Title : All About Us

Main cast : Tao, Kris, Kai

Pair : Taoris

Genre : Angst, Romance,Incest,Tragedy

All about us

Chapter IV

"Yifan, tenanglah. Zitao pasti baik-baik saja…," ujar Nyonya Huang. Ia baru saja dihubungi oleh putra sulungnya tersebut bahwa Zitao sudah ditemukan. Betapa cemasnya ia ketika Yifan mengabarkan bahwa Zitao ditemukan terkunci di gedung olahraga sekolah yang sedang direnovasi. Sejak kecil, Zitao punya alergi terhadap dingin. Ia akan kesulitan bernafas apabila berkontak dengan udara dingin terlalu lama. Nyonya Huang tidak habis pikir kenapa Zitao bisa berada di tempat seperti itu.

Yifan berdiri dengan gelisah di depan pintu kamar dimana Zitao masih dirawat. Beberapa saat yang lalu, paramedis sudah mengusahakan pertolongan pertama pada adiknya. Kini, ia sudah dibawa ke kamar biasa untuk istirahat, meskipun begitu, mereka masih belum diijinkan untuk masuk. Yifan berkali-kali mengintip dari kaca pintu untuk melihat keadaan di dalam kamar. Tampak Zitao terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa selang yang disambung di tangannya. Seorang dokter dan perawat tengah sibuk membicarakan sesuatu.

Ada sesuatu dalam diri Yifan yang berdesir menyaksikan orang-orang yang memiliki kemampuan menyembuhkan seperti itu. Ia melihat dengan kagum pada sepasang penyembuh tersebut. Mereka membuka pintu kamar menandakan perawatan telah selesai.

"Dokter, bagaimana keadaan adik saya?!" todong Yifan seketika mereka keluar.

Dokter itu tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Yifan, mencoba menenangkannya.

"Zitao sudah kami beri pertolongan pertama. Sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Sekarang, biarkan dia istirahat dulu," ujar sang dokter.

Yifan bernafas lega dan bersandar pada dinding, bersyukur bahwa Zitao baik-baik saja. Nyonya Huang memeluk Tuan Wu dan berterima kasih pada dokter. Ia menghapus air matanya dan masuk ke dalam kamar, ia melihat Yifan sudah duduk di tepi ranjang dimana Zitao terlelap. Wajahnya memang masih pucat, tapi tubuhnya sudah tidak sedingin tadi.

"Yifan, ini sudah larut malam. Istirahatlah…," saran ibunya. Tidak tega melihat putra tertuanya kebingungan sedari tadi.

Yifan menggelengkan kepala. "Aku akan menjaga Zitao. Ibu dan Ayah pulang saja."

"Mana mungkin ibu meninggalkan Zitao! kau yang harus pulang, bukankah besok kau harus sekolah?!"

Yifan menghela nafas dan menatap ibunya. Tatapan matanya menyiratkan kelelahan, wajahnya begitu letih, tetapi ia sungguh tidak keberatan.

"Ini semua salahku. Aku yang menyebabkan Zitao jadi seperti ini. Aku ingin menemaninya dan langsung minta maaf padanya saat dia bangun besok pagi."

"Tapi sekolahmu…"

"Bagiku Zitao lebih penting," potong Yifan cepat. Ia tidak peduli apabila ia terkesan kasar kepada orangtuanya. Ia khawatir setengah mati. Yang paling ia inginkan sekarang adalah melihat Zitao bangun. Ia ingin memastikan bahwa Zitao sehat-sehat saja.

Suami istri tersebut saling berpandangan. Kadang mereka sangat bersyukur memiliki putra sebaik Yifan. Ia sangat menyayangi adiknya. Itu tak perlu diragukan lagi.

"Baiklah baiklah. Kami akan datang lagi esok pagi untuk membawakan seragam dan tasmu," ujar Tuan Wu.

"Ya…aku juga akan mengurus surat istirahat untuk Zitao."

"Kami pulang dulu. Jaga adikmu baik-baik,ya,Yifan…," Yifan mengangguk. Nyonya Huang memeluk Yifan dan mengecup kening Zitao. Dengan itu, Suami istri tersebut meninggalkan kedua putranya.

Yifan mengalihkan perhatiannya pada Zitao. Wajahnya sedih ketika ia menyentuh pipi Zitao yang pucat. Ia merapatkan selimut agar Zitao semakin hangat. Tak lupa ia menggenggam tangan Zitao. Meremas dengan kedua telapak tangannya yang lebar.

"Maafkan Gege, maafkan Gege yang jahat ini…," Yifan berbisik lirih.

Zitao bergerak sedikit dalam tidurnya. Yifan menguap dan merasakan kantuk menguasainya. Maka ia mengecup tangan adiknya dengan lembut. Juga dahi dimana Ibu mereka barusan mengecupnya. Ia merebahkan kepalanya di atas ranjang dan berpikir tentang rasa sakit yang akan ia dapatkan esok ketika ia bangun dengan posisi tidur seperti ini. Tapi mana Yifan peduli? Masih menggenggam tangan Zitao, ia pun terlelap.

.

Zitao mennggosok-gosok kedua matanya dan memastikan bahwa ia tidak bermimpi ketika ia melihat surai berwarna pirang lebat menggelitik lengannya.

"Gege…?"

Tubunnya terasa sangat hangat. Khususnya di bagian tangan. Dimana kakaknya menggenggam erat seolah ia akan hilang setiap saat. Zitao menyadari bahwa dirinya sedang dirawat di rumah sakit. Ia tidak tahu sedikitpun bagaimana bisa selamat dari bencana semalam. Dan juga kenapa Yifan ada bersamanya sekarang. Ia mengulurkan tangannya yang bebas untuk membelai kepala sang kakak hanya untuk ditarik kembali ketika kepala tersebut bergerak pelan.

Yifan mengangkat kepalanya. Menguap. Matanya yang masih belum beradaptasi seketika berbinar ketika menemukan Zitao menatap wajahnya.

"Zitao…? Kau sudah bangun…! Syukurlah!" Yifan tersenyum lebar. Zitao hanya diam dan melihat ke depan.

"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah merasa lebih sehat?" tanya sang kakak.

"Yah, begitulah…," Zitao menjawab pelan.

Yifan maklum atas tingkah adiknya. Bagaimanapun, ini merupakan salahnya sampai Zitao dirawat di rumah sakit. Zitao menarik tangannya yang masih digenggam Yifan dan melipatnya di dada. Yifan berdeham pelan, sadar betul akan suasana canggung yang sedang berlangsung.

"Dengar, Zitao-" buka Yifan, ia baru saja ingin meminta maaf tetapi kalimatnya dipotong dengan dingin oleh adiknya.

"Kenapa kemarin Gege tidak datang?"

Wajah Zitao tampak begitu kesal. Tatapannya lurus menghindari Yifan.

"Maafkan aku, Zitao. Aku juga tidak tahu kenapa kau masih ada disana- Jongin bilang kau sudah pulang dan-"

"Jadi sekarang Gege menyalahkan Jongin?"

"Apa? bukan-"

"Kenapa Gege selalu menyalahkannya? Jongin anak baik. Jongin adalah satu-satunya temanku di sekolah."

Yifan berpikir keras agar Zitao mau diam soal Jongin. Karena entah kenapa rasanya begitu sakit saat Zitao memuji Jongin di hadapannya.

"Aku nyaris mati kemarin, dan dimana kau, Gege? Barangkali bersama si Yixing itu. Apa aku salah?"

Yixing dan dirinya hanya teman. Kenapa Zitao selalu mempermasalahkan itu?

"Padahal aku hanya ingin berbaikan dengan Gege…," Zitao berkata lebih kepada dirinya sendiri. "Aku hanya ingin minta maaf…"

Yifan mengutuk dirinya sendiri. Ia sudah menyakiti adiknya.

"Zitao…," Yifan mencoba meraih tangan Zitao hanya untuk ditepis dengan kasar.

"Pergi. Aku tidak mau melihat wajahmu."

Hancur adalah ketika Zitao tidak menganggap Yifan lagi sebagai kakaknya.

.

"Begitulah. Zitao masih butuh istirahat untuk beberapa hari ke depan. Harap maklum," ujar Yifan kepada wali kelas Zitao. Ia sedang mengurus surat izin sakit adiknya. Guru Li meneliti surat dokter yang Yifan berikan dan melipatnya lagi.

"Ah, baiklah. Yang penting Zitao sehat. Ck, anak itu…kenapa bisa ada kejadian seperti itu? aku harus mengabari pihak pengurus gedung ini…" Guru Li menggumam tidak jelas dan mengangkat telepon, barangkali menghubungi pihak yang bertanggung jawab atas renovasi gedung olahraga dimana insiden tersebut terjadi.

