The Wolf & The Dove © Kathleen E. Woodiwiss
Passion Of The Wolf © BabyZifan
·
Chapter 1
I Choose
·
·
Zitao menepis kasar telapak tangan berbalut sarung kulit yang mengenyeruak rambutnya. "Kau terlalu percaya diri, Sir Yifan, jika kau fikir bisa menaklukkan ku dengan kelembutan, maka kau salah besar."
"Sedikit informasi, Sayang." Jeda sejenak, Yifan mendekatkan bibirnya kedepan telinga Zitao. "Aku tak pernah bersikap baik pada siapapun."
Zitao terdiam, menatap wajah Yifan yang berangsur menjauhinya. Matanya lurus kearah bola almond milik Sang Duke, mencoba mencari apa maksud dari perkataan pria tegap tersebut. Namun bukannya sebuah gestur bohong atau hanya gertakkan guna menakuti, mata almond itu memancarkan keseriusan dalam irisnya.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Zitao mulai mengambil sekop dan menggali tanah tepat disamping jasad sang Kakak dengan gugup dan canggung, membuat senyum Yifan melebar.
"Sebaiknya kau kembali kekastil, aku akan memanggil anak buah ku untuk menguburkan jasad para warga." Suara Yifan mengintrupsi, memberi penawaran pada Zitao.
"Maksudmu?"
"Turuti apa kata Chanyeol untuk kembali kedalam Manor. Kurasa dengan begitu, kau bahkan tak perlu susah-susah mengangkat sekop."
Mata Zitao dingin dengan kebencian saat menoleh ke Yifan, lalu menatap Chanyeol yang hanya berdiam sembari menyeringai. "Kau fikir aku pelacur Darkenwald? Yang lebih memilih untuk dinikmati oleh Kutu Busuk —seperti dia!— dari pada berkerja untuk mengubur Kakak ku sendiri?" Zitao menatap mata almond Yifan dengan tajam. "Orang Normandia—Kutu Busuk. Aku rasa keduanya tak ada beda."
Yifan berbicara dengan perlahan, seolah ingin menambah kesan mendramatisir pada setiap penggal kalimatnya. "Sampai aku menidurimu, Jeunesse, tahan penilaian mu pada Orang Normandia. Kau akan lebih memilih ditaklukan oleh Pencabut Nyawa dari pada Kutu Busuk."
Chanyeol yang mendengar kalimat —atau sindirian dari mulit Yifan mulai naik pitam, sedikit menggeram dengan telapak tangan yang sudah tergenggam keras. Dia tau betul siapa yang dimaksud 'Kutu Busuk' oleh Yifan. Bahkan Chanyeol yakin, jika saja Yifan bukanlah Duke dari kerajaannya sendiri, dia akan menjadi orang pertama yang memenggal kepala pria bermata almond itu hingga terpisah dari badannya.
Zitao menatap Yifan dengan terperangah, tidak mampu menjawab. Yifan seperti mengatakan sebuah fakta dan bukannya melontarkan ancaman. Zitao tau, tinggal menunggu waktu sampai ia berbagi ranjang dengan pria Normandia yang satu ini. Mata biru menatap tubuh Yifan dengan bahu yang lebar, juga tubuh berotot karena sering mengangkat pedang dan menghunuskan besi tipis itu pada jantung lawan. Kenyataan itu menempati otaknya, bertanya-tanya apakah ia akan remuk dibawah beban tubuh Yifan saat pria itu memutuskan untuk menidurinya.
Zitao teringat sejumlah pria yang lamaran pernikahannya ia tolak, sampai Ayahnya kehilangan kesabaran dan memilih Leo sebagai calon suaminya.
Leo de Leroy, atau biasa dikenal sebagai, Duke of Bibury.
Pria berpostur tegap dengan fisik menawan, datang langsung ke Darkenwald menunggang kuda jantan kesayangannya. Saat itu Zitao tidak tau jika seorang Duke dari kerajaan ternama seperti Bibury akan berkunjung ke kastil desa nya. Dengan teriakan dari Luhan sembari menggedor brutal kamarnya, Zitao langsung diseret—dalam arti kata manis sang Kakak untuk bertemu Leo yang sudah berkumpul dengan anggota kerajaan lain di ruang makan.
