Chapter 4 Up

.

.

.

ENJOY

.

.

.


~ナルトはサスケへ~

"Narutoooooo... For Jashin's sake..." Kiba berteriak gemas dari arah pintu masuk karyawan tempat Naruto bekerja. Pemuda penyuka anjing ini berlari dengan cepat kearah Naruto lalu dengan satu hentakan keras menarik Naruto dari posisi tidur ke posisi duduk.

"Kau ini kenapa tiduran lemas seperti ini lagi, hah? Sudah bosan hidup? Sini aku bantu menyingkirkanmu dari dunia ini." Lanjut Kiba dengan nafas turun naik menahan emosi, ia benar-benar kesal dengan posisi Naruto yang tertidur di meja dan kenapa selalu dirinya yang melihat posisi menyebalkan ini?

"Ada apa sih?" Bibir Naruto manyun, "Aku tiduran seperti itu bukan karena bosan hidup, tapi lagi menikmati hidup, kau tahu Kibaaaa?" Teriakan gembira Naruto memenuhi ruangan, pemuda itu setangah mengoncang tubuh Kiba.

"Hari ini aku bebas... Selama dua hari*. Aku akan bebaaassss dari Sasuke teme nan brengsek itu." Tawa itu terdengar semakin kencang dan masih setia mengguncang Kiba, tidak sadar kalau sahabatnya sudah mulai pusing akibat digoncang sedari tadi.

"Naruto hentikan goncanganmu, aku mual, bodoh..."

Tersadar Naruto hanya terkekeh pelan lalu melepaskan Kiba sambil menggumamkan kata maaf.

"Tsk!" Kiba membersihkan bahunya seperti baru saja terkena virus mematikan. "Kalau gembira, kau kan tidak perlu tiduran seperti itu. Aku pikir tadi kau menyerahkan diri untuk kubunuh."

Iris biru Naruto memutar jengah, "Kau berlebihan aho... Lagian belum ada pengunjung, suka-suka aku, mau berguling di lantai pun terserah." Lanjut Naruto sambil tertawa, benar-benar merasa lucu dengan ekspresi Kiba yang kehilangan kata-kata untuk membantah.

"Naru-chan... Hari ini kau bersemangat sekali..."

Sontak Naruto berbalik menatap ke pemilik suara yang menyapanya.

"Neji-nii?" Senyuman mengembang di bibir plum itu. "Hari ini ada waktu luang?" Naruto segera berlari kecil menyambut pemuda yang di panggil Neji barusan.

"Ya. Dan karena skripsiku sudah selesai jadi aku akan sering kesini." Jawab pemuda itu sambil merapikan helaian rambutnya yang mirip iklan shampo, bahkan para wanita pun akan iri melihat indah dan berkilauannya rambut itu.

Yup! Neji adalah pemilik cafe, pemuda berambut panjang ini sudah Naruto anggap sebagai kakak sendiri semenjak ia bekerja. Neji jarang sekali datang berkunjung karena kesibukan sebagai mahasiswa tingkat akhir, cafe ini lebih sering diurus oleh Hinata dan Hanabi sepupu Neji secara bergantian. Neji datang berkunjung hanya sekedar mengecek keadaan dan tidak sampai tiga puluh menit lalu kemudian pulang lagi.

Neji juga sangat baik dan pengertian, pemuda ini yang memberi Naruto ijin dan menyesuaikan jadwalnya menjadi ball person. Jika jadwal kerja Naruto bertabrakan dengan jadwal di cafe, maka Neji memperbolehkan Naruto untuk menukar jadwalnya dengan pegawai lain yang kebetulan memiliki waktu luang.

"Jadi, apa hari ini Neji-nii juga hanya akan berkunjung?" Tanya Naruto antusias.

"Tidak Naru-chan..." Pemuda itu tersenyum kecil, "Sudah lama aku tidak meracik menu. Jadi, mulai saat kita akan sering berkerja bersama lagi."

Mendengar itu Naruto berjingkrak kecil lalu kembali menatap Kiba, "Kiba... Neji-nii hari ini ikut kerja, kamu juga ikut ya biar kita bekerja bersama-sama..."

Kiba tertawa gugup dalam hati mengutuki Naruto, si bodoh ini seenaknya memutuskan sepihak. Kiba memang sudah mengenal Neji sejak Naruto bekerja disini, dia bertemu Neji karena sering mengantar Naruto dan sudah beberapa kali membantu Naruto bekerja juga, tapi ia masih segan, beda dengan Naruto yang entah kemana rasa hormatnya menguap.

"Tidak apa-apa Kiba... Kau boleh membantu Naruto dan akan mendapat gaji juga." Neji berujar perlahan seolah mengerti rasa segan diwajah Kiba.

"Ah... Neji-nii memang bos terbaik..." Naruto tertawa lebar.

Neji hanya tersenyum, sedang Kiba hanya menepuk keningnya melihat tingkah kekanak-kanakan Naruto.

Sebenarnya umur berapa sih anak ini?

~ナルトはサスケへ~


.

.

.

From Tennis With Love

Disclaimer :

Naruto, Masashi Kishimoto

Story :

Punya saya, semua karakter dipinjam dari punya om MK

Genre : Friendship, Romance, Drama & Humor

Rating : T, K+

Pairing : SasuNaru (Sasuke X Naruto)

Warning : AU, One Shoot, Typos, OOC, Mild Language, Boys Love Sasuke X Naruto, Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't like it. I've warned you already.

.

.

.


~ナルトはサスケへ~

Sasuke menghapus jejak keringat yang membasahi wajahnya. Semenjak ia bangun tidur lalu menjalankan rutinas pagi, jogging dan melakukan latihan untuk pertandingan selanjutnya, ia masih merasa sepanjang hari ini begitu membosankan.

Dan hari menjelang sore pun, ia masih saja merasa bosan. Apa tidak ada yang menarik lagi selain kegiatan wajib hariannya ini?

Hidup terasa terlalu monoton.

Berusaha mengusir kebosanan, Sasuke mengambil handphone-nya. Tersenyum kecil saat melihat wallpaper perlahan jemari pucat itu mencari nama di kontak yang kira-kira bisa ia perintah seenaknya.

Tangan putih pucatnya terhenti ketika melihat salah satu nama kontak yang tertera disana.

Usuratonkachi

Kenapa ia tidak melakukakn ini sedari tadi?

Ah sepertinya sisa hari ini akan menyenangkan seperti hari-hari sebelumnya. Perlahan bibirnya membentuk kurva melengkung keatas terseny-... Ralat bukan tersenyum tapi menyeringgai.

