First Love

Chap 4

By: 0312_luLuEXOticS

Cast: Luhan, Oh Sehun, and others

Pair: HunHan

Genre: Hurt/Comfort, Romance(?), YAOI

Rate: T+

A/N:

Maaf baru bisa update #bow

Ini cerita bisa dibilang remake(?) atau terinspirasi(?) dari satu komik yang pernah Liyya baca dengan judul yang sama, karya 'Isao Sakamoto'. Tapi ini versi nya Liyya. Versi YAOI. Dan tentu saja versi HunHan :D

.

.

HAPPY READING^^

.

.

~O.O~

Srett

Grebb

Sehun mendekap tubuh mungil Luhan erat. Nafasnya terengah-engah karena berlari. Saat melarikan diri dari Jihyun untuk menemui Luhan tadi, dia jelas tidak menyangka akan melihat Luhan yang siap melompat dari atap gedung. Entah berapa anak tangga yang dinaikinya dalam sekali langkah demi tiba di atap tepat waktu.

"Apa yang kau lakukan?! Jangan berbuat bodoh seperti ini!" bentaknya setelah nafasnya kembali normal.

Saat tidak mendapatkan jawaban apapun dari orang yang dimarahinya, Sehun melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Luhan agar menghadapnya. "Mengapa kau tidak menjawabnya!?" tanyanya lagi, dengan nada yang lebih lembut. Kedua tangannya berada di atas pundak Luhan.

"Mengapa kau ada di sini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Sehun, Luhan justru melayangkan pertanyaan untuknya. "Kau tidak takut pacarmu marah? Bisa gawat kan kalau dia tahu!?"

Sehun menghela nafasnya. "Apa boleh buat. Karena khawatir makanya aku datang kemari. Hari ini, akhirnya aku bisa meloloskan diri dari Jihyun," jawab Sehun.

Hening

"Jihyun bilang, kau tidak ingin bertemu denganku lagi. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan hari itu? Mengapa kau tidak mau bertemu denganku?" tanya Sehun kemudian.

"Wae?" Dan lagi-lagi Luhan menjawab pertanyaan Sehun dengan pertanyaan baru. "Mengapa aku harus menemuimu? Kita tidak ada hubungan apa-apa, kan? Teman pun bukan. Jadi, mengapa kita harus bertemu?" tanya Luhan. "Bukankah kau mempunyai tanggung jawab pada Jihyun? Seharusnya saat ini kau ada di sampingnya untuk membahagiakannya. Bukan di sini!"

Sehun menurunkan tangannya dari pundak Luhan. "Aku akan menganggap kalau kau tidak pernah mengatakan itu, Luhan!" ucapnya. "Dan lagi, dari daripada membahas masalah itu, bukankah ada hal yang lebih penting? Mengapa kau ingin melompat tadi? Pasti terjadi sesuatu, kan?"

"..."

Hhhhhh. Sehun kembali menghela nafasnya. Kepalanya sedikit tertunduk dengan mata yang menatap ke lantai. "Aku... Kita memang tidak punya hubungan apa-apa, Luhan. Tapi aku mengkhawatirkanmu," ucapnya.

Tes

Tes

Tes

Tanpa sadar, air mata itu telah mengalir dari kedua mata indah Luhan. Membuat Sehun seketika berubah panik saat melihatnya. "Y-yaa! Mengapa kau menangis?" Apa dia salah bicara? Pikirnya.

Luhan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menyembunyikan air mata yang mengalir deras di pipinya dari Sehun. Padahal dia sangat membenci dirinya sendiri. Padahal dia selalu berfikir tidak ada lagi yang perduli padanya. Tapi di depannya. Sehun dengan ringannya berkata kalau dia mengkhawatirkannya.

Hanya satu kata khawatir dari Sehun, dan tekad yang sebelumnya telah mantap itu menjadi goyah. Hanya satu kata khawatir, dia merasa kalau dirinya bisa berharap lagi. Hanya dengan satu kata khawatir, dan Luhan merasa bahwa dirinya masih pantas untuk berjalan di atas bumi ini.

"Maaf!" ucap Luhan di sela tangisnya. "Maaf, aku tidak bisa mengatakannya!" Aku tidak bisa menceritakannya padamu, Sehun-ah.

Sehun mengangguk paham dan mengulurkan tangannya untuk membelai puncak kepala Luhan pelan. "Arrasseo!" ujarnya. "Tapi berjanjilah satu hal. Jangan pernah berfikiran untuk melakukan hal seperti ini lagi. Apapun yang terjadi, berusahalah untuk menghadapinya. Pelan-pelan juga tidak apa-apa. Asal kau mau menghadapi masalah itu. Kalau kau membutuhkan bantuanku, aku pasti akan membantumu."

Luhan masih menangis di balik kedua tangan yang menutupi wajahnya itu. 'Benarkah aku bisa meminta bantuanmu? Bahkan setelah kau mengetahui apa masalah yang sedang aku hadapi, apakah bantuan itu masih bisa kau berikan padaku?'

.

.

.

"Kau benar-benar tidak apa-apa?" tanya Sehun.

Saat ini keduanya telah berada di depan pintu apatemen Luhan. Sehun bersikeras ingin mengantar Luhan ke apartemennya meskipun Luhan sudah berusaha untuk menolaknya.

Luhan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Maaf. Lagi-lagi aku merepotkanmu," ujarnya. "Tapi aku berjanji, aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti tadi lagi. Karena itu berbahagialah, Sehun-ah! Kau tidak perlu mengkhawatirkanku dan berbahagialah bersama dengannya, ne!?"

Sehun menunduk dan menghela nafasnya. "Baiklah! Aku akan melakukannya!" ucapnya kemudian berbalik pergi dari apartemen Luhan. Sekalipun tidak pernah menoleh pada Luhan lagi.

Luhan pun segera masuk ke dalam apartemennya saat bayangan Sehun benar-benar tak terlihat. Setelah mengunci pintu, dia berjalan lurus ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mengambil ponselnya.

Sehun bahkan berani menghadapi kenyataan dan terus berada di sisi Jihyun meskipun dia tidak menyukainya. Karena itu, dia juga harus berani, kan? Dia tidak boleh merepotkan Sehun lagi. Mereka memiliki masalah masing-masing.

Aku siswa SMA berusia 17 tahun yang sedang membutuhkan banyak uang. Dan aku bersedia melakukan apa saja bagi siapapun yang bisa memberiku uang! :*

SMS terkirim

Luhan harus bisa menyelesaikan masalahnya tanpa harus merepotkan orang lain. Dan yang bisa dilakukannya sekarang, yang harus dilakukannya saat ini adalah mengumpulkan banyak uang untuk menggugurkan kandungannya. Kemudian segera pergi dan menghilang dari kehidupan Sehun.

. . .

"Hmmm, jadi kau benar-benar bersedia melakukan apapun?"

Luhan tersenyum tipis dan mulai membuka satu-persatu kain yang menutupi tubuh mulusnya. "Eum, asalkan kau memberiku uang. Aku akan melakukan apapun," ujarnya.

"Ah~ benarkah?" tanya namja di depannya. "Kalau begitu, daripada cepat-cepat ke permainan inti, aku ingin kau memandangku dengan wajah menggoda dan melakukan sedikit show untukku. Bagaimana?" tantangnya.

"Boleh saja," jawab Luhan menerima tantangan itu. "Tapi kau harus memberiku tambahan 100 ribu lagi!"

Dan Luhan kembali menjadi Luhan yang dulu. Luhan yang suka menjual tubuh mulusnya pada pria-pria hidung belang di luar sana demi sejumlah uang. Hanya saja, alasannya kali ini berbeda.

