Cerita sebelumnya :
DI TAMAN
"Aku tak menyangka bahwa rumah Takasashi-san dekat denganku!" ujarnya sambil memegang kaleng ocha yang hangat.
"Aku juga baru menyadari bahwa Higurashi-san tinggal disini juga" jawabnya sambil terkekeh kecil.
"Lalu apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
"I-Itu, a-aku… bagaimana bilangnya ya. Duh…itu-…"
"Soal Kikyo-san kah?" tebaknya asal membuat muka Inuyasha bersemu merah padam seperti kepiting rebus dengan anggukan kecil sebagai tanda setuju.
"B-Bagaimana kau bisa tahu?"
"Sango-chan yang memberitahuku, Jadi kau menyukai Kikyo-san ya, terus kau ingin aku melakukan apa?"
"A-Aku ingin meminta tolong kepadamu, bantulah aku agar bisa berpacaran dengan Kageyama Kikyo. Kumohon Higurashi!" mohonya kepada Kagome meminta bantuan Kagome. Gadis itu hanya terdiam mendengar ucapan permohonan pria itu.
Sayounara memory
Inuyasha author tidak mengambil keuntungan apapun dari Takasashi Rumiko-san baik itu cerita maupun karya, Saya hanya ingin menuangkan pikiran saja dalam fanfic ini.
Rated : T
Summary : Bagaimana bisa seseorang mencintai kita, jika tidak sepenuh hati, keraguan hanyalah sebuah alasan pelarian kebenaran yang menyakitkan. Meninggalkan bekas luka hati bagi siapapun yang sedang jatuh hati kepada orang yang dikaguminya.
Genre : Angst, Romance, School.
Warning : Gaje, OOC, Typo & Etc.
Do not COPAS
Chapter 4 : Kelemahanku untuk berpegang teguh pada idealism diri (bagian 1).
DI TAMAN
Pria itu masih menunggu jawaban dari temannya yang masih duduk dibangku taman, perasaan gelisah dan menolak untuk membantu mungkin ada dalam benak pikirann pria tersebut.
"Besok dilantai dua atas gedung dekat pintu masuk gerbang sekolah, akan kuberi tahu jawabanku. Sekarang aku ingin pulang dan mengerjakan sesuatu. aku permisi?" ujarnya memberikan jawaban kepada inuyasha. Mendengar jawaban tersebut membuat pria sepantaran itu sedikit merasa sedih.
"Jangan memasang wajah sedih dan lemah seperti itu didepanku. Menurutku Kikyo-san juga menyukaimu. Jadi semangatlah!" ucap kagome melanjutkan ucapannya dan mulai berlalu pergi untuk pulang meninggalkan pria itu yang mematung sejenak.
Perjalanan pulang menuju rumahnya sampai ditempatnya. Matanya tiba-tiba mulai mengabur, kepala dia pegang dengan sangat kuat menahan sakit. Terbatuk secara terus menerus hingga darah segar terlihat pada telapak tangannya yang mungil tersebut.
"S-Sakit!" umpat gadis itu memaksa dirinya untuk tetap berdiri menuju kamarnya. Dan mengambil obat dari loker yang tak beraturan. Hingga barang-barang perlengkapan diatas mejanya jatuh berantakan.
"A-Aku… apakah akan benar-benar…!" pikirnya sambil memeluk dirinya sendiri kondisi mengigil seperti orang kedinginan dan tak bisa berpikir jernih, menahan sakit hingga tertidur dengan kondisi yang kurang baik.
KEESOKAN HARINYA DI SEKOLAH.
Pagi sudah menyinari semangat cahaya keceriaan seperti biasanya. Semua siswa berjalan menuju ketempat tujuannya masing-masing sesuai kepentingan setiap orang. Pagi itu gadis surai legam tersebut mendapatkan sebuah pesan surat dilokernya. Irisnya menandakan tenang untuk menyembunyikan hal yang sudah terbiasa bagi dirinya.
"Mereka lagi" pikirnya Kagome yang sudah mengetahui siapa orang tersebut.
"Jika, kau melarikan diri. Akan kubuat hidupmu menderita. Mengerti!" ancam seseorang dari belakang gadis itu yang terdiam sesaat mendengar ucapan salah satu siswa yang tidak menyukai Kagome. Meninggalkannya untuk memasuki kelas.
