Hohoho, saya datang kembali! Apa kabar minna? :D *basa basi*

Balas Review dulu ah~:

kyu's Neli-chan: ntar ada alesannya kok kenapa sasu ama naru boleh. Nanti ya penyebab sasuino putusnya 3digampar. Neji ama Gaara udah pacaran disini. Dan, authornya memang fujoshi! Kyaa.. kalau NejiGaa sih dah pernah buat fic nya, silahkan bisa di RnR. Arigatou.

Yamanaka Chika: Hmm.. gak tau tuh #slapped. Ntar authornya jelasin satu-satu kok, hehe. Arigatou!

Minami22: Kalau chap 3 bulan juli, harusnya chap 4nya bulan Agustus, ya? Haha, kidding. Nih dah di update. Makasih untuk senantiasa cerewet buat minta fic ini di update! Log-In dong!

Tachi Edogawa: Mau diapain Deidara? Diapain ya? Silahkan baca! Arigatou.

Sukie 'Suu' Foxie: Makasih banget koreksinya! Iya itu saya lupa lagi Pov siapa! Hehe.. siapa tau kalau sering baca bisa jadi fujoshi..? bohong, bercanda kok! Arigatou!

Anasasori29: Entah kenapa authornya gak bisa ngebayangin fic dimana Deidara bisa straight #ditonjokdeidara. Huwaa reviewer udah pada mikir yang enggak-enggak tentang Deidara no koto, ya? Kalau gitu silahkan baca lanjutannya! Arigatou!

risa-chan-amarfi: Tentu, tentu sangat bisa di jelasin. Tapi harus ngikutin fic ini terus dan tinggalkan jejak berupa review ya! Arigatou!

Ann Kei: Gak papa kok, yang penting review, hehe. Gaara kan ceritanya pacarnya Neji, maap ya authornya belon jelasin hal itu. Arigatou!

KagiyamaHINA-chan: Maaf ya kalau gak suka BL, author hobby campurin pairing ==". Sasuke kan memang 'imoutou' yang baik, haha #dichidori. Arigatou!

Hmm, sepertinya udah pada ngira yang si pirang di bagian terakhir kemaren tuh Deidei, ya? Deidei bukan ya? Buat yang masih bertanya seperti itu, silahkan baca lanjutannya di chapter ini! Arigatou, minna ga daisuki :3

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

Pairing:

Itachi – Ino,

Slight:

ShikaTema (ntar ya..), SasuNaru, ItaDei (chotto, ii?), NejiGaa

Summary:

Chap. 3! Dia membuatku patah hati, tapi kini semua luka itu hilang tak berbekas karena kehadiran Itachi. Jujur aku menyayanginya, namun aku takut ia akan sama dengan adiknya. B'day fic for Minami22, 22 Mei 2011, RnR please.


Can you feel this?

A

Naruto Fanfic

By

Hime Uguisu

Birthday Fic For

Minami22

22 Mei 2011


Normal POV

Pemuda pirang itu tersentak saat orang di sebelahnya menepuk bahunya. Ia menengok ke arah pemuda onyx yang mengganggu acara melamunnya.

"Naru, sudah sampai rumahmu nih" ujar Sasuke sambil menghentikan mobilnya tepat di depan pagar sebuah rumah besar. Rumah bercat peach itu begitu megah untuk sekedar di huni oleh seorang anak, kedua orang tuanya, dan beberapa pelayan. Rumah megah keluarga Namikaze.

"Ah, iya. Aku pulang dulu ya, Sas. Kau hati-hati di jalan," kata Naruto sambil membuka pintu mobil di sebelahnya. Ia tersenyum penuh arti pada pemuda Uchiha itu. Sasuke hanya membalas dengan senyum tipis. Setelah Naruto menutup pintu mobil itu, Sasuke pun segera melajukan mobilnya lagi menuju ke kediamannya. Naruto menatap kepergian mobil sport biru itu. Lalu ia segera berjalan memasuki pagar rumahnya yang langsung di bukakkan oleh sang satpam. Satpam itu segera membungkukan badan begitu Naruto melintas di hadapannya. Sebagai tuan yang di kenal baik hati, Naruto tersenyum pada satpamnya lalu melenggang melewati jalanan luas untuk sampai ke pintu rumahnya.

Begitu ia membuka pintu rumahnya, lagi-lagi pelayannya membungkukan badan. Naru tersenyum tipis lalu melewati para pelayannya yang memberikan senyuman tulus mereka.