Luhan memulai pertunjukan kecilnya dan menggoda namja yang mejadi pelanggannya itu. Meskipun ada rasa jijik yang menyeruak di seluruh tubuhnya saat harus melakukan hal ini lagi, tapi dia menahannya. Janin di dalam perutnya terus tumbuh dan semakin besar. Bahkan di saat seperti ini pun, Luhan bisa merasakannya. Dan dia tahu kalau dia tidak memiliki banyak waktu dan pilihan. Dia harus melakukannya.

"Waah! Yang tadi itu benar-benar luar biasa!" ucap namja itu penuh dengan kepuasan. "Lain lagi, kita ketemu lagi, yuk!" ajaknya.

"Kalau diberi uang, mengapa tidak?" jawab Luhan sembari merapikan seragam sekolahnya.

"Ternyata karena uang ya? Apa ada sesuatu yang ingin kau beli?" tanya namja itu.

Luhan menatap pelanggannya sesaat sebelum berjalan menuju pintu. "Aniyo! Bukan ingin membeli sesuatu. Tapi aku membutuhkan uang untuk 'membuang' sesuatu yang tidak ku butuhkan!" jawabnya kemudian menghilang di balik pintu.

. . .

Cklekk

Lay menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara seseorang membuka pintu ruang kesehatan. Seorang namja manis masuk ke ruangan itu dengan wajah datarnya. Sama sekali tidak berniat untuk menyapa sang pemilik ruangan dan langsung mendudukkan tubuhnya di atas kasur yang tersedia di ruangan tersebut.

Meletakkan pulpennya di atas meja, Lay menatap Luhan yang duduk di depannya dan sedang menatap dirinya tanpa rasa bersalah sama sekali.

"Kau hanya akan duduk diam di sana?" tanya Lay. Yang ditanya hanya mengedikkan bahunya acuh dan memberinya tatapan 'Memangnya aku harus melakukan apa?' padanya.

"Yaak! Xi Luhan! Kau sudah menghilang selama seminggu. Dan sekarang saat akhirnya kau kembali ke sekolah, bukannya berada di dalam, kelas kau malah di sini!" omel Lay pada salah satu anak didiknya tersebut.

Luhan memutar bola matanya malas dan menutup kupingnya saat menerima luapan amarah dari 'temannya' itu. "Anda itu terlalu berisik, Seonsaeng-nim. Bukankah seharusnya ruang kesehatan itu ruangan yang bebas dari kata 'berisik?'. Tapi Seonsaeng-nim malah berteriak seperti itu," ucapnya sembari merubah posisinya menjadi tidur di atas kasur. Membelakangi Lay.

Mendengus kesal mendengar jawaban asal Luhan, Lay akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti tadi. Memarahi Luhan sama saja dengan memarahi tembok besar China, pikirnya. Dan beberapa saat setelahnya, ruangan itu diselimuti dengan keheningan.

Luhan memejamkan matanya. Tidak tidak. Luhan bukannya ingin tidur makanya datang mengunjungi Lay. Dia ingin mengatakan sesuatu. Tepatnya, menanyakan sesuatu. Tapi ia terlalu takut akan reaksi Lay nantinya. Karena itulah Luhan memejamkan matanya. Menimang-nimang untuk membuka suara atau tidak.

Jika ia tidak bisa berteman dengan Sehun lagi, paling tidak dia masih memiliki Lay sebagai temannya, kan? Tapi jika Luhan nekat bertanya, apa yang akan terjadi? Bagaimana jika Lay merasa jijik dengannya? Bagaimana jika Lay menganggapnya aneh? Bagaimana jika Lay tidak mau lagi berbicara dengannya?

"Seonsaeng-nim!" panggil Luhan akhirnya.

"Hmmmm?" gumam Lay tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya.

"Apa Seonsaeng-nim tau kalau ada beberapa namja yang bisa hamil?" tanya Luhan.

Dan pertanyaan itu sukses membuat Lay kembali menghentikan aktivitasnya dan menatap punggung Luhan dengan kening berkerut. "Mengapa kau menanyakan itu?" tanya Lay bingung.

Luhan tidak menjawab. Masih tetap membelakanginya. Jika saja dia tidak mengenal Luhan, dia pasti akan berfikir kalau Luhan sedang tidur sekarang.

"Ehem!" Lay berdehem pelan, membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba saja terasa penuh. "Hmmmm, namja yang bisa hamil ya?" ucap Lay. "Aku pernah mendengarnya beberapa kali. Tapi aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Wae?" tanya Lay kemudian.

Sebuah helaan nafas terdengar sebagai jawaban dari pertanyaan Lay. "Lalu, bagaimana seorang namja melakukan aborsi? Apa sama seperti yeoja?" tanya Luhan lagi.

Lay semakin mengerutkan keningnya. Terlalu aneh menurutnya jika Luhan tiba-tiba tertarik pada hal-hal seperti itu. Mengapa Luhan begitu ingin tahu? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa jangan-jangan...

Lay menelan ludahnya dengan susah payah begitu kemungkinan itu terlintas di benaknya. Luhan. Tidak mungkin, kan? Dia bukannya tidak tahu bagaimana Luhan menjalani kehidupannya. Tapi tetap saja, 'beberapa namja' yang dimaksud Luhan tadi, tidak mungkin kalau Luhan juga termasuk salah satu di antara mereka, kan?

"Seonsaeng-nim?" panggil Luhan karena Lay tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Guru muda itu berdiri dari duduknya dan perlahan melangkahkan kaki nya untuk mendekat pada Luhan. Mendudukkan tubuhnya di atas kasur. Di belakang Luhan. "Luhan-ah! Mengapa kau menanyakan hal itu? Apa kau—"

"Anda belum menjawabnya, Seonsaeng-nim!" Luhan dengan cepat memotong kalimat Lay.

Menggeser duduknya agar lebih dekat dengan kepala Luhan, Lay mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap kepala Luhan dengan sayang. "Luhan-ah!" ujar Lay pelan. "Namja dan yeoja itu sangat berbeda. Yeoja, jika mereka ingin melakukan aborsi, ada jalan sendiri untuk mengeluarkan janin itu tanpa harus operasi. Sedangkan namja, karena mereka tidak mempunyai 'jalan' itu, maka cara satu-satunya adalah dengan mengangkat si janin melalui proses operasi," tutur Lay panjang lebar.

"Operasi ya?" ucap Luhan pelan setelah terdiam beberapa saat. "Lalu, berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk operasi itu, Seonsaeng-nim?" tanyanya lagi.

Lay tercekat. Mengapa pertanyaan justru Luhan semakin membuatnya curiga? "Aku tidak tahu, Luhan! Mungkin 10 juta. Mungkin lebih," jawab Lay.

"10 juta," gumam Luhan. Bagaimana dia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat? Saat ini, uang yang ada di tabungannya hanya sekitar 5 juta. Lalu, kapan dia bisa membuang 'barang' yang sedang tumbuh di dalam perutnya itu?

"Luhan-ah!" panggil Lay. "Sebenarnya apa yang terjadi, eoh? Kau ada masalah?" tanya Lay. "Kau tahu kan kalau aku akan membantu apapun masalah yang sedang kau hadapi? Aku tidak akan menghakimimu, Luhan. Yang harus kau lakukan hanya menceritakannya padaku!"

Luhan kembali memejamkan matanya. Benarkah dia bisa menceritakannya? 'Seonsaeng-nim! Aku, yang seorang namja ini, sedang mengandung. Bukan hanya itu! Ayah dari bayi yang sedang ku kandung ini, kemungkinan besar adalah ayah dari seseorang yang aku cintai!' Haruskah dia berkata seperti itu? Lalu apa? Apa yang akan berubah setelah dia menceritakannya?

"Gwaenchannya Seonsaeng-nim. Aku hanya iseng bertanya saja kok!" Luhan bangun dari posisi tidurnya dan duduk di depan Lay. Sebuah senyum terpaksa menghiasi wajah lelahnya.

