:: Obsession ::
.
Story by Ryuu Sakamaki
2K+
Cast :
● Kim Jongin, Oh Sehun, Xi Luhan, Min Yonggi : 17 y.o (Kelas XII)
● Park Chanyeol : 19 y.o (Kelas XII)
● Park Taeyong : 16 y.o (Kelas XII)
● Do Kyungsoo : 27 y.o
● Mr. Park, Mr. Oh : 48 y.o
Disclaimer :
Pemain yang saya gunakan di dalam cerita milik mereka sendiri.
Warning!
Typo(s), Judul dengan alur cerita tidak sesuai, OOC, OC, Non Baku, jalan cerita rancu, ff dan kekurangan lainnya bisa kalian temukan di dalam cerita.
.
JIKA TIDAK SUKA DENGAN PAIRING YANG SAYA GUNAKAN, SEBAIKNYA KLIK 'KEMBALI'.
JIKA MASIH NGEYEL DAN NGEREVIEW NGGAK JELAS, BERARTI −MAAF SEBELUMNYA− ANDA TIDAK PUNYA MATA.
.
Little Note : Latar waktu cerita masih Malam di hari yang sama dengan Chapter sebelumnya.
And, here we go…
.
Chapter 4
.
Suara derap langkah kaki yang berbaur dengan ribuan langkah lainnya di Bandara Internasional Korea, seseorang terlihat berjalan dengan bahu tegap serta dagu terangkat yang membuatnya tampak angkuh dan berwibawa. Beberapa orang berpakaian serba hitam juga formal, berjalan di sekitarnya layaknya seseorang yang menjabat status yang amat penting hingga membutuhkan kawalan dari mereka. Langkah lelaki angkuh yang penuh kepercayaan diri itu seketika terhenti, tepat di sebuah sedan hitam mewah nan elegan yang terparkir di hadapannya dengan beberapa orang berdiri sembari membungkuk kearahnya.
"Yuuma, katakan pada Mr. Oh mengenai kedatanganku yang lebih cepat dari sebelumnya."
Suara dalam khas miliknya diiringi nada penuh ketegasan tak terbantahkan di setiap perkataannya, cukup membuat seorang anak kecil menangis mendengarnya. Seorang pemuda keturunan Jepang dengan rambut prirang sebahunya di ikat keatas dan meninggalkan beberapa helai yang tak ikut terikat, membungkuk kecil, "Saya mengerti, Ketua. Akan saya aturkan jadwal pertemuan kalian untuk esok hari,"
Laki-laki paruh baya yang telah berumur itu, hanya melongos pergi setelah mendapatkan jawaban sesuai keinginannya.
"Kita pulang ke Mansion Utama dan hubungi anak-anak itu. Aku akan menunggu mereka di rumah."
Mobil yang telah dinaiki sang 'Ketua' kemudian melaju kencang menembus dinginnya malam tanpa bintang, meninggalkan 2 orang berpakaian formal yang masih setia berdiri tegap di tempat semula.
"Kou, kau hubungi Tuan Muda. Aku masih ada misi yang harus diselesaikan,"
Lelaki bernama Yuuma itu melirik kearah laki-laki bermata elang dengan precing memenuhi telinga kirinya, hanya membalas dengan aganggukkan kepala sang tangan kanan 'Ketua' sembari menekan beberapa nomor pada layar ponselnya yang sudah di hapal di luar kepala.
"'Hn?'"
"Tuan Muda..."
_Obsession_
Malam semakin larut, angin yang berhembus kian kencang tiap menitnya menghantarkan udara dingin yang menyengat di permukaan kulit. Suasana sepi di jalanan tak membuat sosok Jongin sekedar menghentikan langkahnya dan berbalik arah kembali menuju apartemen bobrok miliknya. Sehelai jaket tipis berwarna kelabu yang tak cukup meminimalisirkan udara dinginnya, hanya dianggap tak berarti bagi Jongin dengan ekspresi stoic yang selalu bertengger di wajahnya ketika di luar lingkup wilayahnya. Entah apa yang tengah ia lakukan di luar sini dengan suhu seburuk ini, bahkan menendang kerikil di jalanan menjadi satu-satunya kegiatan menghilangkan rasa penatnya.
