Hai aku kembali lagi membawa "Sunshine" ke hadapamn kalian. semoga masih ada yang menunggu fanfic ini. entahlah akhir-akhir ini otaknya lagi mbulet, susah di ajak kompromi jadi ketetran buat update. ok langsung aja.

eh sebelumnya makasih untuk yang udah review, here we go .. happy reading semoga chapie kali ini tidak mengecewakan.

Tahukah kalian bahwa setiap keputusan yang kalian ambil akan membawa kalian pada peristiwa yang berbeda dan kadang tak pernah terduga? Hinata mengalaminya. Ketika dia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya tanpa bayangan masa lalu. Dia malah di hadapkan pada kenyataan yang selama ini tersembunyi. Banyak rahasia yang terungkap mengenai kehidupannya. Sanggupkah dia menghadapi semua itu, atau malah dia akan menyerah?.

I presented

SUNSHINE

Disclaimer : Masasahi Kishimoto

Pair : Naruto, Gaara, Hinata

Ratting : T+

Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya

DON'T LIKE! DON'T READ!

Chapter 3

"jadi bisa kau jelaskan apa yang terjadi Hinata?" Suara seorang wanita bertanya pada Hinata yang duduk berhadapan dengan dirinya. Sakura, wanita itu sudah menunggu kesempatan ini sejak pertama kali Gaara mengenalkan Hinata sebagai istrinya.

"menjelaskan apa Sakura-san?" Hinata menjawab dengan tenang.

Mereka berdua sekarang sedang berada di kamar pribadi Hinata dan Gaara. Seusai makan malam bersama 15 menit yang lalu Sakura langsung menyeretnya kesini, sementara anggota keluarga yang lain sedang mengobrol di taman belakang mansion Sabaku. Gaara sengaja mengundang saudara-saudara juga beberapa orang kepercayaannya untuk di perkenalkan pada Hinata hari ini. Dan diantara orang-orang itu adalah Sakura yang tak lain merupakan sepupu suaminya.

"tentu saja menjelaskan semuanya Hinata, kenapa kau pergi dari rumah Naruto? di mana anak lelakimu? Kemana saja kau selama ini? Banyak Hinata, banyak sekali yang kau harus jelaskan padaku." Sakura mulai naik pitam.

Sakura marah tentu saja! Apa-apaan wanita di hadapannya ini, selama 4 tahun dia menghilang bersama kedua anaknya meninggalkan sahabat baiknya, dan sekarang di sinilah dia bertemu dengan wanita itu yang di perkenalkan sebagai istri dari sepupunya, Gaara. Lelucon apa yang sedang takdir mainkan kali ini..

"kau kejam Hinata, Naruto sedang dalam ke adaan sakit saat itu tapi kau malah meninggalkannya. Kau..kau bahkan tidak ada di rumah sakit saat naruto mendapat kecelakaan itu. Jelaskan padaku apa salah Naruto " Sakura menatap tajam Hinata

Hinata hanya tersenyum kecut mendengar tuduhan Sakura

"sudahlah Sakura-san itu hanya masa lalu, aku tak ingin membahasnya lagi" Hinata berusaha menghindar

"Tidak bisa Hinata, aku harus tahu sendiri dari mulutmu apa sebenarnya yang terjadi? Aku..aku ingn mendengar cerita dari sisimu" Sakura tak mau kalah

"untuk apa? Bukankah kau sudah mendengar cerita versi mereka, lalu untuk apa lagi kau mendengar versiku?" Hinata mengerutkan keningnya

Sakura menghirup nafas dan mengeluarkannya dengan keras" Hah.. begini Hinata kita memang tak pernah dekat, aku bahkan hanya pernah bertemu beberapa kali denganmu, dan kita tak pernah bercakap dalam kesempatan itu. tapi aku tahu kau orang baik, kau tak mungkinkan meninggalkan Naruto begitu saja? Pasti ada alasannya. Jadi aku ingin kau menceritakan semuanya padaku. Aku ingin tahu apa yang selam ini aku dengar itu benar atau salah. Apalagi sekarang kau adalah istri dari sepupuku Hinata. aku tak ingin melihat Gaara menderita. Siapa tahu kau menikahinya hanya karena alasan yang sama seperti kau menikahi Naruto. ingin mendapatkan hartanya" lanjutnya memancing emosi Hinata

"apa maksudmu? Dari mana tuduhan itu berasal Sakura-san? Aku memang bukan orang kaya seperti kalian, tapi aku tak akan menjual perasaanku untuk alasan yang rendah seperti itu" Hinata tidak terima di katakan seperti itu

"maka dari itu Hinata, ceritakan padaku.. agar aku tahu, agar aku tak berfikiran buruk tentangmu. Dan agar aku tak khawatir dengan sepupuku. Aku mohon Hinata..!"

"baiklah.. tapi sebagai syaratnya kau tidak akan mengungkit permasalahn ini lagi. OK" akhirnya Hinata mengalah, mungkin dengan mengungkapkan masa lalunya pada orang lain beban di hatinya akan berkurang. Dan dengan begitu dia bisa lebih tenang menata masa depannya. Toh Sakura juga sudah tahu sedikit dari masa lalunya.

"deal" jawab Sakura sambil mengangguk

"kau tahukan aku menikah dengan Naruto saat dia hilang ingatan?" Hinata memulai ceritanya dengan sebuah pertanyaan

Sakura hanya mengangguk. Dia masih ingat ketika Naruto pulang ke kediaman Namikaze setelah hampir satu tahun menghilang dalam keadaan hilang ingatan, sahabatnya itu tidak mengingat ibunya, Sakura, Sasuke dan juga Shion tunangannya yang berada di sana juga karena mereka disuruh datang sebelumnya oleh Kushina setelah tahu Naruto akan pulang.

Saat itu Naruto membawa seorang perempuan yang sedang mengandung besar yang di kenalkannya sebagai istrinya, Hinata Ogawa. Hinatalah yang menghubungi mereka sebelumnya, menanyakan tentang putra mereka Naruto Namikaze yang di panggilnya dengan nama Menma. Dia bilang bertemu dengan Naruto di sebuah pulau terpencil, kampung halamannya dalam keadaan luka parah di kepala yang menyebabkan cedera pada otaknya.

"kau tahu, dari awal keluarga Naruto memang tidak menyukai kehadiranku sebagai istri Naruto. Ibu memang tidak jahat tapi dia bersikap tidak peduli saat tunangan Naruto, Shion atau ibunya memperlakukan ku dengan buruk jika sedang berkunjung ke rumah. Mereka hanya berpura-pura menerima kehadiranku jika berada di sekitara Naruto.

aku kira Ibu bersikap seperti itu karena dia masih asing denganku, dan aku pun tak mempermasalahkan sikap Shion. Apalagi setelah apa yang dia alami yang secara tidak langsung di sebabkan olehku. Toh saat itu aku punya suamiku yang menyayangiku dan calon anak kami.

