Disclaimer:
Saint Seiya: The Lost Canvas © Teshirogi Shiori
Saint Seiya: The Legend of SanctuaryMasami Kurumada
Beyonders © Brandon Mull
Caharacters:
Aspros as Kaisar Maldor
Sisyphus as Pangeran Galloran
Regulus as Jason
Warning:
BL, OOC, Typo dan kecacatan lain
Regulus, seorang remaja biasa yang bekerja paruh waktu di kebun binatang hidupnya berubah 180 derajat ketika dia mendengar musik dari kandang kuda nil dan berakhir dengan masuk ke kerongkongan binatang tersebut saat hendak mencari asal suara. Akan tetapi, ternyata hal itu lah yang membuat Regulus bisa sampai di dunia bernama Lyrian, negeri yang dipimpin oleh kaisar jahat bernama Aspros.
Berawal dari pertemuannya dengan sekelompok pemusik yang menenggelamkan diri di air terjun, Regulus menemukan perpustakaan yang pada akhirnya akan mengubah takdirnya dan mengharuskan remaja tersebut melawan Sang Kaisar.
Sang Kaisar konon hanya bisa dikalahkan oleh sebuah kalimat yang setiap suku katanya tersebar di seluruh penjuru Lyrian. Saat singgah di perpustakaan, Regulus tidak sengaja membuka buku yang memiliki salah satu suku kata tersebut yang mengharuskannya mencari suku kata lain untuk melengkapi kalimat tersebut. Dari situ lah petualangan Regulus dimulai hingga akhirnya dia bertemu dengan Raja Buta yang hanya memiliki istana bobrok dan tiga pelayan yang selalu berpura-pura untuk mengelabuhi Sang Raja seakan-akan istana mereka masih berdiri megah dan kokoh.
Petualangan itu juga yang membuatnya bertemu dengan Si Pemindah, Rhadamanthys dan suku Amar Kabal. Saat seluruh Kata telah berhasil dikumpulkan, Regulus ditangkap dan dimasukkan ke penjara oleh Sang Kaisar. Kata telah diucapkan lantang-lantang dan telah hilang dari ingatan Regulus, tetapi Sang Kaisar masih tetap berdiri menyunggingkan senyuman seakan-akan Kata tidak berpengaruh pada dirinya dan usaha para pejuang Lyrian selama ini sia-sia.
Regulus bisa bebas berkat bantuan Rhadamanthys, yang memutuskan untung membangkang Sang Kaisar dan menolong Si Pemuda. Regulus yang berhasil lolos bertemu Si Raja Buta, Sisyphus di perjalanan yang sedang menyiapkan strategi perang untuk melawan Aspros dengan para kaum Amar Kabal. Akan tetapi, ada yang berubah dari Sisyphus sejak terakhir kali Regulus bertemu dengannya. Kini mata yang dulu kosong terlihat tajam dan dipenuhi cahaya.
"Sissy, matamu…" Regulus kaget. Di depannya bukan lagi Raja Buta bijak yang ditemuinya dulu. Kini yang ada di hadapannya adalah seorang raja dan juga kesatria yang gagah dan memiliki ambisi. Ambisi untuk menghentikan orang yang membuat hidupnya dan warga Lyrian lain menderita.
"Mata ini milik salah satu Pemindah milik Kaisar. Dia menawarkanku untuk bergabung dengannya, dan menerima mata ini agar dia bisa terus mengawasiku" Kata Sisyphus yang mengambil kain dari dalam saku dan melilitkan kain itu ke kedua matanya.
"Kenapa? Kenapa kau menerimanya? Apakah kau sudah menyerah untuk melawan Aspros?" Tanya Regulus bingung.
"Tidak. Kau tau kan dengan kebutaanku ini, sulit bagiku untuk membantu kalian dalam medan pertempuran. Lagipula Aspros tidak bisa ditembus dari luar. Dia harus dihancurkan dari dalam. Sebagai tambahannya, aku sebisa mungkin menutup mata ini agar Aspros tidak mengetahui rencana ataupun posisi kita."
"Jadi? Apa rencana selanjutnya?" Regulus memperhatikan Sisyphus yang kini telah menuju kudanya dan merapihkan barang-barang bawaan yang dikaitkannya di tubuh hewan kesayangannya itu.
"Rencananya adalah aku menerima tawaran Aspros untuk tinggal di istananya." Sisyphus menaiki kuda tersebut lalu memacunya kencang ke arah kediaman Sang Kaisar.
Regulus hanya bisa menatap baying-bayang Sisyphus yang telah hilang di ujung persimpangan. Kata-kata yang ingin diteriakkannya terpaksa mati di tenggorokannya. Dia hanya berharap Sang Raja yang telah dianggap sebagai pamannya sendiri itu mengambil keputusan yang tepat.