"Tuan Naru itu gak sombong ya! Itu yang bikin aku betah kerja di sini,"

"Ia dia ramah. Gak seperti tuan muda kaya lainnya yang sombong sekali,"

Bisikan para pelayannya itu dapat terdengar di telinga Naruto walau samar-samar. Ia menyeringai kecil dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang terdapat di lantai dua.

'Ramah, eh?' batin Naruto. Tangannya menurunkan kenop pintu kamarnya dan ia pun berjalan memasuki kamarnya yang bercat jingga itu. Ia merebahkan dirinya di ranjang king size-nya. Begitulah dia, saat pulang sekolah yang menyambutnya hanyalah para pelayannya. Kedua orang tuanya sibuk sendiri dengan urusan mereka. Bahkan kadang jika orang tuanya sedang sibuk sekali, ia hanya bertemu mereka lewat web cam saja. Namun sebagai ganti dari kasih sayang orang tuanya itu, ia di berikan fasilitas yang lebih dari cukup baginya. Tangan tan-nya meraba-raba meja di sebelah ranjangnya. Ia membuka laci meja itu dan mengambil beberapa lembar kertas. Ia tertawa licik begitu melihatnya.

"Bagaimana kalau ini tersebar ke sekolah, ya? Ah tidak, jangan sekarang. Nanti saja, tidak perlu terburu-buru," ucapnya pada diri sendiri.

.

.

.

Ino's POV

Aku melempar tas-ku dengan kesal ke ranjangku. Aku muak! Kutatap sebuah figura yang tergantung di diding kamarku. Kulihat wajah tampan yang terbingkai di dalam figura itu. Wajah seorang Uchiha dan aku yang sedang tersenyum ceria. Tak dapat kutahan lagi air mata yang melesak ingin terjatuh saat menatap foto itu. Aku memegang figura itu dan melepasnya dari pengaitnya. Air mataku menetes membasahi kaca pelindung gambar itu. Tak lama kemudian kubanting figura itu dengan sekencang-kencangnya ke lantai. Kaca tak bersalah itu pun pecah dan beberapa potongan kecil darinya mengotori lantai.

"Aku semakin kesal padamu! Ini bukan April Mop, kan? Bukan kan? Hiks.." aku menangis semakin menjadi. Setidaknya aku bisa menangis selama ayahku belum pulang. Bisa gawat kalau ia melihatku begini, si Sasuke itu bisa di goreng nanti. Kuberjalan menuju meja rias yang tak jauh dari tempat awal figura itu. Kutatap pantulan diriku di sana. 'Wajahku jelek sekali kalau menangis begini' pikirku. Kuambil sehelai tissue yang terletak di meja, dan mengelap sisa air mataku.

"Kenapa? Salahku apa? Aku kan masih.. masih menyayangi.. argh! Tidak ada kata sayang lagi untukmu, tau!" aku marah-marah sambil menunjuk kesal cermin di hadapanku. Kalau ada orang yang lewat mungkin mereka akan berfikir aku ini gila atau aku ini seperti Patrick Star karena memarahi bayanganku sendiri. Tapi untungnya tidak mungkin ada orang lewat di kamarku.

'Light Song

Kimi no kage wo terashite (Light Song)

Kimi no sugata sagasu no (Light Song)

Tsunaida te wa hodokete (Light Song...)

Tsudzuru yo kimi no namae'

Lantunan lagu "Light Song" yang dinyanyikan oleh Hatsune Miku itu bordering menandakan ada e-mail. Aku merogoh saku jasku dan mengambil hp-ku. Ku tatap layarnya. Benar saja, ada e-mail dari Shion.

From : Miko_no_Shion

To : InoFlower_Lover

Subject: none

Ino, daijoubu ka? Jangan terlalu di fikirkan ya soal omongannya itu. Anggap saja dia hanya seonggok batu gak penting. Keep smile :D

Aku tersenyum membaca e-mail dari Shion itu. Aku pun menekan tombol untuk me-reply.

From : Miko_no_Shion

To : InoFlower_Lover

Subject: Re-none

Aku baik-baik saja. Harusnya kau yang lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri. Sudah ya, aku mau mandi dulu.

Aku pun meletakan handphone-ku di atas kasur. Ku ambil handuk dan segera mandi untuk mendinginkan kepalaku.

.

.

.