Satu bulan setelah aku datang ke rumah itu, aku melahirkan Boruto dan Himawari melalui jalur caesar. Aku semakin bahagia meskipun ibu belum bisa menerima kehadiran ku. Aku berharap semoga kehadiran anak-anakku akan merubah sikapnya. Rasanya tidak nyaman saja jika kau tinggal di sebuah rumah dan nyonya rumah itu tidak menyukai kehadiran mu" Hinata tersenyum di paksakan

Sakura terus mendengarkan setiap perkataan Hinata sambil memperhatikan raut wajah wanita itu. dia bisa melihat terdapat banyak kesedihan di matanya namun tak ada air mata, sepertinya Hinata berusaha menahan untuk tidak menangis

"Namun sepertinya ibu masih belum menerimaku meski usia anakku saat itu sudah 6 minggu, dia bahkan tak pernah menggendong mereka. Kau tahu.. rasanya sakit Sakura-san, mungkin jika aku yang tidak di pedulikan, aku akan bersikap tenang seperti biasa tapi ini anak-anakku, anak Naruto putranya sendiri yang berarti mereka adalah cucunya. Aku tidak menceritakan perihal kesedihanku itu pada Naruto, aku tak ingin membuatnya bingung antara harus membela ku atau ibunya" lanjut Hinata sambil membenarkan posisi duduknya begitupun dengan Sakura yang reflek mengikuti apa yang di lakukan oleh wanita di depannya.

"Saat usia boruto dan Himawari menginjak 8 minggu kecelakaan itu terjadi. Hah..aku bahkan tidak di beritahu bahwa Naruto mendapat kecelakaan dan di larikan ke Rumah Sakit. Aku tahu dari pelayan rumah, itupun setelah Naruto di rawat selama 2 hari. Pelayan itu mengatakan bahwa ingatan Naruto sudah kembali, aku tentu senang mendengar kabar gembira itu. Mungkin inilah jawaban atas do'a-do'a yang aku panjatkan selama ini. Dan semoga kembalinya ingatan Naruto merupakan pertanda baik unuk kami" Hinata terdiam sebentar menghirup nafas dengan tenang meredakan gemuruh di dalam hatinya

"Sore harinya Ibu datang ke kamarku, tidak seperti biasanya. Aku sudah berharap saat itu bahwa sikap ibu akan membaik. Tapi kau tahu apa yang ku dapat Sakura-san? Dia mengulurkan sebuah map dan menyuruh aku membukanya. Aku mengikuti perintah ibu dan membuka map tersebut dan kau tahu apa isi dari map Itu?" Hinata memberi jeda sebentar

"surat cerai Sakura-san." Lanjutnya dengan suara yang mulai tercekat sementara Sakura membulatkan mata tak percaya

"Demi tuhan rasanya hatiku yang paginya melambung tinggi karena bahagia atas kesembuhan Naruto, langsung di hempaskan kembali ke dasar lautan yang paling dalam di sore harinya. Apalagi..apalagi surat itu sudah di tanda tangani oleh Naruto. Ibu memberikan waktu padaku sampai pagi untuk menandatangani surat itu dan juga dia menyuruhku untuk membereskan pakaianku beserta kedua anakku. Ka-katanya setelah aku menandatangani surat cerai itu aku harus segera pergi dari rumah mereka" Hinata mengusap setetes air mata yang tanpa sadar sudah jatuh di pipinya, kemudian menarik nafas dengan panjang dan menengadahkan kepalanya ke atas agar tak ada air mata lain yang menyusul. Sakura sendiri sudah mulai berkaca-kaca mendengar apa yang di alami Hinata.

"ekhm.. Ibu memberikanku amplop lain sebelum keluar dari kamarku tanpa mengatakan apa-apa lagi. Malam itu aku tak tidur sedetik pun. Aku menangis sambil memeluk kedua anakku. Andai saja tak ada mereka mungkin aku sudah memilih untuk mati saja Sakura. rasanya sakit di campakan oleh satu-satunya orang yang kau cintai. Apalagi Naruto satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini selain kedua anakku. Akku merasa bodoh selama itu meyakini bahwa Naruto akan tetap mencintaiku setelah ingatannya kembali. Harusnya aku sadar dia pasti lebih memilih Shion yang merupakan keturunan bangsawan itu, ketimbang diriku yang bukan siapa-siapa

Aku menandatangani surat cerai sesuai dengan permintaan ibu, apa lagi yang bisa aku harapkan jika suami ku sendiri sudah menceraikanku. Bahkan dia tidak langsung menemuiku dan hanya menitipkan surat itu melalui ibunya. Sebelum pergi dari sana aku membuka amplop yang satunya lagi dan ternyata isinya adalah uang dengan nominal tinggi dan buku tabungan beserta kartu debit atas namaku. Awalnya aku tidak tahu apa maksud ibu memberi ku semua itu tapi setelah mendengar tuduhanmu tadi aku jadi faham. Ternyata mereka berfkir bahwa aku menikah dengan Naruto untuk hartanya" Hinata menarik nafas yang dalam

"aku pergi pagi-pagi sekali dengan membawa kedua anakku dan menitipkan amplop uang itu pada seorang pelayan untuk di berikan kepada Ibu saat dia sudah bangun."

"tunggu Hinata.. tapi..tapi yang ku dengar kau membawa uang yang di berikan oleh bibi Kushina, makanya tadi aku mengatakan hal tadi" Sakura tiba-tiba menyela

"aku memang miskin Sakura-san dan tak memiliki apa-apa tapi aku punya harga diri. Aku tak akan menjual harga diriku dengan apapun termasuk isi dari amplop tersebut." Hinata menjawab tegas

"Ok Hinata.. tapi satu hal lagi. Perlu kau tau Naruto tidak mencampakanmu melainkan dia dia memang tidak mengingatmu. Otaknya tidak bisa mengingat peristiwa saat dia amnesia Hinata, jadi..jadi mana mungkin Naruto menandatangani surat cerai sementara dia tak ingat pernah menikah. Naru.."

"bahkan mereka mengambil putraku..." potong Hinata dengan pelan penuh dengan kepedihan. Melanjutkan ucapannya tanpa peduli Sakura sedang berusaha menjelaskan sesuatu

"ap-apa maksudmu?" Sakura semakin tidak faham dengan Hinata

"setelah aku keluar dari rumah itu, Akhirnya aku memutuskan mendatangi sahabatku yang dulu membantu mencari tahu tentang keluarga Naruto, kebetulan dia bekerja di Konoha. Aku masih punya tabungan yang cukup, uang peniggalan ibuku, uang hasil menjual rumahku dan uang yang ku sisihkan hasil aku bekerja sewaktu masih di pulau. Jadi aku meminta sahabatku untuk mencarikan apartemen yang bisa di sewa untuk tinggal.

