Wehehe…

Lanjut ke chapter 4 !!

Disclaimer : Anime punya Masashi_sensei…

'Hiks… rasanya ga rela… kenapa bukan punya ku ajah?!'

'Kenapa harus punya Masashi sensei?!' –cape deh-

Oce!

Chapter 4

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Smile

Jam wekernya sudah berbunyi

Hari masih petang. Namun ia berusaha menyingkirkan rasa malas dan kantuknya, berusaha untuk membuka matanya. Selimutnya masih membungkus tubuh Sasuke dengan nyaman. Perlahan ia melirik jam wekernya, benda itu masih berdering, menyuruhnya untuk cepat bangun.

Dia berusaha untuk bangkit, mengucek ucek matanya, kemudian mematikan jam wekernya. Ia masih terduduk di atas kasurnya mengingat ingat mimpi indah yang dialaminya kemarin sore.

Tok Tok Tok

Seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar

"Sasuke, kau sudah bangun?",

"Sudah, Itachi nii-san", masih mengucek ucek matanya

"Kalau begitu cepatlah mandi. Aku akan tunggu di ruang tamu", ucap Itachi,"Jangan lupa untuk ambil air wudhu", lalu Itachi meninggalkan pintu kamar Sasuke

"Baik nii-san", Sasuke segera beranjak dari kasurnya membiarkan selimutnya berantakan. Ia tak mau membuang waktunya merapikan tempat tidurnya, tak mau membuat kakak yang paling disayanginya menunggu. Ia pun bergegas menuju kamar mandi dan mandi, lalu mengenakan baju muslim favoritnya. Sengaja tak mengancing kancing teratasnya dan tak memakai peci. Supaya terlihat lebih gagah, pikirnya.

Lalu ia berjalan menuju ruang tamu menemui kakaknya

"Nii-san, aku sudah siap", ucap Sasuke sambil membetulkan kerah bajunya

"Oh, ya sudah, ayo cepat, sebentar lagi adzan", Itachi bangkit dari tempat duduknya. Bisa terlihat jelas di sana, kedua Uchiha tersebut seperti akan mengikuti fashion show busana muslim. Itachi yang manis dan tampan tampak terlihat gagah dengan baju muslimnya. Begitu juga Sasuke, mungkin fangirlnya akan pingsan atau berteriak histeris bila mereka melihat Sasuke berpenampilan seperti itu.

Itachi membuka engsel pintu, melangkah keluar rumah disusul oleh adiknya yang ia sayangi. Kemudian Sasuke menutup pintu, menyusul Itachi yang sudah membuka gerbang depan.

"Cepat Sasuke! Aku tak mau terlambat!", Itachi setengah berteriak, memecah keheningan pagi itu. Sasuke segera berlari menuju kakaknya.

Mereka pun berjalan beriringan menyusuri jalan jalan di komplek perumahan Uchiha. Hari masih gelap, Sasuke memandangi langit. Itachi hanya tersenyum melihat tingkah adiknya.

"Kau masih memikirkan dia, ya?", Itachi tersenyum kecil

"Apa maksud nii-san? Dia siapa?", Sasuke mengalihkan pandangannya, sekarang ia menatap heran kakaknya

"Ah, masa kau tidak tahu?!", Itachi semakin tertawa geli,"Maksudku, si Haruno itu!", Itachi tertawa geli

"Ah! Sudahlah nii-san! Itu bukan urusanmu!", Sasuke merasa sebal pada kakaknya. Ia pun membuang muka, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. Kalau Itachi tahu ekspresinya saat ini, kakanya itu pasti langsung meledeknya habis habisan.

"Wah, rupanya adik kecilku sedang memperjuangkan cintanya!", Itachi masih menggoda Sasuke. Sasuke hanya bisa diam, ingin rasanya ia mendaratkan sebuah pukulan di wajah kakaknya itu, hanya untuk membuat mulut Itachi diam.

Tak terasa mereka telah sampai di depan masjid. Sasuke melepas sandalnya dan memasuki masjid, begitu juga Itachi. Mereka berdua segera menempati baris ketiga dari depan.