Masih dengan Ino's Point Of View di sini. Sekarang sudah keesokkan harinya. Saat ini pukul 7.45. Bel masuk sekolah masih belum berbunyi, masih 15 menit lagi. Aku duduk di bangku kelasku sambil membaca novel yang baru saja kubeli minggu lalu. Konsentrasiku terus berpusat pada tiap untaian kata yang tertulis di novel itu sampai telapak tangan seseorang menghalangi penglihatanku. Aku meraba tangan itu dan tersenyum.

"Shion, ada apa?" tanyaku. Setelah itu ku dengar Shion tertawa pelan. Ia pun melepaskan tangannya dari mataku dan duduk di bangku sebelahku, seperti biasa.

"Ketauan ya kalau itu aku?" Tanya Shion. Aku mengangguk. "Siapa lagi coba yang akan begitu?" tanyaku. Ia pun tersenyum dan aku pun ikut tersenyum. Aku pun menutup novelku dan berbincang-bincang dengan Shion. Keributan di kelas pun terhenti secara tiba-tiba. Aku dan Shion saling berpandangan bingung, dan menengok ke arah pintu kelas. Cih, si pusat perhatian sudah datang rupanya. Pantas saja kelas langsung hening tiba-tiba. Eh? Kok yang datang cuma si 'pusat perhatian 2' (Naruto)? Mana si 'pusat perhatian 1' (Sasuke)? Semua mata tertuju padanya, udah jadi Miss Universe dadakan deh tuh orang. Ada yang berbisik-bisik, menatapnya dengan pandangan iri, sebal, aneh, dan macam-macam respon saat sang Namikaze itu masuk ke kelas. Wajar saja sih kalau dia jadi pusat perhatian, dia kan memang dari dulu juga popular, anak kepala sekolah gitu lho.

"Hee.. mana si Sasu-koi mu itu?" Tanya Shion dengan nada mengejek saat pemuda pirang itu duduk tepat di depannya. Naruto menengok dan menjawab dengan canggung.

"Izin, katanya kurang enak badan," jawab Naruto seadanya. Kulihat seulas senyum sinis terlukis di wajah Shion.

"Sakit? Masih belom mati juga ya? Bilangin nanti sama koibito-mu itu, seharusnya dia mati saja sekalian" ucap Shion lembut namun menusuk. Naruto hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya ke papan tulis. Aku menyikut lengan Shion.

"Oi, dasar jail!" bisikku. Lalu kami pun terkikik geli. Tak lama suara bel sekolah yang nyaring dan menyebalkan (?) itu pun berbunyi menandakan pelajaran akan segera di mulai. Haah.. aku sama sekali tidak berniat belajar, habis guru yang masuk pada jam pertama ini si Jiraiya sih, guru cabul yang ingin sekali ku kuliti dan kumutilasi badannya.

.

.

.

Bel pulang sekolah sudah terdengar lagi. Waktu berjalan begitu cepat tanpa terasa. Kami (baca: aku dan Shion) pun sedang berjalan melalui koridor sekolah yang masih di lalui oleh banyak siswa yang semangat untuk pulang dengan ababilnya. Kami sih hanya berjalan santai saja. Eh, aku belum bilang ya? Hari ini aku ada kegiatan club basket dan seperti biasa, Shion akan menungguku di sana. Kami menghentikan langkah kaki saat sudah tiba di depan pintu ruang club basket. Ruangan club basket sangat luas karena terdapat lapangan basket indoor di dalamnya. Aku pun membuka pintunya dan kami masuk ke dalam. Shion menunggu sambil duduk di salah satu tempat duduk yang tertata rapi. Ruangan club basket sih sebenarnya memang tempat untuk menonton pertandingan basket di sekolah ini. Jadi ada banyak sekali kursi penonton yang tersedia di sini mengelilingi lapangan luas ini. Dan Shion duduk di salah satu kursi terdepan.

Aku berjalan menuju ruang ganti sambil membawa baju basketku. Di dalam ruang ganti sudah ada Tenten dan beberapa cewek lain.

"Ino, tumben kau baru datang," sapa Tenten saat aku memasuki ruang ganti. Aku tersenyum tipis.

"Tadi agak telat keluar kelasnya karena si guru psikopat itu," jawabku. Tenten ber-oh ria. Guru psikopat? Siapa lagi kalau bukan Orochimaru itu. Setelah selesai mengganti dengan seragam basket berwarna biru muda ini, aku dan Tenten pun berjalan menuju lapangan. Di lapangan ternyata anggota cowok sudah sibuk latihan men-dribble bola, pura-pura bertanding, slam dunk, berlari-lari, pemanasan, dll.