Aku mencoba menata kehidupanku kembali dengan kedua anakku meski tanpa Naruto, sebulan kemudian aku bekerja di sebuah toko bunga milik seorang Nenek. Aku tak bisa selamanya berdiam diri mengandalkan uang tabungan yang aku milki. Untunglah pemilik toko bunga cukup baik membolehkan aku membawa kedua anakku ke toko, dia bahkan membantu mengasuh mereka.

Suatu hari aku menerima sebuah surat yang dikirim atas namaku, tapi tanpa nama pengirim. Karena penasaran aku membukanya, dan setelah aku membacanya ternyata isi surat itu adalah ancaman agar aku segera meninggalkan Konoha. aku tak memperdulikan surat ancaman itu meski aku tahu siapa pengirim surat itu. Padahal aku sudah tidak mengganggu hidup mereka lagi tapi ternyata mereka belum puas. Surat itu terus berdatangan dan isinyapun semakin menakutkan. Aku mulai was-was ketika mereka mulai membawa-bawa kedua anakku. Mengancam akan mencelakai mereka jika aku tak segera pergi dari konoha, tapi di lain pihak aku juga bingung harus pergi kemana, kembali kepulau pun tak mungkin selain kondisi bayiku yang masih kecil, aku juga sudah tak memiliki rumah disana, saudara juga tidak ada.

Su-suatu sore setelah surat ancaman itu terus berdatangan selama 1 bulan" suara Hinata mulai bergetar " aku meminta izin pada pemilik toko untuk pergi membeli kebutuhan sehari-hari kami yang kian menipis. Tidak seperti biasanya Boruto waktu itu sangat rewel tidak mau lepas dariku. Jadi dengan terpaksa aku membawa Boruto untuk belanja dan menitipkan Himawari pada nenek.

Aku menunggu taksi di pinggir jalan sekitar 200 meter dari tempatku bekerja. Aku sedang mengajak Boruto bercanda saat ada sebuah mobil yang melaju kencang datang dari arah kanan, awalnya aku diam saja karena posisiku berada di jalur pejalan kaki, tapi seketika mataku membulat saat mobil itu menghampiri kami, aku reflek menghindar tapi karena terlambat sadar aku terserempet mobil itu dan menyebabkan aku jatuh membentur jalanan. Tanpa menghraukan tubuhku yang rasanya seperti remuk, aku memeriksa boruto yang saat itu berada di pangkuanku dan..dan jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Ba-bayiku... ma-ta..mata nya terpejam dan..dan kepalanya berdarah.. aku menjerit memangil namanya lalu mengguncang-guncang tubuh boruto. Tapi..tapi dia tak merespon, dia tidak bergerak di pangkuanku meski aku terus-terusan memanggilnya sampai aku tak sadarkan diri" Hinata mengusap air mata yang sudah jatuh di pipinya. Sakura sendiri menangis ikut merasakan kepedihan yang di alami wanita di hadapannya itu.

"aku terbangun di Rumah Sakit setelah 12 jam tak sadarkan diri, disisku ada nenek Mitsuko pemilik toko dimana aku bekerja sedang memangku Himawari dengan raut wajah sedih, mataku mengelilingi ruangan itu mencari keberadaan putraku tapi dia..dia tak ada di sana. Aku..aku tahu apa yang akan di sampaikan nenek ketika dia mulai membuka suara. Benar saja apa yang dikatakan nenek membuat duniaku runtuh seketika. Putra..putraku meninggal akibat kejadian itu, nyawanya tak terselamatkan. Seandainya aku tak ingat jika masih ada putri yang membutuhkan aku berada di sisinya, aku lebih baik menyusul bersama putraku.

Aku tidak mau tinggal di Konoha lagi setelah itu, apalagi saat aku mengingat-ingat mobil yang waktu itu berniat menabraku adalah mobil... Naruto" bisik Hinata,

Sakura menatap Hinata tak percaya tak mungkin.. Naruto tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Sakura yakin itu bukan perbuatan Naruto tapi dia tidak bisa menyanggah Hinata saat ini.

"aku langsung berkata ingin pindah dari Konoha pada nenek setelah aku diperbolehkan keluar dari Rumah Sakit dan nenekpun menyuruhku ikut dengannya ke sebuah daerah di Suna, disana dia memiliki toko bunga yang sudah tak sanggup dia urus karena jaraknya yang cukup jauh untuk di kunjunginya. Aku menyetujui ajakan nenek ke suna juga menguburkan jasad Boruto di sana. 1 tahun di Suna nenek menyerahkan toko itu padaku, aku awalnya menolak tapi nenek memaksa katanya dia sudah tak sanggup lagi ke toko itu dan lagi dia akan pindah ke luar negri, ke negara asalnya menyusul cucunya yang sekolah di sana.

Aku mulai membenahi hidupku lagi di Suna, meskipun mimpi buruk detik-detik kematian Boruto kadang masih selalu menghantuiku saat mataku terpejam, tapi aku bertahan demi Himawari sampai akhirnya kami bertemu Gaara" Hinata mengakhiri ceritanya dengan menghela nafas dan tersenyum. Hinata melihat keraguan di mata Sakura saat dia menatap wanita itu.

"aku tidak menuntutmu untuk mempercayai semua yang aku katakan ini Sakura-san. Aku hanya menuruti keinginanmu agar aku menceritakan kejadian sebenarnya. Dan itu hakmu untuk percaya atau tidak dengan kisahku ini. Lagipula kau pasti lebih mempercayai mereka, orang-orang yang dekat denganmu dari pada diriku yang hanya orang asing. Iya kan Sakura-san?"

"tidak Hinata.. aku percaya padamu..aku percaya padamu. Maaf aku malah menuduhmu yang bukan-bukan tadi dan maaf juga aku tak ada saat kau mengalami masa sulit itu" untuk saat ini sebaiknya Sakura memilih mengalah pada Hinata. "ekhem Hinata.. apakah Gaara sudah tahu tentang semua ini?" lanjut Sakura

Hinata menggeleng pelan "Gaara-kun hanya mengetahui bahwa aku sudah bercerai dengan suamiku, itu saja. Dia tidak pernah bertanya lebih jauh, aku tahu dia tidak ingin menyakitiku dengan mengungkit masalaluku yang tidak mengenakan." Hinata tersenyum

"tapi Hinata, Gaara harus tahu! dia..dia dan Naruto sangat dekat. Naruto sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri. Saat Gaara masih muda dia banyak mengalami hal yang sulit dan membuatnya terpuruk dan Narutolah salah satu orang yang menolongnya keluar dari keterpurukannya selain nenek Chiyo. Aku melihat Gaara sangat mencintaimu, dan dia pasti akan kecewa jika dia tahu hal ini dari orang lain. Terkadang ucapan yang keluar dari mulut lain tidak akan sama dengan cerita aslinya termasuk cerita yang aku dengar tentangmu sebelum kau menjelaskan semuanya padaku" Sakura mengguncang bahu Hinata untuk meyakinkannya

"tentu Sakura. Cepat atau lambat aku akan bercerita padanya, tapi tidak dalam waktu dekat aku masih butuh waktu. Dan ya dia memang sangat mencintaiku juga putriku. Dia bahkan sudah menganggap Himawari seperti putrinya sendiri dan Hima juga sudah memanggil Gaara dengan sebutan papa sejak pertama kali mereka bertemu. Mereka kompak dalam banyak hal terutama jika menyangkut mengerjaiku" Hinata berbicara dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Sakura ikut tersenyum melihatnya.

