Assassination Classroom Yuusei Matsui
Story by gugigi173
Warning : OOC, typo, humor garing, dll.
.
.
Tidak Harus
Chapter 4 : Perasaan
Suasana kelas E masih riuh dengan suara para murid. Megu yang hanya memperhatikan teman-temannya yang ribut, hanya bisa menghela nafas. Diliriknya sahabat pirangnya yang sedari tadi tak terlihat bergerak se-inchi pun.
"Rio, kau tak mau melakukan apapun?" Megu menarik kursi kosong yang tak jauh dari meja Rio.
"Megu-chan."
"Ada apa?" tanya Megu khawatir melihat temannya yang tak bersemangat.
"Entah kenapa aku sedikit khawatir dengan Bitch-sensei. Tiba-tiba dia pergi, mungkinkah dia tengah menangis di suatu tempat?"
Sungguh Rio merasa gelisah sekarang. Meskipun menyebalkan, dia tetap mengkahawatirkan guru pirangnya.
"Entahlah, mungkin ucapanmu benar, Rio." keduanya hanya bisa menghela nafas bersamaan.
"Kalau begitu, mau jalan-jalan? Mungkin saja secara kebetulan kita bisa menemukannya?" usul Megu sambil bertopang dagu.
"Boleh juga, ayo!"
.
.
"Aaah, tidak ada di ruangan manapun. Bagaimana ini?" Rio menatap Megu yang hanya menggeleng kecil. Sejak tadi ia dan Megu sudah mengelilingi seluruh ruangan di sekolah bobroknya, tapi tak juga mereka menemukan si guru pirang.
"Kita belum mengecek ruang guru." ucap Megu setelah berpikir agak lama.
Rio hanya tertawa hambar mendengar ucapan temannya. "Jangan, di sana pasti ada Koro-sensei dan Karasuma-sensei, aku tak mau mengganggu." Rio membayangkan Koro-sensei yang ingin menasehati, malah balik diceramahi Karasuma-sensei.
"Hmm, benar juga. Kita cari ke tempat lain saja. Mungkin belakang sekolah?"
"Ya, ayo!" Rio tersenyum dan menarik tangan Megu. Siapa yang tahu kalau mereka bisa menemukan Bitch-sensei di sana?
.
.
Sementara itu, di ruang guru ...
"Jadi ..." Karasuma melirik makhluk di sampingnya. "Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?! Berhenti menatapku, gurita sialan! Itu menjijikkan!" Karasuma benar-benar sudah tak bisa menahan amarahnya. Sejak lima menit lalu seekor gurita kuning menatap intens padanya, membuatnya risih dan membuyarkan konsentrasinya.
"Nyuaaa, maafkan aku! Se-sebenarnya ada sesuatu yang hendak aku ambil, tapi aku lupa!" Koro-sensei yang mudah merasa bersalah itu pun mulai panik. Suara 'kasak-kusuk' khas orang yang mencari sesuatu dalam tumpukan barang pun memenuhi ruang guru kecil itu.
"Haah, berhenti berpura-pura. Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Karasuma yang melihat kebohongan Koro-sensei.
Koro-sensei yang masih panik pun menghentikan kegiatan beraktingnya yang buruk. "I-itu..."
"Katakan saja, apa kau tidak tahu kalau aku sedang sibuk?" Karasuma menatap kembali laptopnya dan melanjutkan tugasnya.
"Karasuma-san, ada yang ingin kubicarakan denganmu." Rasa paniknya mulai menghilang, suara Koro-sensei tak lagi gagap. "ini tentang—
"Hm?" Karasuma tidak mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
—Irina-sensei."
.
.
Rio dan Megu kini berada di hutan belakang sekolah. Sudah lima belas menit lamanya mereka mondar-mandir antar pohon satu ke pohon lainnya, berharap menemukan gurunya di salah satu pohon-pohon besar itu.
"BITCH-SENSEEEEEEI!" teriakan dua gadis terdengar menggema dalam hutan.
"Dimana dia sebenarnya?" Rio yang mulai merasa lelah mengambil ranting pohon yang tergeletak di dekat kakinya. Dia tak habis pikir, bagaimana mungkin Bitch-sensei ada di dalam hutan gelap seperti ini? Wanita yang sedang menangis memang aneh!
Megu meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Ssst, Rio-chan! Kecilkan suaramu!"
"Eh? Memangnya kenapa Megu?" tanya Rio polos sambil membuang ranting pohon yang sudah patah dari genggamannya.
"Apa kau mendengar sesuatu?"
Rio berusaha berpikir keras, lalu mencoba menajamkan pendengarannya. "Sesuatu? Ah, maksudmu suara jangkrik?"
"Bukan!" satu pukulan didaratkan Megu pada kepala teman pirangnya, membuat Rio menjerit kecil.
"Sakit tahu! Memangnya kau dengar apa sih?!"
"Ssst!" Megu menutup paksa mulut Rio dengan tangannya, menyuruhnya untuk diam.
Dengan susah payah Rio berusaha melepas tangan yang membekapnya. "Sudah kubilang, aku tak mendengar ap—
Tiba-tiba suara tangisan seorang wanita tertangkap telinganya. Rio pun tersenyum, merasa dia sudah menemukan apa yang dia cari. "Aah, akhirnya ..."
Rio dan Megu berjalan perlahan menuju asal suara—sebuah pohon yang cukup besar, mereka tahu siapa gerangan pemilik suara tangis itu.
"Bitch-sensei." mereka melihat guru pirangnya tengah berjongkok dan menangis sesenggukan di bawah pohon. Yang dipanggil menengadahkan kepalanya kepada dua gadis yang kini berdiri di depannya. Matanya memerah karena menangis, dan pakaiannya terlihat agak kotor.