"Sasuke? Ini senyuman pertamanmu setelah bertahun-tahun lamanya aku tidak melihat." Kakashi yang sedari tadi menemani Sasuke, menatap pemuda itu dari sela-sela bacaannya keheranan. "Apa bencana besar akan terjadi?"

Sasuke meng-glared kearah Kakashi. "Aku tidak butuh komentarmu. Cukup komentari apa yang kurang dari permainanku." Jelas ia merasa kesal dengan ucapan Kakashi yang terdengar berlebihan itu. Ia kembali menatap layar handphone lebih tepat nama 'Usuratonkachi'.

Beberapa detik berlalu, iris hitam itu lalu menatap Kakashi, kembali menatap layar handphone, kembali menatap Kakashi.

Seringgai mematikan kembali terukir di bibirnya.

"...Kakashi..."

Bulu-bulu halus ditubuh Kakashi mendadak berdiri. Merinding mendengar panggilan Sasuke yang tak biasa itu.

"Kau tahu wanita yang datang padaku dan meminta maaf akan kesalahan Naruto?"

Tenggukan saliva terdengar untuk membenarkan pertanyaan itu. Kakashi ingat betul wanita muda yang datang memohon pada Sasuke dan dirinya agar jangan mendenda Naruto dan memberi keringan dengan hanya dipecat saja. Tentu saja kesalahan seperti itu akan terkena denda dari panitia jika pemain merasa dirugikan dan Kakashi masih ingat kalau Sasuke yang biasanya tidak kenal ampun itu mau-mau saja menerima maaf dengan syarat dia tidak mempermasalahkan asal Naruto mau menjadi ball person untuknya.

Waktu itu Kakashi mengkuatirkan Naruto, maka sebelum pertandingan ia datang keruangan staff untuk memperingati Naruto, tapi Sasuke terlanjur datang sebelum Kakashi mengutarakan kekuatirannya.

Lalu lihat kini seringai mengerikan muncul lagi diwajah bocah ini.

Apa yang direncanakan pemuda ini?

Kakashi mendesah lalu menutup buku bacaannya, "Katakan apa mau, Sasuke... Jangan bertele-tele..."

"Kau selalu tahu keinginanku, Kakashi." Handphone miliknya kembali dimasukan dalam saku celana. "Hubungi wanita itu. Cari tahu tentang dobe ku, seperti dimana dia tinggal atau apa yang dikerjakan diwaktu sengang."

"Aku bukan tim interogasi, Sasuke..." Tangan Kakashi menopang dagunya, menatap Sasuke dengan tatapan bosan, niatnya sih untuk menjauhkan Naruto dari masalah yang ditimbulkan Sasuke nanti.

"Dulu bukan. Sekarang iya! Semenjak aku ingin kau cari tahu..." Terselip nada memerintah dan arogan disana.

Kakasih menarik nafas panjang dan dalam dengan tingkah Sasuke yang entah sudah berapa lama melupakan sopan santun terhadap yang lebih tua. Hey! Begini-begini Kakashi itu paman Sasuke.

Sekali lagi Kakashi mendesah dalam hati kemudian berdoa untuk keselamatan Naruto-kun yang sedikit lamban itu. Apalagi Sasuke menggunakan kata 'dobeku'.

~ナルトはサスケへ~

Matahari sore mulai menyembunyikan cahayanya pertanda waktu cafe sedikit lagi akan ditutup ketika pintu cafe terbuka perlahan, mengakibatkan bunyi tanda ada pelanggan masuk terdengar. Kiba yang berdiri dekat meja kasir dan sedang berbincang-bincang dengan kasir karena jumlah pengunjung sudah mulai berkurang sontak menatap pengunjung yang baru saja masuk.

Jaket hitam tebal, syal yang melilit leher dan menutupi sebagian wajah, kaca mata hitam besar dan topi menutup kening.

Alis Kiba bertaut, ia memang sudah melihat pengunjung dengan pakaian yang aneh-aneh tapi, tetap saja ia mendecih melihat style pengunjung satu ini.

Sok artis terkenal dan misterius.

Walaupun dalam hatinya sudah menyerapah dengan gaya aneh pengunjung satu ini, Kiba tetap sadar saat ini ia sedang bekerja. Ia harus profesional jadi, tidak butuh waktu lama bagi Kiba untuk beranjak mendekat kearah pengunjung yang baru saja mendudukan pantatnya itu.

"Selamat sore dan selamat datang." Kiba menyodorkan buku menu lalu membuka halaman pertama menu tersebut, ketika ia sudah berdiri tepat di depan pengunjung itu. "Silahkan memasan yang anda inginkan, saya akan mencatatnya." Pemuda bertato segitiga terbalik itu menunggu dengan sabar untuk mencatat menu yang diinginkan ketika pelanggan tersebut masih sibuk membolak-balik halaman menu.

"Naruto..."

Kening Kiba sekali lagi bertaut? Naruto? Telinganya masih normal, bukan?

Apa selain gaya pakaiannya yang sok artis, otak pengunjung ini juga bergeser beberapa centi dari posisi semula? Mana ada memasan ramen di cafe yang isinya minuman dan snack ringan?

"Uummm... Maaf..." Suara Kiba terdengar berhati-hati, mungkin saja telinga salah dengar. "Tidak ada ramen di menu kami..."

"Tsk! Mana Naruto?"

Mata Kiba hampir keluar ketika topi dan masker pemuda itu dibuka.

"Sasuke?..." Ia mendesis, bahkan sudah terlalu malas untuk menambah -san di belakang nama pemuda ini, "Untuk apa kau kesini?" Lanjutnya dengan nada yang masih kesal. Seharusnya ia sudah sadar ketika pemuda brengsek ini menyebutkan 'Naruto' dari bunyi suara yang arogan itu.

Oh jangan lupa, tentu saja Kiba masih dendam dengan Sasuke yang selalu menganggapnya makhluk tak terlihat dan gara-gara pemuda sial ini pula, ia hampir terkena geger otak ringan karena tingkah bodoh Naruto yang membuat kepalanya terbentur keras di mobil Gaara kemarin. Lihat saja, ada dua hansaplast tertempel disana.

"Bertemu Naruto." Jawaban singkat, padat dan jelas.

Kiba jadi jengah sendiri.

"Maaf ya ini cafe untuk beristirahat lalu memesan sesuai menu, bukan tempat untuk memasan 'Naruto'! Tempat ini bukan kedai ramen!" Sindiran Kiba terdengar jelas.

