Apa yang perlu di jelaskan tentang pengkhianatan? Apakah ini bagus? Atau sebaliknya?

Mungkin ada beberapa di antara manusia berpikir dengan satu kali berkhianat tidak apa apa dan tidak menimbulkan dampak apapun mengingat korban mereka sudah lenyap dalam ke hamparan. Namun mereka tidak mengetahui betapa luasnya dunia beserta isinya yang sulit di tebak.

Kini Naruto berdiri di antara pohon pohon rindang yang baru saja Naruto temui tempat ini. Melewati ruang dan waktu mungkin bagi sebagian Shinobi terdengar kurang masuk akal. Sama seperti konsep dari Hiraishin no Jutsu yang menggunakan ruang dan waktu sebagai perantara efek dari Jutsu tersebut. Jikukan Fuinjutsu pun sama namun beda bagaimana mereka melakukannya.

99 jenis Shiki di gabungkan menjadi satu rangkaian Shiki sampai sekarang belum di mengerti oleh Naruto sendiri. Dia memang Shinobi cerdas, seluruh gulungan peninggalan ibu dan ayahnya mengenai Fuinjutsu hampir di kuasai dalam waktu 3 tahun saja bahkan untuk seorang Uzumaki murni membutuhkan setidaknya belasan tahun untuk mempelajari berbagai jenis rangkaian Shiki.

Ketika dia memasuki Jikukan Fuinjutsu beberapa saat yang lalu, dia sempat berpikir apakah ini baik baik saja? Sepengetahuan dirinya, Jikukan Fuinjutsu hanya bisa di gunakan untuk memindahkan suatu serangan ke tempat lain.

Namun ucapan Kurama beberapa saat yang lalu seakan menghapus semua keraguan dalam dirinya. Uzumaki bagaikan perpustakaan dari segala keanehan dunia Shinobi sampai titik terendah. Apapun bisa terjadi, mengingat manusia sendiri bisa menyemburkan api dari mulut, atau bahkan mengontrol air seharusnya sebuah mukjizat. Jadi sebuah Fuinjutsu tak terkecuali mampu berjalan di luar konsep Jutsu itu sendiri.

Dan sekarang di hadapan Naruto. Jauh dari Elemental Nation berada, Naruto merasakan ketentraman hati yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Pohon pohon menjulang tinggi dengan kicauan kicauan burung berbagai jenis bagaikan simphony pada siang hari itu.

Dia tahu ini bukan Elemental Nation karena tanah yang ia pijak melayang jauh di luar orbit. Setiap getaran yang terjadi setiap menitnya memperkuat Naruto mengenai ini. Semua berjalan di luar akan sehat manusia, terdapat kekai yang cukup kuat menyelubungi area luar pulau melayang ini.

"Well! Semakin kita menjelajahi dunia luar, semakin sakit juga kepalaku, bagaimana pendapatmu, Kurama?" Di luar ketertarikannya dengan asal usul Uzumaki. Siapa yang menyangka Uzumaki menyimpan surga semacam ini? Pulau melayang!

"Ralat! Jika di samakan dengan laut, Uzumaki merupakan bagian terdalam lautan sedangkan seluruh peradaban Shinobi berada di permukaan laut." Naruto tidak merespon secara berlebihan karena itu memang benar. Sedikit informasi yang Naruto ketahui hanya Uzumaki merupakan Clan Murni dari desa Uzushiogakure terletak tidak jauh dari desa Kirigakure. Selebihnya dia tidak tahu meskipun secara sarkas dia telah bertanya kepada Kurama.

Naruto memang menganggumi Uzumaki beserta unsur unsur nya. Seluruh hidup Naruto di habiskan untuk mencari sesuatu yang berguna masih berhubungan dengan Uzumaki atau Uzushiogakure. Jika Naruto benar, maka tempat ini seharusnya ada sedikit ikatan dengan penjaga pintu Utara Suzaku apalagi di perkuat adanya ridlle.

"Uzumaki. Aku tidak pernah untuk tidak menganggumi setiap keajaiban nya." Naruto dengan langkah pelan menelusuri setiap tempat di pulau melayang ini. Apapun yang ia temui selalu di luar akal sehat seperti hewan berukuran abnormal, tanaman belum pernah Naruto temui sebelumnya, bahkan ada beberapa hewan kuchiyose memiliki sifat agresif terhadap makhluk belum pernah mereka temui.

"Tertarik untuk mengekspor tempat ini?" Naruto mengangguk. Saran Kurama ada bagusnya, ia juga butuh sekedar refreshing untuk menghilangkan penat karena masalah yang tak kunjung berhenti. Sekuat kuatnya dia, Naruto masih tetap lah seorang manusia memiliki batas tersendiri.

"Tapi sebelum itu. Ada baiknya kita menyapa tamu kita ini." Ujar Naruto tersenyum tipis. Sedari dia menginjakan kaki di pulau ini. Naruto maupun Kurama memang sudah merasakan beberapa orang mengikuti mereka. Karena sifat Naruto yang masa bodo, dia membiarkan seakan semua tidak ada apa apa dan terus berjalan. Toh dia tidak menggangu.