"Hei Ino!" sapa Itachi. Ia melambaikan tangannya padaku. Aku pun membalas lambaian tangannya itu. Ia pun berlari ke arahku. Sedangkan Tenten menatap kami heran.

"Psst, sejak kapan kau akrab dengan Itachi?" Tanya Tenten. Aku hanya bisa mengeluarkan sebuah cengiran polos.

"Belum lama kok," jawabku. Saat Itachi tiba di depan kami, Tenten segera berjalan pergi meninggalkan kami. Bilangnya sih ingin menghampiri pelatih. Aku dan Itachi terdiam cukup lama sambil berpandangan. Sampai suara berat Itachi itu memecahkan keheningan kami.

"Maaf soal ketidak sopanan Sasuke kemarin. Dia benar-benar memalukkan Uchiha," ujar Itachi. Aku hanya mengangguk pelan.

"Sudahlah, tidak perlu di bahas," ucapku. Itachi hanya membalas dengan 'hn' khas Uchiha. Lalu kami pun berbaur dengan teman lain di lapangan, sebelum pelatih marah-marah.

.

.

.

Kegiatan club telah usai. Semua anggota club yang lain sudah pulang. Karena minggu lalu aku tidak latihan, maka pelatih menyuruhku latihan ekstra. Aku juga sudah menyuruh Shion pulang duluan, kasian dia kalau menunggu lebih lama. Aku duduk di kursi yang terdapat di ruang ganti. Kini aku sedang merapikan barang-barangku dan melipat baju basketku untuk di masukan ke dalam tas. Aku sudah berganti dengan seragam, hanya saja jasnya tidak ku kenakan.

Pandanganku langsung tertuju pada pintu ruang ganti saat kudengar seseorang berjalan mendekat ke arah sini. Bukannya semua sudah pulang? Apa itu hantu? Tidak jangan sampai! Pintu itu pun terbuka. Aku menunggu seseorang muncul di balik pintu itu. Kuharap kakinya tidak melayang. Tatapan tegangku langsung berubah tenang saat melihat siapa yang datang. Aku menghela nafas lega.

"Itachi senpai! Kau menganggetkanku!" seruku saat Itachi berjalan menghampiriku.

"Kenapa kau masih ada di sini? Hampir saja aku mengunci pintu ini," ujar Itachi.

"Aku baru mau pulang kok," jawabku. Kami pun terdiam lagi. Mau bagaimana lagi? Sebenarnya kan kami memang tidak terlalu akrab, kemarin-kemarin itu hanya akrab gak sengaja. Aku tersentak saat melihat pintu ruangan ini tertutup secara tiba-tiba. Itachi ikut menengok ke arah pintu yang kini sudah tertutup. Tapi wajahnya sih tenang-tenang saja, Uchiha gitu (kalau si Sasu si hoeek deh!). Aku berlari ke arah pintu dan berusaha untuk membuka pintu itu tapi tidak bisa, terkunci! Oh, siapa orang sialan yang sudah mengunciku di sini.

Itachi yang tetap stay cool itu akhirnya berjalan menghampiri pintu juga. Ia berusaha membuka pintu tapi tidak bisa.

"Oi, siapa di sana? Jangan jahil ya!" seru Itachi lantang. Namun tak ada jawaban. Aku pun menyerah dan memilih untuk duduk di kursi sampai ada malaikat yang menolongku. Oke, itu mustahil. Itachi pun sama halnya denganku. Ia duduk di sebelahku.

"Kita terkunci dan aku.." uacapanku di potong oleh Itachi.

"Kau takut di marahi orang tuamu? Tenang nanti aku akan menjelaskan pada orang tuamu,"

"Bukan itu! Aku.."

"Kau ketakutan? Tenang saja, tidak ada satu setan pun yang berani menngganggu kalau ada aku,"

"Aduh.. bukan itu! Dengar dulu dong, aku.." aku menghentikan ucapanku saat perutku berbunyi dengan tidak elitnya. Dasar perut, bikin malu saja!

"Kau..lapar?" Tanya Itachi menurunkan sebelah alisnya. Aku mengangguk malu. Sedikit semburat merah menghiasi pipiku. Itachi hanya geleng-geleng kepala. "Aku tidak punya makanan, maaf ya" ucapnya. Aku menggangguk.

"Gak papa. Gak perlu minta kok," balasku. Aku pun teringat sesuatu dan menjentikan jari dengan latar sebuah lampu bersinar di atasku. "Aku ingat!" seruku bersemangat. Segera ku rogoh tasku dan mendapati sebuah kotak bekal yang saat istirahat tidak kumakan. Aku pun mengeluarkannya dan memakan bento itu. Saat sedang lahap makan, aku melirik ke arah Itachi. Rasanya tega sekali aku makan sendiri tanpa menawarkan Itachi. Aku pun berinisiatif mengambil sebuah telur gulung dengan sumpit dan menyodorkannya tepat di depan mulut Itachi.

