_^_^_^_^_^_^_The City of Destruction_^_^_^_^_^_^_
.
.
.
Genre : Action, Sci-Fi, Comedy, Supernatural, Superpower.
Disclaimer : VOCALOID/UTAULOID/FANLOID's Production that's involved in this FanFic.
Chapter 4 : Time To Save The World.
.
.
KREK KREK.
.
BRUK BRUK BRUK
"Argh. Ledakan yang luar biasa," gumamku setelah keluar dari runtuhan bangunan.
Kejadian yang kutakuti ternyata datang secepat ini. Kalau perkiraanku benar, ini ledakan dari Line Darkness yang menggunakan Golden Atomic. Kelihatannya aku beruntung masih selamat dari ledakan itu.
T-Tunggu, aku juga harus mencari yang lain.
WUUZZZ
"Sial. Baru sadar sudah dihadapi oleh ledakan nuklir," kesal Len yang muncul baru saja dibelakangku.
"Syukurlah kamu selamat Len. Ayo kita cari Meiko-senpai." Tanpa menunggu jawaban dari Len, aku sudah memulai pencarian menggunakan sensor anginku.
.
.
Suara ini...
.
.
Gawat.
"LEN MENUNDUK," teriakku ke Len tiba-tiba. Akibatnya Len tidak memperhatikanku.
BOOOOOMMM
"Whoa.. Apa ya- ARGH." Len kebingungan karena suara ledakan di sekitar reruntuhan lalu seketika saja beberapa reruntuhan itu mengenai Len sampai terpental lumayan jauh.
"Sialan. Reruntuhan ini mengotori bajuku. Padahal baru aku bersihkan tadi pagi," kesal seseorang dari pusat ledakan tadi.
Suara itu..
"M-Meiko-senpai, kamu selamat?"
"Tentu saja aku selamat. Ledakan tadi tidak apa-apanya dibandingkan wine yang aku minum setiap hari."
Sama sekali tidak ada hubungannya. Tapi sudahlah. Yang terpenting mereka bertiga selamat.
Dari yang kulihat saat ini, berbagai gedung berubah menjadi bongkahan perusak pemandangan kota. Bagaimanapun itu, kekuatan esper peringkat satu itu sangat membahayakan. Dari sini pun aku tidak merasakan tanda-tanda darinya. Yang kurasakan hanya penduduk sekitar dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Tapi tidak hanya penduduk, para polisi juga terkena dampaknya.
Kalau begitu yang harus kami lakukan adalah..
"Ayo kita tangkap para teroris itu," seru Meiko-senpai dengan kepalan yang sangat kuat.
"T-T-Tunggu, melawan para Rank S itu?" Tanyaku sangat tidak percaya kalau akan keluar perkataan itu dari Meiko-senpai.
"Tentu saja. Kita rebut kembali Golden Atomic itu menangkap teroris itu."
Bukannya yang benar itu menangkap dulu lalu mendapatkan Golden Atomic-nya? Tunggu, bukan itu masalahnya. Tapi yang sebenarnya bermasalah adalah kenapa Meiko-senpai mau berurusan dengan monster itu? Aku tahu kalau NOIR itu ada untuk mengadili esper yang bertindak liar. Tapi bukankah warga sekitar itu lebih penting? Aku yakin Len pasti-
"Ayo langsung saja. Aku bosan jadi penonton saja," seru Len terlihat sangat bersemangat dengan rencana Meiko-senpai.
EH!? Len juga ikut-ikutan? Bagaimana bisa, Len yang biasanya tidak mau melibatkan dirinya ke kumpulan malaikat maut menjadi seberani tikus menyeberangi kucing? Kini aku yakin kalau Meiko-senpai sedang mabuk berat dan Len sedang kehilangan akal sehatnya karena terbentur oleh reruntuhan tadi.
"T-T-Teman-teman. A-Ayo kita mencari korban yang selamat dulu," kataku pelan dan lemah lembut dengan maksud agar mereka paham dengan apa yang aku katakan.
.
.
.
Tidak ada respon? Apa mereka tidak mendengarkanku? Akan aku ulangi lagi.
"Ayo semuanya, kita ca-"
"Yosh. Sekarang kita menuju ke markas mereka. Len persiapkan teleportasinya," tiba-tiba saja semangat api berkobar di dalam diri Meiko-senpai dan seolah-olah ia tidak memperhatikan apa yang aku katakan barusan.
"Baiklah," balas Len langsung menyiapkan kuda-kudanya.
