WARNING! flashback dalam flashback, Violence, Rape

Otak mesum saya sedang bekerja ^q^ /ditendang

Btw, saya masih open vote untuk prompt fic aokise berikutnya~~

Bisa dicek di fic saya 'BLOOD OF INNOCENCE' chapter 12. Letaknya di paling bawah (diatas kolom balasan review)

jika ada waktu luang, silahkan vote^^

selamat membaca

Kelopak matanya terbuka perlahan, menampilkan dua manik sewarna madu yang berada dibaliknya.

Tekstur lembut dari seprai dan empuk dari ranjang membuatnya nyaman. Aroma wewangian aroma terapi dari pengharum ruangan memenuhi indra penciuman. Membuat tubuhnya rileks dan rasanya ingin tidur lebih lama lagi.

Tapi—

"Ini dimana?!" Kise bangun seketika. Ia bangkit terduduk di kasur. Kedua matanya mengamati sekitar ruangan yang terasa asing baginya.

Ruangan serba putih tanpa jendela dan hanya memiliki satu pintu putih bercorak mewah. Ranjang yang ditempatinya berukuran king size.

Ada sebuah lemari putih yang dipasang menempel pada tembok. Ukurannya besar dan sangat memiliki ukiran-ukiran ornamen yang rumit. Ada juga televisi flat yang dipasang menempel tembok dan diletakan di seberang ranjangnya. Televisi itu dalam kondisi mati.

Tidak ada ventilasi. Ruangan ini menggunakan AC.

Kise melihat diri sendiri. Pakaian yang dikenakannya juga berganti. Sebuah kemeja putih polos yang agak kebesaran dan menutupi sampai pahanya. Ia tidak memakai celana—tapi setidaknya pakaian dalamnya masih ada.

Kedua tangan dan kaki terikat oleh borgol yang rantainya dipasang menyatu dengan kasur. Tubuhnya tidak bisa bergerak bebas.

Panik tiba-tiba menguasainya.

Sungguh, ini di mana?!

Kise mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Kepalanya agak pusing.

Seingatku, aku sedang menunggu Aominecchi di lapangan basket. Lalu...

.

.

.

.

.

MY DARLING

Chapter 4 : Welcome to Your New Home

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Story © Murrue Mioria

Rating: M

Genre: Romance, Drama, Mystery, Suspense

WARNING! Klise, TeikouAU!, OOC, Boyxboy, Shounen-ai, yaoi, Typo, kaku, gak jelas, terlalu banyak percakapan

Don't like, don't read!

Pairing: Aokise

.

.

.

.

CKREK

Langkah kaki mendekat dari arah belakang.

Pemuda berambut pirang itu menoleh. Bola basket berada di genggaman.

Bibirnya tersenyum lebar, menyangka bahwa si pendatang adalah kekasihnya—Aomine. Namun dugaannya salah.

Senyumannya hilang seketika. Tergantikan dengan kerutan penuh tanya dikeningnya.

"... Kau siapa?" tanyanya polos pada si pendatang.

Dia seorang pria dewasa sekitar 40 tahun keatas—seperti pria seusia ayahnya. Ditangannya ada sebuah kamera dengan lensa yang kelihatannya sangat mahal—kameraman di agensi juga memiliki lensa kamera serupa. Rambutnya hitam agak ikal dan mengenakan setelan kemeja dan jas hitam.

CKREK

Lampu flash kamera menyilaukan matanya, "Hentikan itu, paman! Jangan ambil fotoku tanpa izin!"

Pria itu menurunkan kameranya, "Ah, maaf! Barusan kau terlihat sangat menggemaskan. Sampai-sampai aku tak bisa menahan diri untuk mengambil fotomu," ucap pria itu sambil menggaruk punggung lehernya.

"Sebenarnya paman ini siapa?" Tanya Kise sekali lagi.

"Perkenalkan, namaku Harasawa Katsunori." Pria itu mengulurkan tangan untuk berjabat, "Aku tadi hanya kebetulan lewat. Hobiku fotografi dan aku melihatmu sedang memiliki pose yang bagus. Jadi aku mengambil fotomu. Aku benar-benar minta maaf, jika itu sangat mengganggumu."

"Ah tidak apa. Namaku Kise Ryouta."

Jujur saja, sebenarnya Kise memang sedikit merasa terganggu. Suara kameranya mengingatkannya dengan stalker yang biasa mengikutinya. Tapi pria yang bernama Harasawa ini sepertinya bukan stalker yang sempat ia duga.

Sepertinya...

"Kise Ryouta?! Model remaja yang terkanal itu? Pantas saja aku merasa seperti tak asing melihat wajahmu. Sangat berbeda dengan yang ada di televisi dan majalah. Senyummu lebih alami jika dilihat secara langsung." Harasawa tersenyum simpul.

Kise balas tersenyum, lalu menengok sekitar. Mencari-cari sosok pemuda tan yang dinanti. Namun, Aomine belum tampak dimanapun. Apa dia benar-benar sudah lupa? Kise rasanya ingin menangis.

"Kenapa kau begitu sedih?"

Kise mengangkat kepala. Ia hampir lupa kalau Harasawa masih ada di hadapannya.

"Tersenyumlah..." Harasawa tersenyum tipis. Kamera terangkat untuk mengambil foto objek di depannya—Kise.

Dan saat itu Kise batal menangis dan memasang senyum selebar mungkin.

CKREK

.

.

"Sebenarnya aku sedang menunggu seseorang," ucap Kise sambil memainkan bola basket di pangkuannya.

Saat ini keduanya tengah duduk di kursi pinggir lapangan. Harasawa mengambil beberapa foto selama Kise bermain basket beberapa menit sebelumnya. Dan kini mereka sedang mengobrol santai.

Sampai sekarang, Aomine masih belum datang.

Kise sudah melupakannya dan perhatiannya teralihkan pada Harasawa yang berbicara banyak hal seputar dunia fotografi.

