Chapter 3
.
.
.
Udah di Rate M lho ya
.
.
.
Enjoy
.
.
Namjoon semakin mendekat dan menaiki kasur dan mendekatkan dada bidangnya. Astaga aku ingin mati saja. Aku mencoba mendorong tubuhnya agar tidak menjadi lebih dekat. Tapi sia-sia kini dia malah menindihku dan mengikat tanganku ke kepala ranjang dengan dasi yang kupakai. Tunggu... Apa? Kapan dia melepas dasiku?
.
.
Kini kancing kemejaku sudah terbuka semua dan celanaku sudah terlempar entah kemana. Astaga.. Kim Namjoon terlalu ahli dalam hal ini. Aku tahu seharusnya aku tak melakukan hal ini dengan muridku. Tapi tak mendapat sentuhan seperti ini selama sebulan mengalahkan logikaku. Ugh.. tubuhku tak bisa dikontrol.
Kepalaku pening, pandanganku mulai kabur. Aku hanya bisa mendesah. Kedua kakiku terbuka lebar, kepala Namjoon sedang sibuk di bawah sana. Mengulum milikku yang kini sudah sangat ingin mengeluarkan kenikmatan. Tapi aku tak ingin menyerah dalam permainan muridku sendiri bukan?
"Namjoonhh.. ah.. stop.."
Seolah tuli, Namjoon tak mau mendengarkanku. Lagipula apa yang bisa kulakukan? Aku terikat. Tanpa kusadari aku mulai menggerakkan pinggulku. Menginginkan hal lebih. Seluruh pertahananku runtuh saat jari Namjoon bergerilya memasuki manholeku. Perlahan. Menelusup begitu halus. Mencari titik yang sangat aku sukai.
"Ah... there..." aku menggelinjang saat merasakan jemari Namjoon mendapatkan titikku. Aku mulai merasakan jemari lain masuk ke dalam diriku. Dengan gerakan yang sekarang semakin cepat keluar masuk holeku. Mulut Namjoon bahkan tak berhenti mengulum milikku.
Gerakan Namjoon semakin cepat.. Hisapannya semakin kuat.. Aku tak tahan lagi..
"Aaaahhh.. Namjooonnn..." Aku mengeluarkan cairanku dalam mulut Namjoon. Bukan salahku kan?! Aku sedang diperkosa muridku sendiri. Namjoon menelan semua cairanku.
"Kita belum selesai Sensei."
Nafasku memburu. Kupandangi wajah muridku yang kini tengah menyeringai bangga? Entah. Seringaian yang tadinya terlihat menyeramkan terlihat begitu menggairahkan. Aku menginginkan lebih.
Namjoon kini mulai melepas ikan pinggangnya.. kaitan celana sekolahnya.. lalu menarik keluar miliknya.. Ugh~~ bagaikan slow motion dalam sebuah film yang terasa begitu menggairahkan dan menggoda. Aku mencoba menahan desahanku saat melihat miliknya yang tengah berdiri tegak. Menelan salivaku membayangkan benda besar itu memporakporandakan holeku.
"Bersiap Sensei."
Namjoon mengangkat sebelah kakiku. Mengarahkan miliknya di depan holeku. Memasukkannya perlahan. Lalu...
"AAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH... Sakit.. Bodoh..."
Aku mengerang keras, tanganku terasa sakit karena aku menegang mencoba mencari pelampiasan rasa sakit di bawah sana. Namjoon menghentakkan miliknya sekali masuk. Membiarkan dirinya sejenak sambil meringis minta maaf.
Lalu ia mulai bergerak perlahan. Menarik miliknya keluar sampai ujungnya lalu menghentakkan masuk. Terus berulang seperti itu. Hingga gerakannya semakin cepat. Aku tak tau lagi. Yang aku rasakan hanya kenikmatan dari setiap friksi yang terjadi pada tubuhku. Aku bahkan tak tau sudah berapa kali aku klimaks.
Pandanganku mulai berkabut. Yang aku lihat hanya seseorang yang tengah bergerak liar tanpa henti. Menghujamku begitu dalam. Sampai semuanya menggelap.
.
.
.
.
Aku mulai membuka mataku. Kulihat langit berwarna oranye dari jendela ruangan. Aku merasa sangat letih. Mimpi yang aneh. Aku mengusap kelopak mataku.
"Mimpi macam apa itu. Mana mungkin itu terjadi." Aku kembali bergelung di selimut putih ruang kesehatan. APA? Tunggu. Ruang kesehatan?
Mataku terbelalak kaget. Aku duduk dengan tiba-tiba. Rasa nyeri menyerang bagian bawahku. Aku tak ingin percaya, kulihat pergelangan tanganku kini terdapat bekas ikatan. Tapi aku berpakaian lengkap. Refleks aku berdiri dan mencoba berjalan dengan tertatih ke arah kaca dekat lemari obat.
"No... nononononononooonoono... It didn't happen." Aku menjambak suraiku frustasi memandang bekas-bekas bercinta yang ada di leher dan dadaku.
.
.
.