"Kalau begitu, saya pamit dulu. Terima kasih atas perhatian Bapak," Yifan membungkuk dan keluar dari ruang guru.

"Ah, Wu!" seru Guru Li.

"I-iya? ada apa, Guru Li…?" Yifan kembali lagi ke meja guru olahraga tersebut.

"Aku hanya ingin mengingatkan soal pertandingan pertandingan basket antar sekolah yang akan berlangsung mulai besok. Pastikan kau datang. Oke?"

Keadaan Zitao membuat Yifan sama sekali lupa dengan pertandingan tersebut. Dan ia baru sadar bahwa pertandingan prestisius itu akan dimulai besok. Sebagai seorang kapten tim SM Academy, ia sadar betul tidak pantas mengucapkan ini, tapi…

"Ah, begini, Guru Li. Soal pertandingan itu, saya…,"

.

Yifan menghela nafas setelah dimarahi habis-habisan oleh Guru Li. Ia tahu. Ia tahu dirinya egois. Tapi apa gunanya bertanding apabila Zitao masih belum sehat? Ia tidak akan konsenstrasi dan bisa dipastikan kalah.

Ia melirik jam tangannya dan buru-buru masuk kelas ketika menyadari jam pelajaran ketiga sudah lama dimulai. Tanpa ia duga, seseorang telah berdiri di depan ruang kelasnya. Yifan mengernyitkan dahi.

Siapa?

Yifan berjalan lebih cepat dan air mukanya langsung berubah begitu menyadari siapa orang tersebut.

Kim Jongin.

Jongin mendongak menyadari langkah kaki yang makin dekat. Ia benci mengakui merasa lega bertemu Yifan, meskipun itulah tujuan utamanya menunggu di depan kelas orang yang paling ia benci ini. Yifan berniat mengacuhkan Jongin dan masuk kelas saja, tapi Jongin lebih dulu menghalangi pintu.

"Tunggu."

Yifan melihat kemanapun kecuali wajah Jongin. Menghela nafas, ia mengalihkan tangan Jongin yang menyentuh bahunya.

"Ada perlu apa? cepat katakan. Aku buru-buru," tanyanya dingin.

Mendengar ini, Jongin mendengus keras.

"Dengar, Yifan. Jangan salah sangka. Kalau bukan demi Zitao, kau pikir aku sudi menunggumu di depan kelasmu begini?"

Wajah Yifan semakin tegang ketika Jongin menyebut-nyebut nama adiknya.

"Dan apa urusanmu dengan adikku?"

Jongin menatap tajam Yifan lama sekali. sampai-sampai Yifan berpikir ia tidak akan mengatakan apa-apa.

"Dimana Zitao? kenapa hari ini tidak masuk?" tanya Jongin, akhirnya.

"Dan apa yang membuatmu berpikir bahwa aku akan menjawab pertanyaanmu begitu saja?"

Jongin tersentak oleh pernyataan Yifan dan mencengkeram kerah seragam seniornya tersebut. Perbedaan tinggi badan tak membuatnya gentar sedikitpun.

"Jangan keras kepala!" desis Jongin. "Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku! aku menunggunya dari pagi dan ternyata ia tak pernah datang. Bangkunya kosong-"

"Oh, diamlah, Kim Jongin. Aku tidak perlu mendengar omong kosongmu soal adikku," Yifan menurunkan tangan Jongin dari bajunya. Ia membuka pintu kelas, tetapi Jongin masih belum menyerah.

"Tunggu! Aku belum selesai!"

"Ada apa ini?" kedua siswa tersebut terkejut oleh pintu kelas yang tiba-tiba terbuka. Guru Wang berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang.

"Wu Yifan, kenapa kau tidak masuk kelas? dan kau, Kim Jongin, kau anak kelas satu,kan? Kenapa ada disini?"

"Gu-guru Wang, maaf! aku akan segera masuk." Yifan membungkuk dan menepis tangan Jongin yang kini mencengkeram lengannya. Dalam hati, ia berterima kasih pada Guru Wang sehingga ia bisa bebas dari orang itu.

"Hei, tunggu!"

"Kim Jongin, masuk ke kelasmu. Sekarang juga," perintah Guru Wang. Jongin menggigit bibirnya kesal. Dengan rasa penasaran yang belum tuntas, ia meninggalkan kelas tersebut. Ia bersumpah senior sialan itu akan mendapat balasannya.

"Hei," sapa Yixing begitu Yifan duduk di bangkunya. "Aku dengar adikmu terkunci di gedung olahraga. Apa dia baik-baik saja?"

"Yeah…hari ini dia keluar dari rumah sakit," jawab Yifan. Ia mengeluarkan buku-buku dari tasnya.

"Rumah sakit? aku harap Zitao sehat-sehat saja…," Yixing kedengaran khawatir. "Oh iya, ada anak bernama Jongin yang mencari-carimu dari tadi."

"Oh begitu?" Yifan acuh.

"Iya. Dia keras kepala sekali. Menolak pergi sebelum kau datang."

"Tenang saja. Dia tidak akan kesini lagi."

"Eh?"

"Tidak ada. Kerjakan tugasmu. Guru Wang melihat kita."

Yifan menatap papan tulis yang bertuliskan soal matematika. Ia menyalinnya di kertas dan ujung pensil yang ia gunakan seketika patah. Mengumpat, ia menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mau menyalahkan siapapun soal Zitao yang kini resmi mengacuhkannya, tapi ia juga tidak mau Jongin memanfaatkan renggangnya hubungan mereka dengan mendekati adiknya lagi.

"Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku! aku menunggunya dari pagi dan ternyata ia tak pernah datang!"

Terngiang lagi kata-kata Jongin tadi. Yifan bersumpah, wajah Jongin memang terlihat sangat khawatir. Bahkan terlalu khawatir. Tapi Yifan tidak suka itu. Ia tidak suka Jongin mengkhawatirkan Zitao secara berlebihan. Jongin tidak berhak menyayangi adiknya melebihi dirinya, sang kakak. Meskipun ia berani bertaruh rasa sayangnya lebih dan lebih dalam dari siapapun di dunia ini. Tak juga kedua orangtuanya.

.

Zitao sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dan ini menjadi kesempatan bagi Yifan untuk memperbaiki hubungan mereka. Hari itu hari sabtu. Zitao masih berbaring di kamarnya. Meskipun sudah baikan, ibu mereka mewanti-wanti agar si bungsu istirahat terus. Yifan hanya ingin menunjukkan perhatiannya dengan membuatkan semangkuk ramen untuk sang adik. Zitao masih menolak bicara, tapi Yifan tak akan menyerah.

"Ada perlu apa?"

Itulah sambutan yang didapatkan Yifan ketika ia masuk ke kamar adiknya. Ia tersenyum getir dan menerjang masuk. Tampaknya Zitao sedang bosan dan memutuskan untuk main playstation. Yifan melihat ini sebagai kesempatan dan menawarkan jasanya untuk mengusir rasa bosan.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Yifan, mengambil posisi di sebelah Zitao.

"…," hanya bisu yang menjawab.

Yifan tersenyum kecut.

"Hei, ayo kita bertanding! Gege punya koleksi baru-"

"Tidak usah."

Yifan nyaris kehabisan akal. Akhirnya ia mengeluarkan jurus terakhirnya. Ia menggeser nampan berisi ramen yang masih hangat ke hadapan Zitao. Agaknya ini menarik sedikit perhatiannya, Yifan tahu Zitao tak akan menolak ramen buatannya.

"Lihat, Gege buatkan ramen untukmu. Kau lapar,kan?"

Jari-jari Zitao berhenti bermain dengan joysticknya. Jujur, ia ingin sekali menyantapnya…tapi rasa kesalnya pada Yifan jauh lebih besar. Merapatkan bibirnya kesal, ia beringsut menjauh dari kakaknya, tetapi sepertinya ia tidak sengaja menyenggol mangkuk ramen tersebut yang menyebabkan isinya tumpah ke lantai.

"Awas!"

Zitao melompat sebelum kuahnya menodai celananya. Yifan hanya bisa menganga melihat karyanya menggenang di lantai percuma. Keduanya hanya menatap ramen itu. Sekarang siapa yang salah?

"Li-lihat perbuatan Gege! Kamarku jadi kotor,kan?!"

"A- ma-maafkan aku…"

"Aku tidak mau tahu! Cepat bersihkan!"

"Ba-baik…"

Zitao membanting joysticknya dan naik ke atas ranjang. Ia menunjukkan punggungnya pada sang kakak. Yifan melihat ramen yang berserakan di lantai. Ia meninggalkan kamar adiknya dan mengambil alat pel. Yifan menghela nafas. Membujuk Zitao yang marah jauh lebih sulit daripada yang ia duga.

