(UN)AVOIDABLE FEELING

Chapter 4

KAIHUN KAIHUN KAIHUN

.

.

.

sebuah hadiah bagi kalian yang selalu membuat hari-hariku menjadi berwarna

.

.

Suasana ruang keluarga itu begitu sangat membingungkan. Ruangan itu berisik dengan suara-suara gaduh yang keluar dari benda bernama televisi, tapi rasanya hening sekali. Dua orang pria duduk di sofa ruangan itu dengan ekspresi yang sangat berkebalikan. Yang manis sedang memperhatikan televisi dengan wajah bosannya sambil mengunyah keripik kentang dengan malas, sedangkan yang gagah dan berwajah tegas itu sedang menatap entah ke arah apa dengan wajah yang seakan menagatakan "aku tak mempercayai apapun dan siapapun di dunia ini", dengan bibirnya yang sedikit terbuka dan matanya yang mencerminkan ketidakpercayaan. Si pria gagah masih mengenakan jaket dan celana jeans nya, sedangkan si pria manis sudah mengenakan pakaian santainya, kaos kebesaran dan celana pendek yang seakan memamerkan paha mulusnya pada dunia. Oh, mereka habis pergi ke luar ternyata.

"Jongin, hentikan wajah bodohmu itu." Si pria manis itu mengeluarkan suaranya, kesal juga dengan suaminya yang terus saja tak henti menampilkan wajah yang seperti itu. Sayangnya, suaranya itu seperti tidak membuyarkan kelakuan suaminya.

"Ya Kim Jongin! Hentikan! Aku takut kau bodoh betulan!" Sehun memukul pundak Jongin dengan bantal yang ada di dekatnya. "Astaga kau bertampang seperti itu sejak kita berada di ruang pemeriksaan tadi. Dan itu sudah nyaris dua jam yang lalu."

Si pria yang dipukul tadi mengerjapkan matanya dan menghela nafasnya, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa yang sangat empuk itu dan menatap pria manis di sampingnya, "Kau benar-benar hamil?" Tanyanya lagi mungkin untuk ke dua puluh kalinya.

"Kau mendengarnya langsung dari dokter, dan kau ada disana saat aku diperiksa. Apa masih tidak mempercayainya? Atau kau berfikir aku bersekongkol dengan dokter itu untuk membohongimu?" Sehun menghela nafasnya dengan lelah, kapan suaminya akan percaya pada fakta itu.

"Bukan begitu maksudku, tapi... tapi apa kau benar-benar hamil? Benar-benar akan ada seorang bayi yang hidup di dalam perutmu?"

Lagi, Sehun menghela nafasnya dan mengacak rambutnya frustasi. "Menurutmu bagaimana? Apa bayi itu akan tumbuh di kepalaku?" Jawab Sehun sarkastik. "Berhenti jadi bodoh mendadak seperti ini."

Jongin kembali menunjukkan ekspresi tidak percayanya, membuka mulutnya beberapa kali untuk bicara namun ditutup lagi olehnya. Sehun hamil. Sehun hamil. Bagaimana bisa? Sehun kan laki-laki.

"T-tapi bagaimana bisa, Sehun?"

"Bagaimana bisa? Tentu saja karena kau memuntahkan cacing-cacing masa depanmu itu di dalam ku, kau kan sering sekali melakukannya!" Jawab Sehun setengah menahan kesal.

"Tapi kau laki-laki! Kenapa bisa?"

"Astaga Kim Jongin, aku rasa ku rasa intelegensimu tertinggal di jalanan saat kita pulang tadi." Sehun mulai jengah juga. "Terlepas dari masalah merger perusahaan, Kau fikir kenapa kedua orang tua kita tidak mempermasalahkan untuk menikahkan kita berdua? Tentu saja karen aku bisa memberikan keturunan pada keluarga kita!"

Ap-apa?

Wow

Itu hebat sekali. Sehun laki-laki dan dia bisa hamil? Jongin masih tidak percaya dan tetap merasa sanksi.

