Arun

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

.

Arun

.

Jimin dan Yoongi hanya bergelung manja di atas ranjang, tak melakukan apapun kecuali saling berpelukan. Matahari sudah lama tenggelam, sudah lama berganti bulan. Mereka membiarkan suara televisi mengisi apartemen kecil itu. Suaranya yang disetel dengan volume sedang kencangnya hanya seperti orang setengah berbisik.

Yoongi bersandar di dada Jimin. Lelaki itu merangkul bahunya. Lengannya kokoh dan hangat. Nyaman sekali. Dia merasa betah berlama-lama berebahan dengan posisi seperti itu, bersama Jimin di sampingnya.

"Itu siapa? Pidatonya bersungut-sungut."

Yoongi melepaskan kekeh kecil ketika Jimin bertanya dengan spontan tentang apa yang dilihatnya dari layar kaca.

"Donald Trump, presiden Amerika."

"Ooh..." lelaki itu nampak serius menonton tivi. Mungkin banyak hal baru yang didapatkannya dari berita. Sejenak Yoongi lupa kalau Jimin masih menjadi seorang lelaki yang tak ingat akan sebagian dunianya. Bahkan sosok presiden Amerika sekalipun.

"Jimin."

"Hm?"

Hal ini membuat Yoongi ingin tahu, "Berapa banyak yang kau lupakan?"

Jimin menengadah pada langit-langit kamar. Warnanya sedikit kusam termakan usia dan kelembaban. Beda dengan langit-langit kamar Taehyung yang bertabur bintang. Tapi, entah mengapa, walau tempat itu tua dan usang, Jimin merasa nyaman-nyaman saja. Mungkin, karena ada Yoongi di sampingnya.

"Banyak. Dan sebagian yang ku ingat adalah sebuah kekeliruan," akunya. "termasuk tentang..."

"Tentang apa?"

Jimin melirik Yoongi yang menatapnya dengan sirat ingin tahu. Dia sedikit merasa bersalah, tapi juga ingin mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya secara jujur. Dia tak pernah suka berbohong, pada siapapun itu. Pun pada Yoongi.

"Yoongi, aku ingin jujur padamu. Sebelum aku bertemu denganmu kemarin, aku mengira kalau... Taehyung... adalah orang yang memiliki debaran jantungku ini."

Dia sadar bahwa ada beberapa hal belakangan ini yang kenyataannya berkebalikan dari apa yang dia ingat. Salah satunya tentang Taehyung yang bisa memasak. Taehyung yang dalam ingatannya pernah memasakkannya sup yang sangat enak. Taehyung yang pernah makan berdua bersamanya dengan nikmat. Nyatanya, Yoongilah yang melakoni peran itu. Yoongi yang bisa memasak, Yoongi yang pernah memasakkannya sup. Yoongi yang pernah makan berdua bersamanya.

Sedikit-sedikit ingatan yang tak utuh itu melayang di atas kepala, seperti ketika dirinya dan Yoongi berciuman mesra ditemani bunyi didihan kuah sup yang panas.

"Aku tinggal bersamanya sejak aku bangun dari koma. Setiap hari kami tidur di ranjang yang sama, setiap hari dia mendongengkanku banyak cerita, tiap hari aku makan dengannya, duduk di depan tivi dengannya. Aku sempat menciumnya untuk memastikan seberapa besar cintaku padanya. Tapi debaran itu hanya seperti desir pasir. Sementara ketika bersamamu, debaran itu seperti gelombang tsunami. Besar, dan berbahaya."

Jimin memegang dadanya sendiri.

"Sampai saat ini aku masih merasa dadaku sesak tiap mencoba mengingat apa yang kau ceritakan padaku tentang masa lalu kita."

Yoongi bangun dari tidurnya. Dia duduk menopang tubuhnya dengan sebelah tangan. Dari wajahnya, Jimin bisa melihat ada sirat antara terluka, terkejut, dan banyak hal yang menjadi satu. Dia mungkin tak punya kata untuk diucapkannya, jadi dia hanya memberi Jimin tatapan seperti itu.

Jimin tahu, kalau kejujurannya mungkin sedikit menyakiti Yoongi. Tapi apa mau dikata, itulah yang sebenarnya terjadi.

Jimin mengusap dahinya dengan depresif. Dia lelah terus berpikir.