.

Setelah selesai mengepel lantai kamar Zitao, ditambah dengan merapikan playstation yang ia tinggalkan begitu saja karena kesal, Yifan memutuskan untuk berdiam diri saja. Ia tidak mau membuat adiknya semakin marah, karena ia pikir apapun yang ia lakukan, apapun usahanya, Zitao selalu menganggapnya salah.

Yifan mendengar bel pintu berbunyi. Ia bangkit dan menuju pintu depan. Apa yang ia lihat selanjutnya membuatnya terkejut. Tebak siapa?

Kim Jongin bertamu ke rumah.

.

"Kau…?!"

"Halo, Kakak Zitao," sapa Jongin ceria, tetapi seringainya tak pernah pudar.

"Mau apa kau kesini?!" desis Yifan marah.

"Tentu saja tidak untuk menemuimu, Senior."

Yifan baru saja akan menutup pintu ketika ia mendengar suara ibunya.

"Siapa yang datang, Yifan?"

"Ah- bu-bukan siapa-siapa-"

"Hei,kasar sekali kau," Jongin memutar bola matanya. Tanpa dipersilahkan, ia melepas sepatunya dan masuk ke dalam. Tersenyum sangat manis, ia membungkuk rendah sekali pada Nyonya Huang.

"Selamat pagi, Nyonya Huang. Perkenalkan, saya Kim Jongin, teman baik Zitao."

Yifan ingin sekali menonjok kepala Jongin sekarang. Tapi apa yang akan dikatakan ibunya nanti?

"Oooooh! Teman Zitao?! benarkah?! Aku pikir anak itu tidak punya teman…kenapa tidak ada satupun teman dari sekolah yang menjenguknya! Ah, syukurlah kau datang, Nak!"

Yifan melotot ketika Ibunya memeluk Jongin erat. Apa-apaan itu?!

"Siapa namamu, Nak?"

"Kim Jongin, Ibu," jawab Jongin manis.

Ibu?!

"Kim… Kau orang korea?!" entah kenapa Nyonya Huang tidak bisa mengontrol dirinya.

"Ah, benar. Tepatnya Korea Selatan."

"Kami juga punya saudara di Korea! Sudah lama sekali kami tidak mengunjunginya…"

Yifan menyembunyikan wajah di telapak tangannya. Kenapa sekarang ibunya malah curhat?!

"Ah, sudahlah. Ayo, Ibu antar ke kamar Zitao! Zitao pasti kesepian! Oh ya, Yifan, tolong buatkan minum untuk Jongin,ya!"

Yifan mendengus. Apa ia tidak salah dengar?! Ia memperhatikan Ibunya dan Jongin naik ke lantai atas, masih merangkul tamu mereka. Yifan melihat dengan jelas seringai yang Jongin tujukan padanya. Ia membalik jempol ke bawah dan menjulurkan lidahnya. Yifan bersumpah tak pernah ingin membunuh seseorang sebelum ini.

.

Lama sekali Ibu mereka di dalam kamar Zitao. Jongin menyukai keramahan Nyonya Huang, tapi ia juga ingin sekali orang ini pergi dan meninggalkan dirinya dan Zitao sendirian. Zitao masih terlihat belum sehat. Tetapi Jongin mengakui ketampanan masih terlihat di wajah kekasihnya ini.

"Yifan. Kenapa dia lama sekali,ya? bukankah tadi sudah ibu suruh mengantar minum?"

"Mungkin Senior Yifan sedang belajar," canda Jongin.

"Ah, anak itu benar-benar. Ibu akan turun ke bawah. Nak Jongin, jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri!"

"Tentu, Ibu."

Jongin menunggu Nyonya Huang menghilang di balik pintu. Setelah memastikan langkahnya menjauh, ia langsung melompat dan memeluk Zitao. Erat sekali.

"Jongin! aku tidak bisa bernafas!" Zitao tertawa.

"Aku tidak peduli. Aku rindu sekali padamu." Jongin menciumi pipi Zitao.

Jongin mendorong Zitao dan dirinya ka atas ranjang. Kini, Jongin menindih tubuh Zitao dan merekapun berciuman sampai kehabisan nafas.

"Haaah Jongin! tunggu, biarkan aku bernafas!"

"Tapi aku masih ingin menciummu…," Jongin pura-pura cemberut.

"Tapi aku tidak bisa bernafas. Bodoh."

"Aku bisa memberi nafas buatan untukmu."

Jongin menyembunyikan wajahnya di leher Zitao. Zitao memeluk kekasihnya dan membelai-belai punggungnya. Jongin sangat menikmati saat-saat seperti ini. Hanya dirinya dan Zitao.

"Maaf."

"Eh? Kau mengatakan sesuatu, Jongin?"

"Hmm…," Jongin hanya menggumam.

Jongin merasa bersalah mengingat bahwa dirinyalah yang menyebabkan Zitao terkunci di gedung olahraga. Tapi mana mau ia mengakui hal itu? Zitao akan membencinya dan Yifan akan mengambil alih posisinya lagi. Menyeringai, ia memuji otaknya. Agaknya, berkat insiden kemarin, Zitao dan Yifan salah paham. Sungguh efektif, bukan?

Jongin tersenyum puas dan mengangkat wajahnya. Ia menatap kekasihnya dan memberikan isyarat yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Zitao tertawa.

"Jangan! Ibuku ada di rumah…"

"Tapi…," Jongin merengek.

"Kamar kakak tepat di depan kamarku."

Jongin menyeringai. Biar. Kalau perlu biarkan dia melihat semuanya. Ia harus tahu siapa Jongin sebenarnya. Bukan sekedar teman baik, tetapi juga kekasih Zitao. Satu-satunya orang yang akan diajak Zitao untuk bercinta. Bukan orang lain bukan kakaknya. Wu Yifan harus tahu posisinya. Kakak tak seharusnya menghalangi kebahagiaan adiknya.

"Setidaknya…biarkan aku.." Jongin mengangkat tubuhnya dan menduduki paha Zitao. Masih berbaring, Zitao melihat Jongin membuka resleting celananya. Jongin berjumpa dengan penis Zitao. Ia melingkarkan jemarinya di batang itu dan melihat dengan puas wajah Zitao yang merasakan kenikmatan.

"Baiklah…lakukan sesukamu."

.

Setelah dipaksa beberapa kali, akhirnya Yifan bersedia mengantarkan minum untuk Jongin. Membawa nampan berisikan jus dan kue kering, ia menuju ke kamar Zitao. Tanpa repot-repot mengetuk pintu, ia masuk begitu saja. Apa yang ia lihat membuat nampannya nyaris jatuh.

Zitao, tanpa kaos, berada di atas tubuh Jongin.

.

"Sial!" umpat Zitao pelan. Ia segera bangkit dari tubuh Jongin dan mencari kaosnya yang entah berada dimana. Alih-alih merasa malu, Jongin malah sangat menikmati wajah Yifan sekarang.

Yifan tidak mempercayai apa yang ia lihat. Demi Tuhan. Apa yang baru saja adiknya lakukan?!

"Jongin, sepertinya kau harus pulang," ujar Zitao yang kini sudah memakai kaos.

"Ah? Pulang? kita baru saja mulai,kan…," Jongin mengerucutkan bibirnya.

"Lain kali saja kita lanjutkan…oke?"

"Baiklah…"

Jongin bangkit dari ranjang dan merapikan rambut serta bajunya. Yifan menolak melihat ketika Jongin memeluk Zitao sebagai salam perpisahan.

"Sampai jumpa di sekolah, Baobei."

Zitao hanya mengangguk. Jongin menyeringai ketika ia bertemu pandang dengan Yifan.

"Biarpun ini kamar adikmu. Lain kali, apabila tidak mau melihat yang lebih jauh, ketuk pintu dulu."

Yifan menggertakkan giginya. Matanya menangkap sesuatu yang aneh, di sudut bibir Jongin. Cairan berwarna putih…Jongin mengetahui apa yang Yifan lihat dan menjilat cairan tersebut dengan sengaja di depannya.

"Aku pulang dulu, Zitao~"

"Oke…hati –hati di jalan."

Jongin meninggalkan kamar Zitao dan turun ke bawah. Yifan mencoba mencari penjelasan di wajah Zitao, tetapi adiknya hanya diam dan menatap kemanapun selain wajah sang kakak.

.

"Jongin, kau sudah mau pulang, Nak?" tanya Nyonya Huang.

""Iya, Bibi. Zitao masih butuh istirahat,kan? Aku ingin dia cepat masuk sekolah."

"Aww kau baik sekali, Nak…"

"Bibi juga sangat ramah. Aku suka sekali. Apa aku boleh main kesini lagi…?"

