Warning, Disclaimer, dan lain-lain sudah tertulis di Chapter 1
.
.
Chapter 4: Sekarang Kau Tahu Rasanya Jadi Beban
.
.
Yarna Plain. 1st Floor, 17.25 PM 02 Agustus 2022
.
.
Senja mendatangi dunia game Awakening Online. Warna jingga mendominasi. Mengalahkan warna biru cerah beberapa jam yang lalu. Mahluk-mahluk terbang dari burung-burung kecil, besar, hingga naga sering melintas diatas sana. Pemandangan biasa.
Tapi ada warna mencolok lain didataran terbuka ini selain hijau yang terbias sinar matahari. Yaitu kuning, pink, serta beberapa coklat kehitaman.
"Hyaaa!"
Traang
Tiing
"Sial kau!" Sakura menggeram sebal saat tebasanya berhasil dipatahkan. Gadis berambut panjang itu sekuat tenaga mendorong sosok besar berbulu dihadapanya. Sosok yang menjadi target buruannya kali ini. Ia berbentuk beruang namun dengan lengan yang lebih panjang ditambah cakar tajam.
'GROARRK!' Ia berlari dengan tangan beserta kakinya menghambur kearah Sakura. Manik emerald gadis itu menajam terus mencari titik lemah dari objek besar itu.
'GRYAAA!'
Wushh
"Hyaat!" Sakura melompat kecil melewati punggung beruang itu. Ia memutar tubuhnya yang melayang hingga mengarah tepat ke punggung lalu memberi tebasan. "Kena!"
Crashh
Brugh
'GOOARRK!' Penampang depan monster itu membentur tanah dengan keras. Dipunggungnya terlihat luka sayat panjang dari bahu kanan ke pinggang kiri. HP bar-nya yang tertulis '80/350' turun cepat hingga tertulis '0/350'
Pyarr
Tubuh besar itu hancur meninggalkan berkas-berkas hologram yang berterbangan. "Satu hancur, tinggal tiga." Sakura mengambil napas. Menoleh ke direksi tak jauh darinya. Naruto tengah bertarung dengan tiga mahluk sejenis yang dilawannya.
.
.
.
Wusshh
"Hyaa!" Naruto menebas sebelah lengan salah satu dari mereka. Saat berhasil merusak pertahannya, ia memberi beruang itu serangan beruntun dengan tiga tebasan kuat. Menyilang dari kanan, berputar lalu menyilang dari kiri, kemudian menerobos sambil menebas disisi samping.
Crasss Crass Crasshh
'UHORRK!' Naruto berbalik badan. Ia hiruakan hologram berterbangan dari beruang yang baru ia kalahkan. Kepala pirangnya menoleh ke dua arah yang belawanan secara bergantian. "Kalian keras kepala, ya? Hanya dengan dua orang tapi mencoba mengepungku." Entah mereka paham maksud Naruto atau tidak. Tapi seperti yang ia katakan, pemuda itu terkepung ditengah diantara dua monster beruang itu. Sejenak ia menormalkan napas.
Llirikan matanya menangkap sosok merah jambu yang berlari mendekat hingga akhirnya sampai disampingnya, segera menghadap salah satu dari mereka. Berdiri berlawanan arah. "Sakura-chan?"
"Percayakan yang satu ini padaku!" Sakura maju mendekat setelah dapat persetujuan berupa anggukan.
'GRAARR!' Beruang yang berhadapan Naruto malah mencuri langkah saat pemuda itu lengah karena perhatianya pada Sakura. Namun Naruto yang punya reflek bagus menyosong maju. "Haaa!"
Sreeeet Crash
Ketika tepat berhadapan dan beruang itu mengayun tangan ia merunduk, melewatinya dari bawah namun dengan meninggalkan satu serangan yang memutus sebelah kakinya.
'GROARK!'
Brugh
Beruang itu terjatuh karena kehilangan keseimbangan. "Langsung kuselesaikan!" Naruto mengangkat satu tangan dan merapal spell. "Thunder: Lightning Jolt!"
Diatas tubuh yang sulit untuk bangun itu muncul lingkaran sihir berwarna ungu. Dari sana muncul kilatan listrik terang menyilaukan mata.
Ctarr
'GYAAA!' Petir itu menghantam tubuh beruang itu dengan telak. Mengikis habis helath points yang tersisa darinya hingga hancur berkeping-keping.
.
.
.
"Si baka-Naru itu, kenapa selalu selesai dengan cepat?" Sakura mendengus, sejenak melirik kearah Naruto. Melupakan kenyataan kalau sang beruang yang menatap gerak-geriknya mengambil kesempatan menyerang. 'GROOARR!'
Auman itu menarik kembali perhatian Sakura. Namun sudah terlambat. 'Sial!' Gadis itu terlanjur lengah dan hanya bisa memposisikan pedangnya sedemikian rupa.
'HYAAA!'
Trang
Pedang Sakura terlempar dua meteran dari posisi bertarung, menancap ditanah. Ia menutup mata, mengalihkan wajah. Tak bisa melihat apa yang akan terjadi setelah ini.
Namun...
"Sakura-chan!"
Trang
Telinga gadis itu berdengung. Matanya yang terpejam perlahan terbuka lirih. Ia jatuh terduduk sementara Naruto menahan serangan beruang super itu. Pemuda itu sempatkan melirik lewat ekor matanya. "Ini bukan saat yang tepat untuk duduk santai." Gadis itu cemberut. Paham maksud dari Naruto yang nampaknya menyindir. Ia merangkak mundur, bangkit berdiri. Pedang yang tertancap ditanah kembali ke genggamannya bersamaan dengan Naruto yang mendorong beruang itu menjauh dengan tendangan ke perut.
"Selesaikan yang satu itu!" Teriak Naruto lantang pada Sakura. Sang gadis berambut pink itu memasang kuda-kuda. Meski wajahnya terlihat memendam suatu... kekesalan?
Sriing
Wushh
"SHANNARO!" Ia melesat lalu menebaskan pedangnya horizontal diperut. 'GROOARK!'
Pyarr
.
.
.
.