"K-kenapa, selalu seperti ini-"
"Waaa…" terkejutnya kagome karena ada yang menyentuh bahunya secara tiba-tiba disentuh oleh seseorang, membuatnya ketakutan.
"S-sango-chan, dasar membuat aku jantungan saja!" kesalnya kepada sahabatnya yang mengagetkan dirinya dan menyembunyikan pesan surat tersebut.
"Gomen, gomen, habisnya kau melamun saja dari tadi" terkekeh melihat tingkatnya yang ketakutan setengah mati.
"Dasar!"
"Pagi Kuwashima-san, Kagome" sapa seseorang membuat pertengkaran mereka terhenti dan mendongkak mencari asal suara yang memanggil mereka berdua. Ditemuilah seorang gadis bermata sayu tenang dengan rambut hitam yang terurai bebas. Seragam baru sekolahnya dia kenakan sebuah jaket almater hitam dengan lambang sekolah barunya didada kirinya, rok hitam pendek diatas lutut menyelaraskannya dan sebuah kaos kaki hitam panjang yang menutupi kakinya hingga terlihat hitam transparan menambah kesan manis bagi gadis tersebut.
"Kikyo-san, p-pagi… kau benar-benar berbeda?!" ucap kagome tak percaya melihat sahabatnya sangat berbeda saat memakai serangam lamanya.
"I-Ibuku yang memilihkannya untukku, w-walaupun aku sangat tidak cocok karena selalu dilihat orang-orang disini. a-aku sangat malu rasanya. Apakah penampilanku ini sangat aneh!" kesal terhadap ibunya karena penampilannya saat ini membuat semua mata melihat dirinya.
"Kageyama-san kau tidak mengerti ya, mengapa semua orang memperhatikanmu?" sebuah gelengan tanda tak mengerti didapatkan darinya.
"Polos banget sih anak?!" umpat kedua orang itu bersama dalam hati melihat Kikyo yang terlihat sangat jujur.
"Ya intinya, uhm… penampilanmu sangat spesial saat ini. jadi tidak apa-apa kok" jawab Kagome mencoba mencairkan suasana dan mulai memasuki kelas karena jam pelajaran sudah akan dimulai. Waktu berjalan seperti biasanya bagi setiap orang sampai jam pulang sekolah pun telah berakhir. Kagome dengan segera meninggalkan kelas, tindakan yang tergesa-gesa membuat beberapa orang terheran karena beberapa temannya pun ikut keluar kelas dengan terburu-buru. Sango dan Kikyo yang melihat keanehan kepada kagome merasa aneh dengan segera mereka mengikuti mereka.
"Aku akan langsung pulang lebih awal saja!" pikir kagome sebaiknya, saat akan menuju pintu keluar dicegatlah gadis itu oleh orang yang tidak disukainya. Kedua orang itu yang dikenal kagome adalah bawahan orang yang membullynya.
"Buru-buru sekali kau pulangnya, Higurashi-senpai, kami ingin berbicara sebentar dan menyelesaikan masalah ini, bukan begitu. momiji" ucap temannya dengan santai
"Benar, jangan ketakutan seperti itu senpai?" mendekati gadis itu yang terdiam karena masih sepi, dikarenakan ada agenda membersihkan kelas setiap hari senin sebelum semua siswa pulang sekolah. Sebuah aturan yang sedikit aneh bagi beberapa orang. Mendekatinya, gadis itu terlihat khawatir. Saat mereka berdua mulai menghampiri dirinya.
"J-Jangan mendekat!" teriaknya kepada mereka berdua. Ucapannya tak didengar dirasa sudah mendekat sebuah kater sudah disembunyikan dalam saku almater juniornya mengarahkan keleher gadis itu yang mematung, keringat dingin sudah membasahi wajahnya.
"Jangan macam-macam untuk melawan. Ikutlah dengan kami kebelakang sekolah. Mengerti!" sebuah anggukan kecil mengerti dari wajahnya yang terlihat pasrah dan dibuat bungkam jika melakukan satu kesalahan saja, nyawanya bisa saja menghilang.
Mereka bertiga pun menuju kebelakang gedung olahraga dibelakang sekolah. memasuki ruangan gudang olahraga tersebut.