"Tentu saja! Kau bebas main kesini! Teman Zitao dipersilahkan kapanpun ke rumah ini!"

"Bibi…mengingatkanku pada Ibu," ujar Jongin sedih.

"Ibumu? Dimana dia, Nak?" tanya Nyonya Huang khawatir.

"Ibu ada di Korea. Begitu juga ayah. Aku hidup sendiri di Cina."

"Ah…begitu…, kau pasti kesepian. Kalau begitu seringlah main-main kesini, Nak."

"Terima kasih, Bibi. Mungkin ini tidak pantas, tapi apa aku boleh memanggil Bibi dengan…'Ibu'?" tanya Jongin malu-malu.

"Tentu saja, Nak Jongin! kau sudah ibu anggap anak sendiri!"

Yifan serasa teriris mendengar semua itu. Ibu belum tahu apa yang sudah anak ini lakukan pada anak bungsunya…

"Oh ya, Ibu. Ada satu hal yang sangat ingin aku tanyakan."

"Apa itu, Nak?"

"Kenapa marga Zitao dan kakaknya berbeda? Apa mereka…bukan saudara kandung?"

"Oh, kau salah. Hanya saja, keluarga Ibu tidak mengijinkan nama keluarga ibu diganti meskipun sudah menikah. Karena itu, Zitao mengikuti marga Ibu. Begitulah, memang sedikit membingungkan," jelasnya sabar.

"Jadi mereka benar-benar saudara kandung?"

"Tentu saja. Mereka kedua putra ibu yang tampan,kan?"

"Begitu…jadi aku masih punya kesempatan…," gumam Jongin.

"Eh? Kau mengatakan sesuatu, Nak?"

"Ah, tidak. Zitao memang sangat tampan. Baiklah, aku pamit dulu, Ibu, kakak Zitao." Jongin melirik Yifan." Terima kasih atas segalanya."

"Hati-hati,Nak!"

Jonging melambai dengan riang. Ia masuk dalam mobilnya dan pergi dari rumah keluarga tersebut. Yifan mengepalkan tinjunya dan meninju dinding yang ada di dekatnya setelah ibunya masuk. Hanya… sampai kapan bisa tahan melihat Jongin bersama Zitao?

.

Ini adalah hari kedua Zitao beristirahat di rumah dan besok ia harus sekolah lagi. Bosan. Ia berpikir kalau saja ia tidak bertengkar dengan kakaknya…mereka akan bermain ini dan itu. Tapi Zitao masih belum mau memaafkan sang kakak begitu saja. Kadang ia merasa terlalu keras pada Yifan. Tapi beginilah dirinya.

Mengganti-ganti saluran secara berurutan, matanya menangkap sebuah siaran pertandingan basket. Ia bersyukur masih ada acara yang menarik perhatiannya. Pertandingan basket ini adalah turnamen tahunan yang diadakan untuk seluruh sekolah menengah atas di Cina. Mencari tim terbaik dari seluruh sekolah dan menjaring bakat-bakat baru.

Zitao mengangkat tubuhnya yang malas dari kasur. Sepertinya ia cukup familiar dengan turnamen ini. Mengingat-ingat, ia sering mendengar kakaknya membahas ini dengan dirinya. Meskipun Zitao hanya mendengar sambil lalu, tapi ia paham sekali minat sang kakak dalam olahraga satu ini.

Kini tim berseragam hitam memasuki lapangan. Zitao mengenal salah seorang pemain tersebut sebagai teman sekelas Yifan… juga ada Guru Li, pelatih tim basket mereka. SM Academy sedang bertanding! Tapi tunggu…apabila sekolahnya sedang bertanding, dimana kakaknya? Zitao menyipitkan mata mencari sosok jangkung sang kakak, tapi ia tak menemukannya dimanapun. Peluit berbunyi dan pertandingan pun dimulai.

Sial. Dimana kakaknya?!

Jangan-jangan…

Zitao bangkit dari ranjangnya dan keluar dari kamar. Gugup, ia mengangkat tangan untuk membuka pintu kamar yang persis berada di depan kamarnya. Ada. Sang kakak. Sedang menonton siaran yang sama persis dengan dirinya.

"Gege pikir apa yang Gege lakukan disini?!" tanya Zitao heran.

Yifan yang sedang konsentrasi menonton timnya beraksi, terkejut oleh Zitao yang tiba-tiba menerobos masuk kamarnya.

"Oh, Zitao?"

Zitao menggelengkan kepala tidak habis pikir dan menghampiri sang kakak. Berkacak pinggang.

"Apa yang Gege lakukan di kamar?!"

"Erm…menonton televisi?"

"Hah?! maksudku- kenapa Gege ada disini dan bukannya malah-" Kehabisan kata-kata,Zitao menunjuk televisi dan kemudian menatap Yifan lagi. "Gege kapten tim basket,kan?!"

"Oh,itu," Yifan tampaknya sudah mulai paham. "Benar, aku kapten tim basket SM Academy."

"Lalu kenapa Gege tidak ikut bertanding?"

"Karena aku harus menjaga rumah? Ibu dan ayah pergi ke luar kota,kan?"

"Alasan macam apa itu?!"

Yifan menghela nafas. "Baiklah baiklah. Aku harus menjagamu. Kau baru keluar dari rumah sakit."

"Aku sudah sehat! Demi Tuhan!"

"Zitao, aku tidak peduli kau sudah sehat atau tidak. Yang aku tahu hanya aku harus menjagamu."

Zitao terperangah.

"Tapi…Gege adalah kapten tim… dan juga andalan,kan? Selain itu, banyak sekali pencari bakat yang akan datang! Kenapa Gege membuang kesempatan itu?"

Senyum Yifan hanya membuat Zitao semakin kesal.

"Jangan tersenyum! Gege ingin menjadi pemain NBA,kan?!"

"Ah, tidak lagi."

"Apa?"

"Aku memang selalu bilang kalau aku ingin main di NBA. Tapi… aku sudah berubah pikiran."

"Kenapa?"

"Karena ada yang lebih penting daripada bermain basket di negara lain."

Zitao mengerucutkan bibirnya. Ia tahu sudah kalah dalam perdebatan ini. Yifan tersenyum dan meraih tangan adiknya untuk duduk lagi, menikmati pertandingan yang sudah main setengah jalan.

"Ini baru awal,kan? Masih ada pertandingan selanjutnya…Gege harus main."

"Hmm…Aku khawatir tetap tidak bisa ikut. Guru Li marah besar saat aku bilang tidak akan ikut main hari ini."

"Benarkah?!"

"Yeah," Yifan terkekeh. "Dia bilang aku akan dipecat jadi kapten tim kalau tetap tidak datang."

"Gege…kau tahu itu tidak lucu,kan…"

Yifan melirik sang adik. Zitao memeluk bantal dan mengerucutkan bibirnya lucu. Ia meraih pipi adiknya kemudian mencubitnya, membuat Zitao protes.

"Gege!" Zitao menepis tangan Yifan. Pipinya jadi merah sekarang.

"Maafkan Gege?"

Mata Zitao melebar. Pipinya merona merah, Yifan tahu itu bukan karena cubitannya tadi. Ia menyembunyikan wajahnya dalam bantal dan menggumam.

"Aku tidak punya Gege yang bodoh seperti ini."

"Aww hati Gege sakit mendengarnya," Yifan menyentuh dadanya yang tidak nyeri sama sekali.

"Padahal Gege kelihatan paling keren saat bermain basket…"

Zitao terdengar serius sekali hingga Yifan jadi merasa bersalah. Ia merangkul Zitao dan meletakkan dagunya di puncak kepala sang adik.

"Maaf. Tapi ini keputusan Gege," jelas Yifan sabar, layaknya bicara pada seorang anak kecil.

"Apa itu berarti…tidak ada kesempatan lagi bagiku untuk melihat Gege main basket lagi…?"

"Hmm…boleh saja, tapi dengan satu syarat," Yifan melepas rangkulannya dan menatap adiknya.

"Apa itu?"

"Kau menemani Gege main basket. Bagaimana?"

"Itu saja?"

"Gege belum selesai! satu lagi…"

"Ya?"

"Maafkan Gege…ya?"

Pipi Zitao lagi-lagi merona merah. Alih-alih menjawab sang kakak, ia naik ke atas ranjang milik Yifan dan berbaring. Yifan mengikuti pergerakan adiknya dengan mengernyitkan dahi.

"Aku mengantuk…Tidur denganku?" Zitao menguap dan menggosok-gosok matanya.

Senyum Yifan merekah seketika. Tanpa pikir panjang, ia bangkit dan merayap mendekati Zitao. Melihat sang kakak datang, si bungsu langsung merapatkan tubuhnya. Yifan melingkarkan lengannya pada kepala Zitao dan memejamkan mata.

