Malam telah menggantikan siang. Lampu-lampu jalan telah menyala terang menerangi jalan raya yang masih ramai di lewati. Mobil sport berwarna hitam melintas dengan kecepatan rata-rata membawa dua insan yang baru saja meninggalkan taman hiburan.

Fang tak terlalu ingat kejadian beberapa menit kebelakanga, yang ia ingat setelah Kaizo menciumnya, ia menarik tanganya meninggalkan kedai itu dan berjalan cepat keluar Lego Land. Dan sekarang di sinilah dirinya, duduk di kursi penumpang dalam mobil seorang artis internasional.

"Ah!" pekik pelan si bocah berkacamata. Dirinya tampak mengetuk beberapa kali layar ponsel pintarnya.

"Ada apa?" lelaki yang lebih tua di sebelahnya menyahut tanpa melepas kemudi.

"Batrai ponselku mati, dan aku lupa belum mengabari Boboiboy." Ekspreksi panik terlihat di wajahnya.

Kaizo meelepas satu tangannya dari kemudi untuk mengambil ponselnya yang ada di dashboard, "Mau pakai punyaku?" ponsel pintar dengan logo apel yang tergigit keluaran terbaru disodorkan padanya.

"Kau serius? Kau meminjamkanku nomor ponselmu?" Fang mengangkat satu alisnya, Fang tak lupa Kaizo itu siapa, Fang mungkin bisa kaya hanya dengan menyebarkan nomor ponsel artis disebelahnya ini.

Lelaki yang lebih tua mendecakan lidah, "Memangnya kenapa? niatku baik padahal." Senyum angkuh sedikit terlihat di bibirnya.

"Bukan begitu maksudku, sini aku pinjam sebentar." Fang merebut ponsel itu dan segera menyalakannya. Jarinya terhenti ketika ponsel itu meminta pass.

"Ulang tahunmu." Kaizo berucap tanpa menatapnya.

Beberapa detik Fang menyadari arti ucapannya, segera dia memasukna beberapa digit angka berdasarkan tanggal ulang tahunnya. Hanya butuh setengah detik ponsel itu menampilkan layar home dengan wallpaper galaxy.

"Kau bahkan memakai tanggal ulang tahunku untuk password ponselmu,kau seperti penguntit." Bocah itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergidik ngeri.

"Aku mungkin lebih dari itu." Seringai di sertai kekehan terdengar dari mulut sang artis idola membuat Fang memutar matanya malas dan memilih tidak membalasnya.

Jemari lentik itu jahil melihat notifikasi milik Kaizo, mulutnya terbuka ketika membaca 156 missed call dan 107 pesan, belum lagi notifikasi dari berbagai akun sosial yang tidak main-main angkanya. Fang tidak habis pikir hampir semua pemberitahuan itu berasal dari orang yang sama.

"Siapa Ejojo?" tanyanya penasaran karena nama itu bagaikan kode rusak yang memenuhi notifikasi ponsel Kaizo.

"Asisitenku, abaikan saja. Lebih baik kau urusi dulu kepentinganmu." Kaizo menjawab ringan.

Fang mendengus lalu bergerak cepat mengetik nomor yang dia hapal dan menempelkan layar datar itu ke telinganya. Panggilan tunggu tak bertahan lama karena cepat digantikan oleh suara lelaki yang amat Fang kenal.

"Halo, siapa ini?"

Fang terdiam sebentar merutuki Boboiboy karena saat ini dia tengah menerima telfon dari nomor seorang artis internasional. "Boboiboy, ini aku, Fang." Detik selanjutnya adalah teriakan Boboiboy dan umpatan memberi tahu bagaimana khawatirnya dia.

"Astaga, diam dulu Boboiboy, aku menelfon bukan untuk mendengar dirimu marah marah."

"Kenapa kau tidak mengebariku? Ini sudah malam, kau ada dimana? Kau bisa mencari jalan pulang?"

"Ponselku mati, aku sedang di perjalanan pulang, kau tenang saja karena aku bersama... er.. temanku."Fang sedikit melirik kearah Kaizo yang ternyata juga sedang melirik kearahnya dengan alis yang bertaut, ekspersi wajahnya seakan berkata ' teman?'

"Aku akan menghubungimu lagi, selamat malam." Fang mengakhiri sepihak panggilan itu lalu meletakan kembali di atas dashoard mobil.

"Temanmu sangat perhatian." Kaizo kembali membuka suara setelah beberapa saat lalu terdiam. Fang hanya membalasnya dengan senyuman canggung.

Pandangan Fang tiba tiba menyipit meyakinkan sesuatu. " Kaizo, ini bukan jalan ke rumahku."