"Kami janjian untuk one on one disini, tapi sampai sekarang dia belum datang juga...," keluhnya. "Tapi syukurlah ada paman! Aku jadi tidak begitu bosan!" Kise tersenyum cerah.

"Kise-kun sangat cepat akrab dengan orang lain ya... Padahal kita baru kenalan," ucap Harasawa sambil mengecek hasil bidikannya. "Oh, apa kau haus? Aku akan belikan minuman. Anggap saja sebagai bayaranmu karena diperbolehkan mengambil foto model semanis dirimu."

Pipi Kise merona—dan Harasawa tak melepas kesempatan itu untuk mengambil foto. "Terima kasih atas pujiannya, tapi paman tidak usah repot-repot—"

Harasawa sudah keburu pergi menuju mesin penjual minuman otomatis. Kise hanya menghela napas.

Selama menunggu, Kise mengecek ponselnya. Mungkin saja Aominecchi mengirim pesan. Tapi ponselnya mati kehabisan daya baterai.

"Oh ya ampun... Aku lupa isi baterai!" Kise kembali memasukan ponselnya ke dalam saku.

Ia memandang langit cerah. Hari ini cuacanya sangat bagus. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Kondisi cuaca ini berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang kacau.

Dengan tatapan sendu ke arah langit, ia bergumam, "Aominecchi..."

Tiba-tiba ada permukaan dingin yang menyentuh pipinya.

"UWAAH! Dingin~!"

"Aku sudah bilang, berhenti memasang wajah sedih," Harasawa menyodorkannya minuman kaleng dingin.

"Paman... Terima Kasih..." Kise menegguk minuman itu. Cairan dinginnya langsung melegakan tenggorokannya. Rasa dahaga seketika hilang. Kise merasa lebih segar.

"Ahh~ Segarnya~"

Harasawa duduk disebelahnya. Ia tersenyum tipis. Keduanya pun kembali tenggelam dalam obrolan panjang.

Sepuluh menit mungkin sudah berlalu. Kise sudah lelah menunggu. Obrolan dengan Harasawa pun sudah membuatnya bosan.

Pria itu tidak berhenti mengoceh. Cara duduknya pun juga perlahan semakin menempel dengannya hingga bahu mereka saling bersentuhan.

Awalnya Kise agak risih dan berusaha sesopan mungkin untuk mengambil jarak. Tapi pria itu terus menempel, sampai Kise lelah.

Sambil mendengarkan, Kise memutar otaknya, mencari ide agar bisa menyelesaikan percakapan tiada henti ini dan pulang ke rumah tanpa membuat Harasawa merasa kesal atau apapun.

"Mmmhh..." Kise menguap dan mengucek matanya. Pandangannya mulai buram dan tidak fokus. Rasa kantuk juga mulai menyelimuti.

Kenapa aku jadi mengantuk?

"Kise-kun?" Harasawa memandangnya khawatir. "Kau baik-baik saja?"

Kise memijat pelipisnya, "Aku hanya sedikit mengatuk." Kepalanya kini mulai terasa berat dan berkunang-kunang. "Dan pusing—"

Pemuda pirang itu pun ambruk ke sisi Harasawa. Genggamannya pada botol kaleng terlepas. Menumpahkan sebagian isi cairan yang masih tersisa ke lantai lapangan di bawah kakinya.
Harasawa menangkap tubuh Kise agar tidak jatuh ke bawah. Lalu mengecek kondisinya. Kise tak sadarkan diri.

Senyum simpul tersemat di bibir pria itu. Ia menyandarkan kepala Kise di pangkuannya. Obatnya sudah bereaksi.

Harasawa menyingkirkan helaian-helaian pirang yang sedikit menutupi wajah si model, "Beautiful... Sempurna... Ryoutaku." Jemarinya menelusuri mata, hidung, dan berhenti di bibir. Bibirnya begitu lembut.

Matanya kemudian menangkap kilauan di jari manis Kise. Sebuah cincin perak.

Ah, itu cincin pemberian pemuda tan yang sering bersama Ryouta—kekasihnya. Kalau tidak salah, Aomine Daiki namanya.

Harasawa mencabut dan membuangnya sembarang arah. Ryouta hanya miliknya seorang.
Pria itu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, "Hanamiya, aku sudah selesai. Cepat siapkan mobilnya."

Beberapa saat kemudian sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam datang. Harasawa menggendong si pirang bridal. Walaupun tubuhnya tinggi dibandingkan anak seusianya, ternyata Kise begitu ringan.

Waktunya begitu pas, tepat sesaat setelah Harasawa masuk kedalam mobil, Aomine tiba di lapangan. Pria itu hanya tertawa kecil.

Kau terlambat, bocah.

Mobil hitam itu pun melaju pergi.

.

.

Kise mencoba mengatur napas akibat rasa panik berlebihan.

Seharusnya aku lebih hati-hati dan tidak mudah percaya dengan orang lain yang baru dikenal.

Seharusnya aku tidak menerima minuman itu.

Seharusnya aku mengabaikan pria itu dan langsung pulang.

Seharusnya...

Seharusnya...

"Aominecchi..." Kise memeluk lututnya ketakutan. Bunyi gemerincing rantai terdengar nyaring di telinga ketika Kise menggerakkan anggota badannya.

Rantai itu cukup panjang baginya untuk bergerak bebas di atas kasur, tapi tidak ketika turun dari kasur. Bergerak kepinggiran pun agak sulit.

Tubuhnya juga masih lemas dan tak bertenaga.

Apa yang harus kulakukan agar bisa keluar dari sini?

Kriek...

Pintu terbuka, dan dua orang pria memasuki ruangan. Salah satu dari orang itu adalah Harasawa. Dia mengenakan yukata tradisional dan pria di sebelahnya mengenakan setelan jas hitam. Harasawa tampak santai dan menyunggingkan senyuman tipis.

"Harasawa-san! Lepaskan aku!" Kise mencoba bangkit, tapi tertahan oleh rantai.

