Disclaimers: One Piece is belongs to Oda-Sensei forever. Saya cuma nyolong charanya aja bentar *digeplak Oda-Sensei pake bakiak*

Warning: Gaje, OOC, abal, typo, de el el

DON'T LIKE DON'T READ!

Summary: Aku kehilangan semuanya pada saat itu. Yang tersisa hanyalah perasaan dendam yang ingin kubalaskan. Aku akan membalasnya walau aku harus mati...

Please enjoying...

V

V

V

Chapter 4: My Purpose

"Sepertinya kau tersesat. Butuh bantuan?"

Suara itu membuat Zoro menoleh ke belakangnya. Ia melihat sosok wanita cantik dan kelihatan anggun dengan rambut raven hitam diikat ponytail dan mengenakan kacamata. Zoro menatapnya sejenak kemudian menyeringai, "Aku memang butuh sedikit bantuan. Bisakah kau menunjukkan jalan ke pintu gerbang, Gadis Iblis?"

Robin tersentak. Tapi ia berusaha tetap tenang. Matanya menyusuri lelaki di hadapannya ini. Pria berambut hijau dengan tiga anting di telinga kiri. Ia tersenyum mengetahui siapa lelaki yang di hadapannya, "Baiklah. Dengan senang hati aku akan memandumu, Roronoa Zoro."

"Bagus," jawab Zoro.

"Ikut aku, lewat sini," Robin memberi kode Zoro dengan matanya untuk mengikutinya.

Mereka berdua berjalan dalam diam, namun keduanya juga saling mewaspadai gerakan mereka masing-masing. Orang-orang di sekitar mereka yang memandang kedua orang ini sedikit merasa ngeri dan merinding. Mereka merasakan hawa membunuh dari kedua orang itu.

"Hei, wanita," panggil Zoro. Mereka sudah hampir sampai di pintu gerbang.

"Ya?" Robin menoleh kepada lelaki berambut hijau di sampingnya.

"Kenapa kau sesantai ini? Kau pasti tahu apa alasanku memintamu memanduku, kan?" Zoro menatap wajah cantik Robin serius.

Robin diam sejenak. Ia lalu tersenyum tipis, "Aku sudah tahu, kok. Lagipula, aku sudah biasa digertak seperti itu. Dan sejujurnya, aku tak pernah takut pada siapa pun, Kenshi-san."

"Tu-Tunggu sebentar! Kenapa kau memanggilku begitu?"

"Aku tahu kalau sebenarnya kau itu seorang ahli berpedang, kan? Kau dikenal dengan gaya bertarung 'Santoryuu', tapi sepertinya kau hanya membawa sepucuk pistol, ya? Kalau membawa pedang ke kampus, bisa-bisa kau digiring ke kantor polisi," terang Robin sambil tersenyum.

"Seperti yang kuduga. Kau memang cerdas. Dan sepertinya kau sudah tahu tentang kami, para agen rahasia," Zoro mengalihkan pandangan dari gadis itu dan menatap ke depan. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang harus ia lakukan pada wanita ini. Menangkapnya? Tentu saja ia mau. Itulah inti misinya. Wanita di sebelahnya adalah pembunuh bayaran profesional dengan kemampuan dan kecerdasan luar biasa. Dia jenius. Zoro bisa merasakannya.

"Ya. Aku sudah mendapat data-data kalian dan aku sudah hafal semua tentang kalian. Seiryuu, organisasi internasional berisikan agen-agen rahasia terbaik level 2 dengan anggota Monkey D. Luffy, Sanji, Usopp, Tony Tony Chopper, Portgas D. Ace, dan kau sendiri, Roronoa Zoro."

Mereka telah sampai di pintu gerbang. Suasana terlihat sepi. Tentu saja, karena pintu gerbang ini adalah pintu gerbang barat yang paling jarang dilalui para mahasiswa karena dekat dengan rumah tua yang terlihat angker dan jalan yang sangat kecil. Jalan itu pun sulit dilewati sepeda motor apalagi mobil.

"Kenshi-san."

Zoro menghadap Robin. Sekarang posisi mereka saling berhadapan.