Naruto terus menatap bingung kearahnya. Sakura tahu akan hal itu. Namun ia acuh. Hanya fokus berjalan bahkan tanpa melirik kanan-kiri.
"Hei, Sakura-chan!"
"..."
"Sakura-chan? Kenapa diam saja?"
"..."
"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini, sih?" Sakura menghentikan langkah, memutar tubuh menghadap si pirang. Ia berkacak pinggang. "Aku tidak apa-apa!"
"Terus kenapa kau diam saja?" Sakura memutar reka ulang kejadian yang ia simpan di memori otaknya. Di berbagai kilasan bayangan itu ia jadi teringat ketika berkali-kali pemuda pirang itu menolongnya. Bahkan tadi juga... "Naruto... aku..."
"Kenapa?"
"... Sepertinya aku tidak terlalu banyak membantumu, benar kan?"
"Haa?"
Wajah putih itu tertunduk, ia tersenyum kecil. Dipaksakan. "Ahaha... padahal saat game pertama mulai aku sesumbar mengatakan berbagai hal..."
'Berhentilah menganggapku sebagai gadis lemah yang tak bisa melindungi diri sendiri!'
'Dengar, kau sudah melakukan banyak hal untukku, menolong dengan perbuatan besar atau kecil, aku tentu harus membalasnya juga!'
Sakura masih jelas ingat dengan ucapan itu...
"Hmm... Aku tidak mengerti. Kau ini bicara apa? Dan kenapa kau terlihat murung? Padahal aku ingat tadi siang kau mengajakku hunting dengan nada yang seperti ini kan?" Naruto berhenti sejenak, berdehem. Lalu mengubah raut wajah serta suaranya, meniru suara Sakura. "Narutooo~ ayo hunting~"
Sakura kontan saja berdecak muak. "Kau ini memang tidak pernah peka, ya? Lupakan saja yang tadi!" Sakura acuh melanjutkan perjalananya yang tertunda karena pembicaraan tak penting ini. Dibelakangnya, Naruto mengekor layaknya anak anjing.
"Lho? Sakura-chan tunggu!"
"Berhenti mengikutiku, baka!"
"Hmm... Mau bagaimana lagi. Rumahku kan disebelah rumahmu. Bukanya kau yang menunjukan rumah itu dan menyuruhku membelinya?" Naruto menyeringai lebar. Berhasil mendapatkan dengusan sebal dari putri tunggal pasangan Haruno yang berjalan menghentak disepanjang jalan.
Tak sampai sepuluh menit berjalan sambil menggerutu akhirnya keduanya sampai disebuah komplek rumah dan pertokoan.
Mereka berhenti didepan rumah minimalis bertembok bata dengan cat coklat pucat. Rumah standar dengan harga paling murah yang bisa dibeli dilantai satu. Disinilah Sakura bernaung selama game ini dimulai.
Pada awalnya ia hanya beristirahat dipenginapan. Tapi ketika sudah punya cukup uang, ia akhirnya memutuskan membeli rumah standar dengan harga tak lebih dari 75.000 gold. Cukup mudah untuk didapat karena sekali pertarungan kau bisa mendapat 1.500 sampai 2.500 gold tergantung seberapa banyak monster yang kau kalahkan.
"Ck! Rumahmu yang disamping! Sekarang bisakah kau menyingkir?"
"Tidak sebelum kau mau menjelaskan."
Sakura memutar bola matanya bosan. Ia mengambil kunci rumah dari menu item. "Terserah kau saja!"
"Sebenarnya kenapa kau jadi sensitif sekali, sih? Apa di dunia nyata sudah waktumu PMS, ya?"
Brakk
Naruto menutup mata rapat-rapat. Beberapa detik setelah yakin Sakura sudah menjauh dari daun pintu ia menarik napas dan menghembuskanya dengan berat. "Sekarang apa lagi yang terjadi denganmu, Sakura-chan?" Lirihnya.
.
.
.
.
Yarna. 1st Floor, 05.15 AM 03 Agustus 2022
.
.
Cklek
Sakura menyembulkan kepala merah mudanya keluar pintu. Memindai sejenak keadaan apakah bagus baginya untuk keluar sekarang. Ia menyeringai lalu berjalan mengendap, memasukan kunci rumahnya ke storage. Saat ini masih pukul lima seperempat. Bisa disebut pagi sekali.
Tapi kenapa gadis itu sudah mau beranjak sepagi ini? Sederhana. Ia sengaja keluar rumah sepagi ini agar tidak bertemu sosok menyebalkan yang ia sebut 'Naruto'. Gadis itu hari ini berencana untung hunting seorang diri tanpa mengajak si blondie itu. Karena itulah ia bangun pagi-pagi buta dan mempersiapkan diri lalu segera kabur dari sini sebelum-
"Yo! Ohayou, Sakura-chan!"
"Huwaa!" Sakura nyaris terjengkang jatuh dari tangga kecil didepan pintu rumahnya. Berkat Naruto yang berdiri santai dengan cengiran konyol bak orang tolol tak jauh didepan rumahnya.
"Kau? Kenapa kau disini?"
"Kenapa? Tentu saja mengajakmu-"
Sakura memicing. "-Maaf. Aku tidak berencana mengajak siapapun hari ini!" Ia bersedekap tangan, mendongakan sedikit wajah dengan ekspresi datar.
"Kenapa?"
"Aku hanya mau sendiri." Giliran Naruto memicing. "Hmm, sejak kemarin kau jadi aneh." Sakura berpura-pura tak mendengar dengan bergumam kecil. Lalu dengan gaya sok anggun melangkah melewatinya. "Oi, tunggu, dong!" Naruto cepat-cepat menyusul. Mengikuti kemana Sakura berjalan.
"Kenapa kau mengikutiku?" Naruto membagi cengiran khas sekaligus memamerkan deret gigi putihnya. "Ayolah, jangan sinis begitu. Sejak pertama terjebak di game ini kita sama sekali belum mengambil quest, karena itu aku mengajakmu mengambil sebuah quest. Bagaimana?"
"Dimana?"
Naruto tersenyum senditi ketika gadis itu tak menolak. Ia menarik tanganya dan membawanya berjelan cepat-cepat. "C-chotto- hoi! Jawab dulu pertanyaanku!"
