-JIKAN-

A Naruto Fiction By Herocyn Akko

Pairing: X

Warning: KAYAK SINETRON!

.

~DLDR~

...

Ditengah keramaian Pusat Kota Ame, terlihat seorang Gadis kecil tengah memandang orang orang yang berada disekitarnya. Dari sorot matanya terpampang jelas jika dia sedang ketakutan. Baru beberapa menit yang lalu dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang Ibu, tapi sekarang bahkan bayangan Ibunya saja dia tak lihat. Tak lama, terlihat setetes liquid bening yang keluar dari pelupuk mata sang Gadis kecil, disusul oleh tetesan lainnya, dan turun lagi setetes, dan kemudian tetesan tetesan itu jatuh di tanah membentuk pola dot yang tak beraturan sebelum sepenuhnnya hilang terserap oleh tanah.

"Kaachan..Hima takuut...Hiks...Kaachan kemana?". Sesegukan kecil pun mulai terdengar dari celah bibir mungilnya yang bergetar, beberapa orang memandangnya kasihan, ada juga yang hanya melirik sejenak kemudian berlalu begitu saja.

Sampai ada seseorang yang tak sengaja menabraknya dan menyebabkan tubuh mungil itu jatuh terduduk di tengah padatnya orang yang berlalu lalang. Sekali lagi, mereka hanya melirik sejenak kemudian melanjutkan langkahnya seakan tidak melihat.

"Hiks Hiks...Kaachan" Himawari memandang tangannya yang terluka akibat berbenturan dengan tanah, memang bukan luka besar, tapi anak anak kan memang seperti itu, baru luka sedikit sudah menangis.

"Aaaah... maafkan aku, aku tidak sengaja. Apakah tanganmu sakit?" orang yang tadi menabraknya itu langsung berjongkok dan memegang telapak tangan Himawari yang terluka.

"Sakit Niichan..."

Si penabrak yang ternyata Boruto itu membawa himawari ke pinggiran toko lalu mendudukkannya di tanah. dia meniup lukanya dan menghilangkan kerikil kerikil kecil yang berada di telapak tangan Himawari. "Apa masih sakit?" tanyanya sambil menatap wajah Himawari

"Hiks...Sa-sakiiit" matanya masih belum lelah mengeluarkan butiran butiran air mata, hal itu membuat Boruto panik

Boruto mengambil botol air yang tergantung dipinggulnya, lalu menyiramkan sedikit pada luka yang berada di tangan Himawari.

"Au.. Sakit!" Himawari berteriak merasakan perih saat lukanya terkena air

"Maaf, sabar sedikit yah!"

Boruto membuka ikat kepalanya lalu melilitkan kain tersebut pada luka Himawari.

"Nama kamu siapa?" tanya Boruto

"Himawari" jawabnya cepat

"Bunga Matahari yah?". Anggukan penuh semangat diberikan oleh Himawari

"Nah sudah selesai..." ucap Boruto senang

"Terima kasih Niichan" Himawari tersenyum manis, dibalas dengan senyum lebar oleh Boruto

"Sama-sama! mau Niichan antar pulang?" tawar Boruto

"Memang Niichan tau dimana rumah Hima?"

"Eh! Kamu nggak tau dimana?". Himawari hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Jadi kamu kesini dengan siapa?"

"Kaachan!"

"terus Kaachan Hima dimana?"

Himawari kembali menggelengkan kepalanya. Sedangkan Boruto, dia menepuk jidatnya dengan keras. 'sekarang aku harus apa?' batin Boruto

.

-JIKAN-

Di perbatasan Konoha

Langkah Seratus rombongan prajurit dari Devisi 3 yang di pimpin oleh Hyuuga Neji harus terhenti di perbatasan Konoha-Kusa, sebab mereka tidak tau harus mencari ke arah mana, kemungkinan terbesar memang kedua Pangeran pergi ke Suna, akan tetapi Iwa tidak boleh di lewatkan begitu saja. Bisa jadi Kedua pangeran ke Iwa bukan? Kemungkinan tersebut akan selalu ada. Kala sang Jendral Devisi sedang memikirkan kemungkinan itu, Seorang Prajurit mendekati Kudanya.

"Sumimasen Hyuga-Dono! Kenapa kita berhenti disini?". Tanya Prajurit tersebut

"Ah!, Kita Harus membagi Pasukan menjadi 2. Sebagian ke Iwa dan sebagian lagi Ikut aku ke Suna." Jelas Neji

"Kenapa begitu?"