Sebenarnya matanya tengah dalam kondisi tak bisa diajak kompromi untuk menutup dan pilihan untuk keluar sejenak sekedar menghirup udara menjadi jawabannya. Hitung-hitung sekalian menyegarkan kepalanya yang penuh akan hal-hal yang membuatnya selalu merasa sakit.
BRAKK
Suara gaduh di salah satu ruas jalan tepatnya gang yang terkenal dengan pencahayaannya yang minim, membuat Jongin menghentikan langkahnya seketika. Bukan karena suara gaduh yang di timbulkan oleh seseorang -karena nasib malang yang menimpanya hingga bertemu dengan preman-preman jalanan yang cukup terkenal di daerah sini, melainkan suara seseorang yang terdengar tak asing dimana beberapa jam sebelumnya ditemui oleh Jongin saat berada di kawasan sekolah barunya. Xi Luhan. Jika perkiraannya benar, pemuda itulah yang sedang meneguk nasib malang yang sedang di hadapinya.
"Damn! Apa hanya segitu kemampuan kalian huh? Orang yang di takuti di daerah sini, tak lebih dari Tikus Kotor yang lemah dan pengecu-"
BUGG
"Akh- Uhukk- Uhukk-"
Luhan terbatuk tanpa henti dengan cairan kental berwana merah pekat yang ikut serta, berlomba-lomba keluar dari mulutnya ketika dadanya yang di tendang dengan keras hingga menabrak dinding kokoh di belakang kini terasa menyesakkan.
"Kau terlalu banyak mulut, Asshole! Habisi dia, aku bahkan tidak peduli jika membunuhnya adalah satu-satunya cara membuat orang ini menutup mulut sampahnya," Jongin hanya terdiam dan memilih memantau keadaan dari tempat persembunyiannya untuk mengamati orang-orang yang sibuk membuat gaduh disana. Kepalanya menggeleng kecil melihat Luhan yang tetap melawan meski kondisinya terlihat sangat mengenaskan.
"Dasar bodoh," umpat Jongin sembari melirik kearah sebilah kayu di dekat tumpukan plastik hitam berukuran sedang dan mengambilnya.
Suara tawa mengerikan itu menggelegar memenuhi daerah sunyi ketika melihat ketidakberdayaan mangsanya. Bagaikan kumpulan harimau yang menatap lapar pada seonggok rusa yang siap santap. Luhan yang kini terbaring lemah dengan cairan kental berwarna merah di sekitar tubuhnya, sudah terlalu lemas untuk melawan balik orang-orang di hadapan meski hanya menggerakkan mulutnya membentuk sebuah makian. Bahkan tangan kanan yang meski sangat sulit di gerakan, ia tetap berusaha menutupi luka akibat pisau yang tengah menusuk pahanya cukup dalam. Kepalanya yang diinjak Pimpinan para preman tersebut, membuatnya tak mampu menggerakan meski sekedar menoleh. Wajah tampan yang begitu di elu-elukan para perempuan telah menghilang, tergantikan luka robek serta lebam-lebam biru keunguan yang membuatnya makin menyedihkan.
"Kuberi kau satu kesempatan untuk masih bisa menghirup udara bebas. Dengan syarat, jilati sepatuku dan merendah lah di hadapanku." Tawa itu kembali terdengar, namun berubah desisan marah ketika Luhan justru meludah hingga mengenai sebelah sepatu yang tak menginjak kepalanya tanda menolak persyaratan tak masuk akal tersebut bagi dirinya.
"Jangh...hanh...tehlaluh...berh...harap.., bhajhingan," Smirk.
