bertemu lagi dengan saya si penulis amatiran, maaf membuat kalian menunggu #emang ada yang berharap? T_T
terima kasih sebelumnya atas review yang diberikan *sungguh, saya sangat s
enang membaca dan menerima tiap review dari minna-san. itu menjadi penyemangat saya dalam menulis cerita ini.

maafkan jika banyak typo dsb

.


2 tahun yang lalu…..

_Minami Kotori_

Ku buka perlahan kedua mataku, kurasakan genggaman erat menjalar di tangan . Itu yang kurasakan di bagian belakang kepalaku. Juga punggung kananku.

Silau. Apa yang sebenarnya terjadi?

"kau sudah sadar, Minami-san?"

"aku dimana? Apa yang terjadi denganku?" ku arahkan padangan pada sosok gadis berambut sebahu dengan kacamata yang bertengger di wajahnya.

"kau di rumah sakit"

"maaf kau siapa?"

"oh. Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Koizumi Hanayo"

"kau yang membawaku ke sini?"

"bukan aku saja. Tapi bersama –"

Srekkk…

Seseorang menggeser pintu kamar tempat aku dirawat saat ini. Pandanganku masih sedikit kabur untuk melihat objek jarak agak jauh, namun dari postur tubuh sepertinya aku mengenalinya.

"ah! Toujou-san"

"kau mengenalnya, Koizumi-san?" tanyaku

"panggil saja Hanayo"

"baiklah, Hanayo-chan"

"beliau lah yang membantuku membawa mu ke sini"

.

Seseorang yang dipanggil Toujou-san oleh Hanayo tadi mendekat. Ternyata aku memang mengenalinya. Dia Nozomi-sensei.

"bagaimana perasaanmu?" Nozomi-sensei mengelus lembut kepalaku. Sudah lama aku tidak merasakan belaian seperti ini.

"sudah lumayan"

"aku dengar kau yatim piatu. Jadi boleh aku mengadopsi mu? Kebetulan aku hanya tinggal sendiri dan kau tahu kan rasanya sendirian?"

Aku tercengang. Sungguh. Apa ini mimpi? Aku harap bukan.

"tentu saja boleh!" senyumku melebar seketika. Lagipula sendirian itu memang tidak menyenangkan.

"baiklah kalau begitu, aku tinggal dulu. Akan ku urus semuanya" dia mengelus kepalaku lagi.

"Terima Kasih banyak sensei"

Ternyata beliau tidak seburuk saat menggunakan perannya sebagai seorang guru. Sangat baik.

.

O.o.O.o.O.o.O

Aku tiba di rumah baru. Semuanya baru. Keluarga baru. Nozomi-sensei telah resmi menjadi orangtua angkatku, dan terlebih lagi kita tinggal di New York. Aku disekolahkan di Sekolahan khusus Desain. Ya, itu memang impianku, menjadi seorang desainer. Mungkin suatu saat aku memang harus membayar kebaikan beliau.

Tapi dibalik kesenangan itu, masih ada satu penyesalah dan rasa bersalah yang menyelimuti perasaanku.

Umi-chan… bagaiman dia sekarang?

"Hanayo-chan?" panggilku. Hanayo ada bersama dengan kami di sini karena dia juga sebenarnya tinggal di New York. Kebetulan saat di Jepang waktu itu, dia sedang liburan dan menemui sepupunya.

"ada apa Kotori-chan?" well, kami sudah sepakat untuk memanggil nama depan.

"ada apa denganku sebenarnya, sebelum aku ada di rumah sakit? Jujur saja, aku lupa dengan kejadian yang menimpaku, yang ku ingat terakhir kali itu aku bertengkar dengan sahabatku"

"apa kau benar-benar ingin tahu?"

Aku mengangguk.

.


_Koizumi Hanayo_

"Kayochin…. Kayochin…." Seru seseorang seraya memelukku dari belakang.

"Rin-chan. ada apa?" aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang selalu bersemangat itu.

"hari ini aku akan melakukannya lagi" ucapnya mantap.

"apa?!" aku terkejut "bukannya waktu itu sudah ditolak ya? Kau yakin akan melakukannya lagi?" ucapku meyakinkan.

"aku bersungguh-sungguh. Aku benar-benar mengaguminya"

"tapi Rin-chan…"

"Minami Kotori. Dia senpai yang menawan. Lihat ." dia menunjukkan foto seorang bernama Kotori itu padaku, melalui ponselnya. Dia memang cantik.