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?" tanya Rio lembut, tidak ingin menyakiti perasaan gurunya yang tengah terluka.
"Ti-tidak ada." Irina memalingkan wajahnya yang penuh air mata, dia sungguh tidak ingin terlihat seperti itu di depan muridnya sendiri.
"Bitch-sensei, kau tidak perlu berbohong. Kami tahu perasaanmu sebenarnya." ucap Rio sambil menyeka air mata gurunya dengan lembut.
"Ceritalah pada kami, Sensei. Kami ada untukmu." Megu ikut berjongkok bersama Rio.
Tangis Irina yang semula sudah mulai mereda, tiba-tiba malah semakin menjadi-jadi. "Uuuuh, Karasuma itu! Karasuma sialan itu! Dia benar-benar membuatku kesal! Bagaimana mungkin dia berbicara seperti itu kepada seorang wanita! Benar-benar bukan pria sejati!"
"Apa dia tahu betapa sakitnya hatiku mendengar kata-katanya yang kejam itu?! Dia memang brengsek! Tidak tau diri! Menyebalkaaaaaan!"
Rio dan Megu terkikik pelan melihat gurunya yang marah seperti anak kecil yang merajuk minta dibelikan es krim. "Tapi kau menyukainya 'kan, Sensei?" tanya Megu menyeringai.
"Hah?! Tidak mungkin! Dan tidak akan pernah!"
"Benarkah? Bukankah dulu dengan terang-terangan kau mengatakan pada kami kalau kau menyukainya? Kau juga tanpa ragu menggodanya bukan?"
Rio sweatdrop melihat temannya yang berusaha memojokkan gurunya yang tengah marah-marah dan menangis ini. 'Megu, kau ini ...'
"Uh, t-tapi itu dulu." rona merah terlihat jelas di pipi Irina yang tengah salah tingkah. Melihatnya membuat Megu kembali menyeringai. "Tuh, benar 'kan?"
"S-sudah ku bilang itu dulu, sekarang tidak lagi. A-aku sudah melupakannya, karena sekarang aku ... membencinya. Y-ya, aku membencinya sekarang! Benci, aku sangat membencinya!"
"Aktingmu buruk, Bitch-sensei ..." Rio mengambil daun yang jatuh dari rambut Sensei-nya.
"Sudah ku duga, kau takkan bisa membohongi perasaanmu sendiri kalau sudah menyangkut soal cinta, Sensei." Megu merasa menang sekarang.
"Apa maksudmu?"
"Kau bilang kau membencinya karena dia mengataimu bukan? Aku yakin rasa cintamu tidak akan hilang begitu saja hanya karena hal seperti itu. Cinta yang sudah lama terpendam, tidak akan hilang dalam satu hari saja. Makanya, berhentilah membohongi dirimu sendiri, ya?" Megu membantu Bitch-sensei berdiri. Sedangkan Rio hanya melongo mendengar kata-kata yang diucapkan sahabatnya, ini pertama kalinya Rio mendengar Megu berkata seperti itu. Rio ikut berdiri, lalu membantu merapikan pakaian dan rambut Sensei-nya yang sudah tidak keruan.
"Uh, tapi—
"Ssst, tenang saja Sensei, kami akan membantumu. Aku janji kalau hubungan kalian berdua akan kembali seperti sebelumnya. Koro-sensei juga akan membantu kok." ucap Megu menenangkan.
"Uuuh, terima kasih, Nakamura, Megu! Kalian memang murid-muridku! Hueee."
"Nee, Bitch-sensei. Berhentilah menangis, kau jelek kalau menangis."
"Huaaa, kau kejam Nakamura!"
` "Sejak tadi aku penasaran. Bitch-sensei, seberapa tebal make-up itu? Apa kau sadar kalau itu luntur?" Megu menunjuk-nunjuk wajah Bitch-sensei. Dengan maskara hitamnya yang luntur itu, bisa dibilang yaa—mengerikan?
"H-huh?! Benarkah? Huaaaa, aku pasti terlalu banyak menangis. Padahal aku perlu waktu sampai dua puluh menit untuk menyelesaikannya. Hiks, hiks."
"Maa, daripada itu, sekarang teman-teman pasti mengkhawatirkanmu, Sensei." Rio berusaha menenangkan Sensei-nya yang mulai menangis lagi.
"Yaa, aku akan minta maaf pada mereka nanti. Maafkan aku ya, sudah membuat kalian berdua kerepotan karena harus mencariku."
"Tak apa, Sensei. Ini keinginan kami sendiri kok!"
"Sudahlah, lebih baik kita kembali ke kelas sekarang!" ajak Megu pada mereka berdua.
"Sebelum itu, biarkan aku cuci muka dulu sebelum bertemu mereka semua."
"Ya, ya, terserah dirimu, Sensei."
Ketiganya berjalan kembali ke bangunan kelas, sesekali mereka bercengkrama dan tertawa bersama. Irina terhenyak, ternyata masih ada orang-orang yang peduli pada dirinya. Sungguh, ia tak ingin semua ini berakhir. Ia tak ingin kehilangan perasaan yang ia dapat dari orang-orang yang dekat dengannya. Perasaan hangat ini, perasaan yang tak pernah ia rasakan selama hidupnya sebagai seorang pembunuh. Perasaan—bahagia.
.
.
.
.
'Tunggu dulu, gurita kuning itu juga akan ikut membantuku?!'
-TBC-
A/N :
Akhirnyaaa, saya bisa update satu chapter sampai 1k words! *tertawa nista
Untuk kali ini saya tidak akan menulis banyak. Cuman minta komentar sama saran aja kok. *kedip kedip
Jaa, matta nee!
