-Sequel From Too Little Too Late-

-Youre not Sorry Dear 4-

©Masashi Kishimoto

Menma x Fem Naruto x Sasuke x Shion

Hurts, Drama, Romance, Comfort

Mature Content

.

.

.

.

.

4 Years ago...

Naruto terpaku melihat foto yang berisikan Sasuke sedang dipeluk oleh seorang wanita berambut pirang dengan surai blonde pucat. Tak percaya tapi Naruto telah mengecek semua keaslian dari foto itu, bukan hanya Naruto yang terluka namun juga Shikamaru, Nejii dan Sai yang melihat keterdiaman Naruto. Hanya air mata yang terlihat dari wajahnya yang semakin hari semakin terlihat dewasa dan matang diusianya yang sudah memasuki umur 24 tahun.

Shikamaru sangat tahu apa yangs sebenarnya berkecamuk dalam batin Naruto. Ini bukan yang pertama untuk Naruto. Ini bukan rasa sakit yang baru dirasakannya. Namun karena sudah terlalu sering mengalami dan menjalani semuanya, sekan semuanya menjadi membeku. Tak ada satupun orang yang bisa menebak apa isi pikiran Naruto sebenarnya. Namun terlihat sebuah pergerakan. Naruto terlihat meraih ponsel genggamnya membuka aplikasi e-mail yang berada didalamnya.

Nejii terlihat frustasi melihat sikap poker face yang Naruto tampakkan. Begitu juga Sai, mereka sangat was-was dengan keadaan Naruto. Mereka tahu mungkin Naruto adalah manusia paling tabah, sabar, dan paling tenang emosinya. Namun tak pernah ada yang tahu dari sikap tenang Naruto merukan sebuah bom waktu yang kapan saja bisa meledak.

"Hallo", suara sedingin es menggema di apartemen Naruto yang berada di Paris.

"Naru"

"Kau dimana Sasuke?'

"Aku sedang berada di apartement"

"Akh baiklah. Mungkin aku akan pulang minggu depan, maaf!", dengan wajah datar namun nada suara yang begitu bergetar seolah menyesali keputusnanya.

Dan Shikamaru dibuat tak mengerti dengan apa yang akan dilakukan Naruto. Padahal hari ini Naruto sudah memesan tiket untuk pulang ke Jepang bersama dengannya, Nejii dan Sai. Mereka sengaja datang ke Prancis hanya untuk menjemput Naruto dan memenuhi janji mereka untuk menemani Naruto berjalan-jalan

"Baiklah. Bagaimana dengan yang lain?"

"Mereka akan tetap pulang ke jepang hari ini tanpa aku."

"Baiklah berhati-hatilah disana , Naru. I Love you"

"I love you to, Sasuke!"

Tuuut... tuutt...

"Naruto kau tak akan kembali bersama kami?", tanya Sai.

"Aku akan kembali tapi bukan hari ini. Maaf masih ada hal yang harus aku selesaikan"

"Tapi tiketnya sudah dipesan!", sahut Nejii.

"Maaf, aku mungkin baru minggu depan akan pulang. Jadi kalian pulanglah duluan nanti aku kabari jika akan pulang"

"Tapi-"

"Sudahlah, kita pulang. Dan Naru ku harap kau tak melakukan apapun yang membahayakan dirimu"

"Tapi Shika-"

"Baiklah Shika aku mengerti"

Naruto mengambil jaket kulit hitam yang tersampir disamping pintu apartemen miliknya. Lalu pergi meninggalkan ruangan yang disesaki beberapa pertanyaan yang memenuhi kepala setiap orang yang tadi melihat sikap Naruto.

Nejii dan Sai hanya memandang kepergian Naruto penuh tanya padahal satu jam lagi mereka harus take off. Ini semua diluar dugaanya. Tak ada kabar dari Naruto setelah kejadian di apartemen. No ponselnya pun tak aktip bahkan sekertaris Naruto tak mengetahui keberadaan Naruto saat ini.

Semingu berlalu Naruto masih belum menampakan dirinya di Jepang. Bahkan Nejii dan Sai sudah berusaha mencari keberadaan Naruto di Jepang ataupun di Paris. Namun nihil, tak ada hasil apapun tentang keberadaanya.

