Creepy Guy

Chapter 3: Psychopath

.

.

.

Story:

Taehyung menendang kursi didepannya membuat semua orang yang berada dikantin terkejut dan seketika suasana berubah hening mencekam.

"Taehyung-ah, duduklah dulu. Tenangkan pikiranmu."

Jimin, teman dekat Taehyung mencoba membujuk. Emosi Taehyung sekarang bisa saja membunuh siapapun karena Taehyung tidak pernah peduli dengan sekitarnya.

Dia tau, Taehyung pasti marah karena Jungkook. Memang siapa lagi yang bisa membuat Taehyung kalap selain Jungkook? Untuk saat ini tidak ada.

Taehyung mendudukkan dirinya. Nafasnya memburu karena emosi. Rasanya Taehyung ingin menghancurkan apapun yang ada didepan matanya.

"Dia kan sudah mau menikah denganmu. Sekarang apa lagi?"

Taehyung mendengus, "Dia memang mau menikah denganku. Tapi dia selalu menentangku. Apa sulitnya sih menuruti keinginanku?"

Jimin menggeleng pelan. Dia tau betul bagaimana sifat buruk Taehyung. Semua orang harus menuruti keinginannya. Taehyung itu egois.

"Kau tidak bisa memaksanya seperti itu, Tae."

"Tentu saja aku bisa. Dia milikku."

Jimin menghembuskan nafasnya pelan. Lebih baik dia mengalah daripada Taehyung semakin emosi dan mengobrak-abrik seisi kantin.

"Kenapa kau sangat ingin menikah dengannya?"

Taehyung menatap Jimin sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada ponsel ditangannya. "Aku hanya ingin." ucapnya acuh

"Hanya karena ingin? Lalu jika seandainya Irene kembali kau akan meninggalkan Jungkook."

Jimin memandang Taehyung yang terus menunduk. Jimin sudah berteman lama dengan Taehyung dan itu cukup membuatnya tau seluk-beluk lelaki didepannya ini.

Taehyung sempat memiliki hubungan dengan Irene. Dulu Taehyung menjadi lelaki yang manis dan romantis. Tapi saat Irene mengakhiri hubungan mereka dan memilih untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, membuat Taehyung berubah 180 derajat.

Hal itu juga yang membuat Taehyung merubah orientasi seksualnya. Karena wanita yang dicintai Taehyung hanya Irene.

"Mungkin." Taehyung menjawab pelan.

Jimin mendengus, "Kau hanya akan menyakiti Jungkook, Tae."

Taehyung mengangkat bahunya acuh, "Lagipula dia menikah denganku karena ibunya, bukan karena dia mencintaiku."

.

.

"Jadi karena ibumu kau menikah dengan Taehyung sunbae?" ucap Seokjin terkejut

Jungkook menaruh telunjuknya dibibir, "ssstt.. Kecilkan suaramu." bisiknya

Seokjin mengangguk pelan, "Lalu kalian tinggal bersama?" bisiknya

Jungkook mengangguk. Seokjin menutup mulutnya kuat-kuat, menahan suaranya yang ingin berteriak mengetahui fakta ini.

"Dia menyebalkan. Aku tidak menyukainya."

Jungkook menaruh kepalanya diatas meja dengan pipinya yang menjadi tumpuan. Matanya menatap Seokjin yang masih terlihat terkejut.

"Jangan berlebihan begitu, Jin." imbuhnya

"Lalu bagaimana dengan Jimin sunbae?"

Jungkook hanya menatap Seokjin dalam diam. Matanya terasa memanas dan pandangannya mulai kabur karena air mata yang menggenang.

Tangannya terlipat diatas meja dan kepalanya ditenggelamkan disana. Hatinya terasa teremas begitu saja mendengar pertanyaan temannya. Entahlah, Jungkook juga tidak mengerti bagaimana perasaannya.

Seokjin menepuk-nepuk punggung Jungkook pelan. Dia mengerti seberapa besar rasa kagum Jungkook terhadap Jimin sunbae dan kehadiran Kim Taehyung membuat semuanya menjadi rumit.