Damai.

Betapa ia merindukan saat-saat seperti ini. Berdua saja bersama Zitao. Tak ada pertengkaran. Tak ada tangisan. Tak ada kata-kata menyakitkan. Tak ada orang lain. Tak ada Jongin… Yifan membuka mata menyadari nama itu selalu muncul di kepalanya di setiap kebersamaannya dengan Zitao. Ia ingin menanyakan sesuatu pada si bungsu ketika ia merasa adiknya mennyandarkan kepala ke dadanya.

"Gege?"

"Hm?"

"Gege bilang sudah tidak mau bermain basket lagi. Apa alasannya?"

"Katakan saja…Gege punya cita-cita lain."

"Cita-cita lain? Apa itu?"

"Ha ha ha, kau ini benar-benar ingin tahu saja."

"Gege!" Zitao mencubit lengan Yifan.

Yifan tertawa pelan. Entah sejak kapan ia memutuskan hal itu. Tapi ia tak pernah berhenti memikirkan penderitaan Zitao yang berpangkal dari kecerobohannya.

"Mungkin lain kali Gege akan memberitahumu. Untuk sekarang…," Yifan meletakkan jari telunjuk di bibir mungil Zitao dan berbisik. "Itu rahasia."

.

Jongin tak pernah berhenti tersenyum sejak pagi. Zitao sudah sehat dan masuk sekolah. Karena itu, hari ini ia ingin Zitao hanya untuk dirinya. Ia semkain merasa diatas angin menyadari tak akan ada orang yang akan menganggunya. Termasuk si senior sialan itu.

Tetapi senior sialan yang ia maksud baru saja memasuki kelas dan menghampiri pujaan hatinya.

"Gege!" Zitao melihat sang kakak datang, senyumnya begitu cerah.

Jongin terperangah. Apa maksudnya ini? bukankah mereka sedang berseteru?

"Zitao, makan siang?" ajak Yifan. Zitao mengangguk lucu dan meninggalkan bangkunya tanpa perlu membereskan buku-bukunya. Yifan menggelengkan kepala dan turun tangan. Ia menyadari ada sepasang mata tajam yang menatapnya, tepat di belakang bangku Zitao.

"Oh, hai, Jongin," sapa Yifan dengan senyum yang dibuat-buat.

Jongin melotot. Orang ini…!

"Jongin! ayo bergabung dengan kami. Kita makan siang bersama!" ajak Zitao riang.

Yifan harus menahan tawa menyaksikan wajah Jongin sekarang.

"Iya, Jongin. Jangan malu-malu," Yifan tersenyum begitu manis yang tentu saja palsu.

"Tidak. Terima kasih. Aku makan sendiri saja," ujar Jongin, menatap Yifan penuh dendam. Ia bangkit dan menabrak bahu Yifan dengan sengaja. Menyeringai, ia memperhatikan Jongin keluar kelas.

"Jongin!" Zitao hendak mengejar sang kekasih, tetapi Yifan merangkulnya terlebih dahulu.

"Mau kemana? Bukankah kau lapar? Hm?"

"Tapi, Jong-"

"Dia bilang ingin makan sendiri,kan? Ya sudah kalau begitu."

Zitao menimbang-nimbang untuk tetap mengejar Jongin atau mendengar Yifan. Tetapi senyum sang kakak yang begitu hangat dan makan siang lezat yang menunggunya sebentar lagi…terlalu berat untuk ditolak.

"Baiklah! Lets Go!" Zitao menggandeng tangan Yifan dan setengah berlari menuju kantin. Tawa riang mereka terdengar sepanjang koridor.

.

Yifan yang sudah menyelesaikan urusannya dengan tim basket terpaksa harus pulang telat, bahkan Zitao harus pulang duluan. Menggertakkan lehernya karena letih, ia melewati halaman belakang, beberapa siswa terlihat berbincang disana. Mengetahui bahwa mereka adalah teman sekelasnya, Yifan hendak menyapa tetapi kemudian tak sengaja mendengar salah satu dari mereka menyebut-nyebut nama adiknya. Mereka bicara dengan nada yang sangat rendah. Yifan harus berhati-hati agar langkahnya tak terdengar, ia bersembunyi di balik dinding.

"Benarkah?!"

"Ssst jangan keras-keras, Bodoh! Aku tidak mau orang lain mendengar hal ini!"

"Tidak ada lagi siswa jam segini. Karena itu aku mengajakmu bicara setelah sekolah sepi."

"Tapi aku lihat Yifan masih ada di ruang basket tadi…"

"Dia pasti sudah pulang. Kalian mau dengar ceritaku,tidak?!"

"I-iya! Lanjutkan…"

Semuanya menahan nafas. Begitu juga Yifan.

Apa? ada apa?

Yifan menggigit bibirnya mengantisipasi hal buruk yang akan ia dengar.

"Seperti yang sudah aku katakan di awal tadi. Ini hanya dugaanku saja. Tapi aku mengatakan ini karena aku melihat bukti yang sangat-sangat jelas!"

"Bahwa adik Yifan gay?"

APA?

"Benar… begini ceritanya. Beberapa minggu yang lalu, mungkin, aku tidak ingat betul. Aku dan Jian Hao baru saja latihan di gym. Karena sudah sore, kami memutuskan untuk pulang, tapi sebelum itu kami ingin mandi dulu di ruang klub. Kami heran melihat pintu ruang klub yang tidak terkunci. Setahuku, kami adalah orang terakhir yang latihan. Kemudian kami mendengar suara air dari bilik shower. Ternyata ada orang yang mandi. Kami pikir itu anggota klub atletik…karena itu kami langsung membuka tirai shower! Dan…dan…kalian tak akan percaya apa yang kami lihat…"

Apa?! Apa?!

Tanpa sadar, Yifan meremas bahu tasnya.

"Cepat katakan,You Ming!"

"Tunggu sebentar…mengingatnya saja aku jadi malu…"

"Sial! Cepat katakan!"

"Baiklah! Baiklah! Dasar kalian ini…"

"Di dalam biliki itu, ada Zitao, adik Yifan. Dia telanjang…"

"Ah, ternyata Cuma begitu…"

"Dengarkan dulu! Aku belum selesai, Bodoh!"

Menarik nafas panjang, You Ming berkata dengan dramatis.

"Tapi Zitao tidak sendiri! ada seorang lagi siswa disana. Dan kalian tahu apa yang mereka lakukan?"

"Tentu saja tidak. Bukankah kau yang tahu?"

"Kalian masih mau dengar,tidak?!" You Ming tiba-tiba tersinggung.

"Bisa lebih cepat?" ujar temannya jengkel.

"Justru ini yang menarik…siswa itu sama telanjangnya…dan...dan mereka tengah berciuman!"

Yifan nyaris tersedak mendengarnya. Berciuman?! Zitao?! dengan siswa?! Tapi…siapa-

"Siapa siswa satunya?!"

Jantung Yifan mencelos. Semoga dugaannya salah…tapi mengapa wajah orang itu yang tiba-tiba muncul di otaknya?!

"Teman sekelasnya…kalian tahu anak dari korea itu,kan? Kalau tidak salah namanya…"

"Kim Jongin."

.

"Oh,Gege, kau sudah pulang-"

Zitao mendengar Yifan berlari menaiki tangga menuju kamar. Langkah kakinya yang terburu-buru membuat sang ayah yang tengah membaca koran, mengernyitkan dahi. Zitao yang tengah makan malampun terheran-heran. Kenapa sang kakak tidak menyapanya dan langsung naik ke kamar?

Zitao meninggalkan piringnya, disertai teriakan sang ibu yang menyuruhnya menghabiskan makan malamnya dulu, ia naik keatas dan langsung menuju kamar sang kakak. Tetapi dicoba berapa kalipun, pintu itu tidak bergerak. Pun ia coba memanggil nama kakaknya, tak pernah ada gerakan dari dalam kamar tersebut.

.

Esoknya, Yifan benar-benar menjauhi Zitao. Kembali pada hari-hari dimana mereka berseteru. Tetapi kini Yifan-lah yang menghindari sang adik. Keadaan jadi berbanding terbalik. Zitao tidak sekalem dirinya dan Yifan tetap membisu. Apa yang sebenarnya Yifan rasakan sebenarnya pun ia tak paham.

Setelah mendengar kesaksian itu. Hati Yifan hancur. Seolah ditikam oleh ribuan pisau dan hatinya tak hentinya berdarah. Ia tidak bisa konsentrasi pada pelajaran yang diberikan. Tangannya terus mengepal. Ia menarik rambut pirangnya seolah kepalanya pusing sekali. Ketika tak bisa lagi mengontrol dirinya, ia merobek-robek buku tulisnya jadi serpihan. Menarik perhatian seisi kelasnya. Dengan nafas terengah-engah, ia balik menatap seluruh teman sekelasnya.