"Kau tak mencari Naruto Sasuke?"

"Naruto pasti kembali Shika mungkin dia sedang berjalan-jalan disuatu tempat."

"Kau tak curiga dengan kepergian Naruto?"

"Aku percaya padanya Shika"

"Tapi mungkin Naruto sudah tak percaya lagi padamu"

"Apa yang kau bicarakan?"

"Entahlah. Semuanya membuatku lelah."

"Hn."

.

.

.

.

.

Konoha...

Sasuke sedang bersama dengan Shion di apartemen milik Sasuke. Tak ada yang tahu keberadaan sosok yang memperhatikan semua kegiatan panas yang mereka lakukan. Mencoba menahan segala rasa sesak yang menghantuinya selama hampir dua minggu ia menghilang. Berharap semua itu hanya sebuah mimpi buruk dan ketika terbangun semuanya kembali baik-baik saja tak terjadi apapun. Mungkin keinginannya untuk menikah dengan Sasuke harus ia kubur jauh didalam hatinya. Biarkan semuanya terjadi seperti apa yang Kami-sama rencanakan

"Aaaaakh Sasu... akuuuuu"

Hanya terdengar suara geraman dari Sasuke yang terus berpacu dengan waktu untuk mencapai hasrat yang kini sudah melebihi ekspektasinya. Tapi Sasuke seolah merasakan jika ada yang memperhatikannya entah dimana. Sasuke merasa diawasi. Mata Sasuke bergerak liar mencari keberadaan seseorangyang mungkin saja sedang memperhatikannya. Namun tak ada satupun yang tertangkap netra hitamnya.

Naruto tersenyum kecut dan menundukkan wajahnya. Ini hanya sedikit dari apa yang dilihatnya. Naruto selalu menutup mata dan berharap pada Kami-sama jika semuanya hanyalah rekayasa semata. Tapi semua kenyataan yang mau tidak mau diterima Naruto berkata lain. Semuanya hancur seiring dengan setiap kenyataan yang Naruto ketahui. Sakit. Tapi rasa itu seolah menghilang tergantikan dengan kekosongan yang kini bercokol dalam hatinya.

Tak ada rasa sakit. Hanya sesak dan hampa yang tersisa. Naruto sendiri tak tahu kapan semuanya akan Naruto bongkar. Atau mungkin semuanya kan Naruto bawa pergi tanpa ada satu orangpun yang tahu kemana dirinya pergi. 'ku harap kau baik-baik saja saat aku pergi, Sasuke'.

Naruto keluar dari apartemen tanpa meninggalkan jejak apapun. Menutup pintu dengan perlahan. Namun saat Naruto berbalik ada Itachi yang melihatnya menunduk. Naruto mendongak, dan menyandarkan ujung kepalanya pada dada bidang Itachi.

"Apa aku harus menerima semua ini Itachi-nii?"

"..."

"Apa aku harus selalu diam dan mengalah Itachi-nii?"

"..."

"Apa aku harus melepaskannya, lagi?"

"..."

"Mungkin aku harus melakukannya agar dia bebas tak perlu berurusan denganku lagi, benarkan Itachi-nii?"

Naruto mendongak dan tersenyum hangat pada Itachi, namun hawa disekitarnya seolah turun akibat dari aura kosong yang menguar dari diri Naruto. Itachi tahu benar apa yang bisa dilakukan adik angkatnya. Hanya saja tak ada yang tahu bagaimana semuanya akan terjadi. Karena Naruto sangat tertutup, mereka hanya tahu jika Naruto adalah wanita paling bisa mengendalikan seluruh emosinya. Dan hanya bersama dengan Sasuke-lah Naruto bisa menjadi wanita normal yang seperti tak ada beban apapun. Dan berkat Sasuke pula Naruto seolah berubah menjadi sosok yang tak bisa disentuh. Mungkin karena semau ulah Sasuke yang menyakitinya dan Naruto seolah terus mengalah dan berpura-pura tak melihat dan tak mendengar apapun.