"Aku kesal karena otakku tidak bisa bekerja lebih keras dari pada ini. Aku ingin mengingatmu di sini juga." tangannya masih berada di dahi, dan dia mendengus panjang.

Yoongi menarik tangan itu turun hingga tak lagi menutupi dahi dan wajah Jimin yang keruh.

"Kau tidak perlu memaksakan diri, jika memang sudah waktunya, kau akan mengingat segala apa yang kau lupakan."

Dia tidak menuntut. Itulah yang membawa sedikit kelegaan bagi Jimin. Lantas dia mengulas senyum dan menggenggam balik tangan Yoongi yang tak melepasnya sedari tadi.

"Apa mungkin ingatan itu akan datang dalam mimpiku?"

Dia merubah posisinya yang semula bersandar pada dinding, menjadi bersandar pada paha Yoongi. Ubun-ubunnya mengenai perut lelaki cantik itu dan ada sedikit getaran yang aneh menjalar ke dadanya ketika ia ingat bahwa ada bayi kecil yang hidup di dalam sana.

"Mungkin saja," kata Yoongi, sembari membelai rambut perak Jimin yang lembut. Rambut itu sudah agak panjang dibanding ketika pertama kali mereka bertemu dulu.

Televisi masih bersuara. Satu-satunya sumber cahaya yang ada hanyalah dari layar kaca tua itu. Tak ada lampu yang dinyalakan. Yoongi sendiri merasa tak perlu beranjak untuk sekedar menekan saklar lampu. Jimin tertidur di pangkuannya, dan dia tak sampai hati untuk membuat lelaki itu bangun.

"Yoongi..."

Jimin memanggilnya.

"Yoongi-yah..."

Dia sedikit menunduk untuk memastikan apa Jimin terbangun, atau tidak. Nyatanya, mata itu masih tertutup, namun bibirnya terus menggumamkan satu nama yang sama.

"Yoongi-yah..."

Gumamannya lirih. Gumaman yang sedih.

Yoongi terus membelai rambut itu agar lirihan Jimin berhenti. Dia berpaling pada televisi yang baru saja mulai menayangkan film barat. Sementara matanya tertuju ke sana, dia tak tahu kalau dari sudut mata Jimin turun gerimis kecil.

.

Arun

.

Esok paginya, Jimin pulang. Kepulangannya sudah dinanti oleh Taehyung yang ternyata tak tidur semalaman. Tentu, karena Jimin pergi dari pagi hingga pagi lagi. Taehyung pastilah tak mengira kalau Jimin akan pergi selama itu. Dia tak perlu bertanya ke mana Jimin, karena dia sudah tahu. Dia sendirilah yang meminta lelaki itu untuk menemui Yoongi kemarin.

"Kau mau ku buatkan sereal?" tanya Taehyung yang hendak membuka lemari penyimpanan makanan di dapur. Tapi Jimin yang duduk di meja makan itu menggeleng.

"Aku sudah sarapan di rumah Yoongi."

Taehyung terdiam sejenak, tapi tak lama dia tutup kembali lemari itu. Dia mengangguk paham. Akhirnya dia kembali ke meja makan tanpa membawa apapun. Hanya duduk menghempaskan diri di kursi dengan sedikit lelah yang dibawa. Ya, dia belum tidur sama sekali.

"Tae."

Taehyung yang semula menjatuhkan pandangannya ke lantai beralih pada mata Jimin yang duduk di hadapannya. Tangannya diraih dan digenggam, lalu diadukan dengan dahi sempit itu cukup lama. Jimin menunduk dengan tangan Taehyung yang dia genggam.

"Kenapa?"

"Maafkan aku," gumam Jimin dengan wajah yang masih terlipat.

"Untuk apa?"

"Aku mencintainya."

Taehyung memalingkan wajah. Kembalinya Jimin membawa perubahan besar. Entah itu ingatannya yang kembali, atau perasaanya yang tak lagi keliru. Tapi jika benar begitu, Taehyung harus menyerah saat ini juga.

"Memang sudah sepantasnya begitu."

Jimin mengangkat kepala. Taehyung menggunakan sebelah tangannya yang lain untuk membungkus tangan Jimin.