"Dengar, jika kau melaporkannya kepada guru. Kau akan bernasib sama seperti orang itu. Mengerti!" sebuah ancaman kepada ketua komite olahraga. Hanya mengangguk mengerti dan memberikan sebuah kunci gudangnya dan menyuruhnya pergi. Kagome tak bisa melakukan apapun, sebuah tali mengikat tangannya dibalik punggungnya, matanya ditutup dengan sebuah kain putih. Membuat dirinya tak berdaya sama sekali. Jika berteriak meminta tolong. Sebuah kater sudah menyentuh leher kanannya dan siap mengancam nyawanya secara tiba-tiba bahkan lebih buruk pikirnya saat ini.
"Tsubaki-senpai, apa yang akan kita lakukan padanya!" tanya juniornya bersurai cokelat pendek tersebut.
"Momiji, botan angkat dia!" menuruti perintahnya seniornya, dengan tiba-tiba sebuah pukulan kencang meninju perut gadis itu. Kagome hanya bisa menahan sakit yang luar biasa.
"K-kumohon h-hentikan. T-Tsubaki-san!" rintihnya menahan sakit akibat dipukul diperutnya dengan sangat kuat. Terbatuk dan air ludah mengalir dari mulutnya perlahan.
"Oh, sepertinya menyenangkan. Rasakan ini!" teriak teman kelasnya melakukan hal yang sama kepada Kagome yaitu memukulnya dengan sangat keras.
Mencari kesana kemari tak melihat orang yang ditemuinya. Kedua sahabatnya sangat khawatir jika terjadi apa-apa dengan Kagome. Melihat seorang pemuda yang ketakutan. Dilorong dalam sekolah. Sango yang mengenal dirinya. Menghampiri orang tersebut.
"Kuranosuke-san, mengapa kau ada disini?!"
"Kuwashima-san. A-A-Aku s-sedang menjaga m-maksudku menunggu seseorang" tertawa garing untuk menghilangkan kegugupannya, Sango dan Kikyo yang mendengar itu merasa aneh dengan nada ucapan pria itu.
"Oh iya apakah kau melihat seorang wanita berambut biru legam, tingginya segini kira-kira?. Kuranosuke-san" tanya Sango kepada pria tersebut.
"A-Aku… a-aku tidak melihatnya sungguh!" berteriak didepan sango dengan sangat ketakutan.
"B-Baiklah, jika kau tidak tahu. Maaf jika kami menganggumu, ayo Kageyama-san… eh Kageyama-san?" ucapnya saat akan meninggalkan laki-laki tersebut, tapi Kikyo yang merasakan keanehan pada pria itu pun memegang tangan pria itu.
"Kuranosuke-san, kau tau dimana Higurashi dimana bukan!" tanya kikyo tenang, takeda dan sango yang mendengar itu terkejut.
"B-Bagaimana kau bisa tahu?"
"Mengapa kau berbohong padaku!-…. Kageyama-san?" pinta Kikyo untuk tenang dan melanjutkan kembali berbicara kepada Takeda.
"Aku tahu kau sedang berbohong dan ketakutan apa kau sudah diancam oleh seseorang?" tanya kembali.
"Tolong dia, tolong selamatkan Higurashi-san!" pekiknya ketakutan tak berdaya. Mendengar hal itu dari mulutnya membuat kedua orang itu segera menuju tempat kagome berada.
Nafasnya sudah sangat lemah, muka dan tubuhnya sudah lebam. Darah segar mengalir dari mulutnya. Baju seragamnya sudah sangat berantakan akibat kotor dan darah yang bercampur disana. Jangankan untuk bergerak, berbicara pun sudah tak bisa.
"Tsubaki-senpai, apa selanjutnya yang akan kita lakukan padanya?"
"Botan, bunuh dia dengan ini!" memberikan sebuah pisau dapur. Membuat gadis itu terdiam karena belum pernah membunuh orang.
"Mengapa kau hanya diam botan. Lakukan sekarang, tenang saja kita akan membuatnya seolah dia bunuh diri, jadi tidak akan ada yang tahu bahwa kitalah yang melakukan perbuatan ini"
"T-Tapi, aku takut. Aku tak bisa melakukannya senpai!"
"Bodoh kau, tidak berguna!" menampar junior surai cokelat tersebut dengan kerasnya. Pipinya merasakan panas akibat tamparan dari seniornya.
"Botan!" momiji yang melihat itu menolong temannya.
"Momiji kau yang lakukan!"
"M-Maaf, aku juga tak bisa Tsubaki-senpai-…"
"Dasar kalian tidak berguna. Terpaksa aku yang melakukannya sendiri. Oi… kagura, pegang wanita jalang itu!" menuruti perkataan Tsubaki dan siap membunuh Kagome yang sudah kehabisan tenaga untuk berbicara maupun melawan.
