Thunder
younger!Luhan x older!Sehun
Disclaimer: Sebuah karya imajinasi seorang fans yang meminjam nama tokoh idola nyata.
Mohon tidak membaca jika tidak menyukai konten cerita ini, terima kasih! :)
You're like lightning
an instant ray of light
.
.
.
It's like the whole world belongs to me
But I can only hastily look around
.
.
.
I only now understand
It's because of you my heart hurts now
.
.
.
Thunder, thunder, thunder
I want to hold you tight
.
.
.
Time has made our distance even greater
.
.
.
In the direction that you went away
.
.
.
Could it be me the starlight that is finally unfamiliar
.
.
.
Butiran air yang senantiasa berjatuhan dari langit itu mengalir di permukaan kaca gelas dan tiap butirannya membuat pola tertentu yang membuat si anak lelaki tersenyum. Meskipun diluar hujan tengah turun dengan cukup deras dan temperature di penghujung musim gugur yang telah turun menjadi tiga derajat, suasana hati si anak lelaki tidak terganggu sama sekali. Hari ini merupakan salah satu hari terfavorit buat Lu Han, dimana berbagai hiasan menakutkan dan buah labu bertebaran dengan bermacam ekspresi menyeramkan, hiasan tengkorak dan jari laba-laba palsu menempel di etalase-etalase toko, yap! It's Halloween.
Senyuman menyungging lebar di bibirnya dan ia sudah tidak sabar menunggu matahari tenggelam pukul 5.30 pm. Salah satu alasan mengapa Lu Han sayang sekali pada hyung berkebangsaan korea yang cerewet bagaikan lebah itu adalah antusiasme akut saat festival miliknya. Baekhyun telah merencanakan semenjak awal bulan acara pesta kecil-kecilan di tanggal 31 october. Lu Han harus puas hanya sempat mencium wangi adonan pie labu karena ia ada kelas pagi hari ini. Ia bisa membayangkan nanti malam akan ada berbagai hidangan lezat, pie labu, dan tentunya chocolates and candies!
Sepanjang pelajaran wajahnya sumringah, matanya berkilap menyilaukan, bahkan Yixing yang memiliki level mengantuk tinggi terutama untuk kelas pagi menjadi terjaga karena aura semangat Lu Han yang menular.
"-Han, Lu Han, LU-GE!"
Teriakan tertahan yang dilakukan Yixing di telinga Lu Han cukup membuat si anak lelaki memekik lucu dan belakang kepalanya terantuk jendela.
"Bloody potato! Yixing!"
Lu Han menepuk kepala Yixing sebagai balasan dan Yixing yang tidak terima malah menepuk paha Lu Han dengan buku hard cover mekanika quantum berhalaman 1000 itu. Acara balas-membalas pukulan berlangsung beberapa lama hingga Lu Han berdiri dan mengangkat kedua tangan di udara tanda menyerah.
"Fine, you win! I'm sorry!"
Yixing mendengus remeh melihat aksi sahabatnya namun akhirnya ia meletakan kembali penggaris besi sepanjang 30 cm miliknya dan duduk rapi di kursi sebelah Lu Han.
"Kau tidak pantas disebut unicorn, kau lebih pantas disebut cerberus!" gerutu Lu Han sambil membereskan kekacauan di sekitarnya akibat berkelahi level dasar dengan Yixing.
"Haha maksudmu aku anjing berkepala tiga penjaga gerbang neraka, begitu?"
"Yeah, kau buas. Mirip anjing gila."
"Sialan kau!"
Tiba-tiba saja si anak berkacamata memegang bahu Yixing dan menampilkan wajah berbinar. "Dude! Duuuuude! Why don't you wear a Cerberus costume for tonight?!"
"Gila. Satu kata, gila. Mengapa temanku tidak ada yang normal," Yixing menengadahkan kepalanya dengan wajah memelas yang dibalas dengusan oleh Lu Han.
"Ini, kamera. Bercermin. Gebetanmu saja pria, si class representative. Hidupmu memang tidak pernah normal."
Jawaban Lu Han membuat Yixing menggaruk tengkuknya dengan wajah malu-malu. Lu Han mual melihat temannya yang kasmaran seperti ini. Ia memutuskan kembali menghidupkan layar laptopnya yang sempat dalam keadaan stand-by.
