Hari Selasa telah tiba. Seok Jin sudah siap sedia di meja makan sedaritadi. Sang Ibunda hanya menatap anak uhuk-tampannya-uhuk dengan pandangan heran. Baru jam enam pagi, anak sulungnya itu sudah bangun? Tumben.
Karena sebagai Ibu, pasti sudah sangat hafal dengan perilaku anak-anaknya. Contohnya saja Seok Jin, anak sulung yang patuh pada orang tua dan rajin menabung –sebulan sekali, adalah anak yang paling kebo. Artinya, paling terlambat bangun diantara anggota keluarga Kim yang lain. Dan kadang juga manja, jadi harus dibangunkan dengan teriakan 'merdu' dari Sang Ibunda baru ia akan segera bangun.
Tapi sekali lagi, anaknya itu dengan wajah segar dan berseri-seri, seragam rapi –dengan aroma parfum yang sangat menyengat (yang untungnya bukan wangi menyan) menempel di balutan jas dan kemeja sekolahnya. Aduh, makin tampan saja anakku Jin tomang, Batin sang Ibunda.
Ini sangat aneh, bung. (dimata sang Ibunda tercinta)
Dengan segala rasa penasarannya, sang Ibu mendekati anaknya yang sedang membaca buku –tumben sekali kamu rajin, nak. Kemudian duduk di depannya dan bertanya, "Seok Jin anakku yang paling tampan, tumben sekali sudah bangun dan juga sudah bersiap-siap seperti ini?"
Seok Jin mengalihkan pandangannnya dari buku yang sedang ia baca, dan beralih pada Ibundanya, "Eh? Memangnya salah ya, Eomma?"
Sang Ibunda menggeleng cantik, "Tentu saja tidak, nak. Malah Eomma sangat senang jika kau bertingkah rajin seperti ini. Kemana saja kamu selama ini, nak?"
JLEB. Sakitnya tuh disini, ibunda. Seok Jin mengakui bahwa ia sampai sekarang masih manja, bangun tidur kadang dibangunin, makan juga kadang harus disuruh dulu, dan hal-hal kekanak-kanakan lainnya. Tapi mandi udah sendiri loh ya. Hiksu.
"Ah sudahlah, kau mau sarapan sekarang? Atau mau menunggu Appa juga adikmu dulu?" Tanya Ibunda Seok Jin penuh perhatian.
"Aku ingin sarapan di kantin saja, lagipula tadi aku sudah minum susu, Eomma."
"Memangnya kau tidak lapar?"
Seok Jin menggeleng. "Tidak 'kok. Sudah ya Eomma, aku berangkat dulu. Salam untuk Appa dan adik." Ucap Seok Jin sambil mencim kening juga pipi sang Ibunda dengan sayang.
"Aku berangkat!"
"Hati-hati dijalan, sayang!"
Dan pintu utama keluarga Kim tertutup.
Tiba-tiba kepala keluarga Kim masuk ke ruang makan dengan setelan jas kantoran yang membuat ia terlihat gagah dan mempesona. Perlu diketahui, sang Ayah adalah orang yang tampan, berwibawa, tinggi, dan sebelas duabelas dengan Seok Jin. Maksudnya kadang sengklek juga. Authorpun dibunuh Seok Jin. Oke abaikan kalimat tersebut.
"Eh? Sepertinya tadi aku mendengar suara Seok Jin. Kemana dia?" Tanya Ayah Kim pada istrinya yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Oh, Seok Jin berangkat duluan katanya. Dan ia pun tak mau sarapan, tumben sekali 'kan?" Ayah Kim mengangguk setuju lalu duduk di meja makan.
"Mungkin dia berangkat pagi-pagi ingin menjemput kekasihnya dulu,"
Hening untuk sesaat. Lalu Ayah dan Ibu Kim menatap satu sama lain kemudian berteriak, "ANAK KITA SUDAH PUNYA PACAR?!"
.
Stalker?
Main Character(s) : Kim Seok Jin with Kim Taehyung.
Character(s) : All member of BTS and other, maybe.
Genre(s) : Humor, Romance(fail), and other as slight.