"Memang sudah sepantasnya..." dia menunduk dalam. "Sebelumnya kau telah keliru, Jimin. Kau punya rasa yang besar bukan padaku, tapi padanya. Maka dari itu, aku selalu merasa bersalah... setiap kau memelukku, setiap kau katakan kalau kau cinta aku."

Dia mengangkat wajah hanya untuk menyampaikan rasa bersalah itu lewat matanya. Dan Jimin menangkap itu.

"Karena ada Yoongi yang lebih pantas untuk mendapatkan itu semua..."

"Taehyung-ah..."

Jimin bangkit dari duduknya hanya untuk mendekat pada Taehyung, dan memeluknya sambil berdiri. Dia tahu ini pasti berat bagi Taehyung, tapi kenyataan dan kejujuran terkadang memang sedikit kejam. Terkadang harus ada luka demi sebuah kebaikan yang lebih besar.

"Maafkan aku. Aku sayang padamu."

"Ya, aku juga."

Jimin memeluk Taehyung lebih erat, dan lelaki berambut pirang itu melesakkan wajah di perutnya. Dalam lamunannya, ada sepotong ingatan yang kembali. Ketika dirinya dan Taehyung berbicara tentang apa sebenarnya hubungan mereka itu.

.

Arun

.

"Namanya Yoongi, dia lelaki yang manis, murah senyum dan pintar. Dia tahu banyak hal dan berbicara dengannya adalah sesuatu yang menyenangkan bagiku. Kami mengabaikan dentum musik dalam pub dan malah mengobrol lama di meja bar."

Jimin bicara dengan antusias. Bercerita kepada Taehyung tentang hari yang dijalaninya adalah suatu keharusan. Karena mereka adalah dua orang yang tak pernah menyembunyikan apapun sebagai rahasia.

"Kau tertarik padanya?" tanya Taehyung yang menahan popcorn-nya di depan mulut.

Jimin yang membuka mulut dan hendak bicara itu terhenti, sejenak matanya dia lempar ke samping, seolah tengah berpikir. Taehyung mengunyah popcorn-nya dengan lamban. Dia menunggu. Satu desah dari Jimin dan tatapan itu kembali terarah padanya.

"Awalnya hanya begitu, tapi Tae, setiap aku melihatnya aku merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar tertarik." Jimin hanya menatapnya sebentar, mata itu kembali jatuh ke tempat lain. Seolah-olah mengatakan kalimat itu adalah sesuatu yang berat baginya. Seperti sedang membuat pengakuan. "Dia dengan segala kerapuhannya, membuatku ingin melindunginya."

"Jimin-ah."

Taehyung menaruh mangkuk popcorn-nya di meja. Mendengar pernyataan Jimin membuatnya tak selera lagi. Tapi tidak, bukan karena dia benci Jimin bicara tentang orang lain. Dia hanya... merasa sedikit tak nyaman.

Ucapan Jimin membuatnya ingin bertanya tentang sesuatu,

"Apa kau pernah berpikir tentang kita?"

"Maksudmu?"

"Apa sebenarnya kita ini. Hubungan kita." kali ini giliran Taehyung yang menjatuhkan pandangnya tak pada mata Jimin. Dia tentu berpikir untuk mengatakan itu. Sebuah pikiran yang ingin dia utarakan, sebab menyangkut perasaannya juga. Dia sedikit terluka, dan dia hanya ingin memastikan. "Kita sudah lama hidup bersama, sejak kanak-kanak. Kebersamaan kita seperti sesuatu yang wajar. Tapi apa kita ini?"

Jimin hanya memasang dahi yang berkerut tanpa bicara. Sama dengan Taehyung, matanya lari ke tempat lain. Mereka sama-sama tenggelam dalam keheningan, mencari jawaban.

"Aku ingin tanya, apa yang kau rasakan?"

Jimin punya jawaban. Tapi dia pun tak yakin dengan jawabannya sendiri. Jadi dia hanya diam, dan Taehyung bicara lagi.

"Aku... aku rasa aku punya perasaan yang lebih dari sekadar sayangku pada seorang sahabat."

Lelaki berambut pirang itu mengangkat wajahnya dan menoleh pada Jimin yang duduk di sampingnya. Ada beban di matanya, Jimin lihat itu. Seolah-olah seucap bibirnya memang tak mudah untuk di utarakan.