Tidak ada. Itulah jawabannya. Tidak akan ada yang berubah. Pada kenyataannya, dia tetap seorang namja brengsek yang telah membuat Mama putus dengan kekasihnya. Dia tetap namja murahan yang sudah tidur dengan ayah dari teman yang diam-diam dicintainya. Tidak akan ada yang berubah.

"Luhan-ah! Aku—"

Biip biip biip

Ucapan Lay terpotong oleh suara pesan masuk dari ponsel Luhan. Namja mungil itu segera merogoh saku jas seragamnya dan membuka pesan masuk di ponselnya. Sepertinya ada perkerjaan lagi, pikirnya.

Aku karyawan berusia 35 tahun. Apa kita bisa bertemu sekarang? tenang saja, aku akan membayarmu dengan harga yang mahal. Bagaimana? Aku tunggu jawabanmu!

Luhan segera turun dari ranjang dan mengambil tas yang sempat diletakkannya di atas meja Lay tadi. Membalas pesan masuk itu dengan jawaban singkat 'OKE' kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia langsung tertegun beberapa saat saat melihat fotonya bersama Sehun hari itu yang terselip di antara buku-bukunya. Sebuah perasaan sedih tiba-tiba saja menyelimutinya.

Mereka, benar-benar sudah tidak bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti hari itu lagi, kan? Dengan dirinya yang seperti ini, Sehun tidak mungkin mau membuang waktunya percuma. Tapi meskipun begitu, Luhan sangat merindukan namja itu.

Menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menetralisirkan perasaannya dari rasa sedih dan rindu yang sempat menghampirinya, Luhan segera menutup tasnya dan beranjak pergi dari ruang kesehatan. Tidak mengucapkan kata pamit sama sekali pada Lay yang menatapnya khawatir.

Ini bukan waktunya untuk memikirkan perasaan mellownya. Ada hal yang lebih penting yang harus dilakukannya. Saat ini, dia harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk melakukan aborsi. Siapapun akan dilayaninya. Selain 'Ahjussie tua' itu, siapapun bukan masalah untuknya.

.

.

.

Begitu tiba di tempat yang disebutkan oleh calon 'pelanggan' nya tadi, Luhan tidak mendapati siapapun di sana. Luhan melirik arloji di tangannya dan mengerutkan keningnya. 'Lebih baik aku menunggunya sebentar,' batin Luhan saat melihat sebuah bangku panjang yang ada di dekatnya dan berjalan ke sana.

Puk

Luhan menoleh ke belakang saat merasakan seseorang menepuk pundaknya pelan. Namja manis itu langsung terhenyak kaget melihat siapa pelakunya dan sontak berdiri. Orang ini. Orang yang paling tidak ingin dilihatnya. Mengapa dia bisa di sini? Mengapa Tuhan selalu mempertemukan mereka? Apakah Tuhan sedang menghukumnya?

Nafas Luhan tercekat. Seolah seluruh udara itu telah hilang dari sisinya. "Ke-kenapa kau ada di sini?" tanyanya terbata.

"Karena aku yang menghubungimu, tentu saja!"

"T-tapi..." Luhan tidak mampu meneruskan kalimatnya. Bingung, takut, marah, semuanya menjadi satu di dalam pikirannya.

Tuan Oh tersenyum tak berdosa dan menjawab pertanyaan Luhan yang tidak sempat diselesaikan itu. "Maaf, tadi aku memberikan identitas palsu. Habisnya kau tidak mau menjawab pesan-pesan ataupun menerima panggilanku. Jadi hanya ini yang bisa aku pikirkan. Aku benar-benar menyukaimu, Luhan!" ucapnya.

Luhan segera berbalik dan berniat untuk pergi. Daripada di sini, berdebat tidak jelas dengan Ahjussie tua nan mesum dan menyia-nyiakan waktunya, lebih baik segera mencari 'pelanggan baru', pikirnya.

"Aku tahu kau sedang membutuhkan uang dalam jumlah besar, kan?" Luhan menghentikan langkahnya. Merasa mendapat kesempatan, Tuan Oh segera berjalan mendekati Luhan. "Aku bisa memberimu uang yang cukup untuk biaya aborsi itu, Luhan. Bahkan jika kau meminta lebih, aku pasti akan memberikannya saat ini juga!" ucapnya dengan sebuah amplop yang terlihat cukup tebal di tangannya.

Tuan Oh semakin mendekat pada Luhan. Satu tangannya terangkat untuk meremas pundak Luhan. Saat ini, bahkan wajah Tuan Oh sudah berada tepat di belakang kepala Luhan. "Karena itu, kau jadi milikku saja, Luhan!" ujarnya tepat di telinga Luhan.

Deru nafas menjijikkan yang berhembus di belakang telinganya membangunkan Luhan dari ketertegunan sesaatnya. Seketika itu Luhan sadar akan apa yang sedang dihadapinya. Emosi Luhan meningkat bersamaan dengan rasa jijiknya, dan Luhan langsung membalik badannya.

"Jangan sentuh aku!" sentak Luhan dengan sebuah cutter berukuran sedang di tangannya. setelah kejadian saat Tuan Oh hampir saja memperkosanya waktu itu, Luhan selalu membawa benda itu kemana-mana. Hanya untuk berjaga-jaga sebenarnya. "Jangan berani menyentuhku lagi atau aku akan membunuhmu!" ancamnya dengan suara tegas.

Mendengar ancaman serta cutter yang sedang dipegang Luhan, Tuan Oh malah tertawa mengejek. Sama sekali tidak takut akan aksi Luhan yang justru terlihat menggemaskan di mata mesumnya.

"Kau yakin ingin membunuhku dengan itu?" tanyanya meremehkan Luhan. "Ckckckck. Anak kecil sepertimu tidak seharusnya bermain dengan benda yang berbahaya seperti itu sayang. Lagi pula, aku kan hanya berniat membantumu."

Luhan menatap Tuan Oh tak percaya. Namun detik berikutnya, dia malah memberikan smirk terbaiknya pada pria tua itu. "Gaeurae? Kalau memang aku tidak bisa membunuhmu dengan ini, aku membunuh anakmu saja!"

Tangan yang sebelumnya teracung dengan mata cutter mengarah pada Tuan Oh kini beralih pada perut Luhan. "Lagi pula, yang ingin ku bunuh itu anak ini!" ucap Luhan lagi.

"Tu-tunggu dulu! Belum tentu juga kalau dia anakku kan? Lagi pula, jika kau melakukan itu, kau sendiri yang akan merasakan sakitnya!" Kali ini, Tuan Oh terlihat sedikit cemas dengan tindakan Luhan. Bisa-bisa dia dituduh sebagai pelakunya jika Luhan sampai benar-benar melakukan hal itu.

Namja manis itu tersenyum puas melihat reaksi Tuan Oh. "Aniyo. Kau salah. Aku tidak perduli anak siapa yang ada di dalam perutku! Aku hanya ingin membuangnya!" tukas Luhan.

"Kau—"

"Ayah?"

Luhan membelalakkan matanya saat mendengar suara itu. Dan saat Tuan Oh sedikit menggeser posisi bedirinya dan membalikkan badannya, jantung Luhan serasa berhenti beretak melihat siapa yang berdiri di belakang Tuan Oh.

Sehun. Juga Jihyun.

Keempat orang itu saling menatap dengan ekspresi yang berbeda. Sehun terlihat kaget melihat ayahnya bersama Luhan. Jihyun hanya tersenyum licik sembari terus menatap Luhan. Tuan Oh terlihat sedikit panik. Dan Luhan? Jangan ditanya. Ekspresi yang ditunjukkan namja mungil itu adalah perpaduan antara kaget, takut, cemas, dan juga sedih.