"Eh, omong-omong Lu Han, Baekhyun-hyung akhir-akhir ini jadi lebih mirip induk beruang. Ia protektif sekali padamu."
Ucapan Yixing membuat Lu Han terkekeh geli melihat bagaimana sudah dua minggu ini ia selalu pulang dengan orang lain, baik itu Baekhyun, Kris, atau Yixing bahkan Zizi si gadis manja itu juga terkena giliran. Alasannya satu, agar Lu Han tidak diculik setiap makan malam oleh si akuntan bernama Sehun.
Semenjak pulang hiking hubungan Sehun dan Lu Han sudah bagaikan teman lama yang baru berjumpa, setiap malam Sehun akan mengajak Lu Han makan di luar dan di akhir pekan mereka akan pergi bersama, baik menemani Lu Han ke perpustakaan kota untuk mengerjakan tugas seharian (karena perpustakaan kampus membutuhkan student or staff id dan Sehun tidak punya) atau sekedar mengelilingi pusat kota dan pergi ke taman saat cuaca cerah. Sehun bahkan mengganti tipe mobilnya menjadi Volvo SUV XC60, agar ia bisa membopong sepeda Lu Han dan menaruhnya di bagasi setiap ia menjemput si anak mahasiswa.
Awalnya Baekhyun hanya menelpon Lu Han karena tumben sekali ia belum pulang saat jam makan malam. Lu Han itu sesungguhnya anak berperut besar dan akan meninggalkan apapun saat ia kelaparan. Namun setelah lima kali berturut-turut ia mendapati alasan yang sama, di hari ke-enam pria 24 tahun itu telah berdiri di depan pintu flatnya ketika mobil Volvo seharga £41.500* berwarna dark brown metallic itu masuk ke halaman. Dalam hati Baekhyun merutuki Sehun karena pria itu bisa semudah membalikan telapak tangan mengganti mobil mewahnya. Ia bahkan harus menabung semua gajinya tanpa potongan pajak hampir selama 3 tahun baru bisa membelinya.
*(a.n: di chapter 1 aku bilang gaji Baekhyun £19.000 sebulan, seharusnya itu setahun xp)
Alhasil Baekhyun memarahi Lu Han panjang lebar dan membanting pintu flat tepat di muka Sehun sebagai hadiah.
Semenjak itu, intensitas bertemu Sehun dan Lu Han menjadi tidak ada dan hubungan mereka hanya kontinu melalui obrolan pesan singkat yang bisa dihitung jari dan berjam-jam video call yang berisikan Sehun menemani Lu Han beraktivitas –karena pada dasarnya Lu Han malas mengetik pesan dan lebih memilih bermain games atau mengerjakan tugas di laptop.
"Baek-hyung hanya terlalu sayang padaku, begitu katanya." Jawab Lu Han yang dibalas cengiran oleh Yixing. "Kalau saja mereka tidak putus, aku jamin Baekhyun-hyung dan pacarnya sudah mengangkatmu sebagai anak mereka."
"Pfft, yeah, they always told me that. Eh, kau tahu?! Sepertinya di acara pesta nanti ia akan datang." Celetuk Lu Han kemudian segera merogoh ponselnya dari dalam tas. "Ini, kau lihat sendiri. Aku dihubungi olehnya. Mau membantu?"
Yixing mengambil alih ponsel Lu Han dan menatap percakapan pesan singkat antara Lu Han dan mantan Baekhyun. "Aww, man. Of course, I'm in. Look how sweet the plan is! Kenapa sih mereka putus kemarin?"
Yixing menaruh kembali ponsel Lu Han di meja dan mendekatkan kursinya ke si anak kacamata dengan wajah antusias.
"Wǒ bù zhī dào – aku tidak tau." Jawab Lu Han mengangkat bahu.
"Nǐ shì yǎ ba! Nǐ zhì shǎo yīng gāi tōu tīng tā men chǎo jià de shí hou – you dumb! Kau seharusnya menguping saat mereka bertengkar." Yixing berucap menggebu-gebu namun Lu Han hanya mengibaskan tangannya tak peduli.
"Aku bukan kau atau Kris yang doyan ikut campur. Lagipula aku tidak begitu mengerti. Mereka bertengkar memakai Bahasa Korea, dan ucapannya kelewat cepat."