"Ayolah Jongin jangan bodoh begitu. Kau akan menjadi seorang ayah dan aku tak mau anakku punya ayah yang bodoh seperti ini. Aku lebih baik mencari ayah yang lain untuknya."

"Jangan! Tidak boleh!" Jongin membantah dengan cepat. "Aku ayah anak itu dan aku yang akan mengurusnya!" Aih, posesif Jongin muncul juga akhirnya.

"Nah karena itu, berhenti menampilkan wajah bodoh seperti itu. Aku benar-benar hamil dan kau akan mempercayainya nanti saat perutku mulai membesar." Ucap Sehun sambil mendekatkan dirinya dengan suaminya itu dan memeluk lengan kekar suaminya.

"Baiklah, meskipun aku belum sepenuhnya memahami semua ini. Tapi aku senang sekali akan mendapatkan seorang anak darimu." Jongin akhirnya tersenyum dan mengecup puncak kepala istrinya itu. Dia menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya. "Terimakasih, Sehun."

Sang istri hanya tersenyum dan mengeratkan tautan jemari mereka, menikmati masa-masa tenang seperti ini. Berada di dekat suaminya, dengan seorang bayi yang sedang tumbuh di dalam perutnya.

Beberapa saat berlalu hingga Sehun melepaskan tautan jemari mereka dan memidahkan posisi duduknya yang semula di samping Jongin menjadi di pangkuannya. Pria manis itu menempatkan kepalanya di dada bidang sang suami, seperti seorang bayi yang minta dimanjakan. Jongin terkekeh kecil dengan sikap manja istrinya itu, dan melepaskan jaket yang dikenakannya agar bisa lebih merasakan kehangatan tubuh istrinya.

"Bayi besar mengandung seorang bayi kecil, hm?" Jongin mencubit hidung istrinya itu dengan gemas dan memeluknya, menariknya agar mereka semakin dekat.

"Aku bukan bayi besar!" Sehun menyentil dada suaminya yang malah dibalas oleh tawa dari lelaki yang sedang memangkunya. Pria itu malah menepuk-nepuk pantat Sehun seperti orangtua yang meninabobokan anaknya.

"Jongin."

"Hmm?"

"Apa kau nanti akan kesal padaku saat aku mulai mengidam?"

"Kesal? Kenapa kesal? Kau istriku dan kau mengandung anakku. Kenapa aku harus kesal?" Jawab Jongin sambil mengusak hidungnya di rambut lembut istrinya itu, rambutnya selalu wangi dan menyenangkan.

"Tapi aku pasti akan sangat manja sekali. Kau tahu aku sangat mirip ibuku, dan dia sangat manja saat sedang mengidam."

"Bukankah kau memang sudah manja?" Tanya Jongin yang dibalas dengan sebuah cubitan di puting kirinya. Ya ampun, sakit sekali cubitan istrinya itu.

"Kau nenyebalkan sekali!" Sehun ngambek dan menampilkan wajah cemberutnya.

Jongin tertawa dan memutar tubuh Sehun untuk menghadap dirinya, sehingga kedua kaki Sehun kini memenjarakan pinggang Jongin.

"Maafkan aku, sayang. Tapi kau lucu sekali. Tentu saja aku tak akan marah atau kesal padamu saat kau mengidam. Aku bahkan akan sangat merasa senang jika kau bermanja padaku, dan itu untuk bayi kita juga. Jadi saat kau menginginkan apapun nanti, bilang padaku dan aku akan melakukan apapun untukmu, bahkan saat aku sedang di kantor sekalipun." Jongin mengecup kening istrinya dengan penuh cinta, membuat Sehun merasa hangat dalam hatinya.

"Terimakasih, Jongin. Aku mencintaimu."

"Aku lebih mencintaimu."

Kemudian keduanya saling berbagi sebuah ciuman yang manis. Ciuman yang mewakili rasa cinta masing-masing terhadap satu sama lain. Ciuman yang indah dan penuh rasa cinta.

"Jongin."

"Ya?"

"Kenapa hari ini kau terlihat sangat tampan?"