"Sstt... tenanglah, Ryouta." Harasawa melangkah mendekatinya, "Aku tidak akan melukaimu—"

"JANGAN MENDEKAT!"

Harasawa berhenti melangkah. Mata terus mengawasi gerak-gerik pemuda pirang tersebut.
Kise mundur hingga punggungnya menabrak kepala tempat tidur. Tangannya mencoba meloloskan diri dari besi yang membelenggunya. Borgol itu sangat tebal dan menggesek-gesek permukaan kulitnya.

"Percuma..." Harasawa membuka suara. "Itu hanya akan melukai tanganmu."

Kise tak mendengarkan. Ia akan melakukan apapun untuk kabur dari sini. Bahkan jika tangannya harus dipotong sekalipun.

Gesekan dari borgol itu membuat kulit pergelangan tangannya memerah dan lecet.

"HENTIKAN!" Harasawa menarik lengan Kise paksa.

"Jangan sentuh aku!" Kise meronta, mencoba melepaskan diri dari cengkraman pria yang lebih tua. Cengkraman yang sangat kuat.

Rontaan Kise mendadak berhenti. Ekspresinya berubah jadi horror bercampur jijik, ketika melihat pria itu mulai menjilati pergelangan tangannya yang lecet.

"Lihat apa yang telah kau lakukan. Kau sudah melukai pergelangan tanganmu yang indah ini," Harasawa mengecup pergelangan tangan Kise, lalu melirik pria lainnya, "Hanamiya. Sekarang."

Pria yang bernama Hanamiya itu mengangguk dan mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya.

Sebuah alat suntik dan tabung kecil berisi cairan.

"Apa itu?! Apa yang ingin kau lakukan padaku?!" Kise berontak, namun sia-sia. Rantai yang mengekangnya dikencangkan, hingga tangan dan kakinya tak bisa digerakan.

Hanamiya memasukan cairan itu ke dalam alat suntik. Matanya sempat melirik Kise.

Kise yakin, pria itu barusan menyeringai.

Hanamiya menahan lengannya dengan satu tangan. Tangan lainnya mulai memasukan jarum ke lengan atas Kise.

Kise meringis. Bibirnya digigit, menahan jeritan. Ia dapat merasakan cairan itu memasuki tubuhnya, mengalir di dalam pembulu darahnya.

Perlahan tubuhnya melemah. Kise berhenti berontak.

Kise bertanya dengan suara lemah, "Apa yang kau suntikkan barusan?"

Harasawa menjawab, "Hanya obat penenang."

Pria itu hanya membelai wajahnya, menunggu sampai pemuda itu tidur terlelap.

"Selamat datang di rumah barumu, Ryoutaku."

Itu yang dapat Kise dengar sebelum dirinya tertarik ke alam bawah sadar.

.

.

Harasawa dan Hanamiya sudah tidak ada ketika Kise membuka mata. Luka lecetnya juga sudah diobati. Kain perban melindungi kulitnya dari gesekan borgol.

Mata melirik sekitar ruangan. Ada seorang maid yang sedang memasukan pakaian ke lemari. Tubuhnya mungil berambut coklat dengan potongan pendek.

Maid tersebut tampak sibuk dan tak menyadari Kise yang sudah terbangun, sampai bunyi gemerincing rantai dari Kise menyadarkannya.

"Hei kau! Lepaskan aku!" Pinta Kise sambil menarik-narik rantai.

Maid itu tampak panik. Kepalanya digeleng-gelengkan, seolah berkata agar Kise tidak memaksakan diri. Dia kemudian keluar dan masuk kembali dengan membawa troli berisi makanan mewah.

Troli tersebut diletakan di pinggir kasur. Maid itu kemudian menyodorkan segelas air—yang kemudian Kise tepis. Pecahannya berserakan di lantai.

"Aku tidak ingin makan atau minum! Aku ingin keluar dari sini!" Teriak Kise emosi.

Ia melihat maid yang dibentaknya tampak kewalahan memungut serpihan-serpihan kaca gelas di lantai. Emosinya hilang setelah melihat pemandangan itu.

Kasihan juga. Jadi tidak tega.

Kise menghela napas dan kembali rebahan. "Pokoknya aku tidak mau makan."

Maid tersebut hanya menunduk lalu pergi dengan serpihan-serpihan kaca di tangan. Troli makanan ditinggalkan begitu saja.

Setelah yakin ia sudah sendiri, Kise tidur meringkuk. Matanya mulai berair.

"Aominecchi... Ayah... Ibu... Tolong aku..."

Cincin perak pemberian Aomine sudah hilang dari jari manisnya. Harasawa mungkin sudah mencabut cincin tersebut.

"Hiks... Aku mau pulang... hiks..." Kise terisak, tenggelam oleh air matanya sendiri hingga rasa kantuk menjemputnya.

.

.

"Kau tidak makan?"

Suara Harasawa membangunkannya. Kise tak menyadari kalau dirinya ketiduran.

"Kau harus makan. Aku sudah menyiapkan makanan favoritmu. Kau pasti suka," Harasawa duduk di pinggiran kasur.

Kise tidur membelakanginya, "Aku tidak mau."

Hanamiya membawa nampan berisi makanan. Onion gratin soup kesukaan Kise. Tapi Kise tak peduli. Berada di sini membuat selera makannya hilang.

"Makanlah."

"Kubilang aku tidak mau—"

"Jangan buat aku memaksmu untuk makan!" Harasawa menarik lengannya kasar, memaksa pemuda pirang itu bangkit berbalik badan menghadapnya.

"Lepaskan... hiks..." Kise terisak sambil menarik lengannya dengan gerakan yang sia-sia. Tubuhnya masih lemah karena efek obat sebelumnya.

"Hanamiya!"

Hanamiya langsung sigap. Meletakan nampan di meja, lalu menahan kedua tangan Kise di belakangnya.