.

Hoshizora Rin. Dia sepupuku. Selalu terlihat bersemangat dan ceria. Terkadang aku iri dengan sifatnya itu, dia begitu jujur dan berani juga polos. Dia selalu saja menceritakan sosok yang ia sukai itu padaku, tapi, aku akan selalu mendukungnya.

"kalau begitu aku boleh ikut? Aku akan melihat dari jauh saja"

"boleh kok!"

Dia bilang, dia akan menyatakan perasaannya lagi di Taman Akiba, karena dia tahu kalau sang senpai–nya itu akan berada di sana.

Namun mendadak Rin-chan menghentikan langkahnya.

"Kayochin, kau bisa tunggu di sini sebentar?"

"eh? Ada apa memangnya?"

"aku ada urusan sedikit"

"tapi–"

Rin-chan mengenggam tanganku "daijoubu desu~"

Dia terlihat aneh. Belum pernah aku melihat ekspresi seperti itu. tapi wajahnya menunjukkan keyakinan yang besar.

"….kalau aku belum kembali dalam waktu 10 menit, jemput aku ya" lepas itu ia langsung memelukku erat dan membisikanku sesuatu yang etah kenapa membuatku merinding mendengarnya. Padahal itu kalimat yang sering ku dengar darinya.

"jaa ne.." dia melambai sebentar lalu berlari menjauh. Entah, perasaanku jadi terasa sesak.

Aku hanya pasrah menatap punggungnya yang semakin terlihat jauh dari pandanganku itu.

.

Sudah 10 menit aku menunggu. Tidak. Bahkan 15 menit, Rin-chan tak kunjung datang. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang dia lakukan. Tapi aku benar-benar khawatir.

Kuputuskan untuk mencarinya. Taman Akiba seluas ini sangat sulit untuk mencarinya, tapi entah kenapa tanpa sadar kaki dan batin ini membawaku ke sebuah tempat yang memperlihatkan air mancur yang besar dan indah.

Kupandangi sekeliling dan….

"Rin-chan!" aku teriak bukan main melihatnya dari kejauhan dengan keadaan seperti itu. langsung saja aku berlari menghampirinya.

"Ka…kayochin" ucapnya lemah.

Aku menangis "apa yang terjadi denganmu Rin-chan? Bertahanlan"

"gomen ne Kayochin" dia mengelus pipiku dengan tangan kanannya yang bernoda darah itu. "tolong bawa dia ke rumah sakit" ucapnya dengan nada terbata-bata. Ia menatap ke sebelah kanan.

Aku menatap sejenak ke arah yang ditunjukkan Rin-chan. "dia kan…."

"onegai Kayochin. Dia lebih membutuhkan"

.

Dengan berat hati aku menuruti permintaannya. Tapi tidak mungkin aku membawanya sendirian. Jadi dengan keberanian, aku teriak sekencang-kencangnya . meminta pertolongan pada orang lain. Dan untunglah tak lama ada seorang wanita muda bertubuh proporsi menghampiri kami.

"ada apa ini?" wanita itu menatap kami bergantian " Ada apa dengan mereka?" wanita itu menatapku penuh tanya. Dan yang jelas dengan ekspresi yang tak kalah mengejutkannya denganku.

"aku juga tidak mengerti. Tapi yang jelas tolong bantu gadis itu dulu" ucapku menunjuk kearah gadis yang tergeletak tak sadarkan diri di sebelah kami.

"baiklah, aku telpon ambulance dulu"

Aku menatap Rin-chan dengan penuh iba. Dia terlihat kesakitan, sesekali ia meringis sambil memegangi perutnya disela pembicaraannya ketika menceritakan kejadian yang menimpa mereka.

Sebelum gadis itu diangkat dari tanah, aku sempat melihat samar Rin-chan menyentuh lembut rambut gadis itu hingga membuat pita yang bertengger di rambut gadis itu terlepas karena disaat yang bersamaan gadis itu telah diangkat oleh petugas rumah sakit.

Tak lama setelah itu Rin-chan pergi untuk selamanya.

Aku bangga padamu Hoshizora Rin.

.


_Minami Kotori_

Aku tak bisa berhenti meneteskan air mata setelah mendengar seluruh cerita dari Hanayo-chan. Aku begitu beruntung dicintai dan disukai oleh orang seperti Hoshizora Rin.