"Kita tidak boleh melewatkan kemungkinan tentang Pangeran yang berada di Iwa hanya karna Suna memiliki peluang lebih besar sebagai tempat mereka kabur!". Neji berbalik dan menatap Prajurit yang berada disampingnya itu.

"Kau yang akan memimpin pasukan ke Iwa, bawalah sebagian dari perbekalan. Karna bukan tidak mungkin pencarian ini memakan waktu yang tidak sebentar!" Lanjutnya kemudian

"Apa?..Tapi-" ucapannya terpotong oleh Neji yang mengeluarkan suara yang bernada Mutlak dan tak ingin dibantah

"Kau tidak boleh menolak, turuti saja perintahku!"

"Hai'!"

...

Rombongan Pasukan dari Devisi 3 akhirnya berpisah di Kusagakure, sebagian Pasukan melakukan pencarian ke Iwa di Pimpin oleh salah satu Prajurit kepercayaan Kaisar. Inuzuka Kiba. Dan sebagian lainnya ke Suna bersama Jendral Hyuga Neji.

Hyuga Neji. siapa yang tidak mengenalnya?, Marga Hyuga jelas berpengaruh banyak pada pandangan orang terhadapnya, Hyuga adalah Klan yang menempati posisi kedua dalam keMiliteran di Konoha setelah Uchiha. Siapa yang tidak mengenal Hyuga? Besan dari keluarga Kerajaan-walaupun itu hanya dulu-, ya dulu..karna sekarang, Putri pemimpin Klan yang merupakan Istri Kaisar telah diasingkan keluar dari istana!. Pertanyaannya, kenapa Hyuga Neji masih tetap berjaya dan dipertahankan pada Posisinya sebagai Jendral setelah hal memalukan yang membawa nama keluarganya? Jawabannya simpel, yang berbuat kesalahan adalah 'Istri Kaisar' kenapa harus Hyuga yang dihukum?.

Kaisar memerintahkan Devisi 3 yang melakukan pencarian akan Kaburnya kedua Pangeran dari Istana bukan tanpa alasan. Diantara seluruh Jendral-bahkan seluruh Istana- hanya Neji dan Kakashi sajalah orang yang dekat dengan kedua Pangeran-pengecualian untuk Uchiha Shin, anak Jendral Itachi dan Uchiha Sarada, Putri dari Panglima Uchiha Sasuke yang umurnya masih sama dengan Pangeran Boruto. Jelas tidak ada pilihan lain, Kakashi sedang berada di Suna sekarang, dia menjadi tenaga Pendidik di Sekolah Militer Suna. Hyuga Neji jelas pilihan terakhir.

Pasukan di bawah Pimpinan Hyuga Neji telah sampai di kawasan Ame, para Prajurit harus bergerak dengan cepat dan teliti, karna yang sedang mereka cari adalah Putra Mahkota.

Mereka semua mulai berpencar setelah setuju berkumpul di perbatasan jika tidak ada tanda keberadaan Pangeran di Ame. salah seorang prajurit tengah menunggangi kudanya sambil mengamati sekeliling, matanya memicing saat tanpa sengaja menangkap refleksi seorang wanita dengan helai rambut Indigo sepunggung yang sedang berlari di tengah padatnya manusia yang berlalu lalang, Wanita yang sudah beberapa tahun tak pernah dia lihat, bahkan batang hidungnya.

"Bukankah Orang itu-?" bisiknya tidak percaya, matanya memicing untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya tidak salah.

'Dia...Permaisuri Hinata!'

Kedua bola matanya membola ketika sadar bahwa orang yang baru saja dilihatnya memang adalah 'Mantan majikan'-nya.

"Permaisuri!." Mulutnya refleks berteriak, hingga menimbulkan semua orang yang berada di sekitar menoleh kearahnya. Tak terkecuali Neji yang berada tak jauh dari posisi sang Prajurit. Neji turun dari kudanya, dan melangkah mendekati Kuda Prajurit yang tadi berteriak

"Ada apa?" Neji menepuk pelan punggung Prajurit itu, agar si Prajurit sadar akan keberadaannya.