Dengan wajah polos Zitao bagai berkata 'aku tak mengerti apa-apa, sungguh!', langsung membuat Leo jatuh cinta pada putra kedua Lord dan Lady of Darkenwald tersebut.
Sejak saat itu pula, Ayah Zitao gencar sekali mempertemukan mereka secara sengaja. Seperti diadakannya makan malam antar kerajaan tetangga, juga berbagai acara kerajaan lainnya. Dan tepat 2 bulan setelahnya, Zitao resmi dilamar oleh Leo dengan kedatangan pria itu sembari membawa 24 pasang kuda, juga beberapa karung emas. Sebagai tanda pernyataan khas kerajaan.
Namun, sekarang Zitao sudah tidak bisa berharap untuk melanjutkan pernikahan dengan Leo kembali. Ingat? Dia bahkan bukan lagi seorang Debutant(pemula/perawan). Dia hanyalah pelayan rendahan yang akan digunakan dan kemudian dilempar ke pelataran untuk dicicipi oleh Prajurit bawahan. Zitao bergidik membayangkannya.
Iris mata Zitao bergerak saat merasakan Pria didepannya menjauh, berjalan kebelakang untuk berhadapan langsung dengan Chanyeol yang sudah berpakaian secara lengkap.
Namun, untuk pertama kalinya, Zitao menyadari bahwa Yifan berjalan dengan sedikit pincang. Apakah itu luka akibat peperangan dalam merebut wilayah kerajaan, atau memang cacat sejak lahir. Persetan dengan itu, Zitao justru berharap bahwa pincang tersebut membuat pria jahanam itu kesakitan. Bahkan jika bisa, dengan kejam Zitao akan senang hati untuk membuat lukanya lebih parah.
Saat menyadari mata abu-abu Chanyeol yang terfokus padanya, Zitao langsung berbalik untuk melanjutkan pekerjaan menyekopnya sembari mengutuk dua pria itu. Dengan marah juga perasaan kesal, Zitao menghujamkan pucuk sekop yang tajam dengan keras, berkhayal bahwa tanah yang sekarang sedang dicabiknya adalah jantung dari kedua pria Normandia didekatnya.
Perdebatan antara kedua pria satu kerajaan tersebut sampai pada telinga Zitao. Suara tegas milik sang Duke yang memulai, bertanya dengan frekuensi pelan namun mengintimidasi. "Apa kau tak membacakannya dengan benar, Chanyeol?"
"Aku bahkan telah membacakan setiap kalimat dari surat yang kau tulis itu tepat didepan Zhoumi didekat pintu utama kastil. Mana aku tau jika ternyata mendiang Lord itu telah merencanakan untuk menyerang pasukanku dengan warga-warganya. Kau kira apa yang harus kita lakukan, Yifan? Berdiri diam hingga kita semua terbantai habis? Apa kau bodoh?"
"Lord Zhoumi adalah pria yang cerdas. Dia tidak mungkin menolak surat permintaan perdamaian yang kukirim bersama pasukanmu, Chanyeol. Itu berarti kalian semua yang memulai." Tuntun Yifan, Duke ini tau jika ada yang tidak benar tentang penyimpangan rencana yang sekarang telah terjadi. Mengirim anak buahnya untuk membunuh Lord dari sebuah kerajaan bukanlah sifat dari Yifan. Dia lebih memilih untuk mengirim surat kerjasama ataupun ajakkan untuk sebuah perdamaian pada kerajaan lain untuk mulai sedikit demi sedikit menguasainya.
Chanyeol mendengus. "Kenapa kau tidak berfikir bahwa kata-kata mu lah yang salah dalam perkamen(Surat) itu? Aku tak mengerti dibagian mana yang salah, karena Inggris sama sekali bukan bahasaku. Itulah yang membuat diantara kita gagal dalam berkomunikasi, dan sekarang kau masih gencar menyalahkan Orang Berbahasa Perancis yang kau kirim ini?" Chanyeol menunjuk dadanya sembari menatap nyalang kearah Yifan, mengirim sinyal pembelaan untuk dirinya sendiri.
Yifan akui, dia memang lalai dalam masalah yang satu ini. Bahkan bisa dibilang ini adalah salahnya, seharusnya dia paham atas kendala bahasa yang dialami oleh kedua kerajaan yang berbeda ini. Darkenwald dengan bahasa Inggrisnya yang kental, pasti sama sekali tak cocok saat mendengar kalimat inggris dari mulut para Prajurit Normandia, yang notebane nya memiliki bahasa baku perancis lokal.
