Pangeran Petaka

Chapter 4 : OUR RED EYES

Author : Aisyah Alexandrovna Pushkina

Disclaimer : Pengennya sih Hunter x Hunter punya saya :p *kidding*

Cerita sebelumnya : Kurapika akhirnya mengetahui kalau Yumi juga seorang survivor suku Kuruta. Dan Yumi mulai menjelaskan tentang hal yang selama ini Kurapika selalu ingin ketahui. Tentang bola mata merahnya…

Selamat Membaca

"Kenapa mereka membenci bayi suku Kuruta yang terlahir dengan bola mata berwarna merah?" tanya Kurapika penasaran.

"Karena kejadian ini…" Yumi menunjukkan kertas usang lainnya.

Kurapika memperhatikan dengan seksama

"Saat dia lahir pada waktu matahari terbenam, ibunya meninggal…"

"Lalu?!" tanya Kurapika.

"Saat dia berumur 2 tahun, ayahnya meninggal demi menyelamatkannya dari serangan serigala. Tapi kejadian itu terus berulang, seperti dengan sengaja dia mendekati serigala dan setiap orang yang menyelamatkannya harus meregang nyawa, orang-orang pun percaya anak ini membenci orang tuanya sehingga selalu melakukan hal yang sama-

Yumi membalik halaman

"20 tahun kemudian, seorang bayi terlahir dengan warna mata merah. Saat dewasa ia menikah dengan seorang pendatang. Dan ternyata suaminya merupakan pembunuh berdarah dingin. Terjadi perang cukup besar di sini. Dengan susah payah suku Kuruta yang lainnya meruntuhkan kekuatan orang ini. Tapi dengan kemampuannya yang mengerikan itu ia hanya tunduk pada istrinya, meski dia sangat kuat dan kejam. Ia tidak berani melukai istrinya, itu di karenakan ia seperti terhipnotis saat melihat mata merah menyala istrinya dan akan melakukan yang istrinya perintahkan…"

"Tunggu, aku tak punya kemampuan menghipnotis semacam itu saat mata merah menyalaku muncul" sahut Kurapika kesal.

"Ya, aku juga tidak bisa. Sepertinya wanita ini punya kemampuan tersendiri dan menggunakan mata merah menyalanya sebagai alibi. Entah apa motifnya membantai sukunya sendiri. Mulailah suku Kuruta LEBIH membenci bayi yang terlahir dengan warna mata merah-

"Keyakinan mereka akan bayi yang terlahir dengan warna mata merah akan membawa petaka, semakin menguat saat seorang bayi lahir 150 tahun setelah pembantaiaan oleh sepasang suami istri tersebut, saat itu terjadi gempa hebat, menewaskan banyak orang, seluruh keluarganya meninggal, kecuali dirinya. Karena takut aka nada bencana lagi, bayi tiu di bunuh. Saat matahari akan terbenam dan esoknya langit kembali berwarna merah. Mengartikan telah terjadi pertumpahan darah semalam."

Kurapika merinding mendengar penjelasan Yumi kali ini.

"Setelah itu, 300 tahun kemudian barulah terlahir lagi bayi suku Kuruta dengan warna mata merah, itu adalah kau!"

Bola mata Kurapika yang semula merah kini menjadi merah menyala-nyala sekarang.

"Suku Kuruta lain percaya bahwa bayi yang terlahir dengan warna mata merah, membawa kebencian. Seperti ia tidak berharap di lahirkan, lalu ia membenci kedua orang tuanya dan akan mencelakai orang-orang di sekitarnya…"

Jantung Kurapika berdegup kencang, Yumi menatap Kurapika. Tiba-tiba saja ia berdiri dan malah menampar gadis itu hingga terjatuh… Yumi hanya diam dan kembali menatap Kurapika, kali ini matanya berubah menjadi merah menyala seperti Kurapika.

"jadi kau menuduhku juga?! KAU PIKIR AKU PENYEBAB SEMUA INI?! PENYEBAB HANCURNYA SUKU KURUTA" kata Kurapika kasar, amarah, emosi dan ketakutan Kurapika akhirnya muncul juga.

Yumi mencoba tenang. Ia memfokuskan pandangan pada tulisan-tulisan di kertas kuno yang sedari tadi ia pegang…

"Pikiranmu sempit, kau tidak mengizinkan prasangka baik terlintas di otakmu… Aku sama sekali tidak menuduhmu, aku, ibuku, ayahku. Kami percaya bahwa hal-hal semacam itu hanyalah kebetulan saja. Namun karena orang-orang terdahulu masih percaya takhayul, karena ilmu pengetahuan belum meluas. Akhirnya sejarah-sejarah tersebut malah di patenkan! Di percayai terus menerus. Tidakkah kau berpikir seperti itu?!" tanya Yumi, suaranya melemah.

Yumi bangkit… Berjalan mendekati Kurapika dan menatap tajam cowok itu.

"Ibuku bukan suku Kuruta… Tapi dia begitu menyukai segala sesuatu tentang suku Kuruta dan akhirnya menikah dengan ayahku… Akupun terlahir di saat yang sama sepertimu, maksudku, memang berbeda 1 tahun. Tapi saat itu matahari terbenam dan langit-

"Berwarna merah" sambung Kurapika.

"Tepat sekali! Nha, kau tenang dulu… Cerita belum berakhir…" kata Yumi dengan nada sedikit ceria.