"Ah-!." Kaget akan tepukan di punggungnya, si Prajurit sontak berbalik. Melihat Neji berdiri di bawah sedang dirinya duduk di atas kuda, Prajurit itu pun turun dari kudanya dan berojigi sebentar. "Sumimasen Hyuga-dono, Saya tidak melihat Anda."

"Tidak apa-apa!. Kenapa kau berteriak?"

"Ano, mmm...Saya sepertinya melihat Permaisuri!" Ujar Prajurit itu dengan nada ragu.

"Permaisuri!?. Jangan bergurau! Apa yang dilakukan Permaisuri di Ame?". Neji menekuk alisnya dalam, berusaha menegaskan ketidakpercayaannya. "Mana mungkin iblis itu sudi menginjakkan kaki di daerah kumuh seperti ini?." Neji bertanya pada dirinya sendiri dengan nada sepelan dan sekecil mungkin, kan bisa bahaya kalau Prajurit yang lain mendengar lalu melaporkannya pada Permaisuri.

Sedangkan si Prajurit sedang menyusun kata-kata yang tepat di dalam otaknya untuk diberitahukan kepada Neji, agar Neji tidak terlalu terkejut mendengar penjelasannya.

"Begini Hyuga-dono, bukan Permaisuri Shion...tapi, Maksud Saya itu...Adik Anda."

Neji memandang bingung Prajurit itu. 'Siapa tadi yang dia katakan? Adik Anda? Maksudnya Adikku? Siapa? Hanabi? Tapi..dia bilang Permaisuri. Sejak kapan Hanabi jadi Permaisu-' pikirannya yang sedang membuat sebuah kesimpulan tiba-tiba terhenti, kala dirinya mendengar sebuah bisikan di telinganya. Hinata. Itulah yang Neji dengar. Nafasnya tertahan seketika, Kedua bola matanya membola seakan akan keluar dari kelopaknya. Sesaat setelah itu, dia memandang si Prajurit, seakan meminta penjelasan dan kepastian akan pemikirannya. Seakan paham akan arti tatapan Neji, si Prajurit menganggukan kepalanya.

"Dimana?" tanyanya lirih

"Arah jam 3."

Tanpa berpikir panjang, Neji langsung berlari, menerobos kerumunan orang di depannya yang sedang berjalan, bahkan seorang nenek yang tak sengaja dia tabrak pun tak dia hiraukan, sekarang di pikirannya hanya ada Hinata, Hinata dan Hinata.

'Benarkah itu kau?...Hinata."

...

-JIKAN-

...

Kyuubi berlari dengan tergesa gesa di tengah padatnya orang yang berlalu-lalang. Kepalanya sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan. Hatinya sedang gelisah, sampai sekarang dia masih belum menemukan Boruto. Padahal Prajurit kerajaan telah berada di sekitar sini. Bagaimana jika Adiknya itu tertangkap?.

'Huh!' Kyuubi mendengus dalam hati. 'Padahal tadi bilangnya hanya jalan jalan sebentar, kenapa sampai sekarang tidak kembali juga?'.

"Bolt!" Kyuubi yang tidak tahan akhirnya berteriak memanggil nama Adiknya. Beruntunglah tidak ada Prajurit kerajaan yang mendengar teriakannya.

"Oh ya Tuhan!, kemana perginya Anak ini!?. Bolt!."bahkan mulutnya sudah mulai menggerutu sebal.

Sementara itu di depan sebuah toko, Boruto dan Himawari yang sedang asik berbincang bincang tentang 'Kaachan Himawari' tersentak mendengarkan teriakan Kyuubi. Boruto langsung berdiri ketika mendengarkan suara yang sudah dia hafal setengah mati. Ini suara Kakaknya. Tentu saja!. Irish shappire-nya sibuk mencari pemilik si suara yang berada di tengah lautan manusia. Saat melihat kakaknya yang sepertinya kelimpungan mencari sesuatu, Boruto meneriaki Namanya dan melambaikan tangan dengan penuh semangat.

"Kyuu-nii!."

Kyuubi yang mendengar suara teriakan yang memanggil namanya berusaha memfokuskan penglihatan pada Boruto ang melambai lambaikan tangan, setelah yakin bahwa yang dilihatnya memanglah Boruto, barulah kedua kakinya kembali melangkah menuju Adik tersayangnya itu

"Bolt!. Kau ini, dari mana saja? Niichan dari tadi mencarimu tau!". Boruto langsung mendapat semburan ceramah dari Kyuubi.