"Nanti kau juga akan tahu.".
.
.
.
.
Panic Castle. 1st Floor, 07.15 AM 03 Agustus 2022
.
.
Mulut gadis itu setengah menganga, menyaksikan kemegahan istana dengan bata berwarna keabuan yang dihiasi ornamen-ornamen khas. "Inikan... Panic Castle? Kudengar banyak sekali guild ataupun party yang gagal menyelesaikan quest ditempat ini. Kenapa kau malah mengajaku kemari?"
"Tidak ada alasan khusus."
"Hahh... Terserah kau. Tapi aku akan buat sedikit kesepakatan dulu." Alis kuning si pemuda naik. Diiringi rasa pensaran yang menghantam pikiranya saat ini. "Kesepakatan apa?"
Sakura menggerakan sebelah tangannya. Jari telunjuknya ia angkat. "Ada tiga. Pertama, setiap kali gerombolan musuh datang maka aku yang akan melawan tiga perempat dari mereka dan kau yang seperempatnya!"
"Huwee? Itu serakah namanya!"
"Kedua." Sakura acuh. Sekarang menaikan jari tengah menemani jari telunjuknya. "Tidak boleh ada percakapan tak penting disepanjang quest!"
"Apa maksudnya itu? Aku tidak secerewet itu, tahu!"
"Ketiga." Jari manis si gadis naik. "Kesepakatan boleh dirubah oleh pihak pembuat disaat-saat genting!"
Naruto speechless... Mulutnya terbuka kecil dengan sorot mata yang seakan menjelaskan kalau ia baru dibohongi layaknya orang bodoh. "Kau seperti seorang diktator sekarang, ne?" Sakura acuh, beranjak mendahului Naruto, berjalan cepat menuju gerbang kastil bergaya bavarian itu.
Didepan sebuah pintu besi besar berwarna perunggu ia berhenti. Naruto melangkah mensejajarkan diri disamping Sakura. Tanganya terulur menyentuh penampang daun pintu tersebut, lalu munculah sebuah notifikasi beserta suara besar bergema.
«Selamat datang di Panic Castle, Ksatria! Kastil ini adalah perwujudan dari semua mimpi buruk yang jadi kenyataan. Hanya pejuang dengan keberanian tinggi dan tak kenal menyerahlah yang sanggup menaklukan kastil ini. Apa kalian adalah pejuang itu?»
Setelah suara narator selesai berbunyi, Naruto menekan tombol 'Yes' dan mengambil dua langkah mundur, diikuti Sakura.
Kreeet
Daun pintu terbuka perlahan dengan mengeluarkan suara derit panjang saat engselnya bergerak. Celah itu terus melebar hingga akhirnya pintu terbuka seutuhnya. Mereka disambut dengan desain interior dalam kastil yang memukau. Indah, layaknya interior istana sungguhan.
"Wahh... ternyata bagian dalam kastil ini tidak seseram namanya."
"Ingat, kesepakatan nomor dua." Sakura menggumam. Memperhatikan berbagai perabotan ruangan. Barang-barang antik macam guci, vas, atau patung berjejer rapi disisi ruangan. Berbagai lukisan tertempel didinding. Dan sebuah kolam kecil dengan air mancur memenuhi garis tengah ruangan.
"Tidak ada yang aneh dengan istana ini..." Gadis itu berpendapat. Di ujung ruangan ada sebuah pintu besar. Sebuah pintu dari bahan dasar kayu. Dan keduanya mengangguk setelah saling melirik. "Jangan membuang waktu, ayo!" Lanjutnya.
Kreet
Pintu kayu diujung ruangan tiba-tiba berderit terbuka. Naruto dan Sakura memasang posisi siaga. Menggenggam pegangan pedang yang masih tersarung. Bersiap menanti kedatangan monster yang mungkin menyambut mereka.
"Eh?" Naruto mengendurkan bahunya yang menegang. Tanganya melepas genggaman pada pedangnya. Ia melirik kearah Sakura, gadis itu mengendikkan bahu.
Dari ujung ruangan, beberapa player berjalan gontai. "Kalian! Lebih baik jangan masuk lebih dalam!" Teriak seorang player berambut hitam pendek dengan bandana dilehernya. Membentuk corong dengan tangannya agar suara terdengar lebih jelas.
Sakura menoleh kesekeliling, memastikan jika merekalah orang yang diberi peringatan oleh pria tersebut. Tapi tidak ada orang lain disekitar mereka yang menandakan memang merekalah orang yang dimaksud.
Enam orang berhenti didepan keduanya. Wajah mereka yang lesu dan beberapa helaan napas yang terdengar dari salah satu diantara mereka membuat keduanya makin bingung dan peenasaran. "Ada apa dengan kalian?"
Seorang player perempuan berambut coklat dikuncir menyahut. "Hahh... benar rumor yang dikatakan orang-orang. Quest disini sangat sulit untuk dilakukan..."
Sakura menoleh kearah Naruto yang tiba-tiba bersiul-siul tak jelas. "Kenapa kau tidak cari tahu dulu insformasi sebelum mengambil sebuah quest, baka!?" Pemuda itu mengeluarkan cengiran kaku, menggosok belakang kepalanya yang gatal... aa, tidak juga, sih...
Sakura mendengus kesal, beralih kembali. "Sebagai sesama player, bisakah kalian membagi informasi tentang tempat ini, tolong?"
"Kalian yakin tetap ingin masuk?" Tanya si pemuda dengan bandana, khawatir.
"Bagaimana sekarang? Apa kita akan tetap melanjutkanya, Sakura-chan?" Sakura, dengan raut serius terpasang diwajah membuat pemuda dihadapan gadis itu mau tak mau ikut serius juga. "Kita akan tetap masuk!"
"Haa? Serius?" Sakura mengangguk yakin. "Tapi bagaimana kalau-"
"Kesepakatan nomor tiga!" Wajah Sakura mengeras. "Kesepakatan boleh dirubah oleh pihak pembuat disaat-saat genting. Dan kurasa ini saat yang genting. Aku akan menambah satu kesepakatan lagi, yaitu... tidak boleh ada pembantahan!"