"APA YANG KALIAN LIHAT?!"

Seluruh temannya berjengit menyaksikan tingkah aneh Yifan. Teriakannya menggema di ruang kelas tersebut. Mereka langsung membuang muka dan menatap lagi ke depan. Takut. Yixinglah yang paling kaget, telinganya masih berdengung akibat jeritan Yifan tadi.

"Yifan? Kau baik-baik saja?" tanya Yixing pelan.

Yifan memutar kepalanya cepat sekali. Membuat Yixing hampir jatuh dari kursinya. Mata Yifan sangat merah. Begitu juga wajahnya. Seolah…menahan amarah.

"Apa wajahku ini masih belum jelas mengatakannya?!" desisnya berbahaya.

Yixing menelan ludah dan mengangguk berulang kali. Ia kembali menekuni bukunya dan berdoa agar Yifan tidak memakan siapapun yang membuatnya semarah ini. Suara besi berdecit menandakan Yifan mendorong kursi yang ia duduki sampai jatuh saat ia berdiri. Ia berderap meninggalkan ruang kelasnya, mendorong setiap orang yang menghalangi jalannya.

"MINGGIR!"

Teman-teman sekelasnya mencatat hari itu sebagai hari dimana Wu Yi Fan si murid teladan bertingkah buruk untuk pertama kalinya.

.

Pintu tangga darurat berdebam memuntahkan sosok Yifan yang penuh amarah. Jongin yang sedang mendengarkan musik sampai terbangun oleh suara berisik itu. Ia melihat Yifan melangkah ke arahnya. Wajahnya menggambarkan segalanya.

"Senior Wu yang populer sampai membuang-buang waktu untuk menemuiku. Ada apa ini?"

"Tutup mulutmu, Kim Jongin."

"Coba saja," Jongin menyeringai.

Tanpa aba-aba, Yifan meraih kerah Jongin dan mendorongnya sampai ke tepi balkon. Tubuh Jongin menempel berbahaya di pagar besi. Sekali dorong, matilah ia bertemu lantai di bawah sana.

"Aku hanya mengatakan ini sekali. Jauhi. Adik. Ku." Geram Yifan.

"Kau tak bisa memisahkan sepasang kekasih, kau tahu?"

Mata Yifan melebar.

"Apa kau bilang?"

"Kekasih. Jadi kau baru dengar gosip itu?"

"Itu tidak benar."

Yifan melepaskan cengkeramannya dan menjauhi Jongin.

"Sayangnya, iya. Aku dan Zitao sudah berpacaran. Aku heran Zitao masih belum mengatakannya padamu."

"Karena itu hanya halusinasimu saja! Zitao tidak mungkin menyukai-"

"Menyukai aku? atau menyukai sesama pria?"

"Aku lebih tidak terima kalau pria itu kau."

"Sudahlah, Senior! Biarkan adikmu bahagia! Kau ini sebenarnya apa?"

"Aku kakaknya," ujar Yifan seolah itu hal yang paling jelas di dunia.

"Lalu? Apa tindakanmu itu benar? mencoba memisahkan Zitao dari kekasihnya?"

"Jangan mencoba mengaturku, Kim Jongin. Aku kakaknya dan aku tahu apa yang aku lakukan."

"Bah! Omong kosong…," dengus Jongin. "Seharusnya apa yang kau lihat kemarin sudah jelas,kan? Tak kusangka kau sebodoh ini."

"Apa…?"

"Di kamar Zitao. Aku dan dia. Andai kau tidak masuk begitu saja…kami sudah bercinta."

"Tidak…"

"Kau harus lihat wajahnya saat menciumku. Saat dia menyentuhku…saat kami saling membisikkan kata-kata mesra. Kau tak akan mau tahu sejauh apa hubungan kami, Senior."

Sudah sejauh itukah? Apa lagi yang Yifan tidak ketahui soal adiknya?

"Kali ini giliranku memperingatkanmu," pungkas Jongin. " Mundur. Jangan ganggu kami!"

.

"..ge."

"Gege."

"Gege!"

Yifan tersentak. Ia menoleh dan mendapati Zitao sudah berada di sisinya. Adiknya hanya mengenakan handuk yang ia gantungkan di pinggangnya. Rendah. Rendah sekali, sampai Yifan harus memalingkan wajah karena pipinya kini merah.

"A-ada apa?" tanya Yifan.

Ia mendengar Zitao mendesah.

"Bisa bantu aku? kancingku lepas," Zitao mengangkat kemeja seragamnya. Yifan menatapnya dengan ragu. Akhirnya, ia meraih seragam itu dan memasang kancingnya. Zitao hanya memperhatikan sang kakak. Ia hanya mencoba peruntungan saja. Dengan sengaja ia mencabut kancingnya demi membuktikan apakah kakaknya masih peduli padanya.

Sementara itu, pikiran Yifan dipenuhi dengan gambar dimana Zitao yang hanya mengenakan handuk, bercumbu dengan Jongin, seperti yang sudah diceritakannya.

"Ge."

Itu saja cukup membuat Yifan tersentak dan tak sengaja menusuk jari telunjuknya.

"Ouch!" ia menjatuhkan jarum dan memegangi jarinya yang berdarah. Yifan menekan jarinya kuat-kuat agar darahnya berhenti mengucur. Satu gerakan cepat dan detik berikutnya, Zitao telah membungkus jari telunjuk tersebut di dalam rongga mulutnya. Yifan tak mampu mengalihkan pandangannya dari mata Zitao. Mata itu menatap tepat ke kedua manik matanya. Masih mengulum,Yifan bisa merasakan lidah Zitao menjilat-jilat jari telunjuknya tersebut. Yifan merapatkan bibirnya dan mencabut paksa jarinya dari mulut Zitao.

"Su-sudah aku jahit… kau bisa pakai sekarang," Yifan menyerahkan seragam Zitao tanpa menatap wajahnya.

"Terima kasih."

"A-aku berangkat dulu. Sudah terlambat."

Meraih tasnya, Yifan buru-buru kabur sebelum pikirannya melayang ke hal-hal yang lebih jauh. Ia memutar daun pintu kamarnya hanya untuk menyadari bahwa pintunya terkunci. Ia berbalik dan mencoba mencari kunci pintunya.

"Ge, aku ingin bicara."

"Zitao? kau menguncinya? Cepat buka. Aku bisa terlambat."

"Ge."

"Zitao, jangan main-main-"

"GEGE!"

Tangan Yifan berhenti meraba-raba ranjangnya. Kunci pintu itu belum juga ia temukan. Zitao mendesah.

"Apa?" tanya Yifan gugup.

"Aku mohon, sebenarnya…ada apa denganmu, Ge!? Kau menjauhiku! Kau bahkan tak mau menatap mataku!"

"Itu hanya perasaanmu saja."

"Kau pikir aku bodoh!? Aku tahu kau menyimpan sesuatu!"

"Zitao, aku harus pergi. Aku mohon-"

Zitao berdecak kesal dan berderap menuju sang kakak. Yifan direngkuhnya dalam pelukan.

"Bukankah kita sudah berjanji…," ujar Zitao sedih. "Berjanji tidak akan bertengkar lagi? aku benci sekali kalau bertengkar denganmu, Ge…"

"Zitao-"

"Katakan. Apapun yang mengganggu pikiranmu. Aku akan mendengarnya."

Sanggupkah ia mengatakannya? Ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri…

"Katakan," Zitao tersenyum di bahunya. "Bukankah kita bersaudara?"

Saudara… entah mengapa, kata-kata itu begitu menyakiti hati Yifan.

"Zitao…"

Yifan melepas pelukan erat sang adik. Ia menyentuh dada telanjang Zitao dan menatap sedih adiknya.

"Katakan."

Yifan memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam.

"Ge?"

"BenarkahkauberpacarandenganJongin-"

"Hah?" Zitao berkedip tidak paham.

"Be-benarkah…kau berpacaran dengan…Jongin…?"

Yifan berhasil mengatakannya. Ia menatap mata Zitao, mencoba menemukan jawaban disana. Secepat ia tahu kebenarannya, semakin baik. Apabila hatinya akan hancur, maka hancur saja.

"Zitao…?"

Diluar dugaan, Zitao menyeringai. Ia menjauhi sang kakak dan membelakanginya.

"Zitao? jawab aku."

Diamnya Zitao membuat Yifan marah.

"Zitao! jawab-"

"Apa yang Jongin katakan?"

"Apa?"

"Jongin…memangnya dia bilang apa?"

