Chapter 4
#Naruto POV
Seharusnya aku tak datang ke pesta ulang tahun teme, apalagi disaat aku sedang jomblo begini. Membosankan sekali. Si teme malah asik pacaran sama Sakura-chan. Dasar teme, aku kan tamunya...benar-benar membosankan..
Aku mengingat kejadian seminggu yang lalu. Lagi-lagi aku putus dengan pacarku. Ini menambah daftar panjang mantan pacarku saat ini. Mungkin sekitar sepuluh atau sebelas? Aku sudah tidak ingat. Semuanya berakhir dengan cara yang sama, mereka meninggalkanku. Alasannya? 'Aku merasa tak ada di hatimu Naruto...' Itu sih kata mereka, memangnya mereka bisa tahu apa yang aku rasakan?
Cih, mengingatnya membuat aku bertambah kesal.
Aku mengedarkan pandangan mataku ke sekitar pesta, mencoba mencari seseorang yang ku kenali...
Oke oke...aku bohong. Setengah dari tamu pesta yang seluruhnya remaja ini berisi teman-teman sekolah teme, dan tentu saja temanku juga. Teme dan aku selalu satu sekolah, entah itu anugrah atau musibah bagiku, tapi kata teme sih baginya itu musibah. Dasar teme menyebalkan.
Yang aku cari sebenarnya adalah Hinata, Hinata Hyuga...
Seharusnya ia datang. Aku sudah memastikan kalau Hinata berada dalam daftar undangan teme. Dan saat ini aku belum melihatnya. Ya...wajar sih, sebab aula yang menjadi tempat teme memang luar biasa besar, Uchiha itu keluarga kaya raya sih.
Aku masih memperhatikan warna rambut para undangan itu. Tapi yang ku temukan malah rambut ayam teme yang warnanya hampir sama. Huh, sial...
Dengan malas aku menghampiri teme, mencoba melawan kebosananku.
Teme menaikan alisnya ketika aku mendekat. Di sebelahnya, terlihat Sakura sedang menggandeng mesra lengan kekasihnya itu.
"Aku bosan teme...apa tidak ada ramen?" tanyaku dengan wajah memelas.
"Tidak." Ujar empunya pesta itu singkat.
"Kau jahat teme..." rajukku.
"Hn"
Cih, dasar, dia Cuma menanggapiku segitu saja.
"Hihihi..." Sakura cekikikan pelan. "Cari saja pacar baru Naruto...disini kan ramai. Atau mungkin...kau memang mencari seseorang yang ingin kau jadikan pacar?" goda Sakura.
Mendengar kata-kata Sakura, yang terbayang di pikiranku malah Hinata. Aku segera menepis bayangan itu. "Apa maksudmu Sakura-chan...!" bantahku.
"Hn, wajahmu memerah dobe."
"Ah...sial kau teme." Bisa-bisanya kau ikut meledekku.
"Hm..tunggu sebentar, biar aku tebak." Kata sakura tersenyum jenaka. "Yang ingin kau jadikan pacar baru...hm...Ino Yamanaka!" lanjut sakura sambil menahan tawa.
Yah, bagus. Mereka berdua mempermainkanku. Jelas-jelas Ino membenciku sejak SMP. Dan mereka tahu pasti aku lebih tertarik pada sahabatnya yang lebih, jauh lebih manis daripada Ino.
"Hm...bukan ya? Ten-ten kalau begitu?" kata Sakura yang kembali pura-pura menebak.
Sial, Sakura-chan menyebalkan. Sama dengan teme.
Sakura tertawa geli, mungkin karena melihat ekspresiku. "Oke-oke...aku juga belum lihat Hinata. Jangan memasang wajah seperti itu naruto." Katanya masih sedikit tertawa.
"Aku tidak mencari Hinata!" bantahku dengan wajah memanas.
"hn, terserah. Ayo Sakura." Kata Sasuke sambil membimbing Sakura menjauh. Sepertinya dia tidak suka Sakura berbicara lama-lama dengan Naruto. Ckck...dasar protektif...
Tiba-tiba seseorang menabrak punggungku.
"Ups...maaf." suara wanita ini seperti ku kenal.
"Jangan menyeruduk begitu Ino, kau bukan banteng." Kata suara lain yang tidak jauh. Suara laki-laki.
Deg
Ah sial, kenapa aku harus bertemu dengan si pirang galak ini.
"Aku tidak sengaja Sai." Kata suara yang aku yakini memang suara ino.
Saat aku berbalik, aku melihat Ino dan seorang laki-laki pucat yang dulu kulihat bersama Hinata di kafe. Kenapa laki-laki ini bersama ino? Bukankah dia kekasih Hinata?