Disclaimer : Semua cast yang ada disini milik mereka masing-masing. Saya hanya meminjam namanya saja, untuk kelangsungan cerita.
Warning(s) : OOC, Typo(s), not EYD, AU, Boys Love/Yaoi/Sho-ai. I told you, guys! Be the nice readers :)
[Kim Seok Jin, hidupnya sangat menyenangkan. Tampan, menjadi idola sekolah, ketua basket, punya banyak fangirls dan sebagainya. Tapi, bagaimana bila ia menyukai seorang lelaki bernama V yang ia stalk diam-diam setiap harinya?]
HAPPY READING~ :)
-000-
.
.
.
Chapter 3; I'm so excited, baby.
Seok Jin bernyanyi pelan dengan ditemani musik semangat pagi ini. Dengan pandangan yang tetap fokus pada jalanan di depan, ia terus menggumamkan nada-nada dalam lagu yang sedang diputar di music list-nya. Karena terlalu asik mendendangkan alunan lagu, Seok Jin tidak sadar bahwa di depannya ada seekor anak kucing yang diam beberapa meter tak jauh dari jarak mobilnya. Hampir saja ia menabrak si kucing, tapi seorang remaja berdiri merentangkan tangannya –melindungi si kucing dan,
CKITTTT
Seok Jin me-rem mobilnya dengan cepat. Huftt, hampir saja. Kalau ia sampai menabrak kucing malang itu, nanti ia akan mendadak terkenal di Koran dengan judul; 'Seorang Pemuda tampan yang dengan sadisnya menabrak anak kucing yang lucu' BAH! Tapi hanya dalam pikiranmu, kawan!
Seok Jin keluar dari mobil 'awesome' nya dan menghampiri si remaja lelaki yang sedang menggendong si kucing yang hampir saja menjadi korban tabrakan Seok Jin. "Uhm, maaf. Hampir saja aku menabrak kucing ini kalau kau tidak segera menghalangiku," Ujar Seok Jin sedikit menyesal.
Si remaja laki-laki yang diperkirakan masih kelas satu SMA itu hanya mengangguk dan berkata, "Iya, lain kali berhati-hatilah, Paman."
WHAT?! PAMAN?! MUKA AWET MUDA BEGINI DIBILANG PAMAN, HAH?!
"Ekhem, terimakasih atas nasehatmu, bocah. Tapi tolong, jangan panggil aku paman."
GUE MASIH MUDA OY! –Lanjut Seok Jin dalam hatinya.
"Eh?" Si remaja lelaki menatap ke arah Seok Jin, jas sekolah? Berarti orang didepannya ini masih bersekolah, dong. "A-ah iya, maafkan aku, Hyung."
"Seok Jin. Kim Seok Jin. Siapa namamu?" Ujarnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan sebelah tangannya. Si remaja pun menyambut uluran tangannya dan memperkenalkan dirinya, "Jeon JeongGuk. Panggil saja Jung Kook."
"Baiklah. Senang berkenalan denganmu, Jung Kook. Tapi, aku harus menjemput seseorang. Jadi, aku duluan, ne. Sampai jumpa!"
"Hati-hati, Seok Jin Hyung!"
Seok Jin pun kembali kedalam mobilnya dan melaju melewati Jung Kook yang masih setia memangku si kucing unyu.
Eh, ngomong-ngomong… jas sekolahnya sama dengan yang dipakai oleh Seok Jin. "EH? JADI KIM SEOK JIN YANG TADI ITU SUNBAE KU?" Batin Jung Kook.
Si remaja tampan sekaligus manis itu kembali berpikir. Rasanya… namanya juga sudah tidak asing lagi di telinganya –apa mungkin…
"SEOK JIN SI KETUA BASKET DAN ANAK TERPOPULER DI SEKOLAH ITU?!" Batin Jung Kook kembali berteriak histeris.
Jung Kook pun mengalami perang batin, pemirsa.