Tak lama kemudian adzan pun dikumandangkan, menggema di seluruh penjuru langit, angin berhenti bertiup, pepohonan berhenti melambaikan daun daunnya. Waktu terasa berhenti, seolah membiarkan suara adzan melewati rumah rumah, pepohonan, memasuki celah celah sempit. Dan yang paling menyenangkan dari momen itu adalah, ketika suara adzan memasuki telinga kita, menenangkan hati kita, menghilangkan kebimbangan dan kegelisahan dari hati kita. Entah apa yang terkandung dalam kalimat kalimat itu, sampai bisa membuat kita merasa kagum, bersyukur karena Dia-lah yang menciptakan kita (jujur, hatiku merasa tenang saat kutulis kalimat kalimat barusan).

Kemudian Imam meminta makmumnya untuk meluruskan shaf-nya. Lalu sholat subuh pun dimulai, hening, hanya terdengar suara Imam yang mengucapkan kalimat kalimat suci dengan suaranya yang merdu.

Beberapa menit kemudian Imam mengucapkan salam, gerakan terakhir dari sholat fardu, yang menandakan bahwa sholat telah selesai. Kemudian Sasuke dan Itachi mengucapkan kalimat tasbih, dan membaca doa, memohon kepada yang Kuasa.

Setelah selesai, mereka berjabat tangan dengan jamaah lainnya, lalu bergegas memakai sandalnya. Tapi Itachi tampak sibuk memperhatikan jamaah yang pergi meninggalkan masjid.

'Sepertinya ia sedang mencari seseorang, tapi siapa?' pikir Sasuke yang dari tadi memperhatikan gelagat aneh kakaknya

Tiba tiba

"Selamat pagi", seorang gadis menyapa mereka dari belakang. Sasuke dan Itachi pun berbalik.

"Oh… Konan chan! Selamat pagi juga! Kupikir kau tak datang…", Itachi bertingkah aneh, tak biasanya ia menggaruk garuk kepalanya.

"Hehe… Aku pasti datang, aku tak akan melanggar janji…", ucap gadis yang bernama Konan itu. Wajahnya cantik, tinggi semampai, dan terlihat manis apabila tersenyum.

"Janji?", Sasuke mulai membuka mulutnya, memotong pembicaraan mereka berdua.

"Eh… Siapa ini? Itachi, kau belum mengenalkannya padaku", Konan baru menyadari kehadiran Sasuke yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua ," Ahh! Kau pasti adiknya Itachi kan! Hehe… kau sangat mirip dengannya", ucap Konan sambil tersenyum manis pada Sasuke.

"Ya, benar, dia adikku", Itachi masih menggaruk garuk kepalanya.

"Perkenalkan, namaku Uchiha Sasuke", Sasuke membungkuk dan memperkenalkan dirinya dengan sopan.

"Oh, iya, aku Konan", Konan balas membungkuk, lalu Konan bangkit ,"Yah, mungkin lain kali kita bisa ngobrol ya Sasuke", Konan melirik jam tangannya," Aku harus pamit dulu. Jadi… sampai bertemu di sekolah ya Itachi kun! Dah Sasuke!", Konan berjalan meninggalkan mereka berdua.

"Iya, Konan chan! Sampai ketemu di sekolah!", Itachi melambaikan tangannya

"Iya, sampai bertemu lagi", jawab Sasuke sopan

'Oh, jadi ini sebabnya nii-san menyuruhku cepat cepat ke masjid. Hm… mungkin ini juga yang menyebabkan nii-san memperhatikan seluruh jamaah yang ada di masjid. Aku benar benar tak percaya! Kakakku tergila gila pada seorang gadis!' pikir Sasuke panjang lebar

Sasuke tersenyum penuh kemenangan, akhirnya ia bisa mulai membalas ledekan Itachi tadi pagi.

Mereka pun meninggalkan halaman masjid dan berjalan menuju rumah. Di sepanjang perjalanan mereka menyelinginya dengan obrolan obrolan kecil.

"Hey, kau sudah berdoa agar bisa mendapatkan Haruno?", Itachi mulai menggoda adiknya itu.

"Sudah", jawabnya singkat," Kau bagaimana? Sudah berdoa agar bisa mendapatkan Konan?", Sasuke mulai membalas Itachi.