̶̶̶̶̶—Beyonders̶̶̶̶̶—
"Ah, Sisyphus, akhirnya kau datang juga. Aku sempat mengira kau berubah pikiran saat kontak kita terputus beberapa saat lalu ketika kau memutuskan mengikat kain itu di matamu." Sang Kaisar sedang membaca gulungan-gulungan kertas yang entah berisi apa saat Sisyphus melangkah ke ruang kerjanya.
"Ya. Dari awal sudah kukatakan, Aspros. Kau yang menawarkan padaku dan aku menerimanya, tapi bukan berarti aku menjadi milikmu dan tiba-tiba menjadi bawahanmu yang loyal." Sisyphus mendudukkan diri di salah satu sofa di ujung ruangan setelah sebelumnya membuka kain yang menutup matanya.
"Tidak, tidak. Aku memang mengaharapkan sikap seperti ini darimu, Pangeran. Sikap membangkangmu inilah yang membuatmu menarik." Aspros mengulas senyum sambil tetap menatap kertas-kertas itu dan sesekali menggoreskan tinta di dalamnya.
"Raja. Aku bukan lagi Pangeran setelah menikah dan menggantikan ayahku yang kau bunuh."
Tatapan Aspros berubah dingin. Pena yang sedang dipakainya mengambang di atas kertas.
"Aku menawarkanmu banyak hal. Bahkan tawaran itu masih berlaku hingga sekarang, tetapi kau menolaknya dan memilih untuk berkeluarga dengan perempuan bodoh itu."
"Jangan sekali-kali kau menghina keluargaku, Aspros." Sisyphus menatap Aspros dengan tatapan menusuk dan sama dinginnya dengan Sang Kaisar. Atmosfer ruangan berubah menjadi sedingin es.
"Aku bisa mengabulkan seluruh keinginanmu."
"Tidak. Kurasa kau tidak bisa mengabulkan keinginanku." Karena keinginan Sisyphus hanyalah kematian Aspros. Dengan itu Sisyphus keluar dari ruangan itu meninggalkan Sang Kaisar yang terdiam di kursinya.
̶̶̶̶̶—Beyonders̶̶̶̶̶—
Sudah 1 bulan sejak Sisyphus menerima tawaran Aspros untuk tinggal di istana dan sering kali dirinya diminta menemani Kaisar saat kunjungannya ke desa-desa. Saat sedang mengunjungi sebuah desa yang berada di barat daya dari istana Kaisar, yang terbakar dan hanya menyisakan debu dan kerangka rumah yang tidak lagi utuh, Sisyphus bertemu dengan seorang anak yang dengan ajaibnya selamat dari kebakaran itu sedangkan orang tuanya meninggal. Anak itu bernama Aiolia dan Sisyphus memutuskan untuk merawatnya setelah tentunya melalui perdebatan panjang dengan Aspros.
Sang Kaisar awalnya menolak kehadiran anak kecil yang kerap disapa Lia oleh Sisyphus. Dia berpikir Lia hanya membuatnya susah dan merepotkan. Akan tetapi lama-kelamaan anak itu mampu membuatnya tidak menyesal telah mengijinkan Sisyphus merawat Lia. Dia bahkan berpikir Lia bisa menjadi penyihir yang hebat dan menggantikannya sebagai Kaisar suatu saat nanti.
Beberapa hari belakangan ini Sisyphus terlihat aneh. Dia sering terlihat melamun, pergi saat sore hari dan baru kembali saat makan malam. Aspros menyadari hal itu, tetapi memilih untuk diam. Takut Sang Raja akan pergi jika terlalu dikekang.
Lia banyak menghabiskan waktu dengan Aspros entah itu belajar sihir sederhana ataupun sekedar menemani sosok yang dipanggilnya 'Papap' itu saat Sang Kaisar sibuk memeriksa kertas-kertas laporan dari seluruh daerah.
Hubungan Sisyphus dan Aspros tidak lagi sedingin dulu, mereka sering kali mengobrol, melihat tingkah Lia yang menggemaskan atau sekedar menikmati kehadiran masing-masing.
Hari itu Sisyphus terlihat lebih aneh dari biasanya. Pandangan matanya tidak fokus dan raut wajahnya menunjukkan kegelisahan.
"Pergilah bersama Lia ke desa Theo. Kudengar mereka mengadakan festival untuk anak-anak. Lia pasti menyukainya." Aspros menghampiri Sisyphus dengan Lia yang berada di gendongannya.
"Tidak mau. Hari ini Lia mau sama Papap saja." Lia menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Sang Kaisar. Berusaha mendapatkan kehangatan dari orang yang dikatakan warga Lyrian sedingin es dan tidak mempunyai hati.
"Pergilah. Kau sudah bersama denganku seharian penuh kemarin." Aspros memberikan Lia kepada Sisyphus.
"Oke. Tapi setelah Lia pulang nanti Lia mau main sama Papap." Lia menggembungkan pipinya, jelas masih tidak suka harus dipisahkan dengan Sang Kaisar.