.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Seok Jin sampai di depan rumah sang gebetan –Kim Taehyung. Dan ternyata ia bangun pagi… hanya untuk menjemput Taehyung. Juga saat kemarin malam ia berkunjung ke rumah Taehyung itu… hasil dari ia membuntuti Taehyung saat pulang sekolah. Tanpa di ketahui Taehyug sendiri tentu saja. Dengan berlagak ala agen rahasia, seorang Kim Seok Jin membuntuti Taehyung dari belakang. Tanpa suara. Untungnya, Taehyung pulang sekolah jalan kaki –jadi Seok Jin bisa menyimpulkan bahwa kediaman sang gebetan tidak jauh dari Sekolah. Dan hipotesisnya sangat tepat. Hanya beberapa meter dari Sekolah –itu pun melalui sebuah jalan pintas yang cukup menghemat waktu.
Begitulah kejadian yang sebenarnya –bagaimana Seok Jin tahu kediaman Taehyung. Dan mulai sekarang, ia akan menjemput malaikatnya itu setiap pagi –atau kalau ia sempat, pulangnya pun akan ia antar. Karena Seok Jin cukup sibuk akhir-akhir ini. Entah itu karena tingkatnya yang sudah naik kelas menjadi kelas akhir, ataupun tentang kegiatan basket dan perkumpulan OSIS. Tapi akan Seok Jin usahakan untuk membagi waktunya agar ia mempunyai waktu dengan Taehyung –sampai saatnya tiba ia akan menembak adik kelasnya itu.
Seok Jin memasuki perkarangan rumah Taehyung yang bisa di bilang luas, dengan banyaknya tanaman yang tubuh di sekitarnya. Sampai di pintu utama, kemudian ia langsung memencet bel.
Tak lama seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik –mungkin karena beliau awet muda, membuka pintunya. Sempat terkejut karena orang yang baru saja memencet bel rumahnya adalah seseorang yang baru pertama kali ia lihat. Dua kata yang terlintas di kepala wanita itu adalah, tinggi dan tampan.
"Selamat pagi," Ucap Seok Jin sambil menebarkan senyuman hangat. Wanita tadi –ibunda Taehyung mengerjapkan kedua matanya. Tampan sekali remaja ini~
"Pagi juga. Ingin mencari siapa, ya?" Tanya Ibunda Taehyung lembut.
"Ah… salam kenal Ahjumma, aku Kim Seok Jin, kakak kelas Taehyung. Saya kemari untuk menjemputnya dan mengajaknya berangkat sekolah bersama." Balas Seok Jin sopan.
"O-oh… begitu. Baiklah, silahkan masuk dulu Seok Jin-ah. Taehyung sedang bersiap-siap di dalam kamarnya. Mau menunggunya atau ingin duluan saja?" Seok Jin langsung membalas, "Tentu saja menunggunya."
Ibunda Taehyung pun mempersilahkan si remaja tampan –alias Seok Jin untuk duduk di sofa sambil menunggu Taehyung yang masih bersiap-siap. "Tunggu sebentar, ne. Aku akan memanggil Taehyung dulu." Seok Jin hanya mengangguk dan Ibunda taehyung segera naik ke lantai dua –menuju kamar Taehyung, anak kesayangannya itu.
Langsung masuk begitu saja ke kamar sang anak lalu menutup kembali pintunya. Dengan tergesa-gesa ia masuk dan menghampiri Taehyung yang sedang menyimpulkan dasi di depan cermin. Melihat bayangan Ibunya, Taehyung berbalik dan menatap sang Ibu, "Eomma? Sejak kapan masuk ke kam –."
"SIAPA KIM SEOK JIN?!" Sang Ibunda malah memotong kalimatnya dan balik bertanya. Tunggu, maksudnya Seok Jin Hyung?
"Err… dia kakak kelas ku?" Balas Taehyung sedikit gugup karena Ibunya yang menatapnya dengan pandangan tajam.
"Bukan pacarmu?"
OHOK! OHOK! Seketika leher Taehyung seperti dililit oleh dasinya yang masih menggantung –karena belum selesai menyimpulkannya gara-gara sang Ibunda yang datang tiba-tiba.