"Kau separuh jiwaku, Moon," katanya. "Tapi aku merasa bersalah jika aku menginginkan lebih."

Wajahnya sendu. Ada segenang embun yang berada di sudut matanya. Sekali dia menunduk, embun itu jatuh. Taehyung menutup wajahnya dengan satu tangan. Sungguh, dia benar-benar merasa salah telah mengatakan hal itu. Karena sesungguhnya dia takut, takut Jimin berubah membencinya. Takut Jimin pergi meninggalkannya.

Apalagi Jimin telah mengutarakan perasaannya tentang orang lain.

Taehyung takut kehilangannya.

"Tae."

Saat itu Jimin memanggil dengan suara rendahnya yang sedikit berbisik. Taehyung merasakan ada lengan yang merangkulnya dengan hangat. Jimin menaruh dagunya di bahu Taehyung, sejenak dia biarkan hidungnya membaui rambut pirang itu. Dia memejamkan mata, merasakan perih yang sedikit menggores hatinya saat melihat Taehyung menangis.

"Kalau begitu biarlah kita tetap seperti ini.. Biarlah tetap begini," katanya, tepat di telinga Taehyung. "Aku sayang padamu. Aku sayang padamu..."

Malam itu adalah penutup hari yang berat. Jimin pulang membawa rasa sesak di dada, pun Taehyung yang ditinggalnya dengan perasaan yang sama. Esok hari, dan esok harinya lagi mereka saling mendiamkan. Bukan dengan sebab saling membenci, tidak. Mereka masih memiliki perasaan yang sama. Hanya atmosfer hubungan keduanya terasa berbeda sejak pengakuan itu. Tapi, karena mereka terikat, muncul niatan untuk saling berdamai dengan perasaan dan ego masing-masing.

Akhirnya, setelah sampir satu bulan, mereka kembali berkomunikasi. Secara tak sengaja, pertemuan mereka di zebra cross di sebuah persimpangan jalan mengembalikan senyum keduanya yang merindu.

.

Arun

.

Jimin terus datang ke rumah Yoongi secara rutin. Terkadang dia sengaja keluar begitu pagi hanya untuk menjemput Yoongi dari tempat kerjanya dan mengantarnya ke rumah, walau tak menggunakan kendaraan pribadi karena dia masih trauma untuk menyetir sendiri. Dia naik bis dan sedikit berjalan kaki. Tapi itu tak masalah baginya, semua karena Yoongi.

Suatu ketika, Taehyung meminta Jimin untuk membawa Yoongi ke rumahnya. Taehyung hanya ingin merasakan seenak apa masakan Yoongi. Dia yang tak pernah memasak sendiri, dan dia yang jauh dari orangtuanya sedikit banyak ingin tahu bagaimana enaknya masakan yang terasa 'seperti masakan seorang ibu', layaknya yang sering Jimin katakan.

"Begitu, mungkin dia iri aku bisa makan makanan enak buatanmu."

Yoongi hanya tertawa ringan ketika Jimin bercerita. Saat itu dia sedang menaruh zukini dan wortel di atas nasi, hendak membuat segulung kimbap untuk sarapan. Jimin yang menemaninya di dapur sesekali iseng mengambil daging kepiting yang sudah dipotong-potong. Yoongi senang Jimin ada di sampingnya. Tapi, tujuan Jimin datang padanya hari itu membuat Yoongi agak sedikit tak enak hati.

Sudah sangat lama dia tak pernah bertemu lagi dengan Taehyung. Dia dan lelaki itu tak pernah terlibat pembicaraan yang intim. Dia dan Taehyung tidaklah bisa dikatakan akrab. Hanya saling tahu, belum saling mengenal. Jiminlah yang seolah menjadi jembatan bagi keduanya.

Dia merasa canggung jika nanti harus bicara dengan Taehyung. Dia hanya... takut Taehyung tak suka Jimin bersamanya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Jimin sadar kalau kegiatan menggulung kimbap itu terhenti. Yoongi diam dalam lamunan, tapi segera dia menoleh hanya untuk memberi Jimin seulas senyum dan gelengan kepala.

"Tidak ada."

"Kau seperti sedang mencemaskan sesuatu."

Yoongi tidak bisa berbohong. Jimin membacanya dengan jelas sekali.