"Kau!-" teriakan tertahan sang pemimpin yang terdengar geram, sudah tidak dapat di dengar jelas oleh Luhan yang masih mempertahankan seringaiannya meski terasa perih pada sudut bibirnya yang robek dan menutup matanya perlahan, seolah-olah tengah menunggu ajal menjemput.
'Inilah akhir-"
BUGG
DORR
Jongin yang sejak tadi menunggu saat yang tepat untuk keluar, segera melempar kayu yang di pungutnya tadi kepada tangan ketua preman yang memegang pistol, hingga menyuarakan suara tembakan yang mengenai dinding tepat di belakang Luhan. Suara serampahan yang tertuju kearahnya, Jongin hiraukan dan memilih meladeni anak buah orang tersebut dengan memberi tendang serta pukulan yang keras.
'Andai saja di hadapanku adalah 'mereka', sudah kupastikan ini adalah saat terakhirnya menikmati udara bebas.' batin Jongin seraya menendang kepala laki-laki dengan muka di penuhi tindik yang berniat menghunuskan pisau ke arah perutnya.
BUKK
Matanya tergerak melihat kondisinya saat ini, 5 preman termasuk Ketuanya dan sang korban -seorang idola sekolah yang kini terlihat menyedihkan. Teriakan sang Ketua yang sibuk meringis tertahan ketika tangannya yang berusaha memegang pistol di dekat Luhan, terasa sangat menyakitkan ditambah darah yang tengah mengalir deras dengan tulang yang mencuat keluar, mempermanis kondisinya yang menyakitkan. Dua pukulan di layangkan kearah Jongin yang terlihat jelas tengah mengincar dada serta perutnya. Namun secepat pukulan itu melaju kearahnya, secepat itu pula ia menampiknya kasar dan mengadukan kedua kepala itu keras. Dua orang tumbang dengan darah mengucur di dahinya.
THRUSTT
Seringaian dari lawannya yang bertindik tadi berhasil menusuk perutnya dari arah belakang, mendorong pisau itu agar tertusuk lebih dalam ketika Jongin tak memperlihatkan reaksi apapun. Seseorang yang sejak tadi memilih diam, ikut memukul kepala Jongin dengan vas bekas yang terbuat dari kaca, menoreh luka yang cukup besar hingga darah kental itu mengalir meski terlihat samar. Luhan yang kini telah menyadari jika ada seseorang yang menolongnya, berusaha menyenderkan tubuh lemah itu dengan bersusah payah dan terlihat mengambil sesuatu di dalam sakunya. Mata, bagian yang paling di sukai di seluruh anggota tubuhnya itu kini membulat tak percaya, melihat sosok murid pindahan yang telah dikenalnya berada dalam kondisi terjepit, sangat tidak menguntungkan pada pihak pemuda itu. Cahaya temaram dan mata yang tak bisa fokus, membuatnya tetap dalam pendiriannya bahwa orang yang tadi pagi ia temui adalah Kim Jongin.
Cuih.
Jongin meludahi ke arah tanah yang di pijakinya dan menatap tajam sosok yang berada di hadapannya,-seseorang yang memukul kepalanya dengan vas. Seolah-olah ia bisa membunuh hanya melalui tatapannya, Jongin mengukir senyuman sinis.
"Jangan berpikir hanya dengan ini kalian bisa membuatku tumbang, dasar busuk! Dan berhentilah menyeringai memuakan seperti itu,"
BUGG
BRAKK
Jongin menendang sosok di belakangnya yang mematung akibat reaksi yang di perlihatkan oleh Jongin hingga terkapar di tanah, tak beda jauh orang yang melukai kepala Jongin dimana sebelah tangannya telah dipatahkan hingga orang itu berteriak memilukan di tengah malam yang sunyi. Melihat sesuatu yang tidak beres pada sosok yang menyelamatkan hidupnya, Luhan menghentikan niatannya untuk mendekatkan ponsel yang telah tersambung pada salah seorang temannya, Suga, ketelinganya dan membiarkan tergeletak begitu saja dengan cahaya yang berkedip-kedip pada layar.