Jongin tertawa dengan perkataan istrinya itu. "Tampan apa? Bukankah setiap hari aku memang tampan?"

"Ish! Tidak! Eh iya sih. Tapi hari ini kau tampan sekali." Ujar Sehun dan menciumi rahang tegas milik suaminya berkali-kali. Jongin hanya tertawa dan membiarkan kegiatan istrinya itu. Istrinya memang random sekali. Kadang manis, kadang cuek, kadang menggemaskan seperti ini, dan di lain waktu dia bisa saja merusak romantisme Jongin dengan adegan om mesum dan adik manis. Oh iya sudah lama mereka tak melakukan adegan itu. Jongin kangen juga jadinya.

Entah mengapa ciuman kecil Sehun di rahangnya berubah menjadi sebuah hisapan. Hisapannya cukup keras dan Jongin bersumpah itu pasti meninggalkan jejak. Jarang sekali anak ini melakukan hal seperti itu.

"Sekarang adik manis sudah mulai nakal, ya. Berani meninggalkan jejak." Goda Jongin saat Sehun selesai dengan hisapannya.

"Biar saja. Om mesum kan punya Sehunnie." Jawabnya sambil mengecupi leher suaminya itu, dia kembali menghisap satu spot di dekat jakun yang sangat kentara itu, dan mengalungkan tangannya di bahu sang suami.

"Sejak kapan om jadi milik Sehunie? Bukannya Sehunie yang milik om?" Jongin kembali menggodanya sambil membiarkan Sehun yang masih saja menghisap kulit lehernya. Dia mengusap punggung istrinya itu dengan lembut. Dia tahu akan kemana arahnya perbuatan mereka ini, tapi dia ingin Sehun yang menerintahnya.

Sehun menjauhkan wajahnya dan menatap hasil kaya yang dibuatnya tadi. "Om jadi semakin tampan! Dan semua orang akan tahu kalau om mesum ini hanya milik Sehunie!" Katanya, terlihat sanga puas dan antusias.

"Jadi Sehunie melakukan ini agar semua orang tahu kalau om milik Sehunie? Nanti om tidak bisa bermain dengan adik manis yang lain, dong."

"Ish om playboy sekali!" Ambek Sehun. "Pokoknya om milik Sehunie, dan tidak boleh main dengan adik yang lain. Dan mereka tidak manis!"

Jongin tertawa dengan jawaban Sehunie nya. Dia menggemaskan sekali saat memainkan perannya sebagai adik manis. Dan anak itu nemang manis.

"Baiklah, baik. Lalu Sehunie mau apa sekarang?" Tanya Jongin sambil memainkan surai rambut isrinya.

"Eum.. Sehunie mau om menyapa adik bayi yang ada di perut Sehunie." Sehun menjawabnya dengan malu-malu. Wajahnya ia sembunyikan di ceruk leher sang suami, berusaha menyembunyikan wajah merahnya.

"Oh itu mudah." Jongin menjauhkan sedikit jarak mereka dan mengusap perut Sehun yang masih rata. "Hai adik bayi, ini papamu. Cepat tumbuh besar, ya." Jongin berkata sambil melambaikan tangannya ke arah perut tersebut.

Sehun menggigit bibirnya menahan tawa sekaligus kagum pada suaminya itu. "Bukan seperti itu!" Protesnya.

"Lalu seperti apa? Begini?" Jongin merunduk, mengangkat sedikit tubuh istrinya dan mencium perut rata itu. "Adik bayi cepat besar ya, papa ingin melihatmu."

"Bukaaan!" Rengek Sehun dengan wajahnya yang menahan kesal. Bibirnya dicebikkan dan menatap Jongin dengan alis menukik. Kenapa ekspresinya berubah drastis sekali.

"Lalu bagaimana lagi? Kau memintaku untuk menyapa adik bayi, ya aku menyapanya, kan tadi?" Jawab Jongin, mulai tak mengerti dengan keinginan istrinya.

"Tapi bukan begitu! Aku ingin kau menyapanya secara langsung."

