The story and characters not belong to me.
Chapter 4
X
X
X
Seharusnya ia tahu jika kekacauan di New York akan menjadi berita nasional. Teleponnya tidak berhenti berdering semenjak beritanya muncul di TV. Ia mendapatkan hampir 100 sms dari Lydia dan Danny. Bahkan Scott mengutarakan kecemasannya melalui ayahnya. Syukurlah karena ayahnya ada di New York saat kejadian itu terjadi, ia bisa menenangkan teman-temannya. Bahkan seorang Derek Hale. Well, ia tidak pernah tahu jika nyawa Stiles cukup berarti di matanya, melihat ancamannya yang selalu ia lontarkan.
Petualangannya tidak luput juga dari agen lain. Banyak suara-suara tidak percaya jika ia benar-benar bernegosiasi dengan naga. Berkata bahwa Stiles menambah-nambahkannya. Tapi, setelah kunjungan Avengers yang tak terduga ke kantornya, semua mulut ikut terbungkam. Siapalagi kalau bukan gara-gara Tony Stark yang menambahkan Avengers pada akses pintunya—membuat mereka bisa datang sekehendak hati. Bahkan setelah Stiles memanggil teknisi untuk memperbaikinya, programnya kembali ke awal. Padahal pintu itu satu-satunya yang memisahkan antara dunia yang keras diluar sana dengan dunianya yang damai. Ia tidak perlu bukti nyata dari tingkah ceroboh Avengers, sudah cukup dari kertas laporan saja.
Tapi seperti biasa harapan hanya harapan.
Tony terkadang mampir ke kantornya, dan di setiap kesempatan, meninggalkan barang baru diatas mejanya. Pertamakali adalah HP super canggih dengan JARVIS terprogram disana, bersama note mengatakan itu HP teknologi baru yang belum masuk pasar dan ia seharusnya bersyukur mengenal orang dermawan macam Tony.
Saat ia membahas HP itu dengan Natasha, wanita itu bilang jika semua Avengers mendapatkan barang yang sama dan memberinya saran untuk menerimanya saja karena percuma menolaknya karena Tony keras kepala. Ia juga memperingatkan, itu tidak akan jadi barang terakhir yang tertinggal di mejanya. Saat ia bertanya bagaimana caranya mengakhiri perhatian tidak perlu itu? Wanita itu cuma menjawab sambil menyeringai, "berhenti membuatnya tertarik padamu." Dan bagaimana caranya? Natasha mengerdikan bahu, "berhenti jadi dirimu?"
Well, berhenti jadi dirinya jelas bukan pilihan. Jadi, mungkin ia akan menikmati dulu perhatian itu sampai Tony bosan.
Tidak berakhir disana, kapten Amerika juga bersikap seperti teman lama dengannya. Saat mereka berpapasan di koridor, ia akan menyapanya duluan. Padahal Stiles sudah berlagak pura-pura tidak kenal. Sikap sang kapten membuat pandangan heran dan penasaran dari koleganya. Ia merasa Avengers selalu ada di sekitarnya. Tak jarang Steve juga ikut makan siang bersamanya di kantin SHIELD Tower. Lalu, tak lama disusul oleh Natasha dan Chil.
Biasanya ia makan sendiri atau dengan agen Meredith. Tidak banyak orang yang dikenalnya karena Stiles masih baru. Juga karena pekerjaannya sering dianggap hanya sekedar 'paper push'. Jenis pekerjaan yang membuatmu tidak keren dan di-cap kutu buku. Tapi tiba-tiba saja mejanya berubah jadi meja anak populer. Semua orang memandangnya dengan tatapan iri sementara ia makan bersama superhero. Stiles berusaha keras untuk tidak kencing di celana atau menggelepar seperti ikan mati. Sejak dulu dia fanboy. Jangan kaget jika ia punya koleksi figur kapten Amerika dan poster Hawkeye bersandingan dengan Black Widow di kamar lamanya. Bahkan ia punya sabuk menyala bersimbol Iron Man—jangan pernah bilang Tony.