"kenapa Kyuu-nii mencariku?." Tanya Boruto heran.

"Ah! Niichan akan menjelaskannya di perjalanan. Pokoknya sekarang kita harus pergi dari Ame." Kyuubi menarik tangan Boruto agar ikut dengannya. Akan tetapi Boruto tidak bergeming dari tempatnya.

"Kenapa diam saja? Kita harus pergi secepatnya Bolt! Ayo!." Bukannya ikut dengan Kyuubi, Boruto justru menghempaskan tangan Kyuubi dari tangannya kemudian berbalik ke arah Himawari dan menggenggam erat jemari kecilnya.

"Kalau aku pergi, himawari sama siapa?" tanya Boruto sambil menatap Kyuubi dengan tatapan memohon.

"tidak ada waktu lagi Bolt! Kita harus pergi sekarang juga!". Bahkan nada bicara Kyuubi sedikit meninggi untuk menghadapi kekeras kepalaan Boruto.

"Aku tidak mau pergi! Aku mau menemani Himawari".

"Haah!..." Kyuubi menghela nafas pelan melihat sikap keras kepala Boruto.

"Kumohon Niichan...dia sendirian. Setidaknya biarkan aku menemaninya hingga Kaachan-nya datang." Boruto memelas sedemikian rupa hanya untuk menemani Himawari.

"Kau yang tidak mengerti Bolt!. Prajurit kerajaan sekarang sudah ada di Ame, Kita harus segera kabur, jika tidak kita berdua akan tertangkap. Jika Kita tertangkap Kita tidak bisa lagi untuk mencari Kaachan, Sekarang apa Kau mengerti?". Boruto tersentak mendengar Kakaknya berteriak pada dirinya, selama 9 tahun hidupnya, Kyuubi tidak pernah berteriak dengan wajah yang memerah dan mata memicing tajam pada dirinya. Sedangkan Kyuubi yang sadar akan perkataannya yang terlampau kasar pada Boruto langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan disertai mata membola kaget.

'Oh...apa yang aku lakukan?' batinnya menyesal. "Bolt... Ma-maafkan Niichan!"

Kyuubi berjalan mendekat berusaha meraih tangan Boruto yang bebas. Namun Boruto melangkah mundur hingga membentur dinding Toko yang kotor sambil menarik tangan Himawari bersamanya. Himawari hanya menatap bingung pada Boruto yang terlihat ketakutan sambil memandang seseorang yang tadi dia panggil Kyuu-nii. Hanya satu kesimpulan yang bisa ditarik oleh otak polosnya. Niichan di sampingnya ini takut pada Niichan galak dihadapannya.

Himawari menarik tangannya yang digenggam dengan erat oleh Boruto, kemudian melangkah mendekati Kyuubi. Kepalanya mengadah guna melihat wajah Kyuubi yang tingginya jelas berbeda jauh dengan dirinya, lalu tangan kecilnya terangkat dan menunjuk wajah Kyuubi.

"Niichan galak!. Jangan ganggu Niichan Hima!. kalo masih marah-marah Hima bakal pukul!." Hima berbicara dengan nada mengancam, berusaha terlihat sangat seram. Bahkan mata bulatnya memicing dan bibirnya mengerucut.

Tapi bukannya takut, Kyuubi justru melongo layaknya orang bodoh. Benaknya bertanya tanya, Apa Anak kecil ini sedang mengancamnya? Atau berusaha membuatnya tertawa?. Kami-sama...siapa yang takut melihat wajah yang mirip anak kucing ini.

'Gadis Kecil ini memarahiku?. Benarkah?'

Sedetik kemudian, tawa Kyuubi meledak dengan sangat dahsyat. Hingga beberapa orang yang mendengarnya memandangnya heran, terganggu bahkan ada yang memandang sinis. Tak terkecuali telinga tajam dari Hyuga Neji yang sedang berlari tak jauh dari posisi Kyuubi. Langkah kakinya sontak berhenti mendengar suara tawa yang begitu familiar di telinganya. Dia bahkan telah melupakan tujuannya berlari di tengah kerumunan orang yang berlalu lalang ini.

'Tidak salah lagi! Ini pasti Kyuubi."