"Memang, aku tidak berniat untuk meninggalkanmu di rumah besar sendirian. Kupikir rumahku cukup menampung satu orang tamu dan aku akan sangat senang jika kau berkunjung, ah... menginap lebih baik." Ucap Kaizo tanpa melirik namun dibarengi dengan seringainya.

Tanpa sadar sebelum sempat bocah itu menyuarakan protesnya, perjalanannya terhenti di depan sebuah rumah dengan aksen modern yang sangat mewah walaupun tidak sebesar rumahnya.

"Selamat datang di rumahku, little boy."

.

.

.

.

- Gibberish -

Romance/Drama/Crime

Rated : T

.

(4/?)

.

Kaizo x Fang

(with another pair)

.

ALL HUMAN!

.

This is a work of FanFiction belong to Aziichi, All character belong to Animonsta Studio

.

DON'T LIKE DON'T READ

SORRY FOR THE TYPOS

ALUR CAMPUR ADUK MAJU MUNDUR

I already warn you

.

.

.

.

.

Lelaki dengan rambut hijau pale membuka daun pintu tanpa izin dari sang pemilik rumah setelah ia memasukan beberapa digit password yang ia hapal di luar kepala. Kakinya menyelusuri ruang depan dengan tatapan yang menyelidik.

"KAIZOO!" Tanpa tahu sopan santun Ejojo berteriak mengelegar memanggil pemilik rumah.

Peduli setan dengan sopan santun walau ia tahu pemimpinnya adalah orang yang paling di segani di dark world. Pikirannya sudah terblender dengan kelakuan sialan artisnya semalam.

Jika kau tidak mengerti apa yang membuat Ejojo pusing setengah mampus, kau bisa melihat hastag nomor satu dalam twittermu. Apa lagi? Setelah kelakuan ceroboh sang artis solo membuat namanya makin melangit karena berita hot yang datang dari berbagai web magazine beserta para fans.

#KaizoIsDating

Ejojo ingin melemparkan geranat koleksinya kedalam rumah megah ini. Sudah sejak detik pertama kabar itu tersebar agensinya di hujani telfon dari berbagai media gosip negara, dalam maupun luar. Sialnya, sang tokoh utama tidak bisa di hubungi semenjak ia melarikan diri usai acara pembukaan mall baru kemarin.

" KELUAR KAU BEDEBAH! KAU HARUS TANGGUNG JAWAB ATAS APA YANG KAU LAKUKAN!" Gelegar Ejojo sekali lagi.

Badan tegapnya ia hempaskan pada sofa putih empuk dengan hiasan bulu beruang lembut. Kakinya bersilang menunggu sang kapten untuk turun dari ruangannya.

"Ku hitung sampai tiga, jika kau tak tampakkan batang hidungmu kemari, akan aku bakar rumah mewahmu ini, sialan!" Ejojo sudah gondok sampai keubun ubun.

"Satu... Dua...-

"Dimana sopan santunmu Ejojo. Aku masih atasanmu." Suara husky terdengar dari arah tangga. Ejojo menyilang tangan di dada menunggu orang itu turun sampai kehadapannya.

Lelaki itu turun seraya memakai kaosnya berantakan, wajahnya khas orang bangun tidur tapi berusaha untuk tetap terlihat cool, kakinya hanya terbalut dengan celana training putih. Rambut ungu gelapnya berantakan mencuat kesana kemari. Ini lah dia, artis yang sedang hangat di bicarakan. Kaizo.

"Ada perlu apa? Seingatku jadwalku hanya ada sore" Kaizo menjatuhkan dirinya duduk di sebrang Ejojo.

"Ada perlu apa? Huh? Bicara dengan tanganku, sialan."

"Jika kau datang kesini hanya untuk mengumpat lebih baik kau keluar sekarang. Kau membuang waktuku." Kaizo bangkit menuju counter untuk membuat kopi.

"Kau sadar apa yang kau lakukan? Sudahkah kau mengecek akun sosialmu? Kau menjadi artis yang hangat di bicarakan dari malam kemarin." Ejojo mengambil ponselnya dan membuka laman berita media gosip artis. Tanpa pikir dua kali ia melemparkan ponselnya pada Kaizo yang dengan sigap menangkapnya.

"Benarkah? Kau harus berikan selamat padaku kalau begitu." Perlahan ia membaca judul teratas berita terbaru. Ejojo tak habis pikir dengan reaksi artisnya. Kaizo tersenyum, tidak, menyeringai tanpa ada rasa panik sedikitpun.

"Apa kau sengaja?" Ejojo menatap artisnya dengan tatapan serius. "Bukannya kau bisa membahayakannya ?"