Apa? Pacar? Ibunya ini kerasukan apa Ya Tuhan. "A-apa maksudmu, Eomma?"
Sang Ibunda menghela nafas lalu berucap, "Bukan pacarmu ya…"
"Padahal dia tinggi… tampan lagi…"
HAH? APA MAKSUD SANG IBUNDANYA TERCINTA INI?
"E-eomma?"
"Kenapa kalian tidak pacaran saja 'sih?"
Taehyung cengo.
HAHHHH?! Taehyung mendadak pening. Tolong ia, kawan! Ia hampir frustasi. Jangan sampai ia tekena darah tinggi, amit-amit.
"Eomma, kenapa tiba-tiba membicarakan tentang Seok jin Hyung?" Tanya Taehyung sedikit penasaran.
Sang Ibunda menatap anaknya itu lalu menjawab, "Dia ada di ruang tamu. Katanya ingin berangkat sekolah bersamamu,"
"APAAA?!"
Sang Ibunda menutup kedua telinganya lalu beralih untuk menyimpulkan dasi yang masih menggantung di leher Taehyung. Setelah selesai, ia merapihkan rambut anaknya itu lalu mengambil jas sekolahnya yang berada di tepi ranjang tidur Taehyung dan menyerahkannya pada anak satu-satunya itu. "Nah, sudah siap. Ayo, hampiri calon pacarmu, nak!"
Taehyung cengo untuk kedua kalinya.
"SEBENARNYA APA YANG EOMMA -,"
"Sudah sana berangkat! Kasihan Seok Jin sudah menunggumu cukup lama," Dan Ibu Taehyung segera mendorong tubuh Taehyung keluar kamar kemudian menutup pintu. Apa yang akan dilakukan sang Ibu? Paling membereskan kamar anaknya –yang mungkin hanya sebuah alibi sesaat.
"KOTAK BEKALMU SUDAH EOMMA SIAPKAN DI DAPUR! HATI-HATI DI JALAN, NAK!" Sahut sang Ibunda dari dalam kamar Taehyung. Si anak hanya menggerutu kesal. Apa-apaan maksud dari semua ini? Paginya yang cerah sudah hampir punah gara-gara Ibunda tersayangnya bertingkah absurd –hanya karena Seok Jin yang datang untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama.
Uhk, tapi ia sendiri juga bingung. Untuk apa Seok Jin menjemputnya –dan mengajaknya berangkat bersama? Lagipula, hubungan pertemanan mereka 'kan baru saja terjalin dua hari yang lalu. Tapi Taehyung merasa… ia mendapat perhatian lebih dari sang Kakak kelas yang katanya populer itu. Ah, sudahlah. Lebih baik ia segera menghampirinya –walaupun ada sedikit rasa gugup saat Taehyung melihat Seok Jin mengucapakan 'Selamat pagi, malaikat.' Sambil tersenyum hangat. Uhk, Taehyung tidak yakin ia bisa menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
"Jadi, bagaimana? Mau berangkat sekarang?" Tanya Seok Jin pada Taehyung yang sedang memakai jas sekolahnya. "Em… aku mau mengambil kotak bekal dulu, Hyung."
"Oh baiklah, silahkan saja. Aku menunggumu di luar, oke?" Taehyung hanya mengangguk sebagai balasan.
Seok Jin pun keluar dari ruang tamu. Taehyung berjalan pelan menuju dapur. Ah iya, ia pernah berjanji akan membuatkan bekal untuk Seok Jin juga. Untung saja ia sudah menyiapkannya tadi pagi. Jadi ia mengambil dua kotak bekal yang ada di meja makan kemudian memasukkannya ke dalam tas. Berjalan menuju pintu tapi sebelumnya ia berteriak, "EOMMA! AKU BERANGKAT!" dan menutup pintu rumahnya.
Taehyung berjalan melewati perkarangan kebunnya menuju ke depan gerbang yang disana sudah ada Seok Jin yang menunggunya di samping pintu kemudi. "Ayo, berangkat!"
Di balas dengan anggukan pelan lalu membuka pintu mobil dan mobil pun berjalan menuju Sekolah mereka.
