lalu melayangkan sebelah pedangnya kearah kiri pria itu.
Kris merunduk untuk menghindar lalu melompat sedikit menjauh. Ia tertawa mengejek ketika melihat Chanyeol yang sudah terengah. "Pertarungan baru dimulai dan kau sudah kelelahan? Kau memang tidak pantas jadi Raja, Chanyeora!"
"Diam kau!"Ujar nya. Chanyeol menggeram dengan mata berkilat marah, nafas nya memburu dengan alis menukik tajam.
"Well—aku tidak perduli dengan posisi Raja yang kau rebut dariku. Dari awal aku memang tidak peduli sama sekali. Tapi aku tidak terima jika Baekhyun lebih memilihmu daripada aku."
Kris kembali melesat cepat kearah Chanyeol. Sangat cepat bahkan mereka kini terlihat seperti cahaya yang saling beradu di udara. Dengan gerakan memutar Kris menganyunkan pedangnya membuat pipi dan lengan Chanyeol tergores. Kaki panjang Chanyeol lantas melayang untuk menendang wajah Kris namun berhasil di blok olehnya. Kepalan tangan Kris menguat dengan aura kebiruan terpusat disana, bergerak untuk meninju ulu hati pria di depannya.
"Shit! brengsek kau, Kris!"Chanyeol berteriak. Ia menekan dadanya kuat lalu mengusap cairan dkental di sudut bibirnya. Aura kemerahan muncul semakin terang di sekeliling tubuhnya membentuk perisai untuk melindungi tubuhnya. Kris tertawa remeh. Menyerang dan menghindar . Mereka saling membalas dengan kekuatan maksimal yang mereka miliki. Tidak ada satupun dari mereka yang terlihat ingin mengalah bahkan mereka sudah tidak memperdulikan luka sobek di tubuh masing – masing.
Chanyeol menangkis tinjuan Kris lalu memusatkan kekuatannya di kaki untuk kembali melayangkan tendangan pada tulang rusuk nya dengan kencang hingga tubuh Kris terpelanting jauh kedepan. Kris membungkukkan tubuhnya sedang tanah ia cengkram untuk membuat nya berhenti, garis panjang menyerupai parit kini terbentuk karena ulahnya.
"Brengsek!"Pria itu kembali menenggakkan tubuhnya. Arena pertempuran mereka sudah jauh berbeda saat diawal. Tanah retak dengan lubang – lubang terbentuk di tanah juga cairah merah yang tersebar di sekitarnya.
"Aku tidak akan membiarkan mu membawa Baekhyun!" Chanyeol membuka telapak tangan kanannya, membentuk bola api berukuran sedang lalu melayangkannya kearah Kris. Bola api itu melesat sangat cepat bahkan membuat Kris tak bisa mengelak.
Kris terpelanting, api itu membakar tubuhnya namun padam setelah Kris menepuk pakaiannya. Ajaib sekali. "Kau lupa? Aku juga berasal dari Ras yang sama seperti mu! Api tidak bisa membakarku!" ia berujar sombong.
"Kini giliran ku!" Kris mengiris pergelangan tangannya secara bergantian hingga membuat darah menetes dengan deras dari luka sayatannya.
Dia mengangkat kedua tangannya keatas, merapalkan mantra lalu disaat yang bersamaan muncul lingkaran awan hitam dilangit membentuk lubang di tengahnya dengan kilatan – kilatan petir yang ikut menyambar. Para prajurit yang tadinya tengah sibuk berperang sontak terhenti untuk menyaksikan sesosok makhluk menyeramkan yang keluar dari lubang tersebut.
"Itu kan? Sial—jangan bilang dia akan melakukannya.."Baekhyun mengumpat. Pria mungil itu bersiul kencang untuk memanggil salah satu Hippogriff untuk datang mendekat.
Ia melompat naik dan segera terbang ketempat Chanyeol berada. Namun langkahnya terhalang oleh terpaan angin kencang, ia menyilangkan kedua tangan untuk menghalau debu yang menerpa. Ia mengintip dari celah lengannya.