"Eoh? Se-Sehun? Mengapa kau ada di sini?" Tuan Oh memecahkan keheningan dengan suara terbata.

"Apanya yang 'mengapa'? Ini kan jalan ke rumah. Tentu saja aku lewat sini." Sehun menatap ayahnya curiga sebelum beralih menatap Luhan dengan tatapan datarnya. "Daripada itu, Ayah juga, mengapa ada di sini dengannya?" tanyanya dingin dengan menatap lurus pada Luhan yang hanya bisa menatap tempatnya berpijak.

"Ah~ A-aku hanya kebetulan lewat dan melihat Luhan di sini. K-kami hanya kebetulan bertemu, kok. Benarkan Luhan?" ujar Tuan Oh.

"Ermmmm, aku—"

Srett

Sebuah amplop terjatuh dari tangan Tuan Oh. Membuat semua kata yang ingin diucapkannya tersangkut di tenggorokannya saat melihat lembar demi lembar Won yang tersembul dari amplop tersebut.

Sehun menatap benda itu tak percaya kemudian berjalan mendekati amplop itu dan memungutnya. Menatapnya sebentar sebelum kembali menatap Luhan yang terlihat sangat pucat. Keningnya berkerut. Tatapannya dingin.

Luhan bisa merasakan bulir-bulir air mata yang menganak sungai di pelupuk matanya saat melihat tatapan Sehun yang tertuju padanya. Dan begitu Sehun membuka suaranya, kristal itu seketika mengalir di kedua pipi pucatnya.

"Xi Luhan! Kau berniat untuk tidur dengan Ayahku?"

Suara Sehun terdengar tegas dan dingin. Kalimat itu juga lebih terdengar seperti sebuah pernyataan daripada pertanyaan. Dan Luhan bisa mendengar hatinya yang retak saat mendengar kalimat itu dari bibir Sehun.

Luhan menggigit bibir bawahnya dan segera berlari dari sana. Berlari hingga kakinya terasa letih. Tidak tidak! Dia tidak bisa berada di sana lebih lama lagi. Dia sudah ketahuan. Apalagi yeoja itu ada di sana. Dan Luhan yakin kalau Jihyun pasti akan menceritakan semuanya pada Sehun.

Semuanya sudah berakhir. Sehun sudah mengetahuinya. Dia pasti akan membencinya setelah ini. Bahkan tadi Sehun menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin. Bahkan Sehun secara tidak langsung menganggapnya rendah dengan pertanyaan itu. Semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi yang tersisa untuknya.

.

.

.

"Tuh kan, aku bilang juga apa! Luhan itu adalah seorang pelacur yang menjual dirinya lewat internet!" ujar Jihyun setelah Luhan pergi. "Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau pasangannya itu adalah ayahmu, Sehun-ah!"

Sehun mengepalkan tangannya dan menatap Jihyun marah. "Kalau kau tidak diam, maka aku yang akan menjual tubuhmu, Park Jihyun!" bentaknya kemudian kembali menatap ayahnya. Membuat Jihyun bungkam seketika dengan perasaan dongkol.

"Kau, benar-benar tidur dengannya?" tanya Sehun. Tidak ada kesan hormat ataupun sopan di dalam kalimatnya.

Tuan Oh menyeringai licik mendengar pertanyaan itu. "Ya! Aku sudah menikmatinya. Apa kau tahu? Rasanya sangat luar biasa!" jawab Tuan Oh kemudian tersenyum meremehkan. "Aku baru tahu kalau dia adalah anak dari kekasihku setelah itu. Makanya aku memutuskan Yura. Lagipula, meskipun Luhan adalah seorang namja, dia terlihat jauh lebih cantik daripada ibunya!"

BUGH

Sebuah pukulan keras menghantam pipi kiri Tuan Oh. Hadiah kecil dari Sehun atas apa yang baru saja diucapkannya. Sehun menatap ayahnya marah. Entah mengapa, hatinya terasa panas mendengar ayahnya berbicara seperti itu tentang Luhan.

"Kau memang brengsek!" ucap Sehun kasar.

Tuan Oh mendengus kesal dan mengusap rahangnya yang terasa nyeri. Memandang anaknya dengan pandangan meremehkan. "Aku tidak mau mendengar kata-kata seperti itu dari seorang anak yang tidak bisa apa-apa dan hanya bisa bergantung pada uangku! Lebih baik kau urusi saja pacarmu yang sangat mengganggu itu!" hardik Tuan Oh. "Atau jangan-jangan kau juga menyukai Luhan?"

Jihyun yang sedari tadi hanya berdiri diam di sana segera menghampiri Sehun dan memegang lengan namja itu. "Sehun-ah! Itu tidak benar, kan? Kau hanya merasa simpati padanya. Itu saja kan?" tanyanya menuntut. "Sehun-ah!"

Srett

Sehun menepis kasar tangan Jihyun yang memegang lengannya. Melangkahkan kaki panjangnya dengan cepat untuk pergi dari sana. Lebih baik dia mengejar Luhan dan meminta penjelasan dari namja mungil itu. Jika dia berlari dengan cepat, sepertinya dia bisa menyusul Luhan sebelum namja itu tiba di rumahnya. Meskipun Sehun sangat tidak yakin kalau Luhan berlari menuju rumahnya.

Ah~ Tempat itu!

Tiba-tiba Sehun teringat sesuatu. Taman yang pernah mereka kunjungi. Luhan berkata kalau dia sangat suka ke sana jika perasaannya sedang kacau. Mungkinkah Luhan berada di sana?

Mengikuti apa yang dikatakan oleh hatinya, Sehun mengubah haluannya dari rumah Luhan menuju taman. Berharap kalau Luhan ada di sana. Dan sebuah senyum tanpa sadar terulas di bibirnya begitu melihat surai coklat madu yang begitu familiar di dekat kolam.

Luhan duduk di depan kolam yang ada di taman dengan kedua lutut terlipat dan tangan yang memeluk lututnya. Wajahnya tertunduk lemas. Entah sudah berapa lama dia duduk di sana. Tubuhnya sempat menegang saat merasakan seseorang duduk di sampingnya. Takut-takut kalau itu adalah orang jahat. Namun saat orang itu membuka suaranya, Luhan merasa lega karena dia dapat mengenali suara itu. Meskipun di sisi lain, dia juga merasa sangat takut sekarang.

"Xi Luhan!" panggil Sehun. "Apa kau, benar-benar tidur dengan Ayahku?" tanya Sehun.

Luhan semakin menundukkan kepalanya. Terlalu takut untuk menatap Sehun dan melihat ekspresinya. "Eum!" gumam nya seraya mengangguk pelan. "Dengan bayaran 300ribu Won, aku menjual tubuhku pada Paman," jawab Luhan. "Dia adalah pasanganku ketika pertama kali bertemu denganmu di dalam lift waktu itu."

Tangan Sehun terkepal kuat menahan emosinya karena jawaban Luhan. "Dan kau bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di depanku? Di depan anak dari pria yang sudah kau tiduri?!" bentak Sehun.

Mendengar Sehun membentaknya seperti itu, Luhan menjadi semakin takut. "Mianhae!" ucapnya lirih.

"Kau keterlaluan, Luhan!"

Namun saat kemudian dia bisa merasakan pergerakan di sampingnya yang diiringi dengan suara langkah kaki yang semakin menjauh, rasa takut itu berubah menjadi kesedihan yang teramat dalam.

Luhan tau kalau ini akan terjadi. Sehun pasti akan meninggalkannya begitu dia tau kenyataan yang sebenarnya. Dan Luhan bahkan sudah mempersiapkan hati dan dirinya untuk hal ini. Tapi mengapa? Mengapa rasanya begitu sakit? Lebih sakit dari apa yang dia bayangkan. Mengapa dadanya terasa begitu sesak?

. . .