"Kalau saja kau tidak melawanku, mungkin kau tidak akan bernasib sial seperti ini. mati saja kau keparat!" ancamnya mengarahkan pisaunya kepada Kagome.
"Sebuah tendangan kasar berhasil merusak pintu gudang yang terkunci. Sesuatu yang mengesalkan hati bagi kedua sahabatnya. Melihat Kagome yang sudah sangat berantakan terdiam tanpa suara.
"Kagome!"
"Kagome-chan, Dasar manusia sampah, Lepaskan Kagome-chan sekarang!" murka gadis surai cokelat ponytail itu yang benar-benar marah. Kepada teman sekelasnya.
"Jangan seenaknya ikut campur masalah orang, dasar tak tahu diri!" geram Tsubaki kepada Sango.
"Majulah!" mengarahkan pisaunya ke sango. Kikyo yang melihat hal tersebut dengan segera mendorong temannya. Pisau itupun melukai lengan kiri gadis itu. Sango yang tak mempercayai bahwa temannya menolong dirinya.
"Kageyama-san, dasar manusia keparat. Haaa…!" memukul perut Tsubaki dengan kencang hingga merintih kesakitan dan segera menendang pisaunya hingga terlempar dari genggaman tangannya.
"Kuwashima-san sebelah kananmu!" perintah Kikyo yang melihat kagura mulai menyerang gadis itu dengan sebuah kater. Reaksinya yang kurang hati-hati membuat lengan kanannya terluka akibat goresan kater tersebut.
"HA!" menendang dengan kuatnya, mengenai wajah kagura. Mereka berdua pun terluka cukup parah akibat serangan Sango. Melihat kedua juniornya yang ketakutan, karena melihat sorot mata sango yang sudah sangat murka menyakiti kagome seperti itu tanpa ampun.
"Maafkan kami, tolong jangan lukai kami!"
"Maafkan aku, Kuwashima-senpai!" mohonnya meminta ampun kepada wanita itu dengan sangat marahnya. Kikyo pun memegang pundak sango untuk menghentikannya.
"Kuwashima-san, jangan. Biarkan polisi saja yang mengurus mereka berempat yang paling penting Kagome. Kita harus membawanya kerumah sakit!" mohonnya kepada Sango untuk tidak menambah masalah lagi. sebuah gerakan tangan cepat berhasil menampar junior mereka. Sebuah ringgisan kecil dan rasa sakit membuat keduanya terdiam kesakitan.
"Tch"
"Sango!"
"Kageyama-san!" beberapa orang dan guru datang menemui mereka. Seseorang yang dikenalnya. mobil ambulan dan mobil polisi membawa mereka ketempat masing-masing sesuai dengan masalah yang didapatkannya. Beberapa guru memeriksa Sango dan Kikyo yang terlibat dalam hal ini untuk memudahkan penyelidikan kasus ini. sekolah pun dibubarkan lebih cepat. Mereka berdua pun keluar dari ruang guru dan sudah menunggu dua temannya yang menunggu didalam lorong sekolah.
Menaiki angkutan umum bis, mereka semua terdiam dengan raut kecemasan. Terutama kedua wanita itu yang sangat takut jika terjadi apa-apa kepada Kagome.
"Miroku-kun?" gumamnya melihat tangan pria itu menyentuhnya.
"Berdoa saja semoga Higurashi-san tidak apa-apa. Mengerti" hibur Miroku agar tidak khawatir.
"T-Tapi aku telambat menyadarinya, jika terjadi apa-apa pada Kagome-chan. Aku!"
"Kuwashima-san, jangan menyalahkan dirimu sendiri akupun juga bersalah karena terlambat menyadari hal ini, lalu lukamu bagaimana kau baik-baik sajakan, aku benar-benar tidak berguna dalam perkelahian. Kalau saja aku lebih berani. Mungkin aku bisa membantumu tadi!" sesal Kikyo yang tak bisa membantu dirinya.
"Itu tidak benar, berkatmu. Aku bisa selamat. Terima kasih Kageyama-san"
"Tapi, tetap saja tindakan kalian sangat ceroboh sekali, kalau terjadi apa-apa dengan kalian berdua bagaimana?!"Inuyasha memarahi mereka berdua yang tidak bisa berpikir tenang. Kedua wanita itu hanya menunduk menyesal dengan ucapan pria surai putih itu ada benarnya.