"Kau tahu apa maksudku dengan 'Naruto'." Mata elang Sasuke menatap Kiba, "Aku pembeli disini. Keinginanku mutlak atau kau mau aku bertemu dengan pemilik cafe ini dan komplain?"

Kali ini Kiba hanya bisa berdecak kesal lalu menarik buku menu dengan kasar dan berbalik untuk meninggalkan Sasuke. Biar bagaimanapun ia tidak mau cafe Neji dalam masalah karena rasa kesalnya pada Sasuke.

Ingat Kiba bukan mengalah tapi karena ia menghargai Neji.

"Jangan lupa bilang pada dobe sekalian membawa satu gelas tall frappucino** pesananku."

Memilih untuk tak menjawab, Kiba segera melangkah menuju pantry dan mendapatkan Naruto yang tengah bercanda dengan Neji. Kesal, karena dirinya malah mendapat pengunjung yang menyebalkan, sedang Naruto malah asyik bercanda dengan Neji, Kiba menggulung buku menu lalu memukul keras tengkuk Naruto.

"Hey! Kau kenapa sih?" Naruto menyuarakan protes kepada Kiba sambil memegang tengkuknya, "Mau cari masalah, huh?"

"Kau yang selalu membuatku terkana masalah, baka!" Kepala Naruto kembali dipukul, Kiba lalu menatap kearah Neji yang terlihat bingung, "Neji-san satu gelas tall frappucino." Suara Kiba berubah sopan ketika menghadap Neji.

"Dan antar itu ke meja no 5." Kali ini nada Kiba setengah memerintah begitu ia menatap Naruto.

"Oi, Kiba kenapa aku? Kau kan yang menerima, lanjutkan saja pekerjaanmu." Naruto masih memprotes.

Kiba mendelik tajam pertanda tidak menerima protes. Ia lalu segera keluar dari pantry, menuju ke meja kasir dan menunggu pengujung selanjutnya.

Lagian yang harusnya melakukan pekerjaa harusnya Naruto, Kiba kan bukan pekerja tetap disini. Tsk! Naruto memang baka.

Mendengus kesal dengan Naruto, sekilas dari meja kasir Kiba dapat melihat Sasuke yang sedang memainkan handphone-nya, Kiba mendecih. Semenit kemudian menyeringai lalu mengeluarkan handphone-nya juga.

~ナルトはサスケへ~

Naruto keluar dari pantry sambil bersiul perlahan. Rasanya sangat menyenangkan hari ini bisa terbebas dari Sasuke. Sebenarnya sih, kalau Sasuke tidak suka memerintah dan bersifat arogan, Naruto bisa saja merindukan pemuda raven itu. Tapi, hell no! Siapa juga sanggup bertahan dengan sifat Sasuke yang pintar menaikan tekanan darah orang?

Ah... Bahkan setelah hari kerja hampir selesai, ia masih merasa kurang puas. Sungguh Naruto sangat merindukan saat melayani pengunjung dan membagikan senyuman cerahnya pada pegunjung.

Pemuda bersurai pirang ini masih saja bersiul-siul dengan jingkrakan kecil menuju meja pesan bernomor lima. Dari sudut matanya, ia dapat menangkap pemilik meja itu tengah sibuk memainkan hanphone-nya.

"Selamat menikmati pesan anda~ Kalau butuh apa-apa silahkan panggil saya lagi~" Bahkan Nada suara Naruto terdengar begitu bahagia.

Tapi nyatanya kebahagian itu hanya kebahagian semu dan bertahan beberapa detik sampai Naruto hampir meletakkan dengan mulus minuman di atas meja ketika pemilik pesanan itu mengangkat kepala yang memiliki gaya rambut aneh dengan seringaian menyebalkan yang tentu saja tidak akan pernah dilupakan seumur hidup oleh Naruto.

"SASUKE?!" Pekikan tertahan terdengar dan hampir saja minuman yang dipegang Naruto terjatuh.

Seharusnya dia sudah sadar dari jarak empat meter kalau hanya Sasuke yang memiliki rambut aneh di dunia ini.

Damn! Kiba pasti sengaja menjebaknya.

Naruto segera berbalik menatap Kiba kesal, sedang Kiba yang sedang berdiri di samping meja bersama si kasir hanya terkekeh pelan sambil melambaikan tangannya.

Brengsek!

"Apa maumu, teme! Kenapa kau bisa ada disini?" Nada yang tadi gembira berubah menjadi ketus ketika Naruto kembali berhadapan dengan Sasuke. Bahkan dengan sengaja meletakkan pesanan Sasuke secara kasar.

Lupakan tata krama kalau yang ada di depannya adalah Sasuke!

Prinsip terbaru Naruto. Baru saja ditetapkan beberapa detik lalu.

"Apa maksudmu, dobe?" Sebelah alis Sasuke terangkat. "Kau tidak tahu gunanya cafe?"

"Aku tahu, teme!" Decakan sebal terdengar, "Maksudku, kenapa kau bisa sampai disini? Kau tidak sedang mematai-matai ku, bukan?"

Sasuke hanya menatap Naruto lalu menyeruput frappucino pesannya. Ah! Bahkan minuman ini jadi semakin nikmat ketika diminum sambil melihat pemuda berkulit tan ini sedang menahan gertakan giginya karena menahan kesal.

Indahnya hidupku.

Lupa! Sasuke lupa kalau beberapa jam lalu baru saja ia mengeluh soal hidupnya yang sangat membosankan.

Gertakan gigi Naruto semakin keras terdengar. Siapa coba yang tidak merasa kesal kalau diabaikan?

"Temee... Jangan mengabaikanku!"

"Oh... Kau ingin perhatianku? Perhatian seperti apa, hm?" Bunyi minuman disereput kembali terdengar.

Oh demi dewa apapun yang sedang berkeliaran di langit! Berikan Naruto kesabaran.

Pemuda berkulit tan ini sadar ia butuh kesabaran ekstra agar tidak melayangkan nampan ditangannya ke kepala pemuda yang terlihat sangat menikmati minuman itu.

"Perhatian seperti cepat selesaikan minumanmu dan segera pergi dari cafe ini misalnya?" Jawab Naruto penuh sindiran, "Kau tahu maksudku, teme! Kenapa kau bisa ada disini? Kau tidak sedang mematai-mataiku, kan?" Naruto mengulang lagi pertanyaan sebelumnya sambil mencengkram kuat nampan yang dipegang, mencoba menyalurkan rasa kesal.