Yixing hanya berdecak menanggapi penjelasan Lu Han. Temannya ini memang tidak ada rasa keponya sama sekali dengan hal-hal selain pelajaran, games, bola, atau makanan.
"Eh, aku ke toilet dulu yah, Zhang. Titip barang-barangku."
"Cepat, yah. Kita kelas 20 menit lagi."
Selepas Lu Han pergi tiba-tiba ponsel si anak berkacamata yang di atas meja bergetar menandakan panggilan masuk dan Yixing melongok melihat nama si pemanggil. "Sehun-hyung…? Loh, ini bukannya si Sehun yang di bilang Baekhyun-hyung?" monolog Yixing pada diri sendiri. Setelah memastikan Lu Han tidak akan kembali dalam waktu dekat, Yixing memutuskan menekan tombol terima
"Err, hello?"
"….." Yixing memastikan bahwa telepon masih tersambung karena tidak ada respon.
"Halooo?" cobanya sekali lagi.
'Who is this?' demi janggut Merlin, pantas saja Baekhyun-hyung benci sekali pada orang ini, juteknya mengalahkan Baekhyun kalau sedang akhir bulan.
"Yixing's speaking, Lu Han's phone."
'Where's Lu Han?'
"Somewhere. Anyway, are you the famous Sehun?"
'Where. Is. Lu. Han.' Ooooookay mungkin bukan ide bagus mempermainkan pria ini, pikir Yixing. Jika suara bisa di ukur suhunya, mungkin suhu si Sehun ini sudah minus.
"Woah, okay Sir, Lu is in bathroom now. Do you have any message – tut tut tut" sebelum Yixing menyelesaikan kalimatnya koneksi sudah di putus sepihak dan Yixing melongok tidak percaya pada ponsel Lu Han. "Rude! Omg now I know why Kris and Baekhyun-hyung hate him!"
Seruan Yixing yang berdiri sambil menunjuk-nujuk telepon Lu Han di meja menjadi perhatian orang-orang di perpustakaan – meskipun mereka saat ini berada di group study zone bukan berarti berisik tidak penting diperbolehkan. Lu Han yang baru kembali dari toilet mengusap wajahnya malu melihat kelakukan absurd sahabatnya dan segera memasukan buku dan laptopnya kedalam tas.
"Kau Lu-ge! Kenapa kau bisa punya kenalan tidak sopan begitu, sih?!"
Lu Han yang tidak mau berlama-lama menjadi tontonan public dan sekaligus menghindari asumsi bahwa Yixing adalah temannya hanya mendiamkan Yixing dan segera berlalu dari sana.
"Yak, Lu Han-ge! Cih, ini pasti pengaruh si sehun-sehun itu." Kesal Yixing sambil menyusul langkah Lu Han keluar perpustakaan dan menuju kelas mereka selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
Suasana meriah beberapa detik lalu berganti menjadi hening hanya karena Lu Han yang muncul dari pintu depan sesaat setelah berlari keluar tiba-tiba.
"Ta-da! Happy Halloween, Sehun-hyung!" seruan Lu Han setelah menyingkir dari pintu dan mempersilahkan tamu di belakangnya masuk dengan lebih leluasa.
"Happy Halloween, Han." Jawab Sehun dengan intonasi dan raut datar namun tangan kanannya sudah bergerak menuju kepala Lu Han dan mengacak rambut si anak mahasiswa. Sehun menyerahkan bingkisan berisi cemilan, kue, dan cokelat di tangan kiri ke Lu Han yang disambut penuh kebahagiaan.
"Masuk, hyung. Anggap saja rumah sendiri!" perkataan Lu Han berhasil membuat Baekhyun meremat gelas plastic di tangannya dan membuat Yixing yang ada di sampingnya memekik terkena tumpahan soda.
"Oh semua, aku mengundang Sehun-hyung. Hyung, duduk saja di salah satu sofa, aku akan kembali setelah menata ini."
Sehun hanya menganggukan kepala sekali sebagai sapaan pada empat lelaki di ruang tengah, melepas coatnya, lalu membalik badan mengikuti Lu Han menuju dapur.
"Sungguh aku ingin menggambar wajah datarnya. Setidaknya ia jadi akan punya ekspresi!" ucap Baekhyun dengan gigi bergemeletuk menahan amarah.