"Tidak apa-apa. Taehyung akan senang menerimamu. Dia akan menyayangimu juga sama seperti aku."

Jimin menangkup wajah Yoongi dan memberi sebuah ciuman yang menenangkannya.

.

Arun

.

Taehyung memang menyambut ramah di depan pintu. Tapi kecanggungan itu tetap terasa ketika mereka ada di dapur. Jimin, entah sengaja atau tidak, malah menghilang ke ruang tengah sementara dia meninggalkan mereka berdua di sana.

Yoongi tak banyak bicara, Taehyung pun bingung harus memulai dari mana.

"Sudah berapa bulan?" akhirnya dia mulai bicara ketika Yoongi terlihat memandang kosong bahan makanan yang dibawanya sendiri.

"Oh. Sudah masuk bulan keempat." Yoongi menunduk dan menaruh tangan di perutnya.

"Kau mau buat apa?"

"Apa kau suka chapjae?" tanya Yoongi.

"Suka, aku suka." angguknya.

Yoongi mengulas senyum. Sedikitnya Taehyung tahu kenapa Jimin tertarik padanya. Dia punya sesuatu yang bisa membuat perhatian orang teralih. Senyumnya tipis tapi manis. Sungguh, manis sekali.

"Aku tak punya celemek, maaf ya."

"Tak apa." Yoongi menggulung lengan bajunya sampai ke siku. Dia pun mengeluarkan bahan makanan yang akan dia olah jadi chapjae.

"Dulu... aku sering melihat nenekku memasak, tapi aku tak pernah bisa melakukan apapun di dapur." kekeh Taehyung. Dia ingat betul dulu neneknya malah sering menyuruhnya duduk di meja makan dan menunggu masakannya jadi tanpa perlu membantu apa-apa.

"Memangnya kau tidak bisa memasak?"

"Tidak." gelengnya.

"Lalu apa yang kau makan sehari-harinya?"

"Makanan yang ku pesan dari restoran. Kalau aku sedang tak malas bergerak, aku pergi makan di luar."

"Tidak pernah memasak sendiri?"

"Kalau ramen aku masak sendiri."

Tak sangka Yoongi tertawa. Taehyung merasa dadanya menghangat ketika melihat tawa itu. Entah mengapa, lagi-lagi dia seolah menjadi Jimin yang terpesona pada Yoongi.

"Padahal memasak sendiri itu lebih hemat, sudah begitu kita bisa tahu apa yang kita makan itu kurangnya di sini, di situ. Memasak itu menyenangkan," ujar Yoongi yang hendak mengupas kulit wortelnya. Dia berhenti sejenak dengan senyum yang terulas. Taehyung hanya memandangnya.

"Ada apa?"

"Aku... terbiasa memasak sendirian, karena tak ada siapapun di rumahku. Aku tak pernah punya teman bicara di dapur seperti ini," katanya. "Aku senang."

Dia sangat manis, dia sangat memesona, Taehyung juga senang mendengarnya berbicara. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Taehyung ingin mengasihinya. Yoongi itu orang baik, dan dia pantas mendapat kasih sayang dari semua orang. Termasuk dari Jimin, atau Taehyung sendiri.

"Yoongi-yah."

"Ya—"

Yoongi hanya tak mengira kalau Taehyung akan memeluknya tiba-tiba. Dari belakang, lelaki itu bersandar.

"Aku ingin tahu kenapa Jimin punya perasaan yang besar kepadamu. Aku ingin tahu kenapa Jimin begitu mencintaimu. Aku ingin tahu kenapa dia sayang padamu." tuturnya dengan wajah di samping kepala Yoongi. "Jadi biarkan aku memelukmu sebentar saja, supaya aku tahu kenapa dia begitu."

Ada hangat yang menyapanya. Lagi, Yoongi mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang lain. Mungkin rasanya berbeda ketika Jimin memeluknya. Tapi yang sama dari mereka adalah perasaan yang ingin disampaikan lewat pelukan itu. Yoongi harus paham, dan dia memilih untuk membiarkan Taehyung terus memeluknya.

.

Arun

.

Nasi dan lauk-pauknya sudah tersaji di meja makan. Aromanya mengundang Jimin untuk segera duduk di kursi yang masih kosong. Taehyung mencibir karena lelaki itu tak membantu apa-apa dan malah menghilang selama dia dan Yoongi memasak. Tapi Jimin menepuk-nepuk kepalanya dengan bangga saat Taehyung bilang dia sedikit membantu Yoongi dengan mengupas kulit udang.