.
Sang wakil ketua OSIS, Min Yoongi sudah stay di sekolah sejak pagi sekali. Biasanya ia tidak pernah berangkat sekolah pagi-pagi seperti ini. Tapi di karenakan tanggung jawabnya sebagai Wakil Ketua OSIS –mewajibkannya untuk datang lebih pagi daripada siswa yang lain. Ditambah dengan si Ketua OSIS yang sedang berhalangan untuk datang ke sekolah karena sakit, jadi tanggung jawabnya diberikan sementara pada Suga. Hah… sungguh melelahkan. Apalagi dirinya yang masih sedikit mengantuk –karena tadi malam insomnianya kambuh. Oh yeah… sudah cukup derita yang dialaminya di pagi yang cukup cerah ini.
Masih merapihkan beberapa dokumen yang berserakan di meja khusus Ketua OSIS sambil sesekali menguap menahan kantuk. Ah, sialan, ia ingin tidur. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan OSIS dan menghampirinya. Oh, hanya Seok Jin yang –tumben sekali sudah datang jam segini. Suga menatap heran wajah Seok Jin yang berseri-seri –layaknya seorang anak yang baru saja di berikan permen segudang. Aneh, pikir Suga.
"Pagi Yoongi! Eh… kemana Namjoon?"
Suga pun membalas dengan sedikit malas, "Pagi Jin Hyung. Namjoon sedang sakit, jadi ia tidak masuk hari ini." Seraya menguap kembali –entah untuk yang kesekian kalinya.
Seok Jin hanya mengangguk mengerti kemudian mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tas-nya. Memeriksa terlebih dahulu setiap lembar dokumen tersebut, lalu menyerahkannya pada Suga. "Ini hasil dokumentasi saat rapat kemarin, karena Namjoon tidak ada, jadi aku serahkan padamu saja."
Suga menerima dokumen tersebut lalu menaruhnya di meja miliknya. "Baiklah, terimakasih Jin Hyung."
"Tidak masalah. Itu sudah tugasku,"
"Ngomong-ngomong, kau sedang senang ya hari ini?"
Seok Jin terkekeh kecil. "Yah, begitulah. Seperti yang kau lihat. Sudah ya, aku harus ke klub basket dulu. Bye!"
"Dasar aneh."
.
Seorang pemuda disana –tepatnya di dalam ruangan klub tari, atau lebih dikenal dengan sebutan dance club, sedang asik meliuk-liukan badannya yang terlihat lentur. Irama musik memenuhi ruangan itu. Karena sudah merasa cukup menggerakan tubuhnya yang sudah mulai mengeluarkan keringat, jadi sang pemuda –yang diketahui nama samarannya adalah J-Hope mulai membuka kaus longgarnya yang basah akan keringatnya. Berkeringat itu sehat, bro. Sambil mengipasi dirinya sendiri dengan sebuah majalah porno –eh ralat, maksudnya majalah ponsel. Saking terlalu asik mengipasi dirinya sendiri, ia sampai tidak sadar bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan yang memang masih sepi itu, hanya ada dirinya saja seorang diri.
"HUATCHIII!"
"ASDFGHJKL! APAAN TUH?!"
J-Hope yang mempunyai reflek berlebih langsung salto ke belakang lima kali. Lalu menoleh ke arah pintu masuk ruang club. Dan disana ada seseorang bermata sipit, yang diketahui bernama asli Park Jimin. "Ternyata kau sipit! Membuatku kaget saja,"
Suara bersin yang diketahui berasal dari Jimin membuat J-Hope sedikit kesal. Dan reaksi Park Jimin datar-datar saja sambil sesekali mengusap hidungnya yang terlihat merah. Hooo… Park Jimin sedang flu, kawan!
"Maaf Hoseok Hyung. Aku tidak bermaksud mengagetkanmu –sampai kau salto ke belakang seperti itu."
J-Hope memutar bola matanya, "Sudahlah lupakan, aku ingin ke kamar mandi."