"Apa maumu sekarang, wanita?" kali ini Zoro terlihat tak mau berbasa-basi lagi. Ia mulai waspada dengan apa yang dilakukan Robin.

"Kau mau menangkapku, kan?"

"Itu tidak perlu diragukan."

Zoro langsung menerjang robin. Beda dengan Sanji yang 'tidak akan pernah menyakiti wanita', bagi Zoro, siapa pun dia, selama orang itu musuh, dia merasa tak perlu berkompromi sama sekali. Dia memiliki prinsip : 'MENYERANG ATAU DISERANG'.

Robin yang sudah mengantisipasi gerakan Zoro menjatuhkan diri ke samping sambil menarik pistol yang ia sembunyikan di balik bajunya. Ia lalu melepaskan tembakan dari pistol yang berperedam itu. Zoro yang masih belum seimbang karena serangan pertama yang gagal terkejut dengan tembakan Robin. Ia berkelit ke sisi kanan. Namun, Robin langsung bergerak cepat. Ia merangsek maju menerjang Zoro. Zoro yang terjatuh di tanah melihat Robin yang bergerak cepat. Robin menodongkan pistolnya ke kening Zoro dan Zoro berhasil menahan tangan kanan gadis itu yang memegang pistol.

"Kau bisa langsung menembakku tadi saat aku lengah, wanita. Kenapa repot-repot seperti ini?" tanya Zoro. Sekarang posisi mereka adalah Robin menempelkan mulut pistol ke kening Zoro dalam posisi berdiri sementara Zoro berusaha menahan pergelangan tangan gadis itu dalam posisi duduk.

"Itu karena..."

Zoro tidak menyadari gerakan Robin berikutnya yang begitu mendadak. Tangan Robin bergerak cepat menotok tangan kanan Zoro yang menahan tangannya dan juga lehernya. Sekejap itu, Zoro langsung merasakan rasa sakit dan kaku di kedua bagian itu seolah ada sesuatu yang menahan tangan dan lehernya untuk bergerak. Dan ia juga mulai merasa kalau ia jadi sulit bernapas.

"Jangan khawatir. Aku hanya menotok beberapa bagian tubuhmu. Efeknya kau akan pingsan sebentar lagi."

Zoro menatap geram wanita di hadapannya. Namun, yang sebenarnya ia merasa kesal karena dikalahkan dengan gampangnya oleh seorang wanita, targetnya. Tapi dia heran karena Robin tak juga membunuhnya padahal ia sudah punya dua kesempatan.

Robin melepaskan tangannya yang digenggam Zoro dengan mudahnya padahal Zoro masih merasakan kaku di tangannya. Robin lalu menunduk dan mendekatkan bibirnya di telinga Zoro dan membisikkan sesuatu.

Zoro sedikit kaget dengan apa yang dibisikkan Robin. Tapi ia merasa matanya semakin berat.

"Maaf, Kenshi-san," kata Robin sambil berlalu meninggalkan Zoro bersamaan dengan ambruknya lelaki itu ke tanah.

Robin berjalan keluar kampus. Dilihatnya jam tangannya, sudah pukul 5 sore. Ia mendongakkan kepalanya memandang langit yang tertutup awan tebal pertanda akan turun hujan. Robin semakin mempercepat langkahnya.

Robin hampir saja sampai di ujung jalan kecil itu saat instingnya mengatakan sesuatu yang berbahaya. Ia lalu menghempaskan dirinya ke kanan. Dilihatnya tembok dibelakangnya. Tembok itu membentuk retakan bulat dengan sebuah peluru di tengahnya.

Robin hanya menghela napas. Kenapa hari ini banyak sekali yang mengincarnya, ya?

Ia bisa melihat bayangan si penembak. Robin mengeluarkan pistol yang sempat ia simpan tadi. Si penembak kembali menarik pelatuk pistolnya dan kali ini Robin lebih siap. Ia juga melakukan hal yang sama dan membuat peluru mereka menjadi saling beradu. Robin berlari ke arah gedung tua yang ada di dekat kampus. Dugaannya benar, si penembak mengejarnya. Sesekali ia menembak ke arah Robin namun gadis ini mampu mengantisipasinya.