"Ini pasti benar-benar sulit untukmu, kook-ah."

Kepala Jungkook mengangguk kecil, masih dalam posisinya helaan nafas terdengar. "sangat.. sangat sulit."

"Berharaplah semoga Taehyung sunbae segera menemukan wanita idealnya jadi mereka bisa menikah bersama dan kau bisa berkencan dengan Jimin sunbae."

Jungkook terdiam. Enggan untuk menyahuti ucapan teman sebangkunya itu. Rasanya ada yang mengganjal dalam hatinya saat memikirkan Kim Taehyung yang menemukan pujaan hatinya lalu meninggalkan Jungkook begitu saja.

Matanya terpejam erat saat hatinya terasa diremas kuat. Entah karena otaknya yang memikirkan perpisahannya dengan namja Kim itu atau karena perasaannya pada Jimin yang tidak bisa terungkapkan.

"Kau dan Jimin sunbae akan pergi sepulang sekolah nanti, kan?"

Jungkook menolehkan kepalanya pada Seokjin dengan pipi menjadi tumpuan pada lengannya yang terlipat diatas meja. "Tidak jadi. Aku harus pergi ke cafe paman Shin. Kemarin aku terpaksa membolos gara-gara si Kim sialan itu."

Seokjin menghela nafas kasar, menunjukkan seberapa prihatinnya dia pada Jungkook. "Orang kaya itu benar-benar sesukanya saja ya."

Jungkook kini mengangguk kecil, menyetujui apa yang dikatakan oleh temannya. Tubuhnya kini duduk tegap dengan kepala yang menoleh kearah Seokjin. "Aku boleh minta bantuanmu?"

Kepala temannya mengangguk, "Tentu saja, aku akan membantuku."

Bibir Jungkook tersenyum tipis. Dia tau jika si Kim gila itu tidak akan membiarkannya untuk bekerja lagi. Namun Jungkook ingin tetap bekerja, hitung-hitung untuk tabungannya kelak saat Taehyung membuangnya. Tapi karena mereka akan pulang sekolah bersama lalu terkurung selama seharian di istana angker milik calon suaminya jadi pasti sulit untuknya kabur dan pergi bekerja.

.

.

Tubuhnya bersandar pada salah satu tiang beton penyangga bangunan sekolahnya. Matanya menatap satu-persatu adik kelasnya yang baru saja keluar kelas setelah bel pulang berdering. Nafasnya kembali berhembus kasar saat sosok yang ditunggunya tidak juga muncul.

"Astaga. Jika begini Taehyung bisa marah padaku." gumamnya resah.

Tadi Taehyung seenak pantatnya menyuruh Jimin untuk pergi menjemput Jungkook dikelasnya lalu membawa pemuda Jeon itu ke kantin dan Taehyung akan menunggu disana. Benar-benar perintah mutlak dari tuan muda.

Tubuhnya berdiri tegak saat melihat sosok yang mungkin bisa membantunya. Memang bukan orang yang dicari namun sepertinya dia bisa bertanya pada adik kelasnya ini.

Kakinya melangkah mendekat dan tersenyum saat pandangan mereka bertemu. Tubuhnya berdiri didepan adik kelasnya. Terlihat jelas menghalangi jalan agar adik kelasnya ini tidak kabur begitu saja.

"Ji-Jimin sunbae?."

"Jungkook dimana?"

Mata Jimin menatap pemuda yang lebih muda satu tingkat dibawahnya. Pemuda itu terlihat kesulitan meneguk ludahnya, sepertinya gugup.

"eum.. Jungkook pergi ke toilet tadi, tapi sampai sekarang belum kembali juga."

Matanya memicing memperhatikan setiap gerak-gerik lelaki didepannya. Waspada jika kemungkinan dia dibohongi.

"Kau bersungguh-sungguh?"

Kepala pemuda itu mengangguk lalu dengan tangan gemetar menyodorkan tas dan jaket kearahnya. Dia berasumsi itu milik Jungkook.