"Hey! Apa maksudmu?!", wajah Itachi mulai memerah mendengar pertanyaan adiknya itu.

"Aku tahu kau menyukainya. Sudahlah! Tak perlu mengelak!", Sasuke tersenyum penuh kemenangan.

"Ugh!", sekarang giliran Itachi yang merasa sebal pada Sasuke, ia memalingkan wajahnya dari pandangan Sasuke supaya tak terlihat kalau wajahnya sekarang sedang memerah.

Mereka pun tiba di rumah, Itachi membuka pintu gerbang lalu membuka engsel pintu, di susul Sasuke yang ada di belakangnya. Sasuke segera menuju kamarnya di lantai atas, begitu juga Itachi. Mereka berdua mengganti baju muslim mereka dengan baju seragam sekolahnya.

Sasuke merapikan bajunya, memakai ikat pinggangnya yang trendy dan memakai dasi sekolahnya. Tak lupa sebelum mengenakan seragamnya tadi, ia menyemprotkan parfum khas Perancis yang baunya dapat menarik gadis gadis. Lalu mengoleskan jel rambut pada rambutnya untuk menambah keren penampilannya.

Setelah selesai berdandan dan sarapan mereka berdua mengambil motor masing masing dan bergegas pergi menuju sekolah. Tak lupa Itachi mengunci pintu depan.

Diperjalanan Sasuke memfokuskan pandangannya pada jalanan, tak mau gegabah, salah salah ia bisa oleng dan menabrak kendaraan lainnya.

Tak lama kemudian, ia pun sampai di gerbang sekolah, memarkirkan motornya di parkiran, dan melihat sekelilingnya, kalau kalau FG nya sudah siap mengeroyoknya, seperti kejadian tempo hari.

'Untung aku berangkat lebih awal pagi ini' Sasuke sangat lega, pagi ini FG nya tak mengganggunya seperti biasa. Sasuke melangkahkan kakinya meninggalkan parkiran.

"Selamat pagi, den!", sapa Pak Ogah dengan wajah tolonya.

"Selamat pagi pak!", Sasuke membalas ,"Pak, pagi ini Sakura sudah berangkat belum?",

"Kalo mau tahu, gopek dulu dong!", seperti biasa, menengadahkan tangannya dan berekspresi tolol.

"Ah! Lebih baik kuperiksa sendiri saja!", Sasuke bergegas, berlari menuju kelasnya dan meninggalkan Pak Ogah yang masih memasang ekspresi tolol. Sasuke berjalan menyusuri koridor koridor sekolah yang masih sepi. Hanya beberapa anak saja yang terlihat olehnya. Membersihkan kelas atau sedang membaca buku matemetika untuk menghadapi pelajaran Kakashi yang sering ulangan mendadak.

Sasuke tiba di depan kelasnya, melongok sedikit, kalau kalau Sakura sudah berangkat.

"Ugh!", Sakura berjalan sambil meringis kesakitan, kakinya tak bisa menopangnya, ia berpegangan pada meja meja supaya tak jatuh, lalu duduk di bangkunya.

"Sakura!", Sasuke langsung berlari ke arahnya, Sakura yang dari tadi tak menyadari kehadiran Sasuke kaget bukan main.

"E-Eh… Sasuke… Selamat pagi", ucapnya agak gugup sambil berusaha menutupi lututnya dengan ujung roknya.

"Kau kenapa?!", Sasuke jongkok, memperhatikan lutut Sakura yang berusaha ia tutupi.

"Eh, tak apa apa, sungguh", jawab Sakura lirih

"Apa yang terjadi pada kakimu?!", Sasuke semakin memperhatikan lutut Sakura

"…", Sakura tak bisa berkata apa apa, hanya bisa melihat Sasuke yang semakin mengkhawatirkannya, lalu perlahan membuka sedikit roknya yang menutupi lukanya.

"Oh! Ya ampun! Ini harus segera diobati! Ayo kita ke UKS!", Sasuke melihat luka Sakura yang mengeluarkan darah cukup banyak.

"Ah, tidak, Sasuke, aku tak apa apa, nanti juga sembuh sendiri, kok!", sambil tersenyum

"Yah, setidaknya harus dibersihkan dahulu, ayolah! Aku khawatir!", Sasuke bangkit, lalu menengadahkan tangannya.