Kise terus berontak. Menggeliat-geliat hebat dan menendang kasana-kemari. Menjerit dan terisak tidak karuan. Pipinya basah karena air mata.

"Jika kau tidak mau, aku yang akan menyuapimu," Harasawa mengambil sesendok sup dan menyodorkannya ke bibir Kise.

Sup itu langsung dimuntahkan begitu makanan tersebut masuk kedalam mulutnya. Mengotori dagu, seprai, dan pakaian putihnya. "Aku tidak ma—mmmhhh!?"

Harasawa menyuapinya dari mulut ke mulut. Tangannya mencengkram rahang Kise kuat. Terpaksa, Kise harus menelan makanan itu.

Dengan napas tersengal Kise berkata, "Hah... hah... Hentikan! Baiklah, aku akan makan!"

"Tidak. Aku akan menyuapimu dengan cara ini," ucap Harasawa mantap. "Ini sangat menarik," tambahnya.

Kise melotot horor.

Pria itu menyuapinya lagi dari mulut ke mulut. Terus. Hingga makanan itu habis. Kise menggeliat tak berdaya.

Bibirnya dikunci rapat-rapat, tapi tak berhasil setelah Harasawa menjambak rambutnya atau menggigit bibirnya. Itu sangat menyakitkan, hingga kise menyerah dan pasrah menerima suapan demi suapan dari bibir pria itu.

Menjijikan.

Hanya itu yang ada di kepalanya.

Di suapan terakhir, Harasawa mencumbunya terlalu lama sampai Kise lemas kekurangan oksigen.

Hanamiya melepaskannya. Kise langsung ambruk.

"Hah... hah..." Napas Kise memburu. Mencoba mengambil oksigen sebanyak mungkin.

Harasawa menyeka air mata dan noda-noda makanan di wajah si pirang. Dia tampak puas.

Harasawa menjilat bibirnya, "Bibirmu kenyal dan lembut. Aku jadi tak sabar untuk mencicipi seluruh inchi tubuhmu."

Pandangan Kise mulai berkunang-kunang. Wajah Harasawa tampak kabur. Matanya terasa berat dan tubuhnya makin lemas. Makanan tadi pasi diberi sesuatu.

"Sekarang waktunya untuk mandi." Hanya itu yang Kise dengar. Pikirannya tidak fokus. Kosong.

Harasawa memperhatikannya sejenak. Apakah obatnya sudah bereaksi?

Pemuda itu sudah berhenti meronta. Matanya setengah tertutup. Setengah sadar.

Harasawa perlahan membuka kemeja putih yang membungkus tubuh si model. Menelanjanginya.

Hanamiya sudah pergi sedari tadi sambil membawa sisa makanan barusan dan troli makanan—yang isinya tak disentuh sama sekali oleh Kise.

Pemuda pirang tersebut tak merespon dan diam saja, ketika seluruh pakaiannya dilucuti satu per satu. Tidak berontak atau menjerit, ketika Harasawa menyentuh dan meraba kulit polosnya. Tapi dia menggeliat, ketika Harasawa membelai bagian-bagian tubuhnya yang sensitif oleh sentuhan.

"Mmhh..." Kise mengeluh geli setengah sadar.

Harasawa hanya tersenyum, lalu melepaskan borgol yang mengekang si model. Ia mengangkatnya bridal dan membawanya menuju ruangan lain. Sebuah kamar mandi dengan bathtub.

Harasawa meletakan si model di dalam bathtub tersebut, membuka pakaiannya sendiri, lalu menyusul. Ia memposisikan diri di belakang Kise dan membiarkan pemuda itu bersender di dadanya.

"Aku sudah memimpikan momen-momen ini selama bertahun-tahun." Harasawa mengecup perpotongan leher si pirang sambil memandikannya. "Ryoutaku."

.

.

Awalnya hanya mandi biasa, namun perlahan-lahan Harasawa mulai menyetubuhinya.

Dari sentuhan, cumbuan, lalu tusukan. Menggunakan jemarinya untuk melenturkan otot-otot di sekeliling lubang kenikmatan si pirang. Mempersiapkannya. Air yang merendam mereka, semakin mempermudahnya untuk memasukan jemarinya satu per satu. Bergerak keluar masuk dengan tempo cepat.

"Ngghh! Ngghh! Ahh! Ahh... Ngghh... A-aahh..." Si model mengerang keenakan. Wajahnya merona indah.

Kise tidak berontak ataupun menolak. Dia bahkan—tanpa sadar—membuka kakinya lebar-lebar. Mengundang pria itu untuk memasukan miliknya kedalam dirinya.

Yang dapat Kise rasakan hanyalah kenikmatan di bagian selatannya. Kenikmatan yang membuatnya ketagihan dan menggerak-gerakan pinggulnya terus-menerus. Tidak ada yang lain.

Yang Kise tidak tau adalah, seorang pria dewasa tengah memperkosanya di kamar mandi. Juga, sebuah kamera—yang terpasang di sudut ruangan—yang merekam aktivitas tidak senonoh ini.

Matanya mungkin terbuka, namun pikirannya mengabaikan apa yang dicitrakan oleh pandangannya.

Saat itu, Kise tak melihat apapun selain kenikmatan.

.

.

.

Ketika tersadar, Kise sudah berada di ranjangnya dengan pakaian dan seprai yang baru. Ditambah dengan rasa nyeri di pinggul dan bokokongnya. Borgol terpasang kuat. Perban lukanya juga sudah diganti.

Apa yang terjadi?

Kenapa tubuhku begitu nyeri?

Manik madunya melihat sekitar. Harasawa tak nampak dimanapun.

Pintu terbuka, dan maid yang waktu itu masuk membawa troli makanan dan sebuah botol berisi pil.

Kise bertanya, "Sekarang jam berapa?"

Maid tersebut memperlihatkan jam kantong miliknya. Waktu menunjukan pukul 6.30 pagi.