"dia sangat menyukai mu Kotori-chan, aku sampai iri dengan semangatnya memperjuangkan sesuatu itu"

"aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikannya"

"kau cukup temui orang itu"

"siapa maksudmu?"

"Sonoda Umi"

"kau kenal dia?"

Hanayo tertawa kecil "tidak. Aku hanya sering mendengar dari Rin-chan tentang kalian berdua. Dia bilang, kalau kau sepertinya menyukai Sonoda-san. Jadi aku juga yakin Rin-chan pasti berpikir sama sepertiku. Dia pasti ingin kau menemuinya"

"tapi aku tidak yakin. Dia begitu membenciku"

"kita tidak akan pernah tahu, kalau belum dicoba"

"kau benar. Mungkin aku akan menemuinya saat waktunya tiba"

.


_Ayase Eli_

Sudah 2 tahun sejak kepergian Minami Kotori, yang dulu sempat menjadi teman dekatku, jujur aku sedih tak banyak waktu yang bisa kuhabiskan dengannya. Sejak itupun tak ada lagi tegur sapa kudengar dari seorang Sonoda Umi, dulu dia selalu memperhatikanku. Ya aku tahu itu dan aku senang. Bahkan sangat.

Kalau boleh jujur aku ingin menerima pernyataan cintanya kala itu. Tidak, bahkan sempat aku ingin menyatakan duluan padanya, tapi aku tahu, Kotori lah yang terbaik untuknya. Mereka selau menghabiskan waktu bersama. Kuyakin Kotori memendam rasa padanya.

Soal aku menyukai Kousaka Honoka? Aku memang menyukainya, dia lucu dan selalu bersemangat. Tapi tak sebesar perasaanku pada Umi. Namun kutetap memberanikan –atau mungkin lebih bisa dikatakan terpaksa- menanyakan soal Honoka pada Kotori.

"…kau tertarik padanya?"

"sepertinya begitu. Boleh aku tahu namanya?"

Kotori, dia malah tertawa. Memangnya lucu ya? Aku kesal sekali saat itu, tapi dia malah meminta balasan dengan memberikan dia alamat emailku.

"tidak lucu!"

"boleh. Asalkan kau mau memberiku alamat emailmu"

"hah? Untuk apa?"

Kuyakin alamat emailku itu akan diberikannya pada Umi, hatiku senang, berbunga dan benar dugaanku, pulang sekolah kudapatkan pesan dari Umi yang berisi pernyataan cintanya, aku ingin melompat kegirangan saat itu dan ingin langsung kubalas 'ya, aku juga menyukaimu' , tapi aku sudah bertekat tak 'kan menyakiti Kotori dan bertepatan pesan itu masuk setelah aku sudah jadian dengan Honoka.

Mengingat-ingat kejadian itu, aku jadi merasa itu adalah tawa dan senyumnya yang terakhir. Kupandang foto masa kecilku dengannya, setetes air mata mengalir di pipiku. Astaga, aku memang menyayangi Kotori. Wajah polosnya itu…

Drrrt… drrrt….

Ponselku bordering, panggilan masuk tak dikenal terpampang di ponselku.

"moshi…moshi.."

"ah, Ayase Eli-san?"

"ha'i. dare desu ka?"

"….."

Mataku membulat.

Dengan sigap kuberlari menuju SMA Otonokizaka. Tepat di bawah pohon rindang tempat dimana aku terakhir kali melihat tawa polosnya.

"ara…, Eli-senpai? Bagaiman kabarmu?" orang di hadapanku itu. Ya. Suara itu. Senyum itu. Wajah polos itu. Astaga Tuhan, apa aku bermimpi?.

Kuatur dahulu napasku yang naik turun tak beraturan, lalu kupeluk erat tubuhnya dan menangis di pundaknya.

"Kotori! Kau sungguh Kotori kan? Temanku? teman kecilku? Minami Kotori? Apa aku bermimpi? Siapapun sadarkan aku" seruku lantang.

"kau tidak bermimpi Eli-senpai, ini sungguh aku. Minami Kotori, teman kecilmu"

"mou.. berhenti memenggilku senpai. Kau bilang aku temanmu kan? Panggilah aku seperti saat kita kecil dulu"

"hehe.. baiklah Eli-chan"

"maafkan aku Kotori, begitu lamanya kita tak menghabiskan waktu bersama karena aku terlalu sibuk dan melupakan kenangan masa kecil kita" "jangan sesali itu semua. Semua sudah berlalu. Maaf membuatmu khawatir"

"kalau kau masih hidup, lalu 2 tahun lalu itu.."