"S-Sudahlah Inuyasha yang terpenting mereka selamat bukan" bantah miroku agar temannya tak membuat mereka berdua menjadi lebih tertekan.
"Huh… Y-Ya, yang terpenting Sango dan Kageyama-san tidak terluka, kalian melakukan hal yang hebat. Kita berdoa saja semoga Higurashi tidak kenapa-napa!" hela Inuyasha menyerah menasihati teman mereka.
"Iya" mereka berdua menyetujui ucapan inuyasha.
DIRUMAH SAKIT TOKYO.
Sampailah dilokasi yang mereka tuju, bertanya kepada ruang admin untuk menanyakan keberadaan temannya dirawat diruangan UGD. Sesudah menanyakan hal tersebut mereka diizinkan masuk. Dengan 4 orang paling maksimal boleh menjengguk kamar pasien.
"Kagome"
"Kagome-chan" mereka berdua langsung menghampiri gadis itu yang terbaring lemah ditempat tidur pasien. Beberapa perban melingkari leher dan kepalanya. Selang infus pembantu nafas berada pada hidungnya. Detak jantungnya bergerak pada monitor menunjukkan kondisi gadis tersebut belum tak sadarkan diri.
Inuyasha dan miroku yang melihat kondisi kejam seperti ini hanya bisa diam. Sango dan kikyo yang berada dikamar tersebut hanya bisa menangis terisak tak bisa menahan dirinya lagi. Petugas rumah sakit pun datang menyuruh mereka berempat menunggu diluar ruangan untuk pengobatan intensif yang akan dilakukan kepada Kagome, dengan berat hati mereka menunggu. waktu berjalan dengan sangat cepatnya bagi mereka berempat. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. waktu berkunjung pun telah usai. Membuat mereka harus pasrah meninggalkan temannya.
"Sango, ayo makan roti ini. tidak baik jika kau tidak makan dari siang tadi?" menawarkan makanan kepada dirinya, sebuah gelenggan menolaknya.
"Kageyama-san juga, makanlah sedikit tidak apa-apa, tidak baik memaksakan diri seperti ini!"
"Aku tidak apa-apa Takasashi-san. Aku tidak lapar. Terima kasih!" jawabnya sama seperti sango yang enggan untuk mengisi kekosongan perutnya.
"Huh… kalian ini" khawatir melihat mereka berdua selalu terlihat sedih dan tak mau berhenti menangis.
Saat kedua pria itu mulai lelah dengan tingkah kedua gadis itu, petugas rumah sakit mendatangi mereka.
"Sumimasen, apakah kalian teman dari Higurashi Kagome-san?" tanya salah satu petugas dirumah sakit suster yang mendatangi kami.
"Uhm, ada apa memangnya?" jawab Miroku.
"Kami mencoba menghubungi keluarganya, tapi tak ada respon balasan dari keluarganya. apakah kalian mengetahui nomor kerabat yang bisa dihubungi mungkin?"
"Maaf. Kami juga belum pernah bertemu orang tua higurashi-san"ucap sango merasa bersalah karena tidak memiliki nomor handphone orang tua Kagome.
"Begitu yah, kalau seperti ini. kita tak bisa merawat dia disini. Karena formulir pengisian datanya harus disetujui terlebih dahulu sebelum mendapatkan pelayananan dari rumah sakit!" ujar suster perawat berbicara kepada mereka berempat.
"Tidak mungkin" gumam Kikyo tak mempercayai hal itu.
"Anu… bolehkah anda menunggu sebentar suster aku akan segera kembali!" ucap inuyasha meminta waktu sebentar kepada petugas perawat tersebut.
"Baiklah"
Menjaga jarak dengan ketiga temannya dan mencoba menelpon seseorang yang dikenalnya. menghubungi lewat ponsel pribadinya untuk meminta tolong kepadanya.
"Ayolah diangkat, kumohon-… ah syukurlah"
"Ada apa kau menelpon malam-malam seperti ini Inuyasha. Aku ini sedang sibuk membuat laporan data perkembangan klienku!" jawab seseorang yang berbicara kepada inuyasha dengan suara baritone beratnya.
"Aku minta maaf, Seshomaru-Nii. aku ingin meminta tolong kepadamu?"
"Tumben sekali kau meminta tolong kepadaku, kau ingin meminta tolong apa?"