"Tunggu, itu yang namanya Sehun? Bloody hell he's gorgeous!" pekik Yixing yang mendapat dua tepukan di kepala oleh Baekhyun dan Kris dan satu senyum mengerikan oleh Suho – si class representative yang berhasil ia ajak date malam ini.
"Calon pacarmu di sampingmu dan kau malah memuji orang lain. Xing-ah, if I were Suho I would dump you right away!" omel Baekhyun dan Yixing langsung merangkul Suho dengan tatapan memelas.
"Sumpah, aku hanya suka kau!" deklarasi spontan Yixing dihadiahi kecupan di pipi oleh Suho dan Yixing tersenyum idiot dirangkulan Suho.
Zizi yang baru kembali dari toilet yang kebetulan bersebelahan dengan dapur langsung melompat ke pangkuan Kris dan mencondongkan badan bersiap memberitahu apa yang baru saja ia lihat.
"Kalian tidak akan percaya! Mereka imut sekali sampai aku ingin merekam mereka, sayangnya teleponku disini."
"Spill out, girl!" seru Baekhyun berapi-api.
"Jadi saat Lu-ge sedang memindahkan makanan ke piring, Sehun-oppa yang berdiri di sampingnya akan mengambil sesuap cemilan untuk dirinya lalu menyuapi Lu-ge setelahnya, begitu terus berulang-ulang. Bukankah itu menggemaskan?"
"Huh, licik sekali dia makan duluan."
"Iya, hanya karena makanan yang dia beli merk mahal semua dia merasa harus makan duluan begitu?" Komentar tidak penting Kris yang di timpali Yixing membuat Zizi mendatarkan wajahnya menatap mereka berdua.
Sementara Baekhyun masih melipat tangan di dada dengan dahi berkerut. "Hyung, jangan seram begitu nanti keriputmu bertambah."
Celetukan Kris membuat kepala si angry bird dihadiahi tepukan bertenaga dari Baekhyun sementara Zizi hanya menyengir geli ketika pacarnya merengut kesakitan.
"Tidak kah kalian merasa curiga? Dia sudah punya tunangan dan perempuan, lalu buat apa dia menempeli Luhan seperti lebah menjaga sarang madunya?" ungkap Baekhyun pada yang lain.
"Mungkin dia memang lurus dan hanya menganggap Lu-ge adik?"
Hipotesa Yixing langsung disanggah oleh Zizi. "Eii, tidak mungkin. Sebagai wanita aku punya insting lebih kuat, dan perlakuan Sehun-oppa tidak seperti Baekhyun-oppa pada Lu-ge."
"Bisa jadi dia sudah putus dengan tunangannya."
"Heee? Kau pikir memutuskan pertunangan seperti kau memutuskan pacar sehari apa? Realistis Duìzhǎng!"
"Kau yang realistis, unicorn! Ini dunia barat, bukan asia. Putus dari pacar atau tunangan bahkan bercerai bukan suatu hal yang luar biasa. Apalagi dari cerita Baekhyun-hyung tunangannya orang local."
"Hmm, that's actually very logic babe." Kris tersenyum senang dihadiahi kecupan di bibir oleh Zizi.
"Tapi kenapa? Hanya karena seorang anak 19 tahun seperti Lu Han?" Baekhyun masih butuh alasan lebih valid selain ini. Karena meskipun yang dikatakan Kris masuk akal, setiap pemutusan sepihak akan selalu ada pertikaian dan untuk apa seseorang mapan seperti Sehun melalui segala hal tersebut hanya demi mahasiswa yang baru sebulan ini ia kenal? Doesn't make sense!
.
.
.
.
.
.
"You do realise your friends don't like me, don't you?"
"That's because you are just too uptight, hyung. You should smile more." Lu Han menaruh cupcake rasa cokelat oreo mini dengan hiasan nisan dan jarring laba-laba ke wadah sembari mulutnya menerima suapan worm gummy dari Sehun.
"Can't do. It's reserved for you only."
Lu Han mendengus geli mendengar jawaban Sehun. Kali ini sebuah cokelat candy button yang masuk ke mulutnya sementara tangannya memindahkan walkers aneka rasa ke toples.