"Hinata apa kau membenci Naruto dan bibi Kushina atas apa yang menimpamu. Dan apakah kau mau jika bertemu lagi dengan mereka?" Sakura bertanya ragu

Hinata menatap Sakura sesaat kemudian menjawab pertanyaan wanita di hadapannya

"entahlah.. setelah apa yang aku alami seharusnya aku memang membenci mereka, dan ya aku memang pernah merasakan perasaan itu terhadap mereka. Tapi kemudian aku mulai berkfikir bahwa semua yang terjadi adalah kehendak tuhan, manusia hanya di gerakan untuk memenuhi kehendak tersebut. Mungkin Tuhan mempercayai aku mampu menanggung cobaan berat tersebut jadi Dia memberikan cobaan itu padaku.

Syukurlah setelah perjuangan yang cukup panjang aku mampu melewatinya. Sekarang hatiku lebih tentram, setidaknya aku bisa mengurangi rasa benciku terhadap orang-orang yang menyebabkan penderitaan untukku. Tapi bukan berarti aku sudah siap jika harus bertemu dengan mereka lagi. sekarang mungkin aku bisa sebut perasaanku pada mereka adalah tidak peduli. Aku berusaha tidak membenci mereka namun aku juga tak ingin kenal lagi dengan mereka" Ucap Hinata tenang.

Sakura memaklumi apa yang di rasakan Hinata. dia cukup kagum dengan wanita di hadapannya. Jika mungkin dirinya yang mengalami hal itu sudah di pastikan dia akan menjadi depresi. Tapi wanita bermata amytesis itu tetap tenang walaupun tadi emosinya sedikit tidak terkontrol tapi itu wajar. Bagi seseorang yang menceritakan kembali pengalaman buruk yang pernah di alami, Hinata termasuk wanita mengagumkan karena dia tidak menangis histeris.

.

.

.

.

Gaara masih termenung di kursinya. Dia marah, dia kecewa, dia..dia tidak tahu apa yang saat ini di rasakannya. Gaara mendengar pembicaraan mereka Hinata dan Sakura. Dari awal Gaara sudah curiga ada yang mereka berdua sembunyikan, sejak Hinata yang langsung salah tingkah saat mereka pertama bertemu di ruang tamu tadi sore.

Dan kecurigaannya memanglah benar setelah apa yang dia dengar tadi. Dia menguping? Ya bisa di bilang begitu tapi tentu dengan cara yang elegan. Dia tidak akan merendahkan dirinya dengan menempelkan telinga di balik pintu kamarnya dan mendengarkan cerita mereka, hell no. Yang dia lakukan hanya tinggal mengaktifkan alat penyadap yang terdapat di cincin pernikahannya dengan Hinata. ya Gaara sengaja memasang alat penyedap dan GPS di cincin pernikahan Hinata, cicin yang sengaja ia pesan dari kakak iparnya sang jenius Shikamaru Nara, tanpa sepengetahuan istrinya tentu saja. Dia juga memasang alat seripa di kalung yang Himawari pakai. Niat awalnya sih hanya untuk jaga-jaga, menjadi seorang pengusaha membuat dirinya sedikit banyaknya memiliki musuh yang harus di waspadai. Meskipun Gaara tidak akan membiarkan satu orang pun yang berniat tidak baik berada dalam radius tidak aman dengan orang-orang berharganya, but better safe than sorry.

Dan dengan alasan curiga serta mengecek alatnya bekerja dengan baik atau tidak, disinilah dia duduk di kursi di ruangan kerjanya sambil memegang ipad yang tersambung dengan sepasang headset mendengarkan setiap pembicaraan Hinata dan Sakura. dan setelah kegiatannya itu, inilah yang dia rasakan. Marah, kecewa, dan rasa tak percaya yang lebih mendominasi. Salah satu orang terdekatnya, yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri adalah orang yang selama ini ingin diketahui karena telah membuat wanita yang dicintainya menjadi seseorang yang defensif terhadap kehidupan.

Gaara memang tidak pernah menuntut Hinata untuk menceritakan tentang masa lalunya namun bukan berarti dia tidak penasaran dengan hal itu. Dan satu hal yang sekarang menjadi pertanyaannya adalah, Kapan Naruto pernah mengalami Amnesia? Gaara tak pernah tahu kabar itu. ya dia memang sudah sekitar 5 tahun tak bertemu dengan pria itu. tap dia tak pernah ketinggalan berita mengenai kabar orang-orang terdekatnya. Bahkan saat Naruto menikah dengan Shion dia sempat mengirimkan ucapan meski saat itu dia sedang berada di Thailand.

Dia sedikit tidak percaya dengan apa yang di ceritakan Hinata pada Sakura. Naruto tak mungkin melakukan tindakan seperti itu. tapi istrinya juga tidak mungkin mengarang cerita. Sepertinya dia sendiri yang harus turun tangan menyelidiki hal ini.

Matanya melihat sebuah map berwarna merah, map penawaran kerja sama yang di ajukan oleh mantan suami istrinya, Naruto Namikaze 2 hari sebelum dia menikah dengan istrinya. Mungkin Gaara bisa memulai semua rencananya dari map itu.

Kemudian bibirnya tersenyum saat melihat map lain di sebelahnya, map yang berisi kejutan untuk istrinya, bisa di bilang kado pernikahan mungkin. Sesuatu yang pasti membuat istrinya itu senang. Dia bahkan meminta Sasori sang sepupu untuk turun langsung mengurus hal ini, dan mengingat cara kerja Sasori selama ini Gaara yakin apa yang Sasori kerjalan pasti akan membuat siapapun yang melihatnya merasa puas.

Gaara memandang Hmawari yang tertidur di pangkuannya kemudian menggendong putri istrinya, ah putri mereka dan berlalu menuju kamar pribadinya bersama sang istri.

.

.

.

.

"mm..Hinata apa kau mencintai Gaara?" Sakura bertanya penasaran, mereka masih berada di kamar pribadi milik Hinata, masih mengobrol namun dengan suasana yang lebih santai.

"Entahlah...rasanya aku masih ragu untuk menyerahkan kembali hatiku. Aku takut suatu saat nanti Gaara juga lebih memilih untuk meninggalkanku, apalagi jika dia sudah tahu masa laluku. Dan ku rasa jika hal itu sampai terjadi sepertinya aku tak akan bisa bertahan lagi" Hinata berucap lirih

"tidak akan Hinata, aku yakin Gaara takkan pernah melakukan hal itu. Gaara akan selalu mencintaimu. Kalaupun dia berbuat seperti yang kau takutkan aku adalah orang pertama yang akan meemenggal kepalanya" Ucap Sakura berapi-api

"siapa yang akan kau penggal kepalanya Sakura" Gaara memasuki kamarnya dengan Himawari yang sudah tertidur di pangkuannya.