Kami duduk di bawah pohon rindang sambil kudengarkan cerita Kotori yang sebenarnya. Tentang insiden dia dirampok sampai ia diangkat oleh Nozomi-sensei sebagai anak. Pantas saja beliau memilih untuk berhenti mengajar. Lalu kenapa Nozomi-sensei tak memberi tahu pihak sekolah yang sesungguhnya?

"ah, kalau itu aku yang minta. Kalau pihak sekolah tau aku masih hidup, pasti Umi-chan akan tahu. Dan aku belum siap bertemu dengannya saat itu"

"….." keheningan sesaat.

"Kotori, ada yang ingin kuberitahu padamu terlebih dahulu sebelum kau memberitahu alasan kita bertemu" aku yakin dia mengajakku bertemu bukan hanya sekedar melepas rindu.

"eh? Iya, silahkan"

Kuceritakan semuanya pada Kotori tentang perasaanku pada Sonoda Umi dan benar dugaanku, ia kaget.

"tenang saja Kotori, aku sudah melupakan perasaan itu. Ia lebih membutuhkanmu sekarang"

Kotori tersenyum, sudah lama aku tak melihat senyum itu.

"…lalu, apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku spontan

"eh?"

"setelah sekian lama, aku yakin ada yang ingin kau selesaikan, bukan?"

Kotori diam sejenak, ia mengeluarkan sebuah buku bersampul abu-abu dan menyodorkannya padaku

"tolong, berikan ini pada Umi-chan"

"kenapa tidak langsung saja kau berikan padanya?" kuraih buku itu.

"aku tak bisa menemuinya sekarang, karena aku harus kembali ke New York sebentar lagi"

"apa? Secepat ini? Kita baru bertemu dan kau-"

Kotori memelukku.

"gome na… Eli-chan. Aku pasti akan kembali lagi, jika saatnya tiba. Aku hanya ingin Umi-chan mengetahui perasaanku dulu, lewat buku ini"

"kalau begitu, buku ini akan kuberikan saat kau kembali lagi kesini" ucapku seakan mengancam.

"tapi-" ia melepas pelukannya.

"aku ingin saat Umi menyadari perasaanmu, kau juga ada di sampingnya saat itu juga. Kau tau? Ia terlihat uring-uringan. Tidakkah kau kasihan membuatnya menunggu lebih lama lagi?" kuguncang tubuhnya disela isak tangisku.

"…."

Kotori ikut menangis.


# ... # ... #

_Sonoda Umi_

Setelah mendengar semua cerita Kotori, aku tak kuasa membendung air mataku dan aku jadi semakin merasa bersalah. Kalau saja aku tidak mengabaikan Kotori seperti itu. Pasti tidak akan terjadi hal seperti ini dan pasti Hoshizora Rin masih menunjukkan semangat dan keceriaannya pada orang disekitarnya. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan bisa bersama Kotori seperti sekarang ini.

"maaf Umi-chan, harus membuatmu menunggu lama"

"tak apa. Kau kan sedang mengejar mimpimu. Jadi apa boleh buat"

"dan soal perasaan Eli-chan…"

"jangan pikirkan itu. Jujur saja aku kaget, ternyata cintaku terbalaskan waktu itu, hanya saja mungkin Eli-senpai tahu apa yang terbaik yang harus dia lakukan. Dia wanita yang bijaksana, dia tau apa yang ia lakukan.

"kau benar"

"tapi waktu kejadian itu, aku dan teman-teman di sekolah berpikir kalau kau memang meninggal. Karena di papan mading saat itu tertera nama mu. Jujur aku sangat shok"

"benarkah?"

"ya. Dan memang, sempat dikabarkan juga, Hoshizora-san menghilang beberapa hari setelah berita tentangmu itu"

"mungkin saat di rumah sakit, data kami tertukar. Jadinya menimbulkan kesalahan informasi"

"ya, mungkin saja"

"tapi aku benar-benar berterima kasih pada Rin-chan. Dia seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk membuatku tetap bisa ada sampai saat ini. Begitu juga Eli-chan, ia rela melupakan perasaannya demi aku."

"bukan hanya mereka. Kau juga"

"eh?"