Sisyphus hanya menatap interaksi Aspros dan Lia tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dari rautnya terlukis rasa bimbang yang sangat jelas.
Hari ini adalah hari dimana rencana penyerangan Kaisar akan dilaksanakan. Selama beberapa bulan tinggal di istana, Sisyphus mengetahui bahwa di bawah istana terdapat bola-bola Kristal berisi bom yang sangat banyak dan akan menghancurkan istana saat meledak.
Sisyphus, Regulus dan kaum Amar Kabal telah menyusun rencana agar Sang Kaisar mati bersama ledakan itu dan penderitaan rakyat Lyrian akan selesai. Akan tetapi, beberapa minggu belakangan Sisyphus mulai goyah, menurutnya Aspros tidak seburuk itu jika saja orang mau mengenalnya lebih dekat.
Sisyphus meninggalkan istana dengan langkah bimbang. Tidak bisa dipungkiri beberapa bulan bersama Kaisar, hatinya mulai luluh dan melihat sisi lain dari seorang Aspros. Dia tau seharusnya dia tidak boleh menumbuhkan perasaan apapun terhadap orang yang menyebabkan segala penderitaan yang dialaminya. Kehilangan ayah, istri, anak, istana dan juga rakyatnya. Memejamkan mata, Sisyphus memantapkan niat dan pergi meninggalkan istana bersama Lia.
Setelah beberapa lama mengendarai kuda, Sisyphus dan Lia sampai di tempat Regulus dan yang lainnya. Rhadamanthys dan beberapa orang lain telah menyelinap ke dalam istana untuk meledakkan bola-bola Kristal itu. Lia bermain bersama anak-anak kaum Amar Kabal, sedangkan Sisyphus dan yang lain bersiap-siap memberikan aba-aba untuk memulai ledakan.
Tepat sebelum aba-aba, suara Aspros terngiang di telinga Sisyphus. Salah satu keahlian Aspros.
'Aku tau kau mendengarku. Sudah kukatakan aku akan mengabulkan seluruh keinginanmu dan jika memang kematianku adalah keinginanmu, aku tentu saja akan memberikannya. Kau tau kan aku menyiksamu dan membunuh semua keluargamu karena kau memutuskan untuk menikah dengan perempuan itu? Aku minta maaf telah menyiksamu, tapi aku tidak menyesal telah membunuh perempuan itu. Sampaikan juga permintaan maafku pada Lia karena tidak bisa menepati janji untuk bermain dengannya lagi. Berbahagialah, Pangeran.'
"TUNGGU—" tanpa sadar Sisyphus meneriakkan kata itu keras-keras. Membuat Regulus dan beberapa kaum Amar Kabal menatap Sisyphus dengan heran.
Tentu saja dia terlaambat. Aba-aba telah diteriakkan dan suara Aspros telah menghilang, menyisakan keheningan yang menyayat dan air mata yang tanpa sadar jatuh dari mata Sang Raja. Getaran ledakan terasa hingga tempat Sisyphus berdiri. Sekali lagi dia terlambat untuk menyelamatkan orang yang dicintainya.
̶̶̶̶̶—Beyonders̶̶̶̶̶—
Ketika hati mulai menerima cinta yang datang, membalas Sang Kaisar yang telah lama menunggu, merengkuh kebahagiaan yang tersembunyi di balik debu kebencian, tepat saat itu pula semuanya lenyap.
Saat itu langit berduka, untuk mereka yang cintanya tak akan pernah bersatu. Bagai iblis dan malaikat, bumi dan langit, siang dan malam. Mereka hidup untuk saling membenci dan mati di tangan yang lain. Mereka seperti matahari dan bulan yang harus mati setiap hari demi melihat yang lainnya bersinar terang.
Eros menangis. Untuk para manusia yang tidak ditakdirkan untuk bersama walau sang dewa cinta telah melesatkan panahnya.
Kini musuhnya telah tiada. Begitu juga dengan cintanya. Terlambat. Dia menyadarinya begitu terlambat. Semua telah hilang. Hanya menyisakan panah Eros yang menusuk hati semakin dalam. Menyesakkan. Meninggalkan lubang menganga yang menjadi saksi bisu kisah cinta dua manusia yang tak akan pernah terbalaskan.
-Fin-
Maaf ya kalau akhirnya mengecewakan. Saya udah lama banget gak nulis dan sekarang sedang memaksakan untuk kembali menulis dengan mencoba menyelesaikan satu per satu project saya. Maaf banget kalau jadinya kerasa dicepetin banget karena saya mau langsung fokus ke aspros x sissy. Untuk yang mau sequel/prequel/momen-momen hubungan Aspros x Sissy diperjelas/bahkan pair lain bisa kasih tau di lewat review. Kritik dan saran membangun akan sangat membantu.
Salam,
Rim.