"Ini cafe, bukan? Tentu saja hanya kebetulan. Kebetulan aku datang kesini dan bertemu denganmu." Kali ini jemari pucat itu memainkan bibir gelas yang baru diminum dua tegukan. "Kau yakin sekali aku mematai-mataimu."

Bola mata Naruto memutar kesal begitu melihat senyuman miring yang selalu terlihat menyebalkan jika berada di wajah Sasuke.

"Oke! Terserah kau saja, teme-sama! Anggap saja kau kebetulan lewat dan hari ini hari sialku karena bertemu dengan mu. Oh! Jashin-sama! Haruskah aku percaya keberadaanmu jika teme ini berhasil diusir dari sini?" Naruto menjabak rambut pirangnya frustasi.

Merasa kalau ia akan segera kehilangan kesabaran jika berada dekat dengan Sasuke, Naruto memutuskan untuk segera beranjak meninggalkan Sasuke.

"Mau kemana, dobe?"

Langkah kaki Naruto terhenti lalu memalingkan wajahnya dan menatap Sasuke dengan ekor matanya. "Mau masuk kedalam, teme. Urusanku hanya sekedar mengantarkan minuman."

Baru saja Naruto kembali ingin melangkah ketika sekali lagi suara Sasuke menghentikan langkahnya.

"Tunggu!"

"Apa lagi, temeee..." Kali ini Naruto benar-benar membalikkan tubuh hanya untuk menatap Sasuke galak.

"Aku masih meminum frappochino ini, bisa saja aku protes. Jadi, kau sebaiknya duduk manis di depanku sampai aku menghabiskan minuman dan meyakinkan kalau aku tidak akan protes. Atau kau mau komplain ke pemilik cafe ini?" Ancaman yang sama pada Kiba tadi juga digunakan Sasuke untuk mengancam Naruto.

Mata Naruto membelalak, namun hanya beberapa menit sampai tawanya kecil terdengar.

"Ada yang lucu?"

Jelas Sasuke merasa tersinggung, ia tidak sedang melawak saat ini. Sasuke tidak pernah mengenal kata bercanda.

"Tidak ada yang lucu." Naruto berusaha menekan perut untuk menahan tawa. "Hanya saja ini kalimat terpanjangmu. Sekarang aku yakin kau benar-benar manusia."

"Apa maksudmu?" Masih saja Sasuke memberikan nada ketus.

"Umm... Yaaa..." Naruto mendudukkan diri tepat di depan Sasuke. Ia merentangkan tangannya mencari posisi yang nyaman. Toh, belum ada pengunjung yang masuk lagi, karena memang hampir waktu cafe ditutup, jadi dia bisa sedikit bersantai.

Ini adalah salah satu alasan Naruto betah bekerja bersama Neji, karena Neji selalu memberi kebebasan untuk pegawainya, asalkan mereka tetap bekerja secara profesional.

Lagi pula entah kenapa walaupun kesabarannya selalu diuji, Naruto tetap merasa bersama Sasuke itu bukan hal yang buruk dan kadang membuatnya tersenyum geli kalau mengingat sifat Sasuke.

"Kau kan bicaranya jarang, jadi aku pikir kau manusia planet lain yang terdampar di bumi." Lanjut Naruto sambil menyandarkan kepala di kedua tangannya yang saling bertautan di belakang kepala itu.

"Tidak lucu, dobe."

"Ah aku lupa kalau kau menyebalkan. Kan sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu, teme." Bibir Naruto mengerucut.

Sasuke tidak membalas gerutuan Naruto, tapi memilih mengambil minumannya dan meneguk kembali. Perlahan, seulas senyum tipis mengembang diwajah. Naruto yang duduk berhadapan dengannya seperti itu cukup membuat Sasuke merasa hangat.

Hening meliputi kedua pemuda ini sesaat. Naruto yang memang tidak terbiasa dalam keadaan hening, mulai duduk dengan gelisah seakan ada ulat bulu yang menempel dipantatnya, tapi tidak cukup lama sampai mata birunya menatap Sasuke mulai dari cara pemuda itu menikmati minuman sampai cara meneguknya.

Ah~ Bahkan tanpa berada di lapangan tenis pun Sasuke memang tampan. Apa Sasuke selalu keliatan tampan di setiap saat, ya?

Naruto benar-benar mengagumi pemandangan yang tersaji di depannya.

"Jadi, sampai kapan kau menelanjangiku?"

"...A-Apa?" Naruto tergagap begitu suara rendah Sasuke membuyarkan kekagumannya. "..A...A..Aku tidak..."

Hening sesaat. Otak Naruto sedang loading.

"Temeeee... Apa maksudmu dengan menelanjangimu, hah?!" Akhirnya teriakan Naruto bergema di ruangan.

Kiba hampir saja melepas sepatunya untuk melempar kearah Naruto yang berteriak tidak sadar tempat.

"Ada apa ini?" Bahkan Neji sampai keluar dari pantry dengan terburu-buru lalu menatap Kiba meminta penjelasan.

"Ah... Itu Neji-nii. Biasa pertengkaran sepasang kekasih." Kiba menjawab asal lalu menunjuk kearah Naruto yang sedang berdiri menghadap beberapa pengunjung sambil membungkukkan badan.

Anggukan samar Neji tanda mengerti dengan penjelasan Kiba. Pemuda itu bergegas mendekati Naruto lalu menepuk pelan bahu yang masih membungkuk itu.

"Neji-nii... Maaf aku kelepasan..." Naruto mencicit ketika menyadari kalau Neji yang menepuk bahunya.

"Tidak apa..." Neji menjawab lalu melirik sekilas kearah Sasuke. "Aku mengerti. Tapi, lain kali jangan sampai mengeluarkan suara sekeras itu. Kenyamanan pengunjung bisa terganggu."

Perlahan surai pirang milik Naruto dielus oleh Neji. "Segera selesaikan masalah kalian aku tak mau kehilangan pelangan karena suara cemprengmu, Naru-chan."

Naruto mengangguk cepat lalu tertawa, "Neji-nii terbaik, ttebayo!"

Kedua pemuda ini melepaskan tawa ringan tanpa sadar kalau Sasuke tengah mencengkram erat gelas minumnya. Sinar mata itu penuh kilatan amarah.

"Ya terbaik buat mu. Cepat selesaikan pertengkaran asmara kalian."