Gubrakk
'Apa-apaan dia itu... tapi kenapa juga aku bisa sangat terikat dengannya?' Batin Naruto sweatdrop. Tak ingin ikut campur konflik internal, seisi anggota guild remaja itu hanya diam menyimak saja.
"Kami akan pergi saja. Temanku ini sedang PMS jadi dia agak berubah sifat- ohok!" Siku Sakura menancap dalam keperut sampingnya.
"Cerewet kau, baka! Ingat kesepakatan nomor dua!" Dilain sisi, tiga orang pemuda nampak sweatdrop sedangkan para gadis menggigit bibir. Gemas melihat pertengkaran kecil seperti pasangan utama dari sebuah dorama itu.
"Kami akan masuk, bisakah kita minta bantuannya?"
Pemuda itu tersenyum, mengangguk sesaat. "Naruhodo, kalau begitu akan kujelaskan struktur penting quest ini. Kastil ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama memiliki enam ruangan, lima lorong dan sebuah tangga untuk naik kelantai selanjutnya. Lalu lantai kedua ada tiga ruangan dengan dua lorong. Di penghujung ruangan dilantai dua, kita harus mengalahkan quest boss di kastil ini agar bisa menyelesaikan quest."
Tangan pemuda itu bergerak membuka map di menu item. Ia menunjuk ke beberapa titik. "Lihat tanda silang dibeberapa lokasi ini? Disitulah titik vital bangunan ini. Akan ada jebakan, ruangan anti-teleport atau monster berlevel sedang hingga tinggi. Untuk berjaga-jaganya, kusarankan kalian memasang mata dan telinga kalian baik-baik dilorong urutan ganjil. Memang kami hanya bisa mencapai ruangan keempat lantai pertama, tapi semoga saja informasi ini benar dan bisa membantu kalian."
"Wakatta, terima kasih banyak!"
.
.
.
.
"Kita sampai diruangan pertama, tanpa halangan yang berarti." Sakura mengendik. Sibuk memperhatikan map digitalnya.
"Bukannya itu bagus? Kita bisa jadi party pertama yang menyelesaikan quest ini-ttebayo!" Sakura merentangkan sebelah tangannya menahan lebih lanjut langkah Naruto. Iris emerald-nya menajam melihat beberapa titik di map-nya.
"Ada yang datang!"
Sriing Sriing Sriing
Simbol lingkaran sihir bermunculan. Diikuti munculnya beberapa monster yang keluar dari sana. "Musuh pertama."
Sakura menarik pedangnya dari sarung dipinggang kiri. "Aku akan mengatasi yang tiga! Satunya terserah ingin kau apakan!"
"Ck! Menyebalkan."
"Ingat, kesepakatan terbaru tadi. Tidak ada pembantahan!" Ada empat monster dengan dua jenis berbeda. Jenis yang pertama monster dengan tubuh tinggi berbadan es dengan kedua tangan yang tak memiliki jari dan meruncing ujungnya.
Satu jenis lain berbentuk manusia kurus kering berbalut perban hingga wajah. Hanya menampakan mata kirinya yang menyala kehijauan. Seperti mumi. Ia membawa sebuah belati dan berjalan merangkak.
'Anubis Templar dan Blizzarion. Monster kelas rendah dan sedang, tak terlalu sulit.'
'KAAAARRR!' Satu mumi memulai pertarungan. Merangkak cepat layaknya reptil yang berlari ditanah panas. Sakura memasang kuda-kuda. Kaki kanan berada didepan dan kaki kiri sedikit kebelakang. Tangan kanan menggenggam gagang pedang sedangkan yang kiri mengimbangi menggenggam sarungnya.
'GYAAA!' Mumi itu melompat tinggi lalu menukik dengan sebilah belati tajamnya.
Trang
Belati yang panjangnyanya hanya tiga perempat pedang milik Sakura itu nyaris terlepas dari genggaman ketika gadis itu dengan sword skill-nya melemparkan tubuh dengan perban itu.
'KARRRRR!' Mumi lain merangkak cepat melebar kesisi kiri. Mencoba menyerang dari titik lemah posisi Sakura sekarang.
"Earth: Spike Mines!" Sakura menempatkan satu tangannya dilantai. Dari tempatnya berjongkok, muncul lingkaran sihir berwarna hijau yang melebar hingga sepuluh meteran sebelum lenyap tak nampak.
Satu mumi melompat kedalam area lingkaran sihir Sakura tanpa tahu kalau itu jebakan. Seketika itu juga tanah mencuat tajam dari bawah menusuk mumi itu begitu mendarat.
Jlebb
'GYAAAA!' Ia tertusuk dari punggung hingga tembus kedepan, lalu hancur dalam berkas hologram.
Sakura cepat berbalik, menemukan satu mumi lain melesat mencoba menyerang dari belakang. Mahluk itu menukik setelah melompat tinggi.
Brughh
Debu berterbangan menutupi pandangan setelah hantaman keras itu. Ketika debu itu menipis gadis itu lenyap tanpa jejak yang berarti. Disaat kebingungan melanda, sinar kehijauan yang menyilaukan dari sebilah pedang berkelip dari atas.
"Whoa..." Naruto terkagum-kagum. Sakura menukik dari atas dengan sword skill maksimal. "Shannaroo!"
Crashh
'KAAAAA!' Mumi itu terbelah menjadi dua bagian hanya dengan satu serangan. Bukan hal aneh. Monster sejenis ini hanya harus diwaspadai kecepatanya, HP-nya tak sampai 70.
"Tinggal dua!" Sakura menajamkan mata, mengacungkan pedangnya kearah dua monster besar tinggi yang berdiri agak jauh didepannya. "Maju kalian jelek!"
Bersamaan, dua mahluk yang dimaksud menggeram. Dari mulut mereka menguar asap keputihan menandakan betapa dinginnya hela napas mereka. Satu dari mereka mengambil langkah maju, sementara yang satu tetap ditempat.
Monster didepan saling menyilangkan tangannya didepan tubuh. Sakura bersiaga. Menekuk kedua lutut sedikit dengan pedang digenggam dua tangan.