"Bukankah bagus? Dunia mengetahui bahwa Fang ada dalam pelukanku, perlindunganku tak akan ada yang bisa menyentuhnya." Ucap enteng Kaizo sambil menyeruput kopinya.

"Tapi ini bisa membahayakan dirimu, melalui bocah itu akan banyak celah yang terbuka untuk menjatuhkanmu." Ejojo bangkit dan berjalan mendekati counter berniat membuat kopi yang sama. Lelaki berambut ungu itu menatapnya.

Kaizo mendengus dan tersenyum lalu berkata " Kita lihat saja nanti." Dengan segala ke angkuhannya.

Ejojo menggelengkan kepalanya dan mememilih fokus untuk menuang bubuk kopi pada cangkirnya.

"Kaizo dimana gula..." Ucapan Ejojo terhenti ketika matanya menangkap sepasang kaki ramping nan putih menuruni tangga dengan ragu ragu. Mulutnya terbuka karena kaget dengan seseorang yang ada di hadapannya.

Seorang bocah berpakaian kemeja piyama kebesaran warna abu-abu dan celana yang pendek hampir tertutup dengan piyamanya melangkah pelan sambil mengusap matanya. Mata besarnya mengerjap beberapa kali guna memperjelas penglihatannya dan mencari seseorang seperti anak anjing mencari majikannya.

"Good morning Fang, tidurmu nyenyak,hm?" Kaizo lekas meninggalkan kopinya dan melangkah mendekati bocah lucu itu dan segera memeluknya. Dirinya gemas mengusak rambut ungu gelap yang lebih muda.

Entah karena mengantuk atau memang sadar bocah itu membalas lemah pelukan sang artis dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang artis.

"Ka.. Kaizo" Rengekan pelan keluar dari bibir tipis merah mudanya membuat Kaizo menahan nafas untuk mengendalikan dirinya.

Ejojo terdiam bagai idiot menyaksikan adegan di depan matanya, pandangannya meneliti dari bawah kaki hingga ujung kepala bocah di pelukan Kaizo. "Holly Shit!" Batinnya mengumpat.

Dan Ejojo hampir saja memasukan garam pada kopi hitamnya.

.

.

.

.

Kini Fang berada di dalam mobil mewah sang artis bersiap untuk turun karena sejak 2 menit yang lalu mobil ini telah terhenti di depan gerbang besar rumahnya. lelaki yang lebih muda dari tadi tidak mengeluarkan suara ketika dia sadar sepenuhnya atas kelakuannya tadi pagi.

"Kita sudah sampai." Ucap Kaizo menyadarkan Fang dari lamunannya.

"Ah, ya. Itu rumahku." Dengan kikuk bocah itu membuka pintu mobil dan turun, ia masih belum bisa menatap lelaki tampan di sebelahnya. "Te.. terimakasih, untuk kemarin dan hari ini."

Belum sempat Fang menutup pintu mobil sport itu, tangannya di tahan oleh lelaki di dalam. Bocah itu menundukan tubuhnya guna melihat kedalam. "Ada apa?—"

Bibir tipisnya merasakan sentuhan yang sama seperti malam kemarin. Matanya membulat menyadari apa yang terjadi. Kaizo mengecup pipinya lagi tanpa izinnya. Sadar ia dimana, Fang segara menarik tubuhnya menjauh.

"I..ini di tempat umum. Bagaimana jika ada fansmu?" wajahnya memanas bagai di sengat matahari. Gugup, ia membenarkan sweaternya yang sama sekali tidak berantakan.

Lelaki yang lebih tua hanya terkekeh melihat bocah kesayangannya bertingkah menggemaskan lalu mencubit gemas pipi gembilnya. "See you soon, baby. Masuklah duluan aku kan menunggumu sampai kau masuk kedalam rumah."

"Tidak! .. kau pergi saja duluan, aku tahu kau pasti sibuk. Aku, baik-baik saja." ucap Fang sambil menggerak-gerakan tanagannya.

"Fang, masuk lebih dulu." Tidak ada bentakan namun bagai sihir Fang di buat menurut hanya dengan kata-katanya.

Perlahan bocah itu membuka gerbang dan melangkahkan kaki perlahan tanpa membalik badan dari Kaizo. "Aku, masuk dulu. Terimakasih." Setelah itu kaki rampingnya berlari kecil memasuki rumah tanpa menoleh kebelakang.

Senyuman lebar terasa tak akan luntur dari bibir sang idola. Jika di tanya,mungkin ini adalah hari terbahagianya. Tak peduli akan ada peristiwa apa untuk membayar adanya pertemuan ini. Yang ia tau bahwa, sekarang dia bersama malaikat kecilnya.