"Kau pasti lapar, ayo coba bilang 'aa'," kataku seperti membujuk anak TK untuk makan. Itachi terdiam sejenak lalu menggeleng.

"Kau saja yang makan. Aku tidak lapar," ujarnya. Aku cemberut seketika. Pura-pura kecewa padanya.

"Apa karena aku yang masak jadi kau tidak mau makan? Rasanya enak kok," ucapku memelas, bibir bawah maju sedikit, puppy eyes mode:on. Itachi menghela nafas lalu membuka mulutnya. "Aku mau makan kok kalau kau yang masak, suapi" katanya. Aku tersenyum senang. Aku pun memberikan telur gulung itu dan menyuapinya dengan sumpit. Ia mengunyah makanan itu dan tersenyum tipis.

"Rasanya enak. Kau pandai memasak juga, ya" komentarnya. Aku tersenyum puas. Entah sudah berapa kali aku tersenyum. Semoga saja setelah ini dia tidak berfikir kalau aku ini gila. 'Ini ya yang disebut bencana yang membawa berkah' pikirku. Makananku pun telah habis di makan oleh kami berdua. Ia ngotot dan bilang hanya mau makan kalau aku yang suapi, dasar. Tapi entah kenapa aku senang-senang saja. Angin dingin berhembus seakan menusuk tubuhku. Aku pun mengambil jas seragamku dan memakainya. Tanganku memeluk diriku sendiri.

"Kau kedinginan?" Tanya Itachi dengan santai. Aku mengangguk sambil menatap lurus ke arah mata onyx di hadapanku. Tatapan yang begitu memabukkan dan mata yang begitu indah. Eh tunggu dulu, kutarik lagi pikiranku yang tadi berfikir 'mata yang begitu indah', sama saja aku memuji Sasuke dong! Tidak akan!

"Pasti sekarang sudah malam. Angin yang masuk dari ventilasi dingin sekali soalnya," kataku. Itachi mengangguk setuju. "Ino," Itachi memanggilku dengan lembut, membuat telingaku rasanya tergelitik. Aku menjawab "ya" dan setelahnya hening menyergap kami berdua, aku hanya diam menanti Itachi menyelesaikan kalimatnya.

Dan setelahnya aku kaget setengah mati begitu kurasa ada sepasang tangan lain yang memeluk tubuhku. Bahkan hangatnya nafas Itachi dapat terasa di telinga kananku. Ia memelukku dari sebelah kanan karena ia memang duduk di sebelah kananku. Kami bersandar di bangku ini dan tetap diam. Dapat kurasakan wajahku memanas.

"Sen.. senpai?" Tanyaku gugup. Itachi meletakan satu telunjuknya di depan bibirku, membuat wajahku tambah merah.

"Psst.. jangan protes. Kau kedinginan kan? Aku hanya berusaha menghangatkanmu dan menghangatkan diriku sendiri saja," jelasnya. Aku menggigit bibir bawahku. Tentu saja hanya karena hal itu, memang ada alasan lain? Lagipula Yamanaka Ino, ada sesuatu yang kau lupakan! Dia gay. H-O-M-O. Walau ia bilang sudah insaf (?), siapa yang berani jamin kalau dia sekarang udah beneran naksir cewek? Lagian gak mungkin kan dia ngembat mantan adiknya sendiri.. mungkin aja sih sebenernya, eh?

Mataku rasanya berat sekali. Tanpa bisa kupungkiri kalau aku benar-benar ngantuk! Sudahlah, aku tidak mau memikirkan bagaimana ayah kalang kabut mencariku. Aku pun memejamkan mataku perlahan. Kepalaku bersandar di dada bidang Itachi. Hei, fans Itachi jangan sirik ya! Toh Itachi juga tidak keberatan kalau aku bersandar padanya seperti ini. Dan ia malah.. mengelus kepalaku. Hah? Demi apa?

Sentuhan tangannya semakin membuatku terbuai dan mengantuk. Sungguh, aku sudah tidak perduli lagi apa yang akan terjadi besok. Mungkin kami akan bolos sehari? Jangan paksa aku untuk tetap mengikuti pelajaran besok dengan keadaan belum mandi dan salah bawa buku pelajaran ya!