"Tidak! Baekhyun apa yang akan dia lakukan?"Sehun berucap. Perasaannya berubah tidak enak kini.
Sedangkan makhluk itu berhasil keluar dari lubang hitam. Itu Wyvern—Makhluk menyerupai Naga dengan warna hitam mendominasi tubuhnya. Memiliki sayap kelelawar dan juga ekor berduri. Tidak seperti Naga, makhluk ini hanya memiliki dua kaki dengan cakar seperti seekor elang dan tidak bernafaskan api. Namun makhluk ini terkenal licik dan juga jahat. Melambangkan perang dan iri hati—mereka juga dapat menyemburkan racun yang sangat berbahaya.
Wyvern itu kini sudah terbang tepat di belakang Kris—seperti menunggu perintah dari si pemanggil. Kedua tangan Kris terlipat di depan dada dengan dagu meninggi, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian, sarat akan ejekan. "Selamat menempuh hidup baru, adikku sayang.." Kris mengarahkan tangan kanannya kedepan sebagai isyrat.
Makhluk itu terbang dengan gerakan zig zag mendekati Chanyeol dengan cepat. Dengan sisa kekuatannya Chanyeol menghindar juga menyerang. Tubuhnya berguling untuk menghindari hantaman ekor berdurinya. Namun sia – sia saja, makhluk itu berhasil mencengkram tubuh Chanyeol lalu membawanya terbang perlahan "Sial!" Chanyeol bergerak brutal untuk melepaskan diri.
"Chanyeoll!"Baekhyun berteriak. Ia mengejar Chanyeol dari belakang, berusaha menggapai tangan pria itu.
Baekhyun menyerang dengan melesatkan anak panah dari busur nya berkali - kali. Berhasil tapi tak berdampak apapun. Makhluk itu justru menggerang marah lalu melayangkan ekor berdurinya membuat tubuh Baekhyun terhempas kencang, menghentak tanah berulang kali sampai Sehun menangkap tubuh si mungil dengan bantuan angin miliknya. Darah keluar dari mulut dan hidungnya. Hal setimpal yang ia dapatkan karena aksi nekatnya barusan.
"Baekhyun! Astaga! Bertahanlah, Baek!"Sehun berteriak panik.
Pria mungil itu mengerjap beberapa kali sedang matanya masih setia menatap sosok Chanyeol yang semakin mengabur. Tangannya menggapai keudara seolah ingin menggapai pria jangkungnya. Sehun langsung meraih tangan Baekhyun yang terangkat lantas menggenggamnya erat lalu membawa tubuh itu untuk ia peluk. Dada nya naik turun tak beraturan dengan nafas yang terdengar putus – putus. Kedua matanya mulai terpejam perlahan. Namun sebelum benar – benar tertutup, Sehun masih bisa mendengar Baekhyun berbisik pelan di telinganya.
"Selamatkan Chanyeol, Sehuna."
The Past—
End.
"Setelah itu para pelindung empat arah mata angin muncul. Walau terkena racun dan juga luka yang cukup parah, Baekhyun berhasil selamat karena pertolongan Suzaku. Lalu Kris dihukum karena telah melanggar larangan dengan membuka portal dunia lain."Sehun menjelaskan.
Ia menyandarkan bahunya di rak buku di ruangan itu. Sebelah tanganya terlipat di depan dada sedang tangan yang lain menyentuh dagu runcing "Sepertinya Kris menyegel kekuatan dan juga ingatanmu. Dia memanipulasi waktu dengan mengirimmu kedunia yang seharusnya tidak boleh kau kunjungi."
"Itu terjadi 20tahun yang lalu? Tapi kenapa aku masih terlihat muda seperti ini? Kau juga! padahal saat di cerita, Baekhyun menemukanmu saat berusia 15 tahun?"
"Usia mu bahkan sudah lebih dari 100tahun"Ujar Sehun.
"Huh? Kau bercanda?"Chanyeol berucap tak percaya.
"Dia benar. Bagi Ras yang memiliki kekuatan alami memang memiliki umur yang lebih panjang. Berbeda dengan ras Human yang terlahir tanpa kekuatan."Jongin menimpali.