"ya tuhan Gaara sepertinya kau berbakat sekali menjadi seorang penyusup. Apa kau tidak punya tangan untuk mengetuk pintu atau mulut mu terlalu lelah untuk mengucapkan permisi sebelum masuk" Ujar Sakura sarkatis.

"kenapa aku harus meminta izin terlebih dahulu untuk masuk ke kamarku sendiri?" Gaara menjawab dengan pertanyaan retoris kemudian meletakkan Himawari di atas tempat tidur di sisi Hinata, tak lupa mengecup kening sang istri setelahnya.

"kau tahu sayang.. aku mencarimu kemana-mana tapi ternyata kau berada di sini bersama si nenek sihir" Gaara berdusta sambil kembali mengecup kening istrinya, saat hendak mengecup bibir sang istri kegiatannya di instrupsi oleh Sakura

"ya ampun Gaara tidak bisa kah kau bersabar sedikit, masih ada aku di sini seenaknya saja kau malah bermesraan dengan istrimu." Sakura berkata sambil memutar matanya. Memangnya dia kambing conge yang di cuekin sementara pasangan di depannya bermesraan.

"lagian siapa suruh kau tetap di sini, apa perlu ku usir juga biar sadar sudah mengganggu kemesraan suami istri" Gaara mendelik tajam sementara Hinata menunduk dengan wajah memerah karena malu

"hah.. tak ku sangka kau bisa berbuat mesum juga. Hati-hati Hinata biasanya orang yang pendiam itu kalau di ranjang jadi ganas" ujar Sakura cuek mengabaikan wajah Hinata yang semakin memerah

"kau tak tahu saja Sakura, bahwa istriku ini tak kalah ganas denganku jika sudah berurusan dengan kegiatan di atas ranjang" Gaara menyeringai ke arah Hinata yang wajahnya sudah merah sempurna.

"baiklah setan merah aku pergi. Hinata kalau ada apa-apa segera hubungi aku yah. Aku tak ingn jadi obat nyamuk di sini" Sakura memeluk Hinata kemudian berlalu dari kamar sepupunya itu.

"a-aku akan menidurkan Hima di kamarnya dulu" Hinata langsung mengangkat putrinya

"tunggu sayang biar aku yang bawa Hima dan menidurkannya, kau sebaiknya disini saja, persiapkan dirimu untuk kegiatan kita selanjutnya" Gaara menyeringai kemudian mengambil alih Himawari lalu berlalu menuju kamar putrinya yang berada di depan kamar mereka.

.

.

.

.

Neji melirik ke arah tuunangannya yang terus diam sejak keluar dari Mansion keluarga Hyuga. Sekarang mereka sedang berada di mobil menuju ke apartemen milik Ino. Ya semenjak gadisnya itu pulang dari London, Ino memang memutuskan untuk tinggal di apartemen, pasalnya supaya dia bisa lebih mandiri dan lagi pula letak apartemennya lebih dekat ke Rumah Sakit tempatnya bekerja ketimbang dari rumah keluarganya.

"Ino-chan.. apa kau tidak setuju kita menikah dua bulan lagi?" Neji yang tak tahan dengan kediaman tunangannya itu akhirnya membuka suara, namun sepertinya yang di ajak bicara masih melamun

"Ino..honey..kau mendengarku?" Neji menggenggam tangan Ino dengan tangannya yang tidak memegang kemudi.

"ah..kenapa Neji-kun?" Ino yang kaget tersadar dari lamunannya. Sebenarnya dia masih kepikiran dengan foto yang ada di ruang keluarga Hyuga itu, dia yakin foto yang di sebut Hanabi sebagai ibunya itu sangat mirip dengan foto seorang wanita muda yang dia dapat dari neneknya. Dan nama Hinata, kakak kandung Hanabi atau sepupu dari tunangannya juga sama dengan nama wanita yang ada di foto itu. apa kemungkinan wanita yang ada di foto yang di milikinya itu adalah kakak kandung Hanabi?

Ino ingin bercerita pada Neji tentang wanita itu. Tapi dia ragu masalahnya Neji mengatakan bahwa keluarga Hyuga sudah mencari anak sulung mereka yang menghilang selama berbulan-bulan dan tak pernah menemukannya. Tapi suatu hari tepatnya 4 bulan setelah penculikan itu, si pelaku penculikan yang ternyata adalah mantan kepala pelayan di Mansion Hyuga tertangkap. Dia mengaku menculik Hinata karena sakit hati di pecat dari pekerjaannya.

Pemecatannya itu menyebabkan si pelayan ditinggalkan sang istri karen tidak memliki pekerjaan. Kemudian Untuk menebus rasa sakit hatinya, dia menculik putri mereka lalu membuangnya ke dalam jurang agar keluarga Hyuga juga bisa merasakan sakitnya kehilangan anggota keluarga seperti apa yang dialaminya. Sejak saat itulah keluarga Hyuga menghentikan pencarian Hinata. Namun tentu saja si penculik di tuntut hukuman seumur hidup.

"aku bertanya apa kau tidak setuju dengan keputusan ayahmu dan paman untuk tidak mengadakan pesta pertunangan melainkan langsung pesta pernikahan dua bulan lagi?" Neji mengulang pertanyaannya

"apa maksudmu Neji-kun, aku pasti tidak keberatan dengan rencana itu, aku malah bahagia. Kenapa kau bertanya seperti itu?" Ino menjawab dengan sedikit ketus

"lagian dari tadi kau diam saja. Seolah tubuhmu ada di sini tapi jiwamu sedang ada di planet mars"

"ahaha.. itu hanya karena aku memikirkan akan seperti apa acara yang kita laksanakan nanti sayang.. bukan apa-apa" Ino menjawab sedikit gugup. Sepertinya lain kali saja dia bercerita tentang Hinata pada tunangannya itu. lagipula Bisa jadi wanita yang ada di foto miliknya tidak ada hubungan apa-apa dengan keluarga Hyuga, mungkin wajahnya yang mirip dengan nyonya Hyuga serta namanya yang sama dengan putri sulung keluarga itu hanya kebetulan semata.

Neji melihat Ino seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya, namun dia tidak ingin membesarkan masalah jadi memilih diam. Lagipula jika itu adalah hal penting Ino pasti akan memberitahu padanya jika wanitanya itu sudah siap bercerita.

.

.

.

.

"Kau kenapa Sakura? sepulang dari Suna sepertinya kau lebih banyak diam? Apa ada sesuatu yang mengganggu fikiranmu?" Sasuke bertanya pada istrinya yang duduk termenung di meja makan. Tumben-tumbenan istrinya yang biasanya banyak bicara, terlihat lebih pendiam sejak kepulangannya dari Suna 2 hari yang lalu.

