Author : Misa Hwang
Title : Hurt.. (Chapter 4)
Main Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Kai Kim
Other Cast : Byun Baekhyun, Girl (OC)
Genre : Angst, Sad
Warning : Yaoi, AU
Previous Ep:
Dengan perlahan Luhan menaiki pagar pembatas jembatan. Jalanan Seoul di hadapannya seakan mengundangnya, tak sabar untuk segera bersua. Dirasanya kedua tangannya yang menggenggam pinggir pembatas mulai bergetar.
Sehun akan berubah setelah ini. Pasti.
Luhan mulai melepaskan satu tangannya…
Sekarang hanya tangan kirinya sajalah yang menopang tubuh kecilnya di atas pagar jembatan penyebrangan ini. Hanya tinggal melepas satu tangan itu saja, dan ia akan terbebas dari semuanya. Tapi mengapa rasanya sulit sekali untuk melompat? Luhan merutuki dirinya yang lemah.
Aku memang pecundang. Ke mana semua keberanianku tadi pergi?
Luhan menghela nafas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang penuh keraguan. Berusaha mengumpulkan keberaniannya kembali.
"Hyung!"
Suara berat dan serak itu, diikuti helaan nafas tak teratur yang menyeruak di tengah keheningan. Luhan menolehkan kepala ke sumber suara. Benar saja.
Kai Kim. Berdiri tak jauh dari Luhan berada dengan tersengal-sengal. Bahunya naik turun seiring nafasnya yang tak karuan karena kelelahan. Walau udara sangat dingin, Luhan dapat melihat peluh mengalir di wajah dan tubuh namja itu. Kai menatapnya tajam, membuat Luhan sedikit tercekat.
"Kai? Wae…"
Dengan sedikit terseok, Kai mulai berjalan mendekati Luhan.
"Ja.. Jangan halangi aku!" desis Luhan.
"Tak akan."
"Eh?"
"Kalau kau ingin lompat, lompat saja. Aku tak akan menghalangimu."
Kai bersandar di pagar pembatas di samping Luhan, masih berusaha mengatur nafasnya yang tak juga kembali normal. Didongakkannya kepala menatap langit malam kota Seoul yang suram.
"Lompat saja, dan lupakan semuanya. Lupakan Sehun, lupakan keluargamu, lupakan teman-temanmu, lupakan kenangan menyenangkan dan menyedihkan selama ini yang kau alami."
Kai menolehkan kepalanya, menghindari tatapan Luhan. Tidak, ia tak bisa menatap mata namja itu sekarang. "Lalu…"
…
"Lupakan aku dan perasaanku yang tak pernah kau anggap ada selama ini, hyung…"
Mata Luhan sontak membesar, rasa kaget dan tak percaya bercampur jadi satu mendengar kata-kata yang terucap dari bibir namja di sampingnya itu. Sebelum ia sempat bersuara, sepasang tangan kurus namun kekar telah memeluk pinggangnya dan menariknya ke belakang. Tanpa kesulitan tangan itu mengangkatnya, menjauhkannya dari pagar pembatas yang berbahaya itu.
Semua terasa begitu cepat dan saat Luhan menyadarinya, ia sudah terduduk di lantai jembatan yang dingin. Namun tubuhnya sama sekali tidak merasakan dingin, karena Kai Kim tengah memeluknya erat.
"Apa keberadaanku begitu tak terlihat olehmu, hyung?"
Luhan merasakan nada terluka di balik suara lirih itu.
"Apa aku tak cukup pantas untukmu, hyung?"
"Kai, tunggu.. Maksudmu…"
Kai mengangkat sebelah tangannya, membuat namja cantik di hadapannya sedikit menghindar sambil memejamkan sebelah matanya, mengira Kai akan menamparnya. Namun ternyata tangan itu hanya mengelus pipinya pelan. Sama sekali tak berniat menyakiti.
"Aku mencintaimu, Xi Luhan."
Begitu saja. Akhirnya pengakuan itu pun terucap. Luhan tak berkedip menatap mata Kai yang kini sudah digenangi air mata. Kai mendekatkan wajahnya pada Luhan, berbisik lirih di telinganya, "Boleh aku menciummu?"
Melihat kesungguhan dan ketulusan namja itu, Luhan tak kuasa berkata apa-apa selain menganggukan kepalanya, dan ikut menangis dalam diam saat namja itu menciumnya. Luhan pun harus mengakui, ia tak pernah merasakan ciuman selembut dan setulus ini sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya selama beberapa hari ini, Sehun tak lagi memenuhi pikirannya.
Kai menyudahi ciuman itu setelah beberapa saat. Luhan menundukkan kepalanya, pipinya memerah malu. Kadang ia benci dirinya yang bertingkah layaknya yeoja, apalagi di saat-saat seperti ini.
Kai tersenyum kecil melihat reaksi hyung-nya yang menurutnya sangat manis. Dihapusnya air mata yang masih tertinggal di pipi namja cantik itu seraya bertanya, "Mengapa hyung menangis?"
"Karena kau menangis."
"Mulai sekarang jangan menangis lagi, arra? Kau sudah terlalu banyak menangis, hyung."