Ucapan Naruto yang tergolong keras tentu terdengar oleh telinga 'mereka' dari balik bayangan pohon pohon berukuran tidak lazim. Naruto tetap tenang, dia tidak melakukan sesuatu yang patut di curigai sebagai penyusup jadi ada kemungkinan dia tidak di serang oleh penduduk asli sini entah suku mana kecuali jika mereka seekor binatang tidak bisa membedakan mana ancaman atau bukan. Namun bukankah beberapa jenis binatang mampu membedakanya?

"Bwhahahaha kau membuat mereka panik Naruto!" Kurama tertawa ketika beberapa orang menggunakan topeng polos menghilang dari pohon satu ke pohon lain di sekitar Naruto berdiri. "Biarkan saja mereka, kita tidak tahu siapa tamu kita. Untuk menjadi tuan rumah yang baik, kita harus memberikan jamuan terbaik yang kita miliki, Kurama." Balas Naruto tertawa kecil merasa geli.

"Hmm kau benar. Apa kita akan bertarung?" Naruto dengan gerakan rileks menggeleng beberapa kali. Ini bukan saat nya untuk menunjukan taring seorang Jinchuriki ekor sembilan. "Simpan saja cakramu, Kurama. Aku tidak akan melakukan pertarungan konyol tidak berguna di sini, aku tidak mau merusak keindahan sebuah surga."

"Sikap lembutmu masih ada eh." Jujur, Naruto sedikit tidak percaya ada perdaban Shinobi di tempat ini. Bukan bermaksud apa, tapi dari sekilas saja, tempat yang Naruto sendiri tidak tahu namanya apa seakan tidak pernah tersentuh.

Naruto berdehem pelan lalu menepuk tangan sebentar. "Para Tuan yang saya hormati, ada gerangan apa anda mengikuti saya sejak pertama kali saya datang ke sini. Perlu anda ketahui, tindakan anda mampu membuat kepala anda berpindah tempat sekarang." Jika Naruto ingin, ia sudah sedari tadi membereskan para penguntit sialan itu. Mereka menganggu perjalanan Naruto tanpa melihat siapa yang sedang mereka ikuti. Selain karena tidak enak, tindakan mereka termasuk tindakan tidak sopan dan menganggu.

Naruto yang merasakan dingin di lehernya pun melirik menggunakan ujung matanya ke belakang siapa orang berani menempelkan ujung katana pada lehernya. Naruto menyipitkan matanya ketika tidak sengaja melihat rambut merah di miliki orang itu tertutupi oleh topeng polosnya.

"Siapa kau? Bagaimana bisa kau masuk ke tempat ini?" Ujar seorang yang bisa di tebak suara pria itu. Naruto masih tetap tenang meskipun dia yakin, bergerak sedikit saja maka lehernya akan tergores oleh tajamnya Katana.

Tak lama kemudian, 3 orang menggunakan pakaian yang sama seperti orang sedang menahan Naruto dengan sebilah katana muncul di hadapan Naruto tanpa permisi. Naruto semakin menyipitkan tanganya ketika tiga orang di depannya menggunakan katana terdapat lambang pusaran air pada bagian ujung katana.

"Aku menemukan tempat ini secara tidak di sengaja." Ungkap Naruto setengah jujur karena memang tujuan awal Naruto ke reruntuhan Uzushiogakure hanya untuk mencari sesuatu yang berguna untuk dirinya sendiri, namun siapa yang menyangka dia bisa menemukan tempat semenajubkan ini.

"Taicho! Apa kita akan mengeksekusi nya di tempat?" Tanya salah satu Shinobi di depan Naruto. Seorang di panggil Taicho sedang mengekang Naruto tampak sedang berpikir langkah apa selanjutnya tanpa menyadari sesuatu yang akan membuat mereka terkejut.

"Apa kalian ingin membunuhku? Tidak semudah itu." Keempat orang asing tersebut membulatkan mata mereka mendengar suara Naruto bukan dari tempat Taicho mereka menempelkan bilah tajam katana di leher bocah Uzumaki dan Uchiha itu. Mereka secara serempak langsung mengalihkan perhatian ke arah salah satu pohon besar di sana.

"Apa!" Ucap salah satu dari mereka terkejut. Bukankah pemimpin mereka tadi sudah mengunci pergerakan Naruto? Lalu bagaimana bisa musuh mereka lepas begitu saja? Kira kira inilah yang sedang di pikirkan oleh tiga di antara keempat orang berniat mengeksekusi Naruto di tempat.

"Kau! Siapa namamu nak?"

"Taicho?"

Ketika sang pemimpin bersifat lembut dengan bertanya siapa nama Naruto. Tentu hal ini ia harus menerima respon tidak terima dari anggotanya. Bukan bermaksud apa, tapi ketika dia sadari Naruto memiliki sesuatu yang mirip seperti mereka membuat dirinya sedikit meyakini sesuatu.