Bola matanya sibuk mencari kesana kemari, memastikan apakah pendengarannya memang benar atau hanya ilusi. Saat bola mata manik Amethys itu menangkap refleksi seorang remaja dengan hakama berwarna ungu dan rambut spike blonde, Neji yakin bahwa itu memang benar benar Kyuubi. Karna posisi Kyuubi yang sedikit jauh untuk di jangkau, Neji akhirnya berteriak memanggil Kyuubi.

"Pangeran Kyuubi!."

Pundak Kyuubi yang tadinya bergetar hebat karna tertawa tiba tiba menjadi kaku mendengar seseorang memanggil namanya dengan sebutan Pangeran. Sudah pasti itu Prajurit Kerajaan. Matanya langsung memandang Boruto yang masih bersandar di dinding toko-tidak terpengaruh terhadap tawanya yang menggelegar. Dia melangkah mendekati Boruto dan menarik tangannya

"Tidak ada waktu lagi Bolt! Kita harus pergi sekarang! Ayo." Kyuubi menarik Boruto dengan paksa karna Boruto yang tidak ingin pergi dari tempat itu dan meninggalkan Himawari.

"Kyuu-nii lepaskan Aku!. Aku tidak mau pergi. Lepaskan Aku!." Boruto terus berontak sedangkan Kyuubi semakin gencar menarik Boruto saat melihat Paman Mereka-Neji- berlari mendekat.

"Ayolah Bolt! Jangan hiraukan gadis itu. Sekarang kita harus pergi, Neji-jisan sudah dekat. Cepatlah!."

Boruto masih terus berontak dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kyuubi, matanya memandang Himawari yang terlihat telah meneteskan air mata sambil terus berteriak 'Niichan'. Gadis kecil itu sepertinya benar benar ketakutan di tinggal sendirian lagi.

"tunggu Niichan Hima! jangan kemana mana!." Sebelum menghilang di tengah banyaknya orang yang sedang berlalu lalang, Boruto berteriak berharap Himawari mendengarkannya.

Sedangkan Neji yang telah sampai di depan toko tempatnya tadi melihat Kyuubi,membungkuk sejenak sambil memegang kedua lututnya dan menarik nafas sebanyak mungkin untuk menormalkan nafasnya yang tersengal sengal sehabis berlari. Saat mendongakkan kepala, bukannya melihat sang Pangeran dia malah hanya melihat gadis kecil-Himawari- yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memandang ke arah orang orang yang lewat. Karna tak melihat adanya seseorang yang mendekat pada anak gadis yang belum dia ketahui itu, akhirnya Neji menghampiri dan berjongkok di hadapannya.

"Hei... kenapa kau menangis?" tanya Neji sambil memegang kedua pundak anak itu

Tapi bukannya diam, Himawari justru mengeraskan suara tangisannya sambil berteriak memanggil Niichan. Neji sekarang sangat bingung, tak tau harus melakukan apa. Kedua Anaknya adalah laki-laki, dan tidak pernah menangis sekeras ini. Sedangkan dihadapannya, seorang anak perempuan yang sedang menagis. Sekali lagi Anak Perempuan. Tolong catat hal itu. Dan didalam pikirannya, Neji sedang merencanakan untuk membuat anak perempuan bersama sang istri setelah Misi Pencarian Pangeran selesai. Oh, bahkan sekarang otaknya sedang berimajinasi dengan liar.

"Hiks...Niichan-Niichaaan!...huuhuhuhu-." lamunan mesumnya terhenti saat mendengar Himawari mulai sesegukan bukti bahwa dia menagis sudah cukup lama.

"Hush...jangan menangis, sini sama Paman!." Neji yang tak tau lagi harus berbuat apa hanya bisa menawarkan sebuah pelukan pada dirinya. Namun tidak disangka-sangka, Himawari ternyata menyambut pelukannya dengan erat. Padahal Neji telah mempersiapkan kemungkinan terburuk jika anak itu menolak pelukannya.

Neji tersenyum hangat, tangannya mengusap pungguh Himawari dengan pelan. ternyata seperti ini rasanya dipeluk oleh anak perempuan. Neji pun berdiri sambil menggendong Himawari yang masih memeluknya sambil sesekali sesegukan.

Setelah suara sesegukan tidak terdengar lagi, Neji menurunkan Himawari dari gendongannya dan kembali berjongkok di hadapan Himawari. Jari jari kekarnya menghapus bekas bekas air mata di pipi anak itu. Lalu tersenyum kecil.