Mereka duduk bertiga di meja makan itu. nasi sudah ada di mangkuk masing-masing, tapi Taehyung terdiam agak lama memandangi apa yang ada di hadapannya.

"Hei, kau kenapa?" tanya Jimin.

"Tidak, aku hanya terlalu senang sampai tak tahu harus apa." ada sunggingan senyum di bibir itu, dan Yoongi melihat sudut mata Taehyung sedikit berair. Mungkin dia terharu, entah. Tapi Yoongi juga merasa dadanya penuh ketika menyadari saat itu dia tak makan sendirian, dia duduk bersma dua orang lain mengelilingi satu meja. Makan bersama.

"Sekarang kau bisa makan masakan Yoongi seperti yang kau inginkan."

"Eheh."

Jimin menyapu rambut depan Taehyung yang sedikit menghalangi matanya. Yoongi hanya memerhatikan interaksi dua lelaki itu. Pernah dia katakan kalau mereka mesra. Ya, mereka saling menyayangi. Menyayangi seperti itu adalah sesuatu yang wajar. Mereka telah hidup bersama dalam waktu yang lama, maka sayang itu adalah suatu kemakluman. Yoongi tahu, karena andaikan dia punya seseorang yang hidup bersamanya dalam waktu yang lama, dia akan menyayangi orang itu sama seperti Jimin menyayangi Taehyung, atau pun sebaliknya.

"Sudah, ayo makan." Yoongi tersenyum dan menyumpit sejumput chapjae, kemudian dia taruh di atas nasi milik Taehyung.

"Eh?" lelaki berambut pirang itu merasa terkejut.

"Makanlah," kata Yoongi.

"Terimakasih, aku makan ya." Taehyung menyuap nasinya.

Jimin mendapat perlakuan yang sama dari Yoongi. Lelaki cantik itu menaruh sejumput chapjae di atas nasinya juga. Lalu mereka saling melempar tatapan teduh, dan makinlah Jimin merasa jatuh cinta.

"Terimakasih, Yoongi-yah."

Ada perasaan senang ketika melihat mereka makan dengan nikmat. Nasinya bahkan belum dia sentuh, tapi Yoongi merasa sudah cukup kenyang.

"Apa sebelumnya... kalian hanya makan berdua saja?"

"Iya. Hanya ada Jimin dan aku." Taehyung melirik Jimin, pun Jimin yang sadar. Sekilas saja dia menangkap mata Taehyung, selanjutnya dia kembali melahap makanannya.

"Aku tinggal jauh dari orangtuaku. Sudah begitu, kami tak selalu bisa bertemu meski aku kembali ke kampung halaman. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya, pergi keluar negeri, perjalanan bisnis. Aku hanya dikirimi uang, tapi aku tak pernah dapat perhatian dari mereka."

Taehyung memerhatikan bagaimana Jimin mengunyah nasinya.

"Selama ini hanya Jimin dan nenekku yang memerhatikan aku. Setelah nenek meninggal, hanya dia yang menyayangiku."

Taehyung memasukkan nasi ke dalam mulutnya, dia kunyah, dan dia telan dengan susah. Lantas dia ambil sejumput chapjae dengan sumpitnya.

"Ah sial, kenapa ini enak sekali."

Dia mengunyah makanannya, tapi tangan yang memegang sumpit itu ia gunakan juga untuk menyeka sudut matanya yang basah. Sungguh, menceritakan kehidupannya sembari merasakan masakan Yoongi membuat sesuatu di dadanya bercampur aduk. Mungkin benar apa yang Jimin katakan, 'seperti masakan seorang ibu', dan Taehyung mengadu. Berkeluh-kesah dalam rasa yang dia kecap di lidahnya.

Jimin sadar kalau Taehyung menangis. Dia berhenti mengunyah. Tapi sebelum dia bertindak, tangan Yoongi sudah lebih dulu terulur.

"Taehyung, uljima..."

Yoongi menggantikan tangan Taehyung untuk menghapus jejak air matanya.

"Yoongi..."

"Ya?"

"Tinggallah bersamaku. Tinggallah bersama kami di sini."