Naruto mengerutkan dahinya bingung. Bukankah tadi ia sangat ingin di eksekusi? Kenapa pula orang ini harus merubah suara menjadi bersahabat padahal sebelumnya terdengar serak dan mengerikan.

Naruto mengembangkan senyum tipis. "Namaku Uzumaki Naruto. Missingnin S Konohagakure no Sato dengan harga kepala tertinggi untuk seorang Missing nin di bawah usia 20 tahun." Ucap Naruto dengan bangga menyebut marganya sebagai Uzumaki.

Tampak keempat manusia di depannya terlihat begitu terkejut setelah selesai mendengarkan ucapan perkenalan dari Naruto. Satu di antara mereka yang di yakini sebagai pemimpin lalu maju selangkah kedepan.

"Kau Uzumaki?" Tanya orang itu lagi berusaha untuk tenang meski batinnya sangat terkejut.

"Meskipun ku tahu menyebut nama Uzumaki di larang. Aku tetap membawa penuh nama Uzumaki sebagai Margaku selama ini." Naruto tidaklah berbicara omong kosong. Semua orang takut terhadap Uzumaki apalagi yang liar seperti Naruto.

Naruto tersenyum bangga ketika menyebut nama Uzumaki tak kala membuat keempat orang di depannya sempat tertegun. Naruto memang lebih menyukai marganya sebagai Uzumaki untuk mengingat mendiang sang ibu.

"Apa yang kau ketahui mengenai Uzumaki? Kau pembual sialan!" Naruto mengangkat wajahnya tinggi meremehkan mendengar penuturan tidak terima ini. Jika dia Uzumaki, kenapa pula orang asing itu harus merasa jengkel dengan marganya. Apapun yang berhubungan dengan Uzumaki tidak memiliki hak apapun untuk orang luar ikut campur.

"Apa masalahmu mengenai ini? Kenyataan berteriak jika aku lahir dari rahim seorang Uzumaki murni, ku pikir dengan begitu, aku bisa menggunakan Uzumaki sebagai marga kebanggan ku." Balas Naruto menantang namun ibarat skak dalam permainan bidak catur. Merasa gerah dengan suasana, pemimpin orang bertopeng itu mulai membuka suara berniat untuk menyudahi debat tidak perlu ini.

"Sudah sudah. Kalian bisa pergi dulu kembali ke desa dan serahkan masalah ini kepadaku." Ujarnya menengahi. Meskipun tampak beberapa anggotanya menolak untuk kembali, dengan beberapa pembicaraan yang alot. Akhirnya ketiga di antara mereka kembali walaupun batin mereka tidak rela meninggalkan sang pemimpin.

"Anak muda. Kau tahu bukan sejarah kelam Uzumaki yang terkenal dari berpuluh puluh tahun yang lalu. Ku harap kamu mau mengikutiku ke suatu tempat." Ucapnya lembut. "Sebelum itu, bolehkan aku mengetahui namamu?" Tanya Naruto kemudian.

Orang bertopeng tersebut terdiam sebentar, setelah berpikir sejenak, dia meraih topeng polosnya untuk di lepaskan. "Namaku Uzumaki Izame, aku tahu reaksi selanjutnya darimu. Maka dari itulah, tahan sebentar dan ikutlah denganku."

Seperti dugaan awal Izame. Naruto memang mengalami shock ringan mendengar ada Uzumaki lain selain dirinya. Namun mendengar pria berusia 30 tahunan itu seperti ingin menjelaskan sesuatu. Naruto pun tanpa ragu langsung mengikuti perkataan Izame dengan mengikutinya via Shunshin.

.

.

.

.

.

.

"Kau tahu ini apa?" Dalam 16 tahun kehidupanku. Hanya dua hal yang membuatku terkejut akan sesuatu, mengetahui bahwa diriku anak super tampan sedari lahir, dan sesuatu yang nyata di depanku ini. Sungguh, apapun ini, seharusnya di anggap sebagai mitos dan di jadikan dongeng pengantar tidur oleh orang tua untuk anak anak mereka.

Izame san membawa ku ke sebuah kuil kuno tidak terlalu jauh dari tempat ku bertemu dengan Izame san beserta anggota nya. Di depanku, lambang empat hewan penjaga mata angin yang mengitari satu sama lain terlihat begitu indah di pandang.

"Empat legenda penjaga arah mata angin. Apa maksudnya ini, Izame san?" Seharusnya ini mitos, seharusnya ini tidak nyata. Izame menjelaskan jika kuil ini adalah tempat di mana keempat penjaga arah mata angin tinggal. Namun kurang jelasnya, apakah ini nyata?

"Nak apakah kau menyadari sesuatu setelah menapaki kakimu di tempat ini?" Apa orang ini paranormal hingga mengetahui apa yang ku rasakan?

"Tensi yang berbeda ku rasakan sejak pertama kali datang ke sini. Suatu energi asing namun menyejukkan berputar di tempat yang sama seakan energi itu mendorong pulau ini ke udara. Apakah aku benar?" Ku keluarkan semua yang mengganjal dalam pikiranku.