Robin langsung melompat ke dalam rumah melewati pagar yang tidak terlalu tinggi, hanya 2 meter. Ia lalu mendobrak pintu depan yang telah lapuk dan langsung menuju tangga atas. Sementara pengejarnya yang hanya tertinggal beberapa langkah di belakangnya langsung masuk ke dalam rumah melewati jalan yang sama dengan Robin. Sesampainya di dalam si penembak bingung kemana Robin pergi. Namun, ia lupa siapa yang dia hadapi sekarang.

Sebuah tembakan menyerempet lengan kanannya. Ia yang masih terkejut dengan tembakan 'kejutan' dari atas tangga langsung melepaskan tembakan ke arah bayangan Robin. Si penembak mengira kalau Robin akan naik ke lantai atas namun di luar dugaan, Robin melompat melalui pegangan tangga sambil menembak lagi dan kali ini tepat mengenai lengan kiri si penembak. Sekarang kedua tangannya sudah tak bisa digerakkan, terasa kebas karena ternyata lukanya cukup panjang dan dalam. Pistolnya jatuh dari genggaman dan ia terduduk.

Robin mendekati si penembak dan mengambil pistolnya sementara itu ia menatap si penembak dengan wajah datar, "Aku terkejut karena kau punya keahlian dalam hal seperti ini, Nefertari Vivi."

Vivi menatapnya dengan geram, "Diam kau, Gadis Iblis!"

"Aku tahu kau melakukan ini karena ayahmu, kan?"

"Bagus kalau kau sudah tahu! Apa kau tak sadar seberapa besar keinginanku untuk membunuhmu."

Robin masih menatap gadis ini dalam-dalam. Ia tahu perasaan gadis ini, sangat.

"Apakah sesuatu yang telah pergi akan kembali?"

Vivi kaget mendengar pertanyaan Robin.

"Tidak akan pernah," Robin menjawab pertanyaannya sendiri.

"Dan kau sudah mengambil milikku yang tak akan kembali lagi!" air mata menggenangi pelupuk mata Vivi, gadis itu tak mau mengeluarkan air matanya di hadapan wanita yang dianggapnya kejam ini.

"Sama sepertiku yang juga kehilangan milikku yang berharga."

Vivi tersentak. Apa maksud wanita ini?

"Aku kehilangan milikku, ibuku, yang dirampas dengan paksa oleh seseorang yang bahkan tak bisa kuketahui siapa dia. Aku akan mencarinya, menemukannya. Dan aku akan membalas apa yang telah dilakukannya padaku walau aku harus mati," Robin menatap keluar jendela, membuat Vivi semakin heran mengapa wanita ini menceritakan masa lalu padanya.

"Bisa dibilang karena aku paham apa yang kau rasakan. Kehilangan orang yang kita sayangi karena dibunuh," kali ini Robin tersenyum tipis seolah tahu apa yang Vivi pikirkan.

Vivi menatap wanita ini. Dia mencoba mencari-cari kebohongan pada Robin tapi nihil. Robin lalu berjalan keluar pintu.

"Tidak ada seorang pembunuh yang rela mati begitu saja!" seru Vivi membuat Robin berhenti di tempat.

"Aku tak pernah menginginkannya. Menjadi seorang pembunuh. Aku melakukan ini karena aku punya tujuan sendiri. Dan aku tak peduli walau aku harus mati selama tujuanku tercapai."

Robin berjalan keluar rumah, meninggalkan Vivi sendiri dalam diam.

^v^v^v^v

Sanji dan Nami yang masih mencari Zoro—kali ini bersama Luffy yang sudah selesai mengisi 'bahan bakar'—akhirnya mencari di tempat terakhir, pintu gerbang barat. Mereka sudah mencari selama dua jam dan hasilnya tak ada sama sekali. Dan ini adalah tempat terakhir.

Saat sedang mencari, Luffy melihat sesosok lelaki yang telungkup di depan pintu gerbang.

"ZORO!" teriak Luffy sambil berlari menghampirinya. Nami dan Sanji menyusul di belakang Luffy.