"Kematian keluarga kerajaan itu memang tak berarti apa-apa, tapi nyawa para petani yang sudah kau bunuh, itulah masalahnya. Apa gunanya aku mengambil alih sebuah kerajaan tanpa adanya budak yang akan menggarap lahan?" Yifan berkata sembari menyapu pandangannya keseluruh sudut pelataran kastil yang penuh dengan tubuh tak bernyawa.
Kata-kata itu mengiris hati Zitao dengan sangat dalam, hingga sekopnya meleset dan ia terjatuh menghantam tanah lumayan keras. Dengan mata yang berkaca, Zitao memeluk lututnya, menyembunyikan wajah apik khas bangsawan warisan sang sang Ayah. Bagi para manusia Normandia, satu nyawa memang tak berarti, tetapi bagi seorang pemuda yang bahkan belum genap 20 tahun sepertinya, kehilangan anggota keluarga adalah rasa sesak yang teramat besar.
Percakapan panas itu berhenti dan perhatian kedua pria Normandia beralih pada Zitao yang menyembunyikan wajahnya dengan bahu bergetar. Yifan berteriak pada salah satu Prajurit Darkenwald yang masih tersisa. Prajurit itu adalah Jinhwan, pria tegap dengan bahu lebar, yang langsung keluar terbirit menghadap Yifan.
"Kuburkan Prince-Mu," perintah Yifan, tetapi Jinhwan sama sekali tak mengerti akan perkataan Yifan yang keseluruhan menggunakan bahasa Prancis fasih.
"Jelaskan padanya menggunakan bahasamu, Jeunesse." Ucap Yifan meminta pada Zitao yang langsung membuat pemuda bermanik biru itu mendongak dan menyerahkan sekop pada Jinhwan.
Bersama-sama Jinhwan, Zitao menyelimuti tubuh Luhan dengan sebuah mantel biru dan menggotongnya kearah kuburan, lalu meletakkan pedang Luhan juga sang Ayah diatas dada Kakaknya yang sudah tak lagi bergerak.
Bersamaan dengan sekop tanah terakhir, Zitao mengalihkan pandangannya kelain arah, masih tak sanggup menatap tanah bergunduk yang terisi tubuh kaku orang kesayangannya.
Zitao menatap matanya kearah Yifan saat pria itu tengah mengambil tameng dari atas kudanya. Dengan tindakan itu, Zitao tau bahwa Yifan akan tinggal di Darkenwald dan bukannya kembali ke Normandia.
Darkenwald memang tempat yang sempurna untuk mengumpulkan Prajurit perang, kastil utama yang dibangun dengan batu membuat bangunan tua itu memiliki resiko sedikit untuk dihancurkan oleh musuh. Berbeda dengan kebanyakan bangunan megah di Normandia yang dominan berbahan baku kayu ulin.
Iya. Yifan akan tinggal disini, dan menurut perkataan Yifan sendiri, bahwa pria itu telah menetapkan Zitao sebagai pasangannya. Dengan ketakutan yang menjalar, Zitao sadar bahwa ia akan menjadi budak Lord barunya itu.
"Prince?" Jinhwan memanggil, menyadarkan Zitao untuk berbalik menatap Prajurit Ayahnya itu dengan sorot lelah. Sorot mata sang Prince yang dulunya riang itu kini lebih terlihat redup dipenglihatan Jinhwan. Dia memahami tempat sang Prince berdiri sekarang, harus menyaksikan orang-orang tersayangnya meninggal adalah hal buruk bagi pemuda seperti Zitao.
Dengan langkah gontai dan lemas, Zitao berjalan menghampiri Yifan yang sedang membenarkan pelana kudanya. "My Lord," Zitao akui bahwa ia sedikit tak rela memanggil pria pencabut nyawa itu dengan sebutan yang dulu biasa ia gunakan untuk memanggil Ayahnya. Tapi demi keselamatan seluruh jiwa korban peperangan, dia bahkan rela menjatuhkan harga dirinya hingga kedasar tanah.