"Namamu siapa?." Neji bertanya dengan pelan pada Himawari

"Himawari...kalo nama Paman siapa?". Himawari balik bertanya sambil memandang Neji dengan mata memerah sehabis menangis.

"Hyuga Neji!. Aku adalah salah satu Jendral Pasukan Kerajaan. Hebat tidak?." Neji menjawab pertanyaan Himawari dengan nada sombong dan membanggakan diri.

"Nama paman sama dengan nama Kaachan Hima!." mengabaikan Neji yang berusaha menyombongkan diri, Himawari justru lebih tertarik pada nama Neji yang katanya sama dengan nama ibunya. Neji pun tak ambil pusing.

"benarkah? nama Kaachan Hima sama dengan Paman? Maksudnya nama Kaachan Himawari...mmm Neji?." Tanya Neji ragu. Biar bagaimanapun, pasti rasanya aneh jika namamu mirip dengan orang lain, apalagi yang berbeda uhuk-jenis kelamin-uhuk.

"Hihihi...Bukan Neji, tapi nama depan paman!. Kaachan Hima juga namanya ada Hyuga!."

Neji menyergitkan alis. 'ibunya seorang Hyuga? Ah masa'sih?." batin Neji.

"Hyuga? Memangnya nama Kaachan Himawari sia-." Perkataan Neji terpotong oleh Himawari yang tiba tiba saja berteriak dengan keras.

"Kaachan!." Himawari berteriak sambil melambaikan tangan ke sesuatu yang berada di belakang Neji. Neji pun berbalik.

Betapa terkejut dirinya saat melihat seseorang yang sangat sangat ia rindukan kehadirannya selama hampir 7 tahun tidak bertemu berada di belakangnya. Dia adalah Hinata. Hyuga Hinata. Adiknya!. Badannya refleks berdiri sehingga Himawari yang berada di belakangnya sekarang tersembunyi.

Tak jauh berbeda dengan Neji, Hinata pun kaget melihat Neji. Dia juga sangat merindukan kakaknya. Tapi Hinata tau, ini salah. Tidak seharusnya mereka bertemu.

"Hinata...Benarkah itu kau?." Neji berbisik lirih. Kakinya melangkah dengan pelan mendekat ke arah Hinata

"Nii-san..." bisikan lirih yang tak luput dari telinga tajam Neji sudah membuktikan segalanya. Itu memang Hinata. Itu Adiknya.

Neji mempercepat langkahnya menuju Hinata kemudian memeluk Hinata dengan sangat erat. Oh betapa dia merindukan Adiknya ini.

"Ini nyata...Kau memang disini!. Kau disini!". Sudut bibir Neji tertarik ke atas di sertai setetes air mata yang terjatuh dari kelopaknya.

.

.

To Be Continued

Bacotan Akko:

Huaa...Akko ngareeet! Gomen Gomen Gomeeeen...

Maaf ya buat para reader yang nungguin fic ini*ngarep ada* Akko gak ngaret kan?*garukkepala*. Akko belakangan ini lagi sibuk hehehe...biasa, derita anak kelas 10. Tugas numpuk. Apalagi kalo udah akhir semester, Akko kudu lengkapin nilai yang bolong-bolong. Terus minggu ini sampai minggu depan itu Akko juga lagi ulangan Semester Ganjil

Sebenarnya fic ini udah selesai Akko ketik di laptop! Tinggal di Update aja! Tapi waktunya emang gak ada. Akko beneran serius belajar supaya nilai Akko cukup buat masuk Kelas IPA. Do'ain Akko yah*senyumlebar*

Sekali lagi Maaf bertubi-tubi dari Akko karna ngaret!*bungkuk*

Buat chap depan, Akko gak yakin bisa update cepet. Soalnya Akko masih harus belajar, terus lengkapin nilai. Belum lagi akhir Desember nanti sekolah Akko bakal ngadain PORSENI. Jadi mungkin updatenya Januari. Gak papa kan?

Ah Gomen juga karna belum bisa bales Review. Mungkin chap depan*senyumlagi*

Tapi sumpah Akko baca semua review kalian satu satu sambil senyum senyum kayak orang gila.

Jangan ragu buat kasih kritik dan saran di kotak review, via PM juga bisa. Akko bakal ladenin kok, tapi mungkin balesnya agak lama:p.

.

Review Please!

Akhir kata, Sankyuu~^^