Yumi mencoba mencairkan ketegangan… Mereka pun duduk kembali…

"Saat aku lahir, ibuku mendengar Raja dan Ratu berniat membunuhmu. Karena ibu takut keberadaanku di ketahui. Ibuku pergi sembunyi-sembunyi dan menitipkanmu pada ayahku. Beliau menjagamu dengan baik, sehingga kau selamat dari serangan Gen Ei Ryodan. Semua itu mereka lakukan karena mereka yakin. Kejadian semacam ini bukanlah salah bayi-bayi bermata merah manapun…"

Kurapika menunduk dan diam, nuraninya terusik…

"Keyakinan mereka terbukti kan? Buktinya, apa kau pernah membenci orang-orang di sekitarmu selama ini? Kelahiranku, apakah membunuh seseorang? Dan kalau kau membenci orang tuamu dan suku Kuruta lain yang mengasingkanmu… Kenapa kau malah membalas dendam pada Gen Ei Ryodan alih-alih membiarkan mereka begitu saja karena telah membunuh orang-orang yang membencimu. Tapi kau malah balas dendam pada mereka kan. Iya kan?" kata Yumi.

Kurapika menghela napas panjang.

"Lalu, dimana beliau? Ibumu? Dan orang yang selama ini kau panggil ayah itu siapa?"

Yumi tertawa kecil

"Beliau pamanku, adik dari ibuku ^o^ Kalau soal ibuku…" suara Yumi melemah lagi.

Kurapika menatapnya, Yumi tertunduk, ternyata ia menangis sedikit.

"Yaaah… kenapa menangis?" tanya Kurapika khawatir, lalu mengusap air mata sahabatnya.

"Sebetulnya, kau sedikit membuatku iri…" jawab Yumi lalu tersenyum menatap Kurapika.

"Iri….?" tanya Kurapika heran.

"Ya, soalnya ibuku benar-benar menyayangimu. Saat ini dia sedang mencari, sebelum pergi ia menitipkan semua ini padaku dan menitipkanmu! Makanya saat kau datang, aku begitu senang. Tanpa melihat warna mata aslimu pun aku yakin kaulah anak lelaki yang ibuku sering ceritakan selama ini. Meski aku bingung mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semua ini padamu."

ujar Yumi.

"Tunggu… mencariku kamu bilang?" tanya Kurapika makin heran.

"Iya, dia mencarimu… Sudah 4 tahun belakangan ini. Saat kau datang setahun yang lalu aku mengiriminya surat. Dia senang mendengar kedatanganmu, tapi ia juga menikmati profesinya sebagai Hunter jadi ia tetap berkelana megumpulkan segala hal yang tersisa mengenai suku Kuruta."

Kurapika tersenyum sekarang, matanya kembali ke biru, begitupula Yumi, matanya kembali berwarna ungu.

"Ibumu pasti menyayangimu juga Yumi…" kata Kurapika mencubit pipi Yumi.

"Itu pasti! ha ha ha ha" jawab Yumi semangat lalu berdiri di tempat tidurnya.

Eh dia pun oleng dan terjatuh… Kurapika tertawa.

"Ahhh! Nyebelin! bukannya nolongin!"

"Hahahaha… pengen sih tapi… pffttt hahahahahahaha…"

Kurapika tertawa lepas, Yumi memukulnya ringan. Tiba-tiba sesuatu jatuh dari saku celana Yumi. Kurapika memungut benda tersebut dan menatap Yumi curiga.

"Milik ibumu? Kenapa dia pergi tanpa membawa kartu lisensi hunternya?" tanya Kurapika.

Yumi merebut kartu tersebut, lalu menyimpannya di laci meja belajar.

"Ini punyaku… bweee :p" ejek Yumi.

"Kau seorang Hunter?!"

"Ya… aku satu tahun di atas mu kalau untuk soal Hunter… bwee :p kekuatan nen ku juga Gugenka dan Tokuhitsu. Tapi bukan pengguna rantai sepertimu…" jawab Yumi.

"Tuh kan, kau menyimpan rahasian lain! Jangan-jangan ada lagi yang kau sembunyikan curiga! Padahal aku cukup sering bercerita padamu. Bahkan hanya kamu saja yang tau rahasia-rahasiaku. Paling beberapanya adalah Gon dan Killua yang tau!" ucap Kurapika jengkel…

"Haduh-haduh iya deh… Kau sudah tau 2 rahasia kan? Memang ada sih, 2 lagi ^0^" ujar Yumi iseng.

"Ayo beri tau aku bodoh!" kata Kurapika.

"Ya… ya… tapi sebaiknya, yang ini kau baca sendiri ya." kata Yumi senang.

"Ha?" tanya Kurapika bingung.

Yumi malah mendorong Kurapika keluar dari apartemennya…

"Hey… tuh kan kau ini, jangan dorong-dorong begitu dong!"

Yumi hanya tertawa, lalu menyerahkan secarik kertas yang dilipat pada Kurapika.

"baca sendiri! Bweee! :p" kata Yumi jail, lalu menutup pintunya.

"A…" Kurapika tak sempat mengucapkan 'apa ini…?'

Dia malah tersenyum akhirnya, lalu beranjak kembali ke apartemennya.

"Dasar Yumi…" gumamnya senang.

Saat sampai di kamar, setelah mengunci pintu. Kurapika duduk di depan meja belajarnya, menyalakan lampu belajar. Di luar hujan masih berlangsung. Ia mengeluarkan kertas tadi dari saku celananya…

Diam…

to be continued

Yuhuuuu 1 chapter lagi nihhh…

Baca yaaa