Clint Barton bertingkah tidak lebih baik. Dengan kemampuan ninjanya, ia bisa tiba-tiba muncul di pojok ruangan atau suaranya lebih dulu muncul sebelum tubuhnya. Seandainya saja Stiles tidak terbiasa dengan anti-privasi Derek Hale, ia yakin sudah jantungan saat pertamakali menemukannya berdiri disampingnya saat ia sedang sibuk menerjemahkan artefak kuno—mengintip pekerjaannya dari balik punggungnya, membuat Stiles hampir membentur kepalanya saat ia bergerak mundur. Pria itu sama sekali tidak mengenal personal space. Jika Stiles tidak tahu ia seorang assassin terbaik SHIELD, ia sudah mengiranya seorang stalker. Seperti saat Stiles kehilangan kunci jeep-nya, tiba-tiba Barton disana sambil menyodorkan kunci. Atau saat ia sangat menginginkan milkshake dari cafe baru di depan gedung SHIELD, tapi malas mengantri, tak lama kemudian milkshake cokelatnya sudah ada di atas meja. Atau seperti sekarang, Clint sudah duduk di kursi kerjanya, di kamarnya, sambil entah melakukan apa dengan panahnya. Melihat dia tidak sedang mengarahkan senjatanya pada Stiles, ia pikir pria itu tidak berniat membunuhnya. Toh, jika pria itu memang berniat membunuhnya, Stiles sudah tidak bangun sekarang.
"Oh, my god!" Stiles menarik selimutnya sampai ke dagu, "personal space, dude!" Clint hanya menaikkan alis sambil memperhatikannya. "Apa yang kau lakukan di kamarku?" serunya.
"Aku bertugas mengantarmu menemui agen Coulson. Kau punya waktu 30 menit untuk mandi dan ganti baju," katanya sambil memberikan seragam yang masih dibungkus plastik.
"Itu bukan seragamku."
"Ini seragam barumu."
"Dan aku memakainya karena?"
"Kau akan tahu saat kita tiba di kantor Coulson. Sekarang kau hanya punya waktu 27 menit."
Stiles segera melompat dan mengambil perlengkapan mandinya. Pipinya merona saat tersadar sedang berdiri di depan Hawkeye hanya dengan kaos kebesaran yang jatuh hingga paha dengan garis leher lebar yang membuat sisi bahunya terekspose. Ia bersyukur masih memakai kaos ini, karena biasanya ia tidur telanjang. Saat berbalik, ia menemukan tempat Clint semula berdiri sudah kosong. Stiles bernapas lega karena lukanya tidak terlihat.
Seragamnya berwarna hijau tua hampir hitam seperti seragam yang biasa dikenakan agen Meredith. Ia terkejut saat melihat Level (9) di dadanya. Level yang lebih tinggi dari Avengers karena ia tahu agen Barton Level (8). Ia menggigit bibirnya gugup. Ia merasakan firasat buruk.
Stiles membubuhkan make up tipis untuk menutupi wajah stressnya. Ia tidak mendapat mimpi indah semalam. Tapi sedikit perona disana sini dan lips gloss pink membantunya mengembalikan warna di wajahnya. Ia mendesah, menyisir rambutnya asal-asalan dengan jari sebelum menghadapi apapun di luar sana.
Clint menunggunya sambil bersedekap di depan pintu. "Kau tahu seragam ini punya level 9?"
Ia menaikkan alis.
"Kau punya level 8, dan tidak ada Spesialis yang berlevel 9."
"Congratulation?"
Stiles memutar bola matanya, "Tidak ada spesialis yang ingin mendapat level diatas 3 karena tingkat stress yang tinggi. Kenapa aku mendapat Level 9?" ia mencebik, membuat sudut bibir Clint terangkat.
Tanpa sempat bereaksi, Clint menangkup dagunya dan menyapukan ibu jarinya ke bibirnya. "Bibirmu berdarah lagi. Kau punya kebiasaan menggigitnya saat kau gugup." Sejak kapan Hawkeye memperhatikan kebiasaannya! Stiles menjilat bibirnya dan selama sedetik ia bersumpah melihat pandangan Clint menggelap. "Aku beri bocoran," kata Clint, "Agen Coulson sangat kagum dengan kemampuanmu. Dan biasanya, jika kau menarik perhatian Coulson, kau juga menarik perhatian Fury. Itu berarti ia akan mempertahankanmu di Helicarrier."
"Mengapa aku merasa mendapat perhatian dari dua orang itu malah berbahaya?" gumam Stiles.