"Demi aku —tidak, bukan aku, lebih tepatnya para jiwa warga juga keluargaku. Bisa kau datangkan pastur untuk mendoakan mereka? Bahkan juga mendoakan pastur kerajaan kami yang telah mati terhunus pedang bangsa Normandia."
Yifan terdiam. Menghentikan gerakannya untuk membenahi pelana, tangan pria itu beralih menyentuh lembut pipi sang Prince didepannya.
"Pastur Normandia akan datang beberapa hari kedepan. Aku telah mengutusnya untuk mempercepat waktu itu, tapi penobatan bayi di salah satu kerajaan bagian barat membuatnya terhandat."
Zitao tak tahan lagi, kedua lututnya benar-benar lumpuh sekarang, membuat tubuh berbalut selimut tebal itu jatuh dengan beban berat dipundaknya. Yifan melihat itu dengan mata yang sedikit tajam, namun tidak mengintimidasi, hanya sedikit tak suka melihat Zitao menjatuhkan dirinya sendiri.
"Berdiri lah, My Prince. Aku lebih senang melihatmu mencemooh bangsaku dari pada jatuh dengan beban berat dipundakmu."
··············
Para Prajurit Normandia datang memenuhi panggilan Yifan untuk bantu mengubur para korban Darkenwald. Ada sekitar 50 Prajurit dengan seorang pria Viking bertubuh tegap yang memimpin mereka. Zitao sadar diantara mereka, dia melihat Leo yang sudah tak lagi berpakaian ala bangsawan kerajaan. Pria itu sama seperti Prajurit lain, memakai baju dan celana linen yang dilapis baju Zirah. Rambut abu-abu yang biasa menjadi daya tariknya, kini telah hilang dari kepalanya. Dia berubah secara fisik luar, juga fisik dalam, karena Zitao bisa melihat tekanan dalam mata sayu pria itu.
Zitao baru saja akan berlari menghampiri Leo lalu memeluknya erat, namun kakinya berhenti mendadak saat suara Yifan mengintrupsi.
"Jeunesse, bisa kau kemari?"
Yifan telah melepas baju zirahnya dan hanya memakai baju kulit, pria itu sedang berdiri dengan Chanyeol, Sehun, dan seorang pria Viking yang tadi datang dengan para pasukan Normandia-termasuk Leo.
Tangan kekar Yifan, yang tak lagi terlindungi sarung tangan, terangkat ke punggung Zitao, membelai kulit berbalut selimut itu dengan erotis.
"Apakah aku boleh berharap bahwa kau sudah tak sabar ingin tidur denganku?" Ejek Yifan sambil menaikkan alisnya, diikuti telapak tangannya yang semakin bebas mengeksplor tubuh ramping Zitao.
Hanya si pria Viking yang terlihat menyeringai senang, sementara wajah Chanyeol menggelap dengan penuh amarah dan benci. Zitao pun tak jauh beda, wajahnya memerah sempurna, kebenciannya terhadap Yifan semakin menjadi. Rasa malunya sudah tak dapat terbendung lagi, membluber keluar seperti lahar panas yang baru saja menyembur. Dengan amarah yang terbakar, Zitao mengangkat tangannya dan menampar pipi Yifan yang kokoh.
Semua orang yang ada di aula terperangah sembari menahan nafas. Mereka yakin, Yifan pasti akan menghabiskan pemuda itu setelah ini dengan tinju mautnya. Mereka semua tahu tentang sikap dingin dan kasar sang Duke pada orang lain yang tak ia kenal.
Selama ini, tak pernah ada yang berani memukul Duke mereka. Jangankan memukul, menyentuhnya saja bisa membuat kepala mereka terpenggal. Semua orang selalu takut dan tunduk dibawah sorot mata tajam Yifan. Menurut dengan segala ketakutan yang ada.
Namun pemuda yang satu ini bahkan berani melakukan tindakan ekstrim pada sang Duke.
Sejenak, Yifan hanya menatap Zitao, hingga Zitao akhirnya sadar atas apa yang telah tangannya perbuat dan tiba-tiba merasa takut pada pria didepannya. Mata biru Zitao menatap lurus kearah lingkar Almond Yifan. Mengirim sinyal ketakutan dengan pandangan nanar dan menyesal, sedangkan hanya dibalas tatapan terperangah dari sang Lord Darkenwald yang baru.