Kelas 2B SM High School terlihat ramai karena tidak ada guru yang masuk hari itu. Murid-murid berlari ke sana kemari untuk mengisi kekosongan. Ada yang bercanda dan bergosip dengan teman satu gengnya. Sebagian memilih untuk tidur di dalam kelas. Dan sebagian lainnya, mereka yang merasa sayang untuk membuang waktu percuma, memilih untuk membuka buku pelajaran mereka dan membacanya meskipun sama sekali tidak ada ketenangan di dalam kelas.

Dan dalam suasana hiruk pikuk kelasnya, Sehun sama sekali tidak tampak terganggu. Namja berkulit pucat itu duduk di bangku paling belakang, tenggelam dalam dunianya sendiri. Memikirkan sesuatu. Atau seseorang lebih tepatnya.

Sudah beberapa hari semenjak dia mengetahui apa yang terjadi antara Luhan dan ayahnya. Dan sejak hari itu juga, dia tidak pernah bertemu dengan namja yang memiliki mata indah itu lagi. Ada perasaan bersalah di dalam benaknya pada Luhan. Namun kekecewaan yang ditelannya jauh lebih besar.

Sehun benar-benar tidak bermaksud untuk meninggalkan Luhan begitu saja hari itu. Dia hanya terlalu terkejut dan tidak siap akan kebenaran yang secara tidak sengaja diketahuinya. Marah, kecewa, sedih. Semua bercampur menjadi satu. Dan Sehun merasa kalau dia membutuhkan waktu dan jarak dari Luhan untuk memikirkan semua yang terjadi.

Mendongakkan wajahnya, Sehun menatap ke luar jendela. Bagaimana keadaan Luhan? Apa yang sedang dilakukannya? Apa Luhan juga memikirkannya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia menangis? Mengapa namja manis itu menyembunyikan semua kebenaran ini darinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya tanpa ada jawaban. Sehun menjambak rambutnya frustasi dan berdiri dari duduknya. Daripada duduk diam dan hanya bisa bertanya-tanya di sini, bukankah lebih baik dia mencari jawabannya?

"Sehun-ah! Kau mau kemana? Setelah ini kita kan masih ada pelajaran," tanya Jihyun manja dengan suara yang terdengar menjijikkan di telinga Sehun.

Sehun tidak menjawabnya. Hanya menghempaskan tangan mungil yang melingkari pergelangan tangannya itu dengan kasar. Dan setelah memberikan tatapan jijiknya pada Jihyun untuk yang kesekian kalinya, Sehun bergegas keluar dari kelasnya.

Mungkin karena rindu. Atau mungkin karena dia memang benar-benar ingin tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di dalam pikirannya. Yang jelas, tanpa sadar, Sehun mempercepat langkahnya menuju Luhan. Ingin segera bertemu dengan namja manis itu.

Ketika dirinya tiba di tikungan dekat sekolahnya, langkah kaki Sehun terhenti. Di sana, beberapa meter di depannya, terlihat sosok yang sangat familiar di matanya. Bersama dengan seorang namja paruh baya yang sepertinya sedang mengajaknya ke suatu tempat. Sehun melangkah perlahan untuk mendengarkan pembicaraan mereka berdua tanpa harus ketahuan.

"Jadi, berapa tarifnya?" tanya namja paruh baya itu to the point. "300 ribu ya?" tawarnya.

Luhan berfikir sebentar kemudian menggelengkan kepalanya. "Kalau tidak 500 ribu, aku tidak mau," jawab Luhan. Dia sudah lelah melakukan pekerjaan ini. Hanya butuh sekitar 900 ribu lagi dan dia bisa mengumpulkan 10 juta itu. Dan Luhan sudah bertekad untuk mendapatkan uang itu hari ini juga, agar dia bisa menggugurkan janin itu besok. Setelah itu, dia bisa meninggalkan kota ini dan juga Sehun dengan uang tabungannya.

"Eh? Mahal sekali," ujar pria tua itu. "Tapi, karena kau sangat manis, boleh juga sih."

Luhan menganggukkan kepalanya. "Jadi, dimana?" tanya Luhan. "Di tempatku saja!" Dan Luhan kembali mengangguk.

Mendengar percakapan itu, Sehun langsung melangkahkan kakinya ke arah Luhan dan melingkarkan satu tangannya di pundak Luhan.

Grepp

"Maaf ahjussie! Tapi aku ada urusan dengannya!" ucap Sehun tegas. Dan tanpa menunggu jawaban dari pria tua itu, apalagi penolakan dari Luhan, Sehun segera menggenggam tangan Luhan dan menarik namja manis itu agar mengikutinya. Luhan yang belum sadar dari keterkejutannya akan kedatangan Sehun yang tiba-tiba itu pun hanya bisa berjalan mengikuti kemana Sehun membawanya.

.

.

.

Suasana di taman tampak sepi hari itu. Terang saja, rata-rata pengunjung taman adalah para remaja, dan sekarang adalah waktu bagi mereka untuk belajar di sekolah masing-masing. Luhan terdiam di samping Sehun. Pandangannya lurus menatap kolam kecil yang ada di depan mereka. Ikan-ikan di dalam sana terlihat begitu senang. Berenang kesana kemari sesuka hati. Dikagumi oleh para pengunjung yang datang karena keindahannya.

Ah~ Betapa Luhan iri dengan ikan-ikan kecil di kolam itu.

Beberapa waktu telah berlalu, namun Sehun sama sekali tidak mengeluarkan satu kata pun. Membuat Luhan semakin gugup di sampingnya. Mengapa Sehun diam saja setelah menariknya pergi? Apa Sehun akan memarahinya?

"Se-Sehun-ah!" panggil Luhan pelan. "A-apa—"

"Wae?" tanya Sehun memotong kalimat Luhan. "Mengapa kau tega menyembunyikan semua itu dariku dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di depanku, Luhan? Apa kau sedang mempermainkanku?"

Luhan menghela nafasnya dan menunduk dalam. "Aku," ucapnya pelan. "Aku hanya tidak ingin Sehun mengetahui masalah ini. Kau adalah orang pertama yang tidak memandang rendah diriku yang seperti ini. Aku sangat senang saat kau mau berteman denganku. Karena itu, aku tidak ingin kau mengetahui masalah ini. Karena kalau kau tahu, kau pasti akan membenciku. Tapi aku tidak ingin dibenci olehmu."

Tanpa sadar, bulir-bulir air mata itu telah membasahi wajah manis Luhan. Dan dengan segera, Luhan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Menyembunyikan air mata itu dari Sehun.

"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika kau sampai tahu masalah ini," ucapnya lagi. "Setiap hari hanya itu yang terus aku pikirkan. Dan itu membuatku sangat tersiksa."

Sehun tertegun. Tidak tahu harus berkata apa tentang masalah ini. Pikirannya masih kacau. Rasanya dia masih tidak ingin mempercayai apa yang terjadi.

"Lalu, apa yang kau lakukan tadi? Bukankah kau sudah berhenti melakukan hal-hal seperti 'itu'?" tanya Sehun kemudian.

Luhan menelan ludahnya berat saat Sehun menanyakan itu. Tidak ada alasan untuk menyembunyikannya lagi. Toh Sehun sudah tahu semua, kan? Jadi, mengapa harus merahasiakannya?

"Aku perlu uang untuk menggugurkan anak ayahmu!" ujar Luhan akhirnya.

"M-mwo? K-kau bilang apa barusan?" Sehun tercekat mendengar jawaban Luhan. Matanya terbuka lebar menatap Luhan tak percaya. Sedangkan Luhan yang masih menunduk tidak mengetahui ekspresi Sehun saat ini dan melanjutkan ucapannya.

"Kau sudah mendengarnya, kan? Aku sedang mengumpulkan uang untuk menggugurkan anak ayahmu yang ada di dalam perutku," jawab Luhan. Membuat maata Sehun semakin terbelalak sempurna.