"Ini barang-barang Jungkook yang ditinggalkan dikelas. Aku harus segera pulang.." tubuh adik kelasnya membungkuk dalam kearahnya ".. sampai jumpa, sunbaenim."

Barusaja lelaki itu ingin melangkah, Jimin merentangkan tangannya menghalangi. Matanya memicing menatap nametag yang tertera di dada adik kelasnya.

"Kim Seokjin." ejanya

Matanya kini beralih menatap mata Seokjin, "Jangan coba-coba berbohong padaku, Seokjin-ssi."

Kepala Seokjin menggeleng cepat. Tangannya semakin meremat tali ranselnya berusaha menghilangkan rasa gugupnya. "Aku tidak berbohong, sunbae."

Jimin mengangguk pelan. Tangannya meremat bagian belakang tas adik kelasnya lalu menariknya. Memaksa Seokjin untuk mengikuti langkah kakinya dengan cara menyeret tas sekolah adik kelasnya itu.

.

.

Kepala Seokjin tertunduk dalam dengan sedikit memar disudut bibirnya. Kakinya bertimpuh dilantai toilet yang cukup basah dan kotor. Jantungnya berdebar cepat, takut membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.

Tubuhnya terkesiap dan nafasnya tertahan saat jari dingin Kim Taehyung mengamit kedua sisi pipinya dan menekannya kuat. Mata Kim Taehyung yang memerah menahan emosi menatapnya tajam.

Wajah Kim Taehyung mendekat dan berhenti saat wajah mereka berjarak beberapa sentimeter. Bahkan hembusan nafas dingin kakak kelasnya ini serasa mencekam saat mengenai wajahnya. Tubuh Seokjin menegang saat suara Kim Taehyung mulai menyapa pendengarannya.

"Dimana. Jeon. Jungkook."

Datar, dingin dan penuh aura dominasi. Mata Seokjin berair, ia tidak menyangka jika berurusan dengan Kim Taehyung akan semengerikan ini.

Tadi Jungkook meminta tolong padanya untuk berbohong. Jungkook membolos saat pelajaran terakhir dengan alasan ke toilet dan pergi dari sekolah untuk menuju ke cafe tempatnya bekerja. Jungkook meminta jika Taehyung mencarinya, Seokjin hanya perlu mengatakan Jungkook sedang berada ditoilet lalu berikan barang-barang Jungkook setelah itu tinggalkan. Jungkook bilang dia akan mengurus sisanya.

Seokjin pikir itu akan mudah. Namun saat Jimin menahannya lalu menyeretnya untuk menemui Taehyung. Dia tau ini akan sedikit rumit. Taehyung terlihat marah dan dengan tangan dingin menyeret Seokjin memeriksa seluruh toilet yang ada di sekolah ini untuk menemukan Jeon Jungkook.

Saat Taehyung menyadari bahwa dirinya dibodohi oleh Jungkook, dengan kesal Taehyung menendang pintu toilet dan memukul rahang Seokjin hingga tubuh adik kelasnya limbung dan jatuh dilantai. Tidak ada yang bisa meredamkan emosi Kim Taehyung.

"A-aku tidak tau, su-sunbae." cicitnya pelan

Seokjin dapat mendengar gigi Taehyung bergerit dan pemuda itu menggeram kesal. Kepalanya ingin menunduk, namun Taehyung menahan kepalanya agar tetap menatap mata tajam kakak kelasnya itu.

Taehyung melepaskan pegangannya pada pipi Seokjin kasar membuat wajah Seokjin sedikit terlempar kesamping. Tubuhnya kembali berdiri tegak dihadapan Seokjin yang sudah menundukkan kepalanya lagi.

Taehyung mencebik kesal, "Jadi Jeon Jungkook itu ingin mempermainkanku ya. Baiklah."

"Hubungi Jungkook sekarang juga. Tanya dimana keberadaanya." imbuhnya

Tangan Seokjin bergetar saat merogoh saku celananya untuk mengambil smartphonenya lalu menghubungi nomor ponsel Jungkook.

"Loudspeaker."