Tanpa mengatakan apa-apa atau hanya sekedar menyentak dan mengancam, tangan Yifan mencengkram pergelangan Zitao dengan kuat, menarik tubuh yang jauh lebih pendek itu kedalam kukuhan kasarnya, seperti akan menghancurkan semua tulang yang ada pada tubuh Zitao.
Zitao akui, tubuh Chanyeol memang ramping dan tegap berotot. Namun berbeda dengan Yifan. Tubuh pria ini seperti patung dengan permukaan keras dan tenaga yang kuat. Bibir Zitao baru saja akan melancarkan cacian ditengah keterkagetannya, namun kembali terdiam saat Yifan justru meraup bibirnya. Menggigit bibir Zitao hingga rasa anyir darah merembes keluar.
Para Prajurit yang ada diaula kastil bersorak-sorai untuk memberi semangat, hanya Chanyeol yang terlihat tidak senang dengan pandangan didepannya. Kedua tangannya masing-masing mengepal keras disamping tubuh, menahan hasrat membuncah untuk memisahkan pangutan antara Zitao dan Yifan.
Si pria Viking berseru. "Ho! Akhirnya sang Lord of Darkenwald menemukan lawan yang sepadan dengannya!"
Tangan Yifan bergerak kebelakang kepala Zitao, memaksanya untuk memiringkan kepala agar pangutan mereka lebih pas. Yifan melumat bibir Zitao dengan ritme memburu dan mencari. Didadanya, Zitao bisa merasakan detak jantung Yifan yang bagai kuda pacu, tak jauh beda dengan miliknya sendiri.
Memang tak hanya kali ini ia berpangut bibir, tapi Zitao akui, milik Yifan bahkan lebih menantang juga menggairahkan dari pada bibir manapun.
Tekstur tebal bibir Yifan hampir sama dengan milik Leo. Sedangkan tempratur panasnya sama persis dengan milik Luhan. Hanya kedua pria itu yang sudah pernah menciumnya. Dan pria Normandia ini adalah campuran dari bibir milik Leo dan Luhan. Membuat dirinya panas hanya dengan sentuhan kecil didalam goa hangatnya.
Yifan melepas tautan mereka secara tiba-tiba. Lalu menatap kesekeliling aula dengan matanya yang tajam dan memburu.
"Pemuda ini adalah pasanganku mulai sekarang! Tak ada tangan kotor yang boleh menyentuhnya kecuali milikku sendiri! Jika ada satu saja pengaduan tentang pelecehan pada Prince-ku, maka pedang ku sendiri yang akan memotong tangan laknat itu!"
·············
Beberapa penduduk Darkenwald yang ditangkap sudah mulai dibebaskan oleh pasukan Normandia. Para wanita banyak yang berhambur kepelukan suami mereka, ada juga beberapa yang hanya bisa meraung saat melihat nama suami atau anak mereka yang terikir apik diatas sebuah nisan.
Dengan sedih, Zitao mengamati semua itu dari pintu aula. Mayat-mayat dikuburkan oleh Prajurit Normandia, yang berkerja dibawah perintah dua Ksatria terpercaya Yifan. Pandangannya memfokus kearah seorang wanita berpakaian lusuh serta wajah lembab karena air mata.
Dia adalah Yoona de Screyna, istri dari Pamannya yang ikut kedalam pertempuran melawan pasukan Normandia, dan harus meregang nyawa dengan perut tertancap sebuah pedang khas Prajurit Normandia. Pasangan itu baru saja mengikat sumpah beberapa minggu sebelum pertempuran, bahkan Zitao belum sempat mendengar kabar bahagia tentang anggota baru namun pamannya sudah lebih dulu dipanggil menghadap maha pencipta.
Kuburan pamannya di letakkan tepat sebaris dengan kuburan Kakak dan Ibunya. Ketiganya sama-sama memiliki lahan paling luas, dengan ditancapkan nisan batu berukir khas Darkenwald. Diatas gundukkan tanah milik Kakak dan Pamannya, terletak masing-masing pedang mereka. Sedangkan milik Ibunya, tertutup oleh kain berbulu putih dengan serangkai bunga mawar hitam. Itu adalah pelepasan terakhir khas kerajaan Darkenwald bagi para bangsawan yang telah tiada.