"Begini, temanku sedang berada dirumah sakit, tapi orang tuanya sedang tidak ada dirumah saat ini. bisakah kau menjadi wakilnya untuk sementara ini. kau juga seorang dokter jadi hanya dirimu yang bisa kuminta tolong. kumohon bantulah aku kali ini. Nii-san!"
"Hah! Inuyasha kau ini terlalu bodoh dan memutuskan seenaknya saja dalam meminta apapun. Baik-baik aku akan membantumu dan berbicara kepada petugas disana. Aku akan menuju rumah sakit kau berada, boleh kutahu siapa temanmu yang dirawat disana?" tanyanya heran siapa teman inuyasha yang sedang dirawat disana yang sedang memakai jas lab dokternya dan merapihkan rambutnya dicermin dengan sebuah sisir ditangan kirinya.
"Namanya Higurashi Kagome. Nii-san"
"Huh!, kau bercanda ya?!"
"Mana mungkin aku bercanda dalam keadaan seperti ini. Baka Aniki. Aku serius!"
"Kenapa kau tidak menghubungiku dari tadi baka. Baiklah aku akan segera kesana. Jangan kemana-kemana mengerti. dah!" ucapnya akan segera kerumah sakit menaiki mobil pribadinya. Mematikan handphonenya.
"Suster. aku sudah meminta seseorang untuk menjadi wali Higurashi-san dia akan datang kesini. Mungkin sekitar 45 menit lagi. Jadi maukah anda menunggu sebentar?" tanyanya memastikan kepada perawat tersebut.
"Tidak apa-apa, kami akan menunggunya sesuai yang anda katakan. Aku izin permisi dulu!"
"Arigatou gozaimasu" jawab Inuyasha membungkuk kecil. Petugas itu pun meninggalkan mereka berempat.
"Kau meminta tolong kepadanya Inuyasha?" tanya miroku menebak.
"Mau bagaimana lagi, aku tak punya pilihan sama sekali!" terkekeh kecil dan tak tahu harus meminta tolong kepada siapa.
"Mungkin aku tak bisa membantu banyak dalam hal ini, tapi semuanya akan baik-baik saja sekarang" ujar Inuyasha tersenyum hangat kepada temannya untuk menenangkan mereka.
"Terima kasih Inuyasha-san"
"Terima kasih Takasashi-san, a-aku sangat takut jika terjadi apa-apa dengan Kagome!" matanya terasa panas dan tersenyum hangat karena teman baru disekitarnya banyak yang membantu sahabatnya.
"U-Uhm. Doumo" jawab inuyasha kepada kikyo dan sango sedikit malu.
Mereka menunggu selama kurang lebih 45 menit dan yang ditunggu sang adik muncullah orang yang diharapkan. Pria dewasa berumur 32 tahun keluar dari mobil dan menghampirinya.
"Inuyasha, Dimana ruangannya?"
"Dia masih berada diruang UGD, kita keruang administrasi untuk mengisi data formulir pasien, ayo!"
"Kalian tunggulah disini. Aku akan mengantarkan kakakku terlebih dulu!" ujarnya meninggalkan mereka bertiga dan mengikuti seshomaru masuk kedalam rumah sakit kembali. Menunggu kurang lebih 25 menit lamanya. Inuyasha pun keluar dari rumah sakit kembali.
"Bagaimana, Takasashi-san?"
"Semuanya baik-baik saja sekarang. Kakakku sudah mengurus semua. Sekarang sudah malam. Sebaiknya aku mengantar kalian semua kestasiun. Masuklah!" ajak inuyasha menyuruh ketiga temannya untuk masuk kedalam mobil karena dirinya akan mengantar mereka semua.
"Kau bisa bawa mobil. Inuyasha-san?"
"Iya, memangnya kenapa?" jawabnya kepada sango.
"Apa tidak apa-apa, nanti kena tilang polisi kita. Takasashi-san?" sedikit khawatir karena anak SMA sudah membawa mobil seperti ini ucap Kikyo.
"Tenang saja, ini malam hari jadi tidak akan ada polisi, lagipula jarak dari sini kestasiun cukup jauh loh. Jadi jangan khawatir aku akan mengantarkan kalian semua ke stasiun" ujarnya mulai memakai sabuk pengaman pada pinggangnya, memasukan transmisi gigi awal, melepas kopling secara perlahan dan menginjak gas mobil untuk berjalan menuju lokasi yang ingin dituju.