'GRRRR... RRRAAA!' Mahluk es itu mengayun dua tangannya serentak kedepan. Muncul gelombang es yang meninggalkan jejak memanjang dilantai mendekati Sakura dengan cepat.
Segera ia membuang tubuh ke kiri.
Blashh
Naruto menutup wajah dengan lengan. Gelombang dingin menyeruak hingga ke sum-sum tulang saat serangan itu menghantam dan membuat tembok didekatnya dilapisi es.
Monster itu menyerang lagi dengan cara yang sama hingga dua kali.
Blashh Blashh
Tetap saja, gadis itu menghindar dengan sigap.
'GRAAAR!' Sakura membelalak. Ia mendengar geraman keras yang disusul sarangan serupa namun jauh lebih besar dari sebelumnya.
Wushh
Ia membumbung tinggi di udara demi menghindari serangan yang berpotensi besar membuatnya paralyze.
Criing
Namun ia dibuat tersentak ketika Blizzarion yang membuat serangan itu sudah malayang berhadapan dengannya. 'HYAAA!' Ia menghunuskan tangan kanannya kedepan.
Trang
Sakura berhasil menahan serangan pertama. Sebelum satu tangan yang lain menyerangnya, Sakura mengeluarkan serangan magic. "Wind: Phantom Dive!"
Wusshh
Efek angin muncul keluar dari lingkaran sihir Sakura. Angin membentuk satu tangan utuh yang mengayun dari samping, seperti gerakan menampar.
Prassh
'GYAAAR!' Tubuh besar Blizzarion itu terhempas jauh kebelakang. Menghantam dinding lalu jatuh menabrak lantai.
"Yosh!" Gadis itu berhasil mendarat dengan benar.
"Yang tadi itu keren." Sakura nyaris menebaskan pedangnya kalau ia tak berhasil menahan. "Jangan menganggetkanku seperti itu , baka-pirang!" Naruto terkekeh kecil. "Setelah kupikr-pikir lebih baik semua monster disini kau saja yang kalahkan."
Sakura meringis. "Kenapa?"
"Tidak apa. Aku hanya ingin melihat lagi pertarunganmu. Sangat keren jika kau minta pendapatku!" Naruto menyeringai lebar. Dihadiahi dengusan angkuh Sakura. "Kau bilang saja kalau kau takut melawannya." Sakura tersenyum mengejek, memberinya tatapan remeh. "Hehh... enak saja! Kebetulan aku sedang malas saja, tahu! Tapi aku hanya menyarankan, strength mereka hampir menyamai kelas warrior, dan kecepatan mereka cukup bagus. Serangan beruntun dan magic mungkin strategi terbaik untuk kau gunakan."
"Aku juga paham hal seperti itu." Sakura menyeringai kecil. Memasang ancang-ancang.
Wussh
Gadis itu melompat keatas. Memajukan telapak tangannya yang bebas. "Fire: Thousand Swallow!" Simbol sihir seperti lingkaran dengan berbagai macam huruf kuno muncul dengan telapak tangan sebagai pusatnya. Dari sana keluar kobaran api besar yang kemudian terpencar kecil-kecil.
Citt Citt Citt Citt
Membentuk ribuan burung kecil yang meluncur serta bersinar layaknya komet.
Wussh Wussh Wussh Blarr Blarr Blarr
'GYAAAA!'
Tak satu pun meleset. Semua kena dengan telak, membakar tubuh mereka juga berkobar-kobar diatas lantai. Namun Sakura tak bisa tenang dulu. Ia tahu kalau mereka belum kalah hanya dengan serangan itu.
Sriing
Ia mengaktifkan sword skill berwarna kehijauan dari pedangnya. "Hyaaat!"
Crashh
Ia mendarat dengan menyertakan satu tebasan vertikal yang mengenai monster disisi kanan. Sakura segera berputar, beralih menebas horizontal monster disisi kiri.
Crashh
Keduanya sedikit terseret. 'GAARRR!' Mereka menggeram dan memulai pertarungan lagi. Maju bersamaan dan menebas secara bergilir.
Sriing Trang Sriing
Berkali-kali serangan mereka membelah udara kosong dan berhasil ditangkis. Sakura bergerak lincah dan cerdik demi menghindar sambil memberi serangan balasan.
"Sekarang giliranku!" Pedang Sakura bersinar kehijauan, sword skill. Ia maju sedekat mungkin monster disebelah kanan. "Hyaaa!" Ia menebas pedangnya diagonal.
Crassh
'UWAAAA!' Serangannya berlanjut. Menebas lurus menyamping tepat dipinggang si monster. Mata hijau Sakura melirik, dua serangan berhasil menurunkan HP hingga seperempat. Tapi satu tebasan vertikal mengincarnya, mengganggu rantai serangannya.
Trang
Ia tangkis dan dorong hingga pertahanan monster itu terbuka jelas. "Satu hancur!"
Crassh
Blarr
Tepat seperti ucapannya, monster pertama terpelanting dengan luka memanjang lalu hancur berkeping-keping. Ia mengambil jarak untuk memasang kuda-kuda.
'GRAARR!' Blizzarion terakhir meraung geram. 'HUUAARR!' Ia berlari cepat bertepatan saat gadis itu ikut menyongsong kedepan.
Sriing
Sambil berlari Sakura memasang sword skill. Satu tangan sang monster menyabet dari arah samping. Mata jeli Sakura melebar melihat serangan datang. "Hyaaa!"
Sreeeek Crassh
Dengan tangkas ia meluncur menunduk melewati serangan itu sekaligus menebaskan pedangnya dikaki kiri. 'GROAAKK!' Monster itu pincang kehilangan satu kaki. Namun ia gigih tetap memberi perlawanan.
Syuut Syuut
Ia menembakan bola debu kristal dari mulutnya, dihindari dengan menyamping kekiri dan kanan. Tak mengijinkan Sakura menghindar lagi, ia menusukan satu tangannya. 'HYEEAA!'
Sakura melompat, bersalto diposisi tinggi, lalu meluncur deras. "HAAAA!"