Kepalanya mengangguk kecil lalu menekan tombol yang diperintahkan Taehyung dengan cepat. Seokjin sangat ketakutan bahkan ini pertama kalinya merasa ketakutan setengah mati seperti ini.

"Hallo, Seokjin. Bagaimana? Sudah berhasil membohongi Kim sialan itu?"

Taehyung tersenyum kecil mendengar suara calon istrinya itu. Benar-benar istri yang pembangkang.

Seokjin membuka mulutnya kaku. Tenggorokannya terasa tercekat saat ingin berucap. "Ka-kau dimana?"

"Eh? Aku? Tentu saja bekerja di cafe paman Shin. Untung saja beliau tidak marah saat aku bolos kemarin. Terima-"

Taehyung berjongkok lalu merebut ponselnya dan mematikan sambungannya begitu saja. Bibir lelaki itu menyeringai menatap Seokjin. Tangannya melempar ponsel adik kelasnya sembarangan, tidak peduli jika ponsel itu rusak nantinya.

"Jadi.. kau berbohong ya?" ucapnya dingin.

Bibir Seokjin terlihat bergetar dan sudut matanya sudah basah. Namun Taehyung sama sekali tidak peduli.

Kedua tangannya meremat kemeja Seokjin dan menariknya hingga tubuh lemas Seokjin dipaksa berdiri. Wajah mereka benar-benar dekat dan itu membuat Seokjin semakin ketakutan.

"Dasar manusia tidak berguna."

Setelah mendengar suara dingin itu. Tubuh Seokjin terdorong hingga membentur tembok dengan keras. Tangan Taehyung mencekik lehernya hingga nafasnya tersengal.

Mata memerah Taehyung menatapnya nyalang, "Kau hanya manusia sampah yang tidak berguna." bisiknya dingin dengan tangan yang semakin mengeratkan cengkramannya.

Wajah Seokjin memerah. Tangannya menyentuh gamang tangan Taehyung yang menjerat lehernya, berusaha melepaskannya. Nafasnya tercekat dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat tidak ada pasokan udara yang bisa masuk ke paru-parunya.

"Sudah hentikan, Tae."

Jimin yang sedari tadi hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Taehyung dari ambang pintu masuk toilet kini berjalan mendekat. Tangannya memegang pergelangan tangan Taehyung yang digunakan untuk mencekik leher adik kelasnya.

"Kau bisa membunuhnya."

Nafasnya berhembus pelan saat menyadari Taehyung tidak peduli dengan ucapannya. "Ayo cari Jungkook."

Jimin melihat ada reaksi dari wajah temannya dan lambat laun cengkraman itu terlepas. Bibirnya tersenyum miris. Bahkan hanya dengan nama Jungkook, emosi seorang Kim Taehyung bisa mereda seperti ini.

Tubuh Seokjin merosot kelantai saat cengkraman itu terlepas. Dadanya naik-turun berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tubuhnya lemas seakan tidak ada tenaga yang tersisa dalam dirinya.

Kepala Taehyung menunduk menatap tubuh lemah adik kelasnya. Sebenarnya Taehyung belum puas memberi pelajaran pada pemuda dihadapannya, namun menemukan Jungkook adalah hal terpenting untuk saat ini.

Kaki Taehyung menendang perut Seokjin keras hingga dirinya terbaring meringkuk. Rasa nyeri dalam perutnya seakan merambat ke seluruh tubuh. Air matanya kembali menetes saat Kim Taehyung menginjak keras kepalanya dengan bagian bawah sepatu yang basah karena lantai toilet.

"Jika kau melakukannya sekali lagi, aku pastikan kau tidak akan selamat."

Setelah menendang perutnya sekali lagi, Taehyung dan Jimin melangkah pergi meninggalkannya sendiri. Seokjin mengerang keras, airmatanya mengalir deras. Bahkan tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali. Rasanya sakit, bukan hanya dibagian tubuhnya yang terluka namun juga dihatinya. Kim Taehyung adalah cinta pertamanya dan Seokjin merasa terluka karena itu.