"Oh, hyung, bagaimana kabar Charlotte?" pertanyaan Lu Han sempat membuat Sehun berhenti memasukan chips ke mulutnya dan berakhir menyuapkannya ke mulut si anak mahasiswa yang kini bersandar di pantry dan menghadapkan badannya pada Sehun.
Sehun menghela napas dalam sebelum mengikuti sikap tubuh Lu Han hingga kini keduanya berhadapan. "Kemarin aku menelponnya dan ia baik, masih terguncang but overall good. She finally accepted my decision. Maksudku, kami berpisah baik-baik jadi aku tidak mungkin tiba-tiba berhenti membalas pesannya."
"Hmm, good then. Lagipula hyung yang aneh, tunangan secantik itu malah di lepas. Neo neun got geugeoseul huhwi ha ge dwilgeosida. – you will regret it soon." Lu Han menggelengkan kepala sok prihatin membuat Sehun terkekeh dan merapikan poni Lu Han yang menutupi matanya.
"Haji ankesseoyo. Neo neun deo areum dabda – I won't. You are more beautiful." Kilah Sehun sementara telunjuknya memilin poni Lu Han dan memainkannya perlahan.
Lu Han menonjok perut Sehun membuat yang lebih tua tersedak karena pukulan Lu Han lumayan sakit akibat kebiasaan si mahasiswa yang memiliki keahlian bela diri taekwondo turunan Baekhyun. "How many times do I have to tell you I'm not beautiful! Dan apa hubungannya putus hubungan hyung denganku!"
Sehun tertawa dan malah menangkup wajah Lu Han di kedua telapak tangannya. Ia memerangkap wajah si mahasiswa. "Arasseo arasseoyo, nae agi saseum~"
Lu Han merengut tidak mengerti. "Saseum? Apa itu artinya hyung?"
"Rahasia." Jawab Sehun sebelum mengusap lembut pipi si anak berkacamata dan melepaskan tangannya. "Ayo keruang tengah. Aku yakin teman-temanmu sudah tidak sabar bertemu denganku."
"Be good, hyung. Mereka keluargaku." Ucap Lu Han memperingatkan yang hanya di balas senyuman separuh oleh Sehun.
And I'll make you mine, officially.
.
.
.
.
.
.
"Mereka datang!" pekik Suho berbisik, mengingatkan segerombolan orang yang sedang membentuk lingkaran dengan kepala beradu dan berdiskusi seru.
"Ekhem!" kelimanya berdeham berbarengan dan memperbaiki duduk mereka ketika Lu Han menaruh dua piring camilan ke atas meja dan duduk di karpet karena sofa hanya tersisa satu.
"Jadi, kapan kita nonton film horornya?" tanya si anak berkacamata setelah menerima toples walkers dari Sehun yang menyusul duduk berselonjor di sebelahnya.
"Hyung di atas saja!"
"Mau ku pangku?"
Lu Han merotasikan bola matanya dan membiarkan Sehun duduk di sebelahnya membuat yang lebih tua tersenyum geli dan menyamankan posisinya.
"Kalian lihat itu?" bisik Baekhyun yang diangguki empat orang lainnya. "He's too attached with my lil' brother." Lanjut Baekhyun murung.
"Pukpuk, Baekhyun-oppa." sahut Zizi menepuk-nepuk kepala Baekhyun membuat Kris dan Yixing mendengus geli melihat Baekhyun yang bisa seperti puppy dan Zizi yang berani menyentuh kepala hyung galak tersebut.
Lu Han menengokan kepalanya kearah enam orang lainnya dan mengangkat sebelah alis. "Guys? Movie?"
Tiba-tiba saja sebuah bantal melayang ke muka Lu Han membuat si anak 19 tahun mengaduh dan terhuyung kebelakang hingga Sehun merangkul tubuhnya. "Yak! Apa-apaan itu?!" sungut Lu Han tidak terima.
"Kau! Melupakan hyungmu dan malah bermesraan dengan si dinding itu!" balas Baekhyun sama kesalnya sementara Yixing dan Suho memilih berpura-pura melihat ponsel Suho dan Kris memilih berciuman dengan Zizi.
"Ha?! Hyung, are you suddenly gone mad? Bermesraan apanya, aku dan Sehun-hyung tidak melakukan apapun!"