'B-Bagaimana bisa dia melawan tanpa menunjukan raut wajah kesakitannya? Apa dia berusaha menahannya agar tak terlihat lemah?' Sibuk membantin, pemuda China itu tampak tak menyadari sang Ketua yang sejak tadi berusaha mengambil pistol di dekatnya, kini mengarahkan moncong senjata yang terasa dingin tepat di dahinya. Pisau yang menusuk punggungnya, di lepas kasar oleh Jongin dengan tatapan mengarah pada Luhan dan lelaki lainnya yang tersenyum penuh kemenangan.
"Game over, Brat."
Jongin terdiam membisu mendengar orang tersebut sibuk tertawa yang selalu membuatnya merasa muak mendengar tawaan seperti itu. Apa ada hal lucu disini hingga ia tertawa sebegitu lepasnya? Arahan matanya beralih pada ponsel Luhan yang menyala, terlihat tengah tersambung dengan seseorang yang berteriak memanggil nama pemuda keturunan campuran antara Korea dan China tersebut. Kemudian mulai menyusun rencana yang akan di ambilnya untuk menyelamatkan orang yang jelas-jelas teman musuhnya. Kedua kakak beradik yang menyandang status saudara dengannya.
"Aku tak percaya akan bertemu dengan orang sepertimu. Tidak normal," cerca Laki-laki dengan tato tengkorak di lehernya. "Tapi terserahlah, aku tak peduli mengenai keberadaan orang abnormal sepertimu. Karena itu bukan hal penting bagiku, apalagi ketika timah panas ini menembus kepala temanmu dan kau tentu saja. Dorr."ucapnya seraya meniru suara tembakan di akhir.
Jongin hanya berdecih mendengar ucapan membosankan keluar dari mulut laki-laki yang merupakan seorang Pimpinan preman tersebut, sementara Luhan hanya memandang Jongin tak percaya saat sorot ketakutan tak sedikitpun terlihat ataupun di tunjukan pemuda tersebut.
"Azusa, sebaiknya tutup mulutmu jika tak ingin kupaku sekarang juga," Jongin memandang sosok itu dengan raut wajah tanpa ekspresi.
"B-Bagaimana-"
Sosok yang kini diketahui bernama Azusa tersebut, melepas jatuh pistolnya reflek sembari menatap Jongin dengan pandangan penuh tanda tanya. Ia seorang pemimpin yang menguasai daerah sini, sampai sekarang tak ada seorang pun yang mengetahui nama aslinya, pengecualian untuk beberapa orang penting. Bahkan para bawahannya pun hanya mengetahui nama inisial keluarganya, tapi orang ini-
"Kim Jongin atau mungkin Park Kai. Apa kau sudah mengenaliku sekarang?"
Hening.
Tidak ada satupun yang mengeluarkan suara, terlebih Azusai yang memilih bungkam dan memandang Jongin yang tengah membantu Luhan berdiri dengan penuh rasa ketakutan..
"J-Jadi kau-"
"Pergilah dan berhenti mengusik ketenangan orang-orang disini."
Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Azusa telah berlari pontang-panting sembari memegang tangannya yang terluka mengerikan. Luhan menatap Jongin dalam diam ketika pemuda berkulit tan itu menaruh lengannya di pundak yang terlihat lebar milik simurid pindahan itu.
"K-Kau-"
Jongin melirik sejenak kearah Luhan yang bersuara, lalu melangkahkan kakinya berjalan dengan beban disampingnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Aku sudah menelpon ambulance, sebaiknya kita menunggu disini terlebih kondisi diantara kita tidak ada yang lebih baik," lanjut Luhan sedikit meringis ketika kakinya di gerakkan untuk melangkah mengingat luka bekas tusukan pisau di pahanya menganga lebar setelah di tarik tanpa perasaan oleh Jongin sebelumnya. Mendengar ucapan Luhan, Jongin memilih menuruti dan mendudukkan pemuda itu perlahan setelah berjalan keluar dari gang tersebut. Meski tak nampak raut kesakitan dari Jongin, namun tubuhnya seolah-olah berkata lain yang kini terlihat limbung.