Kise tidak ingat sudah berapa lama ia berada disini. Keluarganya dan Aominecchi pasti mencarinya.

Sebuah colekan di bahunya, manyadarkannya dari lamunan. Kise kemudian melirik Maid tersebut, "Apa? Aku tidak mau makan," ucapnya dingin.

Maid tersebut menunjukannya sebuah buku catatan bertuliskan 'Sekarang tanggal 20 maret'.

Alis Kise terangkat, Maid itu memberi tahunya tanggal hari ini. Jika dihitung-hitung, Kise sudah berada di sini selama 3 hari.

Kise menatap maid itu sejenak, "Kau bisu?"

Maid itu mengangguk. Ia menulis di halaman berikutnya, lalu menunjukannya pada Kise.

'Kau tidak apa-apa?'

'Aku khawatir.'

"Aku tidak apa-apa. Hanya saja pinggul dan pantatku agak nyeri. Tapi aku baik-baik saja."

Maid tersebut membelalakan matanya. Lalu menunjukan tulisan lain.

Dari sudut pandang Kise, maid itu sepertinya mengetahui penyebab nyerinya. Tapi Kise tidak mau mempertanyakannya lebih lanjut.

'Aku membawakanmu obat pereda nyeri. Tuan besar memintamu untuk meminumnya.'

"Tuan besar, maksudmu Harasawa-san?"

Maid itu mengangguk.

'Saya juga membawa sarapan.' Maid tersebut menunjukan makanan yang dibawanya.

Kise mengernyit jijik.

"Aku tidak mau makan. Pasti di dalamnya dicampurkan sesuatu." Kise masih ingat sup sebelumnya yang membuatnya jatuh lemas.

'Kumohon!' Maid tersebut hampir menangis. 'Jika tuan muda tidak makan, saya akan dihukum lagi!'

Lagi?

Kise melihat pergelangan tangan maid itu agak memerah—bahkan membiru keunguan.

Kasihan. Gadis itu tidak bersalah. Gara-gara dirinya tidak mau makan, gadis itu harus mendapat hukuman.

Yah, apa boleh buat...

Ia mebghela napas, "Baiklah, kalau begitu aku akan makan."

Kise mengisyaratkan maid itu untuk membawakan makanan tersebut mendekat. Tiga potong sandwich dan segelas susu. Kise memakannya perlahan dan hati-hati. Ada rasa tak biasa dari sandwich itu. Seperti yang diduga, makanan ini sudah di campur sesuatu—mungkin obat tidur.

Selama Kise makan, maid itu hanya berdiri diam. Menunggu hingga Kise menghabiskan makananya dan minum obat. Setelah semuanya selesai, maid itu pergi.

"Kuharap kita bisa berteman," Kise bicara ketika maid itu berbalik untuk menutup pintu.

Gadis itu membalas dengan senyuman, lalu menulis sesuatu di buku dan memperlihatkannya pada si pirang.

Kise membacanya sambil senyum, "Salam kenal!"

Gadis itu pun pergi.

Kise kembali rebahan sambil mengingat tulisan barusan.

"Aida Riko..."

Setidaknya ia mempunyai seseorang yang bisa diajak bicara.

.

.

.

Persahabatannya dengan Riko terjalin baik. Mereka akan mengobrol untuk menghabiskan waktu sambil menunggu efek obat tidur membawanya ke alam mimpi.

Aida Riko adalah seorang yatim piatu yang dipekerjakan oleh Harasawa khusus untuk merawat Kise. Gadis itu juga mengatakan bahwa kamar yang Kise tempati sekarang ini berada di lantai basement kediaman Harasawa. Kamar itu bersifat sementara. Sewaktu-waktu Kise akan dipindahkan ke kamar lain, jika ia mulai patuh.

Patuh? Amit-amit. Itu tidak akan pernah terjadi!

Di siang hari dan malam, Harasawa akan mendatangiya. Menyuntikan cairan yang membuat seluruh tubuhnya lemas, lalu membawanya untuk dimandikan atau disetubuhi. Kadang pula pria itu membawanya ke kamar pribadinya. Menggaulinya hingga si model klimaks berkali-kali.

Semua itu dilakukan ketika si model dalam pengaruh obat-obatan. Kise tidak mengingat apapun. Hanya rasa nyeri di sekujur tubuh, dan bercak merah keunguan bekas cumbuan di kulitnya yang dapat dirasa atau dilihat.

Suatu hari, Kise terbangun di suatu ruang kamar lain dalam kondisi telanjang bulat. Ruangan yang besarnya dua kali lipat dari kamar sebelumnya. Kamar itu memiliki jendela besar yang tertutup tirai. Menyembunyikan langit malam di baliknya.

Tangan dan kaki tidak terikat. Kise mengambil kesempatan itu untuk bangkit dari tempat tidur. Tapi kakinya lemas, tidak kuat menopang tubuhnya hingga ia terjatuh.

"Ukh..." Kise mencoba berdiri lagi sambil berpegangan pada tembok. Kakinya gemetaran seperti anak rusa yang baru lahir.

Terlalu lama di atas kasur, hingga membuatnya lupa cara berjalan.

"Mau kubantu?" Suara harasawa mengagetkannya. Pria itu mengenakan jubah tidur dan membawa nampan berisi sepiring kue kering dan dua cangkir teh.

Nampan diletakan di meja dekat jendela, lalu pria tersebut berjalan mendekati si model.

"Jangan mendekat!" Kise berteriak, namun pria itu mengindahkannya dan tidak berhenti melangkah.

Kise meronta-ronta ketika Harasawa menyelipkan tangan di pinggulnya, menarik dan mendekapnya kuat hingga menempel dada dengan dada. Tangan dipukul-pukulkan ke dada pria itu, berusaha mendorong pria tersebut menjauh.

"Lepaskan!"

"Jika aku melepaskanmu, kau akan terjatuh." Harasawa menenggelamkan wajahnya di leher jenjang si model, menghirup aroma alami yang terpancar dari kulitnya. "Kau sangat seksi."