"Secara langsung bagaimana? Bayi itu belum lahir, Sehun."

"Kau bisa masuk ke dalamku dan menyapanya langsung." Jawab Sehun dengan suara yang nyaris tak bisa di dengar, dan dia kembali menyembunyikan wajahnya. Untuk kali kedua pada saat yang berbeda, Jongin menampilkan wajah bodohnya.

"Ap-Apa? Kau tadi bilang apa?" Benar-benar Jongin tak bisa mempercayai pendengarannya. Apa tadi benar Sehun mengatakan padanya untuk 'memasukinya' dan 'menyapa' adik bayi secara langsung? Kurang vulgar bagaimana anak yang sedang dipangkunya ini.

"Ish Jongin! Cepaaat!" Sehun kembali merengek dan Jongin dapat merasakan sesuatu yang keras di bagian perutnya. Dia yakin sesuatu itu bukan miliknya karena miliknya masih tertidur di bawah sana. Oh, Jongin mengerti. Sepertinya sehun sedang horny.

"Kau ingin aku memasukimu dan menyapa adik bayi secara langsung?"

Sehun mengangguk dan menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan, sepertinya Sehun yang manja digantikan dengan adik manis yang suka menggoda saat ini.

"Kau ingin aku menyapanya dengan bagaimana? Cepat dan keras atau lembut dan perlahan?" Jongin mulai menggodanya dengan membisikkan kata-kata ysng sangat menjurus. Ia juga nyaris kehilangan kendali tubuhnya saat Sehun terus saja menggerakkan pinggulnya diatas pangkuannya kalau kau mau tahu.

"Cepat dan keras. Kumohon, aku menginginkanmu, Jongin." Sehun merengek dan menggigit bibir bawahnya, menatap Jongin dengan pandangan frustasi dan hasrat seksual yang sangat kentara. Jongin mencium bibir itu dan menarik Sehun untuk semakin menempelkan tubuhnya padanya. Celana pendek Sehun membuat Jongin dengan mudah meraba kulit putih mulus itu, menyebabkan Sehun meremang dan menuntut lebih dari ciuman itu.

Sehun agresif sekali saat ini dan Jongin merasa agak aneh, karena kali ini Sehun yang berinisiatif. Tak seperti sebelum-sebelumnya selalu dia yang memulai, meskipun Sehun tak pernah menolak.

Ciuman mereka terputus dan Sehun langsung berdiri untuk membuka kaos dan celana beserta dalamannya dan membuangnya asal, menampilkan kulit putih mulusnya yang mulai memerah di hadapan Jongin. Dia juga membuang baju Jongin ke sembarang arah setelah melepasnya dan kembali duduk di pangkuan suaminya. Dia kembali mencium Jongin dan mulai meraba selangkangan sang suami yang mulai membesar.

"Buka." Perintah Sehun sambil terengah. Berciuman dengan nafsumu yang sudah di ubun-ubun mengahabiskan pasokan oksigen di paru-parunya.

Jongin membuka celananya dan akhirnya benda kesukaan adik manis ini muncul juga dengan gagahnya. Benda itu berdiri tegak dihiasi jalur-jalur urat yang kentara.

Sehun berpindah untuk duduk di lantai diatas dua lututnya diantara kedua kaki Jongin, dan langsung mengecupi benda besar dihadapannya itu. Tangannya menggenggam bagian pangkal benda itu dan mengurutnya perlahan. Dia mulai memasukkan ujung benda itu ke dalam mulut kecilnya dan mulai memainkan lidahnya disana, membuat Jongin mendesis dan mendongakkan kepalanya menahan nafsu. Jongin sangat suka mulut hangat Sehun dan dia tahu Sehun juga menyukainya berada disana.

Setelah dirasa cukup dan semakin tak tahan, Sehun melepas kulumannya dan kembali duduk di pangkuan suaminya, memegang benda itu untuk diposisikan berada di depan inti tubuhnya hingga Jongin menghentikannya.

"Ssst. Biar aku saja." Kata Jongin sambil mengecup pelipis Sehun yang mulai berkeringat.