"Hei, kau tak apa, anak baru?"
Luhan terus memperhatikan Jongin yang sesekali menggelengkan kepalanya membuatnya sedikit ekhmcemas. Suara sirine ambulance terdengar semakin mendekati mereka berdua. Jongin mendengus ketika pandangannya yang memburam tak jauh lebih baik, terlebih ia merasa tubuhnya perlahan semakin lemas dan-
BRUKK
_Obsession_
Hyungseok melangkah cepat mendekati laki-laki paruh baya yang terduduk santai di kursi kerjanya dengan sebelah tangan yang telah terbalut perban. Menunduk hormat sebagai salah satu tata krama yang diajarkan padanya, hanya di balas anggukan singkat dari sang atasan yang kini memandangnya.
"Ada apa, Asisten Park?"
"Beliau ternyata mengubah keberangkatannya. Dan dia baru saja sampai, Asistennya Yumma memberitahukan esok hari Beliau ingin bertemu dengan Anda, Tuan Besar."
Seringaian perlahan terukir di wajah tegas Mr. Oh ketika mendengar kabar baik tersebut dari Hyungseok.
"Kalau begitu aku juga memiliki perubahan rencana. Besok pagi, selesaikan urusan mengenai 'Kekasih' Sehun. Buatlah kenangan terindah yang membuatnya tak akan mengulangi melewati garis yang telah kubuat untuknya,."
"Akan saya laksanakan, Tuan Besar." Hyungseok menunduk dengan jalan melangkah mundur hingga meninggalkan Mr. Oh seorang diri.
"Tidak ada yang boleh mengacau di jalanku, Anakku. Sekarang, nilkmatilah balasannya," desis Mr. Oh dengan suara rendahnya yang terdengar menakutkan.
_Obsession_
Elusan lembut di kepalanya, perlahan membangunkan sosok pemuda manis yang kini menggeliat kecil merasa terganggu.
"Ada apa, Sehunnie?"
Tubuh polos keduanya yang saling bergesekan, menyuarakan kembali desahan kecil dari Kyungsoo, nama pemuda manis tersebut. Pelukan Sehun pada tubuh mungil itu mengerat, membenamkan wajahnya di ceruk leher sang kekasih.
"Entahlah. Kyungie, janjilah padaku bahwa kau tidak akan meninggalkanku." gumam Sehun yang terdengar samar.
Kyungsoo hanya berdecak kecil seraya menutupi tubuh polos keduanya dengan pakaian yang tergeletak di atas dashboard ketika angin dingin berhembus membelai permukaan kulitnya, "Aku tak bisa menjajikan jika aku tidak akan meninggalkanmu. Tetapi ketahuilah, aku akan selalu mencintaimu sebagai cinta pertamaku yang sangat berarti, Sehunnie. Dan cintaku untukmu lah yang nantinya akan menggantikan ragaku andai tubuh ini menghilang dan akan selalu menemanimu,"
Rangkaian kata Kyungsoo yang terdengar aneh di hiraukan begitu saja oleh Sehun yang memilih menyibukan diri dengan menambah bercak merah pada tubuh berkeringat di bawahnya. Dan untuk kedua kalinya, mobil itu kembali bergoyang-goyang menyuarakan suara desahan nikmat yang mengganggu.
_Obsession_
CKLEKK
BLAMM
Suara pintu yang tertutup menampilkan dua kakak beradik yang berjalan santai menelusuri Mansion Utama yang jarang di masuki keduanya semenjak Jongin memutuskan hidup mandiri, dimana para maid dengan baju khasnya berbaris membungkuk hormat Chanyeol serta si bungsu. Taeyong yang berjalan di sebelah Chanyeol hanya menampakkan raut wajah tanpa ekspresi yang menjadikan dirinya bagaikan orang dingin tak tersentuh, sangat berbanding terbalik dengan sang Kakak.