Jlebb
Ia menusuk pedangnya dalam-dalam tepat ditengkuk, menghasilkan raungan memekakan telinga sebelum melompat mengambil jarak aman. 'HUWAAA!'
Blarrr
Monster itu hancur berkeping-keping...
Warrio-mage itu menormalkan napas. Menyarungkan pedang kembali ketempatnya. "Selesai."
"Hmm, lumayan."
Gadis berkening lebar itu tak menjawab. Lebih memilih menutup mulut sambil menatap dengan sorot sombong kearah Naruto. "Lumayan? Kau harus akui kalau yang tadi itu keren! Shannaro!" Sakura berjingkrak girang mendapat kekehan geli dari si pemuda. "Oke-oke, yang tadi keren. High five!" Aba-aba itu disambut. Mereka mempertemukan telapak tangan di udara. Diselingi tawa yang menguar dari masing-masing individu.
Plokk
.
.
.
"Nama kastil ini tidak cocok dengan desain ruanganya yang berkelas, hm."
"Kita disini bukan untuk tur seni, kau ingat?"
"Ck, aku tahu! Sebagai sesama seniman harusnya kau menghargai interior ruangan ini, hm!"
"Kita punya banyak waktu untuk melihat-lihat, tapi setelah kita dapatkan item spesial dengan mengalahkan boss."
"Yah, mau bagaimana lagi..."
.
.
.
Naruto terkekeh geli. Menatap gadis berjubah merah dengan bagian pinggang kebawah terbelah didepan. Menampakan celana hitam pendek diatas lutut juga semacam stocking hitam hingga paha, plus boot-nya juga.
"Apa yang lucu?." Giliran Sakura yang mendengus.
"Sekarang aku yakin kau benar-benar PMS. Tadi kita tertawa-tawa dan mendadak kau jadi ketus lagi jika kutanya."
"Aku bukannya ketus. Hanya menerapkan kesepakatan nomor dua. Lagipula..." Sakura berhenti. Memutar badan menghadap pemuda yang memakai baju lengan panjang berwarna yang di bagian dada tertutupi armor perak. Baju itu punya warna favorit sahabatnya sejak kecil. Hitam dibagian bahu kebawah, lalu sisanya dibagian tubuh dipenuhi warna oranye. Celana hitam pudar beserta sepatunya juga terlihat matching.
"Kenapa kau jadi perhatian sekali hari ini?"
"Hmm? Kurasa bukan cuma hari ini. Setiap saat, setiap waktu aku selalu perhatian padamu, kan?" Padahal kata-katanya sederhana. Tapi kenapa hal itu bisa jadi pemicu jantungnya untuk berdetak lebih kencang?
Degg Degg Degg
Sakura tak mau mengakuinya secara terang-terangan. Kedekatannya dengan Naruto dari kecil membuat sebuah ikatan yang diakuinya sebagai persahabatan. Tapi semenjak ia tumbuh jadi remaja. Katakanlah hormon dan adrenalinya sebagai darah muda melonjak. Mulai ketika itu ia melihat Naruto bukan sebagai bocah kecil yang selalu menyeringai riang kearahnya.
Tapi ia belum bisa memastikan seperti apa ia memandang Naruto sekarang. Yang ia tahu sekarang ia jadi sebal sendiri melihat Naruto berakrab ria dengan gadis selainnya. Saat senang ingat dia, saat sedih ingat dia. Jadi sebenarnya perasaan absurd apa itu? Sungguh, ia belum bisa menjabarkan.
.
.
.
Zraaashh
'GRRYYA!' Sabetan diagonal meninggalkan luka silang panjang didada menoster es itu. Ia terseret belasan meter dengan berkas-berkas hologram berterbangan dari tubuhnya. Satu monster sejenis yang tersisa menatap kosong kearah rekannya yang tumbang. Ia bergerak mundur perlahan.
"Hanya seperti itu saja kemampuan monster disini. Sering menjalankan tugas sepele semacam ini tidak bisa mengembangkan keahlian seniku, hm!" Ungkap pria berjubah hitam serta berambut pirang dikuncir.
"Tapi meski begitu, belum ada seorang player pun yang berhasil menaklukan kastil ini dan mendapat item langkanya." Kali ini satu laki-laki lain yang berpakaian sama namun berambut merah yang berujar. Ia berjalan tenang dengan tangan bersedekap. "Kita baru melewati lorong pertama, cepat kita selesaikan dan pergi dari sini."
"Ck, kau ini memang tak sabaran, hm! "
"Itu karena, aku memang tidak suka menunggu, apalagi membuat orang lain menunggu!"
Wushh
Dua pria itu berlari sejajaran.
Sriiiing
Pedang ditangan mereka mengeluarkan sinar kemerahan pekat layaknya darah terpapar biasan cahaya.
"Kita tunjukan seni kita!"
Crassh Crassh
'UHOORKK!' Monster yang sebelumnya nampak merepotkan itu jatuh tumbang terbagi menjadi dua bagian atas dan bawah dengan mudahnya. Bahkan ia belum sempat sedikit pun berkutik karena serangan dua orang itu...
.
.
.
Iris biru itu berkedip. Pintu besar dengan dua obor dimasing-masing sisi membuatnya sedikit tak percaya. Pintu ruangan quest-boss, hampir sampai penghujung quest ini! "Ahaha! Kita orang pertama yang sampai sejauh ini! Hebat sekali-ttebayo!" Sakura mengangguk sepakat. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuanganya.
"Siap?" Gadis itu mengangguk.
Naruto ikut mengangguk dan mendorong daun pintu itu hingga terbuka sedikit demi sedikit. "Siapkan kristal teleportasi."
"Hm!"
Pintu itu terbuka lebar. Diiringi kristal-kristal yang memancarkan cahaya sendiri untuk penerangan. Kaki keduanya melangkah perlahan, pedang sudah berada digenggaman. Naruto membuka menu Soul Set dan memilih beberapa abillity untuk digunakan.
"Tingkatan boss quest tidak setara dengan boss lantai, jadi jika hanya kita berdua kurasa masih bisa. Tapi tetap saja tidak menutup kemungkinan kalau kita bisa terdesak nanti..." Dengan agak susah Sakura meneguk ludah. Didepan mereka ada sebuah altar bundar dengan relief rumit dilantainya.