.

.

.

Normal POV

Sang surya telah bangun dari peraduannya dan mulai berganti sip (?) dengan sang dewi malam. Murid-murid yang kebetulan datang pagi segera berkumpul di depan mading sekolah. Banyak yang mengeluarkan komentar pedas, tatapan iri, bahkan ada juga yang terkagum. Tatapan mereka tertuju pada satu titik yang sama. Begitu terus sampai tak terasa sudah banyak sekali murid yang berkumpul. Dan seorang gadis pirang segera berlari dari kelasnya menuju mading begitu mendengar gossip dari anak-anak lain.

"Maaf permisi, permisi," kata Shion dengan agak kencang sambil berusaha menyelip diantara orang-orang yang sedang mengelilingi mading itu. Shion pun akhirnya bisa mendapatkan tempat paling depan dan menatap kaget ke arah mading.

"Apa-apaan sih ini?" bentak Shion lalu melepaskan foto itu dari mading dan berlari meninggalkan kumpulan manusia yang meneriakinya dan protes karena foto itu di ambil begitu saja oleh Shion. Dengan langkah tergesa-gesa Shion berlari menuju ruang club basket. Rupanya di sana sudah banyak orang-orang yang meminta masuk ke dalam, namun beberapa anggota club basket menghalangi pintu. Mereka tak mengizinkan orang selain club basket untuk masuk.

"Biarkan aku masuk!" seru gadis itu sambil menarik kerah baju salah satu anggota club basket yang menghalangi pintu masuk. Shion memandang tajam ke arah orang itu dan mengepalkan tangannya, seakan mengancam akan menghajar orang itu jika menghalangi jalannya. Akhirnya Shion pun di beri jalan untuk masuk ke dalam. Ia segera melangkahkan kakinya dengan tergesa ke arah ruang ganti wanita di club dan di depan pintu ruang ganti sudah ada Ino dan Itachi yang sedang di ceramahi oleh Gaara dan Neji? 'Oh, god!' batin Shion.

"Kalian itu apa-apaan coba?" Tanya pemuda Sabaku yang sedang berdiri di depan Ino dan Itachi. Dua orang yang sedang di tegur itu hanya duduk terdiam.

"Semuanya salah paham, kami tidak melakukan apa-apa! Sungguh!" jelas Itachi, Ino pun ikut mengangguk. Neji menatap kedua temannya itu lalu menghela nafas panjang. Shion pun menghampiri mereka dan berdiri di sebelah Ino yang masih terduduk. Ia mengguncang-guncangkan bahu sahabatnya itu.

"Kenapa di mading ada foto kau berdua dengan Itachi senpai di dalam ruang ganti sedang tertidur? Semalaman kau tidur dengannya?" Tanya Shion. Ino mengangguk pelan. Lalu gadis bermata aquamarine itu memeluk gadis violet di depannya.

"Aku berani sumpah, aku hanya tidur saja kok. Kemarin ada orang yang mengunci kami di ruang ganti!" jelas Ino. Air mata membasahi pipi putihnya. Shion terdiam lalu mengusap punggung sahabatnya itu. "I belive in you," lalu mereka pun tersenyum. Shion menatap Itachi dan Itachi hanya angkat bahu saja. "Aku juga tidak tahu siapa yang mengunci kami. Mungkin orangnya sudah merencanakan semua ini," ujar Itachi sambil berusaha mengingat-ingat kembali. Akhirnya setelah berunding, mereka semua memutuskan untuk mengumpulkan anggota club basket di lapangan indoor itu. Semuanya sudah berbaris memanjang, perempuan di depan dan laki-lakinya di belakang. Sedangkan Shion duduk di bangku tempat biasa pelatih dan pemain cadangan duduk. Itachi berdiri seorang diri di depan mereka semua (kecuali Shion). Ia melipat tangan di depan dada sambil terus melirik seluruh anggota club basket yang jumlahnya tidak banyak itu secara bergantian.

"Siapa diantara kalian yang pulangnya paling akhir?" Tanya Itachi. Hening dan Ino pun angkat tangan. Itachi menepuk dahinya.

"Maksudku selain kau! Kalau kau sih sudah jelas," kata Itachi sambil memutar bola matanya malas. Ino hanya mengeluarkan cengiran polos dan kembali menurunkan sebelah tangannya. Pintu masuk sudah dikunci agar tidak ada orang lain yang bisa masuk, pengecualian untuk Shion. Hening kembali menemani ruangan luas itu. Itachi masih berdiri dengan gaya angkuh menunggu pengakuan dari mereka. Lalu tiba-tiba di kepalanya terngiang kata-kata Deidara kemarin. Ia pun menatap Deidara dengan penuh curiga.