..

Pintu megah tersebut di buka,Fang melangkah memasuki rumahnya yang terasa dingin. Ia menjatuhkan badannya pada sofa ruang tengah berwarna marun. Pikirannya memutar balik ingatan kemarin malam dan beberapa menit yang lalu. Tanpa bisa di cegah pipinya merona dan bibirnya tidak henti mengembangkan senyuman kecil malu-malu.

"Apa kemarin terjadi sesuatu yang menyenangkan?"

Suara itu membuat Fang terlonjak kaget. Dengan cepat ia menoleh kebelakang, matanya menangkap sosok lelaki oranye yang amat dia kenal.

"Boboiboy? Sejak kapan kau disini? Bagaimana kau-" Fang mendudukan dirinya di posisi yangbenar, mataya mengikuti gerakan sahabatnya yang mengambil tempat duduk di sebelahnya.

"Sejam sebelum kau sampai, dan aku masih mengingat password pintu rumahmu." Ucapnya singkat.

"Kenapa kau tidak menghubungiku?"

"Aku sudah, namun kau tak menjawab." Ia berucap tanpa menoleh pada lelaki berkacamata di sebelahnya.

Fang terdiam mengingat-ingat kemana rupa ponselnya setelah di charge di rumah Kaizo, ia merutuki kebodohannya karena tidak melihat notifikasi dan bodohnya lagi, ia memasang mode diam. "Maafkan aku, aku sungguh lupa."

Sebuah deheman menjadi jawaban. Fang menggigit bibir bawahnya merasa bersalah pada sahabat oranyenya. "Kau marah?"

"Semalam kau dimana?"

"Aku..aku ada di rumah teman. Seperti yang aku katakan sebelumnya" Fang mengalihkan pandangan dari sorot manik hazel di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan di sana?"

"Aku tidak mengingat banyak, aku rasa aku langsung tertidur begitu sampai rumahnya." Fang tidak sepenuhnya berbohong.

Helaan nafas berat keluar dari mulut Boboiboy. "Lupakan, aku disini untuk mempersiapkan barang-barangmu untuk sekolah. Semoga kau tidak lupa jika 2 hari lagi kau akan memulai kelas di sekolah barumu."

"Astaga, aku hampir lupa. Aku belum menyiapkan apa-apa."Fang berlari meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.

"Itulah gunanya aku disini. Di perjalanan kesini aku sudah membeli sebagian kebutuhanmu, aku juga membawakan buku miliku dulu, jadi kau bisa belajar dari sana sebelum mendapat buku baru dari pihak sekolah." Ujar Boboiboy panjang lebar seraya mengikuti lelaki rambut ungu di depannya.

Mata Fang membulat ketika melihat hampir semua kebutuhannya telah tersedia di atas kasur tidurnya. Fang berbalik dan tersenyum haru pada sahabatnya. "Boboiboy, terimakasih."

"Kau memang harus berterimakasih padaku." Ucapnya seraya dengusan bangga.

"Aku akan mengganti ini semua. Aku merasa tidak enak."

"Oh ayolah... aku seperti orang asing bagimu." Lelaki oranye itu gemas lalu mencubit pipi gembilnya.

"Tapi.." Fang mengerjapkan matanya lucu, memainkan jarinya sendiri.

"Traktir saja aku coklat panas di cafe kakekku."

"Baiklah.. akanku traktir sampai kau kembung." Fang tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya.

"Dasar.." Boboiboy gemas untuk mengusak helaian ungu tua lelaki di hadapannya. "Fang,ada yang aku ingin tanyakan."

"Katakan saja."

"Siapa yang mengantarmu tadi?"

Pertanyaan Boboiboy sedikit membuat Fang tertegun. Apa dia melihatnya? Fang mengalihkan fokusnya pada buku-buku yang di tumpuk. "Dia... teman lamaku."

"Ah begitu." Boboiboy mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, dan terdiam menatap Fang dengan tatapan yang terluka.

"Kau berbohong bahkan melihat semuanya Fang. Aku melihat apa yang Dia lakukan padamu."

..

Kini Kaizo tengah duduk dengan santai di sofa tepat di depan sang produser. Tidak usah di tanya Kaizo telah mengerti kenapa dia dipanggil kesini.

"Kaizo, kau mengerti keadaannya bukan?" lelaki tegas dengan rambut hitam itu bicara.

"Tentu." Jawab Kaizo singkat.

"Kita harus meluruskan kabar ini, secepatnya. Aku akan memanggil beberapa media nanti malam." Lelaki itu menyenderka di kursi tingginya, raut wajahnya tidak menampilkan amarah. "Aku memberimu kebebasan, Kaizo. Tapi lain kali usahakan hati-hati."