"Oke—"Chanyeol mengangguk walau wajahnya masih terlihat ragu "Lalu bagaimana dengan Kris? Bukankah dia dihukum?"
Sehun meliriknya, tubuhnya kembali ia tegakkan. Ia menatap Chanyeol dengan sorot mata yang tajam dan dingin miliknya. "Seiryuu memang berhasil membunuhnya saat itu. Tapi—"Ia menjeda.
Chanyeol mengerutkan dahinya bingung namun tak lantas bertanya. Ia memilih diam untuk menunggu lanjutan penjelasan yang Sehun berikan.
"Dia bangkit kembali sebagai pemimpin Ras Spectre."lanjutnya.
"Wha—kenapa bisa?"Chanyeol berujar tak percaya.
"Ras Spectre terlahir dari kegelapan dan juga dendam di dalam hatinya. Dia bukan lagi Kris yang dulu. Kekuatannya jauh lebih besar dan kita tidak bisa bertindak sembarangan."Kali ini Jongin ikut bicara.
"Tapi aku tidak mungkin membiarkan Baekhyun lebih lama bersama dia! Kau taukan dia itu licik!"Sehun berucap dengan nada meninggi. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya.
Jongin mengangguk lalu menepuk – nepuk bahu sahabatnya itu berniat untuk menenangkan "Iya aku tahu. Tenang saja besok pagi kita akan menyusulnya."pria berkulit tan itu kembali menghadap Chanyeol "Kalau begitu aku permisi dulu. Aku ingin mengumpulkan bala bantuan."
"Terimakasih."
Pria berkulit tan itu membungkuk sebentar untuk member hormat lalu melenggang pergi. Di luar hujan kini sudah mereda, menyisakkan genangan air di tanah. Sehun meliriknya, menundukkan kepalanya sesaat untuk memberi hormat.
"Lalu bagaimana caraku melepas segel yang di buat oleh Kris?"
Sehun berhenti sesaat di ambang pintu, ia menolehkan kepalanya namun matanya tak menatap kearah Chanyeol,
"Hanya kau yang tahu bagaimana cara melepasnya.."
To Be Countinue.
.
.
Halo lagi~~
Gimana? Makin aneh ya? Haduh semoga kalian gak bosen ya baca ceritaku yang tijel bin absurd ini.
Kali ini aku mau coba jawab pertanyaan kalian kemarin ya. Tolong di perhatikan^^
Q&A
Q : Cerita ini kayak yang Hae Soo di Scarlet Heart itu ya, makanya gak inget apa – apa?
A : Jujur aku belum nonton full episode. Baru episode 1 aja, jadi gak tau bagaimana jalan ceritanya XD (maafkeun saya)
Q : Chanyeol semacem kembali kemasa lalu gitu ya?
A : Gak kok. Di Chapt ini udah aku jelasin^^
Q : Author ngambil dari banyak referensi ya?
A : Iyap.
Q : Maaf kak aku agak gak paham. Chanyeol itu sebenarnya yang mana? (Wah rata – rata pada bingung ya?)
A : Sebelumnya maaf kalau udah bikin kalian bingung. Tapi aku udah jelasin di Chapt ini ya. Intinya Chanyeol yang asli itu rambutnya merah.
Q : Kenapa disini Sehunnya berani banget sama Chanyeol yang seorang raja?
A : Sudah di jelaskan di Chapt ini juga^^
Q : Rada bingung sebenarnya Chanyeol itu kenapa?
A : Di Chapt ini juga sudah aku jelasin ya ^^
Oke deh. Makasih banyak buat kalian yang udah nyemangatin aku dan nyempetin Review dan juga follow dan favorite in ff ini *headbow*
Jangan bosen – bosen ya^^ dan buat silent reader semoga kalian mau berbaik hati dengan meninggalkan jejak. Mari saling menghargai satu sama lain^^
Kritik dan Saran? Silahkan..
See you next chap and salam Chanbaek Sipper :*
#ChanbaekIsReal