"Tapi dia territorial sekali dan lihat! Tangannya bahkan melingkari badanmu posesif!"
Jika Baekhyun sudah mendidih dan menuding penuh amarah, Sehun malah menunjukan smirk miliknya dari balik bahu Lu Han. "Yak, Sehun! Kau mengejek ku, hah?!"
"Baek-hyung…" Lu Han memejamkan matanya lelah melihat tingkah laku hyungnya dan sebelum Baekhyun kembali menuding Sehun, bel rumah menghentikan perdebatan mereka.
"Eh? Siapa itu?" tanya Baekhyun sementara Lu Han, Yixing, Kris dan Zizi hanya saling melempar tatapan.
"Biar aku yang buka." Sehun menawarkan diri dan beranjak dari tempatnya membuat Baekhyun segera menghambur dan memeluk Lu Han. "Kau itu harus hati-hati! Sehun itu punya tunangan, jangan mau diperalat olehnya!"
Lu Han hanya menggelengkan kepalanya dan menolehkan kepala keempat orang lainnya meminta tolong namun malah dihadiahi tatapan setuju oleh yang lain. "Eh, aku belum cerita ya? Sehun-hyung sudah putus dengan Charlotte sekitar 3 minggu yang lalu."
Jawaban tersebut cukup membuat suasana hening sebelum teriakan menggema dari lima orang yang lain. "APAAA?!"
Lu Han meringis dan mengusap kedua kupingnya yang berdengung. "Well, I guess I forgot to tell you."
Sebelum pertanyaan beruntun ditembakan, kepala Sehun melongok dari pintu ruang tengah dan ia merengut ragu. "Han," panggilnya pada Lu Han. "Eum… pizza?" lanjutnya lagi dengan ekspresi tidak yakin.
"WE DON'T ORDER PIZZA!" seru Baekhyun masih dengan suara melengking yang sama akibat efek mengejutkan dari Lu Han yang belum tercerna otaknya dan wajah Sehun si tokoh utama yang membuat emosinya kembali.
Sayangnya, Sehun tidak terpengaruh oleh reaksi Baekhyun. Sedari tadi matanya tidak lepas dari wajah Lu Han dan si anak berkacamata melirik teman-temannya meminta bantuan.
"A-aah let's watch the movie! Sadako vs kayako, right Lu-ge?" Zizi tiba-tiba saja melompat turun dari pangkuan Kris dan dengan cepat menyalakan dvd player untuk memutar kaset film. Sementara itu, Lu Han dengan sigap mematikan lampu ruangan sehingga satu-satunya penerangan berasal dari layar televisi. Kris dan Yixing menggamit lengan Baekhyun dan mendudukan pria berambut cokelat itu di sofa single.
"Nanti lagi, menginterogasi si anak rusa, hyung. Sekarang menonton." Bujuk Yixing sementara Baekhyun mendengus sebal.
Lu Han menarik Sehun dan menggiringnya menuju karpet di depan sofa yang di duduki Kris dan Yixing.
"Aman?" bisik Kris pada telinga Lu Han. Lu Han bermaksud menolehkan kepalanya dan membisikan jawaban ke telinga Kris, namun sebelum itu terjadi kepalanya tertarik ke samping dan berakhir di dalam rangkulan Sehun.
"Yak!" protes Lu Han namun Sehun tidak mengindahkan. "Watch. Baekhyun might get suspicious if you two whispers like that."
Kris yang melihat kelakuan Sehun mendengus jengah karena selain tdak mendapat kepastian dari Lu Han, ia malah di hadiahi tatapan dingin dari Sehun.
.
.
.
.
.
.
"WAAAAAAAA!"
Teriakan terlontar dari semua orang kecuali Sehun yang tidak berubah ekspresi ketika Sadako tiba-tiba muncul di depan layar televise.
"Potato that scared me!" pekik Lu Han dan Sehun memanfaatkan keadaan dengan mengaitkan lengannya ke pinggang Lu Han dan menarik si agi saseum kearahnya.
"KYAAAA!" teriakan single itu berasal dari arah Baekhyun namun tidak ada satupun penghuni ruangan yang mau menolehkan kepala kearahnya.
"What the hell?! Why are you here?! For Pete's sake are you – mmmh!"