Jongin membaringkan Sehun di sofa panjang yang mereka duduki dengan perlahan, mengecupi wajah pria manis itu bertubi-tubi dengan lembut.

"Segila-gilanya hasratku yang menginginkanmu untuk menunggangiku, aku masih punya akal sehat untuk melindungi orang yang aku cinta dan calon bayi hasil cinta kita yang ada di dalam perutmu." Jongin mengecup bibirnya.

Perkataan Jongin itu menunjukkan betapa cintanya ia pada Sehun dan calon bayinya. Dan hal itu membuat Sehun menangis. Air mata benar-benar membasahi pelipisnya dan dia nyaris terisak.

"Astaga apa aku menyakitimu? Yang mana yang sakit? Maafkan aku, Sehun." Jongin malah panik melihat air mata Sehun yang cukup deras, tapi hal itu dengan cepat ditepis oleh Sehun dengan gelengannya.

"Aku baik-baik saja. Aku mencintaimu. Dan aku rasa hormon dari bayi kita mulai menjalari tubuhku." Sehun menangis lagi.

"Hey, adik bayi," Jongin menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan perut rata Sehun. Dia mengecupnya sekali. "Jangan nakal, ya? Jangan mempermainkan hormon mamamu, nanti papamu ini bisa jantungan jika melihat mamamu tertawa lalu menangis tiba-tiba."

Sehun tertawa mendengar perkataan Jongin dengan calon bayi mereka, tapi tetap saja air mata mengalir dengan derasnya.

"Haruskah kita berhenti?" Jongin bertanya yang dijawab oleh gelengan dari istrinya.

"Lanjutkan saja, rasanya aku sudah mau meledak, Jongin."

Jongin terkekeh dan kembali mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sehun. "Aku akan melakukannya dengan lembut." Dia mengecup kedua kelopak mata Sehun yang basah kemudian mengecup bibirnya.

Sedikit demi sedikit, benda kebanggaan milik Jongin memasuki inti tubuh Sehun. Cengkraman dinding-dinding Sehun mampu membuatnya gila. Sehun ketat dan selalu seperti itu. Saat benda itu sudah masuk setengahnya, Jongin menariknya keluar dan kembali memasukkan seutuhnya dalam sekali hentakan. Membuat Sehun terengah dan menggigit bibir bawahnya. Mereka diam dalam posisi itu untuk beberapa saat hingga Sehun mulai meminta Jongin untuk bergerak.

Jongin benar-benar memenuhi ucapannya. Dia bergerak dengan lembut dan perlahan, seakan-akan Sehun adalah benda yang mudah pecah jika dia bergerak secara tiba-tiba. Dia akan mencium wajah istrinya itu setiap kali miliknya masuk sepenuhnya ke dalam inti Sehun. Dan dia juga akan mengecupi perut Sehun sambil merapalkan harapan-harapannya terhadap calon bayi mereka, seperti "adik bayi cepat tumbuh, ya", atau "jaga mamamu dengan baik, jangan menyusahkannya", dan bahkan "jadilah tampan seperti aku atau cantik seperti mamamu". Dan itu sangatlah indah di mata Sehun.

Sehun sangat menikmati perlakuan Jongin yang seperti ini, meski rutinitas yang kemarin-kemarin mereka lakukan juga menyenangkan baginya. Tapi kali ini rasanya sangat istimewa. Kehadiran calon bayi ditengah-tengah hubungan mereka menjadikan keduanya semakin dekat dan terikat.

Dan si calon adik bayi, mereka baru mengetahuinya pagi ini setelah mereka pergi ke dokter karena Sehun yang merengek lapar tapi tidak mau makan apa-apa dan itu sudah terjadi selama beberapa hari. Untungnya Sehun tidak muntah-muntah. Mungkin istrinya akan pingsan setiap habis muntah mengingat tak ada makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya tapi dia tetap saja muntah. Dokter bilang si adik bayi sudah berumur dua minggu, dan meskipun sang ibu sulit makan, tapi si adik bayi tumbuh sehat. Sehun sangat senang mendengar berita itu, karena akhirnya akan ada malaikat kecil yang menemaninya setiap hari saat Jongin bekerja. Tapi suaminya itu malah diam saja dengan wajah bodohnya dan kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi.