Dipelataran, banyak Prajurit Darkenwald dengan luka basah 'hadiah' dari pertarungan. Wajah mereka seperti meringis menahan pedih setiap kali angin bertiup, menerbangkan debu kasar yang langsung menempel pada kulit mereka dengan luka yang menganga. Zitao ingat, dulu mendiang Ibunya pernah mengajarinya cara menyembuhkan luka akibat perang, dan berharap dia sekarang berharap baki kayu herbal milik Ibunya itu masih berada dilaci lemari kamar sang Lady.
Dengan langkah cepat, Zitao menaiki tangga dan berjalan memasuki kamar Ibunya, berinisiatif mengambil baki obat-obatan milik sang Ibu guna membantu para Prajurit diluar.
Zitao mendorong pintu dan langsung berhenti dengan kaget. Didalam terlihat Yifan, yang sepertinya dalam keadaan telanjang, sedang duduk dikursi Ibunya tepat didepan perapian dengan pria Viking berlutut sembari membebat perban dipaha Yifan. Kedua pria itu juga terlihat kaget atas kedatangan Zitao. Yifan bahkan sempat berdiri sembari mengangkat pedangnya, sebuah reflek seorang petarung. Dan sekarang Zitao baru sadar jika Yifan tak sepenuhnya telanjang, pria itu mengenakan celana dalam yang hanya menutupi bagian privatnya.
Yifan duduk lagi dengan santai dan meletakan kembali pedangnya diatas nakas samping perapian, membiarkan Zitao masuk dengan sekali anggukkan.
"Aku minta maaf, Lord." Ujar Zitao dengan dingin. "Aku datang untuk mengambil baki herbal milik mendiang Ibuku."
Zitao berjalan kearah meja kecil samping ranjang, mengambil baki kecil berisi salep juga beberapa obat-obatan herbal dari dalam laci meja, lalu berbalik sembari membawa baki ditangannya. Dan saat mendekati mereka, Zitao baru sadar ada darah kering juga rembesan darah segar pada perban yang sedang digulung melingkari paha Yifan.
"Singkirkan tanganmu, Viking." Perintah Zitao. "Kau mau membuatnya kehilangan satu kaki dan menjadi seorang Lord yang pincang?"
Jongin de Regda, nama dari sang pria Viking, menaikkan sebelah alisnya saat menatap kepada Zitao, lalu berdiri dan bergerak menyingkir beberapa langkah kebelakang.
Setelah meletakkan bakinya, Zitao berlutut diantara kaki Yifan yang terbuka. Dengan perlahan, pemuda berambut tembaga itu melepas perban yang melilit paha Yifan, menampilkan luka sayatan memanjang dari lutut hingga hampir sampai keselangkangannya. Luka itu menganga dengan darah dan cairan kuning disekitarnya, membengkak dengan pinggir luka berwarna biru keunguan.
"Lukanya infeksi," ujar Zitao dengan suara lantang. "Kau bisa membuatnya semakin parah saat menutupnya tanpa membersihkannya seperti ini."
Zitao bangun dan berjalan kearah perapian, lalu mencelupkan kain bersih kedalam katel berisi air yang mendidih, dan mengeluarkannya dengan tongkat kayu kecil. Sambil tersenyum, Zitao menjatuhkan kain itu diatas luka Yifan, membuat sang Lord sedikit terperanjak karena perih yang langsung menyentak.
Yifan mengeraskan rahang dan berusaha tenang ditempat duduknya. Dia tidak akan membiarkan pemuda ini melihatnya kesakitan. Yifan menatap Zitao yang masih berdiri dengan tangan bersedekap, sesaat dia meragukan kemampuan pemuda ini dalam mengatasi sebuah luka.
"Kain panas ini akan mengempiskan bengkaknya dan mengeringkan luka." Zitao tertawa sinis. "Kau bahkan memperlakukan kudamu lebih baik daripada dirimu sendiri."
Berbalik, Zitao beranjak ke tempat ikat pinggang dan pedang Yifan terletak, lalu mengambil pisau kecil dari sarungnya. Saat melihat tindakan Zitao, Jongin menatapnya dengan seksama, dan menggeser kampaknya lebih dekat, tetapi Zitao hanya meletakkan pisau itu diatas bara api perapian. Setelah berdiri lagi, Zitao mendapati kedua pria itu menatapnya dengan ekspresi tak percaya.