"ah Sasuke-kun.. kau sudah turun. Ayo sarapan dulu. mau roti atau nasi goreng?" Sakura berusaha mengalihkan pembicaraan

"Sakura.. aku bertanya padamu. Jangan mengalihkan pembicaraan. Ada apa sebenarnya?" tuntut Sasuke

"ini mengenai Naruto..." Sakura akhirnya menceritakan semua hal yang dia dengar dari Hinata beberapa hari lalu saat dirinya berkunjung ke Suna. Saat itu Sasuke memang tak ikut kesana di karenakan dia tak bisa meninggalkan pekerjaannya.

"jadi Hinata sekarang menikahi Gaara? dan Gaara belum tahu bahwa Hinata adalah mantan istri Naruto? " tanya Sasuke setelah Sakura selesai bercerita

"hm.. dan aku tak menyangka jika Naruto dan biibi Kushina bisa berbuat seperti itu Sasuke-kun. Apalagi mereka sampai tidak peduli dengan anak-anak Hinata" jawab Sakura

"aku tak yakin si dobe bisa berbuat sejahat itu Sakura, bukankah waktu ingatannya kembali dia tidak mengingat Hinata dan kedua anaknya, jadi mana mungkin dia mengirimkan ancaman apalagi sampai mencelakai Hinata?" Sasuke berusah membela Naruto

"iya.. aku juga tak yakin, kau bisa melihat kan saat Naruto masih bersama dengan Hinata. pancaran matanya begitu penuh dengan cinta." Sakura masih ingat dia pernah bertanya pada Naruto saat pria itu masih belum pulih ingatannya mengenai kenapa dia menikahi Hinata. dan inilah jawaban yang Naruto berikan padanya.

"Aku di temukan tergeletak di pinggir pantai dalam keadaan pingsan dengan banyak luka dan terparah terdapat di kepala, kemudian Hinata membawaku ke rumahnya dan merawatku padahal dia tidak tahu siapa aku. Lalu setelah aku sadar aku tidak bisa mengingat apa-apa, jangankan keluargaku diriku saja aku lupa, aku tak punya siapa-siapa dan Hinatalah yang mengulurkan tangannya memeluku.. Dia baru lulus SMA saat itu tapi sikapnya sangat dewasa, mungkin karena dia sudah hidup sendirian semenjak di tinggal ibunya di usia 15 tahun . Di usianya yang masih muda dia sudah bekerja pada pemilik penginapan di pulau itu sebagai tukang bersih-bersih. Dan sejak aku tinggal di sana dia harus mencari kerja sampingan untuk mencukupi kebutuhan kami berdua, saat itu aku masih belum pulih jadi dia melarangku untuk bekerja membantu meringankan bebannya. Bahkan di sela-sela pekerjaannya dia masih sempat mencari informasi tentangku, mengurusku yang belum bisa melakukan apa-apa padahal aku tahu tubuhnya begitu kelelahan tapi dia selalu tersenyum"

"hanya butuh 2 minggu untuk membuat aku jatuh hati padanya. Aku paling suka melihat Hinata saat tersenyum. Senyumnya seperti sinar matahari pagi, hangat dan menenangkan. Dia adalah hal paling berharga yang aku mliki saat itu, aku tak ingin kehilangannya maka 3 bulan mengenalnya aku mengajaknya menikah, dan syukurlah dia menyetujui ajakanku. Padahal aku tak punya apa-apa, bahkan aku menumpang hidup padanya. Aku bahagia Sakura-san.. kebahagiaanku bertambah saat Hinata hamil sebulan setelah pernikahan kami. 7 bulan kemudian dia mengatakan telah menemukan keluargaku, ternyata selama itu Hinata masih mencari keberadaan keluargaku. Dia memang selalu mementingkan kebahagiaanku dibandngkan kebahagiaannya sendiri. Dia bahkan menjual rumah peninggalan ibunya agar kami bisa ke sini dan disinilah kami sekarang. Hidupku semakin lengkap meskipun aku belum mengingat masa laluku tapi setidaknya aku sudah berada di sini bersama orang-orang yang ku sayangi, apalagi sebentar lagi anak kami akan segera lahir"

Sakura sampai takjub dengan perkataan Naruto saat itu, selama hidupnya dia belum pernah melihat sahabatnya sejak kecil menceritakan seseorang dengan penuh pemujaan seperti itu, dan kata-kata yang di ucapkan seperti bukan keluar dari mulut Naruto yang dia kenal sebagai orang yang bodoh dan ceroboh selama ini. Dia merasa bodoh saat menyebut Hinata menikahi Naruto karena hartanya.

"ra..Sakura.." Sasuke mengguncang sakura yang dari tadi terdiam

Sakura langsung terbangun dari lamunannya saat merasakan ada yang mengguncang bahunya

"Ah.. maaf Sasuke-kun sampai dimana tadi?" Sakura menggaruk tengkuknya menandakan dia salah tingkah karena sempat melamun saat sedang mengobrol dengan suaminya

"Oh iya.. kita bisa melihat Naruto begitu mencintai Hinata dan tak mungkin melakukan hal kejam seperti itu, Tapi Hinata juga tak mungkin berbohong Sasuke-kun, apalagi sampai melibatkan kematian putranya" lanjutnya setelah otaknya connect kembali

"mungkin ada seseorang yang mengatas namakan Naruto untuk menyakiti Hinata" celetuk Sasuke

"apa maksudmu Sasuke-kun?" Sakura tak mengerti dengan maksud Sasuke

"kau lupa Sakura, mobil kesayangan Naruto yang berwarna orange itu sempat hilang beberapa hari, kemudian di temukan di perbatasan Konoha dan tidak ada satu barangpun yang hilang di dalamnya. Kalau tidak salah kejadiannya juga 2 bulan setelah kepergian Hinata. mungkin saja si pencuri itu adalah pelaku penyerempetan Hinata." Sasuke memberikan pendapatnya

"astaga Sasuke-kun kenapa aku sampai bisa melupakan hal penting itu? ya..ya mungkin saja orang yang mencelakai Hinata bukan Naruto, tapi tunggu dulu jika itu bukan Naruto lalu siapa? Dan untuk apa orang itu ingin Hinata pergi dari Konoha?"

"menurutmu?" Sasuke bertanya retoris karena dia tahu bahwa istrinya sudah bisa menebak siapa kira-kira orang yang patut di curgai dalam hal ini.

"mereka.. aku..aku ya Tuhan, jangan-janag mereka juga yang menghasut bibi uuntuk mengusir Hinata, kemudian mengirim surat-surat ancaman itu. Aku tahu mereka membenci Hinata tapi untuk berbuat sejauh ini? Aku..aku .." Sakura terlihat marah

"tenanglah Sakura, bagaimanapun ini baru praduga. Kita tak bisa menuntut seseorang bersalah jika kita tak punya bukti" potong Sasuke sebelum istrinya itu berniat melakukan hal yang macam-macam.