"Aku tak tahan, aku akan datang, Jongin." Sehun menggigit bibir bawahnya dan bernafas terengah-engah, melengkungkan punggunya kala ia mencapai pelepasannya sambil menyebut nama suaminya, dan secara refleks mengetatkan dinding-dinding yang menyelimuti Jongin.

Jongin tetap dengan temponya yang lambat, nyaris hancur pertahanannya saat Sehun mencengkramnya terlalu kuat. Dia merunduk dan mencium bibir yang setengah terbuka milik istrinya berkali-kali. "Aku mencintaimu dan adik bayi." Dengan kalimat itu, Jongin melepaskan benih-benihnya di dalam tubuh Sehun, menyapa si adik bayi yang masih belum terbentuk dengan jelas.

.

.

"Aku merasa malu sekali hari ini." Ujar Sehun sambil menyembunyikan wajahnya di dada telanjang suaminya, mereka berdua masih dalam keadaan yang polos, hanya saja mereka sudah tidak terpaut dan Jongin kini berada di sampingnya, dengan lengannya dijadikan bantal untuk kepala Sehun.

"Malu kenapa?"

"Aku menggodamu dan rasanya aku binal sekali tadi."

Jongin tertawa dan mencubit pipi istrinya dengan gemas, "Kau memang binal sekali tadi, aku sampai terkejut. Tapi aku suka, kau sangat seksi." Kemudian Jongin tertawa lagi.

"Ish memang dasar kau om-om mesum." Sehun mencubit pinggang sang suami hingga yang dicubit mengaduh kesakitan. Cubitannya tak main-main.

"Tapi serius, Sehun, aku tak mempermasalahkannya. Aku suamimu dan adalah hakmu meminta sesuatu padaku."

"Hmm.. kau memang pengertian sekali, Jongin." Sehun mengangkat wajahnya dan mencium rahang tegas Jongin. "Kurasa kau harus siap kapanpun mengenai hal barusan, kurasa hal itu akan sering terjadi. Kau tahu hormon orang yang sedang hamil itu tak bisa diprediksi, dan keinginan mereka pasti berbeda-beda. Tapi tadi aku bertanya pada dokter saat kau sudah keluar tentang kenapa aku selalu saja ingin bercinta denganmu akhir-akhir ini, dan dokter bilang itu karena si adik bayi." Sehun menghela nafasnya dan memainkan jari-jarinya di dada Jongin, membuat pola abstrak dengan gerakannya.

"Benarkah? Tapi selama ini kau tak pernah meminta itu padaku. Baru tadi saja."

"Aku menahannya dan aku tersiksa sekali." Sehun menggembungkan pipinya. "Tapi setelah dokter menjelaskannya padaku kurasa itu tak masalah, dan kau harus mengerti keadaanku juga. Aku tak mau kau merasa risih karena aku tiba-tiba menjadi sangat binal."

"Tentu saja aku mengerti, kalaupun tidak, aku akan berusaha untuk mengerti. Ini semua untukmu dan adik bayi. Meskipun aku belum benar-benar menerima kenyataan bahwa aku akan segera menjadi seorang ayah, tapi aku bahagia sekali mengetahui kau sedang mengandung. Rasanya seperti ada banyak kupu-kupu yang beterbangan dalam hatiku." Jelas Jongin dengan wajah tersenyumnya.

"Maafkan aku karena aku akan banyak merepotkanmu beberapa bulan ke depan. Tapi itu bukan aku yang mau, itu semua karena adik bayi."

"Aku tahu, Sehun. Dan aku tak masalah.. Kapan kau pernah merepotkanku? Aku tak pernah merasa direpotkan olehmu. Dan ini juga untuk adik bayi kita, setidaknya aku ingin menjadi seorang calon ayah yang sempurna untuknya."