"Dia-," suara Yifan tercekat. "Segalanya…dia mengatakan segalanya. Juga… apa yang kalian lakukan di kamar waktu itu."

"Oh ya? memangnya kami melakukan apa?"

"Erm…"

Zitao mendekati Yifan lagi. Secara mengejutkan, ia melingkarkan lengannya pada pinggang sang kakak.

"Zitao!"

"Kau tahu,Gege? Kau terlihat sangat…menggemaskan saat tersipu malu."

"Jangan menggodaku!"

"Hm? Apa Jongin bilang kalau aku memeluknya seperti ini?"

Ia merapatkan pelukannya secara tiba-tiba, membuat Yifan menjerit pelan.

"Zitao…" wajah Yifan semerah tomat sekarang.

Zitao menyeringai. Ia menangkup wajah sang kakak dan mengejutkan dirinya sekali lagi dengan mencium bibir Yifan. Tak memahami apa yang sedang terjadi, Yifan mengakui dengan malu bahwa ia sudah lama menantikan ini. Zitao melepas ciuman itu dan menatap sang kakak.

"Apa dia juga bilang kalau aku menciumnya seperti ini?"

Yifan mendesah. Pipinya begitu panas. Ia merintih ketika kali ini Zitao menciumnya lagi. Segera, ia menemukan dirinya di atas ranjang, dengan tubuh sang adik tepat diatas tubuhnya. Mereka berciuman dan berciuman sampai ketukan di pintu membuyarkan semuanya. Yifan mendorong dada Zitao dan menggosok bibirnya.

"Yifan, Zitao? ibu berangkat dulu,ya! sudah siang! kalian juga cepat berangkat,ya!"

"I-iya…!" seru Yifan.

Suara langkah kaki ibu mereka menghilang. Mereka terdiam sampai suara mesin mobil ibu dan ayah mereka tak terdengar lagi.

Kedua pasang manik mata itu saling menatap. Yifan yang pertama memecah kesunyian.

"Jadi itu benar?" tanya Yifan lirih. "Antara kau dan Jongin…"

"Kenapa? Kau keberatan?"

Yifan tidak ingin egois. Zitao berhak bahagia. Zitao berhak memilih untuk bersama siapapun yang ia suka. Baik itu Jongin, ataupun gadis lain. Siapa dirinya? Yifan hanya seorang kakak bagi seorang Zitao. Suatu ikatan yang pasti dan tak dapat diubah. Ia pikir, posisinya sekarang begitu aman. Tapi ia baru menyadari betapa merugikannya status itu.

"Kau keberatan?"

Zitao mengulangi pertanyaannya sementara Yifan kembali mempertanyakan perasaannya. Sejak kapan ia menyimpan rasa ini. Sejak kapan ia mulai seegois ini. Tanpa ia bisa jawab, perasaan itu tumbuh tanpa bisa ia cegah apalagi hentikan.

Zitao mengangkat tubuhnya dari tubuh sang kakak secara perlahan. Yifan menatap kepergian Zitao dengan tatapan rindu. Ia tidak ingin kehangatan itu hilang. Ia ingin Zitao. Ia ingin Zitao untuk dirinya sendiri!

"Beritahu aku," bisik Yifan pelan. "Apa lagi yang kalian lakukan?"

"Apa?"

"Apa lagi yang kau dan Jongin lakukan? Ayo, tunjukkan padaku."

.

Yifan hanya menunggu satu isyarat dari Zitao maka mereka akan menyeberangi batas itu. Melampaui garis yang dijalin oleh suatu ikatan darah. Yifan memutuskan bahwa ia tidak puas hanya dengan status yang ia miliki sebelumnya. Ia sudah membuang seluruh harga dirinya. Demi apa yang ia yakini adalah…cinta.

Waktu terasa berjalan begitu lambat saat ini untuk Zitao yang tak kunjung menyambut permintaannya. Tetapi mata Zitao tak jauh beda dengan dirinya. Sama-sama menyiratkan suatu keinginan.

Zitao naik ke atas ranjang untuk kedua kalinya, melangkah menggunakan lututnya, tak sekalipun matanya meninggalkan Yifan. Tangan keduanya sama-sama terulur. Ketika ujung jari dan ujung jari saling bersentuhan, tak ada keraguan lagi. Zitao mencium kakak kandungnya tanpa memedulikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dasi Yifan yang tadi rapi telah lama menyentuh lantai. Pun seragamnya yang hari ini ia tanggalkan. Tak ada lagi murid teladan Yifan. Yang ada hanya dirinya dan Zitao.

Bibir dengan bibir. Dada dengan dada. Tak ada lagi jarak antara mereka berdua. Yifan mendudukkan dirinya di pangkuan Zitao sehingga penis mereka bersentuhan. Yifan memang kalah jauh dibanding adiknya soal hal satu ini. Mungkin ia harus berterima kasih pada Jongin yang telah mengajari Zitao. Jongin tak sepenuhnya benalu,kan?

Yifan melingkarkan kaki panjangnya di pinggang Zitao. Wajah keduanya saling menempel akibat ciuman yang membuat mereka kehabisan nafas. Zitao merebahkan sang kakak ke ranjang dan kini melarikan ciumannya ke leher putih itu. Mungkin inilah kissmark pertama yang Yifan punya. Dan ia senang mengetahui bahwa Zitao-lah yang menciptakannya.

"Kau berbeda dengan Jongin. Di saat seperti ini, ia akan merintih secara memalukan…"

Yifan tidak menyukai Zitao yang masih menyebut nama Jongin di saat seperti ini. Ia mendorong tubuh Zitao ke samping hingga tubuhnyalah yang kini mendominasi. Yifan yang masih hijau dalam hal ini, mencoba peruntungan dengan mengigit puting Zitao. Sang adik menjerit pelan dan menjambak rambutnya.

"Ah…!"

"Kau menggigitnya terlalu keras, Yifan. Biar kutunjukkan padamu."

Zitao mendorong Yifan lagi dan menindih tubuh sang kakak sekali lagi. Kini, ia berhadapan dengan kedua puting berwarna merah muda milik kakaknya. Ia menjulurkan lidahnya dan memainkan puting itu berulang-ulang. Yifan tak pernah menyangka bahwa tempat di tubuhnya itu begitu sensitif. Ia pun mendesah untuk pertama kalinya.

Zitao melanjutkan dengan puting satunya, memainkan dengan jari ketika lidahnya bergantian ke satu titik lain. Kepala Zitao bergerak ke bawah. Ia terkikik ketika bulu-bulu pada sekitar kemaluan kakaknya menggelitik hidungnya. Yifan mengangkat tubuhnya dan melihat sang adik sekarang berhadapan dengan penisnya yang tegang. Zitao mengeluarkan lidahnya sedikit dan menjilat ujung batang itu.

"Zitao!"

"Hm? Ada yang salah?"

"Itu…kotor,kan…?"

"Apa yang kita lakukan sejak awal bukanlah kotor?"

"Tapi…"

Kalimat Yifan dipotong begitu saja dengan tangan Zitao yang mengocok penisnya kasar. Zitao mulai menjilati batang miliknya dengan sensual. Setelah melumeri batang itu dengan salivanya, ia membungkus penis itu dengan rongga mulutnya. Menghasilkan lenguhan panjang dari sang kakak.

"Zitao…"

Zitao mulai menaik-turunkan kepalanya. Awalnya lambat tetapi ketika Yifan mulai menjambak rambutnya tanda ia menikmati perlakuan yang ia terima, Zitao mulai mempercepat gerakannya. Lidah Zitao tak tinggal diam begitu saja. Ia menjilati batang itu sekaligus membungkusnya. Mulut Yifan terbuka. Ia mengangkat tubuhnya lagi dan menyangganya dengan kedua lengan. Zitao merasakan batang itu makin panas, ia pun melirik Yifan.

"Zitao! aku mau-"

Keluarkan…ayo, keluarkan, Gege…

Yifan mencoba menarik penisnya dari mulut sang adik, tetapi Zitao menolak dengan menahan pingganya di tempat. Tanpa sempat memberi peringatan, Yifan menumpahkan seluruh cairannya ke mulut Zitao. Puas dengan oral seks yang pertama ia rasakan, Yifan merebahkan tubuhnya lagi.

"Maaf…maaf," Yifan terengah-engah.

"Untuk apa?" tanya Zitao heran.

Ia masih menjilati penis kakaknya yang menyisakan sedikit sperma.

"Aku membuatmu menelan milikku…"

Mendengar ini, Zitao tertawa. Yifan menatapnya lewat matanya yang berat.

"Aku tak keberatan, Ge. Kau tahu? Punyamu jauh lebih enak dari Jongin."