Sedan hitam sudah menunggu mereka di depan gedung SHIELD. Agen Coulson tampak seperti terakhirkali dilihatnya; masih dengan jas hitam mahal, rambut klimis membalik-balik berkas, membacanya dengan cepat. Clit mengambil alih kemudi, sementara Stiles duduk di samping Coulson, menunggu dengan gugup. "Sir... " pria itu memberi isyarat tunggu dengan telunjuknya.
Beberapa saat kemudian, masih sambil membaca, ia berkata, "Intern Stilinski. Kau punya pengetahuan yang cukup menarik dibidang Supranatural. " Well, akhirnya Stiles tahu apa yang dibacanya. "Bisa dibilang, perkembangan divisi riset jadi sangat signifikan sejak kau masuk." Bagaimana tidak, sebagian besar pengetahuan yang ia miliki adalah pengalaman pribadi.
Akhirnya pria itu mendongak, "Mulai sekarang kau akan bekerja bersamaku sebagai penasehat urusan supranatural. SHIELD berencana membuat tim khusus untuk menangani tingginya masalah supranatural yang terjadi akhir-akhir ini." Ia menatap Stiles, "Dan karena sebagian besar misi akan melibatkan Avengers, kau dipromosikan menjadi Level 9. Sebagai agen dengan Level otoritas lebih tinggi dari pada Avengers, kuharap kau bisa memanfaatkannya untuk mengendalikan para superhero jika mereka lepas kendali."
Stiles menelan ludah. "Superhero lepas kendali, sir? Dengan segala hormat, sir. Aku hanya kumpulan tulang dan daging yang bisa remuk jika terkena palu Thor. Aku dan palu itu, sebaiknya kami berjauhan, atau laser atau anak panah," Stiles menambahkan dengan muka gelap, "Terutama Hulk." Stiles menyengir, "Walaupun tidak kupungkiri aku salah satu penggemarnya ketika dia tidak sedang menjadi makhluk hijau, besar... dan buas."
"Well, memang keberadaan The Avengers sendiri masih banyak menimbulkan pertentangan dan mereka memang orang-orang yang... berbahaya." 'Berbahaya', itu terlalu menyepelekan. "Tapi, kami sedang mengembangkan... kerjasama tim. Ku harapkan kedepannya jumlah kerusakan yang dihasilkan mereka bisa diminimalisir."
"Kau yakin ingin menempatkan aku di tim ini, sir?"
"Well, hanya ada satu orang yang menarik perhatian Avengers, atau paling tidak, menarik perhatianku dan Fury." Stiles menelan ludah. "Lagi pula, jika aku tidak melakukan ini, para Avengers akan terus menggangguku." Ia tersenyum, dengan tipe senyum 'aku tahu apa yang tidak kau ketahui, senyum', "Lagi pula, dengan latihan bersama Avengers, kemampuan bertarungmu akan meningkat secara signifikan. Aku yakin Natasha atau Clint dengan senang hati melatihmu." God... dilatih dua assassin paling berbahaya di SHIELD?! "Selamat datang di Level 9, mr Stilinski. Mulai sekarang kau dipindahkan ke Helicarrie sebagai penasehat bagian supranatural."
Oh, god... "Kalau aku boleh bertanya, kau akan membawaku kemana, sir? jika jawabannya bukan confidental, tentu saja."
Coulson tersenyum, dengan tipe senyum 'aku tahu apa yang tidak kau ketahui, senyum' lagi. "Tentu kita akan merayakan promosimu, agen Stilinski." Stiles menatapnya curiga. Tidak pernah ada yang sederhana menyangkut pria ini. Ia tidak yakin dirinya akan berakhir baik-baik saja bersama orang-orang ini, walaupun hanya sekedar pesta kecil.
Stiles sudah menebak ia tidak akan dibawa ke Helicarrier, terutama saat mereka tidak dijemput dengan Quinjet. Tapi seharusnya ia bisa menebak ia akan dibawa ke Stark Tower.
"Congratulation, Spesialis Stiles," Tony menunjuk, "atau sekarang agent Stiles Stilinski. Akhirnya kau tidak perlu selalu membenarkan panggilanmu, huh?" pria itu menyambut mereka di lobi dan mengantar mereka ke lift.