.

.

Jungkook tersenyum ramah saat menerima pesanan dari para pelanggannya. Rasanya menyenangkan bisa bekerja seperti ini. Pekerjaan santai dan bisa menghasilkan uang.

Senyuman dibibirnya perlahan menghilang saat melihat sosok yang mengganggunya akhir-akhir ini berada diambang pintu cafe tempatnya bekerja. Sosok yang paling mengerikan dalam hidupnya. Kim Taehyung.

Jungkook meneguk ludahnya susah payah saat pemuda Kim itu melangkah mendekatinya dengan aura mencekam. Dia tau, Seokjin pasti gagal berbohong. Seharusnya Jungkook sudah punya firasat sejak tadi.

Kim Taehyung mencekal pergelangan tangannya saat mereka sudah berada dijarak yang dekat. Tatapan tajam itu seakan ingin membunuh Jungkook saat itu juga.

"Pulang sekarang juga."

Suara dingin itu seakan mencekik lehernya hingga tidak ada kata yang bisa keluar dari tenggorokannya.

"CEPAT PULANG SEKARANG!"

Jungkook terkesiap mendengar teriakan Taehyung, begitupun semua pelanggan dan pegawai yang berada di cafe itu. Mata Taehyung menatapnya tajam dengan dada naik-turun akibat emosinya yang meluap.

Seorang lelaki paruh baya datang menghampiri mereka. Lelaki itu berdehem pelan, "Bisa kita berbicara diruang karyawan saja?"

Taehyung menatap lelaki yang seumuran ayahnya itu dengan mata tajamnya. Sama sekali tidak peduli dengan namanya sopan santun dan teman-temannya.

Bibirnya berbisik dingin, "Jangan pernah biarkan lelaki ini bekerja disini lagi. Jika kau masih mempekerjakannya, aku akan membuat usahamu bangkrut dan memastikan kau tidak bisa membuat usaha apapun lagi."

"KIM TAEHYUNG!"

Pandangan Taehyung teralih pada pemuda Jeon dihadapannya. Mata Jungkook terlihat berair dan wajahnya memerah karena menahan amarahnya.

"Jangan katakan hal semacam itu. Baiklah aku pulang sekarang, tapi kau harus minta maaf pada paman Shin."

Taehyung terkekeh, "Pulang atau kuhancurkan tempat ini." ucapnya dengan penekanan pada setiap katanya. Terdengar dingin dan mengancam.

Tidak ada candaan dalam kata-katanya. Jungkook memejamkan matanya sebentar dan setetes airmata jatuh dari sana.

"Baiklah, ayo pulang." ucapnya dengan suara bergetar.

Taehyung menarik tangan Jungkook begitu saja. Tidak peduli dengan orang sekitar yang menatap mereka. Kepala Jungkook menoleh menatap paman Shin dengan pandangan bersalah yang dibalas senyuman tipis dari lelaki paruh baya itu.

.

.

Taehyung melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Jungkook saat mereka sudah berada dalam apartemennya. Jungkook menatapnya tajam dengan mata yang berair. "Tidak bisakah kau tidak bersikap sok penguasa sekali saja, tuan Kim?"

Jungkook merasa malu dan direndahkan begitu saja. Taehyung membuat keributan dalam cafe membuatnya malu setengah mati. Emosinya tiba-tiba meluap begitu saja melihat tingkah sok penguasa dari Kim Taehyung.

"Kau sudah membuatku malu, Kim Taehyung. Kau puas sekarang?"

Taehyung terkekeh pelan. Tangannya mengamit dagu Jungkook dan menariknya mendekat. "Aku tidak akan puas sebelum kau menjadi milikku, Jeon."

Jungkook menepis tangan Taehyung kasar, "Persetan!"

Taehyung tertawa keras mendengar umpatan yang keluar dari bibir Jungkook. "Sudah ku katakan untuk berhenti bekerja, sayang. Kau benar-benar keras kepala."