Perjalanan yang ditemput hanya membutuhkan waktu 25 menit untuk sampai dengan mobil pribadi yang Inuyasha gunakan, mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang setelah sampai distasiun, kereta pun tiba dan berangkat kembali. Karena kakaknya pria itu yang akan merawat Kagome. Dirinya kembali lagi kerumah sakit dan mulai memasuki ruang kamar pasien yang bertuliskan angka 109 temannya yang dirawat disana saat ini.
Mengetuk pintunya untuk meminta izin masuk ruangan tersebut. matanya terbelalak melihat gadis itu sudah sadar dengan lemasnya. Dengan segera pria itu menghampiri orang itu dengan senangnya.
"Higurashi, kau sudah bangun. Syukurlah aku sangat senang!"memegang tangannya dengan lembut dengan perasaan khawatir. Gadis itu hanya mengangguk kecil dengan semu merah diwajahnya.
"G-G-Gomen…"
"Jangan dipaksakan untuk berbicara dahulu. Kagome-san. Kau harus banyak istirahat sekarang. Inuyasha jagalah Kagome-san. Aku akan ketempat penyedia obat untuk membuat resep untuk dirinya dan jangan ajak bicara dulu. Dia tak bisa berbicara untuk saat ini!"
"A-apa maksudmu?"
"Dia mengalami benturan benda tumpul dikerongkongannya, membuat pita suaranya terluka. Aku akan segera kembali. Jangan lakukan hal yang bodoh selama aku tidak disini. mengerti!" ancamnya dari sang kakak kepada sang adik yang sweatdrop melihat tatapan dingin kakaknya dan mulai berlalu keluar ruangan.
"Nii-san, Kowai yo" pikir Inuyasha merinding.
"Higurashi-san, jika kau butuh apa-apa bilang saja ya. Aku akan menunggu diluar ruang pasien, kalau begitu aku permisi dulu-…" saat akan meninggalkan ruangan pasien tangannya dihentikan oleh Kagome. Matanya menandakan tak ingin ditinggalkan sendirian.
"Ada apa, apa kau perlu sesuatu?" menuliskan sebuah kalimat disebuah catatan kecil dan menunjukkannya.
"Terima kasih?, terima kasih untuk apa?" tanyanya pria itu tak mengerti dan gadis itu menulis kembali dicatatan tersebut.
"Karena sudah menolongku, aku pasti merepotkanmu ketika aku digendong olehmu. Maaf jika aku ini berat" wajahnya sedikit memerah, karena malu harus berbicara hal yang memalukan seperti ini pikir gadis itu dengan polosnya berkata dalam catatan tersebut.
"I-Itu tidak benar, kau tidak merepotkanku. Lagipula Sango dan Kageyama-san lah yang tepat dalam mendapatkan ucapan terima kasih seperti ini. karena merekalah yang menemukanmu ketika sedang dibully pada saat itu. A-aku minta maaf karena telat mengetahui hal ini!" terkejutnya bahwa tangannya digenggam oleh Kagome. Menggelengkan kepalanya bahwa berkata aku baik-baik saja.
"Higurashi-san?, Aku mengerti. terima kasih karena sudah memaafkanku" jawabnya dengan senang bahwa Kagome mau memaafkan dirinya.
"Kalau begitu, aku akan menunggu diluar. Jika kau membutuhkanku. Bunyikan saja lonceng ini. mengerti" sebuah anggukan kecil mengerti kagome dan mulai menutup matanya kembali untuk segera beristirahat. Dengan hati-hati Inuyasha menahan tubuh gadis itu secara perlahan hingga menyentuh kasur tidur pasien dan menyelimutinya dengan selimut.
"Selamat malam" Meninggalkan ruangan kamar pasien tersebut dan meminta izin gadis itu untuk pergi. Sebuah anggukan kecil gadis itu menandakan akan berbicara hal yang sama dan mulai mengistirahatkan tubuhnya.
To Be Continue…
Author note :
Akhirnya selesai juga, maaf jika sangat terlambat XD. Karena author-san sedikit sibuk di duta.
Ame to ai : kayanya kamu setia banget sama ff ku yang gaje … tapi terima kasih atas kritikannya, saya cukup terhibur loh dengan masukanmu. Tidak baik loh memprediksi sesuatu nanti pasti akan ada kejutan tersendiri dari saya sebagai penulis yang tidak akan kamu ketahui sebagai semua itu masih HIMITSU
Arigatou gozaimasu.