Jimin melihat dengan seksama. Objek yang sedang di amatinya adalah seorang Jung Hoseok yang tidak memakai atasan, kemeja sekolah yang ada di sudut ruangan, dan sebuah majalah por –ponsel maksudnya. Kira-kira… apa yang sedang dipikirkan Jimin? Mari kita lihat.
"Hoseok Hyung… kau tidak sedang masturbasi 'kan?"
PLAKK
Majalah ponsel pun mendarat dengan mulus di wajah Jimin.
"SIALAN KAU, HOOBAE SIPIT!"
.
"Artropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan, dan hewan sejenis lainnya. Artropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara, termasuk berbagai bentuk simbiosis dan parasit. Kata Artropoda berasal dari bahasa Yunani –,"
Taehyung menguap untuk ketiga kalinya hari ini. Sungguh membosankan sekali pelajaran biologi –dan ini berkebalikan dengan Jimin yang terlihat serius memperhatikan sang guru yang masih setia menjelaskan apa itu Artopoda, yang sebenarnya sudah dipelajarinya saat SMP dulu. Taehyung kira pelajaran pertama hari ini adalah Fisika –yang pasti kalian ingat saat kemarin malam Jimin memintanya untuk mengajarkan materi Fisika saat SMP dulu. Jadi, ia sama sekali tidak berminat sama sekali dengan materi yang sudah jelas masih teringat didalam memori otaknya. Mulai bosan, Taehyung menoleh ke arah sampingnya –pada jendela yang menghubungkannya dengan lapangan basket sekolah.
Ia melihat sekolompok orang –yang sepertinya kakak kelasnya yang sedang mengikuti pelajaran olahraga. Meneliti setiap orang-perorangannya –siapa tahu ada kakak kelas yang di kenalnya. Fokus terhadap apa yang sedang di carinya, ia tidak sadar bahwa sang guru Biologi sedaritadi memanggil namanya. Mulai kelihatan jengah juga tidak enak –Park Jimin selaku teman sebangkunya menyikut pelan Taehyung yang dikiranya sedang melamun. Taehyung segera tersadar dan menoleh pada Jimin –disahut oleh delikan tajam yang mengarah pada sang guru Biologi yang menatapnya tajam dibalik kedua bingkai kacamatamata bacanya. "Taehyung-ssi, kau di panggil oleh wakil ketua OSIS. Silahkan keluar dan temui dia, dan tolong jangan ulangi perbuatanmu yang tidak memperhatikan gurumu saat sedang mengajar."
"M-maaf seonsaengnim, saya tidak akan mengulanginya lagi." Sesal Taehyung. "Baiklah, silahkan pergi ke ruang OSIS kalau begitu."
Taehyung pun berjalan keluar dari bangkunya lalu membungkuk hormat pada sang guru –sekaligus perminta maaf kemudian ia berjalan pergi menuju ruang OSIS.
Kakinya terus melangkah disepanjang koridor dan tanpa sengaja ada sebuah bola basket yang memantul pelan ke arahnya lalu mendarat di kaki kanannya. Dengan segera ia mengambil bola basket tersebut lalu mendongak ke depan saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Semakin lama semakin dekat, dan ternyata itu Seok Jin yang berlari ke arahnya dengan memakai… baju basket. How sexy you are!
Gugup sedikit melandanya. Aish… ia bingung. Kenapa saat setiap kali bertemu dengan Seok Jin jantungnya serasa berdetak lebih cepat? Dan kenapa pandangannya tidak mau teralihkan dari objek tersebut. Sial.
"Hai malaikat! Kita bertemu lagi," Sapa Seok Jin sambil tersenyum mempesona. "Ngomong-ngomong tadi bola basket itu tidak melukaimu 'kan? Aku taditidaksengaja memnatulkannya ke lantai."
"Hai juga Jin Hyung, dan y-yah… aku tidak apa-apa." Jawab Taehyung dengan kegugupannya –yang berusaha ia normalkan kembali detak jantung di dalam tubuhnya.
Seok Jin menghela nafas lega. "Syukurlah, kalau begitu. Tapi, kenapa di jam pelajaran kau ada dikoridor saat ini?"