Yifan melihat cairan putih kental di sudut bibir Zitao. Ia jadi ingat apa yang ia lihat pada Jongin di tempat yang sama. Jadi itu…

"Kau bohong. Mana mungkin yang seperti itu enak?" Yifan mengernyit jijik.

"Tidak percaya? Mau coba?" tantang Zitao.

"Bagaimana caranya?"

Keheranan, Zitao meraih tangan Yifan dan mengangkat tubuhnya lagi. Ia memposisikan Yifan di pangkuannya lagi. Ketika Zitao hendak menciumnya, Yifan menjauhkan kepalanya.

"Kenapa?"

"Ta-tapi, kan- itu…"

Zitao yang gemas, menarik tengkuk sang kakak dan menabrakkan bibir mereka. Yifan mengernyit ketika ia merasakan cairan yang rasanya masih tertinggal di mulut Zitao. Seluruh rongga mulut Zitao telah ia jelajahi, ia memastikan tak ada satupun celah yang ia lewatkan. Ia menyukai kenyataan bahwa mereka sedekat ini. Ia melepas ciuman mereka yang meninggalkan benang saliva antara kedua bibir yang tadi bertaut. Matanya menangkap cairan yang masih ada di pipi adiknya. Dengan sensual, ia mengeluarkan lidah dan menjilat cairan tersebut. Zitao mendesah. Ia mengakui kalau kakaknya itu cerdas. Cerdas dalam segala hal. Termasuk mempelajari sesuatu. Lihat betapa ia begitu menguasai hal baru ini sekarang.

"Apa Jongin…juga menelan milikmu?" tanya Yifan penasaran.

"Tentu saja." Zitao terkekeh. "Ia ketagihan, bahkan."

"Kalau begitu aku-"

Zitao tahu apa yang diinginkan kakaknya, tapi ia akan menyimpannya untuk bagian yang terbaik dan paling akhir.

"Simpan itu. Sekarang ikuti saja aku, Gege."

Yifan membelai wajah Zitao dengan sayang. Zitao menyentuh tangan sang kakak, dan membawa jari tengah yang panjang itu ke mulutnya. Yifan menutup matanya merasakan Zitao mengulumnya, menimbulkan suara yang erotis. Sementara itu, Zitao membawa jarinya ke penis Yifan yang masih menyisakan sperma. Ia melumasi jarinya dengan cairan itu.

"Maaf. Jongin yang suka menyimpan lube….untuk sementara, hanya ada ini…" ujar Zitao setelah ia selesai melumasi jari Yifan. Kakaknya mengernyitkan dahi tanda tidak paham. Zitao menurunkan Yifan dari pangkuannya dan mendudukkan sang kakak. Melebarkan kakinya sehingga lubang itu kini terlihat jelas oleh matanya.

"Zi-Zitao…"

Yifan merasa dirinya terekspos. Zitao telah menelanjanginya hingga ia merasa seluruh bagian tubuhnya kini tak lagi privat. Zitao duduk di depan kakaknya. Ia membawa jarinya yang berpelumaskan sperma sang kakak ke lubang itu.

"Maaf…"

"Nggh!"

Yifan merasa sangat asing dengan benda yang kini memaksa memasuki lubangnya. Ia membaca segala hal, termasuk seks antara sesama pria. Ia tak pernah menyangka melakukan apa yang ia baca tersebut sekarang.

Seluruh ujung jari Zitao sudah masuk sepenuhnya. Jari itu keluar masuk lubangnya dengan tidak mudah,menyadari ini pertama kalinya bagi Yifan.

"Bantu aku?"

"Hah…?"

Zitao membawa jari kakaknya yang tadi ia kulum dan mengarahkannya ke lubang itu. Zitao melihat wajah kakaknya mengernyit penuh penderitaan ketika jari yang kedua masuk. Ia mempercepat proses tersebut sehingga sang kakak tak akan merasakan sakit yang lebih lama. Yifan menjerit pelan ketika ia merasakan ujung jarinya menyentuh sesuatu yang dalam.

"A-apa itu tadi…?"

"Bagaimana? Enak,kan?"

"Lakukan lagi…"

Zitao dengan senang hati menurutinya. Ia menjelajahi lubang sang kakak, memastikan menggesek titik yang mampu membuatnya menggelinjang.

"Ah…! Disitu…"

"Oke…temukan sendiri dengan jarimu juga…"

Keduanya berlomba mencari titik itu dan Yifan melenguh tiap kali mereka menemukannya.

"Cukup, Zitao. Aku siap…"

Zitao mengangguk. Dengan langkah gemetar ia merebahkan kakaknya lagi. Ia memposisikan tubuhnya berlutut di depan lubang sang kakak. Tangannya memegang penisnya sendiri dan menyejajarkannya dengan lubang Yifan.

Yifan tak bisa menjelaskan dengan kata-kata apa yang ia rasakan saat ini. Ia bagaikan kertas yang dirobek jadi dua, bahkan lebih.

"Ah…hah…!" jerit Yifan.

"Kau baik-baik saja?"

"Tidak…"

"Aku…berhenti saja,ya?" Zitao cemas.

"Jangan! Aku-aku tidak mau kalah dengan Jongin…"

Zitao terperangah untuk beberapa saat, kemudian ia tertawa. Kakaknya ini…kenapa bisa begitu lucu saat cemburu?

"Baiklah…aku tidak akan menahan diri lagi. Kalau Jongin, saat ini dia akan-"

"Jangan perlakukan aku seperti Jongin!"

"Ge…?"

"Aku orang spesial bagimu,kan? Jangan sebut namanya lagi…"

"Oke! Oke! Ya Tuhan…kau ini memang…"

Zitao menusuk lubang Yifan tanpa memedulikan jeritan kesakitannya lagi. Kalau itu yang diinginkan kakaknya, maka akan ia turuti. Karena ia selalu melakukannya dengan manis dan pelan saat dengan Jongin, maka kali ini dia akan bermain kasar.

"Zitao! sial…"

"Ya?"

"Lakukan lagi…"

Zitao menyeringai. Jadi ia sudah menemukan titik itu lagi? Zitao mengangkat kedua kaki Yifan selebar-lebarnya dan menyetubuhinya sampai Yifan merintih-rintih. Yifan meraba-raba dan menggenggam sandaran ranjangnya ketika ia membutuhkan pegangan. Zitao menusuk lubangnya begitu dalam dan cepat, sampai rasanya ia jadi pusing.

Yifan orgasme untuk yang kedua kalinya pagi itu. Cairannya menggenangi perutnya. Zitao pun mendesah menandakan ia tak akan lama lagi. Tusukannya menjadi tidak beraturan dan Yifan melenguh pelan, merasakan lubangnya disiram cairan hangat. Zitao mencabut penisnya dan melihat cairannya menetes keluar mengotori sprei sang kakak.

"Kau mau merasakan milikku?" tawar Zitao.

Yifan membuka matanya dan melihat penis Zitao masih meneteskan cairan. Ia bangkit dengan susah payah dan segera menelan penis itu. Zitao membantu gerakannya dengan memaju mundurkan tengkuk Yifan. Ia menjilati penis itu sampai bersih. Mendongak dan mendapati wajah sang adik yang sama letihnya.

"Kau membolos hari ini," goda Zitao.

"Tidak peduli... Yang penting aku bersamamu," Yifan memeluk Zitao dan mengajaknya berbaring. Mereka berpelukan. Zitao mengecup wajah kakaknya berulang-ulang, membuat Yifan terkikik.

"Aku tidak akan pernah melupakan hari ini," bisik Yifan.

"Aku masih tidak percaya kau marah gara-gara Jongin."

Yifan menangkup wajah Zitao di telapak tangannya dan mengecup bibirnya mesra.

"Kau adalah milikku sekarang. Jangan dekat-dekat orang lain, terutama Jongin."

"Kau juga. Aku akan selalu memantaumu dengan Yixing…"

Yifan memutar bola matanya kesal.

"Cemburumu tidak beralasan. Yixing hanya teman sekelas."

"Jangan membantah, aku akan menciummu."

Zitao menindih tubuh Yifan dan menciumnya. Keduanya memutuskan tak akan pernah bosan dengan bibir masing-masing. Kini, jantung mereka berdetak beriringan. Sama halnya dengan darah yang mengalir dalam tubuh mereka. Seragam dan seirama. Mereka akan menyimpan cinta ini secara rahasia. Saat mereka bersama orang lain, mereka tak lebih selain saudara sedarah. Tetapi saat hanya berdua, bahkan kata kekasih sudah tak mampu lagi menggambarkan hubungan mereka.

-to be continued-

Author keong is back dengan NC ancur-ancuran. Silahkan review. See ya :3

p.s. yep. Kris jadi bottom disini. harap tidak keberatan.

–HZTWYF-