"Kalian telah datang?"
Sesosok lelaki paruh baya yang berdiri membelakangi keduanya tengah menghadap kearah luar jendela bergaya kerajaan Eropa yang berukuran 3 kali lipat dari ukuran dirinya. Chanyeol serta Taeyong membungkuk sejenak, menghormati lelaki berumur tersebut.
"Selamat datang, Ayahanda. Atau mungkin, Ketua Park?" sambut Chanyeol dengan raut wajah yang terlihat dingin dan menakutkan, menghilangkan senyuman ceria sebelumnya yang mampu membuat orang jatuh hati serta ekspresi yang tak pernah di perlihatkan pada orang 'luar'.
Ketua Park yang kini diketahui Ayah dari Chanyeol serta Taeyong, membalikan tubuhnya menatap kedua anaknya dalam diam. "Pergilah ke Los Angeles dan urus pekerjaan disana. Begitu selesai, segera kembali dan tunggu perintahku selanjutnya,"
Taeyong yang sejak tadi memilih bungkam, mendengus kecil mendengar perintah dari Ayahnya yang selalu semaunya dan itu semua dilihat oleh Mr. Park yang menatapnya tajam.
"Maaf menyela Ayahanda, tetapi mengapa harus kami berdua yang pergi? Bukankah satu orang lebih dari cukup untuk mengurus pekerjaan di L.A?"
Chanyeol terlihat tak menunjukan reaksi apapun, tetapi dia terlihat setuju ketika ingatannya beralih pada sosok Adik kesayangannya yang akan ditinggal seorang diri tanpa pengawasan salah satu dari mereka berdua.
"Jangan berbicara seolah-olah kau memperdulikan pekerjaan, Taeyong. Pada kenyataannya yang kalian pedulikan hanyalah Kai seorang, tetapi keberhasilan pekerjaan ini sangat penting untukku. Jadi," jeda Mr. Park seraya melirik kearah Kou yang berdiri tak jauh dari mereka.
Kou yang paham akan lirikan sang Ketua, berjalan mendekat sembari membungkuk sejenak, "Ya, Ketua?"
"Selama mereka pergi, kau jagalah Kai Putraku hingga mereka berdua kembali. Dan bawa Kent bersamamu untuk menjaganya, mengingat Yuuma memiliki tugas lain untuk dikerjakan," ucap Mr. Park yang terdengar seperti perintahan mutlak yang tidak boleh di bantah.
Chanyeol serta Taeyong saling melirik satu sama lain kemudian mengangguk kecil, 'Jika begini caranya, pekerjaan ini harus selesai lebih cepat' batin keduanya bersamaan.
'Selama kami pergi, kau harus ingat peraturan mainnya Jonginie~' sambung Chanyeol menyeringai sembari memikirkan apakah adik kesayangannya itu akan mengikuti peraturan ataukah melewati batas yang sudah dia buat?
.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC?
Ryuu minta maaf kalau Chapter ini telat, tidak seperti Chapter sebelum-belumnya yang Ryuu post cepat.
Dan maaf juga jika bagian HanKainya rada rancu alias aneh alias gaje alias nggak suka dkk.
Otak Ryuu lagi nggak mau di ajak kompromi buat ff, jadi kalo kedepannya ceritanya makin aneh atau nggak nyambung Ryuu minta maaf.
Ryuu perkirain ff ini habis di chapter belasan keatas, maybe.
Jadi mungkin akan sangat membosankan terlebih Ryuu berencana mau Discontinued ff ini.
Kalau nggak jadi ya kemungkinan ngepost chapter depannya agak lama atau sangat lama hehehe...
And the last, Mind to Review?