"Terimakasih, aku akan undur diri." Kaizo lekas berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut di susul oleh Ejojo.

Lelaki tinggi bermata merah muda itu berjalan memasuki lift beberapa staff sedikit meliriknya ketika melintas lalu berbisik. Ejojo tidak bisa berkomentar banyak, karena dirinya sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya di pikirkan oleh atasannya ini.

"Apa yang akan kau katakan nanti?" tanya Ejojo ketika mereka sudah memasuki lift.

"Tidak ada, aku akan diam mengikuti petunjuk produser." Tangannya dia masukan dalam saku berpose santai. Ejojo lagi-lagi di buat diam, ia sungguh tidak mengerti.

Seketika Kaizo teringat oleh lelaki kecilnya, ah dia sudah merindukannya. Dia mengambil ponselnya dan memencet kontak nama favoritenya. Cukup lama nada tunggu terdengar sampai suara lembut menyapanya.

"Halo, Fang di sini."

Bibirnya seketika menyunggiingkan senyum lebar. Kakinya melangkah keluar lift menuju basment tempat dimana mobilnya di parkir. Oke, Ejojo merasa sangat terabaikan disini.

"Kau tidak mengenalku, little boy?" Kaizo bisa membayangkan wajah terkejut lelaki kecilnya.

"Kaizo!? Dari mana kau tau nomorku?"

Kaizo terkekeh, "Apa yang aku tidak tahu tentangmu, sebaiknya kau menyimpan nomorku dan menempatkannya pada nomor satu panggilan cepat."

"Ah.. kau penuh misteri, baiklah akan ku lakukan, kau tidak sibuk?"

"Aku sudah menyelesaikan urusanku, nanti sore baru aku memiliki jadwal untuk datang ke suatu acara." Lelaki itu memasuki mobil yang telah Ejojo nyalakan.

"Menyanyi?"

"Tentu, apa lagi, aku seorang penyanyi kalau kau lupa."

Ada jeda sedikit dari sebrang sana, hingga Kaizo memutuskan untuk bicara lagi, "Sedang apa kau sekarang?"

Sungguh Ejojo ingin segera turun dari mobil dan menyetop taksi. Atasanya sekarang bagai remaja yang tengah terkena virus parah merah jambu. Ejojo bergidik geli.

"Aku... sedang bersama Boboiboy."

"Boboiboy?" untuk kali ini Ejojo sedikit melirik karena nama yang Kaizo ucapkan. Ia merasa familiar dengan nama itu.

"Um, ya. Aku sedang menemaninya meminum coklat panas di kafe milik kakeknya."

"Ah, begitu? apakah enak?"

"Ya! Kau harus mencobanya, aku yakin kau akan langsung menyukainya."Suaranya begitu beremangat.

"Benarkah? Kirimkan aku alamatnya, aku akan segera kesana."

"Apa?...uh...baiklah"

Sambungan itu terputus, Kaizo melirik Ejojo yang dari tadi mengerutkan dahinya. "Kenapa?"

"Tidak." Lelaki rambut hijau itu tetap fokus menyetir.

"Kita putar arah, menuju kafe ini." Kaizo meletakan ponselnya pada dashboard untuk menunjukan arah jalan. Ejojo mengehela nafas dengan berat hati menuruti permintaan artisnya.

.

.

Gedung itu berdiri tegak menuju langit tinggi. Dengan elegan tertulis pada bagian depan "Wang Corporation", perusahaan industri besar di Malaysia yang sempat mengalami penurunan dan pergantian pemilik kini masih tetap berjaya selama 7 tahun walau tidak sehebat dulu.

Tanpa di duga setelah kehilangan sang presiden direkturnya Wang Corp menyatakan bersedia menjadi perusahaan industri di bawah naungan Borara Corporation. Borara Corp memang telah menjadi perusahaan senior, namun masyarakat tetap tidak menduga dengan langkah mengejutkan ini.

Masyarakat tidak akan pernah tahu bagaimana cara Borara mengambil alih perusahaan Wang, dan Borara tak akan pernah membiarkan mereka tahu.

Perusahaan Wang kini di pegang oleh Presdir Zola, sepupu jauh dari mendiang Tuan seorang Preseden Direktur tidak mudah, apalagi dengan berbagai tekanan yang di luncurkan oleh Borara. Presdir Zola mengerti kebusukan Borara, ia berusaha mati-matian untuk tidak menyerahkan Wang Corp sepenuhnya karena ia tahu.

Hanya keturunan Wang asli yang bisa memutuskan untuk memberi seluruh perusahaan kepada perusahaan lain. Dan Presdir Zola selalu melindungi dari jauh harapan terakhirnya, putra tunggal Wang. Wang Fang.