Permintaan Taehyung senada dengan keinginan Jimin yang dia utarakan kemudian.

"Ya, tinggallah bersama kami."

Yoongi mencintai Jimin, tapi dia pun ingin memberikan kasih sayang untuk Taehyung. Sebelumnya dia kira Taehyung adalah orang yang tak memiliki masalah, hidup enak dengan segala kelebihannya. Tapi setelah tahu bahwa Taehyung juga rapuh, dia ingin menyayanginya.

Akhirnya Yoongi membuat keputusan untuk tinggal bersama dua lelaki itu dan pindah dari apartemen kecilnya.

.

Arun

.

Sore itu cuaca cukup hangat. Di penghujung musim dingin, bunga-bunga telah bersiap mekar, pun dengan daun-daun baru yang berkuncup. Sudah dua bulan Yoongi tinggal di rumah Taehyung dan satu kebiasaan baru baginya untuk memeluk lelaki itu ketika dia tidur.

Ya, Taehyung sering menggumam ketika dia tidur. Gumamannya terkadang seperti orang yang mengajak bicara, atau seperti orang yang hendak mengutarakan apa yang dia pendam ketika dia sadar. Terkadang juga dia melirih sedih. Yoongi hanya tak ingin dia begitu. Jadi sementara Taehyung terlelap, Yoongi naik ke ranjang untuk memeluknya agar dia merasa lebih tenang. Tidur lebih nyenyak.

Dan itu berhasil membuat Taehyung berhenti melirih. Terkadang, Yoongi berpikir kalau Jimin mungkin juga sering melakukan ini dulu. Tapi semenjak Yoongi tinggal bersamanya, Taehyung tidur sendiri dan jarang mendapat pelukan dikala tidur. Maka Yoongilah yang harus menggantikannya. Dia merasa begitu.

Karena Taehyung telah menerimanya dengan tangan terbuka, maka dia juga harus memberi timbal balik yang sama. Memberi kasih dengan tulus.

"Aku akan membangunkanmu menjelang makan malam nanti."

Bisik Yoongi di telinga Taehyung, meski lelaki yang tidur lelap itu tak menjawabnya sama sekali. Tapi melihat wajah Taehyung yang damai, Yoongi merasa tenang.

Dia pun memberi satu pelukan erat untuk Taehyung sebelum turun dari ranjangnya. Dia berniat menemui Jimin yang sejak siang belum juga keluar dari kamar.

"Jimin."

Panggil Yoongi sesampainya dia di ambang pintu. Dia membawa secangkir teh yang kemudian dia taruh di meja, di spasi kosong yang tersisa di antara buku-buku yang berserakan.

"Untukku?"

"Hu-um."

"Terimakasih."

Dalam dua bulan Jimin mengejar ketertinggalannya. Masa cutinya sudah hampir habis dan ia harus kembali berkuliah di semester depan. Dia belajar dengan sangat keras. Tiap hari dia berkutat dengan laptop dan buku-buku tentang kebumiannya. Dia orang yang serius dan gigih, banyak hal yang meski tak sempurna dia ingat kembali tapi dia utuhkan dengan mempelajarinya. Dia sudah bisa melakukan banyak hal seolah dia tak pernah mengalami amnesia parah.

Dia seperti Jimin yang biasa, hanya melupakan hal-hal kecil yang kadang tak disadari orang.

"Eh, kenapa warnanya begini? Ini apa?"

"Itu teh rosella."

"Jadi bunga di dalam cangkir ini namanya rosella?"

Jimin nampak takjub dengan sepucuk bunga berwarna magenta yang mekar di dalam cangkir yang airnya masih panas. Dia sejenak melupakan buku-bukunya. Yoongi mengulum senyum, melihat Jimin yang seperti itu sungguh membuatnya senang. Dia inosen, polos dan lucu karena ketidaktahuannya.

"Taehyung masih tidur?"

"Iya, nyenyak sekali."

"Dia kuat tidur lama." kekehnya.

"Ku bangunkan kalau sudah waktunya makan malam."

"Ada apa?" atensi Jimin teralihkan pada rambutnya yang dimainkan oleh tangan Yoongi. Dia mendongak untuk menangkap mata lelaki cantik yang berdiri di sampingnya itu.