Rahang Naruto hampir terlepas ketika menyadari ucapan Neji beberapa detik kemudian, hampir saja ia menarik kata-kata 'terbaik' yang tadi diberikan dan mengantinya dengan kata-kata serapah. Untung saja Naruto menghargai Neji, coba bayangkan kalau Neji itu Kiba. Tsk! Jangankan serapah, adu kepalan tangan pasti sudah dilakukannya.

"Neji-niiiii..." Naruto mengeluarkan suara imutnya, "Aku dan brengsek ini-" Suaranya berubah ketus ketika menyebut kata brengsek. "-Bukan sedang memiliki masalah asmara."

"Loh, kalian bukan sepasang kekasih?" Neji menatap kedua pemuda di depannya bergantian dengan pandangan keheranan.

"Belum/Bukaaaannnn..."

Kedua pemuda berbeda iris itu menjawab bersamaan namun dengan jawaban berbeda, sukses membuat Sasuke mendapat hadiah glare dari Naruto saat mendengar jawaban pemuda itu. Sedang yang di beri glare gratisan malah terlihat semakin santai menikmati minumannya.

"Temeee... Jawabanmu tidak menyelesaikan masalah." Iris biru Naruto kemudian berbalik menatap Neji dengan puppy eyes-nya. "Kenapa Neji-nii bisa berpikir seperti itu?"

"Aku tidak berpikiran seperti itu kalau Kiba tidak memberitahukannya, Naru..."

Sontak Naruto mengumpat dan memberi tatapan membunuh pada Kiba yang masih berdiri di samping meja kasir sambil sekali melambaikan tangan sambil memamerkan barisan giginya dengan wajah sok polos, tanpa dosa.

Aho... Akan kubalas nanti! Naruto mengeram tertahan.

"Sudahlah..." Kepala Naruto ditepuk perlahan oleh Neji, "Aku tinggal dulu, Naru dan silahkan menikmati waktu anda." Neji sedikit membungkuk kearah Sasuke lalu segera berbalik meninggalkan dua pemuda ini.

"Bukan ancaman..." Gumam Sasuke perlahan. Ia kembali meneguk minumannya.

"Apanya yang bukan ancaman, teme?" Bibir Naruto mengerucut. Pantatnya dihempaskan secara kasar di kursi. "Tentu saja ancaman! Kau mau aku dipecat dan jadi gelandangan, huh?"

Sasuke hampir memutar bola matanya, jengah, kalau saja dia tidak ingat ia akan terlihat out of character di depan Naruto jika melakukannya.

Oh! Sasuke itu tipe pria yang selalu menjaga image-nya.

"Dobe..." Pilihan kata yang tepat bagi Sasuke untuk menggambarkan Naruto saat ini.

Bibir Naruto kembali mengerucut ketika mendengar kata 'dobe'. Ia memilih untuk menghormati kenyaman pelanggan lain saja dari pada berdebat dan berakhir ia lepas kendali lagi.

Getaran handphone disaku celana akhirnya mengalihkan Naruto dari mode mengerucutkan bibir dan membuatnya segera mengeluarkan handphone itu lalu membaca pesan yang diterima.

"Siapa?" Tanya Sasuke penasaran karena Naruto benar-benar fokus membaca pesannya.

"Gaara..." Naruto menjawab singkat disambut decakan kesal dari Sasuke.

Panda itu lagi!

"Apa yang dikatakannya..."

"Um..." Naruto bergumam sambil mengetik, "Dia bertanya apa pulang seperti jam biasa? Dia ingin menjemputku."

Fix! Darah Sasuke mendidih. Kenapa panda itu selalu mengganggu disaat dia sedang bersama Naruto.

"Kau balas apa?" Sasuke merasa de javu. Ini pertanyaan dan kejadian yang sama persis seperti waktu diruangan pemain dulu.

"Tentu saja aku mengiyakan teme... Kan gratis..."

Benarkan? Bahkan cara Naruto menjawab dan tertawa pun sama.

"Aku yang mengantarmu pulang."

Naruto mengernyitkan alis, "Tidak bisa, teme... Dia mau menjemputku dengan Kiba... Memangnya kau bawa mobil?"

Sasuke memilih diam. Ia datang dengan berkendara motor. Tahu begitu tadi dia pinjam saja mobil Kakashi.

"Lalu Gaara..." Sasuke berujar pelan, matanya menatap lekat kearah Naruto mencoba membaca apa ada ekspresi yang berubah di wajah Naruto ketika ia menyebut nama itu. Naruto memang berekspresi, tapi lebih pada ekspresi kebingungan. Sasuke menarik nafas lega. Kalau prediksinya benar, maka Naruto tidak ada perasaan istimewa untuk si panda itu.

"Kenapa dengan Gaara?" Tanya Naruto terlanjur penasaran dengan kalimat yang terkesan mengantung itu.

Sasuke berdecak ketika lamunanya dibuyarkan oleh pertanyaan Naruto, "Dia siapamu?" Sasuke memutuskan untuk mencari tahu hubungan Naruto dengan Gaara.

"Gaara?" Naruto kembali memastikan orang yang dimaksud Sasuke. "Tentu saja dia orang paling dekat denganku selain Kiba... Ah Neji-nii juga, ttebayo!"

"Menurutmu, dia bagaimana?"

Sesaat Naruto bingung dengan pertanyaan Sasuke tapi, kemudian memilih untuk mengikuti permainan Sasuke. "Dia tampan tentu saja." Senyuman mengembang diwajahnya.

"Oh ya?" Sasuke memberikan tatapan sinis. "Menurutku dia biasa saja."

"Wooowww... Kamu jadi semakin brengsek ya, teme..." Naruto menjawab ketus, "Dibandingkan kau? Apa kelebihanmu? Gaara itu yang terbaik, ttebayo!" Sekarang giliran Naruto yang memberikan tatapan sinis.

"Aku?" Tanya Sasuke sambil tersenyum dengan ekspresi meremehkan, "Aku petenis berbakat punya banyak kelebihan dibandingkan pandamu itu. Dari suara wajah, tinggi, otot, mata, kulit yang mulus dan kepopuleran, Aku jauh di atasnya. Haruskah aku bilang juga? Aku bisa bermain piano, mengkomposer musik dan masih banyak talenta lainnya. Jika dibandingkan panda, dia tidak punya apa-apa." Tandas Sasuke dengan tersenyum bangga.

Naruto melonggo tidak lama sampai ia benar-benar tertawa keras untuk kedua kalinya sambil memegang perut.

"Apa?" Sasuke bertanya ketus.