Stiles mencebik dan melirik kesal pada Coulson, "Kau bilang mau merayakan promosiku, sir? Kenapa ada orang ini disini?"
Tony menaruh tangannya di dada, "Kau melukai hatiku, Stiles. Tentu saja kami juga ingin merayakan promosimu, terlebih sekarang kita patner."
"Kami?" pintu lift terbuka dan ia melihat Avangers, termasuk Thor dan Hulk duduk bar. Natasha menghampiri mereka dengan nampan penuh makanan, diikuti dengan Dr Banner.
Tony menepuk tangannya, "Kalian belum saling bertemu, kan? Dr Banner, biar kuperkenalkan padamu, agent Stiles Stilinski. Stiles, Dr Banner."
Mereka saling berjabat tangan. "Aku sudah mendengar banyak tentangmu, agent Stilinski."
"Stiles, please. Senang bertemu dengan anda, dr. Aku sangat kagum dengan penelitian Tumbukan anti-elektron anda."
Ia tampak terkejut, "Trims."
Natasha berkata bingung, "Bukankah kau seharusnya mahasiswa Sosiologi-Antropologi?"
"Dengan minor Folklore," sahut Clit yang dibalas tatapan tajam oleh Natasha dan senyum mencurigakan dari Coulson.
"Dan Technology & Engine," sahut Tony.
"Well, tidak menghentikanku untuk membaca hal bagus," Stiles mengerdikkan bahu.
"Kenapa kau tampak lebih senang bertemu dengannya dibandingkan denganku?" Tony cemberut.
Stiles menghela napas dan memutuskan lebih baik menikmati sarapan terlambatnya. Paling tidak, disini ada ayam goreng. Ini bukan pertamakalinya mereka makan bersama; saat Naga Timur itu menghancurkan kota, Tony membawa mereka makan di Kebab langganannya. Tapi saat itu tidak ada pelanggan lain yang makan disana selain mereka. Siapa lagi selain orang gila dan para Avengers yang makan Kebab di tengah kekacauan?
Ia berharap bisa segera kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaannya. Sampai ia sadar, ia tidak lagi bekerja disana. Ia bahkan tidak yakin masih punya kantor. Ia cemas dengan data penelitiannya dan banyak artefak yang masih belum sempat ia terjemahkan. Mungkin ia bisa minta bantuan Tony untuk mengembalikan aksesnya untuk mendapatkan file-file itu. "Ukh... aku menyukai pekerjaan lamaku," gerutunya diantara tumpukan tulang ayam.
"Kalau begitu kau seharusnya tidak menunjukkan pengetahuan yang tidak diketahui Tony," sahut Natasha. "Dia tidak berhenti mengganggu Coulson sebelum pria itu memberikanmu padanya."
"Aku bukan peliharaan..." erangnya.
"Tapi kukira kau akan senang mendapatkan benda ini," Tony melompat mengambil tablet dan menekan-nekan benda itu dengan cepat sebelum menyodorkannya pada Stiles. Hologram mulai muncul saat Tab itu berada ditangannya. File-file bermunculan, "wow..." Stiles menggeser, menekan dan membaca semua teks yang ada disana, "Kau memindahkan semua database ke tempat ini?" Stiles memandangnya tidak percaya, "Bukankah ini programku?"
"Well, aku hanya menambahkannya disana-sini dan sedikit sentuhan JARVIS. Lebih efisien, fleksibel dan mini."
"Wow..." ia memandang Coulson, "Apa SHIELD tahu tentang hal ini?"
"Apa kau selalu menempatkan SHIELD teratas dalam daftarmu," gerutu Tony.
"Tentu. Mr Stark mengembangkan program ini dibawah SHIELD."
"Bagus." Tonny memutar bola matanya. Stiles kira ia tidak akan menemukan orang yang lebih ahli dibandingkan Derek dalam urusan memutar bola mata, rupanya ia salah.
Stiles mengobrol banyak tentang penelitian dr Banner dan fashion dengan Natasha (cukup mengejutkan), bahkan mereka berencana belanja bersama (Tony ikut campur dengan iming-iming kartu kreditnya—dia selalu tidak ingin ditinggalkan). Thor juga banyak bercerita soal Nagini (nama yang diberikan untuk Naga Timur) dan sarang barunya di bukit paling tinggi di Asgard. Sebuah bukit dekat laut dengan sumber daya tanpa batas, hingga Nagini bisa berburu semaunya. Stiles mengira Naga itu sudah tidak mau dekat-dekat dengan laut setelah ditenggelamkan selama 1000 tahun. Tapi Naga Timur tetaplah Naga Timur. Mereka selalu hidup dekat lautan karena itu ada masa-masa dimana mereka dipanggil Penguasa Laut.