Naruto mulai melangkah meninggalkan Itachi. Jemari Naruto menyentuh dinding dingin apartemen menuju lift. bersenandung seolah tak terjadi apapun, namun nada yang dikeluarkannya sangat lirih dan menusuk. Bahkan Sasuke dibuat sesak hanya dengan melihat tingkah Naruto yang seolah bukan sosok yang selama ini dikenalnya.

Setelah sadar dari rasa terkejutnya Itachi mulai melangkahkan kakinya mengikuti Naruto yang sudah memasuki lift untuk ada yang tahu keberadaan Naruto seminggu terakhir ini dan tiba-tiba dia muncul dan menemukan Sasuke sedang bersama Shion. Ini sungguh berada diluar dugaan. Bahkan Itachi berusaha untuk menutupi sikap brengsek Sasuke, tapi Naruto seolah tahu kapan pengawasan Shikamaru, Nejii, dan Sai melemah dan bisa lolos untuk mengetahui semuanya.

Saat Itachi sampai dilantai dasar, mobil Naruto melewatinya dengan kecepatan tinggi.

"Aku harus menyusul Naruto"

Dirogohnya saku celana untuk mengambil ponsel miliknya. Itachi menghubungi seseorang diseberang sana. Meminta bantuan jika mungkin hal yang tak diinginkannya mungkin saja bisa terjadi.

"Cepatlah, aku tak tahu apa yang bisa dilakukan olehnya dengan kapasitas kekuasaan yang dimilikinya sekarang."

.

.

.

Naruto memacu mobilnya cepat. Masuk kesebuah arena balap yang sudah lama tak didatanginya selama hampir enam tahun belakangan. Tempat ini masih sama saat terakhir kali Naruto datang hanya untuk menyelamatkan Sasuke dari gengster yang menjadi musuh Itachi dalam dun ia bawah. Bukan hanya Yakuza yang berkuasa. Namun jalananpun menjadi area kekuasaan para gengster yang memilih untuk menjadi individual yang sangat bebas.

Naruto menggunakan kemeja hitam longgar yang sengaja tak dikancingkan dan bagian lenganya digulung keatas hingga tiga perempatnya. Dipadukan dengan hotripped jeans yang warna hitam yang snagat kontrak dengan kulitnya yang putih susu. Naruto melapisi pakaiannya dengan kaos tanpa lengan tipis yang membentuk tubuhnya. Surai blonde miliknya disanggul asal menampakkan leher jenjangnya. Kakinya di balut dengan boots coklat tua yang menutupi hingga betisnya.

Naruto menjelajahi penjuru area dengan pandangan datar. Naruto mulai menyalakan sebatang roko yang dibawanya. Tak ada tempat untuk Naruto berlari. Dan hanya tempat inilah satu-satunya tempat Naruto bisa melarikan diri dari kenyataan hidup yang kini ada didepan matanya.

"Hei Kitsune, ada apa kau kemari hah?"

"Nagato aku hanya ingin jalan-jalan disini"

"Ini bukan tempat bermain anak kecil sepertimu"

"Dan disinipun tak ada larangannnya untuk aku datang berkunjung"

"Cih, apa maumu?"

"Aku hanya ingin bersenang-senang"

"Apa yang kau tawarkan?"

"Aku menawarkan diriku"

"Baiklah kau menjadi milikku malah ini Kitsune"

"Baiklah"

"Dan apa yang kau inginkan dariku?"

"Aku hanya ingin kau dan mobilmu"

"Aku dan mobilku?", beonya.

"Ya, apa kau mau?"

"Baiklah, deal"

"Deal"

.

.

.

Naruto memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan saat memasuki tikungan tajam Naruto menambah kecepatan dengan menaikan kopling mobilnya. Sedangkan Nagato begitu susah payah mengejar ketertinggalannya. Reputasinya seolah dihancurkan berkeping-keping dengan tingkah sang Kitsune yang sudah hampir 6 tahun ini menghilang. Kitsune bukanlah seorang joki. Namun sekalinya dia turun maka apa yang diinginkannya akan tercapai. Sang Kitsune bagaikan mesin uang untuk kelompok Sasuke pada saat mereka masih bekecimpung didunia bawah. Hanya sekedar bersenang-senang menghilangkan rasa penat menjalani hidup yang tak seindah roman picisan.

"Sial!", umpat Nagato.