Jungkook mencebik kesal. Kakinya melangkah menuju kamarnya. Berdebat dengan lelaki sok penguasa itu tidak akan berakhir jika dia terus meladeninya. Jadi Jungkook putuskan untuk mengurung diri dikamarnya.

"Kau tau..."

Kakinya berhenti melangkah saat mendengar suara Taehyung menginterupsinya. Tubuhnya tetap diam, enggan berbalik untuk melihat lawan bicaranya.

"... Jangan lalukan hal seperti ini lagi, Jeon."

Taehyung terkekeh pelan, "... jika kau melakukan hal seperti hari ini lagi. Aku tidak akan segan untuk menyakiti siapapun yang membantumu."

Jantungnya berdebar takut mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Taehyung. Tiba-tiba Jungkook khawatir dengan keadaan Seokjin. Apakah Taehyung melakukan sesuatu pada temannya?

Matanya terpejam erat lalu kembali terbuka dan melanjutkan langkahnya hingga pintu kamar tertutup dan memisahkan dirinya dari si iblis Kim Taehyung.

.

.

Taehyung mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil yang tersampir pada bahunya. Pemuda Kim itu barusaja habis mandi, mencoba menyegarkan pikirannya setelah hampir seharian meluapkan emosinya.

Tubuhnya yang topless dengan hanya memakai boxer untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, duduk di tepian ranjang King Sizenya. Tangannya mengambil ponselnya yang diletakkan dinakas saat terdengar bunyi deringan.

Sudut bibirnya terangkat saat melihat siapa yang menghubunginya. Setelah lebih dari tiga tahun Taehyung mencoba menghubungi nomor ponsel ini dan tidak pernah mendapatkan jawaban, akhirnya orang itu sendiri yang menghubungi Taehyung.

"Hallo." sapanya ramah

"Kim Taehyung apa yang kau lakukan pada sepupuku?"

Taehyung terkekeh mendengar sapaan dari seberang sana. "Seharusnya kau menanyakan kabarku lebih dulu. Sudah tiga tahun kita tidak saling menyapa, kan?"

"Jangan ganggu adik sepupuku, Tae. Aku mohon."

Taehyung tersenyum kecil, akhirnya sosok ini memohon padanya.

"Hanya katakan kau berada dimana saat ini. Aku akan melepaskan adik sepupu kesayanganmu."

Terdengar suara erangan frustasi dari seberang membuat Taehyung tertawa kecil. Ada perasaan bahagia dalam hatinya.

"Aku tidak bisa mengatakannya. Tolong lepaskan adikku."

Taehyung berdecak pelan, "Tidak. Bukankah aku sudah pernah padamu. Jika kau pergi dariku, aku akan menghancurkan sesuatu yang berharga bagimu."

"Aku tidak peduli jika kau menghancurkanku, Tae. Tapi tolong jangan libatkan Jungkook."

Taehyung tersenyum kecil, "Karena aku tidak bisa menghancurkanmu secara langsung maka aku akan menggunakan Jungkook untuk menghancurkanmu secara tidak langsung."

Setelahnya Taehyung memutuskan panggilan itu secara sepihak lalu melempar ponselnya keatas tempat tidurnya. Kepalanya mendongak menatap plafon kamarnya.

"Kau akan menyesal telah meninggalkanku"

"Taehyung-ah kenalkan ini adik sepupu yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri."

"Aku Kim Taehyung."

"A-aku Jeon Jungkook."

"Aku sangat menyayangi Jungkook. Bagiku dia lebih berharga dari apapun. Aku harap kau bisa menjaganya seperti kau menjagaku"

Sudut bibirnya terangkat membentuk seringaian saat kenangan beberapa tahun lalu kembali terngiang dalam ingatannya. "Aku akan menjaga adikmu dengan baik, Bae Irene."

.

.

.

Bersambung...

Author's Note:

Holaaaa~

Setelah bertapa akhirnya dapet inspirasi buat lanjutin ini wkwk

Gimana chapter ini? mengecewakan kah?

Aku harap gak mengecewakan ya. hehe

Btw, Jangan lupa reviewnya~

Thanks

Aii-nim

2017.07.12