"Potongan rambut pendekmu ini membuatmu terlihat lebih segar." Yoongi berhenti memainkan rambut Jimin, kemudian menaruh kedua tangannya di atas perut.

"Apa aku terlihat kuyu sebelumnya?"

"Bukan begitu." Yoongi tergelak. Pipinya yang gembil terangkat ketika dia tertawa. Jimin tak tahan untuk tidak mencubitnya karena gemas. "Aah..." Yoongi sedikit protes ketika pipinya dijawil. Jimin hanya memasang kekehnya.

Sisa kekeh itu berakhir pada pandangan teduh keduanya. Saling menatap dengan ulasan senyum.

Tangan Jimin mengusap perut Yoongi.

"Sudah genap enam bulan, ya?"

"Iya." tatapan Yoongi turun pada tangan Jimin yang melakukan gerakan memutar, pelan dan lembut. Sementara dua tangannya sendiri dia taruh di bagian bawah perutnya, menyangga.

Di kehamilannya yang ke enam bulan ini, perutnya sudah cukup terlihat besar. Bahkan kemeja putih sifonnya yang longgar pun tak dapat menyembunyikannya. Tapi dia tak masalah, bayi dalam perutnya bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan. Karena, dia punya Jimin. Dia punya seseorang yang mencintai bayinya.

"Bararti tinggal tiga bulan lagi..."

"Hm, tiga bulan lagi."

Jimin menggantikan tangannya dengan wajah yang dia dekatkan pada perut itu. Dia cium puncaknya lama, penuh kasih sayang. Lalu dia bersandar di sana, menggunakan telinganya untuk sekadar mencoba mendengar, apakah ada sesuatu yang akan menyambutnya dari dalam perut Yoongi.

"Kita mungkin harus segera memikirkan nama untuknya."

"Oh, secepat itukah?"

Mereka tertawa. Kelak, bayi itu akan lahir ke dunia yang penuh cinta.

.

Arun

.

END

Terimakasih banyak buat kalian yang sudah membaca cerita ini.

Terkadang saya bosan dengan manis-manisnya cinta, karena realita cinta itu bukan cuman ada manisnya aja, tapi juga pahit getir. Ada perjuangan, ada kesusahan untuk mencapai suatu kebahagiaan *ceilah*

Berhubung saya tipe yang nggak terlalu suka adanya eksistensi tokoh antagonis, jadi saya buat semuanya jadi orang lurus. Eh. Protagonis maksudnya. Tapi tetep ya, namanya manusia kan abu-abu, nggak ada yang bener-bener baik, nggak ada yang bener-bener jahat. Kadang kebaikan kita justru menyakiti orang lain, kadang keburukan yang kita lakukan justru menyelamatkan orang lain. Siapa yang tahu?

Di sini, tokoh-tokoh yang terlibat nggak saling menyakiti secara sengaja. Saya nggak tegaan, dan nggak terlalu suka ngedrama dengan segala unsur kesengajaan. Jadilah, tokoh-tokoh di sini sakitnya karena keadaan. Sekali lagi, ini dasarnya karena saya kurang suka tokoh antagonis.

Saya ingin semuanya bahagia di akhir cerita, karena saya penganut paham #happyendingforlaifeu

Kalau saya bahagia, saya harap kalian juga bahagia. Hahahaha.

Betewe, makasih buat Sendal Suwalo yang sudah mengingatkan tentang imbuhan –ah, dan –yah itu. saya juga baru ngeh, padahal dulu saya sering nulis Yunho pake imbuhan –yah, jadi Yunho-yah. Ini gara-gara teledor dan ngikutin orang, jadinya yang sepele aja kelewat ahahah. Maapkeun...

Ya udah ah, kebanyakan cuap-cuap nanti malah makin ngelantur gak jelas.

Intinya terimakasih buat semuanya yang sudah mendukung, serius, menulis adalah pelampiasan stress saya. Makanya ending yang bahagia menyelamatkan saya dari suramnya hari saya yang penuh pressure.

Sekali lagi terimakasih.

Sampai jumpa di oneshot baru atau di chaptered story lainnya.

Salam, penghuni kamar penjaga kasur.

Oh, tak lupa!

Selamat lebaran! Happy eid! Mohon maaf lahir dan batin ya semuanya. Saya sayang kalian dan selamat berbahagia.