"Hanya jika kau juga behenti menangis, Kai-ya.."
Kai tertawa pelan, "arraseo. Aku janji. Kau juga berjanjilah padaku, hyung!"
Luhan meletakkan satu tangannya di dada, bersikap seolah akan mengucapkan ikrar, membuat Kai tertawa lebih keras. Dengan gemas ditariknya pipi kiri Luhan, membuat namja mungil itu sedikit meringis.
"Mi.. Mian, apa aku menyakitimu, hyung?" panik Kai, buru-buru melepaskan tangannya.
Luhan mengaduh, memegang pipinya seolah ia sangat kesakitan, membuat Kai semakin panik. "Hyung, mianhae. Aku tak bermaksud menyakitimu hyung. Hyung, gwenchana?"
Tawa renyah tiba-tiba keluar dari mulut Luhan. "Aku tak akan kesakitan hanya karena kau cubit, pabbo. Aku tak selemah itu!"
Kai menghela nafas lega, tak bisa menahan senyumnya. Matanya lekat memandangi wajah namja yang tengah tertawa itu. Saat Luhan tertawa, bukan hanya mulutnya saja yang menyunggingkan tawa, namun matanya juga seakan berbicara. Cantik. Ia sangat cantik saat sedang tertawa. Wajah itulah yang membuat Kai pertama kali jatuh cinta padanya. Membuat Kai ingin menjaganya, melindunginya, melakukan apa saja agar tawa itu tak pernah hilang.
"Tapi…"
Lamunan Kai buyar seketika. "Ta.. Tapi apa, hyung?"
Luhan diam sejenak, kepalanya terkulai. Kai menatapnya khawatir. "Hyung?"
"Aku kedinginan Kai, bisa kita pulang sekarang?" akhirnya Luhan menyahut sambil terkekeh pelan.
"Huh, kukira apa! Kau ini suka sekali mengerjaiku, ya?" gerutu Kai pelan. Luhan terus saja terkekeh, merasa berhasil menggoda Kai.
Kai bangkit dari duduknya, mengulurkan sebelah tangannya yang langsung disambut oleh Luhan.
"Ayo kembali ke flat kita."
"Kau mengucapkannya seolah-olah kita sudah menikah saja, Kai," tukas Luhan dengan nada meledek.
Kai memutar bola matanya, alih-alih menjawab ia malah meraih tangan Luhan. Menggenggam tangan itu erat seakan ingin memberinya kehangatan.
Mereka pun pulang dengan bergandengan tangan dalam diam. Tapi bukan diam karena canggung atau rasa tidak nyaman, melainkan diam yang menenangkan dan damai. Luhan merapatkan tubuhnya pada Kai. Kai meresponnya dengan menautkan jari-jari tangannya dengan jemari kecil Luhan, melukiskan senyum di bibir tipis Luhan.
Luhan menunduk lagi, dan tiba-tiba pandangannya berhenti pada alas kaki yang dikenakan Kai. Namja mungil itu tercekat, saat menyadari bahwa Kai masih mengenakan selop tipis yang biasa dikenakannya hanya di dalam flat.
"Kai, berhenti."
Kai menghentikan langkahnya, wajahnya menyiratkan tanda tanya. Perlahan Luhan berjongkok, melepaskan sebuah selop dari kaki Kai. Benar saja. Punggung dan jemari kaki namja itu telah dipenuhi berbagai luka lecet yang pasti menyakitkan. Luhan menatap Kai, meminta penjelasan.
"Tadi aku sangat buru-buru, aku bahkan tak sadar belum mengganti selop rumah dengan sepatu. Pabbo, ya?" kekehnya pelan seraya mengisyaratkan Luhan untuk berdiri kembali.
"Apa kau mengikutiku?" tanya Luhan, lirih.
Kai mengangguk, "aku melihatmu saat kau bangun. Diam-diam aku mengikutimu, hyung. Tapi di tengah jalan aku kehilangan jejakmu. Untung saja aku berhasil menemukanmu lagi di waktu yang tepat."
"Mengapa kau melakukan itu, Kai? Mengikutiku, mencariku sampai kelelahan dan kakimu lecet. Mengapa kau tak membiarkanku begitu saja?"
Kai tersenyum. Diangkatnya lengan Luhan yang tengah bertautan dengan lengannya, lalu dikecupnya jemari kecil namja itu dengan lembut. "Kurasa kau sudah tahu jawabannya, hyung."
Aku belum pernah menemukan orang sebaik dirimu, Kai..
"Tentu saja karena aku mencintaimu."
Bahkan ungkapan cintamu terdengar begitu tulus. Apa kau begitu mencintaiku, Kai? Aku yang seperti ini? Bagaimana kalau kelak aku mengecewakanmu? Jujur aku takut. Aku tak ingin melukai orang sebaik kau. Tapi aku pun hanya namja biasa yang ingin dicintai, disentuh, disayangi, dijaga… dan aku bisa mendapatkan semua itu darimu.