"Deidara, apa kemarin kau pulang paling akhir?" Tanya Itachi. Deidara balas menatap tatapan tajam Itachi dengan tatapan bingung. Ia memiringkan kepalanya sedikit dan otaknya berusaha memutar ulang rekaman kemarin. Ia pun menggeleng setelah beberapa detik mengingat. "Tidak" jawab pemuda pirang manis itu. Itachi terus menatap Deidara dengan tatapan yang seakan berkata 'ayo-cepat-mengaku-atau-kuhajar-kau'. Dan Deidara sampai harus mengusap keringat dingin yang tiba-tiba mengalir dari pelipisnya.

"Sumpah, kemarin aku pulang dengan Sasori dan itu pun masih banyak anak-anak yang berlatih," jawab Deidara. Lalu mata sapphire-nya menatap Sasori meminta persetujuan. Sasori pun mengangguk singkat. Itachi hanya ber-oh ria. Walau ia percaya pada Sasori tapi entah kenapa ia tak bisa percaya pada Deidara. Pemuda pirang itu akhir-akhir ini terlalu misterius, pikirnya.

.

.

.

"Haduh parah banget! Rasanya tegang banget kalau diintrogasi sama Itachi senpai! Tatapan matanya itu lho yang gak nahan! Bikin ngeri!" seru Tenten saat anggota basket sudah boleh di bubarkan. Ino mengangguk setuju. "Walau aku tidak ikut diintrogasi tapi rasanya ngeri juga melihatnya!" respon Ino. Shion hanya tersenyum geli saja. Dalam hati ia bersyukur tidak ikut ditanya-tanyai seperti itu. Kalau ia sampai diintrogasi juga, ia pasti sudah gugup sekali.

"Hei, kalu lihat tidak saat Deidara senpai keluar ruangan? Aku lihat mata Itachi senpai menatapnya dengan tajam sekali!" kata Shion ikut berbaur dalam percakapan itu. Ino dan Tenten pun mengangguk setuju. Semuanya pun terdiam di depan pintu ruang kelas Tenten. "Ada apa, ya?" Tanya Tenten entah pada siapa. Merasakan suasana yang berat, Tenten pun segera menepuk pundak Shion dan Ino. "Aku masuk ke kelas duluan ya!" seru gadis berambut cokelat itu dan ia pun melenggang masuk ke dalam kelasnya. Sedangkan Ino dan Shion melanjutkan langkah kaki mereka melewati koridor sekolah itu untuk sampai ke kelas mereka berdua.

"Maaf aku terlambat, tadi ada sedikit urusan dengan anggota club basket," ujar Shion saat membuka pintu kelasnya. Tentu saja ia jadi terlambat masuk kelas. Guru Iruka yang kebetulan sedang mengajar itu pun hanya mengangguk dan mempersilahkan Shion duduk. Sebelum duduk, Shion menghampiri guru berkuncir satu itu.

"Sensei, Ino izin," jelas Shion. Guru Iruka mengangguk lagi, "aku tahu" jawabnya singkat dan Shion pun duduk di bangku kelasnya. Kemana Ino? Jangan ditanya, bukannya dia sudah bilang tidak akan masuk sekolah? Tentu saja, mau di kemanakan harga dirinya kalau ia datang ke sekolah dengan rambut tidak rapi dan baju yang pastinya.. bau? Entahlah.

.

.

.

Ino's POV

Aku berjalan dengan malas menuju pintu keluar utama gedung sekolah ini. Lalu langkah kakiku segera terhenti dan mataku pun langsung tertuju pada sebuah mobil sedan hitam yang berhenti tepat di depanku yang baru keluar dari gedung sekolah itu. Kulihat perlahan kaca mobil itu turun dan menampakan sosok yang sedang duduk di bangku penyetir. Rambut hitam itu, Itachi.

"Ayo pulang bersamaku. Atau kau lebih suka naik bus dengan keadaan begitu? Aku sudah mengabari ayahmu tentang kejadian kemarin, tenang saja" ajak Itachi. Aku pun mengangguk semangat.