Kise hanya menggeliat geli. Lehernya adalah salah satu daerah yang sensitif terhadap sentuhan.

Selama Kise menurunkan pertahanannya, Harasawa mengambil kesempatan dengan mengambil alat suntik berisi likuit bening dan menusukannya ke sisi leher kise yang kosong.

"Akh! Ah.." Kise pun jatuh lemas dalam dekapannya. Harasawa merebahkannya kembali di atas kasur.

Melihat model tercintanya terbaring bugil tak berdaya di atas ranjangnya, membuat libidonya naik. Padahal ia baru saja selesai menggaulinya dua jam lalu.

Kise bicara dengan napas berat, "Apa yang kau suntikan barusan? Tubuhku terasa panas... hh.." Kise menggeliat-geliat tidak nyaman. Kulitnya menjadi sangat sensitif dan juga ada sensasi aneh di bagian selatan tubuhnya.

Reaksi obatnya sangat cepat rupanya, pikir Harasawa.

"Hanya obat khusus yang akan membuatmu merasa nikmat. Aku yakin kau akan ketagihan," Harasawa melepas jubah tidurnya, memperlihatkan tubuh proposional miliknya.

Ia mengambil alat suntik serupa di laci tempat tidur dan menyuntikannya pada diri sendiri. Lalu mengambil kondom dan lube.

Mata Kise membulat horror ketika melihat dua benda di tangan Harasawa.

"Jangan takut, ini bukan pertama kali kita melakukannya, Ryouta."

"Apa maksudmu?"

Harasawa mengambil sebuah cd dari rak dekat televisi dan memasukannya ke mesin pemutar cd. Layar televisi menyala dan menampilkan adegan-adegan dewasa yang dilakukannya dengan Harasawa baik di kamar mandi maupun di kamar basement. Di video itu Kise tak melawan sama sekali dan justru mengerang keenakan ketika Harasawa menusukan kejantanannya secara bertubi-tubi kedalam lubang anusnya.

Itu... Aku? Kise terbelalak tak percaya. Suara jeritannya yang penuh nikmat yang keluar dari speaker memenuhi ruangan.

Adega-adegan itu membuat tubuhnya bereaksi. Tangan meraba-raba tubuhnya sendiri mencari kenikmatan. Tangan lain bermain-main dengan bagian selatannya.
Tubuhku rasanya sangat aneh. Nghhh...

Apa ini efek obat?

"Ngh... hah... mmmhh..." Kise menggeliat-geliat nikmat sambil mengocok-ngocok kejantanannya. Mata terpejam dan telinga hanya terfokus pasa suara desahannya sendiri. Ia melupakan Harasawa yang menontonnya dengan pandangan tertarik.

Pemandangan Kise membelai dirinya sendiri, sangatlah langka. Ini pertama kali. Bahkan selama Harasawa menguntit kegiatan Kise sehari-hari.

Harasawa menyeringai dan menjilat bibirnya, "Let's have fun."

.

.

.

Kise menangis tanpa henti. Ia merasa berdosa dan kotor.

Beberapa jam sebelumnya, Kise membiarkan dirinya dijamah dan disodomi oleh Harasawa. Saat itu akal sehatnya hilang. Hanya memikirkan kenikmatan dan bagaimana agar rasa tak nyaman di tubuhnya hilang dengan cara apapun.

Kini akal sehatnya telah kembali, dan Kise merasa menyesal dan bersalah.

Harasawa sudah pergi beberapa menit lalu karena sebuah panggilan telepon yang memaksanya untuk pergi. Sekarang ia sendirian. Masih telanjang bulat dan lengket akibat peluh. Cairan cum Harasawa masih mengalir dari lubang anus dan mengotori selangkangannya. Bercampur dengan cum miliknya sendiri.

"Hiks... hiks..." Kise terisak.

Beberapa saat kemudian Riko masuk dan langsung terkejut melihat kondisi sahabat barunya. Cepat-cepat, maid itu menghampirinya. Memberikan Kise handuk basah untuk membersihkan diri.

Usai membersihkan diri, Kise memakai jubah tidur yang disediakan Riko untuknya.

Maid tersebut memandangnya khawatir. Kise menjadi lebih pendiam. Tubuhnya gemetaran karena takut.

"Bawa aku pergi dari sini..." Kise memandang Riko penuh harap. "Kumohon... hiks... Tolong aku..."

Maid itu memandangnya sejenak penuh iba. Ia mengusap air mata Kise dan mengecup keningnya penuh sayang. Riko menulis sesuatu di buku catatannya lalu menunjukannya pada Kise dengan senyuman.

'Aku akan membantumu keluar dari sini!'

'Cukup ikut aku dan jangan banyak bicara!'

Gadis itu menarik Kise bangkit dan mereka kabur.

Aktivitas sebelumnya membuat Kise sulit berjalan, tapi Riko tetap memaksanya untuk lari.

Larilah, jika kau ingin keluar dari sini.

Larilah dan jangan berhenti!

Riko membawa Kise melewati lorong kecil yang jarang dilewati penjaga. Gadis itu sudah hapal kondisi kediaman Harasawa. Di sebelah mana yang banyak penjagaan, dan sebelah mana yang minim penjagaan. Riko sebenarnya juga sudah merencanakan ini sebelumnya, tinggal mencari kesempatan bagus untuk membawa Kise. Sekarang mungkin adalah waktu yang tepat.

Fokus Harasawa sedang teralihkan dengan hal lain. Dan Kise sendirian tanpa penjagaan. Biasanya Hanamiya akan memantau. Tapi pria itu tidak muncul di manapun. Bukankah itu kesempatan yang bagus?!

...

Atau tidak?

Riko dan Kise keluar lewat jendela menuju halaman belakang kediaman Harasawa. Halaman belakang Harasawa menyatu dengan hutan rimbun. Riko berencana membawa Kise kabur lewat sana dan melewati jalur tembusan menuju kota.