Luffy menepuk nepuk pipi Zoro, namun hasilnya nihil.

"Hmm... Mungkin dia akan bangun kalau kita beri sake," kata Luffy sambil beranjak pergi, berniat mencari sake.

"Itu tidak ada gunanya!" teriak Nami dan Sanji bersamaan sambil menjitak Luffy.

"Kita bawa saja ke tempat Chopper. Dimana dia sekarang?" tanya Nami

"Di apartemennya. Kebetulan kamar kami memang bersebelahan," jawab Sanji.

"Kalau begitu tunggu apalagi! Kita bawa dia kesana sekarang!" kata Luffy semangat.

Sanji membopong Zoro bersama Luffy sementara Nami mengikuti di belakang mereka. Ia bisa mendengar omelan Sanji.

"Marimo brengsek! Sudah capek mencarimu, sekarang kau malah pingsan! Benar-benar menjengkelkan!"

"Shishishi!"

Nami hanya menyunggingan senyum tipis di bibirnya. Ia lalu menoleh ke belakang, ke arah gerbang dan wajahnya berubah murung.

^v^v^v^v

Robin masuk ke flatnya. Ia tahu Nami belum pulang, namun ia tidak terlalu khawatir. Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam. Ia lalu menuju mejanya dan mulai membuka laptopnya. Ada satu email dari rekan satu organisasi, Rob Lucci. Beginilah isinya:

Senator Iceburg.

Temui orang ini kalau kau memang ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada keluargamu. Dia akan berkunjung ke vilanya di satu tempat di negara bagian Nevada, Amerika Serikat, empat hari lagi.

Rob Lucci

Robin terdiam memandangi e-mail itu. Ia langsung mempersiapkan kepergiannya ke Nevada besok.

^v^v^v^v

Di sebuah gedung berlantai 20 di Tokyo, pukul 9 malam

"Ikuti Nico Robin. Dia akan ke Nevada besok. Setelah dia bertemu dengan Iceburg, jalankan sesuai rencana," kata seseorang yang duduk di balik sebuah meja panjang. Ia terlihat seperti pemimpin kantor berlantai 20 itu.

"Baik," jawab anak buahnya.

"Jangan sampai gagal," si pemimpin tersenyum sinis.

~TBC~

A/N: Akhirnya, apdet lagi! Awalnya bingung juga pas mikirin buat deskripsi tapi akhirnya jadi juga. Maaf kalau ZoRo cuma dikit . maap juga kalo adegan pertarungannya abal-abal alias nggak seru#dasar author kagak becus.

It's time to SBR:

For manusia simelekete: Yap, ni dah apdet lagi!

For sha-chan anime lover: Maaf, masih ada typo ya? Moga-moga di chapter ini udah berkurang.. Makasih dah ngingetin^^

For roronoalolu youichi: Maap dah, ZoRonya dikit. Saya bingung mau bikin kayak mana..(padahal draftnya udah dibikin ==").. Untuk LuHan sejauh ini aku masih bingung kapan masukinnya. Kemungkinan cuma jadi slight pairing, tapi kuusahain porsi ketiga pairing ini nggak beda jauh.

For shirayuki nao: Sekali lagi maap karena adegan ZoRonya dikit, ya m(_ _)m. Udah tau kan kenapa Robin kenal Zoro?^^

For Demon D. Dino: Nah, alasan pertanyaanmu udah ada di chapter ini^^

For eleamaya: hehehe, aku aja yang buat kadang-kadang masih bingung sendiri ama ceritaku walau aku emang udah buat draft-nya. -.-v. Vivi emang keliatannya dendam banget, tapi nggak sampai parah lah. Kelihatan kan di chapter ini. Kalau Zoro, menurutku emang dia kayak gitu di canon. Kalau sama musuh, mah, kayak bilang "lo jual gue beli". Makanya kubikin kayak gitu di fic ini. Tipe orang yang berani dan suka tertantang. Maap buat typo, mudah2an di chap ini udah lebih dikit^^

Minna, review again, please? *gomu gomu no puppy eyes*