"Kau benar. Jika kau berhasil datang dengan selamat. Aku sudah menduga kau memiliki darah Uzumaki dalam tubuhmu. Untuk semua unek unek yang kau lepaskan tadi, biar ku jelaskan. Selamat datang, kau berada di dunia tempat para Kuchiyose tinggal." God! Uzumaki dengan segala keajaiban mereka yang abnormal untuk di mengerti.

Dunia Kuchiyose katanya? Pantas saja beberapa waktu yang lalu aku sering menemui beberapa jenis binatang dengan jenis yang aneh beserta ukuran tergolong tidak lazim. Mereka hewan Kuchiyose liar dengan kekuatan mereka tidak bisa di prediksi.

"Selamat Naruto. Kau menemukan tempat tidak seorangpun di Elemental Nation ketahui." Ucap Kurama. Namun ada satu yang mengganjal di dalam benakku. 'Apakah desa Uzushiogakure masih berdiri setelah di rumorkan hancur oleh serangan tiga desa besar, Kumogakure, Kirigakure dan Iwagakure?'

"70% kemungkinan ada, Naruto. Kita tidak tahu apa yang terjadi di masa lampau." Aku mengangguk. Kurama ada benarnya. Meskipun terkadang rubah ini begitu menyebalkan, namun pada saat di butuhkan dia cukup berguna.

'Ini akan menjadi berita paling menggemparkan jika seluruh dunia mengetahui Uzushiogakure masih berdiri hingga sekarang.' Aku berbicara sesuai fakta yang berlaku. Selain itu, Okaa san juga bercerita meskipun Shinobi dari Uzushiogakure tidak lebih dari angka 5.000 namun kekuatan Fuinjutsu mereka rata rata memiliki level 8 atau sekarang setingkat dengan Minato ataupun Jiraiya sudah sangatlah merepotkan.

"Aku tidak tau kau mempunyai jalan berpikir yang aneh, Naruto. Tapi lupakan saja, seperti dugaan kita dari awal, jikapun seluruh negara elemen mengetahuinya, apakah mereka mampu menemukan tempat ini?" Yah Kurama benar. Aku saja yang memiliki keberuntungan tinggi akan sesuatu.

'Hoi—Kurama, apa kau memiliki pemikiran yang sama denganku?' Sekilas saja sebuah opini tidak masuk akal memasuki jalan berpikirku tanpa izin. Ku pikir Kurama juga memiliki pendapat yang sama.

"Ku rasa begitu. Sepertinya orang ini memiliki penjelasan panjang mengenai opini kita." Balas Kurama. Aku menatap Izame san sejenak.

"Izame san. Aku memiliki satu pertanyaan untukmu mengenai sejarah kelam Uzushiogakure beserta Uzumaki di dalamnya. Jika memang kau seorang Uzumaki, seharusnya masih ada banyak lagi Uzumaki Uzumaki lain di sekitar sini. Apakah, berita kehancuran Uzushiogakure merupakan kebohongan semata?" Pria matang itu kembali terdiam setelah mendengar pertanyaanku tergolong pertanyaan menguak rahasia besar Shinobi.

"Maafkan aku tidak bisa menjawab pertanyaan darimu, nak. Aku tidak berhak untuk itu." Aku mendesah pelan karena apa yang ku inginkan tidak bisa terpenuhi. Aku mengangguk tidak bertanya lagi.

"Tapi aku akan menunjukan suatu yang sepatutnya Uzumaki ketahui. Kau memiliki sedikit waktu bukan?"

"Yah tidak masalah jika ini membutuhkan waktu." Aku menjawab mantap. Aku tidak memiliki jadwal setelah ini, mungkin hanya sedikit membeli kebutuhan pokoknya untuk seminggu dan kembali kerumah atau sekedar melatih beberapa Jutsu yang belum sempurna 100%.

"Kalau begitu. Tunggulah di sini sebentar. Aku akan memeriksa beberapa tempat lalu kembali ke sini. Kau bisa menunggu, bukan?"

"Tentu, aku juga ingin berkeliling sebentar."

"Baiklah, aku pergi. Oh, jangan sentuh apapun yang mengeluarkan hawa tidak mengenakan. Itu akan sangat tidak bagus untuk dirimu."

"Aku mengerti, Izame san."

Dengan itu. Izame menghilang dalam kepulan asap meninggalkanku sendiri, yah lebih tepatnya berdua. Aku sedikit bergumam pelan, mungkin ini akan menjadi waktu berharga untuku, apalagi dengan 2 Minggu dari sekarang aku harus mengikuti Ujian Jounin di tempat tak seharusnya ku kunjungi. Itu membutuhkan mental yang kuat.

...

Dua jam Naruto mengelilingi kuil yang dia tafsir sebesar desa Konoha itu tanpa menemui sesuatu yang berharga sama sekali. Hanya ada beberapa patung berbentuk binatang Kuchiyose memiliki hawa tidak mengenakan dan beberapa gazebo tidak seharusnya ada. Mengingat Izame menyuruh Naruto untuk tidak menyentuh apapun, dia hanya menurut saja.

