A/N: Finally, it's over. *phew*

Enjoy! ^^

A New Beginning

Dissidia: Final Fantasy is belonged to Square-Enix

Entry Zero: Chronicles of the Black Sword is belonged to me ^^


Matahari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Perlahan, sinarnya mulai menyinari bangunan reruntuhan. Cosmos, Lightining, Laguna, Tifa, Bartz, Vaan, Yuna, Angeal dan Genesis menghampiri Cloud yang masih terkapar di lantai. Tifa langsung duduk di samping Cloud untuk memastikan keadaannya.

"Nggh..." Perlahan, Cloud membuka matanya.

"Ti-Tifa...?"

"Oh, syukurlah!" Tifa terlihat lega, begitu juga dengan yang lainnya. Bartz membantu Cloud berdiri. Kemudian, Cosmos mendekati bekas patung Chaos.

"Aku akan berada disini untuk memastikan tidak ada kejadian yang sama terulang kembali." Kata Cosmos. Cloud mengangguk. Kemudian dia melihat jauh ke arah tempat dia bertarung semalam. Dia tersenyum.

'Semuanya telah usai...Noir...terima kasih.'

Kemudian mereka semua merayakan kemenangan dengan bahagia. Cosmos tersenyum.

'Kutukannya telah lenyap untuk selamanya...'


Di suatu dimensi dunia lain... (A/N: Bukan pada saat yang sama, yah.)

Di suatu tempat yang sepi, ada seorang anak lelaki berambut perak, kedua matanya bewarna hijau emerald dan mengenakan kalung perak sedang terkapar di tepi jalan.

"Nggh..."

Saat tersadar, dia bangun dan melihat sekitar.

"Di-dimana ini...? ...Apa yang..." Sesaat kemudian dia memegangi kepalanya sendiri.

"Mengapa...mengapa aku tidak bisa mengingat apapun? Siapa aku...?" Pria kecil itu terus memegangi kepalanya. Tak lama, muncul dua pria yang berjalan ke arahnya. Yang satu terlihat seperti seorang paruh baya, yang satu lagi terlihat masih muda, mungkin umurnya sekitar 17-20 tahunan. Keduanya mengenakan jubah hitam. Pria kecil ini terkejut sekaligus takut. Dia mundur beberapa langkah sampai akhirnya jatuh tersandung oleh sebuah batu di belakangnya. Tiba-tiba dia melihat tangannya sendiri terluka. Luka itu bukan berasal dari dia tersandung tadi, melainkan luka goresan. Dia melihat darah keluar dari lukanya itu.

Mungkin...ini adalah pertama kali dalam hidupnya dia melihat darahnya sendiri...

Tiba-tiba salah satu dari pria tadi memegangi tangannya dan mengobati lukanya.

"Kalau lukamu dibiarkan nanti akan terkena infeksi." Kata si pria muda.

"Te-te-terima kasih..." jawab anak itu dengan nada ketakutan.

Kemudian, si pria paruh baya mendekati anak itu. Dia menatap anak itu lekat-lekat. Pria itu sedikit terkejut.

"Mengapa...? Mengapa dia ada disini?' batinnya. Kemudian dia bertanya pada anak kecil itu.

"Siapa namamu, nak?" tanyanya dengan ramah.

Anak itu terdiam. Dia mengigit bibirnya sendiri dan menunduk. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Di pikirannya muncul bayangan sesosok pemuda berambut pirang, jabrik dan membawa pedang besar, lalu muncul lagi seseorang yang memiliki rambut perak yang panjang dan membawa pedang yang panjang pula, kemudian anak itu membuka mulutnya...

"Noir..."

"Apa?" tanya si pria paruh baya itu keheranan.

"Namaku...Noir..."


A/N: Fin.

*Author dilempari sendok dan garpu* Oiya, bonus ending ini sebenarnya petunjuk untuk cerita original saya kelak (anak FFC pasti tahu) *plak!*

Yup, see you next time~ :D *kabur*