Zraatt
Sinar kehijauan menyambar bagai guntur ke tengah-tengah altar itu. Dan hal selanjutnya yang mereka lihat adalah sesosok pria berpakaian seperti pendeta hindu yang melayang tanpa alas dalam posisi bersila dengan dua tangan menyatu didepan dada. HP bar-nya terdiri dari dua deret, masing-masing sebesar 2500.
«Quest Boss: Two Faces Sage, Maha Vailo»
"Dia datang!"
Tanpa suara apapun pria itu membuka satu tangannya lebar-lebar. Kedua remaja itu kaget bukan kepalang.
Zrreett
Gelombang transparan melebar jauh. "Serangan!" Sakura berteriak kaget. Buru-buru keduanya menutup mata rapat-rapat. Gelombang itu melingkupi seluruh area pertempuran, tapi tidak terjadi apapun dengan keduanya.
"Eh?"
Sang quest boss kembali ke posisi duduknya yang semula. Bahkan tak terbesit keinginan untuk menyerang sepertinya.
"Kenapa dengannya?"
Sriing
"Kita ambil kesempatan, langsung serang!" Naruto melesat cepat mendekati altar. Diikuti Sakura yang sebelumnya menyiapkan sword skill.
Swushh
Naruto melompat tingga ke udara, berputar menyamping dengan cepat demi menebaskan pedangnya agar telak. "HYAAA!"
Takk
Tebasan itu mengenai bahu kanan boss berwujud pendeta itu. Namun... seranganya...
"A-apa yang terjadi?" Sakura menghentikan langkah. Naruto membolakan mata, melompat mundur sejauh yang ia bisa. Pria berjubah pendeta itu mengangkat telunjuk.
Zratt
Petir biru menyambar tepat ke ujung jarinya. Dan saat petir itu berbenturan tiba-tiba terpecah menjadi lima pilar petir yang bergerak singular, menjauh dari pusat dan melebar hingga membabat Naruto menjauh.
Ctarr Ctarr Ctarr
"GYAAA!"
"Naruto!"
Bukk
"Ghh..." Tubuhnya terhempas ke dinding dengan kuat. HP turun hingga seperenam bagian. "Kusso! Apa yang terjadi barusan? Kenapa seranganku tidak mempan?"
Sakura menghambur mendekat. Membantu Naruto untuk berdiri kembali. "Kau tidak apa-apa?" Pemuda itu menganggukan kepala. "Aku tidak tahu kenapa seranganmu gagal, tapi kali ini aku yang akan menco-"
"-tunggu, jangan dulu! Aku ingin memastikan sesuatu." Alis merah jambu itu menukik keatas. Naruto menoleh memberi tatapan seriusnya. "Kita serang dari dua arah, sesuaikan tempo."
"Hm!"
Sriing Sriing
Keduanya mengaktifkan sword skill. Memposisikan pedang yang kiranya senyaman mungkin agar bisa memberi serangan telak. "Ayo!"
Wushh
Mereka melangkah menyerang. Naruto melebar ke kanan sedang Sakura ke kiri. "HAAAA!"
Boss quest sama sekali tak merespon serangan yang menuju kearahnya. Hanya tetap diam dan duduk seakan memang berniat menerima serangan.
"HYAAA!" Mereka membelok tajam, menyerang dari dua sisi.
Daasshh
Serangan menebas dari dua arah. Seharsunya menimbulkan goresan menyilang panjang didadanya, namun kenyataanya hanya ada satu tebasan, dan tebasan itu dari Sakura. Hanya menurunkan 95 HP-nya.
Naruto tersentak, menggemelutkan giginya geram. Ia mengangkat tangannya yang kosong lalu merapal spell. "Earth: Rock Berserk!"
Grrkkk
Dari lantai muncul sebongkah batu didepan Naruto. "Hyaa!" Ia meninjunya dan melesatkan pecahan-pecahan tajam dari batu itu ke musuh.
Takk Takk Takk
Sosok yang diserang hanya tergeser posisinya, HP-nya sama sekali tidak turun, goresan pun tak nampak...
"Mundur!" Sakura memberi aba-aba. Keduanya melompat mundur demi mendapat jarak aman. "Sialan! Seranganku yang biasa ataupun magic sama sekali tidak berpengaruh."
"Tapi tebasanku berhasil."
"Karena itulah aku bingung. Apa yang dilakukanya hingga jadi seperti ini?" Sakura terdiam, mengingat-ingat. Kelopaknya melebar saat mengingat sesuatu. "Itu dia! Sebelum pertarungan dia menembakan gelombang yang sama sekali tidak berdampak pada kita, ingat?"
"Tapi tidak mungkin hanya karena itu... ataukah jangan-jangan... ini..."
"..."
"..."
"..."
"... Battle limit..."
.
.
.
"Haa? Kenapa pintunya terkunci?"
"Cih, kita keduluan! Ada seseorang didalam sana."
"Tapi kukira kita player pertama yang bisa sampai kesini, hm!? Berarti sekarang tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu..."
"Hilangkan kata 'menunggu'. Aku paling benci kata itu..."
.
.
.
Bibir Naruto bergetar. Setiap kali ingin membuka suara selalu tercekat ditenggorokan. Tubuh Sakura bergetar perlahan, mulai merasa bimbang sekarang. "Sakura-chan, saat ini darurat! Teleport!" Gadis pink itu mengangguk. Segera mengeluarkan kristal teleportasi dan mengaktifkannya. "Transfer: Yarna!" Ia mengangkat tinggi-tinggi kristalnya, namun...
Hening...
"Tidak terjadi apapun... Kusso! Ruangan boss ini juga anti-teleport!"
"La-lau apa yang harus kita lakukan?" Sakura mencengkram helaian merah mudanya frustasi. "Apa yang harus kita lakukan... kenapa battle limit itu hanya mengenaimu?"