Namun di tikungan tapak kuda mobil Naruto berpasan dengan mobil Itachi yang sedang mendaki jalan pegunungan yang menjadi arena balap Naruto dengan Nagato. Itachi hanya menatap datar siapa sosok dibalik kemudi mobil bumblebee kuning keemasan. Karena itu milik Naruto yang hanya di keluarkan pada saat Naruto balapan dulu.

Semua orang tercengang dengan tingkah sang kitsune yang diluar nalar setiap orang yang melihat aksinya, bahkan sang penguasa jalanan seperti Nagatopun dibuat tak berkutik. Naruto hanya memandang datar kemenangan yang didapatinya malam ini. Seolah ini adalah kesempatan besar untuk melampiaskan segala amarah yang berkecamuk dalam hatinya.

"Aku menang dan mana kunci mobilmu?"

"Cih, ini mobil kesayanganku"

"Berikan atau kau kan mati"

Seperti pembalap lain yang mobil kesayangan nya menjadi taruhan dan mengalami kekalahan mereka akan banyak memberikan alasan agar kesepakatan bisa dibatalkan atau mendapatkan kelonggaran. Naruto sangat tahu bagaimana memainkan seseorang. Yah dan kali ini salah satunya.

"Ayolah Kitsune, kita bersenang-senang saja"

"Kau memilih bermain denganku Nagato?"

"Akan ku berikan mobil manapun asal jangan mobil kesayanganku yang itu"

"Tapi aku menginginkannya"

"Ayolah."

"Kau mati, Nagato"

Tanpa ada yang melihat Naruto sudah mengeluarkan sebilah pisau lipat dari balik sepatu berhaknya. Naruto melemparkan pisau itu hingga menancap tepat diatas kap mobil milik Nagato. Nagato berang dan berteriak.

"Apa yang kau lakukan bitch?!"

"Aku meminta bagianku Nagato", dengan menunjukan poker facenya.

"sialan kau"

Nagato mengambil sebilah balok dan berlari menerjang Naruto. Namun Naruto hanya memandang datar terjangan Nagato. Menghindar dan terus menghindar, Naruto menggerakan tubuhnya seolah sedang menari. Naruto memutar dan merebut balok yang tadi dibawa Nagato untuk menyerang dirinya. Hingga akhirnya Nagato tersungkur dan terjatuh terjerembab. Naruto memandang datar. Tak dipedulikannya luka lecet pada tanganya akibat gesekan dari balok yang direbutnya.

Nagato bangkit dan berusaha untuk memukul Naruto. Namun Naruto tak mengindahkan serangan itu. Naruto melukai Nagato tanpa disadarinya. Sebuah sayatan di lengan kirinya baru dirasakan Nagato saat akan kembali menyerah Naruto dengan kepalan tangannya.

"ayo lanjutkan", suara dingin menusuk dari wanita yang ada dihadapanya.

Sedikit demi sedikit serangan Nagato seolah terpatahkan dengan serangan balik yang dilakukan Naruto tanpa ada yang menyadarinya. Nagato hanya bisa terdiam saat mobilnya dihancurkan Naruto. Tak ada ekspresi apapun yang Naruto tunjukan. Topeng poker facenya sangat rapih dan tak bisa terbantahkan. Bahkan Itachi yang melihat dengan mata kepalanya sendiri sangat tertohok.

Sikap Sasuke yang egois itu sangat mempengaruhi sikap Naruto saat ini. Sosok yang dilihatnya kini dengan Shikamaru seolah bukan Naruto yang mereka kenal. Bahkan amukan Naruto kali ini seperti ada yang berbeda. Shikamaru memperhatikan darah yang keluar dari sela-sela kaki Naruto. Itu bukan luka akibat pertarunga.

"Itachi, sepertinya kita kehilangan calon keponakan kita"

"Apa maksudmu?"

"Kita lihat sampai mana Naruto bertahan dengan amukannya. Baru kita dekati"

"Apa yang kau lihat?"

"Kaki Naruto terlihat seperti ada aliran darah. Mata Naruto kosong dan sikapnya sangat dingin."

"Apa ..."