Sungguh ia selalu berdoa demi keselamatan putra tunggal itu. Ia tidak bisa melindunginya terus menerus dari kekejian Borara. Pria merah itu pasti akan mengerahkan segala cara demi mendapatkan kekuasaan penuh Wang Corp. Dan Zola selalu berharap putra kecil itu menemukan pelindungnya.

Zola mendengar kabar bahwa sang putra tunggal telah kembali ketanah airnya, dan itu membuat ia khawatir. Borara bisa datang kapan saja dan memulai aksinya pada sang putra tunggal.

Sekertarisnya memberi tahu bahwa ia memiliki tamu penting yang menunggunya di ruang rapat siang ini. ia sudah bisa menebak siapa yang akan ia temui.

Dua daun pintu coklat itu terbuka, Zola melangkahkan kaki memasuki ruangan yang entah mengapa terasa mencekam.

"Selamat siang, Tuan Presiden Direktur Zola." Nada yang mengejek dan penuh kelicikan terdengar, Zola menaha nafas dan mempersiapkan dirinya.

"Selamat siang Tuan Borara, ada perlu apa anda kemari?" tanya Presdir Zola to the point.

"Woah santai, aku hanya berkunjung kawan." Tawa menyebalkan terdengar setelah kalimatnya usai.

"Saya butuh mengartikan dengan jelas maksud 'berkunjung' yang anda ucapkan." Presdir itu duduk dengan tenang di hadapan Borara.

"oh, kau sangat sarkas." Lelaki berambut merah itu bangkit berjalan mendekati kursi sang presdir. "Ku dengar putra tunggal Wang telah kembali ke Malaysia."

Zola merutuk dalam hati, "Ya, aku baru tahu pagi tadi." Pundaknya menegang karena di cengkram tangan besar Borara.

"Kalau begitu ajaklah dia jalan jalan di perusahaan miliknya, bukankah itu akan menyenangkan?" tampangnya terlihat senang yang di buat-buat.

"Aku hanya mengetahui kabar kepulangannya, aku bahkan tidak tahu dimana dia tinggal sekarang."Tentu dia berbohong, Zola selalu memantau Fang dari jauh demi keselamatannya.

"kurasa aku tau, hari ini aku berniat mengunjungi rumah kediaaman Wang." Borara mendekat, mengatakan sesuat di telinga sang Presdir. "Mungkin aku bisa berdiskusi dengannya."

Sang presdir berdiri dari duduknyadan menatap tajam Borara, "Jangan kau berani menyentuhnya, Borara!"

Borara tertawa, "Kau tidak berhak memerintahku, posisimu hanya sementara jika kau lupa."

"Aku tak akan biarkan kau melukainya!" Pria itu mengancam serius lelaki ankuh berambut merah di depannya, tangannya terkepal menahan amarah.

"Well, kita lihat saja." Lelaki merah itu berjalan keluar ruangan berniat meninggalkan Zola. "Selamat siang, Tuan Presdir, semoga harimu menyenangkan." Ucapnya sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.

Lelaki berbadan besar itu menjatuhkan dirinya di kursi, memijat pelipisnya. Terlalu banyak masalah yang ia pikirkan, namun untuk saat ini keselamatan si putra kecil adalah prioritasnya, berharap keberadaannya tidak dapat di endus oleh penciuman Borara.

"Fang aku harap kau akan baik-baik saja."

.

.

"Temanmu akan kesini?" Pertanyaan itu langsung saja terlontar ketika Fang mematikan sambungan telefonnya.

"Uh..iya, dia ingin mencoba coklat panas disini." Lelaki imut itu memasukan ponselnya kedalam saku celananya.

Boboiboy hanya mengagguk- angguk, sebetulnya ia sedang menebak nebak siapa yang akan ia jumpai nanti.

Televisi yang di pasang menempel pada dinding kafe menampilkan acara gosip yang terkenal. Tanpa alasan yang jelas Fang memerhatikan kabar pertama yang mereka tampilkan.

"Akhir-akhir ini kabar panas datang dari penyanyi solo yang baru saja kembali dari Asia Tournya, dengan seorang lelaki yang intim menjadikan ia buah bibir terpanas hari ini. menanggapi kejadian ini pihak manejer Kaizo akan mengundang pers malam ini."

Fang hampir menyemburkan coklatnya ketika melihat lampiran foto yang di tampilkan acara tersebut. "Ya tuhan, sejak kapan!?"

Boboiboy memperhatikan perubahan ekspresi Fang ketika melihat acara gosip tersebut. Lelaki oranye itu berdehem tidak suka,namun ia memberanikan diri untuk menyuarakan pertanyaannya.