"bukti apalagi Sasuke-kun sudah jelas-jelas mereka memang tak pernah suka pada Hinata sejak kedatangan Hinata pertama kali. Dan kita bisa melihat dengan jelas hal itu, meskipun di depan Naruto mereka suka berpura-pura baik pada Hinata. ya Tuhan kasihan sekali Hinata, kita..kita harus memberi tahu semua ini pada Naruto Sasuke-kun" bujuk Sakura pada suaminya

"tapi Naruto masih belum mengingat Hinata beserta anaknya sampai saat ini Sakura, jadi kita belum bisa berbuat apa-apa. Kalaupun kita memaksa mengatakan hal ini kemungkinan besar dia tidak akan percaya pada kita." Sasuke mencoba menjelaskan pada Sakura agar istrinya itu tidak terburu-buru dalam bertindak, dan Sakura mengangguk faham.

"tapi..tapi bagaimana jika Naruto memang tidak melupakan peristiwa saat dia Amnesia? Jadi dengan kata lain dia berpura-puta lupa" Sakura kembali ragu

"maka kita akan mengingatkannya bahwa perbuatan yang di perbuatnya itu salah besar" jawab Sasuke

"tunggu Sasuke-kun jika menurutmu mereka yang bersalah, berarti Bibi Kushina?" Sakura belum puas

"aku yakin bibi dipengaruhi oleh mereka Sakura. ya mungkin bibi Kushina memang menyuruh Hinata pergi, kau tahu kan wasiat terakhir paman Minato?"

"agar Naruto menikah dengan putri sulung keluarga Hyuga?" Sakura tidak yakin

"Ya... aku kira bibi berbuat seperti itu karena wasiat itu, meskipun aku menyayangkan perbuatannya. Sudahlah nanti saja kita bahas lagi, ini sudah siang. Kita belum menjemput Sarada dari rumah Ka-san" Sasuke menutup diskusi mereka sambil melihat jam kemudian berjalan ke garasi mobil diikuti oleh istrinya dari belakang.

.

.

.

.

"jadi kau menyetujui penawaran kerjasamaku Gaara? Wah syukurlah. Berarti aku harus ke Suna untuk membicarakan kelanjutannya?" Naruto yang sedang duduk di meja makan untuk sarapan sebelum berangkat kerja menerima telpon dari Gaara yang mengabarakan bahwa penawaran kerjasama yang di ajukannya 2 minggu yang lalu di setujui oleh sahabatnya itu.

"Oh.. Ok jadi kau akan ke sini minggu depan? Baiklah.. aku akan menyiapkan semua berkas yang di butuhkan dalam seminggu, baiklah Gaara aku tunggu kedatanganmu. Bye" Naruto meletakan ponselnya dengan senyum cerah terukir di wajahnya

"sepertinya kau sedang bahagia Naruto?" Kushina sang ibu yang juga sedang duduk bersama di meja makan bertanya retoris, karena toh jawabannya sudah jelas terlihat di wajah putra tunggalnya itu.

"iya bu.. begini, seminggu yang lalu aku menawarkan kerja sama pada Gaara. Ibu tahu tanah kita yang ada di daerah senju itu, tanah itu kan kosong dan lumayan luas namun terbengkalai, padahal letaknya sangat strategis. Jadi aku berencana membangun hunian mewah yang bisa kita sewakan di tanah tersebut bu. Karena itu aku mengajak Gaara untuk bekerja sama. Usaha ini nanti akan kami jadikan usaha bersama, penghasilannya fifty fifty, begitulah bu. Dan Gaara tadi mengabariku bahwa dia setuju dengnan penawaran kerjasama itu. bagaimana menurut Ibu?" Naruto bertanya antusias.

"tunggu Naruto-kun, kenapa pembagian penghasilannya harus fifty fifty, bukankah tanah itu milikmu? Jadi seharusnya kau mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Lagi pula kenapa tak kau bangun saja sendiri tanah itu dari pada harus mengajak orang lain untuk bekerja sama? Dengan begitu semua pengasilan yang di daapat dari sana akan mengalir padamu" Shion mengutarakan ketidak setujuannya.

"aku tidak ingin mencoba-coba sesuatu yang bukan ke ahlianku Shion. Pembangunan dan pengelolaan apartemen bukanlah hal mudah untuk di lakukan. Maka dari itu aku mengajak Gaara yang memang ahli dalam bidang tersebut. Jadi bu, ibu setuju kan?" tanya Naruto lagi pada ibunya tak mengiraukan protes istrinya

"hm..ibu setuju saja, dan ibu senang setidaknya dengan begitu tali kekeluargaan kita akan semakin dekat." Kushina berkata sebelum meminum air putih dari gelas di depannya "Oh iya.. sebaiknya jika nanti dia datang ke Konoha, suruhlah dia tinggal di sini. Bawa sekalian istrinya untuk diperkenalkan pada kita. aku dengar Gaara sudah menikah" Lanjutnya lagi.

"ya..tuhan kenapa aku bisa melupakan hal itu, ya dia memang sudah menikah. Waktu itu sebenarnya Sakura mengajakku untuk berkunjung ke Suna untuk memberikan selamat pada Gaara namun aku tak bisa ikut karena ada urusan. Baiklah bu aku akan menelponnya lagi nanti. Aku tak menyangka dia akhirnya menikah juga. Hah syukurlah aku kira dia akan menjomblo seumur hidup karena selama ini dia tidak pernah melirik satupun wanita yang di ajukan padanya" Ujar Naruto dengan senyum yang menandakan bahwa dia ikut berbahagia dengan pernikahan sahabat yang sudah dia anggap saudara itu. Kushina ikut tersenyum sementara Shion kesal karena pendapatnya tadi tidak di dengarkan.

Apa-apaan Naruto itu, bukankah aku istrinya seharusnya dia lebih mendengarkan pendapatku ketimbang ibu. Shion mendumel di dalam hati.

.

.

.

.

Hinata termenung dalam kamarnya, dia berdiri di depan jendela yang langsung menghadap ke arah kolam renang, disana ada Himawari yang sedang belajar renang bersama seorang pelayan. Meski matanya tertuju pada putrinya tapi fikirannya melayang pada pembicaraannya dengan Sakura sekitar seminggu yang lalu. Ya apa yang Sakura katakan benar, bahwa dia harus menceritakan perihal dirinya dan Naruto, karena jika Gaara mendengarnya dari orang lain pasti ceritanya akan berbeda versi dengan apa yang dirinya alami. Hinata sebenarnya ingin menceritakan perihal masa lalunya itu sedikit lebih lama lagi, bagaimanpun dia takut jika Gaara memutuskan untuk meninggalkannya setelah mendengar tentang kisahnya itu. Namun pembicaraan suaminya yang dia dengar tadi pagi sebelum suaminya itu beragkat kerja cukup mengganggu kepalanya.