"Mm… Baiklah", Sakura menurut pada Sasuke, lalu menggenggam tangan Sasuke.

"Hati hati", Sasuke membantunya berdiri. Setelah berdiri, Sakura berusaha melangkahkan kakinya, namun pergelangan kakinya terasa sangat sakit.

"Akh!", hampir saja ia jatuh, Sasuke sudah menangkapnya duluan, kesannya seperti Sakura mendarat di pelukan Sasuke. Sebenarnya hati Sasuke berbunga bunga, senang sekali rasanya kalau mereka berdua tetap berada pada posisi seperti itu.

"Kakimu benar benar sakit ya, Sakura?", Sasuke masih memegang Sakura (atau memeluk Sakura?)

"Entahlah, sepertinya pergelangan kakiku terkilir", meringis kesakitan lalu melapaskan diri dari 'pelukan' Sasuke. Sakura kembali duduk di bangkunya.

"Oh, begitu…", tiba tiba Sasuke melepas tasnya dan menaruhnya di bangkunya.

"Sasuke?", Sakura kebingungan, tak tahu apa yang sebenarnya akan dilakukan Sasuke.

"Ayo", Sasuke melingkis lengan bajunya,"Aku akan menggendongmu kalau begitu",

"Apa?! Itu benar benar tidak perlu Sasuke!", Sakura terkejut, lalu memasang wajah tersenyum yang dipaksakan.

"Ayolah, tak apa apa!", kemudian Sasuke mengangkat Sakura dengan kedua tangannya.

"Sasuke! Turunkan aku!", Sakura memohon pada Sasuke, namun Sasuke hanya tersenyum.

"Tenang saja, aku takkan menjatuhkanmu, aku sering fitness bersama nii-san tiap hari minggu, jadi ototku cukup kuat. Lagipula Sakura-chan tidak terlalu berat, kok!", Sasuke tersenyum sangat manis pada Sakura, senyumnya begitu hangat, tak pernah ia melihat Sasuke tersenyum seperti itu, senyuman Sasuke cukup untuk membuat pipi Sakura memerah

Kemudian Sasuke berjalan perlahan sambil membawa tubuh orang yang paling dicintainya. Memfokuskan pandangannya supaya tetap konsentrasi. Saat ia baru melewati pintu kelas, Sakura berkata,

"Mm… Sasuke, maaf… tapi, apakah aku boleh berpegangan padamu? Aku sedikit takut…" Sakura menatap wajah Sasuke yang tampan. Pipi Sasuke mulai memerah, namun ia berusaha bersikap sewajarnya pada Sakura

"Boleh…" jawab Sasuke lirih, lalu berjalan perlahan menuju ruang UKS. Saat itu masih pagi, tak banyak anak yang melihat mereka.

Sesampainya di UKS Sasuke membaringkan tubuh Sakura di atas kasur.

"Sakura istirahat dulu ya…", Sasuke melepas sepatu Sakura perlahan, takut kaki Sakura akan terasa sakit.

"Mm… iya…", wajah Sakura yang manis masih bersemu merah

"Sakura mau aku temenin?", Sasuke sangat berharap Sakura akan mengatakan 'ya'

"Mm… kalau Sasuke nggak keberatan, sih…", wajah Sakura makin memerah

"Hm, oke deh! Kalau begitu aku akan menemanimu", dalam hati Sasuke berbunga bunga, bisa berduaan dengan Sakura

"Terimakasih, Sasuke-kun. Kau baik!", Sakura mengeluarkan senyuman terbaiknya. Jantung Sasuke berdegup semakin kencang, Sakura baru saja menambahkan imbuhan –kun di belakang namanya.

"Iya, Sakura-chan", muka Sasuke pun bertambah merah. Kemudian sunyi, jantung Sasuke berdegup kencang, ia semakin gugup, bingung,

'Haruskah kukatakan padanya sekarang?' hanya itu yang ia pikirkan. Kemudian bel sekolah berbunyi.