"Aku mulai paham sekarang." Sakura menoleh kearah sahabat kuningnya. Ia lihat tangan tan itu terkepal erat saking tingginya tingkat kekesalan pemuda itu. "Di game online biasanya ada tiga macam boss. Pertama boss dungeon, boss yang wajib untuk dikalahkan demi progress permainan kita. Lalu mini-boss, boss yang bisa membuatmu dapat banyak bonus jika bisa kau kalahkan. Kemunculannya random dan bisa ada dimana saja. Tapi tidak berpengaruh pada progress permainan apabila kau biarkan. Lalu yang terakhir..."
"Boss quest... boss yang harus kau kalahkan jika ingin menyelesaikan sebuah quest karena jika tidak maka quest itu akan gagal..."
Naruto menanggapi dengan mengangguk sejenak. "Boss quest bisa dikategorikan menjadi dua. Boss pembawa item dan boss penjaga. Biasanya tingkat keagresifan mereka tergantung dari jenisnya. Boss pembawa item tidak terlalu agresif tapi bisa memanfaatkan item yang dijaganya untuk melawan. Sedangkan boss penjaga cenderung ganas namun tak pernah bisa meninggalkan tempat yang ia jaga. Jadi jika kita berniat kabur boss itu tidak akan mengejar..."
"Lalu, jenis boss yang saat ini kita lawan jenis yang mana? Apa penjaga sebuah item?"
"Ya... itulah sebabnya ruangan ini anti-teleport. Kalau boss ini adalah boss penjaga kita bisa kabur sejak tadi..."
"Berarti, jenis item yang ia jaga adalah..."
"Item yang ia jaga bukan item biasa... item itu-"
.
.
.
Dua sosok berjubah hitam itu masih tetap berada diluar pintu. Satu sosok pirang duduk bersila dilantai, sedangkan sosok merah berdiri bersandar dinding. "Oi, ngomong-ngomong, memangnya item apa yang dijaga boss quest ini? Kita sampai repot-repot datang kemari, hm!"
Iris hazel pria berambut merah bata itu menajam. Tangannya ia sedekapkan didada. "Menurut informasi... adalah item pembuat battle limit."
"Battle limit?"
"Hm. Jika kau terus memakai item itu maka area dengan jangkauan tertentu dengan kau sebagai pusatnya akan diterapkan battle limit. Player dengan level tertentu tidak akan bisa melukaimu sebanyak apapun mereka mencoba. Tapi luas jangkauan dan level berapa player yang bisa kau batasi tergantung seberapa tinggi level item itu yang kau tingkatkan."
"Cih, siapa yang kira item selangka itu ada di lantai satu?"
.
.
.
"T-tidak mungkin... jadi, kenapa hanya kau yang terkena battle limit adalah karena item itu mempengaruhi player berlevel 20 keatas?"
"Hm, dan sialnya aku player berlevel 20... andaikan kita mendapatkan item itu maka efeknya akan berimbas pada player dengan level kurang dari dua puluh. Namun, seiring peningkatan level di item itu maka player berlevel lebih tinggi juga bisa terkena dampaknya..." Tangan pemuda itu mengepal.
"Kusso... tidak ada yang bisa kulakukan sekarang..."
"..."
"..."
"..."
"Berarti kau sudah paham rasanya jadi beban..." Naruto tersentak kaget. Menoleh kearah sampingnya.
"Haa?"
"Rasanya menyebalkan bukan? Seperti itulah perasaan yang kurasakan belakangan ini..."
"Sakura-chan..."
"Dengan begini kau juga pasti merasakan betapa tak bergunanya dirimu untuk orang-orang yang justru ingin kau lindungi..." Sakura menundukan wajah jelitanya, menatap lantai berornamen indah disana. Naruto masih memilih bungkam, menyerap semua yang ingin Sakura katakan.
"Aku hanya ingin satu kali saja bisa jadi lebih kuat dan melindungimu..."
"Eh? Jadi, sejak kemarin kau bersikap aneh hanya karena masalah itu?"
"Baka! Permasalahannya tidak sesederhana itu..." Gumam gadis itu gugup.
Naruto tak tahu harus bereaksi seperti apa. Tapi sedikit terbesit keinginan untuk mencubit gemas pipi gadis itu yang menggembung. "Begitukah? Aku tidak pernah menyadarinya karena kau tidak pernah bilang. Yah, tapi sebagian ini juga salahku, sih..."
"Jadi kau mengijinkanku?"
"Tentu saja tidak." Sakura dibuat menganga berkatnya.
Naruto melirik lewat ekor mata kearah sang boss yang masih duduk diam tanpa bergeming sedikitpun. "Meskipun boss itu hanyalah boss quest tetap saja akan sulit dikalahkan. Mana mungkin kubiarkan kau bertindak sendiri."
Sakura terpaku. Wajahnya yang semula keruh nampak bertambah keruh. Ia mengikuti fokus Naruto yang tertuju kedepan.
"Dari serangan tadi kau pasti juga punya pemikiran yang sama denganku. Boss kali ini punya tipe serangan ranged. Beda dari serangan direct, monster bertipe ranged attack akan sering menyerang dari jauh dan akan sulit untuk didekati. Tapi begitu kita berhasil mendekat maka kita bisa terus menghujaninya dengan serangan cepat. Bukannya aku merendahkanmu atau bagaimana. Tapi kelasmu tidak mendukung untuk bisa memberi serangan cepat."
"Kau menyebalkan!" Kaki jenjang gadis itu menapak beberapa langkah kedepan sementara tangannya bergerak mengambil pedang. "Bagaimanapun akan kucoba!"
"O-oi! Tunggu!"
"Aku mulai!"
.
.
.
.
TBC
.
.
A/N: Umm... h-hai #plakk Eheheh... moga-moga aja ada yang masih menunggu dan mengharapkan fic ini. Harusnya chapter ini super panjang (itulah alasan kenapa penulisannya lama) tapi saya pangkas hampir setengahnya di chapter selanjutnya.
BTW, semoga kalian suka membacanya meski updatenya yang kelewat telat^^, review?
.
.
Keterangan pemisah halaman:
4 - skip time and place
3 - ganti scene
Eh, seharusnya keterangannya saya taruh diatas, kan? #gubrak