"Kalian takut padaku? Dua pria bertubuh tegap takut pada seorang pemuda biasa yang bahkan tak sanggup mengangkat pedang?" Tanya Zitao.
"Aku bukan merasa takut." Jawab Yifan. "Hanya saja, kau sangat benci dengan orang Normandia. Kenapa kau mengobatiku?"
Zitao mendekat kearah kaki Yifan yang masih terbuka, membuka baki herbal Ibunya dan menghancurkan beberapa dedaunan lalu mencampurkannya dengan serbuk abu kayu pengobat, membuat tumbukan itu menjadi salep berwarna hijau. Setelah selesai, Zitao mendongak menatap Yifan yang menunduk melihatnya, ia menjawab.
"Ibuku dulu adalah seorang tabib kerajaan. Ia sering mengajarkanku untuk sekedar mengobati luka peperangan berupa sayatan. Jangan khawatir jika kau berfikir aku akan membunuhmu. Lagi pula, jika aku ingin pun, maka Chanyeol lah yang seharusnya menjadi orang pertama untuk kucelakai. Jika sudah selesai dengan Kutu Busuk itu, baru aku akan memikirkan rencana kedua untuk membunuhmu."
"Bagus." Yifan mengangguk, "Jika kau ingin melukaiku, pastikan kau membunuh Jongin terlebih dahulu. Dia sudah mengabdikan hidupnya padaku."
Zitao menolehkan kepalanya, menatap Jongin yang memasang wajah stoic dengan tangan menggenggam gagang kampak di pinggangnya. "Kau rela? Hidupmu untuknya? Kau membuang waktu percuma jika begitu, Sir Viking."
Yifan melongos sembari mencibir, "Dia yang merelakannya. Kau berniat mencelakaiku? Bahkan kau sendiri tak merelakanku untuk mengetahui namamu?"
"Zitao, My Lord. Zitao, putra mendiang Lord of Normandia."
"Yah, lakukan apa yang kau mau, Zitao." Jarden tersenyum, menatap Zitao yang sedang melepas kain penutup lukanya.
"Pedang Inggris?" Tanya Zitao.
"Oleh-oleh dari pertempuran di Senlac," ujar Yifan sembari mengangkat bahunya.
"Bidikan pria itu sangat buruk." Balas Zitao kasar, saat ia mengamati luka Yifan. "Harusnya luka ini memanjang beberapa senti lagi keatas. Hingga mengenai pusaka mu, mungkin?"
Yifan mendengus, "Cepat lakukan. Masih banyak hal yang harus kulakukan."
Zitao beranjak mendekati perapian, mengambil pisau dari perapian yang terlihat merah membara. Matanya menangkap Jongin yang sedikit bergerak mendekat dengan kampak yang sudah sempurna keluar dari wadahnya.
Yifan menyeringai sinis. "Jongin hanya berjaga-jaga agar kau tidak tergoda untuk meneruskan sabetan pedang tentara Senlac dan mencegahku untuk menggagahi mu." Yifan mengangkat bahu. "Kejantanan Jongin sudah sering diuji dalam perang sehingga dia memastikan kejantananku tetap terjaga."
Zitao meletakkan pisau yang pnas itu disekitar luka Yifan, membakar pinggiran luka menganga itu hingga membuat Yifan terlonjak kaku dan rahangnya mengeras sembari mengepalkan tangannya. Setelah selesai, Zitao mengoleskan salep hijau tadi disekitar luka yang telah bersih, lalu membebatnya dengan kain putih.
Zitao melanhkah mundur dan mengamati kerjanya. "Perban itu akan bertahan selama tiga hari. Dan setelahnya, aku akan mengganti salep itu dengan yang baru."
Zitao menyimpun semua peralatan pengobatan dan mengembalikannya kedalam baki, menutup kotak kayu itu dan membawanya ditangan. Namun, saat hendak beranjak meninggalkan kamar mendiang Lady, ia melihat luka lain dibelakang bahu Yifan yang menunjukkan tanda-tanda akan mengalami infeksi.
Zitao mengulurkan tangan untuk menyentuh luka itu dan Yifan meringis, berbalik menatap Zitao dengan pandangan horor yang membuat pemuda itu tertawa.