"Terimakasih, om mesum yang akan menjadi seorang ayah."

"Sama-sama, adik manis yang akan memiliki adik bayi." Keduanya tertawa dengan akhir pembicaraan mereka, bermalas-malasan berdua di sofa untuk sesaat hingga keduanya memutuskan untuk membersihkan diri.

.

.

.

Sembilan bulan berlalu dengan sangat cepat. Jongin merasa mengetahui kehamilan istrinya itu baru saja kemarin pagi, tapi nyatanya sekarang ia sedang di rumah sakit dengan ditemani kedua orangtuanya dan mertuanya di depan ruang persalinan, menunggu sang istri melahirkan malaikat kecil mereka. Setelah perut Sehun mulai membesar barulah Jongin benar-benar percaya jika Sehun memang tengah mengandung anaknya. Dia sangat bahagia mengetahui, atau lebih tepatnya menyadari fakta tersebut. Dan Jongin bertekad memiliki banyak anak dari Sehun. Tak apa dia kerepotan dengan keinginan Sehun saat hamil, tapi dia tahu bahwa kebahagiannya setelah si adik bayi lahir pasti akan lebih besar lagi nantinya.

Mengenai kehamilan Sehun, pria manis itu benar-benar mengalami gejolak hormon yang parah. Untungnya tidak sampai moodswing yang membuatnya menjadi sangat emosional. Sehun kalem dan akan menjadi manja dalam sepersekian detik, kemudian akan tenang lagi dan tiba-tiba dia menjadi agresif, dalam artian urusan ranjang mereka. Jongin nyaris kewalahan menghadapi Sehun saat dia lelah setelah pulang kerja, tapi itu untuk istri dan si adik bayi. Dia akan melakukan apapun yang mereka minta. Lagipula permintaan istrinya tidak sulit dan tidak macam-macam. Paling-paling hanya minta ditemani menonton drama hingga pagi, makan banyak makanan manis, atau sekedar bermalas-malasan di kasur sepanjang hari yang membuat Jongin mau tak mau meninggalkan pekerjaan kantornya.

Ini sudah tiga jam Sehun di dalam dan akhirnya lampu ruang operasi itu mati juga. Dokter memilih melakukan tindakan c-section karena Sehun adalah laki-laki, dan Jongin diminta untuk menunggu di luar. Saat dokter dan beberapa suster keluar dengan mendorong sebuah kasur kecil untuk bayi, sang dokter mengajak Jongin dan orangtuanya untuk melihat bayi mereka. Dokter dan para suster mengucapkan selamat dan turut berbahagia bagi keluarga itu.

Jongin tak dapat membendung air mata bahagianya. Anaknya terlihat sangat mungil dan bersih. Dia laki-laki. Jongin menyentuh pipi si adik bayi dengan lembut. Ya Tuhan, si adik bayi benar-benar telah berada di dunia. Akhirnya si papa bisa menyentuh si adik bayi.

"Kami akan membawa bayi anda ke ruangan istri anda nanti setelah kami membersihkannya. Anda bisa pergi ke ruangan istri anda, suster akan mengantar. Saya permisi." Sang dokter menginstruksikan, lalu Jongin dan keluarganya menyusul Sehun di ruangannya.

.

.

"Jongin? Apa adik bayi baik-baik saja?" Sehun bertanya setelah dirinya bangun dari tidur dan mendapati Jongin yang tengah menggenggam tangannya.

Jongin mengangguk dan mencium kening istrinya dengan lembut. "Bagaimana kondisimu? Kau hebat sekali, Sehun. Kau berhasil melakukannya. Terimakasih."

"Itu berkat dirimu juga, Jongin. Aku tak akan bisa melakukannya sendiri." Sehun tersenyum dan mencium tangan sang suami. "Apa kau sudah melihat adik bayi?"

Jongin mengangguk dan dia mulai menangis, "Aku melihatnya, dia sangat mungil dan begitu indah, Sehun. Aku mencintainya dan aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata." Ia benar-benar sangat terharu. Ternyata ini bahagianya menjadi seorang ayah untuk pertama kalinya.