"aku tahu, kau juga sudah melindungiku selama ini. hanya saja aku tak pernah menyadarinya"

"…..." dia tersenyum. Senyuman itu. sudah lama kurindukan.

"begitu banyak malaikat tak bersayap yang dikirim Tuhan di dunia ini untuk menjaga, melindungi dan membahagiakan kita. Tinggal bagaimana kita bisa menyadarinya atau tidak"

Kugenggam erat tangan dan kutatap dalam mata Kotori, lalu kusentuh lembut permukaan bibirnya dengan bibirku. Bisa kurasakan ada senyuman disana.

.

Begitulah skenario kehidupanku. Banyak kejadian yang telah terjadi. Aku sangat senang bisa berjumpa lagi dengan sahabatku , Kotori. Bukan. Tapi sekarang resmi menjadi kekasihku. Aku jadi bisa menebus semuanya. Meskipun harus ada yang berkorban dan dikorbankan. Tapi itulah hidup.

Bisa kuambil pelajaran dari hidupku ini.

"hargailah semua yang kau miliki saat ini selagi masih ada dan sadarilah betapa banyak orang disekitar kita yang membutuhkan perhatian dan memperhatikan kita. Karena kita tak pernah tahu sampai kapan itu semua akan ada."

.

.e.n.d.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


_Hoshizora Rin_

Aku ingin menyatakan perasaanku lagi pada Minami Kotori, dia senpai sekaligus sahabat Sonoda Umi, senpai satu klubku. Aku pernah ditolak olehnya. Tapi aku akan mencobanya lagi. Aku ditemani Koizumi Hanayo , sepupuku.

Sudah tiba di Taman Akiba tempat aku akan menemukan Kotori-senpai, karena aku sempat mendengar kalau ia akan ke tempat ini. Kuarahkan pandanganku ke sekitar mencari sosok itu. Dan... ketemu. Tapi aku melihat pria berpakaian hitam membuntuti Kotori-senpai, pria itu nampaknya membawa senjata. Aku hampir panik, tapi aku mencoba tenang agar Hanayo tak curiga.

Lalu kuputuskan untuk mengikutinya.

"Kayochin, kau bisa tunggu di sini sebentar?"

"eh? Ada apa memangnya?"

"aku ada urusan sedikit"

"tapi-

kugenggam tangan Hanayo, berusaha membuatnya tak mengkhawatirkanku "daijoubu desu~"

"….kalau aku belum kembali dalam waktu 10 menit, jemput aku ya" lepas itu kupeluk ia dan membisikan "arigatou Kayochin, aku menyayangimu"

Karena kuyakin sesuatu yang buruk akan menimpaku, karena itu kuminta Hanayo untuk mencariku jika aku tak kunjung kembali.

.

.

Kubuntuti pria tadi, tak lama ia berhenti bersamaan dengan berhentinya Kotori-senpai. Kulihat ada Umi-senpai disana, rupanya tujuannya kesini adalah bertemu dengan Umi-senpai. Meski jauh kulihat, tapi sepertinya bereka sedang berkonflik. Setelah itu pria tadi menodongkan pistol ke arah Kotori-senpai lalu dan menembak punggungnya.

Tepat saat itu Umi-senpai pun pergi, sepertinya ia tak menyadari kalau Kotori-senpai ditembak. Pria itu mendekati Kotori-senpai, lalu mengambil ponsel dan tasnya. Aku buru-buru berlari mendekati pria itu dan memukulnya dengan balok. Tapi pukulanku meleset dan aku dipukul olehnya hingga aku jatuh.

"jangan sakiti dia!" teriakku dengan mata berkaca

"diam kau! jangan ikut campur!" Pria itu kembali menodongkan pistol ke arah Kotori-senpai yang dalam keadaan lemas dan setengah sadar, tapi buru-buru aku memeluknya.

"Senpaiii!"

Daarrrr!

Kurasakan tiga peluru menembus punggungku. Ya, peluru itu mengenaiku.

Sangat sakit.

Lepas tembakan itu, aku pun terlentang di samping Kotori-senpai. Ku lihat ke arahnya, dia pingsan dan tak lama kemudian, kurasakan peluru menembus perutku.

Pria itu menembakku lagi. Lalu ia bergegas lari sambil membawa ponsel dan tas Kotori-senpai. Ternyata penjahat itu mengincar barang Kotori-senpai.