Aku... tidak di perhatikan... lagi?
"Aha-Ahaha, Kalau begitu, aku pergi menyelamatkan—," sebelum aku meninggalkan mereka, Meiko-senpai menahanku pergi dengan tangan supernya.
"Gumi, kamu ikut bersama kami," Meiko-senpai menarikku secara paksa meski aku sendiri tidak ingin ikut.
"WAAAHHH HENTIKAN. AKU MASIH TIDAK MAU MATI!" Teriakku dengan ayunan tangan dan kaki ke segala arah.
.
.
.
.
.
BOOOOMMM
"Tak kusangka dia lebih kuat dari sebelumnya," kata Meiko-senpai sembari melawan musuhnya.
Sudah tiga puluh menit sejak kami berangkat ke markas musuh. Sudah kuduga kalau kami pasti akan melawan para Rank S itu. Dan tidak disangka lagi, musuh pertama kami adalah adik dari Meiko-senpai, yaitu Esper Rank S ke sembilan, Utatane Piko.
Sejak tadi, yang ia lakukan adalah merubah suasana pertarungan dengan leluasa. Dari iklim kutub utara menjadi ke gurun sahara. Terkadang juga suasana tengah hutan menjadi tengah perang dunia ke dua. Pernah juga merubah ke tempat para remaja berpacaran. Dan itu sangat cocok untuk membuat Meiko-senpai tidak bisa fokus karena ya begitulah.
"Kalian lumayan juga. Tak kusangka aku bisa merasakan kesulitan," kata lelaki berambut silver dengan senyum sinisnya.
Sial. Sejak tadi kami tidak bisa melukainya sedikitpun. Bagaimana mau melukanya kalau tiap kali menyerang, dia selalu saja merubah alur tempat yang sangat tidak ingin kami lihat. Seperti di dalam perut gunung berapi atau di tengah samudra. Sebagian besar kekuatan Meiko-senpai tidak berguna di sana. Kalaupun aku menggunakan kekuatanku, hasilnya tidak seberapa juga. Tapi terkadang juga serangan pedang anginku bisa terasa. Ya.. walau bajunya saja.
"Baiklah. Kita gunakan rencana B," seru Meiko-senpai berlari ke arahku.
"B-Baiklah," balasku agak gugup.
Rencana B yang dimaksudkan Meiko-senpai adalah serangan kombinasi. Serangan anginku dan efek ledakan Meiko-senpai akan menjadi satu. Jadi Meiko-senpai tidak perlu menyentuh musuh dulu agar bisa meledakannya.
"Rasakan ini Piko-san, Invisible Bomb," seruku dengan tebasan tangan diikuti dengan angin kencang yang keluar setelahnya.
Angin tebasanku bergerak sangat cepat ke arah Piko. Sesampainya di sana, ledakan besar pun terjadi diikuti dengan hembusan angin yang kencang. Asap hitam pun mengitarinya. Pandanganku terhalang olehnya. Harapan berhasil tidaknya serangan tadi terus saja mengitari kepala kami.
"Apa berhasil?" Gumamku dengan posisi bersiap menyerang lagi.
"Serangan yang bagus. Tapi sayang sekali itu tidak berhasil." Seketika setelah asap ledakan itu menghilang, sebuah bungker ukuran sedang terlihat jelas melindungi Piko.
Sial. Ternyata dia punya tameng cadangan yang lebih kuat dari sebelumnya. Pantas saja dia tidak terlalu serius ketika kami menyerang terus. Kalau dia baru serius saat ini, kemungkinan pertahanan yang ia gunakan sekuat tembok cina. Tapi hal itu tidak mungkin karena dataran di sana tidak bisa diprediksi.
"Gunakan serangan beruntun," seru Meiko-senpai langsung bergerak maju.
Kelihatannya serangan kolaborasi ini tidak merubah suasana. Tetap tidak bisa menyentuh sehelaipun rambutnya. Aba-aba Meiko-senpai barusan adalah untuk menyerang secara acak. Tujuannya ya untuk mencari kelemahannya saja. Meski tidak aku jelaskan, pasti akan paham semua.
Aku sadar kalau serangan acak ini sama sekali tidak bisa menggores kulit Piko sedikitpun. Tapi tetap saja Meiko-senpai ingin menggunakannya untuk mencari kelemahannya. Berkali-kali kami menyerang, berkali-kali juga Piko menggunakan trik mengganti latar pertarungan untuk menghindari serangan itu.