Tawa itu berhenti sejenak hanya untuk menghapus jejak air mata yang mulai keluar, "Ini kali kedua kau berbicara panjang dan aku tidak pernah menyangka kalau rasa percaya diri mu sampai setinggi ini, teme..." Dan Naruto kembali tertawa keras.

Sasuke terdiam dan tersenyum kecil. Melihat Naruto yang tertawa karena perkataannya walaupun bukan bermaksud untuk melucu seperti ini, membuat ada rasa bangga terhadap diri sendiri.

Ia benar-benar menyukai Naruto yang sedang tertawa.

Bunyi tanda ada pelanggan yang masuk, sontak membuat Naruto menghentikan tawanya lalu segera berdiri untuk melakukan tugas sebagai pelayan yaitu menyambut tamu.

"...Gaara?" Tawa kecil Naruto yang masih tersisa berganti dengan nada heran. Meski Naruto sudah bekerja lama di cafe ini, pemuda bermarga Sabaku ini sangat jarang berkunjung. Datang pun jika mau menjemput Naruto saja dan itu hanya berdiri diluar cafe.

Mendengar nama Gaara disebut oleh Naruto, membuat Sasuke meletakkan gelas minumnya secara kasar. Rahangnya mengeras.

Kenapa panda itu harus datang secepat ini?

Gaara berjalan dengan langkah tegap menuju kearah Naruto dan Kiba begitu menyadari kalau yang datang adalah Gaara, ia langsung berlari mendapati Gaara.

"Kau datang..." Kiba tersenyum sangat lebar, "Naru dalam bahaya... Dia sedang disekap oleh musuh kita..." Kata Kiba sambil berbisik. Tentu saja Kiba mendramatisir kata-kata. Ia harus membalas sifat arogan Sasuke padanya.

Oke Kiba yang memberitahukan Gaara melalui sms tadi.

"Tenanglah aku akan membereskan musuh itu..." Gaara menjawab tenang tanpa menyadari kalau Kiba sudah melonggo dengan tidak elitnya karena Gaara membalas perkataannya dengan serius.

Gaara benar-benar OOC kalau menyangkut Naruto!

"O-oke bunda. Aku mengikuti saja dari belakang." Kiba mencicit dan mengikuti langkah Gaara.

"Kenapa kau ada disini?" Nada ketus terdengar begitu Gaara berdiri dihadapan Sasuke.

Sasuke memutar bola matanya, "Tentu saja menikmati waktuku. Ini cafe, bukan?"

Decakan Gaara terdengar, "Kau ingin cari masalah?"

"Aku?" Alis Sasuke mengernyit, memandang remeh kearah Gaara. "Bukankah kau yang sedang cara masalah disini?"

Naruto menelan ludah kasar begitu pula Kiba. Mempertemukan Sasuke dengan Gaara adalah ide terburuk.

Entah kenapa Kiba jadi menyesal karena memberitahu Gaara. Tapi kalau untuk memberi pembalasan kepada Sasuke, Kiba merasa cukup beberapa detik untuk merasa menyesal karena memanggil Gaara kesini.

Biar tahu rasa Uchiha satu ini!

"Ga-Gaara..." Panggil Naruto dengan terbata. "Kenapa datang secepat ini?" Sungguh Naruto ingin mencairkan suasana yang mencekam ini.

"Karena Aku ingin menjaga salah satu orang terpenting dalam hidupku dari ayam liar yang mencoba merusak kesucian orang terpenting itu." Gaara menjawab sarkartis dengan tatapan mata seolah-olah sedang menguliti Sasuke.

"Dibandingkan ayam liar, panda liar lebih berbahaya, kan panda?" Oh jelas Sasuke tidak mau kalah dan sengaja menekankan kata panda dua kali.

Kalau saja Kiba tidak merasa aura mencekam yang menguar dari dua pemuda yang sedang beradu glare ini, sudah bisa dipastikan ia akan tertawa sampai merasa keram karena kata-kata sindiran itu. Beda halnya dengan Naruto yang kini bingung setengah mati bagaimana cara menenangkan Sasuke dan Gaara yang sudah mulai terlihat aliran petir dari tatapan mereka.

"Kibaaaa..." Naruto berbisik kearah Kiba. "Apa yang harus kita lakukan?"

"Kita?" Tanya Kiba sambil menaikan sebelah alisnya tinggi, "Itu urusanmu Naru-chan~ Aku mau beres-beres dulu, sepuluh menit lagi cafe tutup. Selamat berjuang baby Naru, jya ne~" Kedipan genit Kiba berikan pada Naruto. Lalu ia benar-benar meninggalkan Naruto dengan langkah kaki ringan tanpa rasa bersalah.

"Shit!" Naruto mengumpat frustasi. Lihat saja perbuatan si puppy nakal ini akan Naruto balas dua kali lipat.

"Ummm... Gaara... Sasuke..." Naruto kembali bergumam pelan ketika melihat acara saling melempar glared antara Sasuke dan Gaara belum juga berakhir.

Kedua pemuda yang dipanggil namanya langsung menoleh kearah Naruto bahkan pandangan mata saling membunuh telah berubah melembut.

Tegukan ludah Naruto terdengar, "Maaf bukan maksud mengusir tapi, cafe hampir ditutup dan kalau kalian bertengkar ditempat ini, aku akan dipecat. Please jangan bertengkar disini, oke?" dan kedua mata biru itu membulat seperti anak kucing yang sedang memohon, meminta dipungut.

Kedua pemuda itu sama-sama mendesah. Merasa tak sanggup melihat mata bulat Naruto.

"Oke..." Akhirnya Sasuke menjawab terlebih dahulu. "Aku pergi dulu, dobe..." Pemuda itu beranjak menuju meja kasir lalu membayar minumannya lalu kembali berdiri persis di depan Naruto.

"Jangan lupa tugas ball person mu." Lanjut Sasuke tegas dan kali ini benar-benar meninggalkan cafe dengan menabrak keras bahu Gaara terlebih dahulu.

Gaara mendesis, tabrakan dibahunya cukup keras. Tapi, kemudian memilih menatap kuatir kearah Naruto.

"Kau tak apa-apa Naruto?" Tanya Gaara sambil memegang tubuh, meyakinkan diri kalau Naruto baik-baik saja. "Kesucianmu belum diambil si brengsek itu, kan?" Pertanyaan Gaara malah semakin aneh.

"Gaara..." Naruto memutar bola matanya, "Aku baik-baik saja dan apa maksudmu dengan kesucianku diambil Sasuke?"