Taehyung menggaruk pipinya gugup, "Tadi… katanya aku dipanggil oleh Ketua OSIS. Jadi, aku akan segera kesana sekarang."
"Eh? Begitukah? Kurasa arah jalan kita sama. Ayo pergi bersama kalau begitu!"
"Eh? K-kau juga di panggil, Jin Hyung?" Sebagai jawabannya, Seok Jin hanya menganggukkan kepalanya dan segera menyeret Taehyung menuju ruang OSIS.
Ah, jantung kenapa kau tidak mau berhenti berdetak dengan cepat seperti ini.
.
"Kim Tae Hyung?"
"Ya, itu saya."
Sang wakil ketua OSIS menganggukan kepalanya mengerti.
"Jeon JeongGuk?"
"Ya, saya JeongGuk."
Kembali menganggukan kepalanya untuk kedua kalinya. "Baiklah kalau begitu lengkap sudah."
"Aku tidak ditanya?" Seok Jin menunjuk dirinya sendiri yang hanya ditatap sebelah mata oleh sang wakil Ketua OSIS –Min Yoongi.
"Untuk apa? Aku sudah mengenalmu, Hyung. Jangan konyol disaat seperti ini."
Jung Kook yang reflek menoleh ke arah sampingnya dan reaksinya,
"KAU?!"
Seok Jin yang merasa terpanggil segera menoleh dan, "HEH?! KAU BOCAH YANG TADI PAGI, EOH?"
Yoongi juga Taehyung hanya cengo melihat mereka berdua.
"Uhk, maafkan aku sunbae. Ternyata sunbae bukan Ajusshi." Ucap Jung Kook dengan polosnya.
"Hah, sudahlah. Lupakan yang tadi pagi, dan mulai sekarang panggil aku dengan benar."
"Aku mengerti, Jin Hyung."
Dua orang pemuda yang sedaritadi cengo pun saling berpandangan seolah-olah bertelepati dengan pertanyaan; 'Jadi Seok Jin (hyung) itu Om-om, begitu?'
"Huft, sudahlah lanjutkan." Kesal Seok Jin sedikit… manja? what?
Yoongi hanya menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Rasanya tadi pagi aura Seok Jin itu sungguh membuatnya sakit mata sekaligus pusing. Karna sedari pagi ia terus menebarkan senyum bahagianya –yang berdampak pada teman sekelasnya yang di kerubungi oleh para fans Seok Jin yang jumlahnya –tidak bisa dihitung dengan jari tangan juga kaki sekalipun. Otomatis keaadaan kelasnya –yang memang sekelas dengan Seok Jin mengalami tawuran –dengan arti lain adalah para fans wanita yang terus berteriak histeris juga berbondong-bondong masuk ke kelas dengan gaya anarkis dan para teman sekelasnya yang melindungi ruang kelas agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan –sebelum adanya guru masuk. Sungguh terlalu kau, orang terkenal aka Kim Seok Jin.
"Apa kalian bertiga tahu untuk apa aku memanggil kalian kemari?"
Mereka bertiga dengan serempak menggelengkan kepalanya kompak ala gaya orang lagi dugem.
"Aku memanggil kalian, untuk meminta persetujuan."
Taehyung mengernyitkan dahinya heran, "Persetujuan apa maksudnya?"
"Berhubung akan diadakannya Drama pentas seni satu minggu lagi, jadi aku bermaksud untuk merekrut kalian sebagai salah satu pemeran utamanya. Apa kalian setuju?"
Hening untuk beberapa saat.
"Err… maaf, tapi kenapa harus kami? Maksudku, aku dan V Hyung?" Tanya Jung Kook yang belum mengerti.
"Karna anggota klub Seni kekurangan pemain inti. Jadi kuharap, tidak ada penolakan untuk ini, termasuk kau Jin Hyung."
Jadi ceritaya Yoongi nyuruh atau maksa 'sih?
"Aku 'sih tidak masalah sama sekali." Sahut Seok Jin dengan gayanya yang selangit.
Taehyung juga Jung Kook saling berpandangan dengan telepati sebagai berikut; 'Bagaimana menurutmu?'