Gaara akan bekerja sama dengan Naruto, dan kemungkinan karena hal itu mereka akan sering berinteraksi. Apalagi suaminya tadi sempat mengatakan bahwa dia akan pergi ke Konoha dalam waktu dekat. Dan satu hal lagi yang sangat membuatnya cemas adalah kemungkinan Gaara akan mengajak serta dirinya.

Hinata belum siap untuk bertemu dengan orang-orang itu. meskipun luka itu sudah bertahun-tahun lamanya dia alami dan dia sudah berusahA untuk tidak lagi membenci mereka, namun hati manusianya masih mengingat rasa sakit itu. Apalagi jika mengingat kematian putranya yang tak bersalah.

Hinata harus mencari waktu yang tepat dan suasana yang mendukung untuk membicarakan perihal rahasianya ini dengan sang suami. Dia tak mungkin menceritakan perihal masa lalunya yang menyakitkan di rumah ini, dia tidak ingn terlihat lemah di mata orang lain terutama putrinya jika Gaara akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dirinya.

.

.

.

.

Gaara sengaja mengosongkan jadwalnya hari ini. Maka dari itu tidak aneh meski baru jam 10 pagi dia sudah berada di rumah lagi padahal dia baru berangkat ke kantor jam 8. Gaara hanya memeriksa dan menandatangani beberapa file yang di serahkan sekretarisnya tadi sebelum ke luar lagi dari kantornya.

Pria Sabaku itu memasuki kamarnya di lantai dua Mansion Sabaku mencari sang istri yang menurut pelayan rumah berada di sana. Gaara membuka pintu pelan dan melihat sang istri sedang berdiri di depan jendela kaca besar yang langsung menghadap ke kolam renang di taman belakang mansion ini kemudian menghampirinya, sepertinya istrinya itu belum sadar dengan kedatangannya.

"sunshine..." Gaara berbisik pelan di telinga Hinata sambil tangannya melingkar ke perut sang istri.

Hinata yang terlalu asyik dengan lamunannya sehingga tak menyadari ke datangan sang suami akhirnya hanya terlonjak kaget saat Gaara berbisik dan memeluk dirinya dari belakang.

"Gaara-kun" lirih Hinata dan langsung berbalik sehingga sekarang posisi mereka berhadapan

"Hai..apa yang sedang kau lihat Sunshine, sampai tidak tahu aku ada di sini?" tanya Gaara sambil menyingkirkan sejumput rambut yang jatuh di wajah istrinya kemudian di selipkan di belakang telinganya.

Gaara melihat kebelakang punggung Hinata untuk mengetahui apa yang sedang dilihatnya. Dan dia hanya ber oh ria saat melihat kolam renang.

"Gaara-kun kenapa sudah pulang? ini baru jam 10" Hinata melirik Franck Muller yang terpasang cantik di pergelangan tangannya.

"bersiaplah. Aku ngin mengajakmu ke suatu tempat. Aku akan menyuruh pelayan untuk membantu Hima bersiap-siap. Kita pergi 10 menit lagi. tidak usah bawa koper karena semuanya sudah disiapkan" Gaara tak menggubris pertanyaan istrinya

Hinata mengerutkan kening masih belum mengerti dengan ucapan Gaara.

"Gaara-kun tunggu. Kita mau kemana?" Hinata menggengam lengan Gaara sebelum suaminya itu pergi

"rahasia Sunshine, tapi aku yakin kau akan suka"

"mm.. apa tempatnya jauh dari keramaian?"

Gaara terdiam kemudian mengangguk. Tempat yang di kunjunginya kan memang jauh dari keramaian, ya hanya ada beberapa orang yang mengurus tempat yang akan di singgahinya kini.

"Ano.. bagaimana jika kita pergi berdua saja, tanpa Himawari?" Hinata bertanya ragu, dia mulai menyusun rencana agar mereka hanya pergi berdua agar bisa berbicara empat mata dengan suaminy tanpa kehadiran sang putri. "maksudku begini, Hima kan sedang asyik-asyiknya belajar berenang jadi aku tak ingin mengganggunya. Lagi pula aku yakin kita pergi untuk beberapa hari kan?" lanjutnya mengira-ngira

Gaara menekukan alisnya curiga. Tak biasanya sang istri tak ingin melibatkan Himawari di kegiatan mereka.

"aku..aku ingin pergi berdua saja denganmu. Kita..kita butuh waktu berdua" Hinata berbicara asal ketika melihat kecurigaan Gaara.

Gaara menyeringa saat mendengar apa yang di ucapkan istrinya.

"apa ini ajakan bulan madu sayang?" Gaara bertanya menggoda, sementara Hinata memerah sempurna saat menyadari ucapannya tadi

"ah..it-itu.."

"kau tidak usah gugup seperti itu sayang. Aku dengan senang hati mengabulkan permintaanmu itu. bersiaplah aku akan menghubungi Kankouru dulu agar dia bisa tinggal di sini selama kita tak ada. Jangan lupa pakai mantel" Gaara mengecup kening Hinata dan berlalu keluar meninggalkan Hinata yang masih syok.

10 menit kemudian Hinata turun, dia berdandan kasual kali ini dengan jeans hitam dan kemeja putih pas badan di padu dengan flat shoes senada dengan kemeja yang di kenakannya dan di lengannya tersampir sebuah mantel bulu tebal berwarna putih pula. Rambutnya dia kuncir kuda menampilkan leher jenjangnya.

Gaara terkagum melihat penampilan istrinya yang terlihat lebih seksi dengan pakaian seperti itu. dia mengulurkan tangan menyambut kedatangan sang istri. Kemudian mereka menemui Himawari di kolam renang menyampaikan beberapa wejangan agar bersikap baik selama mama dan papanya pergi, dan syukurlah putri satu itu begitu pengertian. Tak ada sedikitpun wajah kecewa yang di perlihatkannya ketika dia tak diikutsertakan dengan kegiatan mereka. Hal itu lantas membuat mata Hinata berkaca-kaca menyadari bahwa putri kecilnya sudah semakin besar.

Gaara merangkul bahu Hinata menenangkan sambil berlalu menuju Helipad di halaman depan mansion Sabaku, di sana sudah ada Helikopter bersama sang pilot yang sudah menunggu. Sekitar 2 jam penerbangan, mereka telah sampai di tempat yang di tuju. Sebuah pulau kecil di bagian selatan laut Konoha. Pulau yang seketika membuat Hinata berkaca-kaca. Pulau yang di rindukannya karena begitu banyak kenangan hidupnya yang tersimpan di pulau itu. Pulau dimana dia hidup bahagia sebelum mengalami persitiwa buruk di kehidupannya. Pulau yang kembali memunculkan asa bahwa dia kembali akan meraih kebahagiaan bersama dengan pria yang sedang memeluknya protektif. Siap melindungi dirinya dari segala kepedihan hidup yang akan menerjangnya.


untuk chapie ini kayaknya terlalu banyak dialog. ga papa ya!

jangan lupa review yang membangun dan tidak mendeskriminasi !

salam hangat

geminie88