"M-MWOOO?"

Teriakan itu sukses membuat Luhan akhirnya memberanikan dirinya menatap Sehun. Namja manis itu mengerutkan keningnya bingung akan reaksi Sehun yang menurutnya berlebihan. Mengapa harus sekaget itu? Bukannya dia sudah tahu semuanya?

DEG

Jantung Luhan terasa berhenti berdetak saat menyadari keanehan dari reaksi Sehun. Ekspresi bingung sebelumnya telah berganti menjadi sebuah kepanikan. Jangan-jangan, Sehun memang belum mengetahui masalah kehamilan Luhan. Bukankah itu berarti Luhan sedang menggali kuburannya sendiri saat ini?

"Lu-Luhan-ah! K-kau—"

"Hei! Kau yang bernama Luhan?"

Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, 4 orang namja datang menghampiri mereka. Salah satu dari mereka langsung tersenyum mesum saat melihat Luhan. "Whoaaaa! Ternyata kau benar-benar lebih manis dari seorang yeoja!" ujar namja itu. "Apa aku benar-benar boleh menidurinya, ya?" gumamnya pelan. Namun Sehun masih bisa mendengarnya.

Dengan sigap, Sehun langsung berdiri di depan Luhan dan menatap namja itu dengan tatapan mematikannya. "Lebih baik kalian pergi dari sini! Kami tidak ada urusan dengan kalian!" tegas Sehun.

Namja itu mendengus pelan mendengar ancaman Sehun dan memberi kode pada temannya yang langsung mengangguk paham dan menoleh ke belakang.

"Bos! Kami sudah menemukan orang yang sedang kita cari!" teriak namja itu pada seseorang yang sedang duduk santai di belakang kemudi dengan sebuah rokok di sela bibirnya.

Namja yang dipanggil 'Bos' itu kemudian melongokkan kepalanya keluar jendela dan menatap mereka. Terlihat sedikit terkejut saat melihat Luhan yang menatapnya tak kalah terkejut di belakang Sehun. Namun detik berikutnya, namja itu menyeringai jahat.

"Wah wah! Kebetulan sekali kita bertemu lagi, Luhannie!" ucapnya.

Tubuh Luhan bergetar takut. Namja itu. Bukankah dia namja yang hampir saja memperkosa dirinya beberapa waktu lalu? Mengapa dia ada di sini? Apa dia ingin balas dendam padanya?

Menyadari ketakutan Luhan, Sehun refleks menggenggam erat jemari namja manis itu untuk menenangkannya. "Pergilah sebelum aku menghajar kalian!" gertak Sehun.

"Tch! Kau! Bocah ingusan! Kami tidak ada urusan denganmu. Menyingkirlah!"

"Tunggu!" Jiwoon berteriak dari dalam mobil. "Bawa dia juga!" titahnya. "Aku pernah merepotkan mereka berdua di masa lalu. Karena itu, kali ini aku akan membalas kebaikan mereka."

BUGH

Sehun ambruk. Sepertinya, salah satu dari preman itu memukul tengkuknya cukup keras. Membuat namja tampan itu kehilangan kesadarannya seketika itu juga.

"Yaak! Lepaskan aku!" Luhan berusaha untuk melawan. Namun tenaganya benar-benar tidak berarti jika dibandingkan dengan dua orang yang tengah menariknya saat ini. Sehun sudah terlebih dahulu ditarik ke dalam van. Dan Luhan berhenti melawan. Tidak mungkin dia lari dan meninggalkan Sehun bersama mereka.

.

.

"Itu hukuman karena sudah membuatku menderita, Luhan! Sehun juga! Terimalah hukuman yang harus kalian jalani!" ucap seseorang yang berdiri di seberang jalan dan menyaksikan semuanya sedari tadi saat van yang membawa Sehun dan Luhan berjalan meninggalkan taman. "Lebih baik kalian menderita!"

.

.

.

Brakk

Tubuh Luhan dihempas dengan kasar oleh anak buah Jiwoon. Punggungnya terasa nyeri karena sempat bertabrakan dengan kursi kayu sebelum akhirnya terjatuh di atas lantai.

"Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" teriak Sehun marah saat melihat Luhan yang diperlakukan kasar seperti itu.

Bugh

Sehun merasakan anyir darah di sudut bibirnya saat kepalan tangan Jiwoon bertemu dengan pipi kirinya. Dia tidak bisa membalas sama sekali. Dua anak buah Jiwoon mencengkeram enrat kedua tangannya. Sama sekali tidak memberinya ruang untuk bergerak.

Bugh

"Ini balasan untuk hari itu!"

Bugh bugh

"Dan ini untuk hari ini!" tukas Jiwoon. "Waktu itu kau menggangguku saat aku mau menidurinya, kan? Aku sudah berencana untuk membunuhmu kalau kita bertemu lagi!" ujar Jiwoon geram lalu berjalan ke arah Luhan.

"Tidak ku sangka kalau kita akan reuni secepat ini, manis!" Jiwoon mengusap pipi Luhan. "Karena acara kita hari itu terganggu, hari ini aku akan memberimu servis terbaikku! Dan aku akan berbaik hati untuk membiarkan kekasihmu menyaksikannya!" ujarnya kemudian menoleh pada Sehun.

"Perhatikan baik-baik," Jiwoon memicingkan matanya, mencoba membaca tulisan yang tertera di name-tag seragam sekolah Sehun. "Oh Sehun!"

"YAAAK! APA YANG KAU LAKUKAAANN!" teriak Sehun marah. Masih berusaha melepaskan diri dari kedua pemuda yang mencekalnya. Jiwon hanya menatapnya dengan sebuah smirk jahat di wajahnya. Kemudian...

Sreettt

Kancing jas seragam Luhan berhamburan begitu saja saat Jiwoon membuka paksa kain itu. Luhan menatap horor pada Jiwoon yang tengah menatapnya lapar. "Andwae! Andwaeee! Lepaskan aku!" teriaknya putus asa di tengah usahanya untuk mendorong tubuh tegap Jiwoon yang tengah menindihnya.

Melihat usaha Luhan, dua anak buah Jiwoon yang sedari tadi hanya berdiri di samping Luhan sontak mencengkram bahu namja manis itu kuat. Membuat usaha Luhan sia-sia. Bahkan mereka mulai berani menggerayangi tubuh mulusnya.

"Kekekekeke!" Jiwon terkekeh melihat Luhan yang tidak bisa bergerak lagi. "Aigooo! Mengapa kau begitu panik sayang? Bukankah ini memang pekerjaanmu?" cibirnya.

Luhan bisa merasakan bulir-bulir air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Tidak! Dia tidak menginginkan ini. Berada dalam posisi seperti ini di depan Sehun sungguh membuatnya sangat malu. Jika Sehun melihat apa yang Jiwoon lakukan padanya lebih lama lagi, maka Sehun akan semakin membencinya dan merasa jijik padanya. Dan Luhan tidak ingin itu terjadi. Mati bahkan jauh lebih baik dari pada harus dibenci oleh Sehun.

Ya! Itu jawabannya. Mati! Dia harus mengakhiri semua ini sebelum Sehun semakin membencinya. Sebelum semuanya menjadi semakin runyam. Tapi, bagaimana caranya?

"Hmmm, karena kau sudah terbiasa, aku rasa aku tidak perlu mempersiapkanmu!" ujar Jiwoon sembari bermain-main dengan tali pinggang Luhan. Teriakan-teriakan marah Sehun yang menjadi backsound di belakang sana sama sekali tidak diperdulikannya.

Jiwoon menyamankan posisinya di antara kedua kaki Luhan dan mulai menggosok-gosokkan tangannya di daerah selangkangan Luhan. Melipat lutut Luhan dan melebarkan jarak di antara kedua kakinya.