Pemuda pucat itu melihat kearahku dan mengenaliku.
"Ah...Naruto kalau tidak salah?" tanya pemuda itu sambil tersenyum, senyum tak wajar yang jelas dibuat-buat.
Pemuda ini yang pertama kali melihatku karena ia berhadapan denganku, sementara Ino membelakangiku.
"Ah, ya." Sahutku seadanya. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Pemuda itu masih tersenyum. Kemudian berkata, "Aku kekasih Ino, senang bertemu denganmu."
Aku tidak yakin ia benar-benar senang, senyumnya mencurigakan. Tunggu dulu... kekasih Ino. Jadi bukan Hinata?
"Bukankah kau kekasih Hinata?" tanpa sadar aku menanyakan hal dalam pikiranku.
"Aa...tentu saja bukan." Sahut si pemuda senyum palsu itu.
Ino tiba-tiba berbalik. "Aku tak akan membiarkanmu mendekatinya. Apalagi menjadikannya kekasihmu, tidak akan!" kata Ino tegas. Ia memandangku dengan pandangan tak suka.
Ah...pirang cerewet. Memangnya Hinata mau denganku? Huh, dia pasti membenciku kan?
Tunggu dulu, kalau ino bicara begitu, bukankah artinya, saat ini Hinata tidak punya kekasih? Eh, lalu? Yang waktu itu..jangan-jangan aku juga salah paham.
Aku mengacak-acak rambutku kesal.
Ahhh...apa yang ku pikirkan sih.
"Aku tidak perduli siapapun yang akan kau jadikan target kali ini, tapi aku tak akan membiarkan kau mendekati Hinata. Kau dengar? Tidak akan pernah aku biarkan!" aku menutup kedua telingaku. Ya ampun, suara Ino itu membuat telingaku sakit saja.
"Sudahlah Ino... jangan meneriaki orang lain tepat di telinganya begitu." Kata pemuda berambut gelap itu memperingatkan.
Ino menyilangkan kedua tangannya di depan dada tanda dia tidak setuju. "Jangan membelanya Sai-kun!" Ino mebuang wajahnya dariku dan pemuda itu. Dasar nona manja. Pantas saja Shikamaru tak sanggup menghadapinya. Mengerikan.
"Ah, itu tenten dan Neji!" pekik Ino senang.
Haah...gadis ini, ia langsung melupakanku. Padahal tadi baru saja ia meneriakiku. Dasar gadis berisik. Beda sekali dengan sahabatnya Hinata yang lembut. Dia bar-bar.
Lihat saja cara dia berlari ke arah Tenten. Ya ampun...
Lho, bukankah itu pemuda yang bersama Hinata di Foodcourt waktu itu? Jangan-jangan aku memang salah sangka. Apa Hinata masih menyukaiku.
Ah...aku ini apa-apaan sih. Dia itu pasti benci sekali padaku. Bisa-bisanya aku memerah karena berpikir yang aneh-aneh. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku agar bisa berpikir jernih. Ah...sebaiknya aku ke taman saja untuk membersihkan pikiranku.
Aku melangkahkan kakiku ke arah pintu keluar. Di luar terlihat sepi, setidaknya aku tak akan iri dengan para pasangan muda yang ada di dalam kan?
Dan langkah kakiku terpaku. Di hadapanku tersaji pasangan yang aku kenali. Keduanya, ya, aku mengenal keduanya. Gaara, dari Suna High School dan Hyuga Hinata, orang yang sedari tadi menyita pikiranku. Otakku kembali tidak bisa diajak berpikir.
Mereka, sepasang kekasih sedang berciuman bangku taman di bawah pohon Sakura yang sedang gugur. Berciuman dengan mesra di depan mataku.
Krakk
Sesuatu menembus tubuhku dan menghancurkan hatiku berkeping-keping. Dan saat ini aku baru menyadari...
Ternyata aku mencintai Hinata Hyuga hingga detik ini
_Pesta_
Haiiiiii...aku baru saja buka akun ffn hari ini, dan dua jam yang lalu aku baru menyadari ternyata fic ini sudah aku tinggalkan berbulan-bulan. Parah banget! Dan akhirnya malam-malam begini aku bikin ceritanya. Aku rasa terlalu pendek sih. Tapi ini udah cukup menggambarkan patah hatinya Naruto kan? Huh...lagian sih Naruto bodoh. Ya sudah deh, maaf kalau updatenya lama.
See u next time...
Himenohana,
27 April 2014