Stiles tidak menyangka ia akan berada dalam suasana hangat macam ini lagi. Sejak lama, keluarganya hanyalah ia, ayahnya dan Scott. Tapi segalanya tidak sama tanpa ibunya. Ayahnya tidak pernah sama lagi. Ia tidak pernah benar-benar tertawa bahagia dan selalu menenggelamkan diri dalam tugas. Lalu Scott digigit oleh Peter dan Derek membentuk Pack. Tapi, disanapun ia tidak pernah benar-benar merasa damai. Kondisi Pack tidak pernah stabil untuk membuatnya merasa seperti di rumah. Mereka selalu berjuang bertahan hidup dari musuh. Apalagi semenjak Nameton melemah, menjadi magnet kekacauan.
Tentu ada saat-saat membahagiakan saat mereka bersama. Tapi lukanya terlalu dalam untuk mengingat saat membahagiakan itu. Mungkin benar jika nameton memberikan kegelapan dihatinya. Ia bukan Stiles yang sama lagi sejak ritual pengorbanan. Bah, ia bahkan tidak sama lagi jauh sebelum itu; sejak ibunya meninggal dan ia harus mengambil kendali pada usia muda. Ia sudah bukan anak-anak lagi sejak berumur 9 tahun.
Stiles tahu tentang kelemahan semenjak ia melihat ayahnya tenggelam dalam alkohol. Tapi ia dari kelemahan juga muncul keberanian. Mungkin ia orang yang paling memahami arti dari lemah. Karena itu ia menolak tawaran Peter menjadikannya Werewolf, bungkam ketika ia disiksa oleh Gerald Argent dan hanya berbekal tongkat baseball saat melawan Alpha Pack. Ia tidak pernah ingin lebih dari pada dirinya, karena ia tahu dengan kelemahannya, ia memiliki kekuatan yang tidak dimiliki orang lain.
Tetap menjadi manusia membantunya mengingat sakitnya terluka, dan itu membantunya mengingat bahwa orang yang paling lemah juga sama berharganya dengan Werewolf, superhero ataupun dewa.
Stiles memandang palu yang tergeletak di lantai di dekat kaki Thor, dan tanpa berpikir mengambilnya. Stiles sempat membaca file tentang 'Mjolnir' tentang kemampuannya merubah petir. Tiba-tiba, suasana berubah hening. Saat ia mendongak, semua orang memandang ke arahnya dengan tatapan aneh. "Apa?"
"Kau mengangkatnya," kata Natasha.
"Uh..." Stiles meletakkannya di meja. "Apa aku seharusnya tidak bisa mengangkatnya?"
"Kau orang yang layak, teman kecilku. Aku semakin menghormatimu." Uh... seorang dewa menghormatinya.
Tony berceletuk, "kau! Apa kau benar-benar manusia?"
xxxxxxx
Sekalipun ia bekerja bersama Avengers, tapi karena pekerjaannya lebih dari sekedar mengasuh mereka, Stiles punya kantor dan kamar di Helicarrier. Secara resmi ia bekerja disana, tapi waktunya lebih banyak dilakukan di Strak Tower karena pria itu tidak bisa membiarkannya sendirian. Seperti sekarang, pria itu memintanya membantunya mengawasi reaktor sementara ia sedang melakukan uji energi.
"Stiles," Clint keluar dari lift sambil membawa tas yang ditebaknya berisi perlengkapan perang. Stiles mengerjap. "Ini waktunya latihan."
"Huh, oh, benar. Tony, aku harus pergi."
"Stiles! Teganya kau mengabaikan anak kita!"
"Itu hanya reaktor, jangan bodoh," kata Stiles sambil mengabaikan Tony sama sekali dan malah berlari mengikuti Clint.