Jarang sekali Piko menyerang kami karena di samping fisiknya yang lemah, dimensi untuk unsur menyerang juga sedikit. Rata-rata ia menyerang alam seperti tiba-tiba Meiko-senpai menabrak tembok, Len tercemplung ke dalam pasir hisap, atau mungkin aku terikat oleh tumbuhan parasit.
Seketika aku mengetahui sesuatu yang menjanggal. Kenapa Piko memakai bungker hanya sewaktu kami menggunakan serangan kolaborasi? Dari semua serangan tak berguna mungkin, tidak ada tanda-tanda bungker yang mau keluar. Kalau itu karena serangan kami tidak mematikan mungkin tidak begitu benar.
Contohnya serangan pedang anginku itu bisa memotong tangannya dengan mudah. Tapi Piko justru menghalau daripada menggunakan bungker. Sebaiknya aku coba dulu daripada dipikirkan terus.
"Meiko-senpai, pinjamkan kekuatanmu!" Seruku dengan larian kecil menuju ke belakangnya Piko.
Tanpa mengatakan sesuatu, Meiko-senpai sudah siap untuk menyalurkan kekuatannya. Kekuatan yang disalurkan Meiko-senpai sebenarnya bisa bertahan selama satu menit. Tapi kalau di sini, satu menit itu sangat cepat. Bahkan aku sendiri lupa kalau sudah bertarung sampai satu jam lebih.
WAH, aku lupa. Seharusnya aku membicarakan seranganku, bukan curhat masalah waktu. Argh, lupakan saja. Aku akan kembali ke duniaku lagi.
"Rasakan, Invisible Bomb!"
BOOOOMMMM
"Sepertinya kalian tidak belajar banyak ya," kata Piko di dalam bungker.
Sudah kuduga. Ternyata bungker itu digunakan hanya untuk menahan serangan berskala besar dengan area yang luas saja. Kalau begitu, cara menangnya adalah menghilangkan bungker itu. Dan aku tahu siapa orang yang akan melakukan itu.
"Len, aku punya rencana!" Teriakku memanggil Len yang sedari tadi cuma lari tidak jelas mengelilingi Piko.
Sesampainya Len di sini, aku langsung memberikan penjelasan mengenai rencanaku sendiri. Tentu saja tidak akan aku jelaskan kepada kalian karena akan merusak kejutan.
"Kita mulai. Invisible Bomb!"
BOOOOOMMM
"Sudah kukatakan. Percuma saja," kata Piko di dalam asap tebal bekas ledakan.
Hee~~ Benarkah?
"Jangan senang dulu," seru Len datang dari asap tebal tepat di depan Piko.
Benar sekali. Rencanaku ini adalah pelenyapan bungker Piko. Satu-satunya yang mudah dilakukan untuk melenyapkan pelindung baja itu adalah memindahkannya ke tempat lain menggunakan kekuatan Len.
BUUZZZZ
Setelah bungker itu hilang, maka langkah selanjutnya adalah...
"Rasakan ledakanku, Piko!" Teriak Meiko-senpai tepat dari belakang Piko.
Karena suara Meiko-senpai yang terlalu keras, Piko berhasil menghindarinya dengan melompat ke atas keluar dari asap tebal itu. Namun itu sia-sia saja karena aku sudah menembakan peluru ledakanku ke arahnya tadi.
"Bye-Bye, Piko-kun," ucapku sambil melambaikan tangan kananku ditambah dengan senyuman manisku.
BOOOOOMMM
Ledakan terjadi lumayan dasyat. Piko keluar dari ledakan itu dengan kondisi tubuhnya hangus. Keadaannya juga menandakan dirinya pingsan. Dengan ini kami bisa melanjutkan perjalanan menuju Golden Atomic.
"Baiklah semuanya, sekarang kita harus melanjutkan perjalanan," seru Meiko-senpai dengan bahagianya berjalan ke lorong gelap di depanku.
Memang begitu seharusnya. Lebih baik kami bergegas sebelum-
BOOOOOOOOMMMMM
"Argh. Apa yang-,"
Tidak mungkin. Meiko-senpai terkena ledakan? Tapi dari siapa?
"Hehehe~~ Akhirnya aku dapat giliran bertarung," kata gadis muncul dari belakang ledakan dengan api, air, tanah, angin dan cahaya yang mengelilingi badannya.
"S Rank 8... Perfect Elemental."
.
- Bersambung -
.
Tapi kuharap kalian suka ^^
Silahkan Kritik, Komentar dan Sarannya ^^v