Setelah sekian lama menunggu. Akhirnya orang yang di tunggu sedari tadi datang namun dengan pakaian berbeda dari sebelumnya berupa pakaian Anbu tidak Naruto kenali. Izame sekarang memakai pakaian sopan berupa Yukata hitam seperti akan melakukan sebuah ritual tertentu, dia mengabaikan itu dan lebih memilih mengikuti langkah Izame menuju ke dalam kuil dengan melewati pintu gerbang terdapat gambar empat hewan penjaga mata angin.

"Santai saja. Jika kau seorang Uzumaki. Seharusnya kau bisa membukanya menggunakan darahmu." Ucapan Izame tentu saja membuat Naruto keheranan. Ia menggigit ibu jarinya kemudian di teteskan lah darah itu ke sebuah mangkuk kecil di bawah patung seekor singa berkepala elang.

Patung itu bergetar sesaat kemudian bergeser menciptakan sebuah jalan rahasia ke dalam tanah berupa tangga yang Naruto tafsir sangat dalam. Meskipun setiap meter terdapat obor obor ajaib menyala dengan sendirinya, tapi jauh dari mata memandang, hanya kegelapan semu dapat terlihat dari jangkauan mata.

Kedua Shinobi itu memasuki dengan Izame berjalan terlebih dahulu kedepan di ikuti Naruto beberapa meter di belakang Izame. Tanpa adanya suara, tiba tiba pintu masuk kembali tertutup rapat mengubur dua Uzumaki dalam kegelapan lorong.

OooOooO

Sementara di Mansion sederhana Naruto. Seorang perempuan memiliki rambut indah menjuntai berwarna perak sedang gusar dalam tidurnya entah apa yang sedang dia pikirkan. Grayfia, entah kenapa dia begitu khawatir Naruto pergi selama lebih 1 Minggu tidak memberikan kabar apapun.

Dunia ini berbahaya. Grayfia tahu itu, Naruto hanya remaja 16 tahun yang hidup bebas karena alasan tertentu. Kekuatan segalanya di dunia ini, Grayfia hanya Khawatir Naruto tidak bisa menjaga dirinya sendiri, meski Grayfia tahu Naruto memiliki power lumayan untuk ukuran seorang remaja.

Sejujurnya Grayfia tidak pernah merasa seperti ini. Hanya kepada remaja pirang Ini dia merasa harus melindunginya dan menjaga dari segala apapun yang bersifat membahayakan bagi remaja ini. Semua karena Naruto memiliki sesuatu mirip sosok adik yang tewas ketika Great War berlangsung.

Dia secara tidak sadar menjalin sebuah ikatan dengan Naruto meskipun dia sendiri hanya mengenal Naruto dalam beberapa jam saja.

Atap yang hanya terbuat dari kayu tidak pernah bosan untuk Grayfia pandang berjam jam untuk mengurangi kegelisahannya. Dia memang kesepian, dan menggangu Naruto merupakan obat penghilang penyakit berbahaya bernama bosan ini.

Sebelumnya, Grayfia mampu menjalani keseharian tanpa di hantui rasa resah dan gelisah. Namun kejadian beberapa saat yang lalu membuat positif thinking nya langsung menguap entah kemana.

Aura Naruto selalu dia rasakan menghilang secara mengejutkan seakan akan Naruto telah pergi atau kesadaran remaja itu lenyap begitu saja. Mungkin jika nanti aura Naruto bisa Grayfia rasakan kembali, dia akan langsung mencari dan menanyakan apapun yang membuatnya resah dan gelisah.

Lucu, remaja baru saja dia temui membuat ratu kehancuran ini begitu tertekan.

Ya sejauh ini Grayfia menanggap Naruto adik yang harus selalu di bimbing dan di perhatikan baik pola makan ataupun memberikan kasih sayang sebagaimana seorang kakak melakukannya.

Mengabaikan ini, langkah kaki Grayfia membuatnya mengarah ke kamar mandi sederhana di miliki Mansion itu. Ia melepas seluruh pakaiannya berupa T-shirt polos berwarna biru dan rok panjang selutut tak lupa pakaian dalam dan memasukannya ke keranjang pakaian kotor.

Mungkin mandi bisa membuatnya lebih tenang untuk berpikir.

Sebari mencari cara untuk kembali ke dunia asalnya.

Namun sebelum itu. Dia ingin memastikan sesuatu. Sesuatu yang menyangkut perasaannya.

XxxX

Sementara itu di Konoha. Di bangunan paling tinggi dan paling mewah di antara yang lain, terdapat lambang dari negara Hi no Kuni tampak mencolok dengan lampu penerangan di bawahnya. Kantor Hokage, begitulah orang orang menyebutnya.

