3. Park Chanyeol ada dimana-mana

.

Baekhyun menghentakkan kaki saat masuk ke perpustakaan. Dua minggu tinggal bersama Chanyeol itu sama seperti dua minggu tinggal di neraka.

Bagaimana tidak? Chanyeol terus menggodanya dengan wajah tampannya dan cengiran bodohnya. Baekhyun berani bersumpah atas nama bulan dan alam semesta, ia sangat membenci pemuda tinggi bernama Park Chanyeol itu.

Baekhyun segera duduk di atas kursi yang membaca buku yang baru saja ia ambil. Ia sering ke perpustakaan sekarang, dan semuanya karena Chanyeol. Kehadiran pemuda itu membuat Baekhyun enggan untuk kembali ke dorm. Karena bila kembali ke dorm, ia akan bertemu Chanyeol. Bila bertemu Chanyeol, ia akan melihat wajah dan senyum bodohnya. Bila melihat wajah dan senyum bodohnya, jantung Baekhyun bisa meledak karena memompa darah terlalu cepat.

Suasana perpustakaan yang sepi memang sangat menenangkan. Namun buku yang sedang dibacanya sama sekali tidak menarik, dan bisa-bisa ia jatuh tertidur karenanya. Baekhyun segera bangkit dari kursinya, lalu mengembalikan buku itu ke lemarinya, lalu berjalan mengitari perpustakaan.

"Baekkie~"

Langkah Baekhyun berhenti ketika ia mendengar suara Chanyeol di belakangnya. Baekhyun menoleh ke belakang, namun ia tidak melihat siapapun. Yang ada hanyalah beberapa orang yang sedang berlalu lalang dengan membawa buku.

Baekhyun yakin ia sedang berhalusinasi. Dan ia segera pergi keluar dari perpustakaan. Ia berjalan menuju taman, dan mendapati ada Kyungsoo yang sedang sibuk membaca buku. Ia baru saja akan mendekati pemuda bermata bulat itu, hingga tiba-tiba sebuah suara di belakangnya membuatnya terkejut.

"Baekkie!"

Baekhyun menoleh ke belakang, namun ia kembali tidak melihat siapa-siapa. Baekhyun mengacak-acak rambutnya dengan kesal, lalu mengerutkan kening.

"Apa aku berhalusinasi lagi?"

Namun Baekhyun segera menepis pemikiran itu. Ia mencoba mengabaikan suara-suara Chanyeol yang memanggilnya, dan memutuskan untuk ke kantin. Suasana kantin memang ramai, jadi tidak mungkin ia kembali mendengar suara Chanyeol, kan?

Baekhyun duduk dengan segelas jus stroberi di mejanya. Ia mengeluarkan laptop yang daritadi ia bawa di dalam tas ranselnya, dan mulai mengetikkan sesuatu. Ia teringat dengan tugas-tugasnya yang belum ia selesaikan, dan walaupun waktu pengumpulannya masih lama, lebih baik ia menyelesaikannya terlebih dahulu.

"Baek, kau suka jus stroberi?"

Jari-jari Baekhyun segera berhenti mengetik. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menutup laptopnya. Ia segera memasukkan beda persegi itu ke dalam tas ranselnya dan pergi meninggalkan kantin. Akhirnya ia kembali ke taman dan duduk di kursi di dekat pohon.

"Apa aku mulai gila?" Baekhyun bertanya pada dirinya sendiri. "Kenapa ada suara Chanyeol dimana-mana?!"

"Karena aku memang ada dimana-mana."

Baekhyun tersentak ketika mendengarkan suara Chanyeol, lagi. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mendapati tidak ada siapapun di sekitarnya. Baekhyun segera bangkit dan berlari menuju dormnya.

Baekhyun tidak perduli lagi bila ia harus melihat Chanyeol, karena ia benar-benar bisa gila. Atau mungkin ia sudah gila?

Langkah kaki Baekhyun berhenti saat ia sudah sampai di depan pintu dormnya. Ia segera masuk ke dalam dan mendapati tidak ada siapapun di sana. Baekhyun menghela nafas lega dan segera menghempaskan tubuhnya ke sofa.

"Untuk apa aku harus bersembunyi bila Chanyeol saja tidak ada?"

"Bersembunyi kenapa?"

Baekhyun terlonjak ketika mendengar suara Chanyeol. Tapi kali ini benar-benar Chanyeol. Ia berdiri di mulut pintu yang terbuka dengan kantung putih yang Baekhyun tidak tahu dan tidak peduli apa isinya. Ia mengerutkan kening.

"Kau darimana?"

"Kau kenapa bersembunyi?"

Baekhyun mengusap wajahnya. Ini salah satu ia membenci Chanyeol, selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Bukankah itu sangat menyebalkan?

"Kenapa kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan?"

"Kau sendiri kenapa?"