Sehun tersenyum dan mengusap pipi yang basah karena air mata itu. "Kenapa kau menangis? Kau jadi emosional sekali." Ia terkekeh dan Jongin tak peduli, dia bahagia dan entah mengapa dia menangis.

"Aku tak tahu, tapi ini semua karena adik bayi."

"Papa menyalahkan adik bayi?" Tanya Sehun sambil mengernyitkan dahinya.

"Iya, adik bayi terlalu sempurna hingga aku menangis bahagia."

"Dasar papa cengeng, nanti kalau adik bayi melihat pasti dia akan tertawa."

"Biar saja, adik bayi harus bangga karena aku menangis bahagia untuknya."

Sehun tertawa kecil dengan perkataan Jongin, menahan sedikit sakit di perutnya bekas operasi tadi. Mereka berbincang beberapa saat hingga suster membawa sebuah gumpalan kain di gendongannya yang mereka yakin adalah si adik bayi. Dia menyerahkannya pada sang mama dan Sehun menggendongnya dengan hati-hati. Suster meninggalkan si adik bayi bersama mereka dan pergi dari ruangan itu.

"Adik bayi, ini mama.." Bisik Sehun pada seorang bayi yang sangat mungil di gendongannya. "Mama senang sekali akhirnya bisa melihatmu. Ada papa juga disini."

"Ini papa, sayang. Kau cantik sekali." Jongin mengusap pipi kemerahan milik si bayi dengan sangat lembut. Tangan yang satunya ia gunakan untuk menyentuh jari-jari mungil si bayi yang langsung digenggam oleh bayi yang tertidur itu, seperti mengenali tangan sang papa. "Iya, ini papa, sayang."

"Kita harus memberinya nama. Adik bayi harus punya nama yang bagus." Ujar Sehun sambil mengecupi pelipis sang anak. Dia masih menggendongnya, karena Jongin menolak menggendongnya dengan alasan takut menjatuhkannya.

"Sebenarnya aku punya nama yang bagus untuknya. Nama itu gabungan dari nama kita, dan kurasa itu cocok untuk nama seorang anak laki-laki." Sahut Jongin.

"Siapa?"

"Namanya Kim JongHun. Bagaimana? Jong dari Jongin dan Hun dari Sehun."

"Itu terdengar bagus. Dan aku suka namanya. JongHun. Kim JongHun." Sehun mengangguk dengan puas dan tersenyum. "Baiklah adik bayi, mulai sekarang namamu Kim Jonghun. Buah hati Kim Jongin dan Kim Sehun."

Jongin mengangguk dan ikut tersenyum, ia mencium kening sang bayi yang baru saja diberi nama itu dengan lembut. "Tumbuhlah dengan sehat dan kuat, papa mencintaimu." Bisik Jongin. Lalu dia beralih menatap istrinya dengan pandangan memuja, "Aku mencintaimu, Kim Sehun."

"Aku juga mencintaimu, suamiku." Sahut Sehun dan kemudian mendapat sebuah kecupan di dahi dan di bibirnya.

.

.

.

.

.

~~~END~~~

_ahra051016

Entah apa yang aku buat di chapter ini. Kalian bisa menganggap bagian ini sebagai cerita lepas. Maafkan banyak kesalahan dan typo yang berserakan ini. Aku masih mengetik menggunakan hpku /cry.

Dua story sudah aku selesaikan. Dan aku sangat berterimakasih pada kalan yang setia membaca dan repot2 memberikan review. Juga terimakasih yang sudah memfav dan memfollow, aku merasa tersanjung. Kalian membuatku sangat bersemangat!

Maaf aku tak bisa membalas review kalian :(

Sampai jumpa lagi, salaaaaam :D

P.S.: sebenarnya sku masih punya satu chapter lanjutan dai chapter ini, akan aku posting jika kalian nenginginkannya dan jika aku tak sibuk ahhahah.

P.S.S.: aku suka sekali membuat Sehun manja dan binal hahahha XD