"Jadi Menma jauh dari kata seimbang bahkan setelah mengeluarkan Sage mode? Ya darah Uzumaki dan Uchiha menjadi satu subuh memang mengerikan, aku tidak terlalu terkejut Menma dapat di kalahkan. Apalagi dengan penggunaan Sharingan sempurna." Tampak orang tua memiliki warna rambut seperti uban duduk di jendela kantor Hokage menatap Minato sebagai lawan bicaranya.

Dia pulang setelah mendapatkan kabar bahwa murid didikannya sekarat setelah duel satu lawan satu dengan Shinobi yang dulu Jiraiya yakin Shinobi itu memiliki kapasitas di bawah rata rata. Dia bukan bermaksud menghina, tapi itulah kenyataan nya.

Minato tersenyum kecil. "Menurut Menma. Sharingan Naruto memiliki keunikan baik dari segi penggunaan maupun setiap Jutsu mata yang di keluarkan. Menma bagaikan mainan di mata Sharingan Naruto. Aku khawatir jika ramalan mengenai bocah penghancur mengarah kepada Naruto." Jiraiya hanya mengangguk. Jika ramalan mengatakan ada Shinobi mempersatukan kelima desa besar, maka ada pula ramalan dari tetua katak mengatakan 'ada saat nya seorang anak memiliki hati sulit di tebak, antara menghancurkan atau menata ulang kembali dunia.'

Mereka positif Menma adalah anak dalam ramalan itu. Bukan bermaksud berlebihan, tapi kekuatan Menma berupa Kekai Genkai Kongo Fusa dan elemen Mokuton dari darah Kushina dan Minato memperkuat dugaan mereka. Menma mempunyai 3 perubahan elemen, yaitu Air dan tanah warisan dari Kushina dan Angin dari Minato. Hanya saja Menma belum bisa mengendalikan kekuatan absurd itu.

"Apa Menma mengeluarkan kedua Kekai Genkai nya waktu pertarungan, Minato?" Pertanyaan Jiraiya tergolong wajar. Pribadi, dia juga takut jika Naruto adalah anak dalam ramalan memiliki hati sulit di mengerti. Jika Naruto tidak mengetahui Menma memiliki dua Kekai Genkai langka, maka untuk kedepannya Menma harus melatih seluruh kekuatannya untuk kemungkinan paling terburuk jika di masa depan Naruto mulai melakukan sebagaimana takdir tertulis.

Minato menggelengkan kepalanya pelan. "Dari situlah aku bersyukur Menma hanya mengeluarkan Sage mode dan seluruh Jutsu elemen nya." Ucap Minato mengeluarkan uneg uneg nya. Minato beruntung Menma memiliki pemikiran yang cerdas, mungkin ini adalah gen Namikaze di miliki Menma?

Kemudian, tatapan Minato menyendu mengingat sebuah janji seumur hidup yang dia pegang teguh. "Mungkin di pertemuan berikutnya aku sendiri yang akan membawa Naruto-kun pulang. Seburuk apapun status nya, dia masih memiliki hak penuh menjadi pahlawan Konoha dengan dedikasi orang tuanya." Jiraiya sebagai seorang guru tentu saja mengetahui itu. Jiraiya, dia adalah guru pembimbing dari Minato dan Kenji, tentu mengingat Minato ataupun Kenji sudah dia anggap anak sendiri, ia juga memiliki hak untuk mengklaim Naruto sebagai cucunya sendiri.

"Jangan gegabah. Kita tidak mengetahui perihal kenapa Naruto bisa pergi meninggalkan Konoha tanpa jejak. Kita harus mencari alasannya lalu memutuskan langkah berikutnya. Bagaimana pun juga, Naruto adalah muridku." Kata Jiraiya. Minato mengangguk tahu. Minato berniat bernegosiasi jika suatu hari nanti dia bertemu Naruto secara langsung lalu membuat keputusan yang baik untuk anak angkatnya ini.

"Sensei. Bukankah kau memiliki jaringan mata mata di luar sana? Apakah itu tidak bisa di gunakan untuk mencari Naruto?" Tanya Minato. Dia bilang begini karena sedari pertama Naruto menghilang Jiraiya selalu diam tanpa bergerak membantu pencarian Naruto.

"Jangan bilang begitu, bodoh. Apa kau pikir aku bisa santai sementara itu muridku di luar sana sedang mengalami masa masa sulit. Aku sudah mencari ke penjuru negara Elemental namun nihil seakan ada sesuatu menghalangi dan melindungi Naruto dari pencarianku." Ucap Jiraiya ngeggas. Oh ayolah, dia merasa Minato menuntut kenapa dia diam saja selama ini. Dia diam namun pikirannya melayang layang. Dia adalah mata mata Konoha, tugasnya bukan untuk mencari bocah itu saja, masih ada puluhan bahaya mengintai Konoha dan dia harus mencari informasi untuk membuat Konoha siaga.

Jiraiya terdiam sejenak. Dia mengingat satu hal penting yang hampir saja dia lupa untuk mengatakannya. Melihat sang guru terdiam, membuat Yondaime Hokage itu mengkerut dalam kebingungan.