Jengkel, Baekhyun segera bangkit dari sofa dan masuk ke kamarnya –dengan Chanyeol. Ia membanting pintu kamarnya, dan ia sama sekali tidak tahu kalau Chanyeol sedang tertawa kecil di luar sana.

"Baek, buka pintunya," sahut Chanyeol sambil mengetuk pintu yang terkunci. Senyum jahil karena puas membuat Baekhyun jengkel terlukis di wajahnya.

"Tidak mau! Pergi kau, raksasa!"

Chanyeol kembali terkekeh karena sahutan Baekhyun. Namun ia segera mengubah nada bicaranya menjadi nada yang sedih, lalu kembali mengetuk pintunya. "Baekkie~"

Tidak ada balasan dari dalam. Hingga tiba-tiba ada suara kunci yang dibuka, dan menampilkan Baekhyun yang sudah berganti pakaian dengan wajah kusut. "Kau mau apa?"

"Ini," Chanyeol memberikan kantung plastik putih itu pada Baekhyun. Ia memamerkan senyum lima jarinya yang dinamai Baekhyun dengan 'Senyum Orang Bodoh Yang Membuat Jantung Berdebar-debar.'

"Apa itu?" tanya Baekhyun. Mata sipitnya disipitkan, ia memperhatikan kantung plastik itu dengan tatapan curiga. "Isinya racun, ya?"

"Tentu saja bukan!" Chanyeol menggelengkan kepala, lalu semakin memajukan kantung itu pada wajah Baekhyun. "Itu isinya jus stroberi."

"Jus stroberi?"

Chanyeol menganggukkan kepala dan kembali menunjukkan 'Senyum Orang Bodoh Yang Membuat Jantung Berdebar-debar'.

"Tadi aku melihat Baekkie minum jus stroberi di kantin–"

"Tunggu," Baekhyun memotong kalimat Chanyeol dan menatapnya dengan mata yang membulat. "Tadi kau ada di kantin?"

"Ya," Chanyeol menganggukkan kepala. "Aku tadi ada di perpustakaan, taman, kantin, lalu ke taman lagi."

"KAU MENGIKUTIKU?!"

Chanyeol tertawa, lalu mengkibas-kibaskan tangannya. "Tidak. Hanya saja kebetulan dimana ada aku, disitu juga ada Baekkie."

"Bohong," Baekhyun kini menatap Chanyeol dengan tatapan horror, seolah-olah Chanyeol adalah seorang penguntit yang memang harus ditakuti. "Kau. Pasti. Mengikutiku."

"Kalau aku bilang kita jodoh bagaimana?"

Chanyeol berjalan maju, membuat Baekhyun memundurkan langkahnya. Wajah Chanyeol terus mendekat pada wajah Baekhyun, membuat wajah pemuda yang bertubuh lebih pendek itu merona sempurna.

"Ti-Tidak mungkin!"

"Semua mungkin di dunia ini, Baekkie."

Sial, Baekhyun mengumpat. Kini punggungnya sudah bersandar pada tembok, sedangkan Chanyeol semakin mendekatkan wajahnya. Baekhyun bisa merasakan deru nafas Chanyeol dengan jelas, dan ia yakin Chanyeol juga bisa merasakan nafasnya. Hidung mereka hampir bersentuhan, dan Baekhyun memejamkan mata. Namun tidak ada apapun yang terjadi.

Tidak ada sesuatu yang menempel pada bibirnya. Tidak ada sesuatu yang basah menjilat bibirnya. Chanyeol tidak menciumnya.

Baekhyun segera membuka mata, dan ia melihat Chanyeol kini berjarak cukup jauh darinya. Chanyeol memamerkan 'Senyum Orang Bodoh Yang Membuat Jantung Berdebar-debar' di wajah polosnya. Baekhyun yang sering mengatai Chanyeol idiot kini merasa kalau dirinyalah yang idiot.

"Kau mempermainkanku ya?"

"Tidak."

"Bohong!"

"Aku tidak pernah bohong pada Baekkie!"

Baekhyun terduduk di lantai, lalu ia mengacak-acak rambutnya dengan frusrtasi. Tapi itu tidak lama, karena Baekhyun sudah kembali berdiri dan mendorong tubuh Chanyeol keluar kamar.

"Baek? Kau sedang apa?

"Park Chanyeol," Baekhyun menggeretakkan giginya. "Mala mini kau tidur di luar!"

Dengan itu, Baekhyun menutup pintu kamarnya dengan keras di depan wajah Chanyeol. Chanyeol sedikit terkejut, namun tiba-tiba Baekhyun membuka pintunya lagi dan mengulurkan tangannya. Chanyeol menatapnya heran.

"Jus stroberinya!"

Chanyeol tertawa, dan memberikan kantung plastik yang ternyata masih di tangannya. Dan Baekhyun kembali menutup pintu kamarnya dengan keras.