"Sasuke, sudah bel, kamu ngga masuk kelas?",

"Tapi nanti Sakura sendirian…",

"Aku ngga pa pa kok! Sasuke ga usah khawatir…",

"Oke deh…", sebenarnya Sasuke tak ingin meninggalkan Sakura tapi apa boleh buat. Lalu ia berjalan menuju pintu UKS hendak meninggalkan ruang UKS.

"Mm… Sasuke…", tiba tiba Sakura memanggil Sasuke tepat sebelum Sasuke meninggalkan UKS

"Ya? Kenapa Sakura?",

"Mm… ano… Aku boleh memanggilmu Sasuke-kun?",

"Boleh, sebagai gantinya, kau kupanggil Sakura-chan, bagaimana?",

"Baiklah!", Sakura tersenyum

"Aku ke kelas dulu, ya, Sakura-chan, kamu istirahat dulu", Sasuke membalas senyuman Sakura

"Baik Sasuke-kun", wajah Sakura masih bersemu merah. Sasuke menutup pintu UKS, masih senyum senyum sendiri, walaupun hanya beberapa menit, ia sangat menikmati waktunya bersama Sakura. Lalu ia pun meninggalkan ruang UKS dan pergi menuju kelasnya.

Aku takkan melupakan hari itu

Hari dimana ia memberikan

Senyuman terbaiknya untukku

Dan ku hanya berharap

Dia menyayangiku melalui senyuman itu…

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Chapter 4 end

Minatsuky : Augh! Banyak yang request chapter panjang! Aku jadi bingung! Maap yah, kalo terlalu banyak basa- basinya… Yah… tapi aku udah berusaha!

Train : Ga usah khawatir say, fanfic mu dah lumayan, kok!

Minatsuky : Makasih! Waktunya ngebales review!

To Furukara Kyu : Alurnya kecepetan yah? Yawdah, Q bilang ama alurnya yah! (Woy! Alur! Jangan cepet cepet!-pake toa-)

To kakkoii-chan : Tenkyu repiu nyah, iya, Sasuke Q buat melas, tapi bukan sengsara lho!

To sabaku no panda-kun : yupz! Aku dah berusaha! Ni juga chapternya udah ku panjangin. Hm…? theEvil? Iya… Q juga ga tau apa maksudnyah… -bingung-

To Maharaja PiggyAss (flamer yang paling saya hormati) : Terimakasih atas review nya, saya tunggu review anda untuk chapter ini.

To Uchiha Yuki-chan : Arigatou 4 the review… psst! Ngomongnya jangan keras keras, tar Kakuzu denger, kita bisa dicincang ama dia!

Yah, segitu aja dulu! Aku dah berusaha sekuat tenaga, and sekarang tenagaku udah abis…

Reader… jangan lupa… -pingsan-

Train: -langsung nangkep Minatsuky- Oh! Ya ampun… dia bener bener cape… mungkin dibiarin aja kali yah? Kasian, tiga hari tiga malem ga tidur buat nyelesein fic ini,

Sasori : Mungkin dia kena kutukan! –entah muncul dari mana-

Train : Maksud lo?

Sasori : Yah… Lo tau kan, kalo di cerita dongeng, buat nyembuhin sang putri yang kena kutukan, pangeran harus ngapain?

Deidara : Kiss her! –berteriak dari kejauhan-

Train : Tapi ntar kalo dia sadar… gue bakal dibunuh ama dia…

Sasori : Lo sayang ama dia ga sih?

Train : -ngangguk-

Deidara : Kalo gitu cium aja! Susah amat! –masih di kejauhan-

Train : Hm… Oke deh… -kiss Minatsuky's lips-

Minatsuky : -wake up- Train…

Train : Akhirnya kamu sadar juga…

Minatsuky : -mukul Train pake sarung tinju-

DASAR COWOK GA TAU DIRI!! NGAPAIN LO NYIUM GUE!!??

Train : Sorry sayangku! –babak belur- Aku disuruh ama mereka berdua!

-Sasori ama Deidara ngacir duluan-

Lho? Kok?

Minatsuky : AWAS KALO MACEM MACEM LAGI!! GUE BUNUH LO!!

Train : I-Iya… ampun deh!

Minatsuky : -pose manis bin imut-

Buat yang baca, don't forget to review!!