Menyadari pertanyaannya yang melenceng jauh, Gaara terbatuk pelan. "Maksudku kesucian pikiranmu. Dia belum merusak pikiranmu, kan?" Untuk pertama kalinya Gaara merasa beruntung karena memiliki kapasitas otak di atas rata-rata untuk membalikan ucapannya dan Naruto yang terlalu mudah untuk ditipu.

"Merusak pikiran dari mana?" Decakan kesal Naruto terdengar, "Yang ada teme itu merusak kesabaranku... Aku harus berhati-hati dengannya mulai sekarang."

Mendengar itu, senyuman di Gaara mengembang, "Ya... Kau harus berhati-hati dengannya." Tepukan lembut diberikan Gaara di kepala Naruto. "Nah, sekarang bereskan barang-barangmu dan bilang kepada Kiba kalau aku menunggu kalian di luar, oke?"

Naruto hanya mengangguk sambil mengusap bekas tepukan Gaara dan kemudian benar-benar pergi ke ruangan pegawai.

"Benar-benar harus diawasi..." Gumaman Gaara terdengar sebelum keluar dari cafe.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Omake:

"Naru?" Neji menatap Naruto heran ketika melihat pemuda itu masih berdiri di depan cafe.

"Neji-nii?" Naruto menyapa Neji ramah.

"Kau belum pulang? Melupakan sesuatu di dalam cafe?" Tanya Neji keheranan.

"Ah tidak Neji-nii... Aku lupa memberitahu kalau lusa ada jadwal pertandingan tenis, jadi aku mau minta ijin dan menukar dengan besok saja..." Senyum Naruto melebar tidak lupa memamerkan barisan giginya.

Neji tersenyum kecil, "Kalau hanya seperti itu, kau hanya perlu mengirimiku pesan untuk mendapatkan ijinku, Naruto."

"Tidak Neji nii..." Gelengan kepala Naruto berikan pada Neji. "Tidak bisa seperti itu! Neji-nii itu bos ku, jadi aku harus minta ijin secara lang-..."

"-Narutooo..."

Panggilan dengan suara rendah itu, sontak membuat Naruto dan Neji berbalik dan mendapatkan Gaara bediri di seberang mobil.

Rupanya Gaara sudah tidak sabar menunggu dalam mobil. Dengan langkah pasti Gaara mengitari mobilnya dan berjalan mendekat kearah Naruto dan Neji.

"Masih lama?" Tanya Gaara ketika ia telah berdiri di samping Naruto.

Kembali gelengan Naruto berikan sebagai jawaban. "Tidak kok, aku baru saja mendapat ijin. Ayo kita pulang Gaara... Kami permisi du-..." Perkataan Naruto terhenti ketika melihat Neji yang hanya terdiam terpaku seperti patung sambil melihat kearah Gaara. "Neji-nii?" Panggil Naruto hati-hati. "Hellooo Neji-nii..." Tangannya bahkan melambai tepat diwajah Neji.

"A-ah... Ya, Naruto?" Neji terbatuk perlahan menyadari kalau ia baru saja kedapatan meneliti wajah orang.

Naruto terdiam beberapa menit sambil bergantian menatap Neji dan Gaara bergantian. Neji terlihat kembali menatap Gaara, sedangkan yang di tatap malah menatap Naruto heran tanpa menghiraukan tatapan Neji.

"Eemmm..." Naruto bergumam entah mengapa merasa suasana canggung dari Neji. "Neji-nii... Perkenalkan ini sahabatku Gaara dan Gaara ini Neji-nii bos di cafe ini."

Tersadar, akhirnya Neji segera menyodorkan tangan untuk memberi salaman, "Aku Neji... Hyuuga Neji... Senang bertemu denganmu." Senyumpun mengembang diwajah tampan itu.

Gaara menatap Neji datar, rasanya enggan untuk bersalaman, tapi karena Neji adalah bos Naruto dan pemuda itu terlihat lebih tua jadi, Gaara tetap berlaku sopan dengan membalas salaman Neji.

"Sabaku no Garaa." Gaara menjawab singkat, tak berniat untuk menambahkan kalimat 'Senang bertemu denganmu juga' dan segera menarik tangannya dengan gerakan cepat.

Neji bersumpah ada sengatan listrik saat ia menyentuh tangan pemuda manis bertato ai ini.

"Nah, bisakah kau berhenti menatapku tuan Hyuuga? Aku dan Naruto harus segera masuk mobil dan pulang, sebelum Kiba menjadi ikan kering dalam mobil karena AC tidak kuhidupkan." Tanya Gaara Sarkartis.

Lalu tanpa menunggu jawaban Neji dan mata Naruto yang masih berkedip-kedip bingung karena ketidaksopanannya, Gaara segera mendorong paksa Naruto untuk masuk mobil.

Peduli amat! Gaara memang akan bersifat ketus dengan orang lain selain Naruto dan Kiba karena memang dua pemuda ini adalah sedikit dari sekian banyak orang yang tetap bertahan dan menerimanya menjadi sahabat, meskipun dulu ia sempat berlaku ketus pada mereka juga.

Dan benar saja, kaca mobil sudah diturunkan Kiba karena wajahnya sudah dibanjiri keringat. Jangan lupa mulut yang ikut dibuka lebar seolah-olah sedang kekurangan oksigen.

Naruto hanya tersenyum kaku karena sifat Gaara lalu membungkuk sopan kearah Neji, sedangkan Gaara benar-benar berputar kembali ke pintu pengemudi dan masuk tanpa mempedulikan Neji.

Neji terdiam dan memperhatikan mobil yang dikemudi Gaara sampai benar-benar menghilang dari pandangannya.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Note:

*Dua hari : Biasanya pertandingan ke-3 (Third round) ada 2 hari istirahat untuk tunggal putra. Anggap saja Sasuke bertanding pada hari pertama pas hari jumat, hari sabtu untuk tunggal putra undian hari kedua dan hari minggu tidak ada pertandingan alias libur. Maka Naruto berasumsi kalau ia tidak akan bertemu dengan Sasuke, hari sabtu dan minggu. Mereka baru bertemu di pertandingan ke-4 (Fourt round) hari senin.

**Ukuran minuman dalam gelas setara dengan 12oz atau 354 ml.

Waahhh ternyata banyak juga GaaNaru shipper di fic ini. Apa saya harus buat adegan yang ada fanservice GaaNaru? Atau pasangannya diganti aja GaaNaru... *di Ameterasu Sasuke*

Uhuk... Bercanda kok, fic ini tetap dibuat untuk SasuNaru...