"Emm… kalau memang dibutuhkan, aku juga tidak menolak." Ucap Taehyung yang di barengi dengan anggukan setuju dari Jung Kook.
"Baiklah, sudah di putuskan. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik bersama anggota klub seni –sekaligus mungkin kalian akan berminat masuk ekskulnya." Ujar Yoongi.
"Bergabung saja dengan klub basket, di jamin seru!" Celetuk Seok Jin tiba-tiba.
"Tolong jangan promosi di saat seperti ini, Jin Hyung." Ucap Yoongi bosan. "Heh? Kau sendiri yang mulai, Suga."
Merekapun saling bertatapan tajam.
"Emm… kalau boleh tahu, drama apa yang nanti akan di pentaskan?"
Yoongi menoleh pada Taehyung dan menjawab, "Kami berencana untuk mementaskan drama comedy-parody. Jadi bukan drama yang serius, tentu saja."
"Dengan tema Cinderella." Lanjutnya.
;APAAA?!
.
.
-000-
To Be Continued.
Haoha~! Kangen Kay engga? (gak ada woy.)
Hehe, ini chapter tiganya. Maaf kalau lama banget, sebulan ada kali ya? Habisnya saya sibuk banget T^T Mian readers-nim :(
ya! Maaf juga kalau chapter ini garing sangat, dikarenakan mood saya yang sedang labil-labilnya.
Maaf juga kalau semakin gaje.
FIC INI HANYA UNTUK HIBURAN SEMATA OKAY!
Saya berharap semoga semua terhibur ya, tidak ada unsur yang aneh-aneh kok ^^
Reply Review:
Sh3nn0: Iya kay tau ini sangat teramat gaje /pundung ke pojokan/ Hoho makasih sudah review yaaa
TaeKai: Terimakasih atas pujiannya /kibas rambut/ /slapped :v Hehe ini sudah lanjut yaaa
KimmyJinV.s: Jin memang tukang modus, waspadalah! Padahal kalau banyak komen kay malah seneng /heh :v Ini sudah lanjut ya walau telaatt
Fujoshistan: Hoho nanti kay usahakan buat banyakin momentnya 'kay!
N-Yera48: Makasih banyak pujiannyaaa /terhura/ :D Ini sudah lanjut 'kay! Maaf kalau lama yaaa
Diradesfi00: Eh sampai ngakak? Berarti humornya ampuh gitu ya :V Ini sudah next maaf kalau lama yaaa
darkhyuners shinning: E-eh kangen? Ya allah ternyata ada yang kangen kay :3 /slapped Hoho maaf lanjutannya lama yaa maafkan
btsjeyhorse: Emon? Bisa jadi bisa jadi! Ini sudah lanjut 'kay!
Belaaa: Hmm… insyaalah ya, kalau ada ide ceritanya kay buatkan untukmu, tapi ga janji ya… soalnya butuh mood+ide juga :D Hoho ini sudah lanjuttt
Rewy: Ini sudah lanjutt hoyy
Yeri kim: Alhamdulilah masih hidup setelah berkelana di negri Jiran /apa :v Aduh maaf lama yaa, ini juga baru update huhu maafkan daku. Silahkan dinikmati chapter ini yaa
Bumkeeyk: Ini low update -_- maafkan daku yaa, silahkan dinikmati chap ini 'kay!
Linkz Account: Wkwkdaku suka menistai Park Jimin aka Hoobae sipit/slapped Hoho :v
Vlucuimut: Kay setuju banget sama penname mu/? :v Hoho gapapa, kay juga kadang orangnya aneh kok, seperti sekarang /halah Ini sudah lanjut!
TaehyungCantik: Yang telpon dicurigai pelakunya adalah emon/?
Kim Xiu Xiu Hannie: Wkwkwk :v Siapkan tissue!
Hoho, maafkan Kay, ini moodnya lagi absurd –jadi balesnya juga absurd (mohon dimaklum /bow/)
Last, thanks for reviewer, favorites, and follows too~! :3
Khamsahamnida :)
Review, please?
Salam,
-Kay-