"Fang, itu bukan kau'kan?"

Fang menoleh horor, dengan gelagapan ia menjawab, "Te..tentu saja bukan, yang memakai sweater baby blue seperti bukan aku saja, ahahahah aku yakin ini hanya kebetulan." Jarinya menggaruk pipinya canggung. Dia tidak menyangka akan mengalami situasi seperti ini, kenapa juga ia terus berbohong.

"Kau yakin?" Alis boboiboy terangkat sebelah meyakinkan.

"I..ya, iya.. kau tidak percaya padaku?" Fang menegakkan badannya dan memukul pelan pundak Boboiboy mencoba mencairkan suasana.

..

Sebuah tangan kekar memeluk pinggang lelaki berkacamata yang sedang asik menikmati coklat panasnya dari belakang. Fang dapat merasakan beban di pundaknya, segera ia menoleh pada pelaku yang memeluk pinggangnya.

"Astaga, kau mengejutkanku." Fang sedikit menjauhkan wajahnya karena demi apapun jaraknya teramat dekat dengan lelaki di sampingnya, bahkan hidung mereka bisa bersentuhan.

"Tidak usah terkejut begitu." lelaki itu melepaskan kacamata hitamnya, lalu tanpa ragu mengecup pipi lelaki dalam pelukannya.

"Kaizo!" Pekik Fang ketika merasakan pipinya di kecup. Lelaki di belakangnya membuat gestur untuk diam dengan meletakan jari telunjuknya di depan mulut.

Sadar dengan situasi, Fang merutuki mulutnya. Ini di tempat umum dan ramai, Kaizo datang tanpa di sadari saja sudah sangat beruntung mengingat statusnya, bahkan namanya baru saja di sebut-sebut di televisi. Fang menggumankan kata maaf padanya.

Ah jika kalian bertanya dimana Boboiboy, dia disana. Melihat semua adegan yang terasa lebih menyakitkan di depan matanya. Oh, apa kalian ingat apa yang baru saja Fang katakan pada Boboiboy? Ia tidak berhubungan dengan artis solo bernama Kaizo ini, dia bukanlah orang yang ada bersama Kaizo di dalam foto itu.

Namun apa yang terjadi sekarang, seorang artis papan atas bernama Kaizo baru saja mengecup pipinya, bahkan ia tidak kaget atau histeris sama sekali. Mana ada orang yang biasa-biasa saja di kecup oleh artis tampan sepertinya kalau bukan orang itu sudah mengenal dekat artis tersebut. Fang, kau pembohong yang buruk.

Boboiboy berdehem keras mengalihkan perhatian mereka, "Aku masih disini jika kalian tidak sadar." Ucapnya sarkas.

"Ah maafkan ketidak sopananku" Kaizo mengulurkan tangannya, "Aku Kaizo, dan kau pasti Boboiboy.. aku banyak mendengarmu dari Fang."

"Hm, ya. Aku terkejut aku bisa bertemu denganu disini, ternyata teman lama sahabatku adalah seorang artis." Dengan senyum di paksakan Boboiboy tersenyum dan membalas jabatan tangan sang artis.

"Dan ini Ejojo, asistenku."Kaizo melirik kebelakang tepat pada lelaki berambut hijau yang berdiri tak jauh darinya.

"Oh, dia kah yang saat itu menelfonmu ratusan kali?" Ucap gampang Fang dengan wajah polosnya, Kaizo tertawa seketika.

Ejojo tersenyum kaku, "Ejojo." Dan menunduk sedikit memberi salam.

Boboiboy memanggil Ochobot untuk memesankan coklat panas. Sungguh Boboiboy tidak menyukai situasi ini, perhatian Fang seluruhnya teralihkan pada lelaki rambut pantat ayam itu.

"Boboiboy, apa kau memiliki kerabat yang bekerja di interpol?" Tanya Ejojo tiba-tiba mengalihkan semua perhtian padanya dan lelaki oranye dinosaurus itu.

Boboiboy sedikit terkejut, "Bagaimana kau tahu? Ayahku seorang interpol, dan aku memang cukup mengenal teman teman ayahku."

Ejojo sedikit terdiam lalu mengangguk, "Ah begitu, pantas saja aku tidak asing dengan namamu, aku memiliki kenalan seorang interpol, namanya Adudu jika kau pernah mendengar."

"Ahh, Paman Adudu, aku dekat dengannya.. dia adalah mantan partner kerja ayahku." Boboiboy sedikit tertarik dengan pria rambut hijau yang di bawa oleh Kaizo.