Memang agak beresiko, mengingat suasana hutan di malam hari. Tapi mau tidak mau, mereka harus menempuh resiko itu.

Jika ingin bebas.

"Haha! Kalian mau kabur? Berani sekali!" Hanamiya menghalangi jalan mereka menuju hutan. Bibirnya menyeringai lebar.

Riko dan Kise berhenti.

Hanamiya melangkah mendekat dengan santai, "Naif sekali..."

Riko mengapit dirinya dantara Kise dan Hanamiya, berusaha melindungi si pirang.

"MINGGIR KAU GADIS BISU!" Hanamiya menggampar gadis itu sampai terpelanting ke samping. "Aku tidak ada urusan denganmu. Tunggulah hukuman apa yang akan diberikan Oyabun padamu nanti!" Fokusnya kini beralih pada pemuda pirang di hadapannya.

Matanya memperhatikan kise dari atas kebawah sambil bersiul menggoda. "Hei manis, sekarang waktunya untuk kembali ke kamarmu."

"Aku menolak!" Kise menepis tangan Hanamiya yang terulur untuk menyentuh wajahnya.

"Kau memang bisa apa? Tubuhmu masih dalam efek obat—Oh! Aku tau kau bisa apa...," Hanamiya merangkul pinggul Kise erat. "Kau bisa melayaniku di ranjang dengan tubuh seksimu ini. Hmmm... tak heran oyabun begitu terobsesi padamu."

"Lepaskan—akh!" Seseorang dari belaka memukul tengkuknya hingga tak sadarkan diri. Tubuhnya langsung lumpuh di pelukan Hanamiya.

Hanamiya menghela napas dan menggerutu, "Hah... merepotkan." Ia kemudian melirik pria lainnya, "Kau urus maid itu. Aku akan kembalikan Ryouta ke kamarnya."

Sebelum masuk lewat pintu belakang—sambil menggotong si pirang bridal—ia menoleh ke arah Riko yang sedang berusaha bangkit. Pipinya memar dan hidungnya berdarah.

"Aku tak sabar, hukuman apa yang akan diberikan Oyabun padamu," ucapnya sambil menyeringai.

Hanamiya masuk ke dalam, "Semoga beruntung~"

Pintu pun tertutup.

.

.

.

Kise terbangun di kamarnya—yang berada di basement. Jubah tidurnya sudah berganti dengan kemeja putih yang biasa dikenakannya. Tengkuk terasa sakit, tangan dan kaki kembali dikekang.

Sudut matanya menangkap sosok Hanamiya yang tengah duduk di atas kursi yang menghalangi pintu. Pandangannya tak pernah lepas dari si pirang.

"Hai, manis~ Apakah tidurmu nyenyak?" tanyanya dengan nada menggoda.

"Riko... dimana dia!?"

"Si maid bisu itu? Entahlah..." sahut Hanamiya tak acuh sembari mengecek kuku-kuku jemarinya. "Oyabun sedang berbicara dengannya."

Oyabun?

Harasawa kah?

"K-kalian... y-yakuza?" Ini pertama kali bagi Kise bertemu dengan anggota yakuza, bahkan bertemu dengan pimpinannya secara langsung.

"Oh, kau tidak tau?" Hanamiya bangkit lalu menyalakan rokok. "Nama kelompok kami adalah Kirisaki. Harasawa Katsunori adalah pimpinan tertinggi. Aku hanya tangan kanannya."

Kise diam. Agak bahaya jika berurusan dengan Yakuza. Mulai sekarang Kise harus hati-hati.
Ia harap Riko baik-baik saja.

Hanamiya menyingkirkan kursinya ke pojokan lalu duduk di sana, masih tetap memperhatikan Kise dengan sorot mata predatornya.

"Kau tau, jika kau tidak diklaim Oyabun, mungkin aku sudah memperkosamu sejak dulu," ucap Hanamiya, menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

Kise merinding dan langsung menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.

Pria itu terkekeh, melihat tingkah si pirang. Sangat polos dan menggemaskan.

Tapi sungguh, ia tidak bercanda. Siapa yang tidak mau berhubungan seks dengan model seseksi Kise Ryouta? Bahkan orang stright pun tak akan menolak.

.

.

.

Hanamiya menghabiskan linting rokok ketiga, ketika Harasawa masuk ke kamarnya. Pria itu tampak murka. Kise memperhatikannya awas dari balik selimut.

"Oyabun..." Hanamiya berdiri hormat.

Harasawa mengindahkannya dan berjalan menuju si model yang masih sembunyi di balik selimut.

"?!" Sellimutnya disingkap kasar, menampilakan Kise yang tiduran meringkuk, gemetar ketakutan.

Kise menutup matanya takut saat tangan Harasawa mendekati wajahnya.

Apa dia akan menamparku? Memukulku? atau menjambakku?

Semua hal berbau kekerasan terbesit di kepalanya.

"Aku tidak akan menghukummu sekarang," ucap pria itu sambil membelai helaian-helaian pirang Kise. "Kau akan melihatnya besok."

Pria itu mengecup mahkota pirangnya, lalu pergi.

Tepat di keesokan harinya, Hanamiya menyeretnya keluar kamar. Kedua tangan dibirgol dan kakinya bebas.

Kise tak berani kabur. Dirinya dikelilingi pria-pria sangar bertubuh besar, penuh dengan tato di tubuh. Juga pengaruh obat—yang disuntikkan Hanamiya sebelumnya—masih menempel.

Ia dibawa keluar lewat pintu belakang menuju hutan. Ada beberapa anggota yakuza berkumpul disana.

"Kita mau kemana?" tanya Kise sambil melihat sekeliling. Kise yakin ini bukan Tokyo.

Di siang hari, hutan tersebut terlihat luas dan rimbun. Kise juga bisa melihat bangunan kediaman Harasawa dengan jelas. Sebuah mansion besar dengan arsitektur bergaya jepang modern dan campuran eropa.