"Kita perlu memastikannya lebih dulu"

Namun tak lama setelah Naruto meledakkan mobil milik Nagato, Naruto terkapar tak sadarkan diri akibat pendarahan hebat yang dialamainya.

Shikamaru dan Itachi merasa was-was, melihat Naruto yang ambruk didepan mata mereka. Butuh perjuangan keras untuk membawa Naruto pergi karena Nagato tak akan melepaskan Kitsune yang telah membuatnya tak berdaya dengan banyaknya luka yang diterimanya.

.

.

.

.

.

Konoha Hospital...

Kenyataan yang ditema Shikamaru dan Itachi sekarang adalah hal yang paling ditakutinya. Bahwa Naruto kehilangan janin yang baru berusia satu bulan dalam rahimnya. Dan dokter menyatakan jika Naruto tak mengetahui kehamilannya yang baru tumbuh satu bulan itu. Tapi rasa kehilangan begitu terasa untuk Itachi dan Shikamaru yang mendengarnya. Mereka meminta untuk tak mengatakan apapun pada Naruto yang masih belum sadarkan diri setelah tiga hari.

Hanya Itachi dan Shikamaru yang mengetahui hal ini. Mungkin sebaiknya Naruto tak mengetahui apapun tentang kegugurannya. Karena itu akan lebih menghancurkan untuk Naruto. Dengan kenyataan yang sudah Naruto tanggung saat ini, mungkin akan membuatnya menjadi lebih tepuruk. Cukup hanya malam dimana Naruto menjadi sosok yang tak dikenalnya malam itu. Jangan ada lagi hal yang menyakiti Naruto. Dan Itachi akan menghalangi siapapun untuk mencari Naruto jika saja Naruto memutuskan untuk pergi meninggalkan Sasuke lagi.

Tak ada yang tahu keberadaan Naruto di rumah sakit. Bahkan semuanya seolah telah diatur untuk menutup mulut setiap orang yang tahu jika sang pewaris Namikaze-Uzumaki tengah berada di rumah sakit. Hari ini Naruto baru tersadar dari tidur panjangnya tiga hari terakhir sejak insiden malam itu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Naruto. Pandangannya kosong dan hanya air mata yang menghiasi wajahnya yang nampak pucat.

Isakan kecil mulai terdengar memilukan dari dalam ruangan inap Naruto dan Itachi tak kuasa untuk melihat apa yang terjadi pada Naruto. Begitupun Shikamaru yang ikut menangis saat mendengar teriakan histeris Naruto. Begitu memilukan. Terdengar suara pecahan kaca dari dalam ruang rawat Naruto namun. Masih terdengar teriakan dan isakan frustasi yang menggema. Bagaikan melodi yang sangat menyayat setiap pendengarnya. Seolah membunuh semua harapan orang-orang yang mendengarnya.

'Kami-sama jika aku boleh meminta. Buatlah Naruto bahagia dengan atau tanpa Sasuke disisinya'

.

.

.

Naruto tak pernah tahu kehidupan seperti apa yang dijalaninya dahulu dikehidupanj sebelumnya. Hingga dirinya harus menanggung rasa sakit seperti ini. Hingga dirinyapun lupa bagaiman caranya untuk menata lagi kehidupannya. Entah ini sudah berapa bulan berlalu setelah insiden peledakan yang dilakukannya. Naruto hanya tahu jika dirinya selalu ditemani disaat dia sendiri. Shikamaru , Nejii, dan Sai bergantian menunggui Naruto yang kini tinggal dikediaman Itachi.

Sasuke melihat keanehan yang ditunjukkan Naruto. Narutonya tak lagi sehangat dulu yang selalu tersenyum ramah meskipun kata-katanya terkadang menyakitkan untuk didengar ditelinganya. Sasuke merindukan sosok Naruto yang hangat seperti dulu. Penuh kasih namun tegas dan tak terbantahkan. Sosok Naruto sangat dirindukan semua orang yang mengenalnya.

'Maafkan aku Naruto, aku tak bisa tanpamu'

..

..

..

..

..

~~~TBC~~~

Kurang mencekam kah? Ato udah kliatn sikap naruto y? Ada yang tahu gmna kelanjutannya?

Tungguin aj chapter depan y ya?

Salam,

Yoona Ramdanii