Luhan mendongakkan kepalanya, berusaha menemukan kejujuran di balik tatapan mata namja yang lebih muda darinya itu. Dan ia berhasil menemukannya. Kejujuran dan ketulusan terpancar jelas dari kedua bola mata jernih itu. Namun tiba-tiba wajah Sehun menyeruak, menggoyahkan hati Luhan.
Apa aku salah jika menerima cinta namja ini? Tapi bagaimana dengan Sehun? Aku tak bisa meninggalkannya. Dia hidupku, dia segalanya! Tapi aku juga tak ingin menolak Kai setelah semua yang ia lakukan untukku. Mungkin seumur hidup aku takkan menemukan orang sebaik dia lagi.
"Hyung?"
Apa aku tak boleh memiliki dua namja ini di sisiku? Aku tak ingin kehilangan keduanya. Tapi itu berarti aku menduakan Sehun! Tapi Sehun juga menduakanku, berarti tidak apa-apa, kan? Lagipula selama tidak ketahuan, semua akan baik-baik saja, kan?
"Gwenchana?" Kai melingkarkan tangannya di pinggang Luhan, menarik namja itu dalam pelukannya. Rasa hangat kembali menyelimuti tubuh dan hati Luhan. Dirasakannya tangan Kai menyapu rambutnya lembut. Luhan memejamkan matanya, menikmati tiap sentuhan penuh kasih sayang yang diberikan Kai padanya.
Aku bisa saja menduakan Sehun. Tapi, menduakan namja sebaik Kai? Hanya orang tak punya hati yang bisa melakukannya.
"Kai…"
"Ne?" tanya Kai lembut.
"Aku juga mencintaimu, Kai. Nado saranghae."
Terlihat senyum bahagia yang tak pernah Luhan lihat sebelumnya perlahan merekah dari bibir halus namja tampan itu. Dan Luhan pun menyadari bahwa ia sudah mengambil keputusan yang tepat.
Aku akan memutuskan Sehun.
~TBC~
Sebelumnya aku minta maaf ya kalo chapter ini mengecewakan T.T Makasi banget banget buat kritik and sarannya di chapter sebelumnya. Ditunggu komennya lagi dari author dan reader yang baik *bow. Oh ya, yang mau ngobrol2 bisa add fb aku di Arifia Sekar CassiElf, ya. ^^ Misa akan berusaha membuat chapter yang lebih bagus dan panjang lagi ke depannya, hehe.. Sayonaraaaa…
SparkSomnia : Maksudnya ngelamar aku kali, chingu #plak. Iya untung aja Kai datang menyelamatkan Lulu, hehe.
AIrzanti : Aduh chingu lucu banget, aku ngakak pas baca: " Salah2 si temen aku itu aku bunuh #plak". Lulu ga jadi lompat tuh, ayo fave.. hehe :P
hatakehanahungry : Hehe chingu dukung Kailu, kah? Soal Baekyeol, nanti tunggu aja :D
Saftlack : Wah, ternyata Sehun kelilit utang sama saeng toh haha.. Yasud aku ambil Kai, saeng ambil Sehun sanah :D
BlackPearl08 : Iya nih chingu, sedih juga nasib si Sehun. Wah, ada hubungan apa chingu dengan Lulu? Kok bawa-bawa masalah anak? Hiks.. T.T #plak #abaikan
aoora : Lulu masih hidup dan sehat wal'afiat, kok.. kamsa chingu :D
Kyeopta : Aduh, jangan nangis kyeopta-ssi.. Cup cup.. :D Aku masih menimbang-nimbang endingnya mau angst atau happy end nih.. Tunggu aja kemunculan Chanyeol dan tokoh lainnya di chap selanjutnya ya..
Park Sung Rin : Tenang chingu, Kai datang menyelamatkan Lulu:))
Lala : Annyeong juga chingu.. Makasi udah review. Penasaran? Ikuti terus ff nya, hehehe
BAEKYEOL SHIPPER HARD : Chanyeol nanti muncul di saat yang tepat, hehe.. Ditunggu yah :D Baekhyun? Okee tenang chingu..
teeWonMicky : Tenang, ga jadi kok chingu. Amin hehe :D
rizkyeonhae : Kai dataaang . Oke chingu, Misa usahain.. :))
dinodeer : Gwenchanayo chingu.. Makasi yah udah review. Sehun itu emang jadi tokoh abu-abu sih di ff ini #plak. Baca terus yah, ching
HunhanLove : Jangan nangis chingu.. Semua akan indah pada waktunya (?)
ahSanHyun : Hehe salam kenal ya istrinya Baekkie, saya istrinya Sehun #plak. Makasi ya udah terharu sama Kai, mari kita dukung perjuangan Kai! #abaikan
Pelangi Senja : Annyeonghaseyo author-ssi, makasi bangeeet buat kritik dan sarannya. Makasi juga udah suka karakter Sehun di sini, aku terharu jadinya.. T.T Dio, ya? Nanti aku pikirkan, bener kasian juga Kai nya kalau sendiri hehe.. terus ikutin ff ini yah, kamsahaeyo :D
: Hehe maklum authornya lagi galau akut soalnya. Hihi Thehun nggak sekecil itu kok, chingu.. :D Makasi yah, muach muach juga buat lala-ssi 3