"Ada sesuatu ingin kau sampaikan, Sensei?" Tanya Minato. Sang Gama Sanin menatap Minato serius tidak seperti biasa. Yah Minato menyadari Jiraiya tidak mengumbar kemesumannya yang ada sedari Jiraiya menjadi kecebong. Kemesumannya abadi.

"Aku tidak yakin mau mengatakannya, Minato. Ini masih belum 50% benar." Ucap sang Sannin membuat Minato kembali bingung. Jika Jiraiya tidak yakin mungkin informasi ini masih samar samar tercium. "Ceritakan saja, Sensei. Mungkin aku bisa membantumu sedikit." Kata Minato.

"Mata mataku mengirim surat di perbatasan Angin dan perbatasan Negara api berdiri ribuan Shinobi desa yang baru baru ini di bentuk oleh Orochimaru dan Shinobi Sunagakure. Di lihat dari manapun ini terlihat seperti ingin melakukan serangan, apalagi di antara para Shinobi Suna ada Roshi Jinchuriki Yonbi ku pikir sebagai pemimpin mereka. Lebih jelasnya lagi, aku mencoba sendiri pergi ke perbatasan untuk mengkonfirmasi informasi ini, dan ternyata apa yang ku temukan memang apa adanya." Jelas Jiraiya. Yondaime mematung sebentar lalu memikirkan sesuatu yang sudah pasti.

"Sunagakure adalah aliansi Konohagakure. Hampir mustahil mereka melakukan invasi terhadap desa kita namun untuk Otogakure masih di ragukan lagi status mereka terhadap Konoha." Balas Minato.

"Sebenarnya menurut kabar. Setelah Yondaime Kazekage di kabarkan meninggal. Sabaku no Gaara naik sebagai Kazekage menggantikan ayahnya yang kita tahu sendiri kabar dan kematiannya masih sangat misterius. Ada satu kelompok Shinobi menerima Gaara sebagai Kazekage dan satu kelompok Shinobi penentang kenaikan Gaara." Benar, seperti apa yang telah terjadi di Kirigakure, pelisihan Shinobi satu desa berbeda pendapat memang kerap terjadi, hingga permusuhan satu desa pun timbul dan terjadi perang saudara. Namun aneh, Kelompok pemberontak Sunagakure justru tidak melakukan itu.

"Tidak, ini bukan karena kenaikan Gaara sebagai Kazekage, alasan ini menurutku hanya alibi mereka untuk menutupi tujuan yang sebenarnya." Ucap Minato menopang dagu. Ia tidak ingin berpikir terlalu gegabah dengan mengatakan ini menuju invasi Konoha. Ia harus berpikir jernih supaya tidak ada kesalahpahaman antara Konoha dan Suna, ia ingin menyembunyikan sesuatu berhubung dengan tujuan mereka para pemberontak Sunagakure yang tidak jelas.

"Alibi? Apa maksudmu Minato?" Tanya Jiraiya bingung. "Mungkin ada baiknya kita jangan bercerita kepada siapapun mengenai masalah ini, bukan? Jiraiya sensei? Apalagi satu kesalahan dalam mengucapkan sesuatu di meja bundar membuat ketiga tetua seakan menang." Minato tersenyum, ia ingat betul jika ia mengatakan sesuatu yang belum pasti di meja rapat, sudah dapat di pastikan tiga tetua ingin selalu menang sendiri akan memojokkannya.

"Begitu? Aku mengerti. Selebihnya, aku akan kembali mencari informasi mengenai mereka dan mencari keberadaan Naruto saat ini." Kata Jiraiya bersiap pergi, "Mohon bantuannya, Sensei. Segeralah cari kebenaran mengenai ini, Ujian Jounin akan di adakan 8 hari lagi, aku tidak ingin Ujian Jounin menjadi acara lautan darah, lalu jika bertemu Naruto. Tolong segera suruh dia pulang, aku akan menebus semuanya."

"Tenang saja. Aku juga akan mencari Tsunade untuk mengobati Menma." Balas Jiraiya tersenyum.

Menma memang sudah pulang sejak kemarin, ini adalah 4 hari setelah Menma terluka parah membuat nyawanya berada di ujung tanduk. Namun mengingat Ujian Jounin akan di adakan sebentar lagi, ia ingin Tsunade selalu Medis nin terhebat saat ini mengobati putranya sedang dalam keadaan terluka parah meskipun sudah sadar untuk segera pulih dan mengikuti Ujian Jounin dengan tubuh yang utuh.

XxxX

Di rumah sakit Konoha. Hampir semua Rokie 12 Konoha memenuhi salah satu ruangan VVIP yang merawat seorang berkedudukan tinggi. Anak Hokage. Meskipun keadaanya masih lemah dan terkadang rasa nyeri dari luka sayatan bisa kambuh, Menma beruntung ia sudah sadarkan diri bahkan beberapa jam setelah ia di nyatakan kritis.