"Yang ini tidak perlu dibakar, MyLord. Hanya dibersihkan dan dioles salep untuk menyembuhkannya." Ujar Zitao dan mulai mengobati luka itu.
Suasana mulai hening saat Zitao sibuk dengan luka Yifan di tengkuknya. Hingga sebuah ketukkan menginterupsi, Jongin berjalan membukanya, membiarkan Leo masuk sembari membawa baju kulit juga tali kekang milik Yifan.
Zitao dan Leo sempat saling menatap, hingga akhirnya Zitao lah yang memutuskan tali penglihatan itu, membuat Leo sedikit sendu saat tak lagi merasakan debar cinta dimata tunangannya.
"Letakkan semua di dekat ranjang." Yifan membuka suara, tepat setelah Zitao selesai mengoleskan salep.
"Aku izin mengobati para Prajurit lain, MyLord."
"Tunggu!" Tangan besar itu menangkap pergelangan Zitao, menahan pemuda bersurai tembaga. "Leo, pergi keluar dan katakan pada Panglima untuk menyelesaikan pekerjaan malam ini juga. Dan kau Jongin, awasi mereka hingga selesai."
Kedua pria yang merasa diberi tugas mengangguk patuh, bungkuk memberi hormat pada Yifan sebelum keluar dan menutup pintu kembali.
Zitao mengamati tertarik saat Yifan berdiri dari kursinya dan dengan kaku menguji kakinya. Saat jadeb merasa yakin dengan kekuatan kakinya, ia memakai baju tipis dan berjalan untuk membuka tirai jendela. Kemudia, Yifan berbalik dan menoleh ke sekeliling kamar dengan cahaya yang lebih terang.
"Zitao, pindahkan seluruh barang Ibumu. Kosongkan kamar ini segera. Karena ini akan menjadi kamarku." Nada suara Yifan terdengar lebih tenang dari sebelumnya.
"Katakan padaku, MyLord," tanya Zitao dengan suara mencela. "Dimana aku harus meletakkan barang-barang mendiang Ibuku? Di kandang bersama dengan para budak lain?"
"Dimana kau tidur?" Tanya Yifan, tidak memendulikan tempramen Zitao.
"Dikamar ku sendiri, kecuali tempat itu juga akan direbut oleh para Prajuritmu."
"Kalau begitu, letakkan barang-barang Ibumu disana, Zitao." Yifan menatap langsung mata Zitao yang menyala marah dengan gestur akan segera mencela, namun kalah cepat oleh Yifan yang lebih dulu membuatnya terdiam telak.
"—Kau tidak akan membutuhkan kamar itu lagi. Kita berbagi bersama."
..BERSAMBUNG..
btw, pertamanya Yifan mau bertrimakasi buat yang udah mau baca/review/fav/follow, makasih bangettt, zifan pengen deh cium atu-atu..
Maaf juga kalo misalkan zifan lama banget lanjutnya, akhir-akhir ini banyak ulangan harian dan presentasi, jadi ya harus diundur dulu lanjutnya, maaf yaa *Bow90°
Dan chap ini kayaknya bakal ada banyak banget typo deh, soalnya zifan sama sekali nggak edit ulang, jiwa males nya kambuh sih, :3
Kemarin juga sempet sedikit kaget juga kegirangan pas kak BabyMingA review, ih senengnyaaaa di review sama Author favorite, apalagi juga di review sama kak Skylar Otsu, lengkappp! :D
segitu aja deh cuap-cuap nya, byeee! ZIFAN SAYANG BUANGET SAMA KALIAN,:*
..BIG THANKS TO..
BabyMingA, Skylar Otsu, Ammi Gummy, Nakemi Ido, Siput Choi, bukan princess syahrini, pipid, poo, guest, ririn, taona39, Akashi764, peach Prince, Firdha858, Mandwa, TaoTaoZiPanda, Ang Always, Laylaazika, Ajib4ff, Aiko Vallery, LVenge, Yonsy Fajar S, Kirei Thelittlethieves, Wu Lian Zi, Zillian Reginald, Aleazurabooyunjae, Babysehan, Celindazifan, DillahKTS90, Hztao, Wuami, Wuziperr, , resin giana Elf, , yamamura sayuri, zia huang, Queen Winkata, BasiChim, fleur Choi, Huang minseok, N.A9095, anis.