Trakk

Tidak ada yang menyadari adanya sebuah benda kecil terjatuh dari saku celana Luhan. Benda yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi untuk jaga-jaga. Luhan segera menyadari apa benda yang terjatuh dari sakunya itu. Dan saat melihat Jiwoon yang masih asik bermain dengan tangan kotornya serta kedua anak buah Jiwoon yang masih sibuk menggerayangi tubuhnya, Luhan tahu kalau ini adalah kesempatannya. Satu-satunya kesempatan yang dia punya. Dan dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.

Tanpa pikir panjang lagi, Luhan mengambil benda itu diam-diam. Dan dengan sebuah tatapan 'maaf' yang ditujukannya pada Sehun untuk yang terakhir kalinya, Luhan melakukan apa yang -menurutnya- harus dilakukan sejak dulu.

Jlebb

Menghilang dari dunia ini.

Enam pasang mata yang ada di ruangan itu terbelalak kaget menyaksikan apa yang dilakukan Luhan. Jiwoon segera berdiri dan menatap horor pada bercak darah yang samar-samar terlihat menempel pada ujung hidungnya. Namja itu menghapus noda darah itu dan menoleh pada anak buahnya yang juga telah berdiri dan terpaku di tempat masing-masing. Bahkan Sehun terlihat sangat shock dan hanya mematung di sana.

"M-mwoyaaa! Apa bocah ini sudah gila!" teriak salah satu anak buah Jiwoon. "A-aku tidak melakukan apa-apa, Bos! Dia menusuk perutnya sendiri!" teriak namja lainnya panik.

Sehun terbangun dari keterkejutannya dan menyadari cengkeraman di kedua lengannya yang melemah. Tanpa menunggu lagi, dia langsung menghempaskan kedua tangan itu dengan mudah dan berlari ke arah Luhan.

"Aiisshh! Cepat kabur! Aku tidak mau kita mendapat masalah gara-gara pelacur gila ini!" titah Jiwoon pada ke-empat anak buahnya dan segera mengambil langkah seribu dari sana. Meninggalkan Sehun yang terlihat sangat panik melihat Luhan yang mulai kehilangan kesadarannya. Darah merembes kemana-mana. Sangat banyak. Dan itu membuat Sehun semakin takut.

"Yaaa! Bertahanlah!" ucapnya panik kemudian mengangkat kepala Luhan ke atas pahanya. "Mengapa kau melakukannya!?"

Luhan menelan ludahnya dengan susah payah dan tersenyum manis pada Sehun. "Kalau aku tidak melakukannya, mereka tidak akan pergi," ucapnya lemah. "Lagipula, Sehun pasti membenciku setelah mengetahui semuanya, kan? Aku... daripada hidup dengan kebencianmu, lebih baik... aku mati saja."

Mata Luhan terpejam. Sehun berusaha mengguncang-guncang tubuh Luhan agar namja itu tetap sadar. Namun nihil. Luhan sama sekali tidak membuka matanya. Bahkan nafasnya pun mulai melemah.

"Aiisshh! Kau memang bodoh! Yaakk! Luhan-ah! Xi Luhan!"

Luhan mulai kehilangan kesadarannya. Dan di tengah kesadaran yang semakin menipis itu, Luhan merasa sangat bahagia saat mendengar suara Sehun yang memanggil namanya. Suara yang terdengar sangat panik itu. Bukankah itu berarti kalau Sehun masih perduli padanya?

. . .

"Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" tanya Yura panik saat Dokter Jung keluar dari ruang operasi.

Dokter Jung menganggukkan kepalanya dan meminta Yura untuk mengikutinya ke ruangannya. "Syukurlah dia segera dibawa ke Rumah Sakit. Kalau tidak, mungkin Luhan tidak akan tertolong," ucap Dokter Jung setelah mereka duduk di ruangannya.

"Luhan akan segera dipindah ke ruang perawatan. Meskipun Luhan kehilangan banyak darah, untung saja lukanya tidak terlalu dalam, sehingga nyawanya bisa diselamatkan. Proses penyembuhannya juga tidak akan lama. Tapi, sayang sekali..."

.

.

.

Damai. Nyaman. Menyenangkan.

Itulah yang dirasakan Luhan saat ini. Namun, seberapa damainya pun, seberapa nyamannya pun, seberapa menyenangkan pun, entah mengapa, Luhan merasa ada yang kurang di sana. Seolah itu bukanlah tempat dia seharusnya berada.

Luhan membuka matanya perlahan. Mengerjap beberapa kali agar terbiasa dengan bias-bias cahaya yang menyapa retina matanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

Rumah Sakit.

Itulah yang langsung terlintas di benak Luhan ketika melihat ruangan serba putih serta infus di tangannya itu. Dan itu berarti dia masih hidup. Dia masih berada di dunia yang jauh dari kata damai, nyaman dan menyenangkan. Namun begitu, entah mengapa, dia justru merasa lengkap di sini.

Cklekk

Yura membuka pintu kamar Luhan pelan. Yeoja paruh baya itu terlihat sedikit terkejut saat melihat Luhan yang juga menatapnya. Ini adalah hari pertama Luhan membuka matanya setelah 3 hari terbaring di sana. Dan saat pihak Rumah Sakit meneleponnya tadi, Yura bergegas kemari.

Luhan menatap Mamanya tak berkedip. Mama masih menatapnya dengan tatapan sama seperti sebelumnya. Hanya saja, kali ini ada sedikit raut kekhawatiran di sana. Kelegaan, dan sedikit amarah, mungkin?

"Kata Dokter, anakmu tidak bisa diselamatkan, Luhan!" ucap Yura datar. Luhan sendiri hanya terdiam. Tidak tahu harus memberikan respon yang bagaimana. Sedih kah? Senang kah?

"Choi Seonsaeng-nim bilang, sejak beberapa hari yang lalu kau ada ujian. Dia juga bilang kalau kau sering membolos akhir-akhir ini!"

Luhan tahu, Mama bukannya bermaksud untuk memberitahu berita tak penting itu padanya. Tapi Mama sedang meminta penjelasan akan kelakuannya. Namja manis itu lalu menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamarnya.

"Mama tahu? Sebenarnya aku paling benci belajar," ucapnya membuka suara. "Tapi aku tetap melakukannya untuk Mama. Agar aku bisa mendapatkan nilai bagus dan bisa melihat senyum Mama. Itu saja, sudah cukup membuatku senang. Karena itulah aku terus belajar mati-matian." Luhan meoleh ke arah lain dan mengengkat tangannya ke atas kepalanya. Menutupi kening dan matanya.

"Tapi, entah sejak kapan, aku tidak pernah melihat senyuman Mama lagi. Dan itu membuatku sangat sedih." Luhan menggigit bibir bawahnya. Menahan isakan yang siap keluar dari bibirnya. "Mama!" ucapnya pelan. "Mengapa kita jadi seperti ini?"

Tatapan Yura terlihat melembut. Namun egonya menolak untuk menunjukkannya pada Luhan. perlahan, Yura membalikkan tubuhnya dan bersiap pergi dari ruangan itu. "Kau... tidak perlu belajar lagi, Luhan. Mama tidak akan memaksamu melakukan apa yang tidak kau sukai," ucapnya. "Tapi jawab satu hal! Anak itu, siapa sebenarnya ayah dari anak itu?"

Luhan tersentak dan langsung menatap Yura saat mendengar pertanyaan itu. Apa yang harus dikatakannya? Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya? Haruskah dia berbohong dan menyebut nama dengan asal? Haruskah—

"Aku!" Luhan bahkan belum selesai dengan pikirannya sendiri saat Sehun tiba-tiba muncul di hadapan Yura dan mengakui kepemilikan bayi yang -sebelumnya- ada di dalam perutnya.