"Ke sana," Hanamiya menunjuk ke arah hutan. "Kau akan tau nanti, ketika kita sampai disana."

Semakin mereka ke dalam, suasana semakin ramai. Kise sempat melihat beberapa maid berseragam sama seperti Riko dan butler yang saling berbisik. Ada yang tampak takut, bingung, dan ada pula yang menangis.

Kise sempat mendengar nama Riko disebut-sebut dalam percakapan itu.

"Lewat sini," Hanamiya menariknya menembus kerumunan orang yang mengelilingi sebuah pohon besar. Mereka semua memberi jalan Hanamiya dan Kise dengan hormat.

Kise terpaku di tempat. Mata membulat lebar dan wajah memucat.

Pemandangannya begitu jelas. Sebuah tali terikat di ranting pohon. Menjulur ke bawah dengan ujung simpul lingkaran. Tali gantung.

Yang membuatnya terkejut bukanlah itu, melainkan sosok Riko yang berdiri di bawahnya. Gadis itu berdiri di atas sebuah kursi dengan kepala dimasukan ke dalam simpul lingkaran, menjerat lehernya. Tubuh penuh lebam dan luka. Tangan terikat di belakang dan air mata membasahi wajahnya.

Ketika menangkap sosok Kise diantara kerumunan, gadis itu kembali terisak meminta pertolongan.

"Riko!" Kise berlari ke arah gadis tersebut, tapi Hanamiya menarik tangannya.

"Kau mau kemana? Tidak ada yang mengizinkanmu mendekatinya."

"Tapi—"

"Itu hukumannya karena telah menentangku," Harasawa memotong ucapannya. Pria itu berdiri paling dekat dengan pohon tempat riko digantung. Kise sempat tak menyadari keberadaannya.

"Nah, Ryouta. Buka matamu dan lihat baik-baik..." Harasawa mendekat dan mencengkram dagu Kise. Memaksanya menonton kematian menjemput sahabatnya.

"Itu akibatnya jika kau kabur dari sini. Bahkan jika Riko tak membantumu sekalipun, dia akan tetap mati seperti ini. Karena itu adalah tanggung jawabnya untuk mengawasimu." Harasawa mengecup pelipis Kise lembut, lalu mengisyaratkan seseorang untuk menarik pijakan kursi dari kaki Riko.

"Riko... hiks..." Kise terisak, tak sanggup berbuat apapun.

"Kau sudah terlambat, jika ingin memohon," Harasawa berbisik padanya.

Kursi pun ditarik, dan tali itu menjerat leher Riko. Kakinya bergerak-gerak mencari pijakan yang tidak dapat dijangkau. 15 detik berlalu, dan gerakan itu berhenti.

Riko sudah mati. Mati tergantung mengenaskan dengan lidah menjuntai.

Beberapa kerumunan—khususnya para maid dan butler—memalingkan wajah, tak sanggup melihat. Begitu pula Kise. Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata tak berhenti mengalir.

Otaknya tidak ingin mengingat kondisi mengenaskan si maid. Memorinya hanya ingin mengingat wajah Riko yang biasa ditemuinya sehari-hari di kamar.

Harasawa melepaskan cengkraman dari dagu Kise dan menyeretnya keluar hutan. Yang lain mengikuti. Kise hanya bisa pasrah.

"Hiks... Riko... Hiks... Kau... akan meninggalkannya... hiks... seperti itu?"

"Ya," jawab Harasawa tak memperlambat langkahnya. "Anjing hutan dan hewan liar lainnya akan memakannya hingga tak bersisa."

Sangat kejam.

.

.

.

Sesampainya di kamar, Harasawa melemparnya ke atas ranjang. Melonggarkan dasi lalu menyusul dan menindih si pirang di bawahnya.

Kise masih terisak. Tubuhnya menggeliat berusaha kabur. Tapi Harasawa menahannya dengan kuat. Tangannya yang lain melepas kemeja Kise paksa sampai kancing-kancingnya lepas.

"Hukumanmu belum selesai."

Dari sini, Kise tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

.

.

.

Aominecchi...

.

.

.

.

.

To Be Continue

Kelar juga akhirnya^^

Ternyata pelakunya si coach ikemen—walau di fic ini dia bukan pelatih :D

Kenapa pada nebak penculiknya itu nash?

Dia punya peran sendiri kok~~

Sepertinya pada terlarut sama fic saya yang satunya ya? Ya? ;D /ditendang

fujoshiotaku0311:
sudah update~

Midorima Ryouta:

Saya ga bisa bikin kise mati... ;v; terlalu tjintahhh~~

Ga ada semangat nulis fic kalo ga ada dia *peluk kise*

furihata cuma jadi orang lewat, kasian ya...

Penculiknya bukan Nash sih...

Tapi Nash bakal muncul kok~~

Iyapss itu tatsuya ;)

Guest:
tet-tot! bukan nash hhee...

Tenang, dia ada kok...

Untuk blood of innocence, chapter selanjutnya baru saya tulis setelah update fic ini...

Otomatis updatenya masih agak lama :D /kabur

Shiroo:
Sayangnya bukan Nash penculiknya...

Tapi dia punya peran penting lain...

Blood of innocence nya sabar dulu yaa...

lagi ditulis~~

val pururin:

udah update!

pairingnya mainly Aokise... Harasawaxkise (crack bener ini pairing^^;)...

sisanya hint gomxkise, akakuro, akakise, HanamiyaxKise, dan platonic NashKise (nashnya aja belom nongol)

begitulah...

ryu elchan:

bukan nash~~ :D

mereka bukan kakak adik dan pastinya Nash sangat posesif :D

Kita tunggu saja kapan dia muncul...

aoi:

thanks :D

Semoga suka chapter terbarunya~~

arissasonoda:

sudah update!

terima kasih untuk review, fav, dan follow nya!

sampai jumpa di chapter berikutnya!