Umpatan Baekhyun teredam begitu saja dan Lu Han yang memegang remot tv sengaja meninggikan volume suara hingga rasanya telinganya berdengung. Tapi itu perlu demi menghargai privasi calon pasangan.
BUG! SRET! PLAK! BUG! BAM!
Bunyi kericuhan yang diakhiri bantingan pintu membuat kelima dalang di ruang tengah bergantian melakukan tos dan terkekeh geli. Rencana mereka malam ini berjalan mulus dan Lu Han beranjak berdiri diikuti yang lain dan keluar dari flat menuju halaman depan.
"Hahaha aku tidak percaya kita berhasil! Kalian dengar umpatan Baekhyun-oppa? That's so hilarious!" Zizi bertepuk tangan gembira bak anak kecil sementara Lu Han, Kris, dan Yixing terkikik geli.
"Aku harap mereka bisa bicara baik-baik dan ia benar-benar melakukan ucapannya." Komentar Lu Han sambil mengeratkan jaketnya karena suhu mencapai nol derajat malam ini.
"Yeah right. Talk will be the last thing they do." Kris berucap dengan nada meremehkan karena come on, Baekhyun dan si mantan? Impossible.
"Whatever, we've done our job. So, where to go now?" tanya Yixing yang membuat semuanya menoleh kearah Lu Han.
Si anak berkacamata hanya bisa membalas tatapan mereka polos. "Apa? Aku hanya merencanakan sampai sini."
Kris dan Yixing facepalmed. "Tidak heran. Apa yang diharapkan dari si dumb xiao lu?"
"How about my place?" komentar Sehun menyelamatkan tulang kering Kris dan Yixing dari tendangan maut Lu Han.
"Call! Let's go!" Zizi segera menarik Kris menuju mobil Suho sementara Yixing dan Suho langsung mengikuti.
Lu Han baru akan mengikuti langkah teman-temannya namun tarikan di hoodienya menghentikan langkahnya.
"Mau kemana?" tanya Sehun.
"Eh? Ke mobil Suho."
Sehun berdecak dan menarik si anak mahasiswa menuju mobilnya. "Kau mau meninggalkanku sendirian? Tidak peka sekali."
"Hehe, hyung marah? Aww, imut sekali. Maafkan aku, ya?"
Sehun hanya diam dan memakaikan sabuk pengaman pada Lu Han lalu berlalu menuju kursi kemudi tanpa menjawab Lu Han.
"Sehun-hyuuuuuung," rengek Lu Han namun tidak mempan. "Hyungie~" coba Lu Han lagi dengan wajah memelas dan menarik-tarik kecil lengan coat Sehun.
Sehun mengulum bibirnya menahan senyuman dan berakhir menghadap si anak 19 tahun dengan alis terangkat sebelah.
"Apa?"
"Baikan."
"Shireo."
"Hyuuuuung!"
"Sikkeureo, Han-ah. Jangan merengek."
"Baikan dulu makanya!"
"Ya sudah, mana jari kelingking?"
"Ha?"
"Kelingkingmu, Han."
Meskipun tidak mengerti Lu Han tetap memberikan jari kelingking tangan kanannya pada Sehun yang langsung dikaitkan dengan kelingking kiri Sehun. "Don't let go my pinky until tomorrow and I'll forgive you, understand?"
Walaupun merona tidak jelas, Lu Han tetap menggelengkan kepala tidak percaya, "So childish, hyung. Kalau aku mau ke toilet bagaimana?"
"Ya aku ikut."
"Just die hyung. Die." Meski begitu tautan kelingking itu mengerat dan Sehun melajukan mobilnya dengan cengiran lebar di wajahnya.
.
.
.
.
.
.
"Aku pulang." Gumaman setengah sadar itu mengiringi langkah Lu Han memasuki pintu flat ruangannya.
"Welcome back~" seruan dari arah dapur membuat Lu Han melongokan kepalanya dan melihat seorang pria tinggi menjulang sedang menggoreng sosis dan telur. "Hey, Lu. Mau seporsi?"
Lu Han menggelengkan kepala dan lebih memilih menyipitkan mata menatap orang di depannya. "So?"
Pria tersebut tersenyum lembut dan menunjukan jari manis sebelah kirinya. "He said yes!"