"Jadi begitu? Lagi pula aku tidak menyalahkan Naruto dengan semua kejadian ini." Ucap penerus Clan Nara memiliki otak jenius di antara para Rokie bahkan remaja ini pernah mengatakan satu satunya remaja bertahan bahkan mengalahkan - nya bermain Shogi cuman Naruto. Ia sama sekali tidak peduli dengan keadaan Menma saat ini, bahkan ia terlalu malas untuk berjalan dari rumah untuk pergi ke rumah sakit Konoha yang mana letak nya sangat jauh dari rumah.

"Apa katamu, Shikamaru. Naruto baru saja melukai dan hampir membunuh rekan kita."

"Ino benar, Shikamaru."

Ucap Ino dan Choji tampak tidak menerima rekan tim 11 mereka lebih memilih Missing-nin Rank S jelas membahayakan Konoha. "Bodoh. Kalian tidak mengerti apapun tentangnya memiliki hak penuh untuk berhenti berbicara mengenainya."

"Shikamaru benar. Jika suatu hari nanti aku kembali bertemu dengan adiku, Naruto. Aku selalu tidak menganggap nya musuh Konoha, justru sebaliknya, akan ku seret dia pulang dengan segenap kekuatanku." Ujar Menma menengahi percakapan Tim 11 hampir memanas hanya karena Shikamaru membela sahabatnya.

"Menma kun." Hinata menatap Menma tersentuh. Ia bahkan tidak pernah untuk tidak kagum dengan sifat Menma yang menganggap keluarga adalah segalanya.

"Syukurlah kau menganggapnya begitu, Namikaze. Bahkan aku sempat berpikir untuk melawanmu jika suatu hari nanti kau berniat memburu kepala Naruto." Kata Shikamaru dingin. Ini bukan seperti Shikamaru biasanya yang bersikap malas menanggapi sesuatu jika menyangkut sahabat Uchihanya itu.

"Kau bisa tenang, Shikamaru. Seburuk buruknya perbuatan Naruto, aku akan selalu menganggap dia sebagai adik kandungku sendiri." Ucap Menma merasa Shikamaru begitu membencinya karena pria nanas itu menganggap kepergian Naruto adalah salah keluarga Namikaze tidak becus mencegah Naruto untuk pergi.

"Shikamaru. Mungkin ini akan menyinggung perasanmu, tapi sesuatu yang membahayakan Konoha adalah musuh. Aku akan tetap bertarung melawannya jika suatu saat nanti Naruto memutuskan untuk menyerang Konoha." Kata pria Hyuuga berdiri di pojok ruangan bersama rekan satu timnya.

"Begitupula denganku. Aku akan menghajar Naruto kun dengan segenap masa mudaku supaya dia sadar." Teriak Lee bersemangat melanjutkan ucapan Neji. "Yah akupun begitu," Lanjut gadis berambut yang di ikat cepol, Ten Ten termasuk rekan satu Tim Neji dan Lee.

"Yossshhh aku juga tidak mau kalah. Bukan begitu, Akamaru? Kita akan menghajar Naruto dengan kekuatan yang sudah kita latih selama ini hingga membuatnya babak belur dan sadar bahwa kita adalah tempat baginya pulang."

Gufh!? Gufh!?

Bahkan Kiba dan Akamaru begitu ambisius mengalahkan mantan sahabat mereka. "Bisalah kalian jangan melupakan ku di sini?." Remaja dengan aura menyedihkan berdiri di samping Kiba menyahut, ia menggunakan pakaian tertutup di banding rekan rekan nya dengan kacamata hitam membingkai wajah, Aburame Shino namanya.

"Kiba kun?! Shino kun?!" Ucap Hinata, ia pula juga memiliki keinginan terbesar untuk menyelamatkan Naruto dari lubang hitam yang hampir menelan seutuhnya. Apalagi jika bukan karena Naruto dan Menma, mungkin ia akan menjadi gadis kecil dengan kepercayaan diri kecil.

"Minna? Arigatou." Semua tersenyum kecuali Neji dan Shino tetap memasang wajah netral mendengar ucapan tulus Menma. Lagipula inilah keinginan mereka semua, 'Lihatlah Naruto, jika kau berpikir dengan mudah memutuskan ikatan antara kami, kau salah besar. Karena menurutku, ikatan di antara kami dengan mu takan pernah bisa putus oleh siapapun, ada yang lain mempu menyambung ikatan yang rusak.' Batin Menma tersenyum walaupun tubuhnya memerlukan waktu pemulihan 3 minggu lamanya.

"Ayo pergi Choji, Ino." Shikamaru selesai dengan acara menjenguk Menma langsung mengajak teman setimnya pulang. Ia melirik ke arah Menma sejenak, 'Satu satunya orang mampu membuat Naruto sadar adalah kau, Menma. Merepotkan, haruskah kami menyerahkan semua kepadamu? Tentu saja tidak.' Batin Shikamaru tersenyum kecil melirik Menma sedang bercanda dengan Kiba dan Lee lalu ada Hinata maupun Ten Ten tertawa karena ulah lucu Lee maupun Kiba.

And Cut