Dan terima kasih untuk review di chapter sebelumnya. Setelah ini saya akan beristirahat dulu aka berlibur. Karena, entah kenapa si bos dapat pencerahan dan kasih kesempatan berlibur buat beberapa babu-nya dan saya termasuk didalamnya (Setelah sebelumnya sudah sempat meras tenaga kita habis-habisan. Orz!)

Jadi, saya mau menikmati masa-masa tanpa kerja rodi dulu ya~~

.

.

.


Q & A

Q : yasir2374

A : Terima kasih buat review dan masih bisa merasakan humor fic yang menurut saya garing ini, semoga ch ini masih bisa memuaskan ya~

Q : Yutha

A : Bagaimana sudah tahu perasaan Gaara ke Naruto di ch ini?

Q : Me

A : Terima kasih sudah suka fic absurd ini. Waaahhhh GaaNaru shipper ya? Saya buat Gaara keren (?) di fic ini karena memang mengidolakan Gaara /gak ada yang nanya/

Q : Kuma Akaryuu

A : Sudah bisa tebak perasaan Gaara ke Naruto, belum?

Q : SapphireOnyx Namiuchimaki

A : Calon Gaara udah muncul tuh...

Q : Vilan616

A : Gaara bukan pemain disini, tapi ball person sama seperti Kiba dan Naruto. Jadi, waktu di fic saat Gaara diseberang lapangan itu maksudnya Gaara sedang mengawasi pertandingan lainnya.

Q : Saera

A : Sudah nonton juga? Yey! *toast* Iya, bagus.. Lumayan memuaskan, walaupun rada-rada kesel sama Baruto-nya. Tapi, bagi saya OTP... Oh OTP! Mereka buat saya nonton dengan menahan jeritan, moment SasuNaruSasu dimana-mana~

Ah soal orang tua Mizuki, saya juga pikir, siapa ya pasangan Orchimaru? Gosipnya sih pasangannya itu Toneri sampai ada foto bersamanya *ooiiii* Aahhh Gomeenn malah curcol tidak jelas seperti ini.

Q : Uzumaki Prince Dobe-Nii

A : Sepertinya memang perlu siapin satu kamar buat Sasuke di Unit Gawat Darurat, deh... XD

Q : shin. sakura11

A : Sudah di-update~

Q : deerLuhan200490

A : Waahh terima kasih juga mau ketawa sampai guling-guling (?) dengan ff absurd ini. Kalau soal chara baru, sayangnya belum terpikirkan oleh saya.

Q : acca1

A : Sasuke kan di anime-nya juga gitu, suka modus sama Naru. XD Sudah, movie-nya sudah ada. Sudah dapat link-nya belum? Ayo buruan nonton, gih *promosi*

Q : Nikeisha Farras

A : Terima kasih... Padahal saya sebagai author masih merasa kalau ch tiga itu garing banget.. =w=;;

Q : kazekageashainuzukaasharoyani

A : yo, kazekageashainuzukaasharoyani san. *pen name-nya panjang yak? XD* Saya memang suka Sasuke yang dibuat cemburu dan ini sudah dilanjutkan. Mudah-mudahan tetap suka ya..

Q : exo. ap

A : Terima kasih sudah suka sama ff ini dan sudah saya lanjutkan ini. Maaf menunggu lama.

Q : Ogeretsu Tagame

A : Soal saya memang suka nonton acara sport tapi, gak suka melakukan sport, hahaha. Yosh! Terima Kasih, ini sudah di-update.

Q : Ame Pan

A : Naaahhhh... Saya juga takut kalau reader kesulitan nangkap humor yang saya berikan. Soalnya kalau di dunia bukan nyata, kalau saya lagi bercanda, teman-teman gak ada yang ketawa. Pasti ditanya, "Kamu tadi bercanda?" Karena memang rasa lucu saya beda sama mereka, kalau mereka ketawa saya flat face dan kalau saya ketawa, pasti mereka natap aneh ke saya *Malah curcol, sumimasen.*

Q : kumankuaci

A : Ta-Tante? Saya langsung merasa ada banyak ubanan di kepala *bercanda* Shika Kiba akan ada kok moment-nya, tapi di chapter-chapter selanjutnya, ya...

Q : Billaster

A : Uwaaa terima kasih sudah menyukai ff yang aneh ini. Ah sudah nonton juga? *toast* Nah, benar kan? Aura seme uke mereka itu loh *gigit meja*. Oke cukup delusionalnya yua! Anyway, sekali lagi makasih ya.

Q : Lucky Khairunnisa ruki

A : Saya juga kalau baca ulang ff ini buat di-edit, kadang gemas sendiri sama Gaara. Gak, apa ketawa aja, kalau gak sakit perut loh. :D Terima kasih, saya memang lebih suka buat fic ringan. Soalnya kapasitas otak saya di bawah rata-rata jadi, bakal kesulitan mikir nantinya.

Q : echaWiratanu

A : Terima kasih sudah bilang kalau fic aneh ini menarik ^^ dan terima kasih sudah suka dengan writing style-nya. Mudah-mudahan tetap suka dengan chapter ini. Yosh! All hail fujoshi, longlife fudanshi.

Q : KJHwang

A : Arigatou~ Ini, ch 4 sudah di-update. Um! Ganbarimasu!

.

.

.


Special Thanks For Reviewers:

Nurhasanah. putri.146, choikim1310, yasir2374, ikatriplesblingers, yutha, Zora Fujoshi, YukiblieShappire, Me, Kuma Akaryuu, uzumakinamikazehaki, liaajah, Aiko Vallery, Le88, retvianputri12, Gyumin4ever, SapphireOnyx Namiuchimaki, Snlop, URuRuBaek, blue butler, Vilan616, efi. astuti.1, Grey378, saera, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Eun810, shin. sakura.11, deerLuhan200490, Meli793, acca 1, Nikeisha Farras, kazekageashainuzukaasharoyani, exo. ap , gici love sasunaru, Ogeretsu Tagame, Ame Pan, kumankuaci, Miyu Mayada, Billaster, Lucky Khairunnisa ruki, Veraseptian, echaWiratanu & KJHwang.

Ada yang terlewat?

Dan Sampai jumpa di chapter depan~ Jangan bosan untuk RnR ya, biarkan saya tahu apa reader kalian pikirkan dengan me-review.

And the least not the last,,,

Our Ship Doesn't Need A Canon For It To Sail!

~14/28/2015~

.

.

.

Best Regards.