"Dia adalah anakku, Bibi!" ujar Sehun lagi menegaskan. "Maafkan aku. Gara-gara aku, Luhan jadi seperti ini!" Sehun membungkukkan badannya sopan sebagai tanda permohonan maaf pada Yura. "Aku hanya bisa meminta maaf pada Bibi untuk semuanya. Tapi aku berjanji kalau aku akan bertanggung jawab," ujarnya lagi. Masih dalam keadaan membungkuk.

Yura tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu dan langsung meninggalkan ruangan. "Sehun-ah!" ucap Luhan kaget setelah Yura pergi. Dia bahkan tidak menyadari kalau saat ini dirinya sudah dalam posisi duduk.

"Hai!" sapa Sehun tersenyum. "Bagaimana lukanya? Apa masih sakit?" tanyanya kemudian.

Luhan mengerjapkan matanya bingung. "M-mengapa kau berbohong pada Mama?"

Sehun mengedikkan bahunya. "Lebih baik begitu, kan? Ayah juga, sepertinya tidak mengatakan apa-apa pada Bibi!" ujarnya kemudian berjalan medekati Luhan. "Aku... akan berhenti sekolah."

"MWO?" tanya Luhan kaget.

"Orang-orang yang waktu itu. Mereka adalah suruhan Jihyun. Dan dia tidak berani menemuiku lagi sekarang. Lagipula, aku tidak ingin merepotkan ayahku lagi," ujarnya.

Luhan tertegun mendengar penuturan Sehun. Mengapa firasatnya jadi tidak enak?

"Baiklah! Aku hanya datang untuk mengatakan itu, Luhan! Kau, jaga dirimu baik-baik, ya. Jangan pernah melakukan hal-hal bodoh lagi!" Sehun mengacak rambut Luhan sebentar dan segera membalikkan badannya untuk pergi.

Andwae! Jika Sehun keluar dari kamar ini, mengapa Luhan merasa seolah dia tidak akan bertemu dengannya lagi setelah itu? Apa benar ini akan menjadi pertemuan mereka yang terakhir?

"T-tunggu, Sehun-ah!" cegah Luhan. membuat Sehun berhenti dan menoleh padanya. "Apa kita masih bisa bertemu lagi? Bagaimana kalau kita pergi ke tempat karaoke? Aku ingin mendengar suara jelekmu lagi! Aku—" Luhan menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa sangat kering hingga dia tidak bisa meneruskan kalimatnya. Matanya memanas.

Sehun kembali berbalik dan berdiri tepat di hadapan Luhan. Membungkukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Luhan. Kedua tangannya terangkat untuk meremas pelan pundak Luhan.

"Kau tahu, Luhan? Mengejek orang adalah perbuatan yang tidak sopan!" Dan dengan itu, sebuah ciuman mendarat di bibir merah Luhan dengan kedua tangan Sehun yang menangkup pipinya.

Luhan menggenggam erat kemeja Sehun saat merasakan bibir tipis Sehun yang menempel lembut di bibirnya. Hanya menempel. Tidak ada pagutan. Tidak ada lumatan. Tidak ada lidah. Dan tidak basah. Hanya menempelkan bibir, tetapi seolah mewakili semua perasaan yang tengah mereka rasakan saat ini. Rasa sayang. Rasa rindu. Dan mungkin, rasa cinta.

Air mata membanjiri wajah Luhan. Entah mengapa, ciuman itu terasa sangat manis sekaligus menyakitkan baginya. Dan saat Sehun melepaskan ciumannya, menatap Luhan untuk terakhir kalinya sebelum mencium sayang puncak kepala Luhan, dia sadar, kalau Sehun benar-benar akan pergi meninggalkannya.

"Sampai jumpa lagi, Luhan!" ucap Sehun seraya tersenyum sangat tampan sebelum menutup pintu kamar Luhan.

Air mata Luhan terus mengalir mengiringi kepergian Sehun. Mengalir bersama semua hal yang ingin dikatakannya pada namja berwajah tampan itu. Luhan sendiri tidak tahu, entah sampai kapan air mata itu bisa terus mengalir sebelum akhirnya mengering dan berhenti.

"Sehun-ah! Aku mencintaimu!"

. . .

END

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Or TBC?

~O.O~

A/N:

Annyeoooong^^

Oke, Liyya tau waktu itu Liyya bilangnya kalo ff ini Cuma sampe' 4 chapter doank, tapi ternyata ada 1 chapter lagi -_- Karena itu, Liyya serahkan ke readers aja. Mau END di sini, boleh. Ato mau TBC n nambah 1 chap lagi juga boleh :D

Liyya ucapin BIG THANKS to eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow

Balasan Review:

YANG PUNYA AKUN,

nuranibyun | gyusatan | seo. joohyun5648 | zee konstantin | nisanoli | fuawaliyaah | asroyasrii | Riyoung17 | Joyers | VirXiaoLu | hunhanminute | Black LIly a. k. a Emiko | hongkihanna | Lulu Baby 1412 | younlaycious88 | LuXiaoLu | ohristi95 | SlytherSoul d'Malfoy | HnChan85 | ohsrh | xiaolu odult | jesslynsjx | daelogic | wereyeolves | Dark Liliy | CuteManlyDeer | HyunRa| Peter Lu | DiraLeeXiOh | luhansgirlorz | OyaF | Lee MingKyu | Dororong | Yo Yong | babyxing | Ami Yuzu | Odult Maniac | lispunicorn | asroyasrii |

Liyya bales di PM ya ^_^

Baekyeolidiots: Kan udah ada warn nya tadi, diawali dengan kemanisan(?) dan diakhiri dengan kepahitan(?) hohohoho :v Tuan Oh sama Jihyun udah minggat noh, gak bakalan muncul lagi :) muahahahahaha, lah jelas-jelas Luhan hamil 3 bulan gitu kok, malah berharap masuk angin, muehehehehehe XD

Makasih udah ngereview^

Guest: Aigoooo, senengnya kalau kamu suka :D

Makasih udah ngereview^^

Pisang: Emang inti ceritanya itu adalah penderitaan Luhan deeek #plakk #ditendangLuhan -_- Chap ini masih agak sedih deh kayaknya O_O

Makasih udah ngereview^^

Jung Chamii: Kalo gak jahat sama Luhan, bukan Jihyun namanya O_O Sehun berhasiiilll! Yeeeyyy #tebarsenyumLuhan :D

Makasih udah ngereview^^

Sari2: Emang cintanya HunHan itubutuh ujian yang super berat deeek :'( Ini udah lanjut, semoga suka :D

Makasih udah ngereview^^

vephoenix: Wkwkwkwkwkwk XD Beli yang banyak tissue nya deeeekkk :P Hepi ending kok, tenang aja :D

Makasih udah ngereview^^

Diaanastari: Ini udah update. Maaf lelet :'( #bow

Makasih udah ngereview^^

hunhanshipper: Menyebalkan itu kan keahliannya Jihyun -_- HunHan segera bersatu kok ;)

Makasih udah ngereview^^

Guest: Luhan gak mati koook ;) Pasti hepi end laaah :D

Makasih udah ngereview^^

Qian NanRen: Wkwkwkwkwkwk XD itu obsesi yang gak sehat, Ren -_- hohoho :D Luhan udah selamat kok, anaknya juga udh lenyap n Sehun juga gak marah :D

Makasih udah ngereview^^

ia: Hmmm, gpp lagi meskipun g punya akun :D Kenapa harus hamil? Karena inikonflik(?) nya hehehehe :D

Makasih udah ngereview^^

ryanryu: Itu anak, kemungkinan besar anak nya Tuan Oh. Tapi kan gak ada kepastian -_- lagian anak itu udah out dr ff juga :D

Makasih udah ngereview^^

Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi?

So, see U next chapter?

#Kiss N Hug readers satu-satu ^_^