Tanpa aba-aba Lu Han diangkat dan diputar-putar diiringi tawa bernada bassyang menggemparkan rumah. "Ahaha, chu-chukae hyung! W-wait stoooop I'm dizzy!"
Seakan tak peduli, sip ria malah semakin melempar-lempar tubuh Lu Han ke udara membuat yang lebih muda semakin memekik minta di turunkan.
"PARK CHANYEOL DON'T BULLY MY DONGSAENG!" teriakan dari dalam kamar Baekhyun menghentikan kelakuan mantan pacar yang sekarang tunangan Baekhyun. Pria itu langsung menurunkan Lu Han yang langsung merosot ke lantai akibat pusing.
"Terima kasih, Luhan-ah! Oh, mau ku gendong ke kamarmu? Ayo, biar aku tidak diomeli Baekhyun."
"Baek-hyung!" sebelum Chanyeol bisa kembali meraih tubuh Lu Han, si anak berkacamata memekik memanggil hyung nya yang langsung keluar kamar dengan tangan bertolak pinggang.
"Park Chanyeol, apa kau melempar-lempar Luhan di udara lagi, hah? Kau cari mati ya? Sudah tau Luhan takut ketinggian, idiot!"
Pria 23 tahun itu merengut merasa bersalah sementara Baekhyun membantu Lu Han berdiri perlahan. "Jangan dekati adikku lagi atau ku cincang kau!" ancam Baekhyun membuat Chanyeol kembali merunduk pasrah.
"Eer, omong-omong sosis dan telurmu akan gosong, Chan-hyung."
Celetukan Lu Han membuat Chanyeol melesat kembali ke dapur dan Baekhyun menarik napas dalam. "PARK DOBI IDIOT!"
"Idiot begitu calon suamimu, hyung." bisik Lu Han. "Diam kau! Omong-omong dari mana kau semalam?"
Tidak mau membuat tetangga flat mereka mengamuk karena suara teriakan Baekhyun di pagi hari rabu Lu Han memilih mengelak. "Hyuuuung, aku pusing. Bopong aku ke kamar!"
"Tsk, ini gara-gara si Park itu. Ayo, pelan-pelan. Kau libur kerja hari ini kan? Oh, ini sudah jam delapan tentu saja. Kelasmu siang kan? Ya sudah tidur saja, nanti hyung bangunkan."
"Baaaek, sarapannya sudah siap!"
Baekhyun memutar bola matanya kesal mendengar teriakan Chanyeol. "Istirahatlah, panggil aku kalau ada apa-apa, hm?"
Lu Han mengangguk patuh dan mengusakan wajahnya ke bantal. "Best Halloween ever. Be happy forever with him, hyung." ucapnya sebelum menutup mata dan tertidur pulas begitu saja.
Baekhyun terkekeh melihat tingkah si anak berambut hitam. "Gomawo, Luhan-ah."
"Eh, hyung aku mau tanya."
"Hm?"
"Agi saseum itu artinya apa?"
Baekhyun melongok bingung sebelum mendengus geli, "Dari mana kau dengar itu? Hmm, kalau tidak salah itu sama seperti arti panggilan Kris untukmu. Apa itu? xia lu? xi lu?"
"Xiao Lu?"
"Yap, that one. Atau Bahasa inggrisnya berarti baby deer."
Pipi bulat Lu Han sontak merona dan ia semakin melesakan wajahnya ke bantal. "Ya sudah, aku mau tidur. Dah, hyung!" ucap si yang lebih muda dengan suara teredam bantal.
Baekhyun mengacak surai Lu Han gemas sebelum beranjak dari tempat tidur. Ketika ia akan menutup pintu, ponsel Lu Han di atas nakas bergetar dan sebuah pesan singkat muncul di layar.
Bukan, bukan pesan singkat itu yang membuat urat leher Baekhyun muncul. Melainkan wallpaper homescreen Lu Han yang menampilkan dua pria berbeda usia dengan rupa hampir sama dimana yang berambut ash gray menghadap kamera sementara yang berambut hitam sedang mengagumi pemandangan di jendela.
Serigala sialan. Aku harus berbicara empat mata dengannya secepatnya!
.
.
.
.
.
.
tebece
maapkan gak jadi berakhir di chapter ini *pis vroh*
mungkin setelah ini atau dua lagi atau tiga lagi *terus aja woi* ,
ok I'm out!