Aku berjalan gontai menuju sebuah pintu apartemen yang tentu saja sudah tak asing bagiku. Semalaman aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Kurasa aku perlu bantuan Suga untuk memberiku obat tidur. Menekan nomor kombinasi. Tak perlu repot-repot menekan bel. Aku sudah biasa masuk ke dalam kediaman Min bersaudara tanpa repot membunikan bel. Saat pintu terbuka, suara aneh yang familiar menyapa pendengaranku.
"Yeah.. Like that baby bitch.."
"Mmmmppppphhhhhhhhh..."
"Ssshhhh... ah.. terus sayang..."
"Oppahhhhhh..."
Aku mengikuti sumber suara dan TADAAAAAAAAAAAAAAAAA... Pemandangan Jimin yang setengah telanjang dan sedang mengulum kejantana Yoongi.
"Lebih cepat sayang... unnggghhhssshhhh..."
Itu suara Yoongi yang sedang menikmati mulut Jimin. Cih... aku hanya melenggang melewati mereka menuju dapur dan membuka kulkas. Well, aku menemukan sekotak buah potong dan aku mulai memakannya. Makan dengan background sahabatmu saat klimaks memang bukan hal yang menyenangkan tapi aku sudah biasa melihat mereka bercinta jadi sudahlah.
"Oi.. Yoongi.. Suga ada?" Aku mulai bertanya.
"Ughh.. ada.. Suga hyung sedari tadi di rumah."Jawab Yoongi dan aku hanya ber 'Oh' ria.
"Berbaring sayang." Suara Yoongi pelan tapi well aku masih bisa mendengarnya. Beberapa detik kemudian suara cempreng Jimin menggema dan desahan putus-putusnya mulai terdengar. Astaga... aku bisa gila juga kalau lama-lama mendengar dan melihat adegan panas di atas sofa itu.
Aku melenggang dari dapur mendekati sofa itu. Melihat Yoongi yang sedang menggerrakkan pinggulnya dan Jimin yang sedang terlihat sekarat dengan nafas tersengal.
"Di mana Suga? Dia tidak ikut main?"
Yoongi menggeleng, "Mereka sudah main seharian. Aku baru pulang dari studio. Hahhh... Dia di atas. Hyung jangan ganggu aku. Ahhh... aku... sedang.. ingin... Jimin.. Ugghhh..." Jawab Yoongi tanpa berhenti menggerakkan pinggulnya. Well Jimin hanya bisa pasrah.
"Ya ya.. aku ke atas. Cepat pindah kamar sana." Aku berjalan menaiki tangga. Meninggalkan pasangan yang kini mengerang semakin gila. Kuharap mereka cepat masuk kamar nanti saat aku pulang.
.
.
.
Di lorong lantai atas aku berhenti di depan pintu kamar bertuliskan "AGUST D" dan mendengar ada suara orang bercakap-cakap aku mengetuk sekali sambil berkata "Aku Jin." dan langsung membuka pintu. Kudapati namja yang begitu mirip dengan orang yang sedang menggagahi Jimin di bawah sana. Bedanya yang ini rambutnya Blond dan Hijau. Warna rambut Yoongi merah maroon. Seperti pelangi kan warna rambut Min Triplet ini? Kekekekeke.
"Oh Hyung. Ada apa? Tumben tidak mengirim pesan?" Suga bertanya.
"Tidak mengirim pesan kepalamu. Aku mengirim hampir 20 pesan dan kau tak membalasnya." Aku mencebik pada Suga yang dibalas cengiran minta maafnya. "Dan Kau." Aku menunjuk Agust, "Kapan kau pulang dari New York? Bahkan tak menghubungiku."
"Baru tadi pagi Hyung. Mian." Jawab Agust dengan wajah yang tetap saja terlihat datar.
"Jadi hyung perlu apa?" Suga bertanya.
Aku menghempaskan badanku ke ranjang king size di kamar itu dan menggulung diri dalam selimut. Mengabaikan tatapan heran dari kedua sahabatku.
"Aku butuh tidur. Berikan aku obat tidur dan kasur ini untuk hari ini."
Aku menenggelamkan kepalaku ke dalam bantal di atas kasur Agust. Aku merasakan ada yang menaiki kasur, sedetik kemujian kemeja baby pink yang kukenakan di tarik dan tubuhku di balikkan terlentang. Agust tengah menindihku dan menarik kerah kemejaku. Membuka dua kancing kemejaku. Suga hanya diam berdiri di samping tempat tidur.
"Siapa?" Tanya Suga.
"B-bukan siapa-siapa." Jawabku terbata. Mata Agust mulai memicing menatapku.
"Kau kembali pada Kidoh?" Kini Agust bertanya penuh selidik.
"Ti-tidak. Bukan dia. A-aku tak sudi kembali padanya."
.
.
.
Akhirnya update.. trus mundur beberapa minggu dong :"
Maaf ya akhir-akhir ini mood nulis Namjin sulit kutemukan. Udah nyari di kolong kasur pun tak nemu. Hemmm...
Makasih buat yang masih menanti ff ini.
Makasih juga buat para reader-nim yang memfollow.. memfav... dan terutama yang mereview sehingga diri ini tahu kalian masih ingin cerita ini lanjut. itu yang bikin motivasi diri ini untuk lanjut terus... Thanks semua ^_^
Thank you :*
Btw.. Happy birthday Namjoonie 3
Mohon reviewnya lagi... maaf authornya gaje bikin ceritanya ^_^)/