"Benarkah? Wah dunia sungguh sempit." Ejojo tersenyum dengan arti yang tak bisa Boboiboy mengerti.

Melihat Boboiboy merasa nyaman dengan tamunya Fang sedikit merasa lega, karena ia tahu mood Boboiboy sangat turun ketika Kaizo datang. Seketika ia ingat dengan acara gosip beberapa menit lalu.

"Kaizo.. apakah tidak apa-apa kau keluar begini?" Suara Fang sedikit berbisik.

"Aku bebas mau keluar kemana saja baby, memangnya aku harus terkurung di kantor agensi?" jawabnya sambil menikmati coklat panasnya.

"Bukan, tapi kau tau... berita itu.. dan acaramu nanti malam ." Fang memainkan ujung bajunya, sungguh ia takut memberikan pengaruh buruk pada lelaki di sebelahnya.

Kaizo merangkul pinggang Fang lagi, "Jangan khawatir Fang, semua akan baik-baik saja, kalau mau kau boleh datang di acara pers nanti." Dan Fang hanya mengagguk mengiyakan.

Matahari terus bergerak membuat waktu menjadi semakin sore, dan Fang memutuskan untuk kembali kerumahnya sebelum malam, Fang juga memaksa Kaizo untuk pergi karena ia tahu banyak acara yang akan ia hadiri beberapa jam nanti.

"Kau yakin pulang kerumahmu? Kau akan sendirian disana.." ucap Kaizo tidak yakin. Ia tidak ingin terpisah dengan lelaki berkacamata ini, tapi pekerjaan memaksanya untuk berpisah.

"Tenang saja, aku punya Boboiboy yang akan melindungiku." Boboiboy mengangkat dagunya bangga merasa Fang lebih memilihnya dari pada si Artis.

"Baiklah-baiklah, hubungi aku segera jika ada apa-apa, oke?" Kaizo menunduk sedikit, mengangkat dagu Fang lalu mengacak-acak gemas rambutsilelakiyanglebih muda tanpa memperdulikan ekspresi dua orang di belakangnnya.

Wajah Fang memerah mendapatkan perlakuan seperti itu. "Bodoh, ini tempat umum, kau ingin membuat kabar baru di media lagi!?" tangan mungilnya memukul dada bidang sang artis.

Sang artis hanya tertawa lalu memakai kacamata hitamnya lagi lalu melangkah keluar kafe di ikuti oleh asistennya.

"Sialan." Guman Boboiboy mengepal tangannya erat, rahangnya terlihat mengeras berusaha meredam emosinya yang telah sampai ubun-ubun.

..

"-Interaksinya dengan seorang lelaki yang intim menjadikan ia buah bibir terpanas hari ini. menanggapi kejadian ini pihak manejer Kaizo akan mengundang pers malam ini."-

Tentu acara gosip di televisi akan tersebar di seluruh negeri selama saluran itu dapat di akses. Entah suatu keberuntungan atau kesialan, lelaki berambut merah pemilik Borara Corporation tidak sengaja menoonton acara tersebut dengan penuh senyum licik ketika ia berada di dalam mobil mewahnya.

"Well-well, aku tidak usah mencarimu, kau muncul dengan sendirinya di hadapanku. Dan apa yang ku temui, aku dapat memancing dua ikan sekaligus" Tangannya bersedikap angkuh di depan dada.

"Lama tidak bertemu, Leader of Murky Mask, Kaizo."

.

.

.

.

Matanya tertutup, karena sapuan bedak dari penatarias demi tuntutan di depan jumpa pers akan dimulai beberapa menit lagi. Mood Kaizo ada di urutan teratas karena telah bertemu dengan malaikat kecilnya.

Sebuah getaran berasal dari meja rias, dari ponsel sang artis. Menandakan ada pesan masuk. Segera Kaizo membuka pesan itu, berharap kabar dari sang lelaki kecil. Namun matanya sedikit melebar membaca isi pesan tersebut, rahangnya mengeras.

0xxxxxxxxx

From: unknow

.

"I found him"

"SIALAN!" teriakannya membuat sang penatarias terkejut, ponsel pintarnya telah rusak karena di lempar membentur dinding. Dan pikirannya di masuki oleh segala kekhawatiran pada satu orang.

"Fang.."

.

.

.

.

.

.

.

TBC/END?

Hello, aku seneng masih ada yang inget sama ff ini hahaha, maaf aku lama banget ngelanjutin ff ini, aku ga bakal bikin cerita ini gantung tanpa ending,aku juga ga niat bikin dengan chapter yg banyak tergantung dengan konflik ini selesai, apa masih ada yang mau baca, atau harus saya berhentikan saja di sini?

Tell me your opinion in review box, thankyou.

-Aziichi-