"Kebetulan sekali aku memang malas naik bus! Terima kasih ya!" seruku. Tanganku segera membuka pintu mobil Itachi. Aku pun duduk menyamankan posisiku di jok mobil yang di lapisi sarung jok berbahan kulit. Itachi segera menginjak gasnya dan pergi meninggalkan lingkungan sekolah setelah mengantongi izin dari kepala sekolah agar ia dan aku tidak hadir dulu hari ini. Itachi gitu lho, guru mana yang tidak percaya padanya? Murid teladan, pintar dan berprestasi sih. Aku hanya tersenyum senang, senang karena bisa membolos dan diizinkan sekolah!

"Ino," suara berat namun lembut itu memanggilku. Perasaanku saja atau kurasa suara dinginnya perlahan melembut dari hari ke hari? Ah, kalian juga merasakannya? Kita sehati, ya! Aku pun menengok ke arahnya sebagai respon dariku. Itachi masih berkonsentrasi menatap jalan. Aku percaya kok kalau dia sudah punya SIM. "Kau lapar tidak?" tanyanya tanpa menengok ke arahku. Aku mengangguk, "he'eh. Memang kenapa?" Tanyaku. Kulihat Itachi menggigit bibir bawahnya, sepertinya ia sedang mencari suatu kata yang tepat. Aku sih masih menatapnya agar ia merasa kalau aku menunggu kata-katanya.

"Anou, itu.. mungkin tidak sopan bertanya begini tapi.. di rumahmu nanti ada makanan, kan?" tanyanya. Hening. Beberapa detik berlalu kami saling terdiam sampai akhirnya suara tawaku memecahkan kesunyian kami.

"Haha, maksudnya kau ingin makan di rumahku? Entahlah, tapi kalau tidak ada aku akan memasak untukmu!" aku pun berbicara dan kembali tertawa. Itachi memajukan sedikit bibirnya karena.. kesal? "Huh, tidak apa-apa, kan? Habis rumahmu kan sudah dekat sekali," tanya Itachi dan aku pun menepuk-nepuk bahunya sambil masih menahan tawaku,

"Tentu saja boleh! Hei, kalau kau kesal seperti itu kau jadi mirip remaja perempuan yang tsundere deh! Haha.." dan detik berikutnya Itachi menghentikan mobilnya tepat di depan rumahku. Bukan untuk turun, namun untuk mengelitikiku habis-habisan.

"Stop! Atau nanti tak sengaja kupukul lho! Haha.,,. Stop! Ah!" ucapku diselingi dengan tertawa. Ia mengelitiki perutku sampai rasanya aku susah bernafas saking gelinya. "Makanya jangan menghinaku, ya, bocah!" katanya. Ia pun menghentikan aktivitas menyebalkannya dan turun dari mobil. Dengan cepat ia sudah membuka pintu untukku. Aku yang sedang bersandar di pintu pun jadi terjatuh ke belakang. Untung ia dengan sigap menahan tubuhku. Kalau aku tadi sampai jatuh dan terbentur aspal dengan gak elitnya, harga diriku mau di taruh di mana? Apa kalian bilang? Di laut? Kugigit nanti kalau berani berkata begitu lagi! Lho kenapa aku jadi ketularan Kiba yang suka main gigit?

"Terima kasih" ucapku pelan. Ia pun membantuku keluar dari mobil dan aku pun menutup pintu mobilnya setelah berhasil keluar dari mobil (?). Itachi menekan tombol kunci otomatis untuk mobilnya dan kami pun masuk ke dalam rumahku ini. Kubuka pintu rumah dan tidak mendapati siapa-siapa di dalam. Tadi di dekat teras juga motor ayah tidak ada. Berarti ayah sudah berangkat ke toko. Eh, tunggu.. berarti hari ini aku hanya berduaan dengan Itachi di sini?


TBC alias つづく

Aduh word-nya jadi 4.000! Gak papa kan? Jangan mabok ya! Ceritanya doang sih cuma 3.900 (dari "Normal POV – TBC"). Gomen kalau ada yang merasa kebanyakan, hehe.

Habis saya ke asikkan sih ngetiknya, soalnya saya ditemani dengan lagu-lagu dari my beloved husband, Kagamine Len! Hey, barusan siapa tuh yang langsung nampol gua pake sapu? Oke abaikan, jadi langsung Review aja kalau mau ceritanya lanjut ya!

Arigatou buat Minami22 yang makin bersikap layaknya editor saya (ngomel-ngomelin saya biar cepet nyelesain chap demi chap) dan maaf saya gak bisa bocorin cerita duluan dong.. ntar gak adil. Dan arigatou juga buat Reader yang senantiasa membaca fic ini, tinggalkanlah jejak kalian (Review) agar saya bisa membalas komentar kalian!