Mereka turun ke baseman, tempat latihan yang dirancang oleh Tony. Karena ia sudah memakai seragam, Stiles tidak repot-repot ganti dan segera melakukan pemanasan. Ia tidak buruk dalam pertarungan jarak dekat, walau ia tidak pernah terlalu serius belajar. Tidak ada agen yang pernah melihatnya bertarung serius.
Clint berdiri di ring dengan tubuh berototnya, memberinya isyarat untuk memulai duluan. Jadi dia ingin menguji kemampuannya? Boleh saja. Stiles mengambil kuda-kuda dan mulai menyerang. Tubuh kecilnya bergerak lincah dengan serangan pada titik-titik rawan. Ia memang sekedar Spesialis, tapi dia bukan bocah ingusan mengenai pertarungan jalanan. Clint terkejut mengetahui cara bertarungnya yang menunjukkan bahwa ia lebih banyak baku hantam dibanding Spesialis manapun. Darahnya berdesir saat tubuhnya mulai mengingat pertarungan-pertarungannya di masa lalu. Dan hantaman di dagu membuat Clint mundur beberapa langkah.
Pria itu menatapnya tak percaya, lalu tiba-tiba postur tubuhnya berubah. Stiles kini tahu ia serius, dan bila Stiles tidak serius, ia bisa mati. Ini tidak seperti pertarungan dengan sesama intern atau agen junior. Tapi Stiles sudah pernah satu lawan satu menghadapi werewolf, dan ia punya spark. Werewolf jauh lebih cepat dan berbahaya dibandingkan manusia. Jika Stiles sampai tertangkap, dalam hitungan detik cakarnya bisa langsung menancap. Ia membayangkan Clint sebagai werewolf dan mulai bergerak cepat dan mematikan untuk menghentikannya.
Ketika kaki mereka saling berkait dan separuh tubuh Stiles menindih Clint, jika pria itu adalah werewolf ini adalah saat yang tepat untuk melemparkan wolfsbane. Jadi, Stiles cuma mengepalkan tinjunya di depan muka Clint dan menyeringai. Pria itu tiba-tiba mengait lengannya dan melemparkannya ke bawah tubuhnya, menahannya dengan seluruh bobot. Bibir mereka hanya se inci, Stiles bisa merasakan hembusan napasnya. "Ok," ia menelan ludah, berdoa supaya boner-nya tidak ketahuan. Untunglah Clint tidak punya indera werewolf, jika tidak, ia sudah tidak punya kesempatan untuk berdalih lagi. "Ok," katanya lagi. "Kau menang."
Clint melompat berdiri seperti kucing dan menarik lengannya, membuat Stiles terjungkal ke depan dan jatuh menimpa dada Clint. Pria itu memeganginya, tapi tidak mendorongnya menjauh. Telapaknya menyapu sepanjang tulang belakangnya dan berhenti di bawah pinggang. "Ehem."
Seketika mereka berpisah. Tony berdiri bersedekap sambil menaikkan sebelah alis, "Itu tadi pertarungan yang sangat hebat, gantleman... dan juga sangat sensual." Ia bisa merasakan pipinya panas.
"Get lost, Stark," seru Clint. Ia beralih pada Stiles, "Tapi Stark benar. Itu tadi gaya bertarung yang mengesankan. Aku heran mengapa mereka tidak pernah menempatkanmu sebagai agen?"
"Aku juga penasaran," sahut Coulson yang tiba-tiba muncul bersama Natasha. Entah sejak kapan mereka disana.
"Uh... karena aku tidak pernah serius?"
Clint mengerjap, "Kalau aku boleh tahu, kenapa?"
"Uh... aku tidak pernah ingin jadi agen lapangan."
"Dengan potensi seperti itu sayang sekali jika tidak diasah," sahut Natasha. "Itu bukan kemampuan amatir. Kau sudah sering bertarung."
Stiles mengerdikkan bahu, "Pernah ikut club saat SMA."
"Bohong," sahut Tony. "Aku sudah memeriksa berkasmu. Di Beacon Hill tidak ada tempat latihan beladiri selain judo dan gaya bertarungmu bukan judo. Itu perkelahian jalanan."
"Baiklah... sisa masa remaja liar?"
"Itu lebih bisa diterima."
Stiles memutar bola matanya.
"Well, latihan bisa ditunda," Coulson melakukan senyum 'itu' lagi. "Kita ada kasus, agent."