"da-dare ka.. dare ka tasukete" aku mencoba berteriak meminta pertolongan, tapi tenagaku tak cukup kuat. Tapi untunglah kemudian Hanayo datang menghampiri kami. Syukurlah dia bisa menemukan kami. Dia berlari sembari menangis.

"Ka…kayochin" ucapku lemah.

"apa yang terjadi denganmu Rin-chan? Bertahanlan"

"gomenne Kayochin" kuelus pipinya. "tolong bawa dia ke rumah sakit" kuarahkan pandangan pada Kotori-senpai. Aku ingin agar dia secepatnya dibawa ke rumah sakit. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk padanya.

"dia kan…."

"onegai Kayochin. Dia lebih membutuhkan"

Hanayo pun berteriak meminta bantuan dan beruntunglah ada Nozomi-sensei yang kebetulan sedang lewat, ia kemudian menelpon ambulance

"apa yang sebenarnya terjadi Rin-chan?!" ada sedikit nada marah di pengucapan Hanayo. kuyakin dia sangat khawatir padaku.

"aku membuntuti pria jahat yang ingin mengincar Kotori-senpai. Pria itu sempat menodongkan pistol padanya tapi aku memeluknya agar tembakan itu tak mengenai Kotori-senpai"

"ya Tuhan..., kenapa kau lakukan itu? Harusnya kau ajak aku, agar tidak terjadi seperti ini. Aku bisa membantumu"

"aku tidak mau membahayakanmu Kayochin, lagipula aku tidak bisa membiarkan orang-orang yang kusayang terluka. ugh!" kupegang perutku yang semakin membuat kekuatanku menipis.

"Rin-chan..." Hanayo memeluk kepalaku yang ada di pangkuannya dan menangis "kau jahat Rin-chan! Tak seharusnya kau menghadapi ini sendiri. Kita saudara kan? Kita sahabat kan? Harusnya kau ajak aku disaat kesusahanmu!"

"gome na Kayohin" kutatap dia untuk terakhir kali, air matanya membasahi wajahku. Lalu kuberikan ia senyumanku untuk terkahir kali meski sedikit kupaksa.

Maaf Kayochin mungkin aku tidak bisa bertahan lama.

.

Kemudian ambulance datang beserta Nozomi-sensei. Sebelum Kotori-senpai diangkat dari tanah, kupandang ia yang dalam keadaan tak sadar laluku elus rambutnya, karena sudah sejak lama aku ingin melakukan itu, dan benar dugaanku rambutnya sangat lembut.

"aku menyukaimu Minami Kotori"

Setelah itu aku benar-benar terlelap dalam tidur abadi.

.

Aku senang, berhasil mengungkapkannya lagi. meski itu yang terakhir kali, tapi mungkin memang ini yang terbaik. Cinta tidak harus memiliki. Melihat orang yang ku sayang bisa bersama dengan orang lain yang ia sayangi, itu sudah cukup membuatku bahagia.

Tetaplah menjadi Malaikat untuk Sonoda Umi dan yang lainnya, Kotori-senpai.

.

.

.

.

" - μ's - "

.

.

.

.

.

.

.

.

.


#ini benar-benar tamat kok. hehehe...

akhirnya setelah perjalanan panjang membuatnya, selesai juga. sempat bingung sebenarnya, ini cerita mau dibuat sad ending atau happy ending. tapi setelah perdepatan panjang (maksudnya meminta saran) dengan teman saya, akhirnya saya buat dengan ending seperti ini. terserah minna-san mau menganggap ini sad/happy ending.

saya sangat berterima kasih sekali atas dukungan dan review yang diberikan sebelumnya. terimakasih juga sudah setia membaca cerita ini.
mohon maaf sebesar-besarnya jika sepanjang cerita ini terdapat beberapa hal yang tidak berkenan bagi minna-san. maaf juga apabila tidak memuaskan dan terkesan bertele-tele/tidak menarik. #saya hanya salah satu penggemar LoveLive yang ingin berapresiasi lewat fanfiction. dan manusia dengan kekurangannya.

Mohon review-nya. :
.Bagaimana perasaan anda sepanjang membaca ini?
.Bagaimana pendapat anda tentang ending cerita ini?
.Adakah pendapat lain yang ingin anda berikan tentang cerita ini maupun tentang sang Author-nya (Lemonchi)?